Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya

Bagi sebagian orang, karya-karya Haruki Murakami mungkin tidak menarik–tokoh-tokoh utamanya sering kali individualis, antisosial, depresif, dan menyedihkan. Tapi, saya (masih) suka. Novel yang satu ini tidak jauh beda dari gaya semacam itu.

Alkisah, waktu masih remaja SMA, Tsukuru sangat bahagia sekaligus terasing berada di tengah empat sahabatnya yang penuh warna, setidaknya dari nama belakang mereka dan sifat: Aka, “merah” yang pintar; Ao, “biru” yang penuh semangat; Shiro, “putih” yang cantik menawan; Kuro, “hitam” yang berbakat. Hanya Tsukuru yang merasa “tak berwarna”, dalam nama maupun karakternya.

Suatu hari di semester IV kuliahnya, Tsukuru mendapat kabar dari keempat temannya itu bahwa mereka tidak mau bertemu dan berbicara lagi dengannya, untuk selamanya. Tsukuru terguncang dan mengalami kesedihan mendalam. Dia bahkan sempat depresi berkepanjangan dan berniat bunuh diri.

Belasan tahun kemudian, dia didorong oleh Sara, pacarnya, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kisah novel ini utamanya berfokus pada upaya mencari tahu apa yang membuat para sahabatnya dulu mengucilkannya. Tsukuru kembali ke Nagoya dan menemui mereka, menemukan bahwa salah seorang sudah meninggal karena dibunuh, dan dia juga pergi ke Finlandia menemui orang terakhir.

Kisahnya sederhana, hampir minim konflik. Ending-nya menggantung, mengenai masa depan hubungannya dengan Sara. Semakin suram saja novel ini. Tapi, apa penyebab Tsukuru dijauhi para sahabatnya? Ya baca aja sendiri.

Tokoh utama kisah ini seorang pemuda yang (sekilas) tampak normal, sederhana, tidak punya keinginan kuat terhadap apa pun (kecuali terkait stasiun dan kereta api), medioker, tidak merasa lebih atau kurang dengan hidupnya. Mirip-mirip Toru Watanabe di Norwegian Wood atau Tengo di 1Q84.

Kekuatan Murakami adalah dia tekun menggali elemen-elemen dalam fiksinya. Kekosongan batin tokohnya, bagaimana dia terisolasi dari lingkungan, perasaan terbuang dan ingin bunuh diri, itu dia gali dalam-dalam.

Di satu sisi, akan ada pembaca yang merasa cepat bosan. Tapi di sisi lain, gaya tulisannya detail dan gamblang. Inilah yang membuat saya suka tulisannya. Sama seperti saya menyukai wingko babat. 😋

Oya, terjemahan novel ini juga bagus. Enak dan lancar dibaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s