Pram, Enny, dan Fredy

Kalau tak silap, kali pertama saya baca tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer itu waktu masih SMA.

Seorang teman dari tongkrongan anak punk di belakang pertokoan di Jl. Solo, Jogja, ternyata suka membaca. Melihat saya yang kebanyakan baca komik, majalah, dan novel remaja, dia agak-agak gemesh.

Suatu malam sehabis kami nonton konser underground, dia menyodorkan Bumi Manusia yang dulu sampulnya masih putih dan full teks, terbitan Hasta Mitra.

Buku itu sudah lecek dan kusam, dan dia meminjamkannya sambil berpesan, “Hati-hati.”

Saya nggak tahu apa maksudnya, sebelum dia menjelaskan apa sebabnya. Tamat baca ini, saya dipinjamkan tiga buku sisanya. Ketiganya dalam bentuk stensilan.

Tamat baca tetralogi Pram, dia kembali meminjamkan beberapa buku.

“Biar kamu semakin tercerahkan…” ujarnya.

“Ini kudu hati-hati juga?” tanya saya.

“Woo jelas. Ini lebih berbahaya daripada Pram.”

Saya membaca nama-nama penulisnya: Enny Arrow dan Fredy S.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s