Category Archives: Acara Ini-Itu

Pelatihan Penyuntingan Buku Terjemahan

20150418_095600

Jam 9 kurang seperempat pagi itu, ketika sopir mobil travel menurunkan saya dan Mbak Dhias, rekan sekantor, sedikit di depan gerbang tol Slipi. Hari itu (Sabtu, 18/4), kami dijadwalkan ikut acara Pelatihan Penyuntingan Buku Terjemahan di Gedung Kompas-Gramedia di kawasan Palmerah Barat. Baru kali ini saya diturunkan di jalan tol…hehe! Tapi emang saya yang minta sih. Kalau tidak, turunnya bisa lebih jauh lagi di Tanjung Duren.

Saat berjalan kaki ke perempatan Slipi – Palmerah untuk nyambung naik mikrolet, tak sengaja saya menemukan penjual nasi bebek (!). Tapi karena acara yang akan dimulai jam 9, saya terpaksa jalan terus dan hanya menoleh sedih ke arah gerobak nasi bebek itu.

20150421_070604Ternyata, waktu jam 9-an saya sampai di lantai 7 di gedung KG, acara belum dimulai. Acara ini sendiri diadakan oleh HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) bekerja sama dengan Penerbit GPU (Gramedia Pustaka Utama). Kaget juga saya melihat ruangan yang sangat penuh. Setelah menandatangani daftar hadir, saya mendapat goodie bag yang isinya cihuy: dua buku notes, kalender meja GPU, bolpen, dan novel terbitan GPU. Saya tadinya mendapat jatah novel Hopeless-nya Colleen Hoover, tapi belakangan boleh saya tukar dengan Burial Rites-nya Hannah Kent berkat Kak Mei yang baik (ge-er nih pasti orangnya). 😛

Setelah sambutan dari panitia, yang diwakili Mbak Uci, Andi Tarigan, salah seorang editor non-fiksi GPU, melanjutkan kata sambutan. Dia bilang, panitia tadinya membatasi peserta untuk 30-40 orang saja. Namun, ternyata antusiasme peserta sangat besar sehingga yang mendaftar mencapai 90 orang (!). Bahkan ada yang datang dari Jogja dan Sumatra. Ini setidaknya saya baca sebagai: (a) stok penerjemah banyak, penerbit senang, (b) bagi penerjemah lepas, pesaing akan semakin banyak dan mereka harus menjaga kualitas terjemahan mereka. Penerbit ya senang juga…hehehe! 🙂

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Pak Hananto (Ketua HPI). Pak Hananto mengatakan bahwa acara kali ini lebih bersifat sharing ketimbang pelatihan. Beliau juga mengisahkan sejarah singkat HPI dan pentingnya peran penerjemah. Menurut Pak Hananto, “Terjemahan tidak akan pernah bisa sempurna dilakukan oleh mesin.”

Meskipun ada Google Translate dan peranti lunak semacamnya, sebagus-bagusnya hasil terjemahan software, hasilnya tidak akan bisa sebagus terjemahan oleh manusia, karena manusia memiliki rasa dan akal budi yang memungkinkannya menerjemahkan berdasarkan konteks yang pas atau sesuai. Penerjemahan dan penyuntingan juga bisa disebut seni, karena membutuhkan keahlian memilih dan menyusun kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksud si penulis asli ke bahasa lain tanpa menghilangkan ciri khas atau gaya tutur si penulis.

20150418_090125

Selepas sambutan, ada sesi coffee break sejenak sebelum acara dimulai jam 10. Sambil ngofi brek, saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa wajah yang saya kenal, seperti Kak Mei, Mbak Dina, Mbak Lulu, Mbak Linda, dan Mbak Rere (ada yang kelewat? hehe!). Setelah melahap dua potong pastel sayur (satu dikasih Mbak Dina yang nggak doyan pastel) dan sambil membawa secangkir teh krim hangat, saya masuk lagi ke ruangan dan acara pun dimulai.

Pembicara pertama di acara ini adalah Nina Andiana. Menurut salah seorang editor fiksi GPU ini, menerjemahkan atau menyunting karya fiksi bertujuan menciptakan pengalaman membaca semirip mungkin dengan pengalaman saat membaca buku aslinya. Pembaca mendapat rasa buku sesuai buku aslinya, tapi pada saat yang sama editor juga harus sanggup menyampaikan ide, rasa, dan “suara” penulis asli buku itu dengan baik dan pas.

Nina mengajukan pertanyaan: lebih penting menerjemahkan kata demi kata dengan akurat atau menerjemahkan sesuai jiwa/semangat buku tersebut? Idealnya, kedua hal itu harus dilakukan secara proporsional.

Nina melanjutkan, jika ingin menjadi editor yang baik, ada beberapa syarat dasar yang mutlak harus dipenuhi: gila baca, punya kompetensi dalam bahasa target, bisa menulis, punya kompetensi dalam bahasa sumber dan bahasa target. Penguasaan bahasa target justru lebih dipentingkan. Kenapa? Jika kita tidak mengerti sepenuhnya bahasa sumber, kita masih bisa mencari artinya di kamus atau Internet. Namun, menerjemahkan naskah buku asing ke dalam bahasa Indonesia yang tepat, pas, sesuai konteks, dan enak dibaca memerlukan penguasaan bahasa Indonesia yang sangat baik. Karena itulah sebaiknya editor juga harus punya kemampuan di atas rata-rata dalam hal menulis dan menerjemahkan dalam bahasa target, sehingga hasil suntingan punya tingkat keterbacaan tinggi. Nah, makanya … harus rajin ngeblog atau nerbitin buku solo sekalian … 🙂

Ada beberapa hal yang wajib diperhatikan editor saat menyunting: tata bahasa dan ejaan, kosakata, idiom, selingkung, fakta, dan gaya bahasa. Editor tidak boleh malas memeriksa ulang kalimat-kalimat bahasa target dan sumber yang terasa ganjil, karena bisa saja itu idiom atau peribahasa khas di negara asal penulis. Editor juga harus memeriksa fakta-fakta dalam bahan terjemahan agar tidak salah memahami maksud penulis. Gaya bahasa harus diperhatikan dengan cermat sehingga bisa dipahami dengan mudah, namun tetap menjaga gaya khas si penulis. Nina juga memberi tips untuk penerjemah agar mengecek ulang setelah menerjemahkan satu kalimat atau bagian, sehingga tidak repot mengecek hal-hal di atas tadi saat merapikan hasil terjemahan.

Peserta kemudian diminta mencoba dua latihan penyuntingan. Latihan pertama menggunakan beberapa paragraf dari Tales of the Beedle Bard karya J.K. Rowling. Peserta diminta menerjemahkannya dan kemudian hasil terjemahan salah satu peserta dikoreksi bareng-bareng. Latihan kedua diambil dari novel Dark Divine karya Bree Despain. Di sini kami diminta mengoreksi naskah terjemahan mentah (belum diedit) dari penerjemah buku itu.

Rasanya banyak yang sepakat dengan Nina, bahwa seni menerjemahkan dan menyunting itu bukan melulu masalah benar atau salah. Kesimpulannya, menurut saya, mungkin seperti kata Rumi: “Beyond our ideas of right-doing and wrong-doing, there is a field. I’ll meet you there”. Untuk konteks dunia penerjemahan dan penyuntingan buku, terjemahan asal-asalan saya adalah: lebih daripada sekadar benar atau salah, terjemahan adalah juga seni menyampaikan gagasan dari bahasa lain secara tepat, pas, dan mulus dibaca. I’ll meet you there … 😛

20150418_120336

Menu maksi 🙂

Usai sesi pertama, peserta diberi waktu satu jam untuk makan siang dan sholat. Menu makan siangnya: nasi rames, lauknya ayam suwir, gepuk, telor pindang, oseng tempe, dan satu lagi oseng pedas apa gitu (lupa). Tapi, walau sederhana, kok enak ya … sayang nggak bisa nambah … hehehe! 🙂

Jam satu, acara dilanjutkan lagi. Kali ini pembicaranya adalah Andi Tarigan. Salah seorang editor non-fiksi GPU ini bilang bahwa menyunting naskah non-fiksi tentu tidak bisa disamakan begitu saja dengan menyunting naskah fiksi. Dia lalu menyampaikan beberapa prinsip dasar dalam menyunting naskah terjemahan:

– Membaca: membangun cakrawala pemahaman dan memahami argumentasi

Editor perlu memahami terlebih dahulu gagasan besar yang ingin disampaikan penulis, juga konteks dan alam pikir yang mendasari seluruh proses penulisan. Jadi, sebaiknya editor membaca dulu isi buku aslinya sebelum mengedit hasil terjemahan.

– Penyuntingan: akurasi, konsistensi, kecermatan, gramatika, ejaan, tanda baca, etika, dan kesantunan 

Ada cukup banyak item yang harus diperiksa editor dalam menyunting naskah non-fiksi. Terminologi, nama (orang, institusi, perusahaan, dan merek dagang), gelar (religius, kultural, akademik), simbol dan rumus yang dipakai disiplin ilmu, data historis (apa, kapan, dan di mana terjadinya satu peristiwa), data deskriptif (sistem pemerintahan, metode perdagangan, dll.)

Editor juga harus memeriksa printilan semacam data rujukan (judul buku, jurnal, artikel, majalah, koran, dan situs web), referensi (catatan kaki dan daftar pustaka), hak cipta (foto, ilustrasi, gambar, grafik, dan tabel), daftar isi: kesesuaian antara daftar isi dan isi buku.

Ini masih ditambah dengan tata bahasa, ejaan, kalimat efektif, dan tanda baca. Masalah penulisan kata depan “di” dan imbuhan “di-“, misalnya, tentu saja masih bikin kesal para editor hingga hari ini. Maklum, mayoritas orang Indonesia memang tidak tahu bedanya, padahal itu pelajaran SD. 😛

Kepekaan juga dituntut dalam pekerjaan penyuntingan. Editor dituntut untuk sangat peka terhadap teks-teks yang sekiranya “berbahaya” jika diloloskan, misalnya isu-isu SARA dan sejenisnya.

Tambahan saya sih … keseimbangan membaca buku fiksi dan non-fiksi juga sangat penting bagi editor. Membaca banyak jenis buku akan menumbuhkan kemampuan meluweskan dan memuluskan tulisan atau hasil terjemahan. Tentu keterampilan ini sangat diwajibkan bagi editor (dan penerjemah) ketika bertemu dengan kalimat-kalimat buku non-fiksi yang kadang kaku dan penuh anak kalimat.

Yah, itulah yang bisa saya rangkum dari acara kemarin. Semoga berguna buat pembaca blog keren ini. 🙂

***

Acara disudahi jam tiga sore. Setelah Ashar dan ngobrol lagi sana-sini, kami pun pulang segera sesudah hujan reda. Menurut petunjuk Kak Mei, ada pool DayTrans nggak jauh dari situ. Benarlah, hanya satu kilometer naik mikrolet, saya melihat pool itu.

20150418_160153Setelah membeli tiket, berhubung uang makan masih utuh, sibuklah saya menjelajahi daerah sekitar untuk mencari warung makan yang cihuy. Tak sengaja, saya menemukan warung kecil yang dari luar tampak menarik. Salah satu menunya adalah: bebek mercon! Ha … lumayan lah buat pengganti nasi bebek yang terlewatkan tadi pagi! 😛

Bagian dalam warung tampak bersih dan penataannya cukup berselera. Sambil melahap makan sore, saya merenungkan sedikit isi pelatihan tadi. Sebagai editor in house, saya menganggap hampir semua materi yang dihidangkan tadi adalah makanan saya setiap hari. Tentu saja tetap menarik melihat bagaimana beberapa peserta mencoba merapikan terjemahan saat sesi latihan tadi.

20150418_161019

Bebek mercon 🙂

Satu hal mencolok yang membedakan sebenarnya cuma soal selingkung alias kecenderungan/kebiasaan di masing-masing penerbit/media massa. Kapan ya bahasa Indonesia tak perlu berkubu-kubu lagi seperti ini? 🙂

Terus, ada bagusnya juga kalau lain kali acara semacam ini dibikin rada eksklusif, dengan jumlah peserta yang sangat terbatas dan bahasan yang jauh lebih fokus. Misalnya pelatihan khusus editor dan penerjemah buku yang jam terbangnya tinggi saja (bukan pemula), gitu. Misalnya lagi, fokus ke tema penerjemahan dan penyuntingan novel romance, thriller, atau buku bisnis. Yaa … sekadar usul aja sih 🙂

Oke, waktunya balik ke Bandung. Beberapa menit sebelum berangkat, saya menyempatkan diri mampir ke Circle K di samping pool mobil travel, membeli minuman segar dan chicken katsu untuk menyibukkan diri di perjalanan.[] 🙂

Berakhir Pekan di Festival Media

Sabtu (15/9), tak biasanya saya sudah di berada di tengah kemacetan kawasan Buah Batu, Bandung. Pagi itu saya sedang menggeber motor Belalang Tempur saya ke acara travel writing workshop yang merupakan bagian dari ajang Festival Media. Yang terakhir ini adalah sebuah gelaran yang diadakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam rangka HUT-nya yang ke-18.

Diadakan di Gedung Indonesia Memilih Menggugat (GIM), 15-16 September 2012, Festival Media ini dimaksudkan sebagai pameran produk industri media mainstream dan berbagai komunitas media independen yang ada di Bandung dan beberapa kota lainnya.

Jam 09.30, saya sudah stand by di lokasi. Saya sempat bertemu dengan Dandy D. Laksono, mantan wartawan yang kini aktif memproduksi film dokumenter bersama WatchDoc. Dandy juga pernah menulis buku Jurnalisme Investigasi (2010) yang diterbitkan Mizan. Tampak beberapa stand di halaman GIM, dihuni oleh beberapa lembaga media di antaranya Pikiran Rakyat, Voice of America (VOA), Tempo, WatchDoc (pembuat film dokumenter yang sebagian karyanya ditayangkan di Kompas TV), dan ada juga Cek & Ricek. Yang terakhir ini agak aneh, soalnya kalau saya nggak salah, infotainment tak dianggap sebagai pekerja media alias bukan termasuk organisasi kewartawanan AJI.

Tapi, sudahlah. Yang jelas, jam segitu workshop gratis tersebut dimulai agak molor, dan sekitar jam 10.00 acara yang dihadiri 20-an peserta ini dibuka oleh Ahmad Yunus. Pria ini adalah wartawan sekaligus penulis Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara. Buku itu bercerita tentang pengalaman Yunus bersama rekannya, Farid Gaban (wartawan senior yang pernah lama di Tempo), menjelajahi bumi Indonesia selama setahun naik motor trail bekas. Yunus, yang kini aktif di WatchDoc, banyak bercerita tentang perjalanan yang ia lakukan bersama Farid pada 2009 – 2010 itu.

Suasana workshop.

Acara kemudian diarahkan ke diskusi bebas tentang travel writing. Farid Gaban yang datang belakangan sempat membahas beberapa tips untuk menghasilkan tulisan perjalanan yang bagus. “Jangan pernah pakai kata sifat,” kata Farid. “Sebagai gantinya, gantilah kata sifat itu dengan deskripsi yang hidup.” Contoh kalimatnya, ketimbang menulis “Konser Peterpan tadi malam sangat heboh”, gambarkan saja seperti apa suasana konser itu: “Konser Peterpan dihadiri 20 ribu penonton. Sebagian dari mereka berusia belasan hingga 20 tahunan. Sepanjang pertunjukan mereka selalu berteriak histeris dan ikut bernyanyi dengan bersemangat”. Belakangan, Farid mempersilakan peserta untuk mengopi file data soal teknik menulis ini. Sayangnya, saya nggak bawa flashdisk. 😦

Sesekali, Yunus memutar klip video yang ia buat selama perjalanan tersebut. Gambar yang dihasilkan sangat keren, menunjukkan alam Indonesia yang sangat indah. Menurut saya video itu sangat layak dijadikan iklan pariwisata.

Serunya, di akhir acara, para peserta workshop mendapat hadiah kaos dan buku gratis dari Penerbit Serambi. Saya sendiri kebagian novel berjudul The Devil’s Whisper. Selepas acara, saya sempat bertanya kepada Yunus, langkah strategis apa yang sekiranya akan dilakukan mengenai pariwisata Indonesia. Sebab, soal kecantikan alam Indonesia tentu sulit dibantah. Masalahnya, kenapa semua kekayaan alam itu hanya mampu menarik turis asing jauh lebih sedikit dibandingkan negara-negara tetangga? Di mana peran travel writing dalam hal ini?

Yunus menjawab, saat ini ia sedang menggagas proyek penulisan travel writing yang sifatnya terjun langsung ke lapangan. “Katakanlah pesertanya 50. Kalau semua orang itu aktif melakukan perjalanan dan aktif menulis, tentu akan semakin banyak tulisan tentang Indonesia yang mudah didapatkan di Internet maupun media lain. Indonesia akan terpromosikan dengan sendirinya,” kata Yunus panjang lebar.

Sayangnya, obrolan terputus karena Yunus sibuk mengopi file untuk dibagikan ke para peserta. Padahal saya masih punya banyak pertanyaan. Semisal: lantas bagaimana peran strategis pemerintah yang seharusnya bisa bergerak lebih jauh dalam hal pariwisata Indonesia? Kalau pada akhirnya yang dikenal orang asing cuma Bali, bukankah ada yang salah dengan promosi wisata kita?

Anak SMA lagi nyoba jadi presenter dadakan di stand VOA.

Seusai acara, saya menyempatkan diri melihat-lihat keramaian sekitar. Puluhan stand dari berbagai media, organisasi penyiaran, komunitas, perusahaan produk minuman hingga telekomunikasi ramai dikerubungi pengunjung. Ruang utama diisi dengan kegiatan lomba debat antar SMU di Bandung, sementara di ruangan lain berlangsung beberapa workshop dan seminar.

Stand WatchDoc.

Hampir semua stand membuat kegiatan yang menarik pengunjung. Stand Kantor Berita Antara menawarkan lomba foto selama pameran dan workshop video jurnalis. Stand VOA mengajak pengunjung mencoba menjadi presenter televisi dadakan. Stand WatchDoc iseng-iseng menawarkan pembuatan foto narsis bersama Bung Karno & Bung Hatta bagi pengunjung. Di sini saya juga memborong beberapa koran gratisan edisi hari itu, juga beberapa stiker dan poster. 😛

Besoknya, saya sempat kembali ke GIM karena ada janji ketemu Daniel Mahendra. Yang satu ini adalah mantan wartawan dan penulis Perjalanan ke Atap Dunia, buku catatan perjalanan tentang petualangan Daniel ke Tibet. Resensi bukunya bisa dilihat di sini. Sambil menunggu Daniel, saya sempat menikmati acara terakhir dari rangkaian Festival Media ini, yaitu acara musik sore yang ditampilkan secara akustik oleh Ammy n Friends.

Ketika Daniel tiba, kami langsung terlibat pembicaraan asyik soal traveling dan buku travel. Tak terasa kami ngobrol sampai magrib dan kami pun janjian ketemu lagi lain waktu. Tentunya diakhiri janji Daniel bahwa ia akan mengirimi saya contoh naskah travel writing yang sedang ia garap. 🙂

Akhir pekan yang asyik. Apalagi MU menang telak 4-0 pada Sabtu malamnya. 🙂

Seminar Merry Riana

Foto bareng Merry Riana. Cantik ya? 😛

Minggu pagi. Saat seharusnya masih bermimpi, saya harus ikut seminar motivasi. Pagi itu, jam 08.00 kurang sedikit (3/6), saya sudah tiba di lantai 2 auditorium gedung Pendidikan Kedokteran Unpad, di depan RS Hasan Sadikin, Bandung.

Hari itu ada seminar motivasi yang menghadirkan Merry Riana. Acara ini dihadiri oleh sekitar 400-500 peserta yang sebagian besarnya mahasiswa. Kebanyakan dari Unpad, dan lainnya ada yang dari IPDN (kelihatan dari seragam mereka).

Acara dimulai sekitar pukul 08.30 dengan  sambutan panitia, dilanjutkan dengan penampilan seorang musisi kampus bergitar bernama Ian entah-siapa. Suara mahasiswa yang sedang bikin skripsi ini boleh juga. Empuk—cocok untuk lagu-lagu akustik. Sayang sound system di ruangan ini sering mati. Entah karena masalah teknis atau kru acara yang kurang sigap. Untunglah si Ian ini sesekali mampu meluncurkan guyonan-guyonan yang lumayan bikin ketawa.

Selama hampir setengah jam masalah sound system ini terus menganggu, hingga akhirnya beres dan Merry Riana pun siap tampil. Pada usia 32 tahun, Merry tampil enerjik dan riang. Cantik dan tak tampak sombong sedikit pun—untuk orang yang mendapatkan sejuta dolar pada usia 26 tahun, itu enam tahun yang lalu. Suaranya juga enak didengar.

Berhubung saya sudah pernah membaca bukunya, Mimpi Sejuta Dolar, maka saya sudah mengetahui cukup banyak hal-hal yang disampaikan Merry saat itu. Saya ceritain sedikit deh buat yang belum tahu.

Merry berasal dari keluarga sederhana yang tinggal di Jakarta.Saat kerusuhan tahun 1998 silam, persisnya saat ada kerusuhan yang membawa korban etnis Cina saat itu, orangtua Merry mengirim putri pertama mereka itu untuk kuliah di Singapura selepas lulus SMA dengan uang pas-pasan, berbekal uang pinjaman dari Development Bank of Singapore sejumlah 300 juta rupiah dalam kurs dolar Singapura saat itu. Dengan biaya finansial seadanya serta kemampuan bahasa Inggris yang sama ngepasnya dengan modal merantau saat itu, Merry harus rela meninggalkan tanah air dan mengarungi masa perkuliahan yang menegangkan di Nanyang Technological University (NTU). Peristiwa Mei 1998 memang menorehkan jejak luka batin yang mendalam bagi banyak kalangan, termasuk Merry yang kala itu harus memupuskan keinginannya untuk menjalani pendidikan di Universitas Trisakti.

Setelah dipotong untuk biaya kuliah, biaya hidup, buku-buku, dan kebutuhan lainnya, Merry harus berjuang hidup dengan biaya hanya 10 dolar Singapura seminggu. Bayangkan uang sepuluh dolar selama tujuh hari dengan perbandingan harga sepiring nasi goreng dalam satu kali makan yang harganya dua dolar. Merry pun harus melakukan pengiritan ekstrem untuk tetap bertahan hidup. Hampir setiap hari ia terpaksa harus makan mie instan atau roti tawar. Pertemuannya dengan Alva Tjenderasa, mahasiswa teknik Mesin di NTU yang juga berasal dari Indonesia menjadi sebuah penyeimbang baru di tengah kesulitan yang dihadapi Merry. Keduanya adalah perpaduan mengesankan sebagai rekan kerja yang saling melengkapi dalam perjuangan membentuk masa depan.

Alberthiene Endah, penulis buku Mimpi Sejuta Dolar, menggiring pembaca untuk benar-benar menyelami kehidupan Merry saat terjebak pada kegagalan demi kegagalan mencari tambahan penghasilan, bekerja sebagai pembagi brosur, penjaga bunga hingga pelayan banquet saat pesta di ballroom hotel mewah. Tidak hanya itu, pupusnya harapan Merry dan Alva juga terjadi saat saat ingin mencari peluang lewat bisnis penjilidan skripsi, hingga batalnya kesempatan untuk menjadi distributor salah satu produk kesehatan, padahal sudah mengeluarkan biaya hingga 2250 dolar (sekitar 16 juta rupiah). Bisnis jual beli saham pun harus menelan kerugian mencapai 10.000 dolar (sekitar 70 juta rupiah). Kegagalan demi kegagalan silih berganti mampir dalam kehidupan Merry, namun perempuan ini selalu mampu menjadikan kegagalan sebagai ruang bagi aktualisasi diri yang lebih baik. Dalam keadaan yang sulit, ia selalu berusaha menciptakan peluang dan menarik hikmahnya, hingga akhirnya perjuangannya itu terbayar saat pada usia 26 tahun meraih pendapatan 1 juta dolar dari bisnis konsultan keuangan/asuransi.

Selepas sesinya Merry, sebenarnya masih ada acara class discussion yang menghadirkan beberapa nama seperti Melanie Subono (liaison officer), Dendy Darman—pemilik distro Unkl347, Dara Illahiya (pemilik tokok The Dream’s Cake), dan Marin—pemilik label FastForward. Acara itu terbatas untuk 200 peserta (masing-masing 50 orang untuk mengikuti satu sesi pembicara). Sayang saya ada acara lain sehingga harus melewatkan sesi ini.

Terus terang, kesan saya terhadap acara motivasi Merry Riana ini biasa saja. Pertama, mungkin karena saya sudah pernah nonton acara-acara motivasi yang menghadirkan nama-nama macam Ippho Santosa, Jamil Azzaini, Ali Akbar, Rangga Umara, dan lain-lain yang lebih heboh dari segi penampilan dan pengemasan acara. Kedua, konten acara sudah pernah saya baca di bukunya. Ketiga, rasa-rasanya target acara ini lebih pas untuk mahasiswa, lebih tepatnya mahasiswa yang ingin berwirausaha atau punya start-up business.

Soal buku Mimpi Sejuta Dolar, menurut saya pribadi sih penulisannya terlalu bertele-tele. Banyak sekali kalimat atau substansi yang tampak diulang-ulang untuk mengundang efek dramatis. Bahasa Alberthiene Endah terlalu mendayu-dayu buat saya, sehingga agak melelahkan juga saat membacanya. Memang khas Alberthiene, sih. Tapi itu semua hanya pendapat saya. 🙂 Namun, saya salut dengan sikap pantang menyerah Merry dalam mengatasi kerasnya hidup. Kisah hidupnya inspiratif, tentu saja, tapi kalau kita mau buka mata lebar-lebar, siapa pun pasti punya kisah hidup yang bisa ditarik hikmahnya.

Di luar itu, bagi saya sebenarnya tak ada yang baru dengan isi atau konten acara-acara motivasi semacam itu. Saya bukan tipe orang yang tak tahu akan melakukan apa dalam hidup saya ini. Siapa pun yang banyak membaca buku dan mau sesekali meluangkan waktu untuk merefleksikan hidupnya dan bersyukur rasanya sudah mempunyai amunisi motivasi yang cukup. Kejar saja mimpimu, hasratmu, tak usah bingung-bingung. Kisah sukses atau perjuangan hidup bisa kita temukan di mana-mana. Bahkan tukang bubur ayam langganan saya dulu juga punya pandangan hidup menarik yang bisa saya tiru sisi positifnya.

Rasanya aneh kalau semua orang harus jadi pengusaha. Hidup ini menurut saya harus berwarna, mau jadi apa pun dirimu, asalkan bermanfaat bagi sesama. Mengutip slogan Hong Kong Police Force dalam iklan TV yang pernah saya lihat di sana: Everyone has a part to play.[]

Mudik ke Jogja: Dari Kingkong Sampai Oseng-Oseng Mercon

Ini pertama kalinya saya mudik ke Jogja lagi setelah tiga tahun. Ada acara pengajian memperingati 1000 hari meninggalnya kakek saya (yang  meninggal tiga tahun lalu). Seminggu sebelum berangkat saya sudah memesan tiket kereta PP seharga Rp 260 ribu. Jumat malam (11/5) saya berangkat naik Lodaya. Ah, kelas bisnis ini kok sekarang makin kusam dan butut. Kalah jauh dibanding MRT Singapura…hehe! Dulu waktu saya masih pacaran dan bolak-balik Jogja-Bandung 4 kali setahun gerbongnya masih bagusan. Tapi untunglah saya selalu bawa buku untuk teman perjalanan sehingga bisa melupakan kebututan gerbong malam itu. Saya pun tenggelam menikmati buku Perjalanan ke Atap Dunia tentang perjalanan penulisnya ke Nepal dan Tibet.

Tiba Sabtu subuh di Jogja (12/5), saya langsung jalan kaki ke rumah, soalnya rumah saya cuma 5 menit jalan kaki dari pintu belakang stasiun. Dulu, ada tiga keluarga adik ibu saya yang tinggal di rumah di kompleks PJKA ini. Sekarang tinggal satu keluarga plus adik nenek saya. Kakek saya dulunya memang bekerja di PJKA (sekarang Perumka), makanya keluarga besar kami tinggal di kompleks ini. Ibu saya belum kuat melakukan perjalanan ke Jogja setelah pasang ring jantung bulan lalu, dan ayah saya pun di rumah menemani ibu.

Hari itu acara pertama saya adalah mengurus proses mutasi motor saya. Sudah tiga tahun saya tidak bayar pajak karena sejak 2007 saya sudah meninggalkan Jogja, sementara STNK motor saya akan habis Agustus 2012 ini. Jadi sekalian saya saya mutasikan ke Bandung karena sekarang saya sudah punya KTP (Kabupaten) Bandung. Proses yang memakan waktu sekitar dua jam lebih itu akhirnya ditutup dengan “vonis” bahwa saya harus bayar Rp 780 ribu dengan rincian pajak 3 tahun plus denda-dendanya. Saya sendiri sudah memprediksi bakal sebesar itu, jadi nggak terlalu kaget.

Dari Samsat Jogja, saya jalan kaki pulang ke rumah (cuma 10 menit), istirahat sebentar, lalu meminjam motor om saya untuk keliling kota. Ah, betapa fisik kota Jogja sebagian sudah berubah. Kota ini di mata saya jadi lebih hijau dan rimbun. Hotel-hotel juga semakin banyak. Bahkan gedung kursus bahasa Inggris LIA dekat rumah saya kini sudah jadi hotel.

Sekarang, di banyak ruas jalan sudah ada beton divider (pembatas jalan) yang sekaligus ditanami pepohonan. Divider ini terutama berguna sekali untuk mencegah pengendara ugal-ugalan yang suka mengambil jalur yang berlawanan arah. Dulu saya pernah terjebak dalam keributan antara sopir bus dan pengemudi mobil pribadi. Si sopir mobil ini tidak mau memberi jalan untuk bus yang jelas-jelas salah mengambil jalur yang berlawanan.

Selain divider, saya melihat di beberapa ruas trotoar juga dibangun kanopi yang atapnya dirimbuni oleh tanaman rambat. Saat melewati Jl. Malioboro, banyak juga area depan toko dan area parkir yang dihiasi kanopi hijau seperti ini. Bikin Jogja makin hijau dan rimbun! 😛 Saya acung jempol buat tata kota seperti ini. Dan Jogja juga bersih. Beda banget dengan Bandung yang kotor dan berdebu. Di Jogja juga agak susah cari jalanan yang banyak lubangnya, tidak seperti di Bandung yang warganya harus hafal posisi lubang di jalanan agar tidak tersungkur. 🙂 Program bus TransJogja saya lihat juga lancar. Punya beberapa jalur dan setidaknya nggak bikin macet karena selalu berhenti di halte dan nggak ada angkot brengsek di kota.

Saya menyusuri Jl. Kaliurang, ring road, Jl. Gejayan, kawasan UGM…wow, pilihan wisata kulinernya makin edyan! Nyaris semua kawasan ini dipadati dengan warung makan, resto, dan kafe yang mengundang selera. Para pedagang kaki lima yang dulu ditempatkan di belakang gedung BNI sekarang sudah dipindah ke area lembah UGM. Dulu saya sering makan ketoprak dan sop buah saat para pedagang itu masih jualan di sekitar Bundaran dan Gelanggang UGM.

Sorenya, setelah tidur siang barang satu jam, saya bantu-bantu sedikit untuk persiapan acara pengajian malam harinya. Malamnya selepas acara, teman saya Adi dan Dinar, istrinya, tiba di rumah sekitar jam 9 malam. Kami mengobrol sampai tengah malam di kebun rumah yang luas, bergosip soal teman-teman di pers mahasiswa dulu, tentang Jogja, tentang MU (!), sambil ditemani sepiring kari yang rasanya nggak jelas dan segelas secang hangat….hehe! Sayangnya saya malah nggak jadi ketemu Imam, teman saya yang lain yang lagi kuliah S-2 di UGM dan doyan ngobrol hal-hal yang “dalem”. Padahal kalau saya tinggal agak lama lagi mungkin akan ditraktir makan di warung SS (Spesial Sambal) sama teman saya ini karena dia juga bekerja di sana. 🙂

Soto Pak Gareng…masih gayeng! 🙂

Hari Minggu (13/5), sekitar jam 6 pagi saya sudah keluar rumah, jalan kaki menuju Jl. Mangkubumi. Buat apa lagi kalau bukan untuk sarapan 🙂 Dulu, paling tidak seminggu sekali saya biasa makan soto di warung Pak Gareng. Ternyata rasanya masih maknyus seperti dulu, harganya juga nggak mahal, cuma Rp 5.000 semangkok. Yang saya suka, “teman” untuk makan soto di sini banyak: ada sate ayam, sate telor puyuh, sate ati, dll. Pulangnya saya bawa lagi tiga bungkus buat orang rumah.

Semakin siang, makin tak jelas apakah saya bisa pinjam motor seharian atau ada teman yang bisa pinjemin motor atau nganterin saya ke mana-mana sekalian.

Lagi pula, susah juga bikin janji dengan teman-teman yang sekarang punya kesibukan masing-masing. Mau ketemu Tante Tya, teman curhat saya dulu sekaligus partner main badminton dan wisata kuliner, juga agak susah karena dia punya acara dengan keluarganya.

Seporsi gudeg dengan ayam dan telor…. 😛

Siangnya, saya sempat pinjam motor tante saya sebentar, dan saya gunakan untuk beli oleh-oleh bakpia dan keripik jamur, lalu saya main ke Jl. Wijilan untuk makan gudeg. Hmmm….gudeg paling enak memang di tempat asalnya. 🙂

Saya juga akhirnya bisa beli gudeg kalengan yang artikelnya pernah dimuat di Kompas tempo hari. Harganya Rp 25 ribu dan tahan hingga setahun! Tanpa bahan pengawet pula….

Ini dia gudeg kalengan itu…

Sorenya, rombongan keluarga saya sudah pergi duluan untuk nyekar ke pemakaman keluarga besar kami di kawasan Krapyak. Saya bilang saya akan menyusul karena sebelumnya saya harus ketemu dulu dengan Saptuari, entrepreneur Jogja yang bukunya saya edit dan akan diterbitkan oleh penerbit Mizan.

Akhirnya, teman SMA saya, Ferry, memastikan bisa menjemput saya. Kami langsung menuju kawasan Wonocatur, Bantul, persisnya ke warung Mas Kingkong, warung makan milik Saptuari.

Sepanjang jalan menuju ke sana Ferry banyak bercerita soal teman-teman SMA kami: ada yang jadi pengusaha mebel, ada yang kerja di Australia, ada yang jadi mualaf (!), ada yang hilang nggak jelas, dan ada juga yang entah kena penyakit apa sehingga jadi kurus kering kayak tengkorak. Termasuk tentang si Ferry sendiri yang setelah 12 tahun kuliah S-1 akhirnya lulus juga….hahaha! 😛

Di warungnya, sekitar 300 meter arah timur dari Pasar Wonocatur, Maguwo, Saptuari menyambut kami dengan hangat dan senyum lebar. Baru duduk beberapa detik dia sudah mempersilakan kami memilih mau makan apa. “Aku yang traktir!” begitu katanya. Di warung ini ada beberapa menu yang namanya lucu-lucu: Ayam Kriuk-kriuk, Bubur Ayam Siang Malam, Rawon Monggo Mawon. Saya pilih rawon karena siangnya saya sudah makan ayam campur gudeg.

Makan sore bareng Saptuari 🙂

Sambil makan sore, kami mengobrol banyak hal. Dari topik seputar penerbitan bukunya sampai tentang bisnis-bisnis yang dia miliki.

Beberapa tahun lalu saya pernah ketemu dengan alumnus UGM ini, tepatnya waktu saya mau wawancara tentang Kedai Digital untuk artikel di majalah Entrepreneur Indonesia tempat saya jadi wartawan, sekaligus bikin mug dengan foto saya dan mantan pacar saya (yang sekarang sudah jadi istri).

Beberapa tahun kemudian saat membaca buku Wirausaha Mandiri tulisan Rhenald Kasali, saya kaget karena menemukan nama Saptuari di situ sebagai juara dua tingkat nasional Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri 2007 kategori alumni dan pascasarjana. Mantep tenan bos yang satu ini. 🙂 Teman saya Ferry malah nggak bisa menyembunyikan kegembiraannya karena ketemu orang top dan minta difoto bareng…hahaha! 😀

Awas daging kingkong! 😀

Warung Mas Kingkong ini baru berdiri sekitar tiga minggu, dan ini hanya salah satu bisnis Saptuari. Bisnis awalnya adalah Kedai Digital, perusahaan yang memproduksi aneka barang cinderamata seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto dan poster keramik, serta banner) dengan hiasan hasil print digital.

Selain itu ia juga punya warung bakso dan perusahaan t-shirt bernama Jogist, yang desainnya berisi permainan kata-kata lucu khas Jogja.

Belakangan nama Saptuari juga selalu dikaitkan sebagai dedengkot Sedekah Rombongan, komunitas dunia maya yang sering mengumpulkan uang sedekah dan terjun langsung untuk memberikan sedekah tersebut kepada kaum miskin papa yang membutuhkan.

Puas makan dan ngobrol, saya diantar Ferry ke Krapyak untuk nyekar. Saat mengantar saya pulang selepas maghrib, kebetulan kami melewati Jl. KH. Ahmad Dahlan. Saya langsung ingat bahwa saya dulu sering makan oseng-oseng mercon di sekitar sini. Langsunglah saya minta diantar ke warung tersebut.

Warung Bu Narti ini memang warung oseng-oseng mercon pertama di Jogja. Berhubung masih kenyang, saya beli aja seporsi oseng-oseng mercon dan iso goreng buat dibungkus dan dibawa ke Bandung. Cukup bayar Rp 20 ribu untuk dua masakan itu. Rasanya harganya tidak terlalu banyak berubah sejak zaman saya kuliah dulu.

Buat yang nggak tahu, oseng-oseng mercon adalah masakan sandung lamur dan otot sapi yang diracik dengan menggunakan resep pedas dari cabai rawit dengan perbandingan untuk setiap daging 5 kg cabainya 1 kg, sehingga pedasnya sangat mantap bagi penyuka pedas seperti saya. Di Jl. KH. Ahmad Dahlan ini juga saya lihat sudah ada 4-5 warung oseng-oseng mercon lain selain milik Bu Narti, padahal dulu belum ada. Akankah oseng-oseng mercon menjadi kuliner khas Jogja selain gudeg? 😛

Konon ceritanya warung oseng-oseng mercon Bu Narti ini dirintis oleh ibunya yang mulai berjualan tahun 1960-an. Waktu itu, ibunya  memperoleh pemberian daging yang dicoba dimasak menjadi oseng-oseng yang pedas dan dijual, dan ternyata laku. Bu Narti lalu meneruskan berjualan di jalan KH Ahmad Dahlan, dari jam 5 sore sampai dengan jam 10 malam. Beberapa hari sebelum berangkat ke Jogja malah saya melihat liputan soal oseng-oseng mercon ini di RCTI.

Sarapan oseng mercon…hebatnya nggak mules meski makannya pagi-pagi 😀

Malamnya, sekitar jam 22.00, kereta Lodaya bergerak menuju Bandung. Tengah malam saya terbangun dan mengecek berita di Internet, lalu merasa sedih saat mengetahui MU gagal jadi juara Liga Inggris. 😦 Sedih juga karena sebenarnya saya lebih suka tinggal di kota asal ibu saya ini, tempat saya belajar, punya teman-teman yang baik dan hebat-hebat, dan menikmati masa-masa indah dan seru di kota gudeg ini.

Sedih juga karena saya belum puas menikmati kuliner Jogja. Sampai ketemu lagi nasgor Pak Edi, sambal bawang Bu Santi, angkringan Lik Man, dll. Untunglah saya bawa oseng-oseng mercon. Sampai di rumah, setelah bongkar-bongkar bawaan, saya memanaskan oseng mercon dan iso goreng yang saya bawa. Wah, masih enak rasanya. Isonya sangat gurih dan oseng merconnya masih pedas menggigit! Saya harus balik ke Jogja lagi! []

Penerjemah Masa Kini: Profesi Sarat Tantangan

Profesi penerjemah, konon, belum terlalu dikenal oleh masyarakat umum, apalagi kalau dibandingkan dengan profesi-profesi “populer” seperti public relationsalesman, presenter, MC, wartawan, sekretaris, anggota boyband, dan banyak lagi. Ini terkadang dirasakan oleh para penerjemah ketika berhadapan dengan situasi-situasi di tengah masyarakat, misalnya ketika menuliskan data pekerjaan di lembaga-lembaga publik. Atau, yang lebih sering lagi, mendapat pertanyaan tentang profesi tersebut dari orang yang bahkan tak pernah membaca buku. Sebagian masyarakat mungkin juga berpikir bahwa menjadi penerjemah itu “mudah”, walau kenyataannya yang jago bahasa asing pun belum tentu bisa menjalani profesi ini dengan baik. Padahal, profesi penerjemah dari masa ke masa semakin kompleks dan penuh tantangan. Sudah begitu, dunia penerjemahan pun sangat luas. Ada penerjemah buku atau dokumen (translator), juru bahasa (interpreter), penerjemah teks film (subtitler), atau yang lebih luas lagi adalah editor buku (yang idealnya juga dituntut kemampuan sebagai penerjemah).

Hal itulah yang melatarbelakangi oleh HPI (Himpunan Penerjemah indonesia) Komda Jawa Barat menggelar acara gelar wicara dengan tema “Penerjemah Masa Kini: Profesi Sarat Tantangan”. Acara yang digelar pada 14 Januari 2012 di ruang American Corner di Perpustakaan Pusat ITB itu menghadirkan Sofia Mansoor (pendiri milis Bahtera, penerjemah senior), Andityas Prabantoro (Manajer Redaksi Mizan), Wiwit Tabah Santoso (penerjemah dan pengelola grup “Belajar CAT Tools” di Facebook), dan Laksmi Utari (mantan manajer biro penerjemahan internasional) sebagai narasumbernya. Sementara acara ini sendiri dipandu oleh Indra Blanquita Danudiningrat (penerjemah tersumpah dari Jakarta). Peserta yang hadir pun, sekitar 50-an orang (kalau tak salah hitung), banyak yang datang dari luar Bandung, misalnya dari Jakarta, Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Banyak peserta acara ini mungkin sudah paham bahwa profesi penerjemah mensyaratkan penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa asing yang tinggi, serta mampu mentransfer pesan dari satu bahasa ke bahasa lainnya dengan pas. Namun kini itu saja tidak cukup. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, penerjemah yang baik juga dituntut belajar menguasai kemampuan lain di luar keterampilan menerjemahkan, yaitu teknologi. Sofia Mansoor, kata moderator, berhasil bertahan selama lebih dari tiga puluh tahun sebagai penerjemah karena tak malas mengakrabkan diri dengan kemajuan teknologi. Walau aslinya berlatar pendidikan Farmasi, dunia penerjemahan lebih membuatnya jatuh hati. Sofia, yang memulai karier penerjemahan sejak awal 1980-an, akrab dengan mesin tik, lalu beralih mengetik dengan komputer, menggunakan Internet, sampai menggunakan perangkat lunak sebagai alat bantu menerjemahkan (seperti CAT Tool dan WordFast) dan memperluas jejaring dengan situs jejaring sosia. Sofia adalah salah satu pendiri milis Bahtera (Bahasa dan Terjemahan Indonesia) dan terkenal sebagai seorang penerjemah senior. Namanya juga bisa ditemukan sebagai penerjemah di majalah National Geographic Indonesia.

Pengalaman Wiwit Tabah Santoso lain lagi. Penerjemah asal Lampung ini sempat tinggal di sebuah desa di Jambi. Di tempat itu, boro-boro Internet, listrik pun bisa byar-pet tiga kali sehari, katanya. (Mas) Wiwit mengawali karier sebagai penerjemah pada tahun 2000-an, dengan honor per lembarnya di bawah Rp 10.000. Pernah juga ketika masih mahasiswa ia harus berbagi hasil 60:40 dengan tempat persewaan komputer di sekitar kampus yang jadi pihak pemberi order terjemahan. Tentu kini nasibnya sudah tak semerana dulu, berkat kegigihannya mengatasi segala keterbatasan, dan tak lupa dia mengingatkan untuk rajin membaca manual berbagai peranti lunak penerjemahan (seperti CAT Tool). Dan, pastinya, meluaskan jejaring. Salah satunya melalui milis Bahtera. Karena kualitas terjemahannya dianggap bagus, ada klien Wiwit yang tak segan mengajarkan penggunaan perangkat lunak untuk menggarap proyek terjemahan. Bahkan, ada kawan penerjemah yang sampai diberi lisensi perangkat lunak alat bantu penerjemahan senilai harga sepeda motor baru oleh klien, saking puasnya sang klien terhadap kualitas hasil terjemahannya. Ah, sepertinya saya juga harus mulai belajar peranti lunak macam itu.

Pembicara ketiga adalah Andityas Prabantoro, Manajer Redaksi Penerbit Mizan. Selain menceritakan perjalanan kariernya yang berawal dari seorang penerjemah hingga berkarier di Mizan, dia juga mengungkapkan bahwa modal utama seorang penerjemah adalah gemar membaca dan menguasai betul bahasa Indonesia, selain tentunya juga menguasai bahasa asing. Selain itu, penerjemah juga harus berwawasan luas agar bisa menangkap konteks tulisan yang hendak diterjemahkan dengan tepat. Sebagai editor, Tyas masih sering menjumpai kekurangan wawasan ini pada naskah terjemahan yang mampir di meja redaksi. Ia mencontohkan kalimat “Secretary of State” yang diterjemahkan menjadi “Sekretaris Negara”, padahal yang dimaksud adalah Menteri Luar Negeri. Kalau saja kita mau membaca banyak tema/topik, rajin mengasah kemampuan menuangkan pendapat ke dalam bentuk tulisan, dan tahu cara menggunakan berbagai kamus dan tesaurus, kesalahan “sepele” semacam itu tentu tak perlu terjadi. Tambahan dari saya, banyak membaca mungkin juga masih kurang. Harus diimbangi dengan makan banyak. 😛

Saat giliran pembicara keempat (Laksmi Utari) tiba, saya tak bisa konsentrasi menyimaknya, karena persis di belakang saya terjadi aksi gosip berisik yang dipelopori Mbak Esti dan Aini. Akhirnya saya memilih bermain game Angry Birds di ponsel saja. 😛

Acara ini juga diramaikan dengan undian berhadiah buku. Yang paling menggelikan, buku The Girl With The Dragon Tattoo terbitan Mizan dimenangi oleh penyuntingnya sendiri: Nur Aini. 🙂 Tapi dia lantas menolak dengan alasan sudah punya. Sialnya lagi, saya kurang cepat merespons, karena kalau Aini mengklaim hadiahnya, dia bilang mau kasih buku itu ke saya. Damn!

Menu makan siang 🙂

Acara berakhir sekitar jam 13.00. Seusai makan siang, saya meminta Nur Aini, mantan teman seangkatan di Mizan dan kini menjadi penerjemah lepas, untuk mengantar saya keliling kompleks kampus ITB (soalnya baru sekarang saya masuk ke kampus ini). Sambil mengobrol ngalor-ngidul, termasuk cerita soal mantan pacarnya dulu yang pernah diceburin ke kolam “Indonesia Tenggelam”.  Lingkungan kampus yang rimbun dan pemandangan beberapa kelompok mahasiswa masih sibuk beraktivitas membuat saya ingin jadi mahasiswa lagi.

Setelah selesai tur keliling ITB, saya kembali ke kebiasaan lama: jelalatan melihat jajanan. Adanya di sepanjang trotoar persis di luar gerbang belakang kampus: nasi goreng, burger, bakso, cireng, lumpia basah, es krim, dan banyak lagi. Lalu saya masuk kembali ke dalam kompleks, mencari tempat duduk di bawah pohon rindang berangin sepoi-sepoi. Sambil makan lumpia basah isi kornet (merek kornetnya: Ajib) ukuran jumbo seharga Rp 7.000 yang masih hangat, saya kembali berkhayal tentang asyiknya saat menjadi mahasiswa.