Category Archives: Buku

Ayah

20150520_181708

Judul: Ayah

Penulis: Andrea Hirata

Penerbit: Bentang Pustaka

Terbit: Mei 2015

Tebal: 412 halaman + xx

Setelah lama tak kedengaran, Andrea Hirata muncul lagi dengan novel barunya, Ayah.¬†Dua minggu sebelum buku ini resmi terbit tanggal 29 Mei, saya sudah mendapatkannya duluan (jangan tanya dapat dari mana). ūüôā Saya¬†langsung membacanya dan tamat dalam 5 hari. Kalau saja saya lagi nggak banyak kerjaan, mungkin satu-dua hari juga beres.

Awalnya saya agak takjub melihat buku ini: kover depan dan¬†beberapa halaman awal dipenuhi endorsement dari berbagai media dan penulis berbagai negara. Padahal novel ini bahkan belum terbit di Indonesia (waktu saya baca)! Tapi kemudian saya kecele. Semua puja-puji itu bukan untuk Ayah, melainkan untuk Laskar Pelangi … hehehe! Kesannya kok Ayah seperti kurang percaya diri, sampai-sampai harus menggunakan endorsement Laskar Pelangi yang jumlahnya berjibun itu.

20150514_132744Di kover belakang pun tidak ada sinopsis Ayah. Yang ada adalah biografi singkat penulisnya‚ÄĒini pun juga ada di kover dalam bagian depan. Padahal, tanpa semua itu pun Andrea sudah punya pembacanya sendiri. Tapi ya sudahlah …

Ayah masih menggunakan Belitong sebagai latar cerita utama. Ceritanya tentang empat sahabat bernama Sabari, Ukun, Tamat, dan Toharun. Keempatnya bersekolah di sekolah yang sama. Andrea membangun kisah dengan menceritakan keseharian keempat sahabat itu dan latar belakang keluarganya masing-masing.

Mirip dengan tokoh-tokoh di Laskar Pelangi, masing-masing dari keempat sahabat tadi punya karakter yang unik. Tak jarang mereka juga begitu polos dan naif, namun kadang bisa cerdas juga. Bagian ketika Andrea menceritakan masa sekolah anak-anak ini hingga lulus mendapat porsi terbanyak dalam buku. Menurut saya bagian ini cukup asyik. Humornya sangat khas Andrea.

Sabari diceritakan jatuh cinta sejak SMP pada seorang gadis bernama Lena. Walau gadis itu tak pernah memedulikannya, Sabari tak pernah menyerah. Ia kerap memajang kertas berisi puisinya untuk Lena di majalah dinding sekolahnya. Sesekali, gadis itu membalas, juga lewat mading.

Singkat cerita, ketika sudah dewasa pun, Sabari tetap tak bisa melupakan Lena. Suatu hari, ia mendengar kabar bahwa Lena hamil di luar nikah. Saat itu Sabari bekerja di pabrik batako milik Markoni, ayah Lena. Sabari pun mau saja ketika diminta menikahi Lena, demi menyelamatkan nama baik Markoni yang kurang akur dengan Lena itu.

Anak lelaki yang kemudian lahir dari rahim Lena itu kemudian diberi nama Zorro oleh Sabari. Pasalnya, bocah itu ketika diberi boneka Zorro tak mau melepasnya. Sabari sangat menyayangi Zorro. Dia ingin memeluknya sepanjang waktu, terpesona melihat makhluk kecil yang sangat indah itu dan seluruh kebaikan yang terpancar darinya.

Tiap malam, Sabari susah susah tidur lantaran membayangkan bermacam rencana yang akan dia lakukan bersama anaknya jika besar nanti. Dia ingin mengajaknya melihat pawai 17 Agustus, mengunjungi pasar malam, membelikannya mainan, menggandengnya ke masjid, mengajarinya berpuasa dan mengaji, dan memboncengnya naik sepeda saban sore ke taman kota.

Dia juga ikhlas ketika Lena bahkan tak mau tinggal bersama mereka. Beberapa tahun kemudian Lena malah minta cerai dan menikah lagi hingga tiga kali, bahkan akhirnya mengambil Zorro dari Sabari. Pelan-pelan, Sabari mulai tampak seperti orang gila dalam penampilan dan tingkah laku. Dua sahabatnya, Ukun dan Tamat, lama-lama tak tahan melihat Sabari seperti itu, sehingga akhirnya mereka memutuskan menjelajahi Sumatra demi menemukan Lena dan Zorro dan membawa mereka kembali.

Berhubung biasanya orang tidak suka dikasih spoiler saat baca resensi buku, saya juga nggak akan memberitahu akhir kisahnya, dong. Bagi saya, ending-nya agak mudah ditebak, soalnya tokoh yang sering diceritakan di awal tidak muncul lagi di tengah cerita, hingga akhirnya nongol di akhir cerita, dengan nama yang berbeda.

Novel Ayah¬†ini terbagi dalam bab-bab pendek, sehingga pembaca bisa dengan enak mencicil baca.¬†ūüôā Di beberapa halaman akhir juga disertakan informasi soal buku-buku Andrea yang sudah dan akan terbit, baik di Indonesia maupun terjemahan Laskar Pelangi di negara-negara lain. Gila juga, ya … ūüôā

20150529_171018

Anyway, saya suka gaya tulisan Andrea yang khas dan lugas. Novel kali ini juga tidak menggelar glorifikasi soal kesuksesan studi di luar negeri. Para tokohnya bahkan tetap kere dan tidak berpendidikan tinggi hingga akhir cerita. Tapi kisah Sabari yang sangat tulus mencintai anaknya (yang bukan kandung), kesetiakawanan para sahabatnya, dan humor rasa Melayunya menjadi magnet kuat dalam Ayah. Walau ada beberapa bagian cerita yang menurut saya nggak penting banget dan melantur¬†ke mana-mana, misalnya bagian tentang Australia itu … hehehe! ūüėõ

Kesimpulan saya, novel ini lumayan bagus, kok. Memang tidak istimewa sih (masih bagusan Padang Bulan, menurut saya), tapi tetap bagus. Enak dibaca sambil menyeruput segelas teh tarik hangat saat libur. []

Pelatihan Penyuntingan Buku Terjemahan

20150418_095600

Jam¬†9 kurang seperempat pagi itu,¬†ketika sopir mobil travel menurunkan saya dan Mbak Dhias, rekan sekantor, sedikit di depan gerbang tol Slipi. Hari itu (Sabtu, 18/4), kami dijadwalkan ikut acara Pelatihan Penyuntingan Buku Terjemahan di Gedung Kompas-Gramedia di kawasan Palmerah Barat. Baru kali ini saya diturunkan di jalan tol…hehe! Tapi emang saya yang minta sih. Kalau tidak, turunnya bisa lebih jauh lagi di Tanjung Duren.

Saat berjalan kaki ke perempatan Slipi РPalmerah untuk nyambung naik mikrolet, tak sengaja saya menemukan penjual nasi bebek (!). Tapi karena acara yang akan dimulai jam 9, saya terpaksa jalan terus dan hanya menoleh sedih ke arah gerobak nasi bebek itu.

20150421_070604Ternyata, waktu jam 9-an saya sampai di lantai 7 di gedung KG, acara belum dimulai. Acara ini sendiri diadakan oleh HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) bekerja sama dengan Penerbit GPU (Gramedia Pustaka Utama). Kaget juga saya melihat ruangan yang sangat penuh. Setelah menandatangani daftar hadir, saya¬†mendapat goodie bag yang isinya cihuy: dua buku notes, kalender meja GPU, bolpen, dan novel terbitan GPU. Saya tadinya mendapat jatah novel Hopeless-nya Colleen Hoover, tapi belakangan boleh saya tukar dengan¬†Burial Rites-nya Hannah Kent berkat Kak Mei yang baik (ge-er nih pasti orangnya). ūüėõ

Setelah sambutan dari panitia, yang diwakili Mbak Uci, Andi Tarigan, salah seorang editor non-fiksi GPU, melanjutkan kata sambutan. Dia bilang, panitia tadinya membatasi peserta untuk¬†30-40 orang saja.¬†Namun,¬†ternyata antusiasme peserta sangat besar sehingga yang mendaftar mencapai¬†90 orang (!). Bahkan ada yang datang dari Jogja dan Sumatra. Ini setidaknya saya baca¬†sebagai: (a)¬†stok penerjemah banyak, penerbit senang, (b) bagi penerjemah lepas, pesaing akan semakin banyak dan mereka harus menjaga kualitas terjemahan mereka. Penerbit ya senang juga…hehehe! ūüôā

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Pak Hananto (Ketua HPI). Pak Hananto mengatakan¬†bahwa acara¬†kali ini lebih bersifat sharing ketimbang pelatihan.¬†Beliau juga¬†mengisahkan sejarah singkat HPI dan pentingnya peran penerjemah. Menurut Pak Hananto, “Terjemahan tidak akan pernah bisa sempurna dilakukan oleh mesin.”

Meskipun ada Google Translate dan peranti lunak semacamnya, sebagus-bagusnya hasil terjemahan software, hasilnya tidak akan bisa sebagus terjemahan oleh manusia, karena manusia memiliki rasa dan akal budi yang memungkinkannya menerjemahkan berdasarkan konteks yang pas atau sesuai. Penerjemahan dan penyuntingan juga bisa disebut seni, karena membutuhkan keahlian memilih dan menyusun kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksud si penulis asli ke bahasa lain tanpa menghilangkan ciri khas atau gaya tutur si penulis.

20150418_090125

Selepas sambutan, ada sesi coffee break sejenak sebelum acara dimulai jam 10. Sambil ngofi brek, saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa wajah yang saya kenal, seperti Kak Mei, Mbak Dina, Mbak Lulu, Mbak Linda, dan Mbak Rere (ada yang kelewat? hehe!). Setelah melahap dua potong pastel sayur (satu dikasih Mbak Dina yang nggak doyan pastel) dan sambil membawa secangkir teh krim hangat, saya masuk lagi ke ruangan dan acara pun dimulai.

Pembicara pertama di acara¬†ini¬†adalah¬†Nina Andiana. Menurut salah seorang editor fiksi GPU ini, menerjemahkan atau menyunting karya fiksi bertujuan menciptakan pengalaman membaca semirip mungkin dengan pengalaman saat membaca buku aslinya.¬†Pembaca mendapat rasa buku sesuai buku aslinya, tapi pada saat yang sama editor juga harus sanggup¬†menyampaikan ide, rasa, dan “suara” penulis asli buku itu dengan baik dan pas.

Nina mengajukan pertanyaan: lebih penting menerjemahkan kata demi kata dengan akurat atau menerjemahkan sesuai jiwa/semangat buku tersebut? Idealnya, kedua hal itu harus dilakukan secara proporsional.

Nina melanjutkan, jika ingin menjadi editor yang baik, ada beberapa syarat dasar yang mutlak harus dipenuhi: gila¬†baca, punya kompetensi dalam bahasa target, bisa menulis, punya kompetensi dalam bahasa sumber dan bahasa target. Penguasaan bahasa target justru lebih dipentingkan. Kenapa? Jika kita tidak mengerti sepenuhnya bahasa sumber, kita masih bisa mencari artinya di kamus atau Internet. Namun, menerjemahkan naskah buku asing ke dalam bahasa Indonesia yang tepat, pas, sesuai konteks, dan enak dibaca memerlukan penguasaan bahasa Indonesia yang sangat baik. Karena itulah sebaiknya editor juga harus punya kemampuan di atas rata-rata dalam hal¬†menulis dan menerjemahkan dalam bahasa target, sehingga hasil suntingan punya¬†tingkat¬†keterbacaan tinggi. Nah, makanya … harus rajin ngeblog atau nerbitin buku solo sekalian … ūüôā

Ada beberapa hal yang wajib diperhatikan editor saat menyunting: tata bahasa dan ejaan, kosakata, idiom, selingkung, fakta, dan gaya bahasa. Editor tidak boleh malas memeriksa ulang kalimat-kalimat bahasa target dan sumber yang terasa ganjil, karena bisa saja itu idiom atau peribahasa khas di negara asal penulis. Editor juga harus memeriksa fakta-fakta dalam bahan terjemahan agar tidak salah memahami maksud penulis. Gaya bahasa harus diperhatikan dengan cermat sehingga bisa dipahami dengan mudah, namun tetap menjaga gaya khas si penulis. Nina juga memberi tips untuk penerjemah agar mengecek ulang setelah menerjemahkan satu kalimat atau bagian, sehingga tidak repot mengecek hal-hal di atas tadi saat merapikan hasil terjemahan.

Peserta kemudian diminta mencoba dua latihan penyuntingan. Latihan pertama menggunakan beberapa paragraf dari Tales of the Beedle Bard karya J.K. Rowling. Peserta diminta menerjemahkannya dan kemudian hasil terjemahan salah satu peserta dikoreksi bareng-bareng. Latihan kedua diambil dari novel Dark Divine karya Bree Despain. Di sini kami diminta mengoreksi naskah terjemahan mentah (belum diedit) dari penerjemah buku itu.

Rasanya banyak yang sepakat dengan Nina, bahwa seni menerjemahkan dan menyunting itu bukan melulu masalah benar atau salah.¬†Kesimpulannya, menurut saya, mungkin seperti kata Rumi: “Beyond our ideas of right-doing and wrong-doing, there is a field. I’ll meet you there”. Untuk konteks dunia penerjemahan dan penyuntingan buku, terjemahan asal-asalan saya adalah: lebih daripada sekadar benar atau salah, terjemahan adalah juga seni menyampaikan gagasan dari bahasa lain secara¬†tepat, pas, dan mulus¬†dibaca. I’ll meet you there … ūüėõ

20150418_120336

Menu maksi ūüôā

Usai sesi pertama, peserta diberi waktu satu jam untuk makan siang dan sholat. Menu makan siangnya: nasi rames, lauknya ayam suwir, gepuk, telor pindang, oseng tempe, dan satu lagi oseng pedas apa gitu (lupa). Tapi, walau sederhana, kok enak ya … sayang nggak bisa nambah … hehehe! ūüôā

Jam satu, acara dilanjutkan lagi. Kali ini pembicaranya adalah Andi Tarigan. Salah seorang editor non-fiksi GPU ini bilang bahwa menyunting naskah non-fiksi tentu tidak bisa disamakan begitu saja dengan menyunting naskah fiksi. Dia lalu menyampaikan beberapa prinsip dasar dalam menyunting naskah terjemahan:

РMembaca: membangun cakrawala pemahaman dan memahami argumentasi

Editor perlu memahami terlebih dahulu gagasan besar yang ingin disampaikan penulis, juga konteks dan alam pikir yang mendasari seluruh proses penulisan. Jadi, sebaiknya editor membaca dulu isi buku aslinya sebelum mengedit hasil terjemahan.

РPenyuntingan: akurasi, konsistensi, kecermatan, gramatika, ejaan, tanda baca, etika, dan kesantunan 

Ada cukup banyak item yang harus diperiksa editor dalam menyunting naskah non-fiksi. Terminologi, nama (orang, institusi, perusahaan, dan merek dagang), gelar (religius, kultural, akademik), simbol dan rumus yang dipakai disiplin ilmu, data historis (apa, kapan, dan di mana terjadinya satu peristiwa), data deskriptif (sistem pemerintahan, metode perdagangan, dll.)

Editor juga harus memeriksa printilan semacam data rujukan (judul buku, jurnal, artikel, majalah, koran, dan situs web), referensi (catatan kaki dan daftar pustaka), hak cipta (foto, ilustrasi, gambar, grafik, dan tabel), daftar isi: kesesuaian antara daftar isi dan isi buku.

Ini masih ditambah dengan tata bahasa, ejaan, kalimat efektif, dan tanda baca. Masalah penulisan kata depan “di” dan imbuhan “di-“, misalnya, tentu saja masih bikin kesal para editor hingga hari ini. Maklum, mayoritas orang Indonesia memang tidak tahu bedanya, padahal itu pelajaran SD. ūüėõ

Kepekaan juga dituntut dalam pekerjaan penyuntingan. Editor dituntut untuk sangat peka terhadap teks-teks yang sekiranya “berbahaya” jika diloloskan, misalnya isu-isu SARA dan sejenisnya.

Tambahan saya sih … keseimbangan membaca buku fiksi dan non-fiksi juga sangat penting bagi editor. Membaca banyak jenis buku akan menumbuhkan¬†kemampuan meluweskan dan memuluskan tulisan atau hasil terjemahan. Tentu keterampilan ini sangat diwajibkan¬†bagi editor (dan penerjemah) ketika bertemu dengan kalimat-kalimat buku non-fiksi yang kadang kaku dan penuh anak kalimat.

Yah, itulah yang bisa saya rangkum dari acara kemarin. Semoga berguna buat pembaca blog keren ini. ūüôā

***

Acara disudahi jam tiga sore. Setelah Ashar dan ngobrol lagi sana-sini, kami pun pulang segera sesudah hujan reda. Menurut petunjuk Kak Mei, ada pool DayTrans nggak jauh dari situ. Benarlah, hanya satu kilometer naik mikrolet, saya melihat pool itu.

20150418_160153Setelah membeli tiket, berhubung uang makan masih utuh, sibuklah saya menjelajahi daerah sekitar untuk mencari warung makan yang cihuy. Tak sengaja, saya menemukan warung kecil yang dari luar tampak menarik. Salah satu menunya adalah: bebek mercon! Ha … lumayan lah buat pengganti nasi bebek yang terlewatkan¬†tadi pagi! ūüėõ

Bagian dalam warung tampak bersih dan penataannya cukup berselera. Sambil melahap makan sore, saya merenungkan sedikit isi pelatihan tadi. Sebagai editor in house, saya menganggap hampir semua materi yang dihidangkan tadi adalah makanan saya setiap hari. Tentu saja tetap menarik melihat bagaimana beberapa peserta mencoba merapikan terjemahan saat sesi latihan tadi.

20150418_161019

Bebek mercon ūüôā

Satu hal mencolok yang membedakan sebenarnya cuma soal selingkung alias kecenderungan/kebiasaan di masing-masing penerbit/media massa. Kapan ya bahasa Indonesia tak perlu berkubu-kubu lagi seperti ini? ūüôā

Terus, ada bagusnya juga kalau lain kali acara semacam ini dibikin rada eksklusif, dengan jumlah peserta yang sangat terbatas dan bahasan yang jauh lebih fokus. Misalnya pelatihan khusus editor dan penerjemah buku yang jam terbangnya tinggi saja (bukan pemula), gitu. Misalnya lagi,¬†fokus ke tema penerjemahan dan penyuntingan¬†novel romance, thriller, atau buku bisnis.¬†Yaa … sekadar usul aja sih ūüôā

Oke, waktunya balik ke Bandung. Beberapa menit sebelum berangkat, saya menyempatkan diri mampir ke Circle K di samping pool mobil travel,¬†membeli minuman segar dan¬†chicken katsu untuk menyibukkan diri di perjalanan.[] ūüôā

Bumi Tuhan

20140923_065128

Judul: Bumi Tuhan: Orang Buangan di Pyongyang, Moskwa, dan Paris (1960-2013)

Penulis: Waloejo Sedjati

Penerbit: Penerbit Kompas

Terbit: November 2013

Tebal: 350 halaman

“Apa gerangan yang akan terjadi di bumi ini seandainya tidak lahir manusia ajaib bernama Karl Marx itu? Mungkin perjalanan sejarah umat manusia akan berbeda. Juga perjalanan hidupku.”

– Waloejo Sedjati

Sampulnya memang tidak begitu menarik: berwarna dasar putih dengan gambar yang baru jelas ketika dilihat dari dekat. Tapi setelah saya baca, kisah di dalam buku ini ternyata sangat menarik dan meninggalkan kesan mendalam.

Waloejo Sedjati adalah pemuda kelahiran Pekalongan yang bercita-cita menjadi dokter, untuk mengabdi kepada tanah airnya setelah menyelesaikan pendidikan di Pyongyang. Namun, tragedi 30 September 1965 mengubah seluruh jalan hidupnya. Ia terpaksa mengembara selama 48 tahun hingga wafat di Paris sebagai warga negara Prancis pada tahun 2013. Sebelumnya, ia tinggal di Korea Utara selama 10 tahun dan Uni Soviet selama 15 tahun.

Keakraban Indonesia dengan negara-negara sosialis membuat Waloejo pada 1960 dikirim untuk belajar di Pyongyang selama delapan tahun. Tidak banyak orang Indonesia yang belajar di sana atau mengetahui kondisi negara tersebut, sehingga pengalamannya selama di Korea Utara bagi saya sangat menarik. Kisah selama di Korut ini memakan porsi terbesar dari isi buku ini.

Pertama kali datang sebagai mahasiswa yang akan belajar di sana, Waloejo mendapat sambutan luar biasa. Selain disambut rombongan mahasiswa di stasiun, ia juga diajak mengunjungi pabrik-pabrik, menonton pertunjukan teater, dan mendapat hadiah pakaian musim dingin langsung dari pemimpin Korea Utara saat itu: Kim Il Sun. Namun, ia tidak boleh mengetahui nama dan bersahabat dengan dua pemuda yang menemaninya selama acara tersebut, karena mereka dilarang berteman dengan orang asing di luar tugas.

Selama kuliah, mahasiswa asing di Korut mendapat asrama tersendiri dan makanan yang jauh lebih baik dibandingkan mahasiswa lokal yang cuma dikasih jatah sejenis bubur dan tinggal berdesakan dalam satu kamar. Namun, mahasiswa asing harus sekamar dengan satu mahasiswa lokal, yang sebenarnya bertindak sebagai mata-mata.

Sebagai pemuda dari keluarga sederhana yang merasa bangga mendapat kesempatan belajar di luar negeri, Waloejo semula sempat shock setelah menyadari bahwa fasilitas dan mutu pendidikan di universitasnya di Korea Utara sangat sederhana. Ia juga mendapati bahwa ilmu kedokteran di negara sosialis jauh tertinggal dibandingkan negara-negara Barat.

Pada bagian ini, cerita Waloejo berhasil membuat saya mengagumi rakyat Korut¬†yang ulet dan giat membangun negerinya yang hancur akibat¬†perang. Saya seolah diajak langsung mengamati wajah¬†Korea Utara tahun ’60-an. Selama kuliah, Waloejo¬†juga sempat membantu delegasi Indonesia yang melawat ke Korut atau¬†delegasi Korut yang berkunjung ke Indonesia.

Menurut pengalaman Waloejo di beberapa negara sosialis, Korea Utara adalah negara komunis paling ketat. Sebagai mahasiswa asing, ia tidak boleh memiliki teman penduduk lokal, asramanya diisolasi dan dijaga oleh dua petugas piket, bahkan setelah seluruh mahasiswa asing lainnya sudah pergi dan ia tinggal sendirian.

Ia juga dilarang berbelanja di mana pun kecuali di toko khusus untuk orang asing. Seorang teman kuliah Koreanya yang bersedia ia ajak makan bareng di restoran khusus orang asing harus membayar kenekatannya melanggar peraturan dengan kerja paksa dan diberhentikan dari kuliah. Sementara itu, seorang dosennya yang memainkan biola di depan Waloedjo di ruang autopsi dipindahkan dan belakangan malah hilang.

Setelah peristiwa 30 September dan pemerintahan di RI berganti, mahasiswa Indonesia di Pyongyang diminta mengikuti skrining. Mengikuti nasihat perwakilan Indonesia di sana saat itu, Waloedjo menolak dan menyatakan tetap setia kepada Presiden Sukarno, sehingga paspornya dicabut.

Setelah tidak memiliki kewarganegaraan, Waloejo mencoba bekerja sebagai dokter dan mempelajari akupuntur dari dosen pembimbingnya. Namun, sistem komunis Korut yang terlalu ketat dirasakannya terlalu kejam, sehingga ia pindah ke Uni Soviet pada 1970.

20140916_135835Dibandingkan dengan Korea Utara, kehidupan di Uni Soviet terasa bebas, karena saat itu Soviet telah melakukan revisi dalam pelaksanaan komunisme dan mengarah ke kapitalisme. Selama di Uni Soviet, Waloejo menjadi dokter bedah dan meneruskan pendidikan S-3 sehingga memperoleh gelar PhD pada 1990. Selain bekerja di rumah sakit, ia juga praktik penyembuhan akupuntur, yang belakangan membawanya ke Beograd dan membangkitkan minatnya untuk pindah ke negara Barat.

Dibantu sahabat lamanya, Waloejo pindah ke Paris. Namun, kepindahan ke negara Barat itu tidak membuat semua masalah beres. Waloejo tidak bisa berbahasa Perancis. Akibatnya, ia tidak bisa mengikuti ujian persamaan sebagai syarat untuk bisa bekerja sebagai dokter di klinik atau rumah sakit. Usianya yang sudah setengah abad membuatnya kesulitan belajar bahasa baru.

Perjuangan hidupnya dimulai dari nol lagi. Kesulitan ekonomi apabila tidak bekerja membuat sisa hidupnya di Perancis diisi dengan bekerja sebagai asisten juru rawat hingga pensiun. Setelah menjadi warga negara Prancis ia sempat mengunjungi keluarga di Indonesia.

Saat bertemu kembali dengan kedua orangtuanya, Waloejo mendapat kabar bahwa semua teman dekatnya disiksa dan dibunuh, termasuk mereka yang tidak begitu paham arti komunisme atau sekadar simpatisan tak penting. Keluarganya juga dikucilkan dari masyarakat setelah tragedi tersebut.

Di halaman-halaman terakhir, Waloejo menceritakan bagaimana ibunya “menggugat”nya: “Kau! Coba katakan! Kenapa bencana itu menimpa kami? Apa benar kau anggota PKI seperti yang dituduhkan orang-orang kampung itu? Kau pasti tahu mengapa kami¬†harus membayar teramat mahal atas dosa yang tak kami mengerti!”

Waloejo tak sanggup menjawab semua itu. Semua pengalaman pedihnya ini menimbulkan rasa sedih luar biasa hingga akhirnya Waloejo, yang setelah tinggal di Perancis memakai nama Valery Selancy, wafat.

Beruntunglah ia masih sempat menulis memoar ini, sehingga kita bisa banyak belajar tentang Waloejo‚ÄĒseorang¬†anak bangsa yang¬†ilmunya disia-siakan, mubazir tak terpakai di negeri sendiri, dan namanya pun akan dilupakan zaman. Sayang di buku ini nggak ada foto-fotonya.

Walaupun ideologi komunis sudah tak laku lagi dunia, di Indonesia rasa takut akan gerakan tersebut masih dipelihara hingga kini. Padahal banyak ancaman lain yang jauh lebih nyata dan berbahaya, misalnya semakin maraknya korupsi atau intoleransi yang mengatasnamakan agama oleh kelompok-kelompok pemuja kekerasan dan pelestari kebodohan.

Tragis.[]

Balada Pak Editor

Meja kerja saya--dengan segala

Meja kerja saya…dengan segala “perlengkapan”nya.

Editor buku barangkali bukanlah profesi populer di masyarakat kita. Disangka kerja di percetakan‚ÄĒatau parahnya disangka kerja di kios fotokopi di sekitar kampus‚ÄĒmungkin pernah dialami teman-teman saya yang seprofesi. Biasanya sih yang menyangka begitu memang bukan pembaca buku.

Keluarga besar saya aja juga nggak tahu persis editor buku itu¬†kayak apa kerjaannya. Yang mereka tahu mungkin editor tuh banyak duit. Mungkin karena saya sering ngelayap ke luar negeri. Mereka nggak tahu aja saya nginepnya di bandara atau hostel murah, tiketnya promo, nabungnya berbulan-bulan atau bertahun-tahun, pulangnya puasa…hehehe! ūüėÄ

Tadinya saya pikir cerita tentang kerjaan saya sehari-hari ini tidak menarik bagi rekan-rekan seprofesi. Tapi kata seorang teman, justru sebaliknya. Karena jarang ada editor in-house yang rajin ngeblog. Haha! Padahal blog JOS ini juga¬†jarang di-update walau follower-nya udah lebih dari 200¬†orang dan dilihat lebih dari 250 ribu kali. *not bad lah*¬†*kibas poni* ūüėõ

Dragon Blade. Teman cari nafkah dan jalan-jalan.

Dragon Blade. Teman cari nafkah dan jalan-jalan.

Saya biasa tiba di kantor¬†sebelum jam 8 pagi‚ÄĒalias sebelum jam kantor dimulai. Jarak dari rumah ke kantor saya sekitar 15 kilometer. Biasanya saya tempuh dalam waktu 40 menit. Itu udah termasuk macet dan jalanan bolong-bolong. Kadang malah 30 menit kalau saya lagi pengen balapan di jalanan bypass pake Honda Blade saya. Kalau jalanan kosong melompong,¬†15 menit juga udah nyampe. *Berangkatnya jam 3 pagi* ūüėÄ Kalau pakai angkutan umum, waktu dan uang bisa habis semua. Butuh dua kali ojek dan tiga kali angkot untuk bisa sampai ke kantor. Ongkosnya bisa 40 ribu sehari pergi-pulang. Belum ngitung durasinya. Umur habis di jalanan. Boros!

Ritual pagi saya di kantor biasanya ya langsung nyalain komputer. Habis itu buka bungkusan sarapan. Menu setiap pagi bervariasi: soto ayam, bubur ayam, nasi kuning, nasi gudeg, kupat tahu, nasi uduk, atau lontong kari. Kadang saya makan di kaki lima, kadang juga saya bawa ke kantor buat dimakan di meja. Beberapa teman kantor juga sudah hafal ritual pagi saya itu, apalagi kalau harum makanannya udah menyebar ke mana-mana, sehingga kadang mereka nanya apa menu sarapan pagi ini atau bahkan nitip beliin.

Eh, kenapa ini jadi ngomongin makanan, ya? Hahaha! ūüėÄ

Nah, sambil sarapan itu, biasanya sejam pertama di pagi hari saya habiskan dengan mengecek dan membalas e-mail, baca-baca berita online (saya suka baca topik apa pun, termasuk gadget, karena bisa sambil ngiler¬†punya gadget keren), baca-baca postingan terbaru di beberapa blog favorit saya (topiknya sering kali tentang buku, wisata kuliner, dan traveling), sambil sesekali chatting via WhatsApp dengan beberapa teman. Seringnya sih ngegosip atau cela-celaan….hahaha! ūüėõ Frekuensi saya main Facebook udah jauh menurun, jadi cuma dicek sekali-sekali. Twitter? Cuma saya tengok kalau ada yang mention. Kalau nggak ada, paling cuma sebulan¬†sekali dua kali buka Twitter. Instagram dan blogwalking¬†lebih asyik buat saya…hehe! ūüėĬ†Selain yang udah saya sebutkan, saya nggak punya akun di medsos lain. Buang-buang waktu aja sih buat saya.

Nah, setelah semua ritual itu selesai, baru deh saya mulai kerja…hahaha! Apa sih kerjaan editor?

Yang diketahui sebagian orang, editor buku itu kerjanya cuma baca hasil terjemahan atau mengoreksi naskah. Hohooo…tidak bisaa! *ngutip Sule* ūüėÄ

Kerjaan seorang editor yang sudah¬†pasti adalah mengoreksi naskah. Dulu saya memang¬†menggarap buku-buku terjemahan, baik fiksi maupun nonfiksi. Dua tahun belakangan saya pindah tim , tapi tetap garap fiksi dan nonfiksi. Fiksi yang saya garap sekarang hampir semuanya¬†karya penulis lokal. Sementara nonfiksinya biasanya buku memoar perjalanan, motivasi, bisnis/entrepreneurship,¬†dan tema-tema populer‚ÄĒbanyak yang terjemahan. Nah, kan, makanya saya wajib banyak baca berbagai genre dan tema. Sesekali, kalau kebutuhan mendesak, saya juga menerjemahkan buku. Tapi ini jarang sekali. Buku terakhir yang saya terjemahkan adalah tentang Greyson Chance dari bahasa Perancis.

“Pantry” dan tumpukan buku & naskah di meja editor.

Di luar kerjaan mengedit, seorang editor juga membuat konsep cover buku. Biasanya saya membuat cover check list. Di dalamnya ada semua detail menyangkut cover: endorsement, sinopsis/blurb, judul, subjudul, hingga ke gambaran cover yang akan digunakan sebagai panduan oleh desainer cover. Untuk bisa mendapatkan konsep cover, biasanya saya googling dulu.

Untuk buku terjemahan lebih mudah. Sinopsis dan cover kan sudah ada, jadi bisa saya pakai untuk panduan sementara. Finalnya nanti kalau perlu sinopsisnya diubah lagi. Terkadang kalau cover buku aslinya saya anggap bagus, bisa saja penerbit tinggal beli rights-nya, terus tinggal dipasang di buku, deh. Beberapa buku terjemahan kadang mengalami penundaan terbit, sehingga editor harus teliti memeriksa surat kontraknya, sampai tanggal dan tahun berapa penerbit kami memiliki hak terbitnya.

Untuk buku lokal, mau tak mau memang harus dibaca dulu supaya saya bisa dapat gambaran untuk cover. Yang mengeksekusi tentu saja desainer, karena saya nggak bisa mainan desain grafis. Sering juga saya mengajak diskusi penulisnya tentang cover dan sinopsisnya. Yang bikin senang tentu kalau penulisnya kooperatif dan tak banyak menuntut. Yang repot, kalau penulisnya rewel dan banyak maunya, yang kadang tidak bisa dikabulkan penerbit. Kalau menggarap buku terjemahan tentu nggak perlu banyak debat dulu dengan penulisnya.

Editor juga sesekali¬†harus membuat perhitungan harga jual, khususnya untuk buku yang agak “rumit”, misalnya halaman berwarna, foto, jenis kertas khusus, bonus pembatas buku, CD, dan sebagainya. Beberapa jenis pekerjaan seperti menerjemahkan dan mengedit tidak semuanya dikerjakan oleh editor in-house. Terkadang saya juga mencari editor dan penerjemah lepas. Mereka yang hasil kerjanya bagus biasanya sering saya kontak dan jadi langganan. Tapi tidak jarang juga ada banyak surat lamaran yang masuk yang mesti dipelajari sebentar oleh¬†editor. Tentu saja para pelamar baru¬†akan dihubungi dan dites¬†sesuai keperluan penerbit.

Kalau lagi ngedit, saya biasanya pasang headset gede, sambil putar lagu-lagu cadas. Biar mood tetap terjaga. Di kompi saya entah ada berapa juta lagu. Tapi yang paling sering saya putar biasanya itu-itu aja: Sick of It All, System of a Down, NOFX, Soulfy, Ill Nino, King Ly Chee, Story of the Year, Limp Bizkit, Linkin Park, Muse, DragonForce, Hatebreed, Lamb of God, Nightwish, Bullet for My Valentine, dan yang berisik-berisik lainnya. Biar nggak ngantuk juga, sih.

Dengan headset dan speaker yang menyajikan dentuman bas dahsyat di kuping, wajarlah¬†kalau ada teman manggil saya atau ada telepon, saya nggak bakalan denger kecuali ada yang melambai-lambai (ke kamera). Apalagi kalau udah goyang-goyang badan dan kepala….waah, nggak kerja deh! ūüėõ Eh, tapi…saya juga kadang dengerin dangdut, lho. Apalagi dangdut koplo…wah, makin asoy aja deh…hehehe! ūüėÄ

Kantor penerbit saya. :)

Kantor penerbit saya. ūüôā

Di tengah kesibukan tadi, kadang ada tamu yang datang.¬†Biasanya menawarkan naskah, atau teman yang kebetulan penulis dan minta beberapa “nasihat” seputar penerbitan buku (siapa saya sih?? Hehe!). Pernah, ada juga wanita galau dan disorientasi yang datang cuma ngobrol nggak jelas dan buang-buang waktu saya. Tapi yang terakhir ini untungnya sangat jarang…hehe!

Selain itu, editor juga harus menyempatkan diri untuk berburu naskah. Entah itu dengan cara blogwalking, ngintipin media sosial, cari buku luar di Amazon, Goodreads, New York Times, atau blog-blog tentang buku; ngobrol dengan rekan editor entah di kantor saya atau dengan kenalan; ngubek-ngubek toko buku bahkan ketika sedang di luar negeri, dan banyak lagi. Mencari contoh cover-cover ciamik juga kerjaan editor, sehingga editor punya referensi untuk membuat konsep cover dan nantinya tinggal dieksekusi oleh desainer.

Ini masih ditambah dengan kerjaan me-review buku. Penerbit tidak hanya menerima naskah yang datang, tapi juga mencari sendiri. Nah, editor mempelajari naskah yang masuk. Jelek? Tolak. Bagus? Potensial? Bikin review dan ajukan ke manajer redaksi dan CEO. Kalau diterima, tinggal tes medis hubungi penulisnya dan bikin surat kontrak. Editor juga me-review buku yang diburunya sendiri.

Editor nggak melulu nongkrong di depan komputer. Kadang saya juga harus keluar kantor untuk menemui relasi. Dari penulis buku, calon penulis, seleb, dan banyak lagi. Sesekali, kalau lagi apes, saya juga disuruh jadi pembicara di acara ini-itu yang terkait dengan dunia buku. Kadang malah di luar kota. Kalau soal ngomong di depan publik gini saya rada malas juga, sih. Bukan apa-apa, soalnya saya bukan tipe orang yang bisa nyaman dan lancar bicara di depan orang banyak…hehe! ūüėÄ Tapi saya pernah beberapa kali didaulat jadi¬†host untuk acara sharing di kantor, khususnya kalau pembicaranya orang yang bukunya saya garap atau topiknya nyambung sama saya. Misalnya, saya pernah nge-host untuk Alvin Adam dan Agustinus Wibowo. ūüėõ

Sesekali kali kami juga jalan-jalan ke toko buku atau pameran buku. Melihat buku-buku baru, mana cover yang keren, mana yang laku. Tentu saja kami juga sebenarnya sudah punya data soal buku bestseller ini yang diperlihatkan di setiap rapat redaksi. Atau kalau ada acara-acara terkait buku, kadang saya juga terlibat. Misalnya menggarap proyek penulisan novel bekerja sama dengan satu komunitas penulis. Kalau perlu saya turun langsung untuk urusan cari penginapan dan konsumsi untuk peserta.

Dalam konteks menggarap buku lokal, yang menyenangkan adalah saat harus banyak berhubungan dengan seleb. Contohnya, waktu saya menggarap buku Alvin Adam. Dari ngobrol-ngobrol dengan Alvin di rumahnya di kawasan Serpong, mengurusi sesi foto, hingga membuat konsep isi buku yang penuh foto, ilustrasi, dan full colour, semuanya saya terlibat. Di tahun pertama saya bekerja di sini pun saya sudah disuruh menemani dua penulis novel dari Denmark dan Inggris, termasuk mendampingi mereka ke Ubud Writers & Readers Festival (2009) di Bali.

Bareng Alvin Adam dan timnya seusai acara launching buku.

Bareng Alvin Adam dan timnya seusai acara launching buku.

Di jam istirahat (12.00-13.00), kadang saya malas makan kalau sarapannya terlalu banyak (konsekuensinya: harus makan malam). Nah, biasanya saya isi dengan nulis postingan buat blog atau nyicil nulis naskah buku (yang entah kapan selesainya). Begitu juga saat jam kantor usai (jam 17.00), saya nulis-nulis lagi atau ngerjain proyek lain yang menyenangkan dan menghasilkan. ūüėõ Menjelang Magrib baru saya pulang.

Mungkin ada yang bertanya: apakah saya pernah bikin kesalahan saat mengedit/mengemas buku?

Ya pernah, dong. Tidak ada editor yang tak retak. Dari salah¬†edit, konsep cover yang jelek, dan sebagainya. Bisa karena lalai atau lelah. Yah, namanya juga kehidupan! Maaf yaa….hahaha! ūüôā Pekerjaan editor di sini juga dibantu asisten editor (astor). Kerjaan seorang astor sangat teknis. Mereka mengurusi buku yang kontennya sudah jadi hingga sampai di meja PPIC (Product Planning and Inventory Control). Astor menghubungi beberapa pekerja lepas seperti proofreader, layouter/setter, dan desainer, menyampaikan dan memeriksa detail-detail pekerjaan yang daftarnya sudah dibuat oleh editor via check list yang saya sebut di atas tadi. Desain isi, tata letak, dan cover harus disetujui oleh editor, manajer redaksi, dan CEO, tapi penanggung jawabnya tetaplah editor. Astor jugalah yang menyiapkan dokumen-dokumen terkait detail buku untuk bisa dieksekusi oleh percetakan nantinya. PPIC adalah “penyambung lidah” tim redaksi/penerbit dengan percetakan dan distributor.

Yah, begitulah.

Ada beberapa jenis pekerjaan yang menurut saya menuntut dedikasi. Beberapa di antaranya: wartawan dan editor buku. Soal pendapatan itu relatif banget. Jangan dibandingkan dengan kerja di perusahaan minyak asing. Dalam kasus saya, pekerjaan sebagai editor buku itu secara penghasilan dan kepuasan batin baik-baik saja. Dalam pekerjaan ini, setiap buku yang digarap selalu punya cerita yang berbeda. Tantangannya juga selalu berbeda. Ketika melihat buku keluar dari percetakan dengan tampilan keren, saat mengetahui buku yang saya garap jadi bestseller, atau berhasil membimbing seorang potensial yang belum menulis hingga dia selesai menulis, kepuasan semacam ini sulit dilukiskan.

Di luar pekerjaan, alhamdulillah saya masih kuat membaca buku. Namanya juga editor, sudah pasti diawali dengan kecintaan terhadap buku. Rata-rata saya membaca 20-40 buku per tahun. Itu belum buku yang saya garap di kantor, ya…hehe! Sesekali juga¬†saya dan istri wisata kuliner keliling Bandung, atau backpacking¬†murah-meriah. ūüôā

Nah, apa yang belum saya ceritain, ya? Udah dulu, ah.¬†Silakan tanya aja di bagian komen. Kalau bukan rahasia perusahaan insya Allah saya jawab.[] ūüôā

10 Buku Terbaik yang Saya Baca Selama 2012

buku1

Catatan: untuk daftar yang lebih baru, yaitu 2014, coba mampir ke sini ya.

Pemirsa, ini kali kedua saya nulis soal buku terbaik yang saya baca dalam setahun. Seharusnya tulisan ini di-posting malam tahun baru, tapi karena banyak kesibukan…ya sudahlah. ūüôā Sebelum masuk ke daftarnya, izinkan saya menulis review dan berpidato sedikit yaa… ūüėÄ

Tahun 2012, buku karya penulis lokal masih mendominasi rak buku laris. Cuma, yang bikin saya pribadi merasa kurang sreg, makin ke sini makin banyak buku-buku yang diangkat dari kumpulan¬†tweet¬†tokoh tertentu di Twitter. Jujur, saya merasa yang begitu itu kok seperti bukan “buku sejati”. Tanda pagar (#) masuk seenaknya demi terjerat search engine Twitter, sangat mengganggu mata dan kenyamanan membaca.

Mungkin saja memang ada pembaca yang mendapat manfaat dari buku-buku semacam itu.¬†Yaa…nggak apa-apa sih, cuma bukan selera saya aja.¬†Just my two cents. Maka, kalimat ini memang betul adanya: Tidak ada buku untuk semua orang. Beruntunglah ada teknologi cetak yang ciamik, yang mampu mengemas buku semacam itu jadi cantik secara tampilan.¬†Tahun 2013, prediksi saya, fenomena buku-buku yang diangkat dari Twitter belum akan berhenti. Tapi yang jelas itu juga hanya akan jadi tren‚ÄĒalias sementara.

Tren lain di tahun 2012 adalah makin banyaknya judul-judul roman Korea dengan gaya¬†cover¬†yang khas itu. Yang disebut buku “traveling” (tepatnya:¬†travel guide), walau tak terlalu dominan, masih terus bermunculan. Namun, prediksi saya, buku¬†traveling¬†yang bertipe panduan perjalanan ini rentan akan kejenuhan pembaca. Kenapa? Karena butuh¬†update¬†informasi secara rutin, karena datanya semakin lama pasti akan basi. Padahal kalau buku ini tak laku, penerbit tentu enggan mencetak ulang.

Pada 2012, banyak sekali buku-buku biografi tokoh populer seperti Jokowi, Dahlan Iskan, Aburizal Bakrie, dan Chaerul Tanjung. Dan saya nggak baca satu pun buku-buku itu. ūüėõ Buku tentang Jokowi dan Dahlan Iskan bahkan ada bermacam-macam judul dari bermacam-macam penerbit, baik yang official atau bukan, sehingga berpotensi membingungkan calon pembeli di toko yang tak punya waktu meriset dulu buku apa yang akan mereka beli. Apalagi kalau semua semua buku tentang satu tokoh‚ÄĒmisalnya Dahlan Iskan‚ÄĒdijejer semua…wah! Namun, yang menonjol di rak bestseller tampaknya¬†tidak banyak.

Dari deretan buku biografi populer itu,¬†Anak Singkong¬†“tulisan” Chaerul Tanjung (pakai tanda kutip, karena mudah mengetahui siapa yang benar-benar bisa menulis buku) tampaknya laku keras: terjual lebih dari 140 ribu eksemplar. Tapi saya pernah baca berita bahwa sebanyak 73 ribu kopi buku ini dibeli sendiri oleh Chaerul Tanjung. Yeah, sedikit berbau nggak fair sih. Mungkin para pegawainya dikasih semua. ūüôā Belum lagi iklan buku ini yang rajin diiklankan lewat jaringan televisi Trans TV dan Trans 7, ditambah¬†display¬†yang mencolok di toko-toko buku. Saya malah pernah lihat buku ini ditawarkan loper koran di perempatan jalan (bajakan, mungkin?). Biografi atau narsisisme orang kaya? Entah. ūüėõ

Buku nonfiksi lainnya yang masih “bunyi” adalah buku “bikinan” para motivator dan¬†trainer¬†seperti Ippho “Right” Santosa dan Merry Riana. Acara-acara seminar yang menghadirkan kedua nama itu juga tak pernah sepi peserta (yeah, termasuk saya ini yang pernah nonton acara mereka).

Tahun 2013 akan lebih banyak bermunculan judul-judul memoar traveling dibandingkan dengan tipe¬†travel guide. Salah satu yang patut ditunggu adalah buku terbaru Agustinus Wibowo, Titik Nol, yang akan terbit pada¬†Februari 2013. Buku memoar traveling karya terjemahan yang “diam-diam” cukup manis penjualannya adalah The Geography of Bliss. Di banyak toko Gramedia dan Togamas, karya Eric Weiner itu nangkring di display yang bagus, pertanda penjualannya cukup maknyus. Sejak booming tiket murah pada tahun 2000-an pertengahan, makin banyak orang Indonesia yang mampu jalan-jalan ke luar negeri. Sayang, tak banyak orang yang menulis/mendokumentasikan perjalanan mereka. Cukup sulit menemukan buku memoar traveling yang berkualitas, apalagi dibandingkan dengan serbuan buku-buku travel guide yang judul-judulnya bombastis.

Menutup tahun 2012, karya terbaru J.K. Rowling, The Casual Vacancy (TCV), layak diacungi jempol. Dicetak dengan hard-cover, dan tampil luks, karya fiksi penulis serial Harry Potter ini sanggup membuat saya betah mojok di rumah berjam-jam karena cerita dan gaya tulisannya yang memikat. Secara internasional, penjualan TCV memang tak sefenomenal Harry Potter. Itu mungkin karena buku ini ditegaskan sebagai buku fiksi dewasa, berbeda dengan Harry Potter yang bisa dibaca semua umur. Namun, secara  kualitas, seandainya penulisnya bukan Rowling pun menurut saya buku ini tetap saja bagus.

***

Belakangan saya baru menyadari bahwa, dibanding tahun-tahun sebelumnya, tahun 2012 ini bacaan saya yang bertema traveling jumlahnya semakin banyak. Sayangnya, bacaan fiksi saya semakin berkurang. Kenapa, ya?

Dan, jujur saja, rasanya kok di tahun 2012 ini sedikit sekali buku yang benar-benar berkualitas‚ÄĒdi tengah harga buku yang mahal dan rendahnya kebudayaan membaca dan menulis di negeri ini yang tak membaik dari tahun ke tahun.

Jadi, inilah 10 buku terbaik‚ÄĒdari 30-an judul¬†yang saya baca selama 2012. Versi saya, selera saya‚ÄĒdilarang mendebat. Make your own list. ūüôā Sikapi buku seperti terhadap makanan: boleh rakus, boleh nambah, tapi soal selera ya sendiri-sendiri. ūüôā Oh ya, angka di daftar ini tidak menggambarkan urutan. Sekadar having fun¬†kok.

1. Cerita Cinta Enrico (Ayu Utami)

Resensinya sudah pernah saya posting di blog ini. Silakan baca di sini.

2. Lalita (Ayu Utami)

Buku ini adalah buku kedua dari Seri Bilangan Fu. Sebelumnya ada Manjali dan Cakrabirawa. Lalita masih berkisah tentang petualangan Sandi Yuda, Parang Jati, dan Marja. Kali ini tentang penjelajahan spiritual seputar candi Borobudur yang (secara) tidak sengaja berkaitan dengan mereka. Tokoh Lalita Vistara, yang mengaku keturunan Vlad Drakula, memegang sebuah kitab rahasia bernama Buku Indigo. Kitab yang berisi pemikiran dan penelitian kakeknya mengenai psikoanalisa ini kemudian menjadi masalah baginya, melibatkan tiga sekawan dari Bilangan Fu, Sandi Yuda, Marja, dan Parang Jati, pun ikut terlibat dalam konflik antara Lalita dan kakaknya, Jataka (atau Janaka?) dalam perebutan Buku Indigo.

Alur cerita novel ini sebenarnya biasa saja. Tapi bagi saya gaya tulisan Ayu Utami enak dibaca, padahal substansinya cukup rumit. Ibarat makan cireng, alot, tapi bikin kita terus mengunyahnya. Salah satu bagian paling menarik adalah penjelasan mengenai candi Borobudur dan psikoanalisa yang menyangkut Carl Jung, Freud, dan beberapa orang lainnya. Ayu secara tidak langsung memberikan pemahaman kepada pembaca melalui jalinan kalimat yang mudah dicerna. Penceritaan yang baik, karakter yang dibungkus apik, dan kaya dengan deskripsi mengenai tentang jiwa manusia dan candi Borobudur menjadi kekuatan utama buku ini.

3. Segenggam Cinta dari Moskwa (M. Aji Surya)

Ini bukan buku tentang cinta, dan menurut saya kurang pas juga dijuduli seperti ini. Buku ini membahas banyak aspek tentang Rusia‚ÄĒsosial, politik, budaya, agama, vodka, cinta, orang Indonesia di Rusia yang terbuang sejak komunisme pertama kali diharamkan di Indonesia, dan banyak lagi. Enak sekali berkenalan dengan Rusia dengan tulisan-tulisan renyah dan segar dari penulis yang pernah jadi diplomat di Moskow ini. Sayang, banyak typo di buku ini.

4. Spiritual Creativepreneur (M. Arief Budiman)

Buku ini entah mau bicara tentang bisnis kreatif atau hal-hal spiritual, atau malah keduanya. Tapi saya menganggap Spiritual Creativepreneur asyik dibaca. Saya beli bukunya setelah nonton presentasi penulisnya‚ÄĒCEO Petakumpet Creative Network, sebuah perusahaan di bidang industri kreatif‚ÄĒdi Jogja tempo hari. Pada dasarnya buku ini bicara tentang merayakan gagasan segar, membangun bisnis kreatif sebagai implementasi dari nilai-nilai autentik Islam untuk mengubah dunia. Walaupun menyerempet aspek agama, Arief Budiman menyajikannya dengan bahasa yang segar dan tak membosankan.

5. Seperti Sungai yang Mengalir (Paulo Coelho)

Walau mengaku penggemar buku-buku Paulo Coelho, kadang saya tidak bisa memahami beberapa bukunya karena kontennya terlalu Kristiani. Bukan apa-apa, cuma nggak ngerti aja kok.¬†:)¬†Tapi yang satu ini beda. Diterjemahkan langsung dari edisi bahasa Spanyol,¬†Seperti Sungai yang Mengalir¬†berisi kumpulan renungan dan cerita pendek Paulo Coelho, kisah-kisah yang menggugah tentang kehidupan dan kematian, suratan takdir dan pilihan, cinta yang hilang dan ditemukan. Kadang humoris, kadang serius, tapi hebatnya isinya selalu bernas dan dalam‚ÄĒdan mengalir, seperti judulnya.¬†Kisah-kisah dalam buku ini sebelumnya telah diterbitkan di berbagai surat kabar di seluruh dunia, dan dikumpulkan menjadi buku atas permintaan para pembaca Coelho.

Seperti semua buku karya Paulo Coelho lainnya, buku ini mengeksplorasi artinya menjalani hidup yang bermakna dengan sepenuh-penuhnya. Apalagi buku ini saya baca pas dalam perjalanan ke rumah sakit untuk menengok ibu saya yang dirawat di sana karena serangan jantung. Resensinya bisa dibaca di sini.

6. Two Travel Tales: Menguak Eksotisme India dan Nepal (Ade Mastiti)

Memang sih buku ini terbit akhir 2011, tapi saya baru baca tahun 2012….hehehe!¬†Buku ini bukan jenis travel guide yang menawarkan tips mendetail, rincian biaya, dan akomodasi saat melakukan perjalanan ke India dan Nepal, seperti yang sekarang marak. Ini adalah ¬†kisah perjalanan penulis Ade Nastiti saat menjelajahi India dan Nepal di sela-sela pelatihannya sebagai dalam program pemberdayaan masyarakat. Saat rekan-rekannya yang lain menghabiskan akhir pekan dengan bersantai, ia justru mengikuti nalurinya sebagai traveler. Sayang, porsi kisah tentang India jauh lebih banyak daripada Nepal, sehingga terasa kurang berimbang.

Ini catatan perjalanan yang asyik dan berwarna-warni. Penulis, selain menyuguhkan deskripsi tempat-tempat yang dikunjunginya, juga mengisahkan ¬†banyak hal hasil interaksinya dengan para penduduk lokal sehingga memperkaya wawasan pembaca. Perjumpaan Ade dengan pendeta Hindu di kereta yang menyinggung soal makna pencarian, dirawat oleh Nenek Dolma di gompa Buddha, mengunjungi situs-situs Budha, ikut¬†pooja bersama kaum Sikh, mengalami gegar budaya dengan temannya yang asli India, terpana oleh kemegahan Taj Mahal dan kisah cinta di baliknya, juga mengunjungi Gurgaon‚ÄĒkota TI¬†yang disebut-sebut sebagai Silicon Valley-nya India dan simbol kesuksesan kaum muda di sana.

Menariknya, penulis tidak hanya membawa pembaca ke tempat-tempat turistik. Ade memilih bersikap luwes dan cair dalam perjalanannya. Seandainya penulis ogah berinteraksi dengan orang-orang India asli dan malas riset, banyak sekali momen-momen unik itu akan ia lewatkan. Sayang, foto-foto dalam buku ini tidak dipisahkan tersendiri dalam halaman-halaman berwarna. Padahal, pemandangan Ladakh dan Pegunungan Himalaya selalu memesona.

7. The Naked Traveler 4 (Trinity)

Masih sama dengan seri pertama, kedua, dan ketiga: tulisan-tulisan Trinity selalu ringan, tapi seru dan menarik. Di TNT keempat ini Trinity masih punya segudang cerita unik dan lucu tentang pengalamannya keliling dunia. Di sini dia juga memasukkan beberapa cerita tentang jalan-jalannya di Afrika.

Sebenarnya, (hampir) semua tulisan di buku ini bisa dibaca di blog Naked Traveler. Namun saya tipe orang yang masih suka baca buku kertas. Sebagian orang (termasuk saya) mungkin mulai bosan dengan gaya Trinity. Saya pribadi beranggapan, dengan kekayaan pengalaman keliling dunianya, mestinya Trnity bisa menulis sesuatu yang “beda”. Tapi mungkin itu bukan gaya dia ya. Still worth to read, though. Khususnya sebagai bacaan ringan yang tak menuntut kerut di kening.

8. The Casual Vacancy (J.K. Rowling)

The Casual Vacancy¬†mengambil latar utama di sebuah kota kecil fiktif bernama Pagford. Ketika anggota dewan bernama Barry Potter Fairbrother meninggal karena pendarahan otak, kisah dalam buku ini mulai memunculkan tokoh-tokoh yang secara langsung atau tak langsung punya kaitan dengan tokoh Barry‚ÄĒyang selalu muncul walau sudah mati.¬†Pencandu dan pengedar narkoba, seks bebas, kemiskinan, renggangnya hubungan orangtua dan anak, bullying di sekolah, cinta tak berbalas, perebutan jabatan di dewan kota, dan aneka macam permasalahan sosial yang dialami warga kota menjadi sajian dalam novel ini.

Betul memang alurnya lambat dan konfliknya nyaris datar-datar saja, namun menurut saya Rowling punya “sihir” yang membuat pembaca terpikat dalam sebuah karya fiksi yang “page-turner“. Seperti di¬†Harry Potter, ciri khas Rowling adalah menghadirkan tokoh cerita yang buanyak, sehingga baca buku ini harus konsentrasi. Yang hebat, walau ada banyak karakter dalam novel ini, Rowling bisa meramu cerita sedemikian rupa sehingga semuanya tokohnya punya porsi cerita yang hampir sama, dan semuanya¬†berwatak abu-abu‚ÄĒtak ada yang hitam-putih, sulit memilah apakah dia protagonis atau antagonis. Masing-masing tokoh terasa sangat nyata, karena sifat-sifat tersebut juga kita lihat dan rasakan setiap hari.

9. Perjalanan ke Atap Dunia (Daniel Mahendra)

Membaca sebuah catatan perjalanan (travel writing) itu sesungguhnya sangat menyenangkan. Selain menambah wawasan, pembaca juga dibawa ke negeri-negeri asing, seolah ikut melihat dan merasakan apa yang dialami penulisnya, berikut pergulatan batinnya.

Buku traveling berjenis memoar termasuk sedikit yang beredar di pasaran. Apakah dari sekian banyak traveler/backpacker itu hanya sedikit yang nulis? Wallahu ‘alam. Ada juga sih 1-2 buku traveling yang mengisahkan perjalanan penulisnya pakai sepeda motor. Tapi motornya moge macam BMW GS yang harganya ratusan juta. Yang begitu jelas bukan gaya jalan para backpacker. Harga motornya aja kalau dipakai buat keliling beberapa benua udah cukup, itu kalau saya yang pegang duitnya. *ngimpi*

Sinopsis buku ini bisa pernah saya muat di blog ini. Menurut gosip, Daniel akan menerbitkan versi fiksi buku ini tahun 2013.

10. The Time Keeper (Mitch Albom)

Dor adalah pencipta jam pertama di dunia. Dia dihukum karena mencoba mengukur anugerah terbesar dari Tuhan, diasingkan ke dalam gua hingga berabad-abad, dan dipaksa mendengarkan suara orang-orang yang minta diberi lebih banyak waktu. Lalu dia kembali ke dunia kita, dengan membawa jam pasir ajaib dan sebuah misi: menebus kesalahannya dengan mempertemukan dua manusia di bumi, untuk mengajarkan makna waktu kepada mereka.

Karya-karya Albom selalu hangat, penuh perenungan, dan penuh kalimat yang layak dijadikan kutipan motivasi. ūüôā¬†Pesan buku ini sebenarnya sangat sederhana, tak ada yang berbelit-belit. Namun, bukankah terkadang keindahan itu tersembunyi dalam kesederhanaan? Saya suka gagasan di balik kisah ini‚ÄĒmenghargai hidup kita tanpa terbelenggu oleh waktu (“bikinan” manusia). Karena ketika kita mulai menghitung waktu, kita lupa menghitung rahmat yang kita terima setiap saat dan lupa menikmati hidup dengan orang-orang yang kita kasihi. Buku semacam ini membuat saya lebih rileks dalam menjalani hidup‚ÄĒdan tak lupa bersyukur atas setiap nano detiknya.

***

Nah, apa buku-buku favoritmu sepanjang 2012? ūüėÄ

Bikepacker Nekat

Judul: Bikepacker Nekat: Dari Inggris ke India

Penulis: Danny Bent

Penerbit: Qanita/Mizan

Cetakan I: Oktober 2012

Tebal: 358 + vi halaman

“Berkelana membuatmu terdiam takjub, lalu perlahan mengubahmu menjadi orang yang pandai bercerita.”

~ Ibnu Batutah

Mudah ditebak, kata bikepacker adalah gabungan dari bike (sepeda) dan backpacker. Gampangnya: bikepacker adalah seorang backpacker yang bertualang naik sepeda dari satu negeri ke negeri lain. Tapi, cukup sampai di sini saja kita bicara soal definisi. Buku ini sama sekali tak bermaksud membahas apa itu definisi bikepacker.

Ini adalah memoar Danny Bent, seorang pemuda Inggris yang pada 2009 bertualang naik sepeda dari Inggris ke India untuk menggalang dana amal bagi ActionAid. Sejak kecil, Danny yang hiperaktif sudah dibiasakan bepergian bersama orangtuanya, sehingga ia tak asing lagi dengan apa pun yang berbau petualangan. Saat dewasa dan bekerja, ia mengalami kejenuhan dan pergulatan batin yang biasa dirasakan kaum pekerja kantoran. Danny menulis:

“Dengan sikap bak zombie sejak bangun tidur, menuju kereta, tiba di tempat kerja, dan kemudian pulang lagi, dia merasa menderita dan tenaganya terkuras. Pelariannya adalah sepedanya‚ÄĒdia mengayuh saat hari libur di pegunungan dan tidak memedulikan dunia.” (hal. 6)

Foto-foto berwarna di dalam buku.

Suatu hari, ia mengalami kecelakaan di Pegunungan Alpen. Kejadian itu justru membuka matanya. Ia merasa terlalu sering memikirkan diri sendiri, dan timbullah keinginannya untuk memikirkan orang dan hal lain.¬†Jadilah ia seorang guru di sebuah SD di London. Lucunya, di sekolah itu Danny-lah “anak” yang paling bandel, lebih bandel daripada anak terbandel di sekolah itu malah. ūüėõ¬†Cara mengajarnya di luar kebiasaan, namun sanggup membuat murid-murid bersemangat dan suasana lebih hidup. Danny juga lebih suka bergaul di lapangan main, bukan di ruang guru; gemar berlari-lari di koridor dan mengerjai guru-guru lainnya.

Ia berpikir, di zaman ketika elektronik merajai dan memasuki kehidupan anak-anak, mereka butuh seseorang yang berhubungan langsung dengan dunia luar. Saat suatu hari mengajar Geografi, tercetuslah keinginannya pergi ke India, melihat langsung kehidupan dan anak-anak di sana. Ke India…naik sepeda. Sebab, dia sendirilah yang pernah mengajarkan kepada murid-muridnya isu lingkungan hidup: naik pesawat akan menimbulkan polusi karbondioksida melebihi seluruh pembangkit listrik di Cina.

Danny pun memulai perjalanan bersepedanya yang akan menempuh jarak sekitar 15.000 kilometer dari Inggris ke India untuk menggalang dana bagi ActionAid. Dan apa yang ia alami adalah perjalanan yang sangat keras. Bayangkan rasanya menggenjot sepeda sambil terbatuk-batuk di belakang truk-truk besar yang menyemburkan debu dan asap knalpot, lalu menuruni jurang dengan kedalaman ratusan meter dengan tangan terlalu kebas untuk mengerem, otot terkilir, dan sadel sepeda yang robek-robek.¬†Beberapa kali Danny juga nyaris mati karena keracunan makanan dan dehidrasi, atau dikerjai penjaga perbatasan yang galak dan korup. Namun wajahnya yang mirip Wayne Rooney KW 9 beberapa kali berguna juga, misalnya saat terhambat di imigrasi/perbatasan. ūüôā

Setelah melewati daratan Eropa, Danny bersepeda menembus negara-negara yang terkenal sangar dan berbahaya: negara-negara pecahan Uni Soviet (Ukraina, Uzbekistan, Kyrgyzstan), Rusia, Cina, kemudian menembus Pakistan sebelum akhirnya tiba di jantung India. Orang-orang yang Danny temui sepanjang perjalanan itulah yang mewarnai buku ini. Ia bertemu dengan beraneka jenis orang dengan segala macam sifatnya. Ada yang ramah, yang menawarkan tempat menginap atau sekadar minum teh di gubuk penduduk lokal; ada pula yang usil mendorongnya untuk menari di tengah stadion yang ramai setelah permainan polo lokal yang agak sadis. Pernah pula ia apes terjebak dalam perkelahian di jalanan.

Perjalanan Danny dalam buku yang berjudul asli¬†You’ve Gone Too Far This Time, Sir!¬†ini betulan menjanjikan ketegangan maksimal sekaligus kisah petualangan yang seru, hangat, dan menakjubkan nyaris di setiap halamannya. Kisahnya sangat beraneka warna: kadang serius, kadang datar dan menghasilkan efek lucu yang datang di belakang, kadang pembaca juga mendapatkan secuil kisah sejarah negara yang ia lewati dalam perjalanannya. Kisahnya begitu personal sehingga saya pun ikutan sakit perut saat Danny keracunan makanan, atau ingin muntah saat Danny berkisah tentang toilet umum di Cina dan Ukraina, di mana kotoran manusia bertebaran di mana-mana hingga ke wastafelnya! (hueek!) ūüėõ Saya pernah ke Ukraina, jadi tahu persis betapa mengerikannya toilet umum di sana. ūüôā

Baca buku seru enaknya sambil makan bebek mercon! :)

Baca buku seru enaknya sambil makan bebek mercon! ūüôā

Membaca buku ini seperti mendengarkan seorang kawan yang sedang bercerita tentang perjalanan epiknya. Salah satu yang saya suka dari tulisan Danny adalah gaya menulisnya. Kadang ia tampak begitu sinis dan datar. Tapi, entah bagaimana, kalimat yang tadinya saya kira datar-datar itu ternyata punya efek lucunya sendiri, dan sering kali sarkastis. Ibarat makan ¬†jenis sambel yang pedasnya datang belakangan. ūüėõ Misalnya kalimat ini, saat Danny baru memasuki kota perbatasan di Cina:

“Berbagai restoran cepat saji menyediakan mi dan nasi dari panci besar di luar. Satu-satunya yang cepat dari restoran ini adalah seberapa cepat kau pergi ke toilet setelah menyantapnya.” (hal. 188)

Yang doyan jalan-jalan dan bertualang sudah selayaknya membaca buku seru ini.[]