Category Archives: Uncategorized

“Balada Ukraina” Jadi Buku?

Gila. Udah setahun lebih blog keceh ini nggak di-update. Duh, maaf… maaf! 😄 Saya lagi banyak kerjaan. Serius. Dan kerjaan nerjemahin buku masih ditambah lagi dengan ngerampungin proyek lama yang nggak selesai-selesai.

Ceritanya, sekitar dua bulan lalu seorang teman sekaligus editor sebuah penerbit ngajakin ketemu di Ciwalk. Intinya dia tertarik mau menerbitkan tulisan terbengkalai saya yang berjudul Balada Ukraina itu. 

Nah, sekarang saya lagi berjuang menamatkan tulisan itu. Serial di blog yang udah mencapai seri ke-28 akan disetop sampai di situ saja. Dan ceritanya pun itu baru mencapai 30% aja. Terus, selain menamatkan cerita, tulisan di blog mau saya rombak lagi sih, biar nggak sama persis. 

Jadi, doakan saya bisa menyelesaikan Balada Ukraina secepatnya ya… 😊

Nongkrong di Hong Kong #8

Kolam di Kowloon Park. Beberapa orang tua sedang berlatih kungfu dengan pedang.

Kolam di Kowloon Park. Beberapa orang tua sedang berlatih kungfu dengan pedang.

Hari terakhir di Hong Kong. Rencananya, hari ini temanya taman. Taman kota adalah salah satu tempat yang wajib saya kunjungi saat sedang jalan-jalan ke mana pun. Bukan cuma karena saya suka taman kota, tapi juga karena…gratis! Hahaha! Yah, sejak awal udah bisa diprediksikan sih bakalan bokek pada hari-hari terakhir. 🙂

Dekat hostel tempat saya menginap, sebenarnya ada taman kota yang cukup bagus. Namanya Kowloon Park. Lokasinya persis di belakang Masjid Kowloon, hanya beberapa puluh meter dari gedung Mirador Mansion. Pagi itu, masih sekitar jam 8, saya sudah jalan ke taman. Sepagi itu, Kowloon Park tidak bisa dibilang sepi. Pemandangan yang agak mencolok adalah kebanyakan pengunjung taman pagi itu adalah orang-orang tua.

"Buang sampah di sini ya, cu!"

“Buang sampah di sini ya, cu!”

Macam-macam kegiatan mereka. Ada yang sekadar jogging, senam, jalan kaki, tai chi, bahkan ada yang sedang latihan kungfu menggunakan pedang (!). Ada juga seorang nenek yang sedang bermain dengan cucunya, mengajarkan cara buang sampah di tempat sampah, walau dia gagal mengajari cucunya cara memakai celana dalam dengan benar…hehehe! 😀

Di Hong Kong, pemandangan orang-orang tua atau manula yang asyik berolahraga di taman-taman kota atau di area publik lainnya adalah pemandangan biasa. Mereka masih tampak sehat dan bugar. Menurut saya, salah satu faktornya ada hubungannya dengan transportasi publik yang bagus dan terintegrasi.

Transportasi publik di sini “memaksa” warga untuk banyak berjalan kaki. Stasiun MTR di bawah tanah memadukan tangga dan elevator. Bus kota dan minibus juga hanya berhenti di halte yang ditentukan. Jadi belum tentu kita bisa berhenti persis di depan tujuan kayak naik angkot sehingga harus berjalan lagi. Dalam sehari, dijamin kita akan berjalan kaki ribuan langkah. Lebih banyak daripada yang disarankan oleh ahli kesehatan. Bisa jadi karena itulah para manula di sini banyak yang masih tampak bugar walau rambut sudah memutih dan kulit makin peyot.

Puas muter-muter di Kowloon Park, kami turun ke stasiun MTR yang letaknya di bawah taman itu. Saya pernah baca tentang sebuah taman yang konon cakep banget. Namanya Nan Lian Garden. Taman ini paling gampang dicapai menggunakan MTR. Turun di stasiun Diamond Hill, dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 150 meter, kita akan dengan mudah melihat petunjuk jalan menuju Nan Lian.

Nan Lian Garden.

Nan Lian Garden.

Taman kota ini didesain dengan gaya arsitektur Dinasti Tang (Cina). Ada kolam besar dan air terjun buatan, dengan ikan koi besar-besar di kolamnya. Taman ini juga mempunyai koleksi tanaman bonsai dan batu-batu alam berbentuk aneh-aneh yang konon dikumpulkan dari seluruh penjuru daratan Cina.

Kolam berhiasan bunga teratai di halaman biara.

Kolam berhiasan bunga teratai di halaman biara.

Itu saja? Tunggu dulu. Nan Lian Garden ternyata bersambung dengan Biara Chi Lin (Chi Lin Nunnery). Kita cukup melintasi jembatan penyeberangan yang khusus menyatukan taman ini dengan area biara.

Kompleks biara khusus biksuni tersebut dibangun tahun 1930-an. Konon konstruksinya didesain sedemikian rupa agar bangunan kayunya bertahan ribuan tahun.

Selain itu, bangunan kayunya disambung-sambung tanpa menggunakan paku satu pun (!). Di halaman biara, terdapat beberapa kolam dengan bunga-bunga teratai (lotus) mengambang di permukaan air.

Di kanan-kiri, terdapat beberapa ruangan berisi patung beberapa dewa. Sayang, dilarang memotret di area ini.

Chi Lin Nunnery di tengah kepungan hutan beton.

Chi Lin Nunnery di tengah kepungan hutan beton.

Saat itu, tampaknya hanya kami yang tidak bermata sipit di kompleks Buddhis itu. Turis bule pun tidak ada. Apakah tempat ini tak begitu dikenal turis yang datang ke Hong Kong? Selain turis Cina, ada beberapa warga lokal yang sedang bersembahyang.

Beberapa biarawati berjalan mondar-mandir dengan tenang sambil merapalkan doa atau membawa buah dan beras sebagai persembahan kepada dewa-dewi. Suasana kompleks Buddha ini terasa menenangkan dan menyejukkan hati. Sesejuk suhu Hong Kong di pagi yang cerah itu—sekitar 25° Celcius.

Golden Pagoda di Nan Lian Garden, Hong Kong.

Golden Pagoda di Nan Lian Garden.

Sungguh menakjubkan melihat atmosfer modern dan tradisional berpadu dalam harmoni. Seperti terlihat dalam foto di atas—pagoda berselimut warna emas dan merah, ditemani gedung-gedung pencakar langit dan perbukitan hijau nun di belakang sana.

Saat itu sudah lewat tengah hari. Buat makan siang, kami langsung melompat lagi ke MTR dan menuju Central. Dari situ kami memilih naik trem ke Wan Chai. Soalnya saya suka duduk di dek atas, people-watching sepanjang jalan, dibelai angin sepoi-sepoi, terus siapa tahu ketiduran kan….hehe!

Nasi goreng dan dimsum di kantin Masjid Ammar.

Nasi goreng dan dimsum di kantin Masjid Ammar.

Turun di halte, kami berjalan kaki sedikit ke Masjid Ammar. Sholat dzuhur dan makan siang di kantinnya di lantai 5. Menunya jelas: dimsum. Habis, dimsum di sini uenak banget, halal, dan harganya cukup murah.

Kenyang makan dimsum sekian porsi dan nasi goreng, kami pulang dulu sebentar ke hostel. Ngepak backpack, suvenir kecil-kecil, baju kotor. Biar nanti malam kami nggak perlu repot lagi.

Suasana sore di Avenu of Stars, TST.

Suasana sore di Avenue of Stars, TST.

Menjelang sore, kami jalan-jalan lagi. Tapi kali ini nggak jauh-jauh. Soalnya, saya ada janji sama seorang warga Hong Kong kenalan saya. Sore itu, selain menikmati suasana di sepanjang, saya sebenarnya mengincar foto sunset di Hong Kong.

Sunset di HK. Foto diambil dari area Avenue of the Stars, TST.

Sunset di HK. Foto diambil dari area Avenue of Stars, TST.

Kawasan TST Promenade dan Avenue of Stars sore itu agak ramai. Para turis sibuk berfoto-foto dengan latar belakang Pulau Hong Kong di seberang dan patung-patung serta cetakan tangan para bintang film Mandarin di sepanjang area itu. Bahkan hanya duduk-duduk atau jalan santai di area ini saja sebenarnya sudah sangat menyenangkan. Apalagi sambil memandangi matahari terbenam.

Beberapa saat kemudian, ada SMS dari kenalan saya tadi. Meminta saya menunggu sebentar karena dia baru balik dari tempat kerjanya. Saya ceritain dulu sedikit soal ini.

Bareng Riz Farooqi.

Bareng Riz Farooqi.

Saya pertama kali main ke Hong Kong tahun 2002. Waktu itu, sebelum berangkat, saya iseng mencari komunitas hardcore di Hong Kong. Awalnya sih cuma iseng aja cari kenalan, tapi kok yang ketemu di Google malah situs-situs porno hardcore….hahaha! 😀

Maksud saya tuh cari band atau komunitas penggemar musik hardcore. Akhirnya nemu band yang namanya King Ly Chee. Lagunya keras, liriknya sangar, penuh kritik sosial dan pesan-pesan positif. Tak berapa lama, seorang personelnya yang bernama Riz Farooqi membalas e-mail saya. Dia bilang oke-oke aja kalau mau ketemu pas saya di Hong Kong.

Singkat cerita, waktu berada di Hong Kong saat itu, beberapa personel King Ly Chee menelepon saya. Bahkan Kevin, drummer-nya, cuma menelepon saya sekadar bilang welcome dan see you tonight. Malam itu saya bertemu dengan Riz, vokalis dan gitaris King Ly Chee, di sebuah stasiun MTR. Seorang pria botak berbadan gempal dan tingginya sepantaran saya mendekat. Mengamati saya dari kepala sampai kaki.

“Glasses, brown skin, black daypack, red shoes. Ah, you must be Indra!” katanya sambil menyorongkan tangannya, bersalaman. Riz lalu mengajak saya berjalan beberapa blok, tempat tiga personel lainnya sudah menunggu kami. Andy, Alex, dan Kevin. Semuanya orang Hong Kong dan bicara dua bahasa, Inggris dan Kanton. Badan mereka jangkung, lengan dan betis penuh tato. Tapi saya tak bisa menafikan kehangatan dan keramahan mereka. Di mobil Andy, dalam perjalanan ke studio mereka, Alex—pemain bas King Ly Chee yang rambutnya rada nge-punk dan dicat pirang—menawarkan makanannya. Saya menolak dengan sopan.

Why, Indra? Kau tak suka makanannya? Aku tidak heran. Sayur doang begitu mana enak,” Riz nyeletuk. Kami semobil ketawa terbahak-bahak. Belakangan saya baru tahu bahwa Alex—dan Kevin—adalah vegetarian. Wow, sangar begini tapi vegetarian. Keempat personel band ini pun ternyata tak ada yang merokok atau minum alkohol. Mereka menganut paham straight edge—sebuah subkultur dalam komunitas musik punk dan hardcore yang pengikutnya menolak menggunakan narkoba, merokok, dan kalau perlu menolak makan daging.

KLC dalam sebuah konser. Tentu ini formasi terbaru.

KLC dalam sebuah konser. Tentu ini formasi terbaru.

Pada malam di bulan Januari 2002 itu, saya diajak menonton mereka nge-jam di studio yang lumayan luas. Instrumennya tampak lumayan berkelas. Sound-nya juga bagus.

Sesekali saya juga dibolehkan ikut main drum walau permainan saya agak payah…hehe! Mereka juga menanyakan saya mau lagu apa. Saya pun merekam aksi mereka dengan handycam. Di akhir lagu, Riz berteriak, “Thank you, Jakartaaa!!” Hahaha! Macam lagi konser aja! 😀

Selesai latihan, lebih dari tiga jam kemudian, Riz menggoda saya. “Kau pulang naik apa?”

“MTR, mungkin,” jawab saya.

“MTR cuma beroperasi sampai jam satu, dude! Jalan lagi nanti jam 6.”

Saya langsung pucat. Padahal saya juga nggak tahu saat itu sedang berada di daerah mana. Saya melirik jam tangan. Sudah jam setengah satu! Andy langsung menepuk-nepuk pundak saya.

“Tenaaang! Kami akan mengantarmu kok!” Semuanya langsung ketawa melihat saya bernapas lega.

Walau cuma satu kali itu bertemu anggota band formasi lengkap, sesekali saya masih saling sapa dengan mereka di media sosial, terutama dengan Riz. Begitulah.

Petang itu, saat saya dan istri lagi asyik nongkrong di Avenue of Stars, Riz mengirim SMS lagi, meminta saya menunggu di sebuah halte bus tak jauh dari gedung hostel saya. Saya pun segera cabut dan berjalan menuju tempat janjian. Beberapa menit kemudian, Riz tiba dengan sedan birunya. Pria satu ini memang sangat ramah dan murah senyum. Sebelas tahun tak bertemu dan dia masih seperti teman lama.

Yo, Indra! Long time, long time!” katanya sambil tersenyum lebar dan memeluk saya. Saat bicara bahasa Inggris, logat Riz sangat Amerika. Dia memang pernah kuliah di Massachusetts. Riz adalah generasi kedua dari sebuah keluarga Pakistan. Orangtuanya pindah ke Hong Kong untuk mencari pekerjaan yang lebih layak. Riz lahir di Hong Kong dan hanya beberapa kali sempat pulang ke Pakistan, sehingga justru lebih merasa sebagai orang Hong Kong ketimbang Pakistan. Dia pernah bilang ke saya, dia malah tak bisa bahasa Urdu. Lebih fasih bicara bahasa Kanton dan Inggris.

Riz dan Sofia, putrinya, dalam sebuah konser di Cina.

Riz dan Sofia, putrinya, dalam sebuah konser di Cina.

Dia tertawa ketika saya mengomentari penampilannya yang rapi jali, berkemeja lengan panjang. “Aku baru pulang dari sekolah, dude! Ada rapat tadi. Itu makanya aku tampil rapi begini,” katanya sambil cengengesan. Tentu saya tahu kenapa dia memakai kemeja lengan panjang. Lengan dan betis Riz penuh dengan tato sangar. Dia sendiri bekerja sebagai guru TK di sebuah sekolah swasta. Tentu saja tato bukan pemandangan yang sesuai bagi profesi dan lingkungan kerjanya. Riz kini sudah menikah dengan perempuan Hong Kong dan punya balita perempuan bernama Sofia yang cantik dan montok.

Dia permisi sebentar, beranjak ke bagian belakang mobilnya, mengambil sehelai kaos hitam dan sebuah CD. Ya, sebelumnya saya sudah bilang mau beli kaos King Ly Chee dan CD terbarunya yang berjudul Time Will Prove.

Kami lalu meneruskan ngobrol di pinggir jalan sambil berfoto ria. Tentu saya juga tak lupa membayar kaos dan CD tadi seharga HK$ 180. Walau teman, tentu hasil kerja keras seseorang tak layak digratiskan begitu saja. Kecuali atas kemauan orang itu sendiri, pasti.

Kaos dan CD KLC yang saya beli. Lagunya enak-enak! :P

Kaos dan CD KLC yang saya beli. Lagunya enak-enak! 😛

King Ly Chee bukanlah band tenar di Hong Kong. Sebagai band underground, dengan komunitas hardcore yang jumlahnya sedikit di Hong Kong, mereka tak mengandalkan main band sebagai tempat cari duit. Semua personelnya punya kesibukan sendiri-sendiri. Tapi, King Ly Chee yang sekarang sudah ganti personel, kecuali Riz sebagai pentolan dan pendiri.

They always come and go, man. Doesn’t matter. Band ini adalah tempat untuk berekspresi dan menyebarkan pesan-pesan positif, juga mencari teman sebanyak mungkin,” komentar Riz waktu saya tanya. King Ly Chee sering juga tampil dalam konser-konser di negara lain di Asia Timur dan Tenggara, termasuk di Indonesia. Tahun 2007 mereka manggung di Jakarta, menjadi band pembuka NOFX, sebuah band punk legendaris asal AS. Tahun 2012 mereka manggung lagi di Ancol. Sayangnya, saya tidak sempat datang di kedua konser itu. Damn.

Riz tak bisa berlama-lama. Kami mungkin cuma ngobrol 15 menit di trotoar. “Sorry, bro. I have to pick up my wife and daughter. Sayang sekali kau besok pulang. Kalau masih lama, mungkin kita bisa nongkrong atau makan malam di mana, gitu,” katanya.

Tak apalah. Dia kembali menyalami dan memeluk saya. “See you around, dude!” Dan kami berpisah di situ.

Setelah ketemuan sama Riz, malam itu kami masih sempat ngeloyor ke Ladies Market. Tempat ini berada di daerah Mong Kok, tak jauh dari hostel saya. Bisa juga dicapai via Yau Ma Tei. Lagi-lagi, paling gampang ya naik MTR kalau mau ke sana. Di kawasan ini, ada beberapa ruas jalan yang setiap malam ditutup bagi kendaraan, dan kemudian diisi oleh para pedagang kaki lima. Dari penjual makanan, suvenir, guci, pedang, lukisan, kaos, tas, flashdisk, sex toy, hingga peramal tumblek blek di sini. Yang doyan belanja dan jago menawar pasti seneng banget keluyuran di sini.

Saya sendiri beli tas selempang berwarna hijau lumut. Mungkin mirip warna seragam tentara Mao. Dengan bintang merah dan aksara Cina di bawahnya. Entah apa artinya. Yang jelas harganya cuma HK$ 50. Benda lain yang saya beli adalah gantungan kunci (pasti!), flashdisk berbentuk kamera, dan piring hiasan. Saran saya, beli flashdisk di sini buat hiasan aja deh, karena nggak berfungsi sama sekali. Sial! 😦 Bentuknya memang menarik: kamera, boneka Android, tokoh kartun, dan banyak lagi. Sayang saya nggak bisa pasang fotonya di sini, karena file-nya hilang semua di flashdisk abal-abal tadi.

Malam itu kami kembali ke kamar hostel dalam keadaan lelah. Setelah mandi, kami tidur pulas. Jam 4 subuh kami sudah bangun dan bersiap-siap. Jam setengah enam keluar dari hostel. Terpaksa lewat tangga, karena lift belum dinyalakan jam segitu. Di dekat pintu masuk stasiun MTR, saya sempat deg-degan karena banyak orang Afrika yang masih nongkrong di situ. Sebagian tampak mabuk. Untunglah mereka tidak mengganggu.

Kami sempat menunggu beberapa menit karena stasiun MTR masih tutup. Saya sengaja berangkat sepagi mungkin walau pesawat kami terbang jam 10. Supaya ngirit, saya pilih naik bus ke bandara yang durasinya satu jam. Naik kereta bisa saja sih, tapi ongkosnya jauh lebih mahal. Dari Causeway Bay, kami hanya menunggu bus tak sampai 15 menit. Begitu naik, legalah sudah. Genap 9 hari kami main di Hong Kong. Tetap puas walau ada beberapa tempat yang tidak bisa kami kunjungi karena nggak punya duit….hehehe!

Sepanjang jalan menuju bandara. Ini di Tsing Ma Bridge.

Sepanjang jalan menuju bandara. Ini di Tsing Ma Bridge.

Akhirnya tamat juga nulis ini…hahayy! Tetap sehat, tetap semangat, tetap makan banyak, supaya bisa jalan-jalan lagi! [] 🙂

TAMAT

Balada Ukraina #26

Salah satu sudut kota Dnipro.

Salah satu sudut kota Dnipro.

Setelah mandi, saya mulai bisa tenang dan berpikir jernih. Saya tahu, tindakan Vova sangat berisiko. Bagaimana kalau para pemuda itu besok-besok melakukan sweeping? Mudah sekali mencari anak muda Asia Tenggara berkulit cokelat di sini, karena sayalah satu-satunya orang itu. Ada apa sih dengan orang-orang macam ini? Sekarang saya jadi tahu rasanya jadi minoritas. Batin benar-benar tersiksa. Tapi, di luar itu, sejujurnya saya sangat berterima kasih kepada Vova—bahkan senang sekali ada orang yang menghajar bangsat-bangsat rasis itu untuk membela saya.

Saya lalu memutuskan menelepon beberapa orang malam itu. Pertama, saya menelepon tiga anak AIESEC: Nik, Julia, dan Nastya. Tentu saja mereka terkejut mendengar cerita saya. Kami lalu janjian ketemu esok harinya di resto Mr. Smak.

Nik meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan meminta saya bersabar. “Aku akan memberi tahu semua anggota AIESEC di Dnipro lewat mailing list kami dan lewat SMS.”

“Terima kasih, Nik,” saya menutup percakapan.

Kedua, saya menelepon Oleg. Ia berjanji akan melakukan sesuatu Senin minggu depannya, membicarakan hal ini dengan pihak sekolah.

Ketiga, saya menelepon Mas Arif, sekretaris di KBRI Kiev, tapi tak diangkat. Dia menelepon balik setengah jam setelah menerima SMS saya. Mas Arif sendiri sedang berada di Odessa untuk urusan dinas. 

“Halo, Indra! Gak apa-apa, kan?”

“Gak apa-apa sih, Mas. Cuma jadi makin ngeri aja kalo lagi di jalanan,” jawab saya.

“Gimana sih kejadiannya? Kok bisa begitu?”

Saya menceritakan semuanya dengan terperinci, lengkap dengan adegan kekerasan yang dilakukan Vova.

“Waduh, Ndra! Kok pake acara bikin bocor kepala orang segala?”

“Yaa, gimana lagi, Mas? Temen saya tuh lagi marah banget…”

Mas Arif lalu bercerita bahwa ada staf KBRI yang juga pernah mengalami perlakuan rasisme di jalanan Kiev. Namanya Pak X. Waktu ia sedang memasuki mobilnya, sebelum sempat menutup pintu mobil, tiba-tiba beberapa pemuda skinhead tanpa permisi langsung memukulinya. Pak X sempat diseret menjauh dari mobil sebelum ia berhasil lari ke mobilnya untuk mengambil pistol. Para berandalan itu sudah berlari cukup jauh ketika Pak X mengacungkan pistolnya.

Mendengar cerita itu, saya jadi makin khawatir. Pasalnya juga, beberapa hari sebelumnya saya sempat menonton satu program di TV yang mengangkat topik rasisme. Acara itu menunjukkan beberapa video yang sepertinya dibuat oleh beberapa geng rasis. Ada pula liputan tentang kehidupan seorang pemimpin geng rasis. Tubuhnya dipenuhi tato, kepalanya botak licin, setiap hari berlatih angkat beban, tapi kehidupannya normal sekali. Lelaki itu punya anak lelaki yang masih balita, istrinya juga cantik. Tapi, seramnya, acara itu juga menunjukkan beberapa dokumentasi “kegiatan” si botak rasis ketika sedang beraksi bersama gengnya di jalanan. Ia bahkan tak segan-segan menyerang sekelompok demonstran yang sedang berunjuk rasa menentang rasisme. “Untungnya”, kelompok rasis itu ada di di Rusia.

“Kalau dari jauh udah liat sekelompok orang, apalagi yang lagi minum, kamu nyeberang aja, pindah jalur. Atau pura-pura masuk ke toko,” Mas Arif menyarankan. “Hindari jalanan sepi, dan kalau bisa, kamu jangan jalan sendirian kalau malam. Pokoknya, hati-hati, ya!”

Setelah menelepon semua orang itu, saya jadi sedikit tenang. Setidaknya, orang-orang penting sudah saya hubungi semua.

***

Dnipro sebenarnya kota yang cukup indah, apalagi saat musim semi dan panas.

Dnipro sebenarnya kota yang cukup indah, apalagi saat musim semi dan panas.

Sabtu siang, Julia sudah menunggu saya di Mr. Smak. Sambil menemani saya makan banyak (maklum pake kupon gratis), Julia mendengarkan cerita saya dengan wajah prihatin. Tak lama, Nik pun datang. Dia bilang, Nastya titip salam, tidak bisa datang karena ada keperluan lain.

Saya jadi mengulang cerita yang sudah saya katakan kepada Julia.

“Indra, kuharap kau paham bahwa ini bukan kejadian biasa. Rasisme hampir tidak pernah terjadi di sini. Aku tidak pernah dengar ada orang asing diperlakukan seperti itu di Dnipro.”

“Ya, ya…aku paham. Tapi kau tentu juga paham bahwa aku shock. Tidak nyaman rasanya berada di jalanan dan ada orang-orang yang menatapku hanya karena warna kulitku berbeda.”

Lalu, saat saya ngobrol dengan Julia, Nik permisi mau menelepon seseorang di luar. Tak sengaja saya sempat curi dengar, tampaknya Nik menelepon Vova. Saya khawatir Vova lagi dimarahin Nik karena aksi heroiknya tadi malam.

Tak lama, Sveta dan seorang anak muda lain datang. Anak ini bernama Vova (lagi!), anak AIESEC juga, yang baru pertama kali saya temui. Yeah, banyak sekali Vova di negara ini. Supaya nggak keliru, kita sebut saja dia Vova B—akronim nama belakangnya. Pemuda ini punya anting di telinga kirinya. Orangnya tidak terlalu tinggi, berdagu tegas, dengan wajah sedikit kasar dan sangar, tapi cewek-cewek Indonesia pasti termehek-mehek melihatnya. 😛 Anak-anak AIESEC menjulukinya dancing Vova—karena dia jago breakdance dan aneka street dance lainnya. Vova B sedang bermain bola bersama beberapa orang lain di depan resto Mr. Smak. Yeah, another Vova in my Ukrainian life. 🙂

Setelah (saya) makan, saya, Vova B, Julia, dan Sveta jalan-jalan di sekitar situ. Nik pamit karena punya urusan lain. Resto Mr. Smak terletak di sebuah pedestrian berkonblok sepanjang 150 meter bernama Theatralniy Bulva. Di sepanjang jalan itu, selain ada resto dan kafe, juga ada banyak kios yang menjual buku-buku bekas, DVD, dan game komputer. Di ujung jalan, dekat sebuah gedung teater, kami membeli secangkir plastik teh panas, dan sambil minum kami melihat-lihat pedagang kaki lima yang banyak berjualan di situ. Di bawah sebuah patung-entah-apa, beberapa orang tua menjual pernak-pernik sisa Perang Dunia II: jas jenderal Soviet, pin-pin berbau militer, koin-koin kuno zaman soviet, dan banyak lagi.

Puas nongkrong dan ngobrol-ngobrol, kami pun berpisah. Sebelum pergi, Vova B meminta nomor ponsel saya. “Simpan nomor ponselku, ya. Aku kerja magang di dekat sekolahmu. Kalau ada apa-apa, telepon saja aku,” katanya dengan bahasa Inggris logat Ukraina—harus konsentrasi dengernya. 😛

Yah, setidaknya kini saya merasa lebih tenang setelah bertemu teman-teman.

***

Seninnya, menjelang pulang mengajar, Oleg menghampiri saya. “Good news. Aku sudah bertemu dengan kepala sekolah. Dia memutuskan, mulai hari ini, setiap kau pulang dari sekolah, ada satu satpam yang akan menemanimu ke halte sampai kau naik trem atau marshrutka.”

Saya bengong. “Oleg, apa itu tidak berlebihan?”

“Yaah….cuma untuk berjaga-jaga. Kami tidak ingin kau mengalami kejadian semacam itu lagi. At least, that’s all we can do about this. Hati-hati juga di jalan. Satpamnya tidak mungkin menemanimu setiap saat.”

Jadilah mulai sore itu seorang satpam menemani saya sampai ke halte setiap sore sepulang dari sekolah. Namanya Alexei. Seperti umumnya orang Ukraina, atau mungkin karena dia satpam, wajahnya dingin dan kaku. Badannya tinggi besar. Cocok sekali jadi petugas keamanan. Sering ia berjalan sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya. Mungkin juga ada pistol di baliknya—tapi sepertinya itu hanya khayalan saya. Dia juga pelit bicara, jadi kami lebih banyak diam ketika sedang berjalan kaki. Stok basa-basi saya dalam bahasa Rusia juga sudah habis.

Kikuk juga rasanya. Tapi, bagaimanapun, seumur hidup baru kali ini saya punya bodyguard pribadi! 🙂 []