Bebek Merapi Mega Sari – Bandung

bebek merapi1

Sebenarnya sudah beberapa lama saya mengincar makan di warung ini. Habis, kelihatannya selalu ramai pengunjung. Yang kayak gitu kan harus dicurigai. Plus, kata seorang teman, bebek di sini mantap surantap rasanya.

Jadi, beberapa waktu lalu, untuk kedua kalinya saya mampir di warung kaki lima yang namanya Bebek Merapi Mega Sari ini. Lokasinya ada di Jl. PHH Mustopha, di seberang ITENAS, tak jauh dari perempatan Jl. Pahlawan, Bandung. Bukanya biasanya sore hari (Magrib).

Penampakan dari luar sih seperti umumnya warung kaki lima yang jualan nasi uduk plus menu utama ayam dan bebek. Pas saya datang ke sini, seperti biasa warungnya memang ramai pembeli. Karena ramai, saya harus menunggu beberapa pengunjung untuk bangkit sebelum saya rebut kursinya. Sialnya, saya dapat tempat di meja yang posisinya agak miring.

Goreng-gorengan lain. Pesta kolesterol deh pokoknya :)

Goreng-gorengan lain. Pesta kolesterol deh pokoknya ūüôā

Karena di spanduknya mereka menamakan diri Bebek Merapi, saya memesan bebek bakar plus nasi uduk. Sebagai tambahan, saya pesan tahu dan tempe. Oya, di sini, selain bebek, juga ada ayam bakar/goreng, lele, perkedel kentang, sate telur puyuh, sate ati, ikan asin, kol goreng, dan tak lupa pete serta jengkol (!).

Sambil nunggu, saya meneguk es jeruk sedikit-sedikit. Bukan hanya karena esnya kurang dingin, tapi biar irit…hehehe! Saya perhatikan, banyak sekali orang yang membeli dibungkus. Itu sebabnya kadang-kadang orang yang makan di tempat harus menunggu agak lama.

Bebeknya empuk, sambelnya ganas!

Bebeknya empuk, sambelnya ganas!

Setelah sepuluh menit, barulah pesanan bebek bakar dan goreng saya diantar. Konon, di sini sambelnya dahsyat. Memang, aroma sambelnya saja sudah sangat meneror hidung, menjanjikan kenikmatan mandi keringat.

Daging bebeknya ternyata sangat empuk, mudah dicuil-cuil. Bakarannya juga pas. Nggak terlalu manis kecap. Bebek gorengnya juga renyah banget. Digado pun enak, rasanya gurih dan sedikit garing.

bebek merapi4Yang paling edan ya sambelnya itu. Gurih dan…..puedesss!! Yang bukan penggemar sambel mending pesan sambel yang nggak begitu pedas. Soalnya sambel yang saya pesan ini yang pedasnya maksimal. Saya sendiri nggak cukup makan sambel satu pisin di sini. Oya, kalo beli makannya dibungkus, sambelnya kudu nambah Rp 1000. Hehehe!

Seporsi bebek dengan nasi uduk dan es jeruk di sini harganya sekitar Rp 26 ribu. Kalo bebeknya doang sih Rp 19 ribu. Standar lah. Menu lain seperti ayam kayaknya enak juga, walaupun saya belum coba. Tapi kalo sambelnya gahar kayak begini sih,¬†menu lain sepertinya enak juga.¬†Kapan-kapan saya mesti main ke Bebek Merapi lagi! Habis, sambelnya ganas banget kayak lahar Merapi! *lebay*¬†ūüėõ []

Soto Ayam Pak Gareng – Jogja

pak gareng 1

Soto adalah salah satu makanan favorit saya untuk sarapan. Kalau sedang¬†mudik ke Jogja, setiap jam 6 pagi saya pasti bela-belain mampir ke warung Soto Ayam Pak Gareng. Sejak masih kuliah, tempat ini jadi tempat sarapan saya.¬†Warung ini terletak di Jl. Mangkubumi, utara Jl. Malioboro, di seberang gedung BCA, tidak jauh dari pintu depan Stasiun Tugu. Dan yang tidak kalah penting: jaraknya cuma 200-an meter dari rumah saya…hehehe! ūüôā

Soto Pak Gareng buka setiap pagi dari jam 6 hingga tengah hari. Sepagi itu juga biasanya warung kaki lima ini sudah penuh pengunjung, tak peduli hari kerja atau hari libur. Oh ya, yang jualan di sini bukan¬†Pak Gareng, tapi cucunya. Entah namanya Bu siapa… ūüėõ

Sarapan di sini benar-benar murah meriah. Semangkuk soto campur nasi harganya cuma Rp 6.000, kalau nasi dipisah Rp 7.000 (!). Sate ati cuma Rp 2.000. Minumannya juga murah, antara Rp 2.000 – 3.000. Tapi itu sebelum harga BBM naik per 18 November 2014 ya….hahaha! Pelayanannya juga cepat. Tak sampai 5 menit, soto pesanan kita sudah¬†terhidang di bawah hidung.

Soto, sate, es jeruk. Josss!!

Soto, sate, es jeruk. Juoss gandosss!!

Yang namanya makan soto nggak lengkap tanpa “konco-konconya”. Nah, di warung Pak Gareng ini, di atas meja selalu tersedia sate ati, sate ayam, sate telor puyuh, tempe dan tahu bacem, plus lenthok. Yang terakhir ini adalah camilan yang terbuat dari singkong yang dibumbui, dihaluskan, lalu digoreng. Biasanya buat lauk teman makan soto.

Menu satu-satunya di sini adalah soto ayam. Tinggal pilih mau apakah nasinya dicampur atau dipisah. Selain nasi, dalam semangkuk soto ada soun, irisan kol, taoge, lenthok, dan suwiran daging ayam yang kemudian diguyur dengan kuah soto panas. Kuah sotonya termasuk bening dan terasa ringan bumbu-bumbunya. Gurihnya juga pas dan segar. Tambahkan sambal, kecap, atau perasan jeruk nipis jika suka.

Selalu ramai... :)

Selalu ramai… ūüôā

Porsi yang disajikan sebenarnya¬†cukupan untuk mengganjal perut yang lapar di pagi hari alias tidak membuat perut terlalu¬†kenyang. Tapi buat saya sih sepertinya harus makan dua mangkuk…hehehe! Lagian harganya murah kok, jadi yaa…tambah aja! ūüėÄ

Biasanya juga banyak pengamen kalau kita makan di sini, tapi mereka mainnya lumayan bagus dan kadang ada sepasang pengamen tua memainkan lagu-lagu tradisional dengan siter (alat musik petik dalam gamelan Jawa). Habis makan, biasanya saya jalan-jalan ke Malioboro, beli koran dan baca sambil duduk-duduk di bangku di bawah pohon rimbun. Memerhatikan kereta mondar-mandir dan ngeceng (ngelamun sambil cengengesan).

Nah, jelas kan sekarang kenapa saya 6,5 tahun baru lulus kuliah….. *eh* ūüėÄ

Makan Siang yang Mencerahkan

Pada suatu hari yang biasa, seorang teman mengajak makan siang bersama. Sebut saja namanya Bunga (kok kayak nama korban di artikel berita perkosaan ya…haha!). Karena ge-er, saya mengiyakan. Kenapa ge-er? Karena saya kira bakalan ditraktir makan, nggak tahunya bayar sendiri-sendiri…hehehe!

Kami makan di Ampera di daerah Arcamanik. Tempatnya asyik, persis di seberang supermarket Griya. Di pelataran Griya, ada penjual kue pukis, kue kesukaan saya. Sambil menikmati menu nasi liwet lauk perkedel kentang, bakso goreng, sate usus, pepes jamur, sambal lalap, dan minuman timun serut segar, saya mendengarkan cerita Bunga.

“Aku mau kuliah lagi.¬†Lanjut ke S-2,” mulainya.

Bunga sudah sebelas tahun bekerja di perusahaan yang sama dengan saya, walau berbeda unit dan gedung. Dulu dia menamatkan pendidikan sarjananya di Fikom UNPAD, dan sekarang ingin melanjutkan pendidikan karena dia ingin menjadi dosen di almamaternya itu. Persoalannya, biayanya mahal.

“Dua puluh juta per semester. Duit dari mana, ya?” kata Bunga sambil melahap otak sapi.

Usai¬†membahas topik tersebut secara “teknis”, saya mengajukan pertanyaan, yang lebih tepat ditanyakan kepada diri sendiri.

“Memang¬†betul ya…yang namanya manusia itu nggak akan pernah puas. Tapi kalau nggak puasnya dalam konteks positif, kenapa nggak?” celetuk saya¬†sok bijak.

Bunga hanya manggut-manggut.

“Kamu masih mending. Kamu pengen kuliah lagi karena ada tujuan bagus di akhirnya. Aku juga pengen kuliah lagi, tapi di luar negeri. Dan kalau boleh jujur, aku pengen kuliah bukan karena suka belajar formal, tapi lebih karena pengen jalan-jalan….hehehe!” kata saya.

Bunga tertawa. Dia sudah lama tahu¬†bahwa saya memang sejak kecil maunya jalan-jalan melulu. Ditambah lagi saya sudah “keracunan” baca buku-buku Agustinus Wibowo.

Saat beberapa jeda untuk mengunyah dan meneguk minuman, saya merenung dalam-dalam. Saya berpikir tentang Bunga yang sedang merancang jalan setapak baru dalam peta hidupnya.

work hardSaya sendiri sudah bekerja 6 tahun di perusahaan ini. Sistem di perusahaan dan jenis pekerjaan saya tidak membuat saya tertarik untuk menapak ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu selevel manajer. Mungkin saya sudah puas begini, walau di mata orang lain bisa jadi dianggap “begitu-begitu saja”.

Saya berada di zona aman dan nyaman. Tapi siapa tahu, kelak pada suatu titik, saya akan berpikir seperti Bunga: untuk move on dan mewarnai hidup dengan sesuatu yang baru. Bukan berarti pekerjaan saya ini buruk dan membosankan. Sebaliknya, menyenangkan bagi saya. Tapi, itulah manusia. Selalu tidak pernah puas. Selalu ingin sesuatu yang lain, yang baru.

cameraApakah saya ini gampang puas atau memang kurang ambisius, entahlah. Saya merasa sudah punya semua yang saya butuhkan: punya rumah (yang masih nyicil 10 tahun lagi), punya kendaraan bermotor roda empat (dalam bentuk dua sepeda motor), punya penghasilan tetap, bisa menabung, bisa liburan sesekali, dan kadang-kadang dapat proyek kecil yang hasilnya bisa ditabung. Alhamdulillah. Kurang apa? Mobil? Ah, saya nggak butuh mobil. Dan walau belum diberi momongan, saya merasa itu di luar kuasa manusia. Urusan kita cuma berdoa dan ikhtiar, selebihnya pasrahkan saja kepada Gusti Allah.

Kalau bicara keinginan, tentu tidak akan ada habisnya keinginan manusia. Lalu apa yang sebaiknya saya kejar dalam hidup ini? Sesuatu yang setidaknya bukan keinginan materialistis?

lifeSaya lantas merasa, apa yang membuat hidup ini layak dijalani tentu adalah kalau kita selalu memiliki cita-cita dan harapan, kemudian memperjuangkan itu. Apakah nanti cita-cita dan harapan itu tercapai atau tidak, itu bukan masalah. Bahkan terkadang hikmah dari perjuangannya terasa lebih nikmat daripada tujuan akhir itu sendiri.

Saat mencuci tangan sehabis makan, saya merenung. Rasanya tindak lanjut dari kegalauan saya pada siang yang mencerahkan itu adalah:

1. Menghasilkan karya. Yang paling realistis adalah menerbitkan buku (solo) karya sendiri. Habis bisanya cuma ini, sih. Yang ini masih dikerjakan. Malu sama Pramoedya Ananta Toer yang pernah bilang, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Atau seperti celetukan seorang sahabat, “Sibuk membidani karya-karya orang lain, tapi tak punya waktu¬†melahirkan karya sendiri.” Jleb! Dan satu lagi: mulai cari beasiswa! Biar bisa¬†jalan-jalan! *eh* ūüėÄ

2. Menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama manusia. Gimana, ya? Sejauh ini saya cuma bisa bayar zakat, kurban tiap tahun, sedekah juga angkanya nggak bisa dibilang fantastis. Yah, mudah-mudahan sih apa yang saya keluarkan tepat ke sasaran. Jadi anak yang berbakti kepada orangtua? Mungkin sedikit, tapi insya Allah bukan anak durhaka. Ibadah? Standar. Rasanya harus berbuat yang lebih lagi, semata demi pahala.

Saya belum berhasil mencapai kedua tujuan mulia itu, tapi jelas saya ingin melakukan¬†keduanya. Buddha pernah bilang, “Keinginan adalah sumber segala penderitaan manusia.” Yah, bahkan punya keinginan positif pun kita harus “menderita” dulu. Bunga harus menabung lebih dan bekerja ekstra¬†hingga tabungannya cukup untuk kuliah lagi. Tapi, itulah cita-cita Bunga. Dan ia mau berjuang meraihnya.

good deedsTak apa-apa punya keinginan. Tak apa-apa harus berjuang mati-matian untuk mencapainya.¬†Itulah yang membuat kehidupan ini jadi bermakna. Asalkan pada akhirnya seperti yang diajarkan Rasulullah, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Saya jadi makin berpikir keras: apakah saya sudah menjadi orang yang seperti itu? Wallahualam. Tapi saya jelas ingin sekali.

***

Setelah makan, saya mampir sebentar ke teras Griya untuk beli pukis keju. Nah, betul, kan, manusia tidak pernah puas? Sudah makan siang, masih juga beli kue! Hehehe! ūüėÄ Sambil memerhatikan si Mbak menyiapkan pukis, saya melamun lagi.

Saya tidak ingin hidup seperti jawaban Rambo. Ketika selesai menembaki markas tentara dengan senapan mesin sampai hancur dan beranjak pergi, tokoh yang diperankan Sylvester Stallone ini ditanya Trautman, mantan komandannya, “How will you live, John?”

Jawab Rambo, “Day by day…” []

Bumi Tuhan

20140923_065128

Judul: Bumi Tuhan: Orang Buangan di Pyongyang, Moskwa, dan Paris (1960-2013)

Penulis: Waloejo Sedjati

Penerbit: Penerbit Kompas

Terbit: November 2013

Tebal: 350 halaman

“Apa gerangan yang akan terjadi di bumi ini seandainya tidak lahir manusia ajaib bernama Karl Marx itu? Mungkin perjalanan sejarah umat manusia akan berbeda. Juga perjalanan hidupku.”

– Waloejo Sedjati

Sampulnya memang tidak begitu menarik: berwarna dasar putih dengan gambar yang baru jelas ketika dilihat dari dekat. Tapi setelah saya baca, kisah di dalam buku ini ternyata sangat menarik dan meninggalkan kesan mendalam.

Waloejo Sedjati adalah pemuda kelahiran Pekalongan yang bercita-cita menjadi dokter, untuk mengabdi kepada tanah airnya setelah menyelesaikan pendidikan di Pyongyang. Namun, tragedi 30 September 1965 mengubah seluruh jalan hidupnya. Ia terpaksa mengembara selama 48 tahun hingga wafat di Paris sebagai warga negara Prancis pada tahun 2013. Sebelumnya, ia tinggal di Korea Utara selama 10 tahun dan Uni Soviet selama 15 tahun.

Keakraban Indonesia dengan negara-negara sosialis membuat Waloejo pada 1960 dikirim untuk belajar di Pyongyang selama delapan tahun. Tidak banyak orang Indonesia yang belajar di sana atau mengetahui kondisi negara tersebut, sehingga pengalamannya selama di Korea Utara bagi saya sangat menarik. Kisah selama di Korut ini memakan porsi terbesar dari isi buku ini.

Pertama kali datang sebagai mahasiswa yang akan belajar di sana, Waloejo mendapat sambutan luar biasa. Selain disambut rombongan mahasiswa di stasiun, ia juga diajak mengunjungi pabrik-pabrik, menonton pertunjukan teater, dan mendapat hadiah pakaian musim dingin langsung dari pemimpin Korea Utara saat itu: Kim Il Sun. Namun, ia tidak boleh mengetahui nama dan bersahabat dengan dua pemuda yang menemaninya selama acara tersebut, karena mereka dilarang berteman dengan orang asing di luar tugas.

Selama kuliah, mahasiswa asing di Korut mendapat asrama tersendiri dan makanan yang jauh lebih baik dibandingkan mahasiswa lokal yang cuma dikasih jatah sejenis bubur dan tinggal berdesakan dalam satu kamar. Namun, mahasiswa asing harus sekamar dengan satu mahasiswa lokal, yang sebenarnya bertindak sebagai mata-mata.

Sebagai pemuda dari keluarga sederhana yang merasa bangga mendapat kesempatan belajar di luar negeri, Waloejo semula sempat shock setelah menyadari bahwa fasilitas dan mutu pendidikan di universitasnya di Korea Utara sangat sederhana. Ia juga mendapati bahwa ilmu kedokteran di negara sosialis jauh tertinggal dibandingkan negara-negara Barat.

Pada bagian ini, cerita Waloejo berhasil membuat saya mengagumi rakyat Korut¬†yang ulet dan giat membangun negerinya yang hancur akibat¬†perang. Saya seolah diajak langsung mengamati wajah¬†Korea Utara tahun ’60-an. Selama kuliah, Waloejo¬†juga sempat membantu delegasi Indonesia yang melawat ke Korut atau¬†delegasi Korut yang berkunjung ke Indonesia.

Menurut pengalaman Waloejo di beberapa negara sosialis, Korea Utara adalah negara komunis paling ketat. Sebagai mahasiswa asing, ia tidak boleh memiliki teman penduduk lokal, asramanya diisolasi dan dijaga oleh dua petugas piket, bahkan setelah seluruh mahasiswa asing lainnya sudah pergi dan ia tinggal sendirian.

Ia juga dilarang berbelanja di mana pun kecuali di toko khusus untuk orang asing. Seorang teman kuliah Koreanya yang bersedia ia ajak makan bareng di restoran khusus orang asing harus membayar kenekatannya melanggar peraturan dengan kerja paksa dan diberhentikan dari kuliah. Sementara itu, seorang dosennya yang memainkan biola di depan Waloedjo di ruang autopsi dipindahkan dan belakangan malah hilang.

Setelah peristiwa 30 September dan pemerintahan di RI berganti, mahasiswa Indonesia di Pyongyang diminta mengikuti skrining. Mengikuti nasihat perwakilan Indonesia di sana saat itu, Waloedjo menolak dan menyatakan tetap setia kepada Presiden Sukarno, sehingga paspornya dicabut.

Setelah tidak memiliki kewarganegaraan, Waloejo mencoba bekerja sebagai dokter dan mempelajari akupuntur dari dosen pembimbingnya. Namun, sistem komunis Korut yang terlalu ketat dirasakannya terlalu kejam, sehingga ia pindah ke Uni Soviet pada 1970.

20140916_135835Dibandingkan dengan Korea Utara, kehidupan di Uni Soviet terasa bebas, karena saat itu Soviet telah melakukan revisi dalam pelaksanaan komunisme dan mengarah ke kapitalisme. Selama di Uni Soviet, Waloejo menjadi dokter bedah dan meneruskan pendidikan S-3 sehingga memperoleh gelar PhD pada 1990. Selain bekerja di rumah sakit, ia juga praktik penyembuhan akupuntur, yang belakangan membawanya ke Beograd dan membangkitkan minatnya untuk pindah ke negara Barat.

Dibantu sahabat lamanya, Waloejo pindah ke Paris. Namun, kepindahan ke negara Barat itu tidak membuat semua masalah beres. Waloejo tidak bisa berbahasa Perancis. Akibatnya, ia tidak bisa mengikuti ujian persamaan sebagai syarat untuk bisa bekerja sebagai dokter di klinik atau rumah sakit. Usianya yang sudah setengah abad membuatnya kesulitan belajar bahasa baru.

Perjuangan hidupnya dimulai dari nol lagi. Kesulitan ekonomi apabila tidak bekerja membuat sisa hidupnya di Perancis diisi dengan bekerja sebagai asisten juru rawat hingga pensiun. Setelah menjadi warga negara Prancis ia sempat mengunjungi keluarga di Indonesia.

Saat bertemu kembali dengan kedua orangtuanya, Waloejo mendapat kabar bahwa semua teman dekatnya disiksa dan dibunuh, termasuk mereka yang tidak begitu paham arti komunisme atau sekadar simpatisan tak penting. Keluarganya juga dikucilkan dari masyarakat setelah tragedi tersebut.

Di halaman-halaman terakhir, Waloejo menceritakan bagaimana ibunya “menggugat”nya: “Kau! Coba katakan! Kenapa bencana itu menimpa kami? Apa benar kau anggota PKI seperti yang dituduhkan orang-orang kampung itu? Kau pasti tahu mengapa kami¬†harus membayar teramat mahal atas dosa yang tak kami mengerti!”

Waloejo tak sanggup menjawab semua itu. Semua pengalaman pedihnya ini menimbulkan rasa sedih luar biasa hingga akhirnya Waloejo, yang setelah tinggal di Perancis memakai nama Valery Selancy, wafat.

Beruntunglah ia masih sempat menulis memoar ini, sehingga kita bisa banyak belajar tentang Waloejo‚ÄĒseorang¬†anak bangsa yang¬†ilmunya disia-siakan, mubazir tak terpakai di negeri sendiri, dan namanya pun akan dilupakan zaman. Sayang di buku ini nggak ada foto-fotonya.

Walaupun ideologi komunis sudah tak laku lagi dunia, di Indonesia rasa takut akan gerakan tersebut masih dipelihara hingga kini. Padahal banyak ancaman lain yang jauh lebih nyata dan berbahaya, misalnya semakin maraknya korupsi atau intoleransi yang mengatasnamakan agama oleh kelompok-kelompok pemuja kekerasan dan pelestari kebodohan.

Tragis.[]

Balada Ukraina #28

Tak sampai dua minggu setelah mendapat pengawal pribadi, saya dapat jatah libur lagi karena di sekolah akan diadakan ujian. Jelas saja saya pengen jalan-jalan lagi. Untuk hal-hal begini, Nastya adalah orang yang paling tepat untuk dihubungi. Sabtu pagi jam 10, kami janjian ketemu di Globa Park, taman kota yang lokasinya tak jauh dari apartemen saya.

Sebenarnya saya masih agak khawatir berkeliaran di ruang publik begini. Sejak peristiwa diludahi tempo hari itu, saya mengurangi acara jalan-jalan sendirian di jalanan, kecuali kalau ada teman-teman yang menemani. Bagaimana kalau nanti saya apes karena geng rasis yang dihajar Vova itu tiba-tiba lewat dan saya sedang sendirian? Sudah jelas saya satu-satunya orang Asia Tenggara di Dnipro. Satu-satunya yang berkulit sawo matang. Mudah sekali dikenali, walaupun orang yang buta dunia akan menyangka saya orang Afrika.

Saya memasang kupluk jaket saya dan duduk di bangku di bawah sebuah pohon rimbun di dekat pintu masuk.

Sepuluh menit kemudian, saya melihat sebuah sedan biru berdecit berhenti di seberang jalan tak jauh dari pintu masuk. Itu jelas Nastya.¬†Anak satu itu nggak pernah bisa nyetir pelan-pelan, rutuk saya dalam hati. ‚ÄúHei! Ayo, naik!‚ÄĚ Nastya berseru dari jendela. Saya berlari kecil menyeberang jalan.

‚ÄúApa kabar?‚ÄĚ sapa Nastya riang begitu saya menutup pintu.

‚ÄúI‚Äôm good‚Ķand I need vacation!‚ÄĚ balas saya.

Nastya hanya tertawa.

‚ÄúMau ke mana kita?‚ÄĚ tanya saya begitu Nastya tancap gas.

‚ÄúKe Coffee Life. Ada rapat sama teman-teman di sana.‚ÄĚ

Coffee Life adalah sebuah kafe tempat anak-anak AIESEC biasa nongkrong untuk rapat atau sekadar mojok. Letaknya strategis, di Gagarina Street, dikelilingi beberapa kampus besar di kota Dnipro. Di mobil, saya kemudian menyinggung tentang rencana main ke Donetsk, kota tetangga yang jaraknya sekitar tiga jam naik kereta dari Dnipro.

Setelah serangkaian peristiwa rasis di jalanan dan kebandelan anak-anak di sekolah, menghilang selama beberapa waktu dari Dnipropetrovsk sepertinya gagasan bagus. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan saya tidak perlu terlalu khawatir akan ketemu lagi dengan geng yang dihajar Vova malam itu. Ke mana pun oke.

‚ÄúKau tahu sendiri, kan, anak-anak AIESEC di Donetsk sangat akrab dengan kami di Dnipro. Jadi pastinya kau akan diurus dengan baik di sana,‚ÄĚ kata¬†Nastya.

Terang saja saya langsung mengiyakan. Lagi pula, jalan-jalan seperti ke Kiev kemarin itu sangat irit. Tak perlu menginap di hotel, sudah ada teman yang mengantar berkeliling, dan siapa tahu ada yang kasih makan…hehehe! Lagian, beberapa teman yang waktu itu kenalan sama saya di acara LCC tempo hari juga sudah mengundang saya ke Donetsk.

Di Coffee Life, sementara teman-teman saya rapat, saya memilih mojok sambil baca buku, minum cokelat hangat, dan makan croissant. Beberapa teman yang jarang saya lihat mengajak ngobrol sebentar sebelum bergabung dengan Nastya untuk rapat. Mereka semua sudah mendengar tentang insiden malam itu ketika saya diludahi dan Vova menghajar sebagian dari orang-orang brengsek itu.

Setelah rapat selesai, setengah jam lebih kemudian, Nastya mendekati meja saya.

“Beres! Aku sudah menelepon teman-teman di Donetsk. Kau bisa ke sana Rabu nanti. Minta tolong sama yang lain ya untuk beli tiket kereta,” kata Nastya.

“Oh, masih lama ternyata?”

“Kami butuh kau hari Selasa. Ada acara diskusi tentang intercultural relation and communication di kampus. Nanti kau akan dihubungi. Oke?”

“Heh? Aku disuruh ngapain?”

“Paling cuma disuruh ngomong semaumu…hahaha! Sudah, ya! Aku pergi dulu!” Nastya pamit dan kabur dengan sedan birunya.

Haduh, cewek satu itu selalu terburu-buru.

Di kafe itu saya bertemu lagi dengan beberapa teman anggota baru yang kemarin ikut acara LCC. Sepulang rapat, lima orang anak baru mengajak saya jalan-jalan ke sebuah taman kota, Park Shevchenko, yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari kafe.

Nongkrong bareng teman-teman di tepian Sungai Dnipro.

Nongkrong bareng teman-teman di tepian Sungai Dnipro.

Suhu hari itu sekitar 10¬į Celcius. Masih sangat dingin buat saya, apalagi karena saya tidak lagi memakai jaket musim dingin. Hanya kaos, sweater, dan jaket katun berkupluk. Tapi karena banyak berjalan kaki, tubuh terasa lebih hangat.

Nama Park Shevchenko bukan didedikasikan untuk pesepakbola top Ukraina, Andrey Shevchenko, melainkan untuk Taras Shevchenko‚ÄĒsastrawan dan pujangga kebanggaan masyarakat Ukraina. Saya baru pertama kali main ke taman ini, padahal jaraknya tak jauh dari sekolah tempat saya mengajar.

Park Shevchenko, difoto dari Monastyrsky Island.

Park Shevchenko yang menghijau di musim semi.

Dari Park Shevchenko, ada jembatan langsung untuk menyeberang ke Monastysrky Island, sebuah pulau kecil di Sungai Dnipro yang lebar itu. Saya pernah ke sini sebelumnya, tapi waktu itu malam hari dengan teman saya Nikita yang sama-sama mengajar di Big Ben, kursus bahasa Inggris tempat saya bekerja di malam hari.

Saat hari menjelang sore, rombongan kami berpisah karena ada keperluan sendiri-sendiri. Semua, kecuali saya dan Tanya. Kami berjalan-jalan di Monastysrky dan di sepanjang tepian sungai. Berfoto selfie dan saling bercerita tentang diri dan negeri kami masing-masing.

Nama Tanya (atau Tania) di¬†negara-negara berbahasa Rusia biasanya adalah nama panggilan untuk Tetyana atau Tatyana. Dia tertawa ketika saya bilang kata “tanya” dalam bahasa Indonesia artinya “ask“.

Selfie bareng Tanya.

Selfie bareng Tanya.

Cewek cantik ini kuliah di¬†National Metallurgical Academy of Ukraine, mengambil jurusan Sastra Inggris. Kampusnya ternyata juga tak jauh dari sekolah saya. Masih anak sekitar situ lah…hehehe! Belakangan, Tanya akan jadi salah satu sahabat saya di Dnipro. Bahkan nantinya kami digosipkan berpacaran saking akrabnya…hahaha!

Tiba di apartemen, walau lelah, saya sudah bisa melupakan kejadian-kejadian tak mengenakkan yang menimpa saya beberapa waktu terakhir ini. Teman saya kini bertambah.[]

(Bersambung)