Tag Archives: aiesec

Balada Ukraina #27

Lokasi perkemahan di tepi Sungai Dnipro. Asyik kan? :)

Lokasi perkemahan di tepi Sungai Dnipro. Asyik kan? 🙂

Di tengah-tengah kesibukan mengajar, saya sebisa mungkin selalu mengikuti kegiatan AIESEC. Tidak mungkin rasanya tak bersantai sejenak setelah lima hari stres menghadapi anak-anak di sekolah. Seperti pada suatu akhir pekan, ketika AIESEC bikin acara LCC (Local Committee Conference) untuk para newbie. Saya ikut rombongan naik marshrutka dari terminal bus dekat mal Moct ke lokasi acara. Kebetulan, pada waktu itu ada rombongan AIESEC dari kota tetangga, Donetsk, juga datang. Entah mau ngapain.

Lokasi perkemahannya sedikit di luar kota, di kawasan berhutan dan masih di tepian Sungai Dnipro. Ada beberapa bangunan butut yang tampak kurang terurus. Bangunan yang kami tempati punya beberapa kamar berisi ranjang lipat butut serta WC yang amburadul dan bau pesing. Suhu udara masih dingin buat saya, sekitar 14-15°Celcius. Tapi karena saya wira-wiri terus, badan jadi agak hangat dan saya bisa melepas jaket musim dingin saya. Mungkin juga karena saya malu jadi satu-satunya orang yang masih memakai jaket musim dingin di situ. Yah, waktu itu saya belum beli jaket yang rada tipis.

Lagi gombalin cewek...wkwkwkw! :P

Lagi gombalin cewek…wkwkwkw! 😛

Saya sendiri sebenarnya tak mendapat tugas apa-apa. Saya cuma main, jalan-jalan di tepi sungai, ganggu sana ganggu sini, tebar pesona, dan curi-curi makanan (!). Sebagai satu-satunya orang asing di situ, saya jadi mendapat perhatian lebih. Soalnya, anak-anak anggota baru AIESEC ini umumnya jarang mendapat kesempatan bertemu orang asing, sehingga dengan saya mereka bisa melatih bahasa Inggris mereka. Di depan mereka juga, saya bisa dengan mudah memalsukan umur setiap kali ditanya. 🙂

Di acara pembukaan, Nastya meminta saya bicara sebentar di depan puluhan orang yang hadir. Saya rasa, saya berhasil memukau mereka dengan bahasa Rusia saya yang fasih. Jelas fasih dong, soalnya saya cuma bilang, “Halo semua. Nama saya Indra. Saya dari Indonesia. Saya mengajar bahasa Inggris di sekolah swasta di Dnipropetrovsk. Oh ya, saya tidak bisa bahasa Rusia…hehehe!” 🙂

Sibuk nyiapin makanan. :)

Sibuk nyiapin makanan. 🙂

Vova termasuk yang ikut dalam rombongan. Dia tampak sangat berminat bergabung dengan AIESEC, walaupun belum resmi menjadi anggota. Lagi pula, dia sudah bukan mahasiswa lagi. Setelah acara perkenalan, para newbie dipecah menjadi beberapa kelompok yang masing-masing dipandu oleh satu senior AIESEC. Kebanyakan sih acara diskusi, penjelasan tentang struktur dan kegiatan organisasi, tentang pelatihan-pelatihan kepemimpinan dan berorganisasi, sambil sesekali menunjuk saya yang lagi main bola atau manjat pohon. Maksudnya mau menunjukkan bahwa anggota bisa dapat kesempatan magang kerja di luar negeri. 😛 Selain acara yang serius, panitia juga sesekali menyelingi acara dengan permainan dan nari-nari bareng.

AIESEC dance! Saya sih cuma foto-foto ke sana kemari. :)

AIESEC dance! Saya sih cuma foto-foto ke sana kemari. 🙂

Sesekali saya juga ngobrol dengan beberapa orang dari Donetsk. Saya berkenalan dengan Anna L, mahasiswi manis berambut cokelat lurus dan berponi yang ramah banget. Saat hari mulai gelap dan saya baru selesai bantu gotong-gotong kasur buat tidur nanti malam, saya bergabung dengan rombongan anak Donetsk. Yah, sebenarnya sih saya mendekat karena mereka tampak lagi asyik makan…hehehe!

“Hei, Indra! Ayo, gabung sini!” Anna melambaikan tangan saat melihat saya berjalan ke arah mereka. Beberapa dari mereka tampak sedang serius mendengarkan radio.

Vova minta makanan. Dasar anak kos... :)

Vova minta makanan. Dasar anak kos… 🙂

“Hai…kalian lagi apa?” sapa saya.

“Siaran langsung sepakbola, man! Ini Shakhtar Donetsk versus Dynamo Kiev! Musuh bebuyutan!” jawab Anna bersemangat. “Kau suka sepakbola?” tanyanya.

“Yeah! Tim favoritku Manchester United!” jawab saya sambil mencomot sepotong kue dan marshmallow di meja kayu.

Lelaki di sebelah Anna yang sedang serius mendengarkan radio tiba-tiba menyahut. “Wah, kau fans MU rupanya? Salaman dulu, dong!” Namanya Kostia. Dia newbie di AIESEC Donetsk. Selain jadi suporter tim sepakbola kotanya sendiri, Kostia juga fan MU. Yang saya tahu, Shakhtar termasuk tim Ukraina yang langganan main di Liga Champions. Saya lalu berkenalan dengan beberapa anak AIESEC lain: seorang mahasiswi berbadan jumbo bernama Anna Z, si langsing Yuliya, dan seorang lagi yang tak terlalu suka sepakbola bernama Mischa—nama panggilan untuk Mikhail. Saya agak lupa nama beberapa orang lain. Maklumlah, saya tipe orang yang tidak bisa langsung hafal nama banyak orang sekaligus saat bertemu pertama kali.

Belakangan mereka juga mengajak saya main ke Donetsk. “Kau sudah tinggal beberapa bulan di Ukraina. Main ke Donetsk, dong. Jangan hanya tahu Kiev dan Dnipro. Donetsk cuma tiga jam naik kereta dari Dnipro,” kata Anna.

Saya jelas tertarik dan mengiyakan, sambil meminta nomor ponsel mereka semua. Saat saya menyambar bulatan marshallow terakhir, anak-anak Donetsk berteriak dan melompat kegirangan. Pertandingan itu berakhir dengan kemenangan untuk Shakhtar.

Sampai tengah malam, anak-anak AIESEC ini masih asyik bermain. Malahan semakin malam game-nya makin ngawur, tapi kocak. Misalnya, beberapa orang tiduran telentang berlawanan posisi. Kepala ketemu kepala. Lalu ada orang yang diangkat-angkat dari satu ujung ke ujung yang lain. Mirip adegan moshing di konser-konser metal. Tapi, dalam “perjalanan” itu, pakaian mereka akan dipreteli sebanyak mungkin oleh orang-orang yang berbaring sambil mengangkat mereka.

Begini permainannya. :P

Begini permainannya. 😛

Awalnya saya cuma ketawa-ketawa melihat permainan ini, sampai ditegur seseorang. “Kenapa kau ketawa?” tanya senior bernama Sasha (cowok) sambil cengengesan.

Because it’s stupid, man! Look at them!” Saya ketawa terus sambil memegangi perut yang sudah sakit. Apalagi setelah melihat beberapa “korban” sudah dipreteli pakaiannya hingga tinggal celana dalam.

Dan kami pun ketawa bareng-bareng.

Karena tidak mau ditelanjangi, saya mengambil posisi di ujung akhir, yaitu membantu orang yang sudah selesai dikerjain. Tengah malam saya sudah ngantuk berat. Vova mengikuti saya dan kami langsung rebutan tidur di ranjang lipat paling pojok yang kasurnya rada bau apek. Tanpa sempat buka sepatu. Menjelang saya tertidur penuh, beberapa cewek juga mulai masuk ke kamar dan tidur di ranjang-ranjang lain yang masih kosong.

Akhir pekan yang menyenangkan. Mendadak saya jadi punya banyak teman baru.[]

Foto bareng anak-anak AIESEC.

Foto bareng anak-anak AIESEC.

(Bersambung)

Advertisements

Balada Ukraina #26

Salah satu sudut kota Dnipro.

Salah satu sudut kota Dnipro.

Setelah mandi, saya mulai bisa tenang dan berpikir jernih. Saya tahu, tindakan Vova sangat berisiko. Bagaimana kalau para pemuda itu besok-besok melakukan sweeping? Mudah sekali mencari anak muda Asia Tenggara berkulit cokelat di sini, karena sayalah satu-satunya orang itu. Ada apa sih dengan orang-orang macam ini? Sekarang saya jadi tahu rasanya jadi minoritas. Batin benar-benar tersiksa. Tapi, di luar itu, sejujurnya saya sangat berterima kasih kepada Vova—bahkan senang sekali ada orang yang menghajar bangsat-bangsat rasis itu untuk membela saya.

Saya lalu memutuskan menelepon beberapa orang malam itu. Pertama, saya menelepon tiga anak AIESEC: Nik, Julia, dan Nastya. Tentu saja mereka terkejut mendengar cerita saya. Kami lalu janjian ketemu esok harinya di resto Mr. Smak.

Nik meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan meminta saya bersabar. “Aku akan memberi tahu semua anggota AIESEC di Dnipro lewat mailing list kami dan lewat SMS.”

“Terima kasih, Nik,” saya menutup percakapan.

Kedua, saya menelepon Oleg. Ia berjanji akan melakukan sesuatu Senin minggu depannya, membicarakan hal ini dengan pihak sekolah.

Ketiga, saya menelepon Mas Arif, sekretaris di KBRI Kiev, tapi tak diangkat. Dia menelepon balik setengah jam setelah menerima SMS saya. Mas Arif sendiri sedang berada di Odessa untuk urusan dinas. 

“Halo, Indra! Gak apa-apa, kan?”

“Gak apa-apa sih, Mas. Cuma jadi makin ngeri aja kalo lagi di jalanan,” jawab saya.

“Gimana sih kejadiannya? Kok bisa begitu?”

Saya menceritakan semuanya dengan terperinci, lengkap dengan adegan kekerasan yang dilakukan Vova.

“Waduh, Ndra! Kok pake acara bikin bocor kepala orang segala?”

“Yaa, gimana lagi, Mas? Temen saya tuh lagi marah banget…”

Mas Arif lalu bercerita bahwa ada staf KBRI yang juga pernah mengalami perlakuan rasisme di jalanan Kiev. Namanya Pak X. Waktu ia sedang memasuki mobilnya, sebelum sempat menutup pintu mobil, tiba-tiba beberapa pemuda skinhead tanpa permisi langsung memukulinya. Pak X sempat diseret menjauh dari mobil sebelum ia berhasil lari ke mobilnya untuk mengambil pistol. Para berandalan itu sudah berlari cukup jauh ketika Pak X mengacungkan pistolnya.

Mendengar cerita itu, saya jadi makin khawatir. Pasalnya juga, beberapa hari sebelumnya saya sempat menonton satu program di TV yang mengangkat topik rasisme. Acara itu menunjukkan beberapa video yang sepertinya dibuat oleh beberapa geng rasis. Ada pula liputan tentang kehidupan seorang pemimpin geng rasis. Tubuhnya dipenuhi tato, kepalanya botak licin, setiap hari berlatih angkat beban, tapi kehidupannya normal sekali. Lelaki itu punya anak lelaki yang masih balita, istrinya juga cantik. Tapi, seramnya, acara itu juga menunjukkan beberapa dokumentasi “kegiatan” si botak rasis ketika sedang beraksi bersama gengnya di jalanan. Ia bahkan tak segan-segan menyerang sekelompok demonstran yang sedang berunjuk rasa menentang rasisme. “Untungnya”, kelompok rasis itu ada di di Rusia.

“Kalau dari jauh udah liat sekelompok orang, apalagi yang lagi minum, kamu nyeberang aja, pindah jalur. Atau pura-pura masuk ke toko,” Mas Arif menyarankan. “Hindari jalanan sepi, dan kalau bisa, kamu jangan jalan sendirian kalau malam. Pokoknya, hati-hati, ya!”

Setelah menelepon semua orang itu, saya jadi sedikit tenang. Setidaknya, orang-orang penting sudah saya hubungi semua.

***

Dnipro sebenarnya kota yang cukup indah, apalagi saat musim semi dan panas.

Dnipro sebenarnya kota yang cukup indah, apalagi saat musim semi dan panas.

Sabtu siang, Julia sudah menunggu saya di Mr. Smak. Sambil menemani saya makan banyak (maklum pake kupon gratis), Julia mendengarkan cerita saya dengan wajah prihatin. Tak lama, Nik pun datang. Dia bilang, Nastya titip salam, tidak bisa datang karena ada keperluan lain.

Saya jadi mengulang cerita yang sudah saya katakan kepada Julia.

“Indra, kuharap kau paham bahwa ini bukan kejadian biasa. Rasisme hampir tidak pernah terjadi di sini. Aku tidak pernah dengar ada orang asing diperlakukan seperti itu di Dnipro.”

“Ya, ya…aku paham. Tapi kau tentu juga paham bahwa aku shock. Tidak nyaman rasanya berada di jalanan dan ada orang-orang yang menatapku hanya karena warna kulitku berbeda.”

Lalu, saat saya ngobrol dengan Julia, Nik permisi mau menelepon seseorang di luar. Tak sengaja saya sempat curi dengar, tampaknya Nik menelepon Vova. Saya khawatir Vova lagi dimarahin Nik karena aksi heroiknya tadi malam.

Tak lama, Sveta dan seorang anak muda lain datang. Anak ini bernama Vova (lagi!), anak AIESEC juga, yang baru pertama kali saya temui. Yeah, banyak sekali Vova di negara ini. Supaya nggak keliru, kita sebut saja dia Vova B—akronim nama belakangnya. Pemuda ini punya anting di telinga kirinya. Orangnya tidak terlalu tinggi, berdagu tegas, dengan wajah sedikit kasar dan sangar, tapi cewek-cewek Indonesia pasti termehek-mehek melihatnya. 😛 Anak-anak AIESEC menjulukinya dancing Vova—karena dia jago breakdance dan aneka street dance lainnya. Vova B sedang bermain bola bersama beberapa orang lain di depan resto Mr. Smak. Yeah, another Vova in my Ukrainian life. 🙂

Setelah (saya) makan, saya, Vova B, Julia, dan Sveta jalan-jalan di sekitar situ. Nik pamit karena punya urusan lain. Resto Mr. Smak terletak di sebuah pedestrian berkonblok sepanjang 150 meter bernama Theatralniy Bulva. Di sepanjang jalan itu, selain ada resto dan kafe, juga ada banyak kios yang menjual buku-buku bekas, DVD, dan game komputer. Di ujung jalan, dekat sebuah gedung teater, kami membeli secangkir plastik teh panas, dan sambil minum kami melihat-lihat pedagang kaki lima yang banyak berjualan di situ. Di bawah sebuah patung-entah-apa, beberapa orang tua menjual pernak-pernik sisa Perang Dunia II: jas jenderal Soviet, pin-pin berbau militer, koin-koin kuno zaman soviet, dan banyak lagi.

Puas nongkrong dan ngobrol-ngobrol, kami pun berpisah. Sebelum pergi, Vova B meminta nomor ponsel saya. “Simpan nomor ponselku, ya. Aku kerja magang di dekat sekolahmu. Kalau ada apa-apa, telepon saja aku,” katanya dengan bahasa Inggris logat Ukraina—harus konsentrasi dengernya. 😛

Yah, setidaknya kini saya merasa lebih tenang setelah bertemu teman-teman.

***

Seninnya, menjelang pulang mengajar, Oleg menghampiri saya. “Good news. Aku sudah bertemu dengan kepala sekolah. Dia memutuskan, mulai hari ini, setiap kau pulang dari sekolah, ada satu satpam yang akan menemanimu ke halte sampai kau naik trem atau marshrutka.”

Saya bengong. “Oleg, apa itu tidak berlebihan?”

“Yaah….cuma untuk berjaga-jaga. Kami tidak ingin kau mengalami kejadian semacam itu lagi. At least, that’s all we can do about this. Hati-hati juga di jalan. Satpamnya tidak mungkin menemanimu setiap saat.”

Jadilah mulai sore itu seorang satpam menemani saya sampai ke halte setiap sore sepulang dari sekolah. Namanya Alexei. Seperti umumnya orang Ukraina, atau mungkin karena dia satpam, wajahnya dingin dan kaku. Badannya tinggi besar. Cocok sekali jadi petugas keamanan. Sering ia berjalan sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya. Mungkin juga ada pistol di baliknya—tapi sepertinya itu hanya khayalan saya. Dia juga pelit bicara, jadi kami lebih banyak diam ketika sedang berjalan kaki. Stok basa-basi saya dalam bahasa Rusia juga sudah habis.

Kikuk juga rasanya. Tapi, bagaimanapun, seumur hidup baru kali ini saya punya bodyguard pribadi! 🙂 []

Balada Ukraina #13

Senin pagi jam 6 kurang saya sudah tergopoh-gopoh berlari ke luar apartemen. Penjaga piket, seorang perempuan tambun yang masih terkantuk-kantuk, menatap sebal pada saya yang sepagi itu sudah ribut menitipkan kunci kamar. Maklum, jam segitu tergolong masih subuh di sini.

Berjalan cepat menuju halte, naik trem no. 1 menuju vokzal—stasiun kereta, tak sampai 15 menit kemudian saya sudah tiba di stasiun. Sehari sebelumnya saya sudah menelepon Julia untuk menemani saya di stasiun. Untung dia mau, padahal kereta berangkat jam 06.20 ke Kiev. Saat itu saya belum bisa membaca huruf-huruf Cyrillic yang lucu itu. Jadi saya minta ditemani sekadar untuk ngobrol dan minta bantu bacain huruf-huruf aneh di tiketnya….hehehe 🙂

Kereta ke Kiev.

Kereta ke Kiev.

Jam 06.20 kereta berangkat tepat waktu. Saya sengaja naik kereta Stolichny Express pagi biar lebih cepat sampai. Kondisi keretanya nggak jauh beda sama kereta eksekutif di Indonesia, dengan formasi bangku 2-2.  Jam 12.30 siang saya tiba di Kiev. Awal Maret itu langit mendung di ibukota Ukraina itu. Jalanan juga basah karena hujan baru saja reda. Suhu masih sangat dingin bagi saya, antara 0-5 derajat Celcius.

Di stasiun, saya dijemput oleh Rimma, anak AIESEC Kiev. Sebelum jalan-jalan, kami makan siang dulu di sebuah resto di sebelah stasiun. Kata Rimma, “Hari ini ada dua orang yang akan menemanimu jalan-jalan. Setelah aku, nanti sore ada Igor yang akan menemani sampai malam. Habis itu, kalian mampir sebentar ke kampusnya. Nanti ada Daniel di sana dan kau akan menginap di apartemennya malam ini.”

Saya melongo mendengar penjelasan Rimma. AIESEC Kiev tampak profesional sekali untuk urusan ini. Saya yang anak magang dari Dnipropetrovsk, kota berjarak 450 kilometer dari Kiev, bisa diservis seperti ini untuk urusan jalan-jalan doang…hehehe! 🙂

“Kami sudah biasa begini. Lagi pula, aku pun jadi punya kesempatan bertemu orang-orang dari negeri-negeri lain. Kau orang Indonesia pertama yang kutemui,” kata Rimma panjang lebar sambil mengunyah roti. Puas makan siang, kami jalan-jalan sedikit di sekitar situ. Rimma, cewek Kiev yang baik hati ini, dengan fasih bertindak sebagai pemandu wisata saya siang itu, sambil bercerita banyak hal tentang Kiev.

Dari resto, kami berjalan-jalan menyusuri Khreshchatyk, melewati stasiun Kiev lagi. Stasiun kereta Kiev Passazhyrskyi (Київ-Пасажирський), terletak di Khreshchatyk (Хрещатик) Street, di pusat kota. Stasiun ini juga terkoneksi langsung dengan stasiun metro (kereta bawah tanah) Vokzalna.

Dari stasiun Kiev Passazhyrskyi, backpacker juga bisa menumpang keretabaik langsung maupun koneksi/ganti kereta—yang menuju kota-kota lain di Eropa Tengah dan Timur, bahkan hingga Asia Tengah! Beberapa di antaranya: Bratislava, Belgrade, Moskow, Budapest, Sofia, Praha, Saint-Petersburg, hingga kota-kota eksotis seperti Astana, Baku, dan Vladivostok, kota di Rusia yang letaknya berbatasan dengan Cina dan Korea Utara. Vladivostok bisa dicapai dalam delapan hari delapan malam naik kereta dari Kiev! Gileee….saya jadi ngiler bertualang naik kereta ke tempat-tempat itu! 🙂

DSCN2914

Saya dan Rimma di Maidan Nezalezhnosti.

Kemudian kami sampai di alun-alun besar Maidan Nezalezhnosti—alias Independence Square. Kalau akhir pekan, atau sore hari setiap hari, kawasan ini ramai dengan orang-orang yang  nongkrong bareng teman-teman mereka. Kadang ada juga konser musik kecil-kecilan pada akhir pekan. Di sinilah ribuan orang nonton bareng laga-laga Piala Eropa 2012 yang ditayangkan lewat beberapa giant screen. Tapi ingat, cerita saya ini latarnya tahun 2008 lho….hehehe! 😛

“Tempat ini dulu pernah jadi saksi sejarah bagi Ukraina. Oktober 2004, di sini ada demonstrasi besar-besaran, dikenal dengan nama Orange Revolution,” Rimma bercerita. “Waktu itu, rakyat berdemo memprotes pemilu yang dinilai curang dan penuh manipulasi dan intimidasi. Kiev menjadi pusat gerakan revolusi ini dengan ribuan demonstran berunjuk rasa setiap hari.”

Lanjut Rimma, protes yang menjalar ke seluruh negeri tersebut berhasil membatalkan hasil pemilu curang itu dan pemilu pun diulang oleh pemerintah pada tanggal 26 Desember, 2004. Di bawah pengawasan pengamat internasional dan lokal, pemilu ulang ini dinyatakan “bersih dan bebas”. Hasil akhir dimenangi oleh Victor Yushchenko yang pada pemilu pertama dikalahkan oleh pesaingnya, Victor Yanukovych. Yushchenko lalu diangkat menjadi presiden pada tanggal 23 Januari 2005 di Kiev.

Hmm…saya cuma manggut-manggut. Bisa dibayangkan situasi dan jumlah demonstran saat itu dengan melihat luasnya alun-alun ini. Saya malah jadi ingat demo besar 1998 menuntut Soeharto turun di Indonesia.

“Kenapa disebut Revolusi Oranye?” tanya saya.

“Itu warna ‘resmi” kubu Yushchenko saat pemilu waktu itu.”

Di Maidan, kami bertemu dengan Igor, “pemandu wisata” saya berikutnya. Saya bertukar alamat e-mail dengan Rimma, sebelum kami berpisah karena dia sedang punya urusan di kampusnya. Mendadak hujan turun lagi. Saya dan Igor langsung kabur ke…resto terdekat! Hehehe! Tapi berhubung saya baru makan, di sana kami cuma makan roti dan beberapa cangkir teh panas. Sambil ngobrol ngalor-ngidul. Setelah hujan reda, saya minta tolong dia untuk beli tiket pulang ke Dnipro untuk dua hari lagi.

Setelah itu, Igor mengajak saya balik ke Maidan. Sambil muter-muter nggak jelas, dia mengajak saya turun ke terowongan bawah tanah. Di situ banyak toko dan pedagang kaki lima. Saya tertarik beli topi kupluk wol murah meriah yang berlogo coat of arm Ukraina berwarna biru-kuning. “Keren!” kata Igor nyengir sambil mengangkat jempol.

Seruas jalanan di Kiev.

Seruas jalanan di Kiev.

Dari situ kami melanjutkan jalan kaki ke atas bukit. Walaupun sudah terbiasa berjalan kaki sejak tiba di Ukraina, saya tetap saja ngos-ngosan mendaki. Sementara Igor dengan enaknya berjalan seolah-olah tanahnya datar. Sesekali dia nyengir melihat saya minta berhenti sebentar karena kehabisan napas. Sepanjang jalan, saya melihat banyak gedung-gedung tua yang masih bagus; gedung pemerintahan, universitas, dan banyak lagi. Di tengah perjalanan, Igor menunjukkan stadion milik Dynamo Kiev. “Kau tahu, kan? Dynamo sering masuk putaran final Liga Champions. Biasanya bareng musuh bebuyutan kami, Shakhtar Donetsk.”

Igor mengajak saya melihat Kiev dari atas bukit. Ah, benarlah impresi yang saya punya sejak kecil tentang musim dingin. Kiev saat itu didominasi warna abu-abu kelam dan cokelat. Melewati taman-taman kota yang banyak terdapat di kota ini, saya melihat pohon gundul di mana-mana, walau ada juga sedikit warna hijau daun yang bertahan dari dinginnya musim salju.

Sebuah taman kota di Kiev.

Sebuah taman kota di Kiev.

Langit pun lebih sering mendung. Kini saya bisa merasakan sendiri betapa suramnya suasana musim dingin. Tak heran para penduduk di negara empat musim sangat merindukan musim panas. Walaupun sering kali pemandangan salju sangat memesona, suhu beku dan kesan suram musim dingin mau tak mau memengaruhi mood juga. Mungkin untuk itulah salju diciptakan: memoles pemandangan suram agar lebih cantik.

Di depan stasiun metro Arsenalna.

Tak terasa, langit sudah gelap. Serpihan-serpihan es kecil mulai turun. Gerimis salju! Kami lalu berjalan ke stasiun metro bernama Arsenalna (Арсенальна). Ada monumen meriam di depan stasiun ini—pantaslah namanya Arsenal (= gudang senjata). Di Kiev memang sepertinya bertaburan monumen-monumen peringatan Perang Dunia II. Stasiun ini juga salah satu stasiun dengan lokasi paling dalam di dunia. “Kedalamannya 107 meter,” celetuk Igor memberitahu saat kami turun dengan eskalator.

Membeli tiket metro gampang caranya, kita tinggal menuju loket pembelian tiket untuk membeli token—koin plastik, lalu memasukkan koin itu ke mesin di pintu masuk. Kira-kira mirip dengan token untuk naik MRT di Kuala Lumpur. Harga satu buah tokennya sekitar 50 kopecks (0,5 UAH alias setengah sen)) waktu itu. Satu token berlaku untuk satu kali perjalanan, jauh-dekat. Jadi kalau misalnya kita perlu beberapa kali naik kereta, kita mesti beli token beberapa buah, tergantung berapa kali perjalanan kita dengan metro.

Metro di Kiev cukup bersih. Karena musim dingin, banyak jejak sepatu dan tanah basah yang terbawa dari luar. Yang paling nggak enak adalah naik metro saat jam sibuk. Penumpang berjejalan seperti naik Metro Mini di Jakarta. Penting: jangan berdiri di dekat pintu kereta, karena secara otomatis pintu akan tertutup dengan sangat keras. Bahu bisa ngilu kalau terhantam pintu. Dan biasanya kereta juga tidak akan berangkat kalau ada sesuatu yang mengganjal pintu otomatisnya.

Saljuuu!! :D

Saljuuu!! 😀

Kami turun di stasiun Universytet (Університет). Kenapa namanya begitu, ya karena lokasinya bersebelahan dengan gedung-gedung universitas. Begitu kami keluar dari stasiun, hujan salju turun sangat lebat. Salju! Wah….saya girang bukan main. Hujan salju kedua saya di Ukraina!

Dengan noraknya saya meraup segenggam salju di tanah dan melempari Igor dengan es serut itu. Igor tertawa-tawa sambil menghindar. Tentu saja saya langsung minta difoto, mumpung hujan salju lagi deras-derasnya mengguyur Kiev malam itu. Benda putih yang selalu ingin saya sentuh dan rasakan sejak kecil itu akhirnya turun menemui saya Maret itu dalam jumlah melimpah. Gila…cantik sekali pemandangan malam itu. Padahal saat itu menjelang musim semi, tapi hujan salju masih saja turun sesekali. []

Balada Ukraina #12

“Indra!! Come here…quick! Quick!” Timur, si gendut dari kelas 11, menyerbu ruangan saya dengan wajah panik. Kami lalu berlari ke ruang kelas 11, yang letaknya hanya di seberang ruangan saya. Levan dan Dima, dua cowok kelas 11, tampak berdiri di depan pintu kelas dan memandang ke dalam kelas dengan wajah cemas.

“Ada apa, sih?” tanya saya rada panik. Timur menunjuk temannya, si jangkung Nikita, yang sedang sempoyongan sambil memegangi lehernya. Wajahnya pucat dan dia mengeluarkan suara tercekik, seperti orang keracunan. Sementara itu, murid-murid perempuan tampak panik dan beberapa memegangi pundak Nikita.

Beberapa detik kemudian, Nikita jatuh berdebam ke lantai, setelah sebelumnya menabrak meja dan kursi macam dewa mabuk, diiringi jerit anak-anak perempuan. Darah tampak menghiasi mulutnya. Sebagian mengalir turun ke lantai. Tapi, saya bukan orang yang gampang percaya dengan siapa pun. Saya langsung berjongkok dan mengamati wajahnya. Darah itu tampak asli. Setidaknya mirip darah betulan. Tapi…

“Lho…kenapa dia malah tersenyum?” kata saya heran.

Dan bubarlah sandiwara anak-anak kelas 11. Nikita membuka mata dan berdiri sambil cengengesan, sementara anak-anak lain melemparinya dengan pensil dan kapur. “Booo….stupid fool!” teriak mereka sambil tertawa. Saya bertepuk tangan sambil tertawa. “Pertunjukan yang hebat!” saya menyindir. Kalau saja cengiran Nikita tidak lepas, mungkin saja saya akan percaya dia betulan kolaps.

Good luck next time, guys!” kata saya sambil melambai dan meninggalkan kelas. Saat itu memang bukan jam pelajaran saya. Kelas 11 adalah war zone terakhir selain kelas 7 dan 8. Ada sebelas anak di kelas ini, empat laki-laki dan sisanya perempuan. Selain Nikita dan Timur, ada si gondrong Levan dan si bocah Yahudi, Dima. Catatan: Di negara-negara berbahasa Rusia, Nikita adalah nama laki-laki. Di kita, mungkin setara dengan Joko atau Bambang. Jadi, tak perlulah menamai anak perempuan Anda Nikita, seperti artis mana tuh… 😛

Bareng setan-setan kelas 11. Ki-ka: Dima, saya, Timur, Levan, dan Nikita.

Bareng setan-setan kelas 11. Ki-ka: Dima, saya, Timur, Levan, dan Nikita.

Anak perempuan di kelas ini semua namanya berakhiran “a”: Kristina, Maria, Xenia, Alina, Regina, Victoria, dan Anastasia. Wajahnya sih cantik-cantik khas perempuan Slavia, tapi judesnyaaa…mana tahan! Angkuh, sok cool, dan keras kepala. Belakangan, kata Oleg, anak-anak perempuan ini juga sering bikin kesal Jeffrey, guru sebelum saya yang asal Kanada. Menolak belajar, sibuk dengan make-up di kelas, dan macam-macam lagi.

Ini Nirvana. Oke, Levan sama Nikita emang gak gitu mirip Kurt sama Krist. :P

Ini Nirvana. Oke, Levan sama Nikita emang gak gitu mirip Kurt sama Krist. 😛

Dua cowok, Levan dan Nikita, mengingatkan saya pada si kembar George dan Fred Weasley di serial Harry Potter, yang usil namun cerdas. Drama “berdarah” di atas tadi cuma salah satunya. Mereka juga selalu punya “mainan” yang aneh-aneh. Walaupun kelakuan Levan dan Nikita mirip si kembar Weasley, wajah mereka, sekilas–kalau dilihat dari mobil ngebut–malah mirip Kurt Cobain dan Krist Novoselic, dua personel band Nirvana. Lengkap dengan rambut gondrong mereka. Bedanya, ini Kurt dan Krist versi unyu, belum ada jenggotnya….hehehe! 😛

Kelas 11 termasuk kelas yang tak mudah saya taklukkan. Anak-anak cowoknya nggak masalah buat saya. Walaupun jahil setengah mampus, mereka masih mau diajak ce-esan sama saya, asalkan saya sesekali mau diajak gila-gilaan.

Pernah, suatu hari, mereka masuk ke ruangan saya sambil membawa sepucuk pistol. “Eh, apa-apaan ini?” protes saya sambil berdiri. Saya kira mereka mau menembak saya, seperti ulah beberapa psikopat yang memberondong anak-anak sekolah di Amerika dengan senjata api.

“Hei, hei….tenang, Indra. Ini pistol mainan, kok!” kata Levan cengengesan. Nikita menutup pintu. Mainan, katanya, tapi dilihat lama-lama pun benda itu tidak terlihat seperti mainan.

“Kami mau ngetes pistol ini di sini…boleh, ya?” kata Timur. Dima si bocah Yahudi cuma cengar-cengir melihat kelakuan teman-temannya. Bocah ini termasuk pendiam dan kalem, jarang usil seperti ketiga temannya. Tapi, seperti jamaknya orang Yahudi, anak ini cerdas. Bahasa Inggrisnya fasih dan konon dia jawara matematika satu sekolahan ini.

“Pistol apa, sih?” saya malah penasaran. Ndilalah, saya kok malah ikut-ikutan setan-setan ini.

Keempat bocah usil-tengil itu mendemonstrasikan caranya. Pistol itu punya peluru logam yang sangat kecil—jauh lebih kecil daripada kelereng, sehingga ketahuan itu memang mainan. Tapi begitu ditembakkan dari jarak dua meter ke sasaran—misalnya kamus Oxford milik Timur, peluru itu mampu melesak hingga satu senti ke dalam buku tebal itu. Saya bahkan dipersilakan mencoba menembak satu kali—dengan tangan gemetaran dan pundak dipegangi dua orang. Sebenarnya sih, asyik juga. Tapi karena ini masih dalam lingkungan sekolah, saya segera menyudahi acara “latihan menembak” itu.

“Jangan laporin ke Oleg, ya. Kalau sampai kepala sekolah tahu, kau dan kami bisa dikeluarkan dari sekolah,” kata Levan sok polos.

“Lain kali, jangan bawa benda itu lagi ke sekolah. Kalau aku dikeluarkan, aku cuma disuruh pulang ke rumah. Tapi, kalian bisa di-DO dan habislah pendidikan kalian,” kata saya tegas. Mereka tampaknya paham konsekuensinya dan cuma bisa manggut-manggut.

Kata Nikita, di luaran, mereka kadang mencari lapangan kosong dan “berlatih” menembak dengan target kaleng kosong atau botol bekas bir dan vodka.

Sebenarnya, saya menanggapi soal itu dengan ringan saja. Jelas terlihat, mereka hanya anak-anak usil yang gemar bermain-main dalam segala situasi. Dengan sekali gertak, mereka sudah bisa membayangkan akibatnya. Toh, di sini juga nggak ada yang namanya tawuran pelajar seperti hobinya anak sekolah Jakarta. Gawat betul kalau tawuran sambil bawa-bawa pistol “mainan” itu!

Dan memang, di hari-hari berikutnya mereka tidak pernah lagi membawa-bawa “mainan” itu.

***

Setelah hampir dua bulan mengajar, saya mendapat jatah libur di akhir Maret. Saya langsung menelepon Nastya untuk memastikan saya nggak bengong saat ada jatah libur seminggu. Mengajar itu aktivitas yang melelahkan. Apalagi menghadapi kelas-kelas war zone yang bikin stres itu. Saya butuh liburan!

“Kau mau ke mana liburan ini?” tanya Nastya di telepon Jumat malam itu.

“KIEV!” kata saya mantap.

“Oke. Aku nanti bilang ke anak-anak Kiev ya. Biasanya mereka bisa menampung tamu dari luar, atau minimal mengajakmu jalan-jalan keliling kota.”

“Asyiiiik!! Thanks, Nastya!” saya bersorak kegirangan. Besoknya, Sabtu, selepas mengajar di Big Ben, saya minta diantar Olya ke stasiun untuk beli tiket kereta ke Kiev. Rasanya lega sekali saat malam itu hang out bareng teman-teman sambil makan di kafe dan membayangkan backpacking ke ibukota Ukraina, Kiev.[]

Balada Ukraina #11

Berandal-berandal kelas 8. Saya malah kalah gede!  Ki-ka: Stanislav, Vova, Vova, Marko.

Berandal-berandal kelas 8. Saya malah kalah gede! Ki-ka: Stanislav, Vova, saya,Vova, Marko.

Setiap pekerjaan pasti mempunyai level atau zona stresnya sendiri-sendiri. Dalam kasus saya adalah mengajar kelas-kelas yang anak-anaknya sulit diatur. Anak-anak yang super bandel dan usil. Sungguh bikin stres dan melelahkan.

Saya menjuluki kelas-kelas ini sebagai “war zone”—julukan yang belakangan diamini juga oleh Oleg, guru bahasa Inggris lokal. Dari 11 kelas yang harus saya isi, tiga di antaranya termasuk kategori berbahaya: kelas 7,8, dan 11. Seharusnya ada travel warning agar hati-hati waktu masuk ke kelas-kelas tadi. Kalau sedang apes, dalam satu hari saya harus menghadapi semua war zone itu sekaligus. Istilah war zone ini rasanya tidak berlebihan. Contohnya, pada suatu pagi, ketika saya harus mengajar kelas 8 di jam pelajaran pertama, jam 9 pagi.

Begitu membuka pintu, seisi kelas tampak berantakan seperti baru dibom, sementara penghuninya sedang sibuk “bertempur”. Lompat dan lari-lari di atas meja dan kursi, lempar-lemparan kapur dan bola sepak, kadang yang laki-laki bergulat dan ber-smack down ria di karpet sambil berteriak-teriak heboh. Padahal kelas 8 cuma berisi tujuh murid, lima laki-laki dan dua perempuan. Tapi soal kelakuan sih sama saja. Yang perempuan juga ikut-ikutan bikin rusuh.

Melihat saya masuk, mereka cuma menyapa, “Hi, Indra!” sambil tersenyum, lalu senyum tadi berubah jadi ganas saat mereka meneruskan kerusuhan. Semua kelas di EG rata-rata luas, dengan lemari atau rak berisi barang-barang sesuai kebutuhan masing-masing kelas. Semakin kecil angka kelasnya, biasanya di rak-rak itu semakin banyak mainan. Dan mainan-mainan itulah yang kini sedang beterbangan di angkasa kelas 8. Untunglah mereka tidak melempar kursi atau yang sebesar itu. Lucunya, saat teman-temannya asyik merusuh, ada satu anak yang tampak anteng bermain PSP (PlayStation Portable) di pojokan. Sesekali dia hanya balas melempar balik benda apa pun yang mampir ke arahnya.

Butuh beberapa menit untuk melenyapkan kerusuhan itu. Tentu saja tanpa gas air mata, apalagi pentungan. Cukup dengan menunjukkan wibawa. Saat kerusuhan mereda, barulah saya bisa “mengajar”. Perkenalkan, setan-setan kecil ini bernama Yuri, Marko, Stanislav, Vova, dan Vova. Ya, ada dua Vova. Di negara-negara eks Soviet, nama Vova ini biasanya singkatan dari nama Vladimir, Volodymyr, Volodnya, atau Volodka. Dua cewek di kelas ini bernama Anna. Ya, dua-duanya Anna. Yang satu Yatsenko Anna, satu lagi Klimenko Anna. Tapi dua-duanya hanya mau dipanggil Anna. Jadi, sekali panggil akan datang dua Anna, yang satu gendut dan satu lagi kurus. Tinggal pilih. 😛

Mengajak setan-setan ini untuk belajar “serius” biasanya susah sekali. Mereka baru bisa diajak “belajar” kalau sambil bermain. Kalau saya sudah putus asa, satu-satunya jalan adalah melapor ke Oleg. Begitu guru bahasa Inggris itu datang, pelan-pelan setan-setan kecil ini berubah jadi malaikat. Mereka mau duduk manis dan mengerjakan tugas atau apalah. Jauh lebih cepat ketimbang kalau saya yang menyuruh-nyuruh mereka.

Kalaupun mereka tenang, itu biasanya karena “jasa” PSP yang mereka mainkan di kelas. Maklum, anak-anak orang kaya. Kayaknya kok tiap anak punya banyak gadget. Selain PSP, tentu saja mereka punya smartphone. Waktu itu komputer tablet bisa dibilang belum ada, alias tak semassal sekarang. Kadang saya hanya bisa memandang sedih ke ponsel Samsung butut saya. Laptop pun tak punya.

***

Sehabis sarapan di kantin, jam pelajaran berikutnya adalah … oh, no. Another war zone: Grade 7. Sambil berjalan menuju kelas 7, saya mengingat-ingat awal pertemuan saya dengan mereka. Delapan anak yang manis-manis: tiga perempuan dan lima laki-laki. Yang laki-laki bernama Sergey, Rostislav, Artem, Kyryl, dan Vlad. Sementara yang cewek adalah Nastya, Yulia, dan Yuliya. Yah, dua terakhir sebenarnya sama saja, kalau dipanggil ya dua-duanya nengok. 😛

Saat itu, saya ingat benar, masih kelas perkenalan. Sejak awal, saya menerapkan “kebijakan” untuk tidak kaku mengajar. Kalau Oleg mengajar seperti umumnya di kelas, yaitu murid-murid duduk manis di kursi, saya lebih suka membebaskan mereka duduk di sofa atau karpet. Beberapa pertemuan awal masih di bawah pengawasan Oleg, jadi mungkin mereka masih sungkan untuk berulah di depan saya, si guru asing dari negeri nun jauh di timur sana. 🙂 Setidaknya, mereka tampak antusias dan kooperatif waktu diajak ngobrol. Bahkan ada yang malu-malu segala. Wah, manis sekali anak-anak ini! 😛

Duo perusuh dari kelas 7: Artem dan Sergey.

Duo perusuh dari kelas 7: Artem dan Sergey.

Tapi yang namanya setan memang bermuka dua. Setelah saya dilepas mengajar sendiri, pelan-pelan mereka mulai menunjukkan ke-setan-an mereka. Kelakuan mereka tak beda dengan kelas 8. Nggak cowok nggak cewek, pokoknya rusuh. Soal lompat-lompat meja dan kursi itu biasa. Mereka pikir lagi latihan parkour, mungkin. Menghadapi kelas 7 harus dengan bermain, sama seperti kelas 8.

Dilemanya: anak-anak ini cerdas semua. Hampir semuanya sudah cas-cis-cus berbahasa Inggris. Tergolong bagus untuk anak seumuran mereka. Dikasih kerjaan macam apa juga mereka bisa, walau porsi usilnya lebih banyak dibanding belajarnya.

Yang paling cerdas bernama Artem. Sementara itu, yang paling sering di-bully adalah Rostislav. Bocah gendut ini sering tampak pasrah dikerjai Vlad yang sok ganteng dan Sergey yang hiperaktif.

Sialnya, setelah hampir dua bulan mengajar, tampaknya mereka mengalihkan target dari Rosti, panggilan anak ini, ke saya…hehehe! Bahkan Rosti pun malah jadi bocah jahil setelah saya mengajar.

Sebenarnya bukan cuma saya yang stres menghadapi mereka, Oleg pun sama. Mungkin karena saya terlalu sering mengeluh soal anak-anak kelas 7, pada suatu hari Oleg memisahkan kelas itu jadi dua kelompok. Empat bersama saya, sisanya dia yang menangani. Tapi yang namanya setan, walau jumlahnya sedikit, tidak berarti mereka berhenti berulah. Saya ceritain lagi kapan-kapan yaaa! 🙂

Balada Ukraina #10

Sama anak-anak kelas 1 yang imut. Di sebelah saya itu Oleg, guru bahasa Inggris lokal.

Sama anak-anak kelas 1 yang imut. Di sebelah saya itu Oleg, guru bahasa Inggris lokal.

“Mr. Indraaaaa!”

Ah, saya selalu suka anak-anak kelas 6 ini. Sejauh ini mereka anak-anak paling sopan di EG. Kalau cuma pintar, hampir semua murid saya di sini pintar. Satu lagi: hanya anak-anak kelas 6 yang memanggil saya dengan kata “Mister”. 🙂 Yang lain cukup memanggil saya dengan nama.

Pagi itu kebetulan kelas 6 menjadi kelas giliran pertama saya. Punya murid seperti mereka asyik juga. Begitu saya masuk, anak-anak yang masih bermain atau berlarian langsung duduk. Ada 9 anak di kelas 6; empat perempuan dan sisanya laki-laki. Anak-anak ini sangat patuh dan hampir selalu antusias terhadap apa pun yang saya minta kerjakan.

Hampir setiap hari saya selalu mengajak mereka bermain game. Saya juga tidak pernah bergaya kaku. Pernah saya minta mereka semua duduk santai di sofa dan di karpet, sambil main game tentang meneruskan kalimat dari satu teman ke teman yang lain. Satu anak hanya boleh mengucapkan satu kata dalam bahasa Inggris. Anak yang mendapatkan giliran harus meneruskan kata itu dengan pilihan kata apa pun, asalkan logis dan nggak saru. 🙂 Saya bertugas menulis kata-kata mereka di papan tulis supaya mereka tidak lupa. Saya jugalah yang berhak mengatakan “period!” kalau kalimatnya sudah terlalu panjang.

Dengan main-main seperti itu, tak terasa 40 menit (satu jam pelajaran) cepat selesai. Sehabis mengajar, kalau jam pelajaran berikutnya masih lama, saya biasanya menyepi di ruang guru bahasa Inggris atau melipir ke kantin untuk sarapan. Biasanya saya sarapan justru menjelang siang, sekitar jam 10 atau 11.

Menu di kantin memang jauh dari konsep “pesta kolesterol”. Hampir semuanya makanan serba rebus dan kukus, hanya kadang-kadang saja ada yang digoreng. Coba lihat: kentang lumat (mashed potato), salad, bubur, makaroni (besar), ayam rebus, daging sapi rebus, sayur, sup, telur rebus, roti, sosis (rebus), atau kadang nugget dan nasi warna cokelat yang rasanya agak aneh.

Masih untung ada saos tomat untuk sedikit menambah rasa. Orang Ukraina jarang menaburi masakan mereka dengan garam dan merica. Kalaupun iya, biasanya sedikiit sekali. Minumnya: teh, jus buah, dan air.  Saya selalu mengusahakan makan lagi sorenya, supaya malam tak perlu jajan atau tinggal makan buah saja. Ini bukan sok hidup sehat. Lebih tepatnya: terpaksa. 🙂 Jajajan kaki lima di sini paling cuma shaurma. Makan di resto mahal. Lagi pula, kalau ke resto agak repot kalau nggak bareng teman. Saya kan nggak tahu itu makanan apa. 🙂 Tambahan lagi, semua tulisan di negara ini 90% lebih pakai huruf Cyrillic. Saya bisa bacanya, tapi belum tentu ngerti…hehehe!

Kelas lain yang juga imut adalah anak-anak kelas 1. Oke, sebenarnya anak-anak di sini hampir semuanya imut. Tapi anak-anak kecil ini sungguh menggemaskan. Saat belum akrab, mereka tampak malu-malu kucing. Ketika sudah semakin sering bertemu saya, mereka  mulai berani menegur. “Hello, Indra! How are you?” begitu mereka biasanya menyapa saya. Anak yang pemalu biasanya cuma bisik-bisik sambil melirik-lirik. Tentu saja, kosakata mereka masih sangat terbatas untuk sebuah percakapan sederhana yang lancar. Anak-anak kelas 1-4 masih didampingi guru bahasa Inggris mereka, Tanya. Perempuan jutek itu bertugas menerjemahkan omongan saya dan membantu “permainan” di kelas.

Anak-anak kelas 1 yang jumlahnya 16 orang itu dibagi jadi dua kelompok. Bergantung pada hari mengajar, satu kelompok berisi delapan anak digiring ke ruangan saya, dan kelompok satunya lagi main di kelas. Kadang keenam belas anak itu juga disatukan di kelas mereka yang luas dan tugas saya hanya mengajak mereka bermain. Walau sejujurnya, saya paling kagok saat harus mengajar kelas 1. Saya tidak berpengalaman mengajar anak-anak sekecil ini…..hehehe! 😛

Ah, lain kali akan saya ceritakan lebih banyak soal anak-anak ini. 🙂

***

DSCN2983

Onggokan salju. Seperti tumpahan es serut.

Sore itu, sepulang mengajar, saya berjalan sendirian ke halte trem. Seperti biasa, suhu udara sangat dingin. Walaupun belakangan suhu “menghangat”, dari minus naik ke 0-5 derajat, saya tetap memakai jaket tebal sambil menunduk dan tangan masuk ke saku. Maklum, kadang embusan angin bikin badan menggigil. Sesekali saya menepuk-nepuk lengan jaket yang dijatuhi debu mirip kapas atau apa pun itu yang jatuh mengotori jaket biru tua saya. Tapi kotoran itu datang lagi dan lagi. Eh, ini bukan debu! Bukan kapas! Ini … Saya mendongak. Ini salju!

Saya sering melihat onggokan salju di jalanan-jalanan kota ini. Tapi baru sekarang saya melihat hujan salju secara langsung. Saya berhenti berjalan, tengok kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah. Tidak ada orang! Horeeee! Sambil menengadah, saya mengangkat kedua tangan. Mirip pose orang berdoa, padahal saya sedang girang bukan main karena dihujani salju.

Awalnya, benda putih itu turun seperti sedikit-sedikit, seperti kapas yang dirobek-robek dan ditumpahkan dari langit. Begitu jatuh menimpai jaket, “kapas” itu langsung membasah. Seperti mencair. Betul-betul seperti es serut! Makin lama, salju semakin lebat.  Hujan salju makin sempurna. Duh, indah sekali! Saya sampai terbengong-bengong.

Salju turun hanya sekitar setengah jam waktu itu. Tapi saya cukup puas menikmatinya. Begitu trem no. 1 tiba, saya langsung melompat naik. Sore itu saya harus pulang sebentar ke apartemen untuk sholat dan ngaso barang sejenak. Malamnya saya harus mengajar di Big Ben.

Begitulah. Karena mata duitan, saya harus bekerja dari jam 9 pagi sampai 9 malam. Nine to nine. Tapi, saya tahu saya akan mendapatkan pengalaman berbeda karena mengajar di dua tempat yang berbeda tipe: sekolah swasta dan tempat kursus. It’s not all about the money.[]

Balada Ukraina #9

Sebuah sudut di pusat kota Dnipro.

Sebuah sudut di pusat kota Dnipro.

Suatu malam di akhir Februari yang dingin, Nastya menelepon saya. “I have good news for you!” katanya riang. “Kau mau tambahan uang saku?” Rupanya, ada sebuah lembaga kursus bahasa Inggris yang mencari orang asing untuk mengisi kelas percakapan (conversation). Mengajar tiga kali seminggu pada sore atau malam hari, termasuk Sabtu, durasi 1-2 jam, dengan honor $250 sebulan. Hah, jelas saya mau dong! *mata duitan* 😛 Gadis itu lalu bilang akan menjemput saya besok dan membawa saya ke tempat kursus itu. “Siap-siap diwawancara, ya!” Nastya mewanti-wanti.

Sebenarnya ini adalah bagian dari proyek English Marathon yang digagas AIESEC Dnipropetrovsk. Idenya, mencari rekanan entah sekolah atau tempat kursus bahasa untuk menampung magang kerja anggota AIESEC dan anak-anak muda yang bergabung dengan internship AIESEC. Selain magang kerja sebagai pengajar, si trainee ini nantinya juga dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan organisasi, juga untuk menambah international atmosphere para anggotanya. Saat itu, hanya sayalah trainee dari luar negeri yang ada di Dnipropetrovsk.

Besok malamnya, Nastya menjemput saya di apartemen dengan sedan birunya. Ada seorang wanita di kursi penumpang di sebelahnya yang ternyata ibunya. Ia menyapa saya ramah—sayang tak bisa berbahasa Inggris, lalu menyodorkan sebuah kantong plastik. “Kupinjamkan kau sepatu bot. Mudah-mudahan ukurannya pas. Kudengar kau jatuh terpeleset beberapa hari lalu,” kata Nastya sambil tertawa meledek. Ya, di jalanan yang masih berselimut salju atau es yang mencair menjelang musim semi, sepatu kets justru membuat pemakainya mudah terpeleset. “Sepatunya langsung dipakai, ya!”

Nastya tancap gas dan melaju kencang ke sebuah jalan lebar bernama Titova. Cewek satu ini tampaknya doyan ngebut. Suka film Fast & Furious kayaknya. Jl. Titova malam itu agak remang, lampu jalan banyak yang mati. Jalan besar ini dibelah taman yang memanjang dari ujung ke ujung, padahal panjangnya mungkin 1,5 kilometer lebih. Sesekali sepertinya mobil Nastya bergetar saat melewati lubang-lubang. Tapi belum separah jalanan di  Bandung sih.

Malam hari di Dnipro, dilihat dari Pulau Monastirstky.

Suasana malam di Dnipro, dilihat dari Pulau Monastirsky.

Nastya berbelok ke kanan, ke belakang sebuah gedung apartemen. Buset, gelap banget di sini! “Yuk, ikut aku,” kata Nastya. Ibunya menunggu di mobil. Sekarang jelas kenapa Nastya meminta saya langsung memakai sepatu bot. Begitu turun dari mobil, kolam lumpur langsung menyambut. Sisa-sisa salju yang mulai mencair membuat tanah jadi becek dan mirip kubangan kebo. Masih ditambah dengan keadaan sekitar yang nyaris gelap gulita.

Kami berjalan ke sebuah bangunan berlantai dua. Begitu pintu dibuka, keadaannya berubah total dibandingkan dengan di luar. Di tembok luar di sebelah pintu, ada tulisan Big Ben School of English. Di balik pintu pertama ternyata hanya sebuah ruang kecil tempat kita harus membersihkan sepatu yang bawahnya berlumpur. Di balik pintu kedua, meja resepsionis dan dua ruangan yang terang dan hangat. Plus satu toilet kering dan bersih. Saya sempat takjub melihat tempat kursus yang sebenarnya bisa dibilang sempit ini. Sepertinya kantor Big Ben hanya mengambil tempat di sebuah apartemen, kemudian dua ruangan terbesar di situ difungsikan sebagai ruang kelas. Ruang direkturnya malah berada di belakang salah satu ruang kelas, sehingga kalau sang direktur lewat atau ada orang yang mau ke ruangan direktur, dia harus masuk ke kelas dulu dan menuju ke belakang.

Saya diajak menemui dua orang wanita paruh baya. Natalia Tarasova dan Svetlana Mykhajlivna. Yang pertama adalah kepala pengajaran sekaligus guru bahasa Inggris di Big Ben, yang kedua adalah direktur Big Ben sekaligus pemiliknya. Mereka berdua telah berkongsi mendirikan tempat kursus bahasa ini sejak tiga tahun sebelumnya. Malam itu saya ceritanya akan diwawancara oleh mereka, terutama oleh Natalia yang bahasa Inggrisnya cukup bagus dan jelas untuk ukuran orang Ukraina, dibandingkan Svetlana yang masih terbata-bata. Mungkin karena Natalia pernah tinggal di Amerika, begitu ceritanya belakangan.

Wawancaranya berlangsung santai. Natalia hanya mengajak ngobrol, menanyakan banyak hal tentang saya, tentang Indonesia, dan sebagainya. Di negara yang bukan English speaking country ini, jelas saya sangat pe-de bicara. Aksen Amerika dicampur sedikit aksen Inggris saya berhasil meyakinkan mereka. Setidaknya Natalia tampak puas. Gaya bicara Natalia tegas, dia tipe orang yang cukup sering memotong pembicaraan. Perempuan itu nyaris melakukan penekanan pada setiap kata yang diucapkan dan itu membuat saya berpikir dia adalah perempuan yang kolot, keras, dan disiplin. Walau Inggrisnya lancar, aksen Ukraina/Rusia yang berat makin menambah kesan itu. Sementara, Svetlana lebih kalem dan banyak tersenyum.

 Malam itu juga saya resmi dikontrak menjadi pengajar bahasa Inggris di Big Ben, dan mulai mengajar minggu depannya. Everybody’s happy. Big Ben senang karena setelah beberapa lama akhirnya mereka memiliki pengajar asing lagi. Nastya senang telah berhasil memasukkan saya sebagai pengajar demi melancarkan program English Marathon-nya, dan saya senang karena bisa menimbun dolar untuk ditabung atau beli rumah kelak….hehehe![]