Tag Archives: avenue of stars

Nongkrong di Hong Kong #8

Kolam di Kowloon Park. Beberapa orang tua sedang berlatih kungfu dengan pedang.

Kolam di Kowloon Park. Beberapa orang tua sedang berlatih kungfu dengan pedang.

Hari terakhir di Hong Kong. Rencananya, hari ini temanya taman. Taman kota adalah salah satu tempat yang wajib saya kunjungi saat sedang jalan-jalan ke mana pun. Bukan cuma karena saya suka taman kota, tapi juga karena…gratis! Hahaha! Yah, sejak awal udah bisa diprediksikan sih bakalan bokek pada hari-hari terakhir. 🙂

Dekat hostel tempat saya menginap, sebenarnya ada taman kota yang cukup bagus. Namanya Kowloon Park. Lokasinya persis di belakang Masjid Kowloon, hanya beberapa puluh meter dari gedung Mirador Mansion. Pagi itu, masih sekitar jam 8, saya sudah jalan ke taman. Sepagi itu, Kowloon Park tidak bisa dibilang sepi. Pemandangan yang agak mencolok adalah kebanyakan pengunjung taman pagi itu adalah orang-orang tua.

"Buang sampah di sini ya, cu!"

“Buang sampah di sini ya, cu!”

Macam-macam kegiatan mereka. Ada yang sekadar jogging, senam, jalan kaki, tai chi, bahkan ada yang sedang latihan kungfu menggunakan pedang (!). Ada juga seorang nenek yang sedang bermain dengan cucunya, mengajarkan cara buang sampah di tempat sampah, walau dia gagal mengajari cucunya cara memakai celana dalam dengan benar…hehehe! 😀

Di Hong Kong, pemandangan orang-orang tua atau manula yang asyik berolahraga di taman-taman kota atau di area publik lainnya adalah pemandangan biasa. Mereka masih tampak sehat dan bugar. Menurut saya, salah satu faktornya ada hubungannya dengan transportasi publik yang bagus dan terintegrasi.

Transportasi publik di sini “memaksa” warga untuk banyak berjalan kaki. Stasiun MTR di bawah tanah memadukan tangga dan elevator. Bus kota dan minibus juga hanya berhenti di halte yang ditentukan. Jadi belum tentu kita bisa berhenti persis di depan tujuan kayak naik angkot sehingga harus berjalan lagi. Dalam sehari, dijamin kita akan berjalan kaki ribuan langkah. Lebih banyak daripada yang disarankan oleh ahli kesehatan. Bisa jadi karena itulah para manula di sini banyak yang masih tampak bugar walau rambut sudah memutih dan kulit makin peyot.

Puas muter-muter di Kowloon Park, kami turun ke stasiun MTR yang letaknya di bawah taman itu. Saya pernah baca tentang sebuah taman yang konon cakep banget. Namanya Nan Lian Garden. Taman ini paling gampang dicapai menggunakan MTR. Turun di stasiun Diamond Hill, dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 150 meter, kita akan dengan mudah melihat petunjuk jalan menuju Nan Lian.

Nan Lian Garden.

Nan Lian Garden.

Taman kota ini didesain dengan gaya arsitektur Dinasti Tang (Cina). Ada kolam besar dan air terjun buatan, dengan ikan koi besar-besar di kolamnya. Taman ini juga mempunyai koleksi tanaman bonsai dan batu-batu alam berbentuk aneh-aneh yang konon dikumpulkan dari seluruh penjuru daratan Cina.

Kolam berhiasan bunga teratai di halaman biara.

Kolam berhiasan bunga teratai di halaman biara.

Itu saja? Tunggu dulu. Nan Lian Garden ternyata bersambung dengan Biara Chi Lin (Chi Lin Nunnery). Kita cukup melintasi jembatan penyeberangan yang khusus menyatukan taman ini dengan area biara.

Kompleks biara khusus biksuni tersebut dibangun tahun 1930-an. Konon konstruksinya didesain sedemikian rupa agar bangunan kayunya bertahan ribuan tahun.

Selain itu, bangunan kayunya disambung-sambung tanpa menggunakan paku satu pun (!). Di halaman biara, terdapat beberapa kolam dengan bunga-bunga teratai (lotus) mengambang di permukaan air.

Di kanan-kiri, terdapat beberapa ruangan berisi patung beberapa dewa. Sayang, dilarang memotret di area ini.

Chi Lin Nunnery di tengah kepungan hutan beton.

Chi Lin Nunnery di tengah kepungan hutan beton.

Saat itu, tampaknya hanya kami yang tidak bermata sipit di kompleks Buddhis itu. Turis bule pun tidak ada. Apakah tempat ini tak begitu dikenal turis yang datang ke Hong Kong? Selain turis Cina, ada beberapa warga lokal yang sedang bersembahyang.

Beberapa biarawati berjalan mondar-mandir dengan tenang sambil merapalkan doa atau membawa buah dan beras sebagai persembahan kepada dewa-dewi. Suasana kompleks Buddha ini terasa menenangkan dan menyejukkan hati. Sesejuk suhu Hong Kong di pagi yang cerah itu—sekitar 25° Celcius.

Golden Pagoda di Nan Lian Garden, Hong Kong.

Golden Pagoda di Nan Lian Garden.

Sungguh menakjubkan melihat atmosfer modern dan tradisional berpadu dalam harmoni. Seperti terlihat dalam foto di atas—pagoda berselimut warna emas dan merah, ditemani gedung-gedung pencakar langit dan perbukitan hijau nun di belakang sana.

Saat itu sudah lewat tengah hari. Buat makan siang, kami langsung melompat lagi ke MTR dan menuju Central. Dari situ kami memilih naik trem ke Wan Chai. Soalnya saya suka duduk di dek atas, people-watching sepanjang jalan, dibelai angin sepoi-sepoi, terus siapa tahu ketiduran kan….hehe!

Nasi goreng dan dimsum di kantin Masjid Ammar.

Nasi goreng dan dimsum di kantin Masjid Ammar.

Turun di halte, kami berjalan kaki sedikit ke Masjid Ammar. Sholat dzuhur dan makan siang di kantinnya di lantai 5. Menunya jelas: dimsum. Habis, dimsum di sini uenak banget, halal, dan harganya cukup murah.

Kenyang makan dimsum sekian porsi dan nasi goreng, kami pulang dulu sebentar ke hostel. Ngepak backpack, suvenir kecil-kecil, baju kotor. Biar nanti malam kami nggak perlu repot lagi.

Suasana sore di Avenu of Stars, TST.

Suasana sore di Avenue of Stars, TST.

Menjelang sore, kami jalan-jalan lagi. Tapi kali ini nggak jauh-jauh. Soalnya, saya ada janji sama seorang warga Hong Kong kenalan saya. Sore itu, selain menikmati suasana di sepanjang, saya sebenarnya mengincar foto sunset di Hong Kong.

Sunset di HK. Foto diambil dari area Avenue of the Stars, TST.

Sunset di HK. Foto diambil dari area Avenue of Stars, TST.

Kawasan TST Promenade dan Avenue of Stars sore itu agak ramai. Para turis sibuk berfoto-foto dengan latar belakang Pulau Hong Kong di seberang dan patung-patung serta cetakan tangan para bintang film Mandarin di sepanjang area itu. Bahkan hanya duduk-duduk atau jalan santai di area ini saja sebenarnya sudah sangat menyenangkan. Apalagi sambil memandangi matahari terbenam.

Beberapa saat kemudian, ada SMS dari kenalan saya tadi. Meminta saya menunggu sebentar karena dia baru balik dari tempat kerjanya. Saya ceritain dulu sedikit soal ini.

Bareng Riz Farooqi.

Bareng Riz Farooqi.

Saya pertama kali main ke Hong Kong tahun 2002. Waktu itu, sebelum berangkat, saya iseng mencari komunitas hardcore di Hong Kong. Awalnya sih cuma iseng aja cari kenalan, tapi kok yang ketemu di Google malah situs-situs porno hardcore….hahaha! 😀

Maksud saya tuh cari band atau komunitas penggemar musik hardcore. Akhirnya nemu band yang namanya King Ly Chee. Lagunya keras, liriknya sangar, penuh kritik sosial dan pesan-pesan positif. Tak berapa lama, seorang personelnya yang bernama Riz Farooqi membalas e-mail saya. Dia bilang oke-oke aja kalau mau ketemu pas saya di Hong Kong.

Singkat cerita, waktu berada di Hong Kong saat itu, beberapa personel King Ly Chee menelepon saya. Bahkan Kevin, drummer-nya, cuma menelepon saya sekadar bilang welcome dan see you tonight. Malam itu saya bertemu dengan Riz, vokalis dan gitaris King Ly Chee, di sebuah stasiun MTR. Seorang pria botak berbadan gempal dan tingginya sepantaran saya mendekat. Mengamati saya dari kepala sampai kaki.

“Glasses, brown skin, black daypack, red shoes. Ah, you must be Indra!” katanya sambil menyorongkan tangannya, bersalaman. Riz lalu mengajak saya berjalan beberapa blok, tempat tiga personel lainnya sudah menunggu kami. Andy, Alex, dan Kevin. Semuanya orang Hong Kong dan bicara dua bahasa, Inggris dan Kanton. Badan mereka jangkung, lengan dan betis penuh tato. Tapi saya tak bisa menafikan kehangatan dan keramahan mereka. Di mobil Andy, dalam perjalanan ke studio mereka, Alex—pemain bas King Ly Chee yang rambutnya rada nge-punk dan dicat pirang—menawarkan makanannya. Saya menolak dengan sopan.

Why, Indra? Kau tak suka makanannya? Aku tidak heran. Sayur doang begitu mana enak,” Riz nyeletuk. Kami semobil ketawa terbahak-bahak. Belakangan saya baru tahu bahwa Alex—dan Kevin—adalah vegetarian. Wow, sangar begini tapi vegetarian. Keempat personel band ini pun ternyata tak ada yang merokok atau minum alkohol. Mereka menganut paham straight edge—sebuah subkultur dalam komunitas musik punk dan hardcore yang pengikutnya menolak menggunakan narkoba, merokok, dan kalau perlu menolak makan daging.

KLC dalam sebuah konser. Tentu ini formasi terbaru.

KLC dalam sebuah konser. Tentu ini formasi terbaru.

Pada malam di bulan Januari 2002 itu, saya diajak menonton mereka nge-jam di studio yang lumayan luas. Instrumennya tampak lumayan berkelas. Sound-nya juga bagus.

Sesekali saya juga dibolehkan ikut main drum walau permainan saya agak payah…hehe! Mereka juga menanyakan saya mau lagu apa. Saya pun merekam aksi mereka dengan handycam. Di akhir lagu, Riz berteriak, “Thank you, Jakartaaa!!” Hahaha! Macam lagi konser aja! 😀

Selesai latihan, lebih dari tiga jam kemudian, Riz menggoda saya. “Kau pulang naik apa?”

“MTR, mungkin,” jawab saya.

“MTR cuma beroperasi sampai jam satu, dude! Jalan lagi nanti jam 6.”

Saya langsung pucat. Padahal saya juga nggak tahu saat itu sedang berada di daerah mana. Saya melirik jam tangan. Sudah jam setengah satu! Andy langsung menepuk-nepuk pundak saya.

“Tenaaang! Kami akan mengantarmu kok!” Semuanya langsung ketawa melihat saya bernapas lega.

Walau cuma satu kali itu bertemu anggota band formasi lengkap, sesekali saya masih saling sapa dengan mereka di media sosial, terutama dengan Riz. Begitulah.

Petang itu, saat saya dan istri lagi asyik nongkrong di Avenue of Stars, Riz mengirim SMS lagi, meminta saya menunggu di sebuah halte bus tak jauh dari gedung hostel saya. Saya pun segera cabut dan berjalan menuju tempat janjian. Beberapa menit kemudian, Riz tiba dengan sedan birunya. Pria satu ini memang sangat ramah dan murah senyum. Sebelas tahun tak bertemu dan dia masih seperti teman lama.

Yo, Indra! Long time, long time!” katanya sambil tersenyum lebar dan memeluk saya. Saat bicara bahasa Inggris, logat Riz sangat Amerika. Dia memang pernah kuliah di Massachusetts. Riz adalah generasi kedua dari sebuah keluarga Pakistan. Orangtuanya pindah ke Hong Kong untuk mencari pekerjaan yang lebih layak. Riz lahir di Hong Kong dan hanya beberapa kali sempat pulang ke Pakistan, sehingga justru lebih merasa sebagai orang Hong Kong ketimbang Pakistan. Dia pernah bilang ke saya, dia malah tak bisa bahasa Urdu. Lebih fasih bicara bahasa Kanton dan Inggris.

Riz dan Sofia, putrinya, dalam sebuah konser di Cina.

Riz dan Sofia, putrinya, dalam sebuah konser di Cina.

Dia tertawa ketika saya mengomentari penampilannya yang rapi jali, berkemeja lengan panjang. “Aku baru pulang dari sekolah, dude! Ada rapat tadi. Itu makanya aku tampil rapi begini,” katanya sambil cengengesan. Tentu saya tahu kenapa dia memakai kemeja lengan panjang. Lengan dan betis Riz penuh dengan tato sangar. Dia sendiri bekerja sebagai guru TK di sebuah sekolah swasta. Tentu saja tato bukan pemandangan yang sesuai bagi profesi dan lingkungan kerjanya. Riz kini sudah menikah dengan perempuan Hong Kong dan punya balita perempuan bernama Sofia yang cantik dan montok.

Dia permisi sebentar, beranjak ke bagian belakang mobilnya, mengambil sehelai kaos hitam dan sebuah CD. Ya, sebelumnya saya sudah bilang mau beli kaos King Ly Chee dan CD terbarunya yang berjudul Time Will Prove.

Kami lalu meneruskan ngobrol di pinggir jalan sambil berfoto ria. Tentu saya juga tak lupa membayar kaos dan CD tadi seharga HK$ 180. Walau teman, tentu hasil kerja keras seseorang tak layak digratiskan begitu saja. Kecuali atas kemauan orang itu sendiri, pasti.

Kaos dan CD KLC yang saya beli. Lagunya enak-enak! :P

Kaos dan CD KLC yang saya beli. Lagunya enak-enak! 😛

King Ly Chee bukanlah band tenar di Hong Kong. Sebagai band underground, dengan komunitas hardcore yang jumlahnya sedikit di Hong Kong, mereka tak mengandalkan main band sebagai tempat cari duit. Semua personelnya punya kesibukan sendiri-sendiri. Tapi, King Ly Chee yang sekarang sudah ganti personel, kecuali Riz sebagai pentolan dan pendiri.

They always come and go, man. Doesn’t matter. Band ini adalah tempat untuk berekspresi dan menyebarkan pesan-pesan positif, juga mencari teman sebanyak mungkin,” komentar Riz waktu saya tanya. King Ly Chee sering juga tampil dalam konser-konser di negara lain di Asia Timur dan Tenggara, termasuk di Indonesia. Tahun 2007 mereka manggung di Jakarta, menjadi band pembuka NOFX, sebuah band punk legendaris asal AS. Tahun 2012 mereka manggung lagi di Ancol. Sayangnya, saya tidak sempat datang di kedua konser itu. Damn.

Riz tak bisa berlama-lama. Kami mungkin cuma ngobrol 15 menit di trotoar. “Sorry, bro. I have to pick up my wife and daughter. Sayang sekali kau besok pulang. Kalau masih lama, mungkin kita bisa nongkrong atau makan malam di mana, gitu,” katanya.

Tak apalah. Dia kembali menyalami dan memeluk saya. “See you around, dude!” Dan kami berpisah di situ.

Setelah ketemuan sama Riz, malam itu kami masih sempat ngeloyor ke Ladies Market. Tempat ini berada di daerah Mong Kok, tak jauh dari hostel saya. Bisa juga dicapai via Yau Ma Tei. Lagi-lagi, paling gampang ya naik MTR kalau mau ke sana. Di kawasan ini, ada beberapa ruas jalan yang setiap malam ditutup bagi kendaraan, dan kemudian diisi oleh para pedagang kaki lima. Dari penjual makanan, suvenir, guci, pedang, lukisan, kaos, tas, flashdisk, sex toy, hingga peramal tumblek blek di sini. Yang doyan belanja dan jago menawar pasti seneng banget keluyuran di sini.

Saya sendiri beli tas selempang berwarna hijau lumut. Mungkin mirip warna seragam tentara Mao. Dengan bintang merah dan aksara Cina di bawahnya. Entah apa artinya. Yang jelas harganya cuma HK$ 50. Benda lain yang saya beli adalah gantungan kunci (pasti!), flashdisk berbentuk kamera, dan piring hiasan. Saran saya, beli flashdisk di sini buat hiasan aja deh, karena nggak berfungsi sama sekali. Sial! 😦 Bentuknya memang menarik: kamera, boneka Android, tokoh kartun, dan banyak lagi. Sayang saya nggak bisa pasang fotonya di sini, karena file-nya hilang semua di flashdisk abal-abal tadi.

Malam itu kami kembali ke kamar hostel dalam keadaan lelah. Setelah mandi, kami tidur pulas. Jam 4 subuh kami sudah bangun dan bersiap-siap. Jam setengah enam keluar dari hostel. Terpaksa lewat tangga, karena lift belum dinyalakan jam segitu. Di dekat pintu masuk stasiun MTR, saya sempat deg-degan karena banyak orang Afrika yang masih nongkrong di situ. Sebagian tampak mabuk. Untunglah mereka tidak mengganggu.

Kami sempat menunggu beberapa menit karena stasiun MTR masih tutup. Saya sengaja berangkat sepagi mungkin walau pesawat kami terbang jam 10. Supaya ngirit, saya pilih naik bus ke bandara yang durasinya satu jam. Naik kereta bisa saja sih, tapi ongkosnya jauh lebih mahal. Dari Causeway Bay, kami hanya menunggu bus tak sampai 15 menit. Begitu naik, legalah sudah. Genap 9 hari kami main di Hong Kong. Tetap puas walau ada beberapa tempat yang tidak bisa kami kunjungi karena nggak punya duit….hehehe!

Sepanjang jalan menuju bandara. Ini di Tsing Ma Bridge.

Sepanjang jalan menuju bandara. Ini di Tsing Ma Bridge.

Akhirnya tamat juga nulis ini…hahayy! Tetap sehat, tetap semangat, tetap makan banyak, supaya bisa jalan-jalan lagi! [] 🙂

TAMAT

Advertisements

Nongkrong di Hong Kong #2

Di apartemen itu, menjelang tengah malam, Bu A datang lagi membawa dua orang tamu—pegawai Telkom yang sedang dikirim dinas ke Hong Kong. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, barulah saya masuk ke kamar dan tidur pulas sampai pagi. Tapi, sebelum tidur, Pak Soni, salah satu dari mereka memberi tips yang oke punya.

Ceritanya, travel adapter yang saya bawa ternyata tidak berfungsi. Pusing lagilah saya karena nggak bisa nge-charge ponsel dan kamera. Tapi, Pak Soni langsung memberitahu saya. “Mas, coba pakai sendok, garpu, atau apa gitu, buat dicolokkin ke lubang yang atas. Itu fungsinya cuma buat buka doang, listriknya ada di dua lubang yang bawah.” Di Hong Kong memang colokannya tiga lubang gitu.

Pak Soni lalu membawa sumpit yang dia temukan di dapur, dimasukkan ke lubang atas, dan akhirnya dua lubang bawah bisa untuk colokan yang biasa. Berhasil tuh! Hihihi….baru tau! Lumayaan dapet ilmu baru. 😀 Tenang aja, saya nge-charge ponsel sampai pagi nggak ada kebakaran, tuh! 😛 Udah gitu, wi-fi di apartemen Bu A kenceng banget jalannya, jadi narsisme bisa jalan terus. 😀 Tambahan lagi, oleh kenalan saya, malam sebelumnya saya dikasih kartu SIM lokal Hong Kong yang bisa buat telepon ke Indonesia dengan biaya murah banget, kurang dari Rp 1.000 per menit!

Setelah bangun, sholat Subuh, dan mandi, kami beres-beres tas dulu. Rencananya, begitu menemukan penginapan yang rada murah hari ini, kami akan langsung check out dan pindah. HK$ 500 per malam, apalagi bayar tunai, sungguh mengerikan, bro! Pagi itu, setelah sarapan dengan nasi dan lauk yang kemarin diberi oleh kenalan saya, kami berkeliling di kawasan Causeway Bay. Di sini memang berisiko mahal karena daerah pusat kota. Dua penginapan yang kami cari pasang harga HK$ 400 dan HK$480. Masih terlalu mahal, tapi yang terakhir bisa terima kartu kredit, sementara yang pertama nggak ada kamar kosong. Tapi atmosfernya asyik banget kayaknya, ala backpacker gitu.

Lalu, kami cari satu lagi di daerah North Point. Setelah susah payah nyarinya, penampilan hostel itu nggak meyakinkan. Akhirnya saya putuskan cari di daerah Tsim Sha Tsui, Kowloon. Saya sengaja naik bus ke terminal Wan Chai, lalu dilanjut dengan feri dari Victoria Harbour, supaya istri saya bisa melihat pemandangan Hong Kong paling menakjubkan itu saat menyeberangi teluk.

Pemandangan Pulau Hong Kong dari feri yang menyeberang ke Tsim Sha Tsui.

Pemandangan Pulau Hong Kong dari feri yang menyeberang ke Tsim Sha Tsui. Breathtaking! 🙂

Naik feri ini tidak mahal, cuma HK$ 2,3 sekali jalan. Sesampainya di dermaga, kita bisa jalan kaki di sepanjang Tsim Sha Tsui Promenade, yang tempatnya memang didesain untuk pejalan kaki agar bisa melihat ke seberang, ke arah Pulau Hong Kong. kalau kita jalan kaki terus ke arah timur, nanti akan ketemu Avenue of Stars—semacam Walk of Fame di Hollywood. Cuma yang di Hong ini semuanya cetakan tangan para bintang film Mandarin. Sampai di ujung, kita bakal melihat patung Bruce Lee.

Butuh jalan kaki sekitar 20 menit dari dermaga feri ke Mirador Mansion. Ini nama sebuah gedung tua yang di dalamnya ada banyak hostel murah meriah. Biasanya para backpacker selalu ke sini kalau cari penginapan murah. Gedung ini terletak di daerah Tsim Sha Tsui, kawasan yang banyak dihuni warga imigran dari Bangladesh, Pakistan, India, dan bahkan Afrika.

Jangan kaget kalau turis bertampang Asia Tenggara disamperin sama orang-orang yang memberi brosur restoran halal dengan menu masakan Timur Tengah. Sebagian lagi menawarkan hostel-hostel atau guesthouse murah meriah. Sekitar 150 meter dari Mirador Mansion juga ada Kowloon Mosque—masjid terbesar di Hong Kong. Nggak usah takut kena scam di sini, yang penting selalu pakai common sense. Yang namanya waspada dan tenang itu di mana-mana juga perlu.

Gedung Mirador Mansion inilah yang dulu jadi tempat syuting film Chungking Express, bukan di gedung Chungking Mansion di sebelahnya. Lantai dasar gedung-gedung ini biasanya diisi aneka macam toko (biasanya toko elektronik dan suvenir), money changer, dan banyak lagi. Lantai-lantai di atasnya barulah dihuni hostel-hostel murah dan restoran.

Baru juga mau naik lift, ada seorang perempuan berkacamata mendekati saya. “Guesthouse, sir? Cheap, cheap,” katanya. Dia memberikan saya selembar kartu nama. Guesthouse yang dia tawarkan namanya Guangzhou Guesthouse.

Can I see the room first?” tanya saya.

Yes, yes. Follow me.”

Sebenarnya saya sedang mencari hostel lain, rekomendasi beberapa teman saya. Tapi, nggak ada salahnya lirik-lirik hostel lain dulu. Perempuan tadi membawa kami ke lantai 10. Lalu kami masuk ke sebuah lorong yang ada beberapa pintu kamar. Dia membuka salah satunya.

“Ini cuma HK$ 200 per malam,” katanya.

Dan…hah!! Kamarnya luar biasa kecil! Begitu buka pintu, di sebelah kanan langsung ketemu ranjang double. Tapi, di kanan-kiri ranjang itu langsung ada tembok! Saya melirik ke belakang pintu, di situ ada kamar mandi. Tapi…sempitnya sama ajaibnya dengan kamar itu. Pancuran air untuk mandi berada tepat di atas kakus. Jadi, kalau mau mandi kita harus duduk di kakus itu….hehehe! 😀

Yaah, pantesan aja murah. Tapi di ruang begini mana bisa kami bergerak? Lagipula, mereka tidak menerima kartu kredit. Terpaksa saya bilang, “Kami mau lihat yang lain dulu. Kalau oke, nanti saya balik lagi ke sini.” Perempuan itu cuma memasang tampang lemas dan sedih. Hilang sudah persenan dari hasil menggaet tamu ke hostel murmer ini.

Saya langsung menyeret istri saya keluar, sebelum si Mbak tadi nangis….hehehe! 😀 Kami lalu naik lift ke lantai 12. Di bawah tadi, saya sempat mempelajari nama-nama hostel yang ada di gedung ini. Di lantai 12, ada yang namanya Cosmic Guesthouse. Beruntung, walau saat itu baru jam 11.00, resepsionisnya mau memberi kami kamar selama dua hari.

“Saya belum bisa memastikan ada kamar kosong sampai tanggal 24 Oktober. Tapi, Anda boleh pakai kamar ini sampai dua hari ke depan. Setelah itu, kalau ada kamar, Anda mungkin harus pindah kamar,” kata si resepsionis.

“Boleh deh kalau begitu,” saya langsung setuju. Apalagi sebelumnya saya berhasil nawar dari harga HK$400 menjadi HK$300 untuk double room. Dan itu harga per kamar lho, bukan per orang. Soalnya banyak juga hostel di Hong Kong yang pasang tarif per orang. Dan bulan Oktober terhitung peak season di Hong Kong, soalnya cuaca lagi enak banget. Suhu udara antara 23-28° Celcius. Musim typhoon juga udah lewat. Mungkin kalau lagi low season harganya bisa lebih murah lagi. Tapi sebelum bayar saya mau lihat kamarnya dulu, yang kebetulan bersebelahan dengan ruangan resepsionis.

Kamar kami di Cosmic.

Kamar kami di Cosmic.

Ternyata kamarnya lumayan kok, lebih luas dibandingkan dengan kamarnya si Mbak cengeng tadi. Kamar ini juga bersih, ber-AC dan kipas angin, ada TV, dan kamar mandinya juga bersih dan air panasnya lancar. Lagian, 300 dolar itu angka yang lumayan murah untuk ukuran Asia’s World City yang mahal ini. Lagian, ini penginapan keempat (atau kelima) yang saya cari. Capek juga kalau tiap hari urusannya cari penginapan melulu.

Setelah deal, saya membayar dengan kartu kredit. Fiuhhh, akhirnya uang tunai saya selamat! Walau ada charge sebesar 3,5%, tapi bayarnya kan bisa belakangan dan bisa dicicil. Dan setidaknya untuk dua hari ke depan kami aman. Setelah itu, kalaupun terpaksa cari hostel lagi, setidaknya di gedung Mirador Mansion ini saja ada belasan hostel yang bisa dilihat-lihat dulu.

“Oke, terima kasih ya,” kata si resepsionis dalam bahasa Indonesia.

Eh? You speak Indonesian?” tanya saya heran.

“Sedikit. My boss’ wife is an Indonesian-Chinese. Oh ya, walaupun check in sebenarnya jam 13.00, tapi kalian boleh masuk sekarang kalau mau.”

Wah, baik juga orang ini. So, untuk urusan penginapan, kami aman sampai Sabtu. Saya langsung menelepon Bu A untuk memberitahu bahwa saya akan check out hari itu, tapi baru akan mengambil tas sore harinya. Siang sampai sore itu kami blusukan di sekitar Causeway Bay, Times Square, dan sekitarnya. Sambil lihat-lihat ini-itu, siapa tahu ada warung makan yang sukur-sukur halal. Tapi kok jalan-jalannya nyasar jauh banget sampai ke Happy Valley (!). Setahu saya di dekat situ ada arena pacuan kuda, yang biasa disambangi warga Hong Kong buat taruhan. Tapi karena pacuan kuda biasanya dimulai malam hari, saya nggak jadi ke situ. Emang kita cowok apaan, cyin! *aslinya sih takut kalah* 😀

Jam 4 sore, saya sudah balik ke apartemen Bu A, leyeh-leyeh sambil nunggu empunya apartemen buat bayar. Tentunya sambil nge-charge ponsel dan kamera, dan pastinya online dong, mumpung lagi ada wi-fi gratis yang aksesnya kenceng. 🙂 Sejam kemudian, ternyata suaminya Bu A yang nongol duluan. Kalau saya kasih tahu pembaca JOS suaminya ini kerja di mana, bisa heboh nanti. Pasalnya, Bu A ini memang menyewakan apartemennya tanpa izin resmi, jadi yang nyewa kamar-kamarnya hanya orang Indonesia dan itu pun tahunya dari mulut ke mulut aja…hehehe! 🙂

Ya sudahlah. Yang penting, saya sudah selamat dari kemungkinan bangkrut. Sore itu, kami menggendong backpack ke Mirador Mansion. Tapi sebelumnya, kami mampir dulu ke warung kenalan saya itu, ceritanya sekadar mau memberitahu bahwa kami pindah penginapan ke Tsim Sha Tsui, dengan harapan dikasih makan lagi. Dan benar! 🙂 Walaupun masakannya biasa saja, yang penting bisa makan gratisan dulu. Habis itu barulah kami berangkat ke penginapan baru.

Keluar dari gedung tempat warung kenalan saya itu, ada toko plus warung makan bernama Warung Chandra. Iseng-iseng saya masuk, ternyata mereka jual nasi lauk seharga HK$ 15-18 saja! “Kalau siang, makannya masih anget, Mas,” kata si Mbak penjaga warung memberitahu. Selain itu, mereka juga menjual berbagai kebutuhan sehari-hari di situ. Sambal terasi ABC juga ada di sini. Ah, pokoknya akhirnya saya seneng banget bisa nemu makanan murah! Ada sih makanan yang bisa dipanaskan lagi di situ, tapi harganya kisaran HK$ 25-35. Lha, mendingan yang HK$ 15-18 tadi dong! 😛 So, sore itu kami menuju TST dengan sekotak nasi rames.

Malamnya, setelah makan nasi seporsi berdua, kami nonton Symphony of Lights—pertunjukan laser, multimedia, dan permainan cahaya yang melibatkan puluhan gedung, baik di sisi Kowloon maupun Pulau Hong Kong.

Saya datang ngepas hampir jam 8 malam waktu itu, padahal jarak lokasinya hanya 15 menit jalan kaki dari hostel saya. Kalau melihat kerumunan sepanjang TST Promenade hingga Avenue of Stars malam itu, pasti ada ribuan orang yang menanti pertunjukan gratis yang diadakan tiap jam 8 malam oleh Hong Kong Tourism Board ini. Tanpa pertunjukan ini pun, pemandangan Pulau Hong Kong dari sisi Kowloon sudah sangat keren.

Menjelang tontonan Symphony of Lights di kawasan Avenue of Stars, TST, Kowloon.

Menjelang tontonan Symphony of Lights di kawasan Avenue of Stars, TST, Kowloon.

Pertunjukan dimulai pas jam 8. Beberapa gedung tampak menembakkan cahaya laser ke langit dan ke arah Kowloon. Sebaliknya, gedung-gedung di sisi Kowloon juga memainkan cahaya lampu dan laser mereka yang bisa dilihat dari sisi Pulau Hong Kong. Permainan cahaya ini hanya berlangsung tak lebih dari 15 menit setiap malamnya. Pada hari-hari raya, misalnya Tahun Baru atau Tahun Baru Cina, katanya pertunjukannya jauh lebih heboh, dengan pesta kembang api segala. Jadi, karena malam itu hanya malam “biasa”, pertunjukannya tergolong biasa saja. Tapi, walaupun “biasa”, sedikit permainan laser sudah membuat para penonton berdecak kagum. Memang keren kok. Rugi kalau ke Hong Kong nggak nonton pertunjukan gratis ini.

Seusai acara, kami jalan-jalan di sepanjang Promenade. Banyak lapak yang menawarkan jasa foto langsung jadi, dengan latar pemandangan Pulau Hong Kong pada waktu malam. Harganya bo…mahal! Paling murah HK$ 20 untuk foto ukuran 2R, paling mahal HK$ 100 untuk yang 12R. Tapi saya cuma lihat-lihat aja sih. Sayang duitnya. Mendingan juga foto sendiri, walaupun andalan saya cuma satu kamera saku digital biasa yang kurang bagus untuk foto malam hari, plus kamera ponsel Samsung S III mini yang belum lunas. 😀 Di lapak-lapak itu, penjualnya juga memajang foto-foto yang pernah dibuat. Banyak juga yang lucu-lucu. Ada pasangan yang lagi ciuman, ada yang lagi pose kungfu, ada juga cewek bule yang *****nya gede banget…hahaha!! 😀

Pas balik ke hostel, si Mbak Cengeng yang tadi siang nawarin penginapan mendekati saya lagi. Masih menawarkan penginapan murah untuk saya. Tampaknya dia sudah lupa bahwa beberapa jam sebelumnya saya pernah mengecewakan dia. 😀 Malam itu, setelah merencanakan acara jalan-jalan esok harinya, kami tidur dengan tenang.[]

(Bersambung)