Tag Archives: bandung

Ramen Bajuri – Bandung

IMG_20150629_183030 Yang namanya kedai ramen konon meruyak sejak beberapa tahun terakhir di Bandung. Saya sih nggak tahu persis kedai mana saja yang ramennya enak. Saya juga bukan penggemar berat makanan Jepang, sebenarnya, tapi nggak masalah sih sesekali nyicip. Toh saya juga demen makan mi.

Nah, sejak beberapa bulan lalu saya sering banget makan di warung Ramen Bajuri ini. Sebulan bisa 2-3 kali. Lokasinya di sekitar Jl. Lengkong, Bandung, nyeberang sedikit dari resto Athmosphere, agak masuk beberapa meter ke jalan kecil yang namanya Jl. Sasak Gantung. Ukuran kedai ini tak terlalu besar, seukuran garasi yang muat dua mobil plus beberapa motor aja. Bagian dapurnya bergaya interior kayu dan berhiasan beberapa gantungan bertulisan Jepang. Plus TV dan kipas angin.

Suasana di kedai Ramen Bajuri.

Suasana di kedai Ramen Bajuri.

Pertama kali datang ke sini dan melihat buku menu, saya jadi rada puyeng. Bukan apa-apa, soalnya jumlahnya cukup banyak dan sebagian judul makanannya rada nggak nyambung … hehehe! Coba ya, ada menu namanya “Ramen Aku Mah Apa Atuh”, “Ramen Penghilang Stres”, “Ramen Mas Bram, “Ramen ISIS (Ini Sayur Itu Sayur), “Ramen Cabe-cabean (topping cabe)”, dan lain-lain. 🙂

Ramen Aku Mah Apa Atuh.

“Ramen Aku Mah Apa Atuh”. Porsinya ajiibb! 🙂

Kita juga bisa memilih rasa kuah dan tingkat kepedasan ramen pesanan kita. Untuk rasa kuah ada original, kare, oriental, dan tomyam. Tingkat pedasnya bisa pilih dari 1 sampai 5 (paling pedas).

Sebagian menu di Ramen Bajuri.

Sebagian menu di Ramen Bajuri.

Kata orang sih, makanan yang disajikan di sini bukan ramen betulan. Kesamaan dengan ramen hanya mi dan mungkin topping ekadonya. Sisanya macam-macam: ada topping bakso gepeng, sawi, sosis, dan bakso berbentuk Angry Bird. Di pilihan kuahnya tidak ada kaldu sapi, miso, atau shoyu, dan telurnya terlalu matang untuk ramen.

Tapi saya nggak peduli sama semua itu. Makanan enak ya enak aja, nggak perlu repot bikin definisi. Apalagi kita cuma konsumen … hehehe! Waktu pertama ke sini, saya pesan “Ramen Aku Mah Apa Atuh”—ini ramen dengan topping chicken bulgogi dan ekado. Saya kaget banget karena ukuran mangkoknya segede baskom!

Tenang … sebagai orang bertanggung jawab, saya tetap hajar ramen sebaskom gitu sendirian. Ludes juga … hahay! 🙂 Kalau mau makan porsi sebaskom ini cari aja bagian ultimate ramen di buku menu. Ramen Mas Bram juga enak untuk ukuran sebaskom ini … hehehe 🙂

Yamin Ramen.

Yamin Ramen.

Rekomendasi saya selain “Ramen Aku Mah Apa Atuh” adalah “Yamin Ramen”—yang ini ramen dengan chicken teriyaki, pangsit, dan ekado. Sebenarnya masih ada bibimbap dan chicken katsu segala, tapi saya belum pernah cicipin itu.

Untuk minumannya, saya selalu pesan es teh leci Teh lecinya ini pake gelas guede banget! Jadi kalau mau ngirit minum berdua pasangan, ya pesen ini aja. Cuma Rp 10 ribu kok. Rasanya segar dan wangi. Satu lagi minuman favorit saya di sini adalah green tea latte. Manisnya pas dan warnanya hijau pupus ngejreng dengan dua leci gemuk di dalamnya. Enak!

Pokoknya, makan ramen di sini di siang hari bolong yang panas atau sedang hujan sama asyiknya. Apalagi di sini harga ramennya ramah dompet dan menerima pembayaran dengan kartu debit dan kredit. Ramennya dimulai dari harga Rp 15 ribu dan paling mahal kalau nggak salah cuma Rp 25 ribu. Itu yang pake baskom tadi yah … 😛

Dua minuman favorit saya: green tea latte dan es teh leci.

Dua minuman favorit saya: green tea latte dan es teh leci.

Berhubung lokasinya dekat kampus, nggak heran kedai ini sering dipenuhi mahasiswa. Makanya disediakan menu bernama “Ramen Akhir Bulan”  seharga Rp 15 ribu … wkwkwk! Tapi banyak juga kok keluarga yang makan di sini.

Satu hal nggak penting tapi harus saya ceritain adalah tukang parkirnya. Seumur hidup, baru kali ini saya ketemu tukang parkir “profesional”. Selain orangnya senang menyapa ramah, dia juga “ada kerjanya”: mengambilkan motor, mengelap jok (kalau basah habis hujan), menurunkan footstep motor, dan selalu mengingatkan “Gak ada yang ketinggalan, Mas?”. Untuk servis macam itu, dua ribu rupiah tanpa cemberut dari pelanggan Ramen Bajuri pantas untuknya …. hahaha! 😀

Advertisements

Bebek Merapi Mega Sari – Bandung

bebek merapi1

Sebenarnya sudah beberapa lama saya mengincar makan di warung ini. Habis, kelihatannya selalu ramai pengunjung. Yang kayak gitu kan harus dicurigai. Plus, kata seorang teman, bebek di sini mantap surantap rasanya.

Jadi, beberapa waktu lalu, untuk kedua kalinya saya mampir di warung kaki lima yang namanya Bebek Merapi Mega Sari ini. Lokasinya ada di Jl. PHH Mustopha, di seberang ITENAS, tak jauh dari perempatan Jl. Pahlawan, Bandung. Bukanya biasanya sore hari (Magrib).

Penampakan dari luar sih seperti umumnya warung kaki lima yang jualan nasi uduk plus menu utama ayam dan bebek. Pas saya datang ke sini, seperti biasa warungnya memang ramai pembeli. Karena ramai, saya harus menunggu beberapa pengunjung untuk bangkit sebelum saya rebut kursinya. Sialnya, saya dapat tempat di meja yang posisinya agak miring.

Goreng-gorengan lain. Pesta kolesterol deh pokoknya :)

Goreng-gorengan lain. Pesta kolesterol deh pokoknya 🙂

Karena di spanduknya mereka menamakan diri Bebek Merapi, saya memesan bebek bakar plus nasi uduk. Sebagai tambahan, saya pesan tahu dan tempe. Oya, di sini, selain bebek, juga ada ayam bakar/goreng, lele, perkedel kentang, sate telur puyuh, sate ati, ikan asin, kol goreng, dan tak lupa pete serta jengkol (!).

Sambil nunggu, saya meneguk es jeruk sedikit-sedikit. Bukan hanya karena esnya kurang dingin, tapi biar irit…hehehe! Saya perhatikan, banyak sekali orang yang membeli dibungkus. Itu sebabnya kadang-kadang orang yang makan di tempat harus menunggu agak lama.

Bebeknya empuk, sambelnya ganas!

Bebeknya empuk, sambelnya ganas!

Setelah sepuluh menit, barulah pesanan bebek bakar dan goreng saya diantar. Konon, di sini sambelnya dahsyat. Memang, aroma sambelnya saja sudah sangat meneror hidung, menjanjikan kenikmatan mandi keringat.

Daging bebeknya ternyata sangat empuk, mudah dicuil-cuil. Bakarannya juga pas. Nggak terlalu manis kecap. Bebek gorengnya juga renyah banget. Digado pun enak, rasanya gurih dan sedikit garing.

bebek merapi4Yang paling edan ya sambelnya itu. Gurih dan…..puedesss!! Yang bukan penggemar sambel mending pesan sambel yang nggak begitu pedas. Soalnya sambel yang saya pesan ini yang pedasnya maksimal. Saya sendiri nggak cukup makan sambel satu pisin di sini. Oya, kalo beli makannya dibungkus, sambelnya kudu nambah Rp 1000. Hehehe!

Seporsi bebek dengan nasi uduk dan es jeruk di sini harganya sekitar Rp 26 ribu. Kalo bebeknya doang sih Rp 19 ribu. Standar lah. Menu lain seperti ayam kayaknya enak juga, walaupun saya belum coba. Tapi kalo sambelnya gahar kayak begini sih, menu lain sepertinya enak juga. Kapan-kapan saya mesti main ke Bebek Merapi lagi! Habis, sambelnya ganas banget kayak lahar Merapi! *lebay* 😛 []

Nasi Bebek Pedas Khas Madura: Gurihnya Bikin Nagih!

warung

Memang benar ya, untuk mencari makanan-makanan enak mesti rajin inspeksi. Beberapa bulan lalu, saya nggak sengaja melihat warung tenda ini saat lewat di jalan masuk menuju Telkom University, Jl. Bojongsoang, Bandung. Waktu itu saya nggak tahu apa itu nasi bebek pedas khas madura. Tapi kok tampak menarik. Naluri saya mengatakan: COBAIN!

Belilah saya satu porsi buat dimakan di rumah. Soalnya, saya lihat warung ini sering ramai. Pembelinya kebanyakan adalah mahasiswa Telkom yang kos di sekitar situ. Bahkan saya pun disangka masih mahasiswa sama si penjual (!). 🙂 Yang makan di tempat dan yang minta dibungkus hampir sama banyaknya.

Nasbek1Setelah saya memesan, si penjual langsung sigap meracik seporsi nasi bebek. Gerakannya tampak telaten dan hati-hati: menyendok nasi, serundeng, dan dua sendok sambal. Daging bebeknya ada dua macam: yang basah berkuah dan yang kering. Untuk setiap porsi, si penjual memberi masing-masing sepotong daging bebek yang basah dan kering. Sentuhan terakhir, nasi bebeknya diguyur beberapa sendok kuah semur yang kental dan gurih. Kalau sambal, serundeng, dan kuahnya kurang banyak, minta tambah saja. 🙂

Awalnya, saya sempat ketawa karena dua potong daging bebeknya kecil-kecil. Tapi mengingat harganya cuma Rp 13 ribu per porsi, belum lagi target pembelinya yang mahasiswa, saya cuma bisa maklum. Bisa saja sih kalau mau nambah daging bebeknya, tapi ya harus bayar lebih. 🙂 Tapi kita boleh pilih bagian bebek yang mana saja: dada, paha, kaki, atau ati ampela.

Ini makan di warungnya. Kalo dibungkus, kayaknya nasinya lebih banyak deh :)

Ini makan di warungnya. Kalo dibungkus, kayaknya nasinya lebih banyak deh 🙂

Saya benar-benar nggak salah pilih. Gurihnya bikin nagih! Daging bebeknya terasa cukup lembut, dengan rasa yang gurih meresap hingga ke dalam. Cukup empuk dan mudah lepas dari tulang. Agaknya memang diungkep lama hingga teksturnya lebih lunak dan bumbunya meresap.

Rasa pedas sambal yang nendang berpadu dengan serundeng yang terasa meleleh di lidah. Dilahap bersama sepiring nasi yang porsinya banyak dan masih hangat mengepul. Rasanya pedas menggigit dengan rasa yang gurih nikmat. Huahh, puedess! Keringat bercucuran, mulut mendesis, tapi nggak bisa berhenti! 🙂

Mungkin lebih mantap lagi kalau si penjual menambahkan potongan timun dan taburan bawang goreng. Saya sendiri belakangan lebih suka beli dibungkus, dan di rumah saya tambahkan telur dadar atau tahu dan tempe.

Nasbek4

Kalau makan di rumah, nasi bebeknya ditambahin telor. 😛

Besok-besoknya, saya jadi makin sering beli, terutama di akhir pekan. Si penjual buka dari jam 08.30 pagi, dan biasanya jam 14.00 sudah habis. Beli 1-2 bungkus, lalu ditambah lauk lain di rumah, terus makan sambil baca koran. Joss gandosss![]

Pesta Kolesterol di Festival Jajanan Bango Bandung

Pintu masuk area FJB.

Pintu masuk area FJB.

Terakhir kali saya datang ke Festival Jajanan Bango (FJB) di Bandung rasanya sudah lama, tahun 2009 atau 2010. FJB memang tak selalu diadakan di Bandung setiap tahun. Jadi, Sabtu siang (9/2) lalu saya bela-belain datang, sekalian sarapan dan makan siang digabung jadi satu (!). Apalagi acara ini cuma berlangsung satu hari di masing-masing kota yang disambangi FJB (Bandung, Semarang, Malang, Surabaya, dan Jakarta).

2013-02-09 13.09.10Bandung menjadi kota pertama yang disambangi rangkaian acara pesta kolesterol ini. Tahun ini FJB digelar di area Monumen Perjuangan Rakyat, tak jauh dari kampus Unpad di Jl. Dipati Ukur. Puluhan stan makanan dan minuman digelar di dua area yang disebut Bango A dan Bango B. Panggung untuk musik disiapkan di bagian ujung tengah. Ada juga sekitar lima area makan dengan meja dan kursi.

Di antara 50 stan yang ada, sebanyak 10 di antaranya disebut oleh Bango sebagai Legenda Kuliner Nusantara. Sebut saja: Sate Klatak Mak Adi Yogyakarta, Tengkleng Klewer Bu Edi Solo, Sate Jamur Cak Oney, Tahu Tek Telor Cak Kahar Surabaya, Nasi Pindang Pak Ndut Semarang, Mie Aceh Sabang, Mie Koclok Mas Edy Cirebon, Oseng-oseng Mercon Bu Narti Yogyakarta, Lontong Balap Pak Gendut Surabaya, dan Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Pengennya sih hajar semua makanan itu, tapi nggak mungkin juga lah….dompet bisa jebol dan kolesterol bisa naik macam orang gila yang manjat sutet. 😛

Seperti biasa, masuk ke area FJB gratis, tapi makannya tetap bayar, dong. Kali ini panitia menerapkan sistem kupon untuk pembelian makanan, sementara di tahun-tahun yang lalu kita bisa bayar langsung ke penjualnya. Satu kupon harganya Rp 15 ribu, termasuk bonus satu kemasan kecap Bango ukuran 55 ml.

Sate jamurnya maknyus juga nih...

Sate jamurnya maknyus juga nih…

Sebenarnya saya nggak suka sama sistem ini, selain kurang praktis, pukul rata Rp 15 ribu per porsi makanan rasanya agak mahal. Jadinya ya harus ngirit. Prinsip saya, di acara seperti ini nggak perlu mendatangi stan-stan makanan yang warungnya berbasis di Bandung. Kalau ada di Bandung sih kapan-kapan juga bisa. Jadi saya beli oseng-oseng mercon Bu Narti dari Yogyakarta, Sate Jamur Tiram Cak Oney dari Yogyakarta, dan Nasi Pindang Pak Ndut Semarang.

Seporsi oseng-oseng mercon yang joss gandoss!

Seporsi oseng-oseng mercon yang joss gandoss!

Baru sekarang saya bisa makan oseng-oseng mercon siang-siang. Biasanya Bu Narti ini mulai jualan pas udah magrib kalau di Jogja. Seperti biasa, rasanya maknyuss! Tumpukan lemak yang lezat itu beberapa kali dipanaskan di wajan di stannya. Lalu, saya mengunjungi stan Nasi Pindang Pak Ndut Semarang.

Stan Nasi Pindang Pak Ndut.

Stan Nasi Pindang Pak Ndut.

Nasi pindang adalah nasi dan daging yang disajikan dengan kuah pindang dan daun so/melinjo. Pembeli bisa memilih lauk utama untuk nasi pindangnya, di antaranya ada jeroan sapi dan telor pindang. Saya memilih koyor—sebutan lain kikil yang merupakan bagian dalam atau urat kaki sapi, dan dimasak dengan kuah kental.

Baru satu jam di sini, hujan badai pun datang. Untunglah saya sedang menikmati makanan porsi ketiga: sate jamur Cak Oney. “Daging” satenya sendiri terbuat dari jamur tiram, tapi teksturnya mirip dengan daging ayam. Mengingatkan saya pada menu-menu di resto Jejamuran, Jogja. Maknyuss….makan sate jamur saat hujan badai sambil lirik sana-sini. Bahkan bule-bule yang tampangnya masih kayak anak kuliahan pun berseliweran jalan-jalan sambil makan.

Suasana FJB.

Suasana FJB.

Setelah hujan reda, saya pun pulang…sambil bawa sebungkus oseng-oseng mercon buat makan malam di rumah. Kalau acara beginian ada setiap hari atau setiap minggu, sekalipun dengan alasan melestarikan pusaka kuliner nusantara, bahaya banget buat kesehatan dompet dan kolesterol bisa melonjak. 😀

Bubur Ayam Pak Ukar

Minggu pagi, kemarin, saya dan istri menuju kawasan Buah Batu. Saat itu kami sedang sibuk keluar-masuk gang, mencari tukang bubur ayam favorit kami. Terakhir kali kami ketemu si tukang bubur itu setahun yang lalu. Kok segitunya? Begini ceritanya.

Agustus 2007 sampai Juli 2010, saya masih tinggal di loteng sebuah rumah kontrakan di Jl. Kecubung, di kawasan Buah Batu. Kawasan ini tenang walaupun hanya berjarak 100 meter dari jalan besar (Jl. Buah Batu). Seperti umumnya perumahan, banyak pedagang makanan yang lewat setiap hari di sini. Dan setiap hari akhir pekan, favorit saya adalah bubur ayam Pak Ukar.

Apa istimewanya bubur ayam Pak Ukar? Makanan yang satu ini sepertinya sudah jamak jadi menu sarapan atau jajanan favorit banyak orang. Di Bandung juga banyak sekali warung bubur ayam yang top. Tapi, bagi saya, sejauh ini bubur ayam Pak Ukar belum tertandingi kelezatannya. Untuk mengetahui apakah bubur ayam enak atau tidak, cicipi dulu buburnya saja, tanpa campuran lain-lain, karena bahan-bahan lain sama saja di mana-mana. Kalau dengan mencicipi buburnya saja terasa lezat dan gurih, maka itulah bubur ayam yang lezat.

Bubur ayam Pak Ukar.

Anda tak akan menemukan warung bubur Pak Ukar di mana pun, karena si penjual memang tidak membuka warung. Ia hanya beroperasi dengan gerobaknya di daerah Jl. Mutumanikam hingga Perum Polri di dekat Pizza Hut Buah Batu. Pak Ukar punya empat buah gerobak, yang salah satunya ia bawa sendiri. Usaha ini ia kerjakan sejak tahun 1979, dan sejak beberapa tahun lalu menjadi binaan PT Telkom guna membiayai usahanya ini. Bubur ayam hanya ia sendiri yang memasaknya. “Kira-kira setiap hari jam 12 malam saya masak bubur sendiri. Para pembantu saya tidak ada yang tahu, karena ini adalah resep istimewa yang membuat bubur saya digemari pelanggan,” jelasnya.

Empat orang pembantunya hanya bertugas menyiapkan, memasak, dan memotong bahan-bahan lain seperti ayam, seledri, bawang, ati-rempela, telur, cakwe, dsb. Sekitar pukul 05.30 pagi, beredarlah empat buah gerobak miliknya.

Saat masih tinggal di Jl. Kecubung itulah saya biasanya mengirim SMS ke ponsel Pak Ukar hampir setiap akhir pekan. Kira-kira setengah jam kemudian, bapak asal Garut ini mendentingkan sendok ke mangkuk tanda ia sudah siap di depan rumah saya.

Dengan mengeluarkan Rp 9.000, seporsi bubur ayam lezat komplit dengan telur dan ati-ampela siap disantap. Rasanya memang lezat. Apalagi, khusus untuk saya, ia tak segan menambah porsi bubur, ayam, dan krupuk. Tak tertarik membuka warung sendiri, Pak? “Tidak, lagi pula saya lebih percaya kalau saya sendiri yang mengerjakan. Dan saya juga punya banyak pelanggan setia, seperti Aden ini,” katanya kepada saya.

Selalu dipanggil pelanggan, meski sedang sibuk melayani yang lain.

Memang tak salah ia berkata demikian. Sering kali, ketika sedang meracik bubur pesanan saya, dering telepon dan SMS bertubi-tubi menyelanya. “Maaf ya Den, banyak yang nelepon…” katanya kerap kali. Pak Ukar tak pernah tahu nama saya, sehingga dia selalu memanggil saya “aden” (bahasa Sunda, panggilan sangat sopan yang kira-kira artinya: tuan, juragan).

Suatu kali bahkan ada pelanggan yang tinggal di Jl. Dago meneleponnya untuk janjian bertemu di suatu tempat, sebelum si pelanggan berangkat ke kantor dengan mobilnya. Bahkan kini, setelah saya pindah rumah sekitar 5 kilometer dari bekas kontrakan dulu, beberapa kali saya masih mencari Pak Ukar di sekitar bekas kontrakan saya, kalau tak malas keluar rumah pada Minggu pagi. Dan itulah yang saya lakukan kemarin.

“Yuk, sarapan bubur dulu.” 🙂

“Masih ingat saya, Pak?” tegur saya saat menemukan bapak ini di depan sebuah rumah tak jauh dari bekas kontrakan saya.

“Masih, Den,” jawab Pak Ukar sambil tersenyum. Tangan kanannya terangkat ingin menyalami saya.[]

 

 

Catatan: foto-foto di atas adalah gabungan foto beberapa tahun lalu plus Minggu pagi kemarin. 🙂

Berakhir Pekan di Festival Media

Sabtu (15/9), tak biasanya saya sudah di berada di tengah kemacetan kawasan Buah Batu, Bandung. Pagi itu saya sedang menggeber motor Belalang Tempur saya ke acara travel writing workshop yang merupakan bagian dari ajang Festival Media. Yang terakhir ini adalah sebuah gelaran yang diadakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam rangka HUT-nya yang ke-18.

Diadakan di Gedung Indonesia Memilih Menggugat (GIM), 15-16 September 2012, Festival Media ini dimaksudkan sebagai pameran produk industri media mainstream dan berbagai komunitas media independen yang ada di Bandung dan beberapa kota lainnya.

Jam 09.30, saya sudah stand by di lokasi. Saya sempat bertemu dengan Dandy D. Laksono, mantan wartawan yang kini aktif memproduksi film dokumenter bersama WatchDoc. Dandy juga pernah menulis buku Jurnalisme Investigasi (2010) yang diterbitkan Mizan. Tampak beberapa stand di halaman GIM, dihuni oleh beberapa lembaga media di antaranya Pikiran Rakyat, Voice of America (VOA), Tempo, WatchDoc (pembuat film dokumenter yang sebagian karyanya ditayangkan di Kompas TV), dan ada juga Cek & Ricek. Yang terakhir ini agak aneh, soalnya kalau saya nggak salah, infotainment tak dianggap sebagai pekerja media alias bukan termasuk organisasi kewartawanan AJI.

Tapi, sudahlah. Yang jelas, jam segitu workshop gratis tersebut dimulai agak molor, dan sekitar jam 10.00 acara yang dihadiri 20-an peserta ini dibuka oleh Ahmad Yunus. Pria ini adalah wartawan sekaligus penulis Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara. Buku itu bercerita tentang pengalaman Yunus bersama rekannya, Farid Gaban (wartawan senior yang pernah lama di Tempo), menjelajahi bumi Indonesia selama setahun naik motor trail bekas. Yunus, yang kini aktif di WatchDoc, banyak bercerita tentang perjalanan yang ia lakukan bersama Farid pada 2009 – 2010 itu.

Suasana workshop.

Acara kemudian diarahkan ke diskusi bebas tentang travel writing. Farid Gaban yang datang belakangan sempat membahas beberapa tips untuk menghasilkan tulisan perjalanan yang bagus. “Jangan pernah pakai kata sifat,” kata Farid. “Sebagai gantinya, gantilah kata sifat itu dengan deskripsi yang hidup.” Contoh kalimatnya, ketimbang menulis “Konser Peterpan tadi malam sangat heboh”, gambarkan saja seperti apa suasana konser itu: “Konser Peterpan dihadiri 20 ribu penonton. Sebagian dari mereka berusia belasan hingga 20 tahunan. Sepanjang pertunjukan mereka selalu berteriak histeris dan ikut bernyanyi dengan bersemangat”. Belakangan, Farid mempersilakan peserta untuk mengopi file data soal teknik menulis ini. Sayangnya, saya nggak bawa flashdisk. 😦

Sesekali, Yunus memutar klip video yang ia buat selama perjalanan tersebut. Gambar yang dihasilkan sangat keren, menunjukkan alam Indonesia yang sangat indah. Menurut saya video itu sangat layak dijadikan iklan pariwisata.

Serunya, di akhir acara, para peserta workshop mendapat hadiah kaos dan buku gratis dari Penerbit Serambi. Saya sendiri kebagian novel berjudul The Devil’s Whisper. Selepas acara, saya sempat bertanya kepada Yunus, langkah strategis apa yang sekiranya akan dilakukan mengenai pariwisata Indonesia. Sebab, soal kecantikan alam Indonesia tentu sulit dibantah. Masalahnya, kenapa semua kekayaan alam itu hanya mampu menarik turis asing jauh lebih sedikit dibandingkan negara-negara tetangga? Di mana peran travel writing dalam hal ini?

Yunus menjawab, saat ini ia sedang menggagas proyek penulisan travel writing yang sifatnya terjun langsung ke lapangan. “Katakanlah pesertanya 50. Kalau semua orang itu aktif melakukan perjalanan dan aktif menulis, tentu akan semakin banyak tulisan tentang Indonesia yang mudah didapatkan di Internet maupun media lain. Indonesia akan terpromosikan dengan sendirinya,” kata Yunus panjang lebar.

Sayangnya, obrolan terputus karena Yunus sibuk mengopi file untuk dibagikan ke para peserta. Padahal saya masih punya banyak pertanyaan. Semisal: lantas bagaimana peran strategis pemerintah yang seharusnya bisa bergerak lebih jauh dalam hal pariwisata Indonesia? Kalau pada akhirnya yang dikenal orang asing cuma Bali, bukankah ada yang salah dengan promosi wisata kita?

Anak SMA lagi nyoba jadi presenter dadakan di stand VOA.

Seusai acara, saya menyempatkan diri melihat-lihat keramaian sekitar. Puluhan stand dari berbagai media, organisasi penyiaran, komunitas, perusahaan produk minuman hingga telekomunikasi ramai dikerubungi pengunjung. Ruang utama diisi dengan kegiatan lomba debat antar SMU di Bandung, sementara di ruangan lain berlangsung beberapa workshop dan seminar.

Stand WatchDoc.

Hampir semua stand membuat kegiatan yang menarik pengunjung. Stand Kantor Berita Antara menawarkan lomba foto selama pameran dan workshop video jurnalis. Stand VOA mengajak pengunjung mencoba menjadi presenter televisi dadakan. Stand WatchDoc iseng-iseng menawarkan pembuatan foto narsis bersama Bung Karno & Bung Hatta bagi pengunjung. Di sini saya juga memborong beberapa koran gratisan edisi hari itu, juga beberapa stiker dan poster. 😛

Besoknya, saya sempat kembali ke GIM karena ada janji ketemu Daniel Mahendra. Yang satu ini adalah mantan wartawan dan penulis Perjalanan ke Atap Dunia, buku catatan perjalanan tentang petualangan Daniel ke Tibet. Resensi bukunya bisa dilihat di sini. Sambil menunggu Daniel, saya sempat menikmati acara terakhir dari rangkaian Festival Media ini, yaitu acara musik sore yang ditampilkan secara akustik oleh Ammy n Friends.

Ketika Daniel tiba, kami langsung terlibat pembicaraan asyik soal traveling dan buku travel. Tak terasa kami ngobrol sampai magrib dan kami pun janjian ketemu lagi lain waktu. Tentunya diakhiri janji Daniel bahwa ia akan mengirimi saya contoh naskah travel writing yang sedang ia garap. 🙂

Akhir pekan yang asyik. Apalagi MU menang telak 4-0 pada Sabtu malamnya. 🙂

Ayam Lepaas!

Tenang, itu bukan seruan tetangga yang ayam peliharaannya lepas, tapi nama sebuah warung makan. Awalnya saya melihat plang nama warung makan ini di kawasan Bintaro Jaya, Tangerang. Beberapa bulan kemudian, persisnya sebulan yang lalu, saya melihat plang namanya di Jl. Soekarno-Hatta, Bandung. Dekat dengan perempatan Jl. Buah Batu. Langsung deh saya cicipin…. 😛

Menu yang ditawarkan sebenarnya sangat sederhana: ayam goreng, burung dara, dan lele. Dilengkapi dengan sambal yang pedas dan lalapan. Masakan lain yang bisa dipilih juga umum banget: tumis kangkung, tumis bunga kol, tumis tauge, tahu, dan tempe. Nah, sederhana banget, kan?

Ayamnya guede, ngenyangin 😛

Tapi menurut saya rasa ayam gorengnya enak. Dibalut tipis dengan tepung berbumbu yang gurih, daging ayamnya juga tebal dan berukuran cukup besar. Sambalnya pun pedas! Itu sebabnya disebut “ayam lepas” alias “ayam lezat pedas”. Dengan harga paket Rp 16 ribu saja kita sudah mendapat seporsi nasi plus ayam goreng beserta lalapan. Harga tumis-tumisnya pun cuma Rp 10 ribu per porsi dan rasanya pun cukup oke. Selain ayam lepas, ada pula paket “ayam lemas” alias “lezat manis”, tapi yang rada nggak enak didengar sih menu “burung lepaas” alias “burung lezat manis”…hehehe! 🙂

Ini dia paket ayam lepas plus tumis kangkungnya 🙂

Rumah makan ini juga luas. Tempat makannya bisa dipilih, mau di meja atau di area lesehan. Tempat parkir luas dan ada mushola yang bersih juga. Saya sendiri sudah dua kali makan di sini. Pertama datang memang masih agak sepi, karena baru beberapa hari buka. Tapi saat datang untuk kedua kali, tempat ini sudah mulai ramai karena mungkin orang-orang sudah mulai kenal dengan tempat ini, walau andalannya cuma ayam goreng gurih dan sambal yang pedas.

Kalau tak salah, restoran asal Aceh ini sudah punya puluhan gerai yang tersebar di beberapa kota seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, Malang, Surabaya, Medan, Palembang, dan Banda Aceh. Konon, Ayam Lepas tahun ini juga akan membuka 50 gerai lagi di Jabodetabek, Bandung, dan Yogyakarta.

Area lesehan.

Sebenarnya kalau rumah makan ini punya andalan lain, bebek atau iga bakar misalnya, mungkin akan lebih asyik lagi. Tapi tak ada salahnya mencoba makan di tempat ini. Cocok kok buat makan beramai-ramai dengan teman-teman atau keluarga. Di Bandung, selain punya cabang di Jl. Soekarno Hatta ini, ada satu cabang lagi di Jl. Moh. Toha.

Menunya.