Tag Archives: changi

Nongkrong di Hong Kong #1

CIMG6695All you’ve got to do is decide to go and the hardest part is over. So go!”

~ Tony Wheeler (pendiri Lonely Planet)

Mungkin ini adalah rencana perjalanan paling berat yang saya alami. Hingga menjelang keberangkatan saya ke Hong Kong tanggal 15 Oktober malam, saya tetap harus menghadapi 50-50 chance—berangkat atau tidak. Akhirnya, menjelang sore hari Selasa itu, saya memantapkan hati untuk tetap berangkat, setelah menyelesaikan banyak urusan kantor dan pribadi. Termasuk ngibulin beberapa teman kantor bahwa saya mau jalan-jalan jualan senjata ke Suriah dan Afrika. 😛 Lagian, sholat udah, kurban udah, cuti belum. Jadi, ini waktunya saya kabur dan keluyuran.

Saya beli tiket Tiger itu sejak awal tahun ini, dengan harga Rp 1,1 juta, pergi-pulang. Murah untuk ukuran tiket ke Hong Kong. Tapi yang namanya tiket murah juga ada nggak enaknya. Jamnya nggak enak, dan harus transit dulu. Kami berangkat malam hari jam 19.40 dari Soekarno-Hatta dan tiba di Bandara Changi, Singapura, jam 22.30 waktu lokal. Jadi, sudah pasti kami harus tidur di bandara lagi. Daripada nginep di hotel, kan?…hehehe! 🙂 Penerbangan berikutnya ke Hong Kong baru hari besoknya jam 14.00 waktu Singapura.

Sesampainya di Changi, saya mengurus transfer pesawat dulu ke konter Transfer E, biar besoknya kalau mau keluar dari imigrasi bisa jalan-jalan dulu dengan tenang. Kebetulan, ada teman yang juga lagi traveling di Singapura. Dia memberitahu tempat paling asyik buat tidur di bandara. “Coba kamu cari Oasis Lounge, itu masih di Terminal 2, di deket Gate A11,” katanya via Facebook.

Jadi, saya bela-belain cari lounge itu, sementara istri saya menunggu di depan konter Transfer E, yang sebenarnya juga asyik karena ada bangku buat tiduran dan ada beberapa PC buat internetan gratis. Walau agak jauh dari Transfer E, saya akhirnya menemukan Oasis Lounge, di depan Gate E11. Tempatnya asyik banget! Ada banyak kursi yang didesain untuk tiduran, ada juga colokan listrik (lumayan buat nge-charge ponsel!), dekat toilet, dan ada area internetan gratis juga! Yahooo!! Akhirnya saya balik memanggil istri saya dan malam itu kami jadi punya tempat tidur nyaman. 🙂

Sebenarnya ada juga sih beberapa spot nyaman sepanjang “perjalanan” menuju Oasis Lounge itu, tapi saya lihat udah pada penuh. Sayang saya nggak punya fotonya, karena hilang saat mengkopi file foto di Hong Kong (ceritanya belakangan ya). Walau tidurnya nggak terlalu nyenyak, subuh hari kami bangun dan giliran mandi di toilet. Sebenarnya nggak ada kamar mandinya di situ, tapi yang jelas bilik yang ada tulisan squat pan/squat toilet bisa dipakai buat mandi. Semprotan WC-nya bisa dipakai jadi shower…hehe! 😛

Habis itu, kami jalan lagi cari mushola, dan di belakang toko buku Relay kami menemukan ruangan  yang di pintunya ada tulisan Multi-Faith Prayer Room. Eh? Ini maksudnya bisa jadi tempat sembahyang semua agama? Tapi setelah masuk ke dalam, itu memang betulan mushola. Usai sholat Subuh, nggak disangka saya malah ketemu teman yang ngasih tahu tentang Oasis Lounge itu…haha! Dia baru mau pulang (tepatnya: langsung ngantor), dan saya justru baru mau jalan-jalan. 🙂

Habis itu, setelah menitipkan tas di Left Luggage di Terminal 2, kami keluar dari airside menuju imigrasi. Tok-tok! Petugas imigrasi mengecap paspor kami tanpa tanya apa pun. Sebetulnya kami nggak punya tujuan khusus jalan-jalan di Singapura. Dibandingkan Hong Kong yang jauh lebih seru, Singapura jadi tempat buang-buang waktu aja buat saya. Yang jelas, pagi itu saya lagi kangen pengen makan nasi lemak. jadi, kami menuju stasiun MRT Lavender untuk mencari Ananas Cafe. Dan…wah! Harga paket nasi lemaknya sekarang jadi S$ 2, padahal tahun lalu saya ke sini harganya S$ 2,5! Yaa lumayan deh, mungkin mereka tahu rupiah lagi loyo, makanya pembeli dikasih diskon…hehehe.

Habis beli nasi lemak 2 porsi, plus seporsi mi goreng dan empat potong roti di bakery di depan Ananas, kami naik MRT lagi, kali ini menuju stasiun Outram Park. Di belakang stasiun itu ada taman yang namanya Pearl’s Hill City Park. Sebenarnya nggak ada yang istimewa dari taman ini. Tapi saya memang suka cari suasana tenang di sebuah kota metropolitan. Cocok buat makan dan baca buku…hehehe. Di taman seluas 9 hektar ini, pagi itu tampak beberapa orang tua yang sedang sibuk berolahragaentah sekadar senam ringan atau jogging.

Setelah sarapan nasi lemak enak dan ngos-ngosan jalan santai di taman berbukit itu, kami iseng berpusing-pusing keliling kota naik bus. Tujuannya ke mana saja, karena kami lagi cari AC buat mendinginkan badan yang berkeringat, sambil lewat jalanan, bosen naik MRT melulu.  Tak terasa, waktu udah hampir jam 11. Sudah waktunya kami balik ke Changi.

Singkat cerita, jam 14.00 kami lepas landas menuju Hong Kong. Untunglah saya selalu bawa buku saat jalan-jalan. Durasi 3,5 jam bisa sangat membosankan di kabin pesawat. Apalagi di pesawat kami nggak dikasih apa-apa, air putih juga nggak. Mau beli, sayang duitnya. 😦 *padahal emang lagi ngirit*

Jam 18.00, kami tiba di Bandara Chek Lap Kok atau biasa disebut Hong Kong International Airport (HKIA). Setelah melewati imigrasi (nggak perlu visa!), kami menuju terminal bus di luar hall kedatangan. Dekat peron kereta menuju kota, saya membeli kartu Octopus—seperti kartu EZ Link di Singapura. Kartu elektronik ini bisa dipakai untuk membayar segala jenis transportasi di Hong Kong—MTR (Mass Transit Railway/kereta bawah tanah), bus, trem, taksi, juga untuk transaksi pembayaran di minimarket dan supermarket. Saya cuma beli satu kartu karena sudah punya satu. Harga kartu yang baru HK$ 150, termasuk isi value senilai HK$ 100. Setelah itu, barulah kami berjalan kaki menuju terminal bus. Sengaja kami naik bus karena lebih murah daripada naik kereta Airport Express yang ongkosnya HK$100 (!).

Ada display besar di depan terminal bus yang menunjukkan nomor bus, tujuan, serta ongkosnya. Kami naik bus E11 yang menuju Causeway Bay. Ongkosnya HK$21 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Hampir semua bus di Hong Kong bertipe bus tingkat alias double decker. Setelah menaruh tas-tas kami di bawah, kami duduk di dek atas, paling depan, supaya bisa mendapat pemandangan keren. Kota Hong Kong menawarkan pemandangan menakjubkan saat malam tiba.

BTW, yang disebut Hong Kong sebenarnya lebih sering mengacu ke Pulau Hong Kong. Sejak kembali ke pangkuan Republik Rakyat Cina (RRC) pada 1 Juli 1997, Hong Kong menyandang status SAR (Special Administrative Region) di mana otonomi penuh dipegang oleh Pemerintah Hong Kong sendiri, kecuali urusan luar negeri dan militer yang berada di bawah Pemerintah RRC. Selain Hong Kong, wilayah SAR Cina yang lain adalah Makau.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, sekitar 4-5 % per tahun, taraf hidup di Hong Kong relatif tinggi. Di kawasan Asia Timur, taraf hidup negara empat musim ini hanya berada di bawah Jepang, tapi masih di atas Singapura. Kepadatan penduduknya termasuk yang tertinggi di dunia, mencapai 6.300 orang per kilometer persegi, dengan jumlah penduduk di atas 7 juta (2011). Mengingat keterbatasan wilayahnya (hanya 1.102 kilometer persegi), sebagian besar penduduknya tinggal di apartemen sewaan. Catat: wilayah Hong Kong yang berpenghuni sebenarnya hanya 40%. Sisanya terdiri dari pulau-pulau, hutan, dan perairan.

Lihat nih petanya:

Peta Hong Kong. Gambar pinjam dari sini.

Peta Hong Kong. Gambar pinjam dari sini.

Area bandara HKIA tadi sebenarnya adalah sebuah pulau kecil hasil reklamasi, yang berlokasi di dekat Pulau Lantau. Seperti terlihat di peta, Hong Kong adalah wilayah kepulauan. Yang paling padat adalah wilayah Pulau Hong Kong.

Kawasan Causeway Bay di malam hari.

Kawasan Causeway Bay di malam hari.

Sebenarnya saat itu kami belum mendapat penginapan. Saya sebenarnya ingin mencari penginapan di kawasan Tsim Sha Tsui, Kowloon, tapi saat itu karena kecapekan dan lapar berat, saya sengaja turun di kawasan Causeway Bay. Ada seorang kenalan di situ yang bisa membantu kami mencari penginapan—setidaknya untuk malam ini. Karena sudah lapar berat, dan saya agak lupa lokasi warung kenalan saya itu, kami makan di restoran Indonesia di sekitar situ. Namanya Sedap Gurih. Tak sesuai namanya, nasi goreng dan ayam penyet pesanan kami rasanya biasa banget. Yang luar biasa adalah harganya—HK$ 125 untuk makanan kami! Saya langsung kapok.

Benar juga kata seorang teman—harga makanan di Hong Kong semakin mahal saja. Konon ini ada hubungannya dengan arus mainlander (sebutan orang Hong Kong untuk penduduk Cina daratan alias mainland China) yang semakin banyak datang ke Hong Kong untuk urusan bisnis atau sekadar pelesir. Dalam hati saya langsung panik—uang tunai yang saya bawa sangat terbatas. Kalau untuk urusan makan aja segini mahalnya, bagaimana kami bakal bertahan sampai delapan hari ke depan?

Setelah makan, kami blusukan mencari warung Blitar milik kenalan saya itu. Nggak tahunya….ada di seberang restoran tadi! Memang sih, harus naik ke lantai 2 sebuah gedung dulu. Saya lupa-lupa ingat lokasinya. Tapi begitu melihat deretan toko ponsel di gedung yang dikuasai orang Indonesia itu, saya langsung ingat lagi. Akhirnya ketemu!

Setelah ngobrol-ngobrol sejenak, kenalan saya itu menelepon seseorang. Tak berapa lama, datang seorang perempuan berjilbab bernama Bu A. Kenapa namanya disamarkan? Nanti ada ceritanya. 🙂 Bu A ini punya satu apartemen tak jauh dari gedung Konsulat Jenderal RI. Apartemen itu berisi dua kamar tidur yang dia sewakan, khususnya untuk orang-orang Indonesia. Berhubung saat itu sudah hampir jam 10 malam, saya terima saja tawarannya. Begitu masuk, jadi jelas kenapa harga per malamnya HK$ 500.

Walaupun kecil, apartemen itu nyaman. Selain kamar mandi dengan air panas, juga ada dapur yang lengkap isinya—kulkas, microwave, rice cooker, sabun cuci, piring, mangkok, sendok, dll. Enak sih apartemennya, tapi MUAHAL! FYI, beli Indomie nggak susah kok di Hong Kong. Ada beberapa warung Indonesia di sekitar kawasan Causeway Bay. Bahkan persis di depan gedung KJRI juga ada namanya Warung Chandra, yang selain menjual makanan juga menjual keperluan sehari-hari.

Sebelum meninggalkan kami, Bu A berpesan, “Tolong, kalau ada yang tanya, jangan bilang kalian nyewa kamar di sini ya. Bilang aja teman lagi nginep di apartemen saya.” Ah, jadi begitu ya ceritanya! 🙂 Oh ya, ada lebih dari 100 ribu orang Indonesia yang tinggal di Hong Kong. Sebagian besarnya adalah TKW. Catat: tidak ada tenaga kerja laki-laki Indonesia, karena semuanya perempuan di sini.

Malam itu, setelah mandi, kami langsung tidur karena kaki udah gempor setelah jalan-jalan di Singapura. Tapi, saya masih gelisah malam itu. Makan dan penginapan malam ini saja sudah kebangetan mahalnya. Artinya, besok pagi kami harus cari-cari penginapan lain yang sesuai anggaran. Dan kalau bisa yang menerima kartu kredit, karena uang tunai saya ngepas banget![]

(Bersambung)