Tag Archives: perjalanan ke atap dunia

10 Buku Terbaik yang Saya Baca Selama 2012

buku1

Catatan: untuk daftar yang lebih baru, yaitu 2014, coba mampir ke sini ya.

Pemirsa, ini kali kedua saya nulis soal buku terbaik yang saya baca dalam setahun. Seharusnya tulisan ini di-posting malam tahun baru, tapi karena banyak kesibukan…ya sudahlah. 🙂 Sebelum masuk ke daftarnya, izinkan saya menulis review dan berpidato sedikit yaa… 😀

Tahun 2012, buku karya penulis lokal masih mendominasi rak buku laris. Cuma, yang bikin saya pribadi merasa kurang sreg, makin ke sini makin banyak buku-buku yang diangkat dari kumpulan tweet tokoh tertentu di Twitter. Jujur, saya merasa yang begitu itu kok seperti bukan “buku sejati”. Tanda pagar (#) masuk seenaknya demi terjerat search engine Twitter, sangat mengganggu mata dan kenyamanan membaca.

Mungkin saja memang ada pembaca yang mendapat manfaat dari buku-buku semacam itu. Yaa…nggak apa-apa sih, cuma bukan selera saya aja. Just my two cents. Maka, kalimat ini memang betul adanya: Tidak ada buku untuk semua orang. Beruntunglah ada teknologi cetak yang ciamik, yang mampu mengemas buku semacam itu jadi cantik secara tampilan. Tahun 2013, prediksi saya, fenomena buku-buku yang diangkat dari Twitter belum akan berhenti. Tapi yang jelas itu juga hanya akan jadi tren—alias sementara.

Tren lain di tahun 2012 adalah makin banyaknya judul-judul roman Korea dengan gaya cover yang khas itu. Yang disebut buku “traveling” (tepatnya: travel guide), walau tak terlalu dominan, masih terus bermunculan. Namun, prediksi saya, buku traveling yang bertipe panduan perjalanan ini rentan akan kejenuhan pembaca. Kenapa? Karena butuh update informasi secara rutin, karena datanya semakin lama pasti akan basi. Padahal kalau buku ini tak laku, penerbit tentu enggan mencetak ulang.

Pada 2012, banyak sekali buku-buku biografi tokoh populer seperti Jokowi, Dahlan Iskan, Aburizal Bakrie, dan Chaerul Tanjung. Dan saya nggak baca satu pun buku-buku itu. 😛 Buku tentang Jokowi dan Dahlan Iskan bahkan ada bermacam-macam judul dari bermacam-macam penerbit, baik yang official atau bukan, sehingga berpotensi membingungkan calon pembeli di toko yang tak punya waktu meriset dulu buku apa yang akan mereka beli. Apalagi kalau semua semua buku tentang satu tokoh—misalnya Dahlan Iskan—dijejer semua…wah! Namun, yang menonjol di rak bestseller tampaknya tidak banyak.

Dari deretan buku biografi populer itu, Anak Singkong “tulisan” Chaerul Tanjung (pakai tanda kutip, karena mudah mengetahui siapa yang benar-benar bisa menulis buku) tampaknya laku keras: terjual lebih dari 140 ribu eksemplar. Tapi saya pernah baca berita bahwa sebanyak 73 ribu kopi buku ini dibeli sendiri oleh Chaerul Tanjung. Yeah, sedikit berbau nggak fair sih. Mungkin para pegawainya dikasih semua. 🙂 Belum lagi iklan buku ini yang rajin diiklankan lewat jaringan televisi Trans TV dan Trans 7, ditambah display yang mencolok di toko-toko buku. Saya malah pernah lihat buku ini ditawarkan loper koran di perempatan jalan (bajakan, mungkin?). Biografi atau narsisisme orang kaya? Entah. 😛

Buku nonfiksi lainnya yang masih “bunyi” adalah buku “bikinan” para motivator dan trainer seperti Ippho “Right” Santosa dan Merry Riana. Acara-acara seminar yang menghadirkan kedua nama itu juga tak pernah sepi peserta (yeah, termasuk saya ini yang pernah nonton acara mereka).

Tahun 2013 akan lebih banyak bermunculan judul-judul memoar traveling dibandingkan dengan tipe travel guide. Salah satu yang patut ditunggu adalah buku terbaru Agustinus Wibowo, Titik Nol, yang akan terbit pada Februari 2013. Buku memoar traveling karya terjemahan yang “diam-diam” cukup manis penjualannya adalah The Geography of Bliss. Di banyak toko Gramedia dan Togamas, karya Eric Weiner itu nangkring di display yang bagus, pertanda penjualannya cukup maknyus. Sejak booming tiket murah pada tahun 2000-an pertengahan, makin banyak orang Indonesia yang mampu jalan-jalan ke luar negeri. Sayang, tak banyak orang yang menulis/mendokumentasikan perjalanan mereka. Cukup sulit menemukan buku memoar traveling yang berkualitas, apalagi dibandingkan dengan serbuan buku-buku travel guide yang judul-judulnya bombastis.

Menutup tahun 2012, karya terbaru J.K. Rowling, The Casual Vacancy (TCV), layak diacungi jempol. Dicetak dengan hard-cover, dan tampil luks, karya fiksi penulis serial Harry Potter ini sanggup membuat saya betah mojok di rumah berjam-jam karena cerita dan gaya tulisannya yang memikat. Secara internasional, penjualan TCV memang tak sefenomenal Harry Potter. Itu mungkin karena buku ini ditegaskan sebagai buku fiksi dewasa, berbeda dengan Harry Potter yang bisa dibaca semua umur. Namun, secara  kualitas, seandainya penulisnya bukan Rowling pun menurut saya buku ini tetap saja bagus.

***

Belakangan saya baru menyadari bahwa, dibanding tahun-tahun sebelumnya, tahun 2012 ini bacaan saya yang bertema traveling jumlahnya semakin banyak. Sayangnya, bacaan fiksi saya semakin berkurang. Kenapa, ya?

Dan, jujur saja, rasanya kok di tahun 2012 ini sedikit sekali buku yang benar-benar berkualitas—di tengah harga buku yang mahal dan rendahnya kebudayaan membaca dan menulis di negeri ini yang tak membaik dari tahun ke tahun.

Jadi, inilah 10 buku terbaik—dari 30-an judul yang saya baca selama 2012. Versi saya, selera saya—dilarang mendebat. Make your own list. 🙂 Sikapi buku seperti terhadap makanan: boleh rakus, boleh nambah, tapi soal selera ya sendiri-sendiri. 🙂 Oh ya, angka di daftar ini tidak menggambarkan urutan. Sekadar having fun kok.

1. Cerita Cinta Enrico (Ayu Utami)

Resensinya sudah pernah saya posting di blog ini. Silakan baca di sini.

2. Lalita (Ayu Utami)

Buku ini adalah buku kedua dari Seri Bilangan Fu. Sebelumnya ada Manjali dan Cakrabirawa. Lalita masih berkisah tentang petualangan Sandi Yuda, Parang Jati, dan Marja. Kali ini tentang penjelajahan spiritual seputar candi Borobudur yang (secara) tidak sengaja berkaitan dengan mereka. Tokoh Lalita Vistara, yang mengaku keturunan Vlad Drakula, memegang sebuah kitab rahasia bernama Buku Indigo. Kitab yang berisi pemikiran dan penelitian kakeknya mengenai psikoanalisa ini kemudian menjadi masalah baginya, melibatkan tiga sekawan dari Bilangan Fu, Sandi Yuda, Marja, dan Parang Jati, pun ikut terlibat dalam konflik antara Lalita dan kakaknya, Jataka (atau Janaka?) dalam perebutan Buku Indigo.

Alur cerita novel ini sebenarnya biasa saja. Tapi bagi saya gaya tulisan Ayu Utami enak dibaca, padahal substansinya cukup rumit. Ibarat makan cireng, alot, tapi bikin kita terus mengunyahnya. Salah satu bagian paling menarik adalah penjelasan mengenai candi Borobudur dan psikoanalisa yang menyangkut Carl Jung, Freud, dan beberapa orang lainnya. Ayu secara tidak langsung memberikan pemahaman kepada pembaca melalui jalinan kalimat yang mudah dicerna. Penceritaan yang baik, karakter yang dibungkus apik, dan kaya dengan deskripsi mengenai tentang jiwa manusia dan candi Borobudur menjadi kekuatan utama buku ini.

3. Segenggam Cinta dari Moskwa (M. Aji Surya)

Ini bukan buku tentang cinta, dan menurut saya kurang pas juga dijuduli seperti ini. Buku ini membahas banyak aspek tentang Rusia—sosial, politik, budaya, agama, vodka, cinta, orang Indonesia di Rusia yang terbuang sejak komunisme pertama kali diharamkan di Indonesia, dan banyak lagi. Enak sekali berkenalan dengan Rusia dengan tulisan-tulisan renyah dan segar dari penulis yang pernah jadi diplomat di Moskow ini. Sayang, banyak typo di buku ini.

4. Spiritual Creativepreneur (M. Arief Budiman)

Buku ini entah mau bicara tentang bisnis kreatif atau hal-hal spiritual, atau malah keduanya. Tapi saya menganggap Spiritual Creativepreneur asyik dibaca. Saya beli bukunya setelah nonton presentasi penulisnya—CEO Petakumpet Creative Network, sebuah perusahaan di bidang industri kreatif—di Jogja tempo hari. Pada dasarnya buku ini bicara tentang merayakan gagasan segar, membangun bisnis kreatif sebagai implementasi dari nilai-nilai autentik Islam untuk mengubah dunia. Walaupun menyerempet aspek agama, Arief Budiman menyajikannya dengan bahasa yang segar dan tak membosankan.

5. Seperti Sungai yang Mengalir (Paulo Coelho)

Walau mengaku penggemar buku-buku Paulo Coelho, kadang saya tidak bisa memahami beberapa bukunya karena kontennya terlalu Kristiani. Bukan apa-apa, cuma nggak ngerti aja kok. :) Tapi yang satu ini beda. Diterjemahkan langsung dari edisi bahasa Spanyol, Seperti Sungai yang Mengalir berisi kumpulan renungan dan cerita pendek Paulo Coelho, kisah-kisah yang menggugah tentang kehidupan dan kematian, suratan takdir dan pilihan, cinta yang hilang dan ditemukan. Kadang humoris, kadang serius, tapi hebatnya isinya selalu bernas dan dalam—dan mengalir, seperti judulnya. Kisah-kisah dalam buku ini sebelumnya telah diterbitkan di berbagai surat kabar di seluruh dunia, dan dikumpulkan menjadi buku atas permintaan para pembaca Coelho.

Seperti semua buku karya Paulo Coelho lainnya, buku ini mengeksplorasi artinya menjalani hidup yang bermakna dengan sepenuh-penuhnya. Apalagi buku ini saya baca pas dalam perjalanan ke rumah sakit untuk menengok ibu saya yang dirawat di sana karena serangan jantung. Resensinya bisa dibaca di sini.

6. Two Travel Tales: Menguak Eksotisme India dan Nepal (Ade Mastiti)

Memang sih buku ini terbit akhir 2011, tapi saya baru baca tahun 2012….hehehe! Buku ini bukan jenis travel guide yang menawarkan tips mendetail, rincian biaya, dan akomodasi saat melakukan perjalanan ke India dan Nepal, seperti yang sekarang marak. Ini adalah  kisah perjalanan penulis Ade Nastiti saat menjelajahi India dan Nepal di sela-sela pelatihannya sebagai dalam program pemberdayaan masyarakat. Saat rekan-rekannya yang lain menghabiskan akhir pekan dengan bersantai, ia justru mengikuti nalurinya sebagai traveler. Sayang, porsi kisah tentang India jauh lebih banyak daripada Nepal, sehingga terasa kurang berimbang.

Ini catatan perjalanan yang asyik dan berwarna-warni. Penulis, selain menyuguhkan deskripsi tempat-tempat yang dikunjunginya, juga mengisahkan  banyak hal hasil interaksinya dengan para penduduk lokal sehingga memperkaya wawasan pembaca. Perjumpaan Ade dengan pendeta Hindu di kereta yang menyinggung soal makna pencarian, dirawat oleh Nenek Dolma di gompa Buddha, mengunjungi situs-situs Budha, ikut pooja bersama kaum Sikh, mengalami gegar budaya dengan temannya yang asli India, terpana oleh kemegahan Taj Mahal dan kisah cinta di baliknya, juga mengunjungi Gurgaon—kota TI yang disebut-sebut sebagai Silicon Valley-nya India dan simbol kesuksesan kaum muda di sana.

Menariknya, penulis tidak hanya membawa pembaca ke tempat-tempat turistik. Ade memilih bersikap luwes dan cair dalam perjalanannya. Seandainya penulis ogah berinteraksi dengan orang-orang India asli dan malas riset, banyak sekali momen-momen unik itu akan ia lewatkan. Sayang, foto-foto dalam buku ini tidak dipisahkan tersendiri dalam halaman-halaman berwarna. Padahal, pemandangan Ladakh dan Pegunungan Himalaya selalu memesona.

7. The Naked Traveler 4 (Trinity)

Masih sama dengan seri pertama, kedua, dan ketiga: tulisan-tulisan Trinity selalu ringan, tapi seru dan menarik. Di TNT keempat ini Trinity masih punya segudang cerita unik dan lucu tentang pengalamannya keliling dunia. Di sini dia juga memasukkan beberapa cerita tentang jalan-jalannya di Afrika.

Sebenarnya, (hampir) semua tulisan di buku ini bisa dibaca di blog Naked Traveler. Namun saya tipe orang yang masih suka baca buku kertas. Sebagian orang (termasuk saya) mungkin mulai bosan dengan gaya Trinity. Saya pribadi beranggapan, dengan kekayaan pengalaman keliling dunianya, mestinya Trnity bisa menulis sesuatu yang “beda”. Tapi mungkin itu bukan gaya dia ya. Still worth to read, though. Khususnya sebagai bacaan ringan yang tak menuntut kerut di kening.

8. The Casual Vacancy (J.K. Rowling)

The Casual Vacancy mengambil latar utama di sebuah kota kecil fiktif bernama Pagford. Ketika anggota dewan bernama Barry Potter Fairbrother meninggal karena pendarahan otak, kisah dalam buku ini mulai memunculkan tokoh-tokoh yang secara langsung atau tak langsung punya kaitan dengan tokoh Barry—yang selalu muncul walau sudah mati. Pencandu dan pengedar narkoba, seks bebas, kemiskinan, renggangnya hubungan orangtua dan anak, bullying di sekolah, cinta tak berbalas, perebutan jabatan di dewan kota, dan aneka macam permasalahan sosial yang dialami warga kota menjadi sajian dalam novel ini.

Betul memang alurnya lambat dan konfliknya nyaris datar-datar saja, namun menurut saya Rowling punya “sihir” yang membuat pembaca terpikat dalam sebuah karya fiksi yang “page-turner“. Seperti di Harry Potter, ciri khas Rowling adalah menghadirkan tokoh cerita yang buanyak, sehingga baca buku ini harus konsentrasi. Yang hebat, walau ada banyak karakter dalam novel ini, Rowling bisa meramu cerita sedemikian rupa sehingga semuanya tokohnya punya porsi cerita yang hampir sama, dan semuanya berwatak abu-abu—tak ada yang hitam-putih, sulit memilah apakah dia protagonis atau antagonis. Masing-masing tokoh terasa sangat nyata, karena sifat-sifat tersebut juga kita lihat dan rasakan setiap hari.

9. Perjalanan ke Atap Dunia (Daniel Mahendra)

Membaca sebuah catatan perjalanan (travel writing) itu sesungguhnya sangat menyenangkan. Selain menambah wawasan, pembaca juga dibawa ke negeri-negeri asing, seolah ikut melihat dan merasakan apa yang dialami penulisnya, berikut pergulatan batinnya.

Buku traveling berjenis memoar termasuk sedikit yang beredar di pasaran. Apakah dari sekian banyak traveler/backpacker itu hanya sedikit yang nulis? Wallahu ‘alam. Ada juga sih 1-2 buku traveling yang mengisahkan perjalanan penulisnya pakai sepeda motor. Tapi motornya moge macam BMW GS yang harganya ratusan juta. Yang begitu jelas bukan gaya jalan para backpacker. Harga motornya aja kalau dipakai buat keliling beberapa benua udah cukup, itu kalau saya yang pegang duitnya. *ngimpi*

Sinopsis buku ini bisa pernah saya muat di blog ini. Menurut gosip, Daniel akan menerbitkan versi fiksi buku ini tahun 2013.

10. The Time Keeper (Mitch Albom)

Dor adalah pencipta jam pertama di dunia. Dia dihukum karena mencoba mengukur anugerah terbesar dari Tuhan, diasingkan ke dalam gua hingga berabad-abad, dan dipaksa mendengarkan suara orang-orang yang minta diberi lebih banyak waktu. Lalu dia kembali ke dunia kita, dengan membawa jam pasir ajaib dan sebuah misi: menebus kesalahannya dengan mempertemukan dua manusia di bumi, untuk mengajarkan makna waktu kepada mereka.

Karya-karya Albom selalu hangat, penuh perenungan, dan penuh kalimat yang layak dijadikan kutipan motivasi. 🙂 Pesan buku ini sebenarnya sangat sederhana, tak ada yang berbelit-belit. Namun, bukankah terkadang keindahan itu tersembunyi dalam kesederhanaan? Saya suka gagasan di balik kisah ini—menghargai hidup kita tanpa terbelenggu oleh waktu (“bikinan” manusia). Karena ketika kita mulai menghitung waktu, kita lupa menghitung rahmat yang kita terima setiap saat dan lupa menikmati hidup dengan orang-orang yang kita kasihi. Buku semacam ini membuat saya lebih rileks dalam menjalani hidup—dan tak lupa bersyukur atas setiap nano detiknya.

***

Nah, apa buku-buku favoritmu sepanjang 2012? 😀

Perjalanan ke Atap Dunia

Judul: Perjalanan ke Atap Dunia: Tibet, Nepal, dan Cina dalam Potret Jurnalisme

Penulis: Daniel Mahendra

Penerbit: Medium (imprint Penerbit Nuansa Cendekia)

Cetakan I: Mei 2012

Tebal: 354 halaman

“Begitu banyak petualang, traveler, atau backpacker. Tapi sedikit sekali yang melakukan pekerjaan menulis.” ~ Gol A Gong

Awalnya agak susah mencari buku ini. Mungkin karena saya terlalu cepat mencarinya (dan terlalu bernafsu, karena saya doyan buku-buku kayak begini), padahal buku ini belum beredar di toko buku. Sampai suatu hari saya menemukan informasi tentang acara bedah buku ini di sebuah kampus swasta di Bandung, Sabtu 5 Mei lalu.

Acara tersebut sebenarnya dijadwalkan mulai pukul 19.00. Tapi waktu saya datang jam 20.00 pun acara belum juga dimulai. Hanya tampak beberapa orang (yang sepertinya panitia) di ruangan itu. Akhirnya saya hanya beli bukunya, tapi langsung pergi lagi karena ada acara lain. Lumayan, saya beli buku ini dengan harga Rp 39.900, lebih murah daripada harga aslinya yang Rp 58.000. 😛

Seminggu kemudian saya baru sempat membaca buku ini. Persisnya di kereta dalam perjalanan menuju Jogja. Saya memang selalu gelisah dan tidak tahan kalau bepergian tanpa membawa buku. Dan buku ini ternyata sangat pas dibaca dalam perjalanan saya dengan kereta malam itu.

Membaca sebuah catatan perjalanan (travel writing) itu sesungguhnya sangat menyenangkan. Pembaca dibawa ke negeri-negeri asing, seolah ikut melihat dan merasakan apa yang dialami penulisnya, berikut pergulatan batinnya. Perjalanan ke Atap Dunia berkisah tentang mimpi Daniel Mahendra. Saat masih kecil ia begitu terpukau pada komik Tintin berjudul Tintin di Tibet. Selain itu ia juga sangat menggemari kisah petualangan Balada Si Roy karya Gol A Gong (tak pelak, soul buku ini pun terasa sangat Gol A Gong). Belum lagi saat ia menonton film Seven Years in Tibet. Makin lengkaplah segala hal yang mendorongnya pergi ke negeri yang berada di dataran tertinggi di dunia tersebut.

Persiapan sebelum berangkat pun ia ceritakan dengan detail. Awalnya Daniel hendak pergi bersama seorang kawannya, namun karena ada halangan ia akhirnya harus pergi sendiri. Singkat cerita, Daniel pun berangkat dengan Thai Airways, menginap semalam di bandara Suvarnabhumi di Bangkok, lalu mendarat di Chengdu, Cina. Dari Chengdu perjalanan diteruskan lewat jalan darat.

Sungguh asyik saat menyimak kisah Daniel naik kereta yang perlahan-lahan melaju ke daratan tinggi, hingga ribuan meter dari permukaan laut. Kemudian saat Daniel menjalin pertemanan dengan beberapa backpacker dari negara-negara lain, jatuh cinta kepada seorang gadis Perancis yang sedang studi doktoral di India, bergantian terkena Acute Mountain Sickness (aneka penyakit yang timbul akibat berada di ketinggian ribuan meter) bersama Juan Carlos Muñoz, pemuda Amerika Latin namun berkewarganegaraan Amerika Serikat. Atau saat Daniel mengamati kehidupan warga Muslim Tibet yang minoritas dan sholat bersama mereka. Juga cara Daniel mengisahkan betapa sebalnya dia karena nama Indonesia ternyata tak terlalu dikenal oleh orang-orang dari negara lain, entah dia disangka orang Malaysia, atau saat dia bertemu orang yang betul-betul tidak tahu di mana itu Indonesia—kecuali saat sudah diberitahu bahwa Indonesia itu terletak di dekat Singapura dan Malaysia. Pendek kata: seru!

Daniel menuliskan pengalamannya dengan bahasa yang enak dan mengalir, namun hal ini tak mengurangi bobot tulisannya. Ia juga tak lupa menyelipkan potongan kisah yang ironis tapi disampaikan dengan kocak. Misalnya saat ia melihat kebiasaan warga Cina yang terkenal itu: berdahak keras dan meludah sembarangan. 🙂 Daniel menulis: “Bukankah aku sedang berada di negara mereka? Mengapa aku harus jijik dengan kebiasaan mereka hanya karena aku datang dari negara yang tidak memiliki kebiasaan seperti itu?” Pemikiran yang cukup adil, saya kira, walau belum tentu semua orang setuju. Yang saya suka, Daniel selalu menyelipkan kutipan-kutipan indah pada awal setiap bab yang dia tulis.

Daniel juga gelisah. Awalnya dia sangat gembira karena akhirnya bisa mengunjungi negeri yang diimpikannya sejak lama. Namun saat ia memasuki kuil-kuil dan melihat para biksu yang sedang berdoa dijadikan tontonan oleh para turis, hatinya berontak. Tapi ia sedikit bisa berkompromi saat melihat bahwa para biksu itu pun tampak tidak peduli dan tetap khusyuk merapalkan kitab suci mereka.

Foto-foto berwarna di dalam buku. Sayang kurang banyak 🙂

Buku ini dilengkapi dengan foto-foto berwarna dan diberi kata pengantar oleh Gol A Gong—yang isinya tak kalah asyik dibanding tulisan Daniel. Yang lucu, Gol A Gong tampak “geram” saat Daniel meminta dibuatkan kata pengantar: “Huh! Sialan sekali Daniel ini! Baru juga ke Tibet, sudah menulis buku!” 😛 Kemudian Gol A Gong pun mendidih dan adrenalinnya berontak. Naluri petualangannya muncul akibat membaca tulisan Daniel ini….hehehe!

Ya, saya kira memang begitu rasanya saat kita membaca catatan perjalanan orang lain—kita seolah ikut melihat pemandangan yang dikisahkan penulisnya, merasakan pergulatan batin penulisnya.

Walau demikian, ada beberapa catatan dari saya:

1. Subjudul Tibet, Nepal, dan Cina dalam Potret Jurnalisme tidak cocok dengan isinya. Setelah rampung membaca buku ini, menurut saya tulisan Daniel sama sekali bukan sebuah tulisan jurnalistik. Emosi dan pergulatan batin penulis sangat kuat di sini. Buku ini jelas sebuah memoar, lebih tepatnya lagi catatan perjalanan. Contoh buku catatan perjalanan yang ditulis dengan gaya jurnalistik adalah buku Haji Nekat yang resensinya saya tulis di blog ini juga.

2. Ada beberapa typo dalam buku ini. Misalnya di halaman 21, tertulis “Traveling, al you have to do…” (ya, kurang satu ‘l’). Kemudian di halaman yang sama ada tulisan begini: “Suhu udara yang minus 0° Celcius terasa….”. Hmm, menurut saya sih nol ya nol, tidak ada namanya -0°, kan? Kemudian dalam buku ini bandara di Bangkok itu selalu ditulis Survanabhumi, padahal yang benar adalah Bandara Suvarnabhumi.

3. Cap bertulisan “Menggapai Impian, Meraih Makna Perjalanan” itu sama sekali tidak perlu. Kalimat tersebut berbau buku motivasi, padahal ini travelogue—memoar dan catatan perjalanan Daniel Mahendra. Cover-nya sendiri sudah oke, gambar rel kereta di tengah kepungan gunung, sepi dan melankolis.

Namun, terlepas dari sedikit kekurangan di atas, saya harus mengakui bahwa ini buku keren. Jangan berpikir bahwa catatan dari saya di atas lantas membuat buku ini jadi tidak asyik disimak. Tebalnya yang 350-an halaman malahan terlalu tipis rasanya buat saya, karena kisah perjalanan Daniel ini sangat menarik. Mestinya ada lebih banyak traveler/backpacker yang menuliskan pengalamannya. Soalnya buku panduan traveling sudah terlalu banyak.[]