Tag Archives: rasisme

Balada Ukraina #26

Salah satu sudut kota Dnipro.

Salah satu sudut kota Dnipro.

Setelah mandi, saya mulai bisa tenang dan berpikir jernih. Saya tahu, tindakan Vova sangat berisiko. Bagaimana kalau para pemuda itu besok-besok melakukan sweeping? Mudah sekali mencari anak muda Asia Tenggara berkulit cokelat di sini, karena sayalah satu-satunya orang itu. Ada apa sih dengan orang-orang macam ini? Sekarang saya jadi tahu rasanya jadi minoritas. Batin benar-benar tersiksa. Tapi, di luar itu, sejujurnya saya sangat berterima kasih kepada Vova—bahkan senang sekali ada orang yang menghajar bangsat-bangsat rasis itu untuk membela saya.

Saya lalu memutuskan menelepon beberapa orang malam itu. Pertama, saya menelepon tiga anak AIESEC: Nik, Julia, dan Nastya. Tentu saja mereka terkejut mendengar cerita saya. Kami lalu janjian ketemu esok harinya di resto Mr. Smak.

Nik meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan meminta saya bersabar. “Aku akan memberi tahu semua anggota AIESEC di Dnipro lewat mailing list kami dan lewat SMS.”

“Terima kasih, Nik,” saya menutup percakapan.

Kedua, saya menelepon Oleg. Ia berjanji akan melakukan sesuatu Senin minggu depannya, membicarakan hal ini dengan pihak sekolah.

Ketiga, saya menelepon Mas Arif, sekretaris di KBRI Kiev, tapi tak diangkat. Dia menelepon balik setengah jam setelah menerima SMS saya. Mas Arif sendiri sedang berada di Odessa untuk urusan dinas. 

“Halo, Indra! Gak apa-apa, kan?”

“Gak apa-apa sih, Mas. Cuma jadi makin ngeri aja kalo lagi di jalanan,” jawab saya.

“Gimana sih kejadiannya? Kok bisa begitu?”

Saya menceritakan semuanya dengan terperinci, lengkap dengan adegan kekerasan yang dilakukan Vova.

“Waduh, Ndra! Kok pake acara bikin bocor kepala orang segala?”

“Yaa, gimana lagi, Mas? Temen saya tuh lagi marah banget…”

Mas Arif lalu bercerita bahwa ada staf KBRI yang juga pernah mengalami perlakuan rasisme di jalanan Kiev. Namanya Pak X. Waktu ia sedang memasuki mobilnya, sebelum sempat menutup pintu mobil, tiba-tiba beberapa pemuda skinhead tanpa permisi langsung memukulinya. Pak X sempat diseret menjauh dari mobil sebelum ia berhasil lari ke mobilnya untuk mengambil pistol. Para berandalan itu sudah berlari cukup jauh ketika Pak X mengacungkan pistolnya.

Mendengar cerita itu, saya jadi makin khawatir. Pasalnya juga, beberapa hari sebelumnya saya sempat menonton satu program di TV yang mengangkat topik rasisme. Acara itu menunjukkan beberapa video yang sepertinya dibuat oleh beberapa geng rasis. Ada pula liputan tentang kehidupan seorang pemimpin geng rasis. Tubuhnya dipenuhi tato, kepalanya botak licin, setiap hari berlatih angkat beban, tapi kehidupannya normal sekali. Lelaki itu punya anak lelaki yang masih balita, istrinya juga cantik. Tapi, seramnya, acara itu juga menunjukkan beberapa dokumentasi “kegiatan” si botak rasis ketika sedang beraksi bersama gengnya di jalanan. Ia bahkan tak segan-segan menyerang sekelompok demonstran yang sedang berunjuk rasa menentang rasisme. “Untungnya”, kelompok rasis itu ada di di Rusia.

“Kalau dari jauh udah liat sekelompok orang, apalagi yang lagi minum, kamu nyeberang aja, pindah jalur. Atau pura-pura masuk ke toko,” Mas Arif menyarankan. “Hindari jalanan sepi, dan kalau bisa, kamu jangan jalan sendirian kalau malam. Pokoknya, hati-hati, ya!”

Setelah menelepon semua orang itu, saya jadi sedikit tenang. Setidaknya, orang-orang penting sudah saya hubungi semua.

***

Dnipro sebenarnya kota yang cukup indah, apalagi saat musim semi dan panas.

Dnipro sebenarnya kota yang cukup indah, apalagi saat musim semi dan panas.

Sabtu siang, Julia sudah menunggu saya di Mr. Smak. Sambil menemani saya makan banyak (maklum pake kupon gratis), Julia mendengarkan cerita saya dengan wajah prihatin. Tak lama, Nik pun datang. Dia bilang, Nastya titip salam, tidak bisa datang karena ada keperluan lain.

Saya jadi mengulang cerita yang sudah saya katakan kepada Julia.

“Indra, kuharap kau paham bahwa ini bukan kejadian biasa. Rasisme hampir tidak pernah terjadi di sini. Aku tidak pernah dengar ada orang asing diperlakukan seperti itu di Dnipro.”

“Ya, ya…aku paham. Tapi kau tentu juga paham bahwa aku shock. Tidak nyaman rasanya berada di jalanan dan ada orang-orang yang menatapku hanya karena warna kulitku berbeda.”

Lalu, saat saya ngobrol dengan Julia, Nik permisi mau menelepon seseorang di luar. Tak sengaja saya sempat curi dengar, tampaknya Nik menelepon Vova. Saya khawatir Vova lagi dimarahin Nik karena aksi heroiknya tadi malam.

Tak lama, Sveta dan seorang anak muda lain datang. Anak ini bernama Vova (lagi!), anak AIESEC juga, yang baru pertama kali saya temui. Yeah, banyak sekali Vova di negara ini. Supaya nggak keliru, kita sebut saja dia Vova B—akronim nama belakangnya. Pemuda ini punya anting di telinga kirinya. Orangnya tidak terlalu tinggi, berdagu tegas, dengan wajah sedikit kasar dan sangar, tapi cewek-cewek Indonesia pasti termehek-mehek melihatnya. 😛 Anak-anak AIESEC menjulukinya dancing Vova—karena dia jago breakdance dan aneka street dance lainnya. Vova B sedang bermain bola bersama beberapa orang lain di depan resto Mr. Smak. Yeah, another Vova in my Ukrainian life. 🙂

Setelah (saya) makan, saya, Vova B, Julia, dan Sveta jalan-jalan di sekitar situ. Nik pamit karena punya urusan lain. Resto Mr. Smak terletak di sebuah pedestrian berkonblok sepanjang 150 meter bernama Theatralniy Bulva. Di sepanjang jalan itu, selain ada resto dan kafe, juga ada banyak kios yang menjual buku-buku bekas, DVD, dan game komputer. Di ujung jalan, dekat sebuah gedung teater, kami membeli secangkir plastik teh panas, dan sambil minum kami melihat-lihat pedagang kaki lima yang banyak berjualan di situ. Di bawah sebuah patung-entah-apa, beberapa orang tua menjual pernak-pernik sisa Perang Dunia II: jas jenderal Soviet, pin-pin berbau militer, koin-koin kuno zaman soviet, dan banyak lagi.

Puas nongkrong dan ngobrol-ngobrol, kami pun berpisah. Sebelum pergi, Vova B meminta nomor ponsel saya. “Simpan nomor ponselku, ya. Aku kerja magang di dekat sekolahmu. Kalau ada apa-apa, telepon saja aku,” katanya dengan bahasa Inggris logat Ukraina—harus konsentrasi dengernya. 😛

Yah, setidaknya kini saya merasa lebih tenang setelah bertemu teman-teman.

***

Seninnya, menjelang pulang mengajar, Oleg menghampiri saya. “Good news. Aku sudah bertemu dengan kepala sekolah. Dia memutuskan, mulai hari ini, setiap kau pulang dari sekolah, ada satu satpam yang akan menemanimu ke halte sampai kau naik trem atau marshrutka.”

Saya bengong. “Oleg, apa itu tidak berlebihan?”

“Yaah….cuma untuk berjaga-jaga. Kami tidak ingin kau mengalami kejadian semacam itu lagi. At least, that’s all we can do about this. Hati-hati juga di jalan. Satpamnya tidak mungkin menemanimu setiap saat.”

Jadilah mulai sore itu seorang satpam menemani saya sampai ke halte setiap sore sepulang dari sekolah. Namanya Alexei. Seperti umumnya orang Ukraina, atau mungkin karena dia satpam, wajahnya dingin dan kaku. Badannya tinggi besar. Cocok sekali jadi petugas keamanan. Sering ia berjalan sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya. Mungkin juga ada pistol di baliknya—tapi sepertinya itu hanya khayalan saya. Dia juga pelit bicara, jadi kami lebih banyak diam ketika sedang berjalan kaki. Stok basa-basi saya dalam bahasa Rusia juga sudah habis.

Kikuk juga rasanya. Tapi, bagaimanapun, seumur hidup baru kali ini saya punya bodyguard pribadi! 🙂 []

Balada Ukraina #25

Suasana kota Dnipro saat senja tiba.

Suasana kota Dnipro saat senja tiba.

Saat itu hari Jumat. Kebetulan malamnya saya tidak punya jadwal mengajar di Big Ben, jadi saya mengajak teman-teman nonton film di acara mingguan English Club. Setiap Jumat malam, komunitas English Club mengadakan acara pemutaran film di gedung History Museum. Selain dikelola anak-anak muda Dnipro, ada juga beberapa ekspatriat dari Amerika yang memandu acara.

Pesertanya kebanyakan adalah mahasiswa dan pelajar Dnipro yang ingin memperdalam kemampuan bahasa Inggris mereka. Jadi, sebelum film dimulai, biasanya MC mengajak ngobrol para penonton dulu, kemudian mereka memutar slide yang berisi beberapa potongan dialog yang diambil dari film yang akan diputar, lalu 1-2 orang Amerika itu akan membahas serangkaian vocabulary yang ada dalam dialog, plus beberapa kalimat expression. Dengan begitu, saat film diputar, peserta sudah memahami kosakata dan kalimat-kalimat ekspresi yang ada dalam dialog film.

Foto pinjam dari sini.

Foto pinjam dari sini.

Malam itu saya nonton bareng Julia, Sveta, dan Vova, sambil makan shaurma. Film kali ini adalah Shooter yang dibintangi Mark Wahlberg, diputar menggunakan subtitle bahasa Inggris. Pulangnya, kami berjalan kaki sambil bercanda dan membahas film yang baru kami tonton. Tak banyak orang berlalu lalang, padahal saat itu masih terbilang ‘sore’, jam 9 malam. Julia dan Sveta pulang ke arah yang berbeda dengan saya dan Vova, jadi kami berpisah di jalan. Saya dan Vova memilih berjalan kaki ke Alun-alun Lenin, mungkin nongkrong sebentar sebelum pulang.

Saat kami menuruni Jalan Karl Marx menuju Alun-alun, sekelompok anak muda berjalan dari arah berlawanan. Seorang dari mereka berjalan agak dekat dengan saya. Saya dan Vova begitu asyik mengobrol sampai tiba-tiba saya merasa wajah saya seperti tepercik sesuatu yang basah dan kental. Tadinya saya pikir hujan turun.

Vova tampaknya juga menyadari bahwa ada yang tidak beres. Dia tampak bingung sambil menengok bolak-balik antara saya dan gerombolan sialan itu. Saya baru sadar sedetik kemudian. “Shit! He spat on my face!” teriak saya sambil mengelap wajah dengan lengan jaket. Kenapa? Pasti karena warna kulit saya. Apa lagi memang alasannya? Tapi, para pemuda tadi tampak biasa, seperti mahasiswa. Kepala mereka tidak botak licin, lehernya tidak bertato, rahangnya tidak tegas bentuknya, badannya juga tidak kekar/gempal—ciri khas skinhead atau geng rasis yang setidaknya bisa saya temukan pada tubuh-tubuh mereka.

Vova cepat tanggap. Dia berjalan menghampiri mereka sambil melontarkan makian dan tampak siap berkelahi. Enam pemuda itu hanya menoleh sekilas dan berjalan terus seakan tak terjadi apa-apa. Tapi si pemuda yang meludahi saya tadi tampak mengatakan sesuatu.

Semua detail kejadian tadi berlangsung begitu cepat, tapi saya masih bisa berpikir dengan kepala dingin. Mereka berenam, dengan badan lebih tinggi dan lebih besar daripada kami. Vova hanya satu-dua sentimeter lebih tinggi daripada saya. Tubuhnya pun tidak lebih besar daripada saya. Saya tahu dia jago aikido, tapi kalau sampai kami berkelahi dengan lawan yang berjumlah lebih banyak dan berbadan lebih besar, kedengarannya sangat konyol. Di luar negeri pula!

Saya cepat-cepat meraih bahunya dan menghalanginya bertindak lebih jauh. “Vova, biarkan saja! Aku tidak apa-apa!” Tentu saya juga marah, tapi bisa apa kami menghadapi enam orang itu? Jangan-jangan saya hanya akan babak belur. Meringkuk di ranjang rumah sakit dengan perban di sana-sini, absen mengajar selama sekian hari atau minggu. Itu bayangan yang mengerikan!

Saya berhasil menghalangi Vova dan memepetnya ke tembok sebuah toko. “Sudahlah, Vova! Biarkan saja mereka,” bujuk saya. Vova mulai bertingkah seperti orang gila. Dia mengacak-acak rambutnya dan menyemburkan sumpah serapah bahasa Rusia. Kakinya melayang menendangi pohon atau pot tanaman di trotoar. Matanya merah karena marah dan malu. Saya tahu dia malu. Ada orang yang melecehkan tamunya di negerinya sendiri dengan tindakan rasisme.

Dia kemudian menatap nanar ke arah para pemuda tadi menghilang. Tiba-tiba dia berkata, “Kau bisa lari kencang?”

Kening saya berkerut. “Memang kenapa?”

“Ayo, ikut aku!”

“Vova!”

Saya terpaksa mengikutinya berlari ke belokan gang di samping tempat insiden tadi terjadi. Satu blok kemudian, ternyata ada pagar kawat setinggi dua meter menutupi jalan. Keadaannya remang-remang di situ. Vova berhenti di depan sebuah pintu besi di sebelah kanan. Ia mendorongnya. Tidak terkunci. Saya mengikutinya masuk ke dalam. Gedung itu hanya sebuah apartemen biasa. Lantai dasarnya remang dan lembap. Selain pintu tempat kami masuk tadi, di sisi lain lantai dasar gedung itu juga ada satu pintu lagi. Vova membukanya. Pintu itu menghadap ke gang lain. Kalau berjalan ke kanan, di ujungnya pasti bertemu dengan jalan yang akan dilewati para pemuda tadi. Kota Dnipro, seperti umumnya kota-kota lain yang pernah menjadi wilayah Uni Soviet di masa lalu, memang ditata dengan sistem grid alias kotak-kotak dan lurus. Jadi, tak sulit menebak jalan mana bakal tembus ke jalan mana.

“Kau tunggu di sini…dan jangan tutup pintu ini!” katanya sambil berlari meninggalkan saya.

“Hei, kau mau ngapain?” Vova sudah telanjur berlari dan menghilang dalam kegelapan.

Saya bingung dan cemas. Apa yang akan ia lakukan? Sekitar lima menit saya menunggu di situ, ketika suara tapak kaki orang berlari berangsur makin dekat dan jelas. Vova berlari masuk, membanting pintu besi, dan memasang gerendelnya. Suara gaduh itu memekakkan telinga di tengah ruangan kosong itu.

“Ayo, lari!” Vova menarik tangan saya dan kami berlari keluar gedung melalui pintu pertama. Persis ketika kami keluar, pintu yang baru saja digerendel Vova digedor-gedor dengan keras. Saya jadi panik. Ini pasti ada hubungannya dengan para pemuda tadi. Apakah mereka sedang mengejar kami?

Kami berlari cepat sekali dan membelok ke kanan melewati tempat saya diludahi tadi. Kalau sampai gerombolan tadi berhasil menyusul kami, bisa-bisa saya digilas jadi dendeng di negeri asing ini. Sebuah marshrutka tampak mendekat dan Vova segera melambaikan tangan untuk menyetopnya. Kami melompat naik dengan tergesa-gesa dan marshrutka pun kembali melaju.

Vova, what the hell was that?!” tanya saya tersengal-sengal. Vova, sambil terbatuk-batuk dan menepuk-nepuk dadanya, hanya cengengesan. Ia beberapa kali melirik spion mobil untuk memastikan kami tidak sedang dikejar. Para penumpang lain menatap heran melihat dua anak muda berbeda ras yang sedang ngos-ngosan ini.

Begitu ia menoleh kembali ke arah saya, tampak ada sesuatu di hidungnya. “Dude! Your nose is bleeding!” kata saya ngeri.

Tapi Vova cuma mengelap hidungnya dengan bahu tangan. Saya lihat lengan jaketnya robek sedikit. Dia lalu bercerita, dia sengaja mencari gerombolan orang yang salah satunya meludahi saya tadi. Dia mengambil jalan pintas memutar dan menemukan mereka sedang berjalan ke arahnya. Lalu pelan-pelan dia mendekati mereka sambil berlagak sedang berjalan santai. Vova masih ingat bahwa pemuda yang meludahi wajah saya berjaket putih.

Untungnya, orang-orang yang menyerang saya tidak semengerikan ini. Foto pinjam dari sini.

Untungnya, orang-orang yang menyerang saya tidak semengerikan ini. Foto pinjam dari sini.

Dalam keremangan, dia melihat hanya satu yang berjaket putih, yang lainnya berpakaian warna gelap. Mereka tak mengenalinya karena jalan itu agak gelap. Begitu jarak mereka makin dekat, Vova menghajar hidung pemuda berjaket putih sampai patah, menendang jatuh seorang lagi yang mencoba membantu temannya, dan menghajar kepala orang ketiga dengan botol vodka sampai botolnya pecah (!). Semuanya berlangsung sangat cepat, namun satu orang berhasil menonjok wajah Vova. Tiga orang yang belum kena hajar kemudian mengejar Vova.

Ternyata….itulah sebabnya Vova membawa saya ke lantai dasar gedung tadi. Dia hafal wilayah itu. Setidaknya, pintu yang satunya dan pagar setinggi dua meter tadi akan menghalangi mereka dan memberi kami waktu untuk melarikan diri.

Saya cuma bisa bengong. “Bagaimana kalau orang yang kau hajar itu bukan orang yang meludahiku?”

“Apa bedanya? Dia meludahi temanku tanpa alasan, dan aku meremukkan kepala temannya! Tampak adil bagiku,” jawabnya enteng.

“Kau sinting!” sahut saya nyaris tersedak. “Tapi, dari mana kau dapat botolnya?”

“Orang ketiga memang sedang minum, jadi kurebut botolnya dan kuhajar kepalanya karena dia mencoba menyerangku juga.”

“Kau…gila!” kata saya sambil terbatuk-batuk. Tapi kemudian, diiringi tatapan heran para penumpang, kami malah tertawa terbahak-bahak. Kami kemudian turun di alun-alun Lenin untuk “merayakan” malam yang gila ini. Kami membeli vanilla coke di sebuah kios dan berjalan kaki menuju apartemen saya. Di jalan, kami menemukan apotik yang masih buka. Vova membeli obat merah dan kapas untuk menyumpal hidungnya dan mengoles beberapa lecet di punggung tangannya. Mungkin kena pecahan botol vodka tadi.

“Kau tidak apa-apa pulang sendiri? Mungkin malam ini kau bisa menginap di apartemenku,” kata saya.

“Oh, tidak. Tidak apa-apa. Ini cuma luka kecil, kok. Ayo, kuantar kau pulang dulu.”

Sebenarnya saya bisa saja pulang sendiri. Jarak dari alun-alun ke apartemen saya hanya sekitar satu kilometer. Tapi, setelah kejadian tadi, Vova tampaknya tidak mau mengambil risiko dan ia memaksa menemani saya pulang.

“Maafkan kejadian tadi, kawan. Aku tidak menyangka ada orang Ukraina yang begitu memalukan,” katanya ketika tiba di depan gedung apartemen saya.

“Itu sama sekali bukan salahmu. Lupakan saja.”

“Kalau begitu…selamat malam. Kita ketemu lagi besok?”

“Kapan saja, Vova. Telepon saja aku,” jawab saya tersenyum.

Kami mengangkat botol-botol plastik kami dan bersulang. “Take care, man,” kata saya. Vova kemudian berjalan menuruni bukit. Semoga masih ada marshrutka malam itu.

Saya naik ke lantai tiga dan masuk ke kamar. Badan lengket berkeringat, napas tersengal-sengal. Ini benar-benar malam yang gila dan melelahkan. Dengan anak muda gila yang setia kawan luar biasa. Ah, rasanya saya butuh mandi air panas sebelum tidur. []

(Bersambung)

Balada Ukraina #24

Setelah insiden kentut dan di-bully pemuda rasis minggu lalu, minggu berikutnya saya mendapatkan kejutan yang sangat menarik. Saat jam pelajaran saya untuk kelas 7, empat anak masuk. Sergey, Kyryl, Vova, dan Yulia.

Saat itu saya hanya mempersiapkan materi listening sambil menambah vocabulary. Yang bikin beda, tak lama setelah anak-anak itu masuk, kepala sekolah ikut masuk. Jadi, itulah sebabnya anak-anak tampak kalem saat masuk kelas tadi. Biasanya mereka masuk sambil berteriak-teriak seperti orang demo.

Bu Kepsek ini memang punya aura menakutkan. Cocok banget jadi kepala sekolah. Berwajah kaku, bertubuh tinggi kurus, dengan aura keanggunan yang terasa dingin mencekam, seperti Dementor di Harry Potter. Secara fisik, Bu Kepsek mengingatkan saya pada karakter Prof. McGonagall. Hanya, perempuan ini seperti tak pernah tersenyum seumur hidup. Pelit senyum, pelit bicara. Dan dia tidak bisa bahasa Inggris. Atau mungkin dia mengerti, tapi cuma malas ngomong.

Saya jadi paham kenapa anak-anak kelas 7 begitu takut sama Bu Kepsek, karena saya juga gemetar kalau berada di dekatnya. Sampai-sampai saya lupa siapa nama Bu Kepsek ini. Sejak awal, komunikasi saya hampir selalu dengan Oleg. Ketemu Bu Kepsek juga hanya 1-2 kali waktu diperkenalkan dulu.

Sementara Bu Kepsek duduk tenang di belakang, saya menyiapkan materi. Untuk 20 menit pertama, saya membagikan kertas berisi lirik lagu What I’ve Done-nya Linkin Park, dengan 10 kata saya ganti dengan titik-titik. Saya ingin mereka berlatih listening dengan lagu itu. Hasilnya benar-benar di luar dugaan…

Empat anak bandel itu dengan semangat malah bernyanyi bareng-bareng. Terutama bagian reffrain-nya:

“What I’ve doneeee…!!
I’ll face myself
To cross out what I’ve become
Erase myself
And let go of what I’ve doneeee…!!”

Seru sekali melihat mereka nyanyi bareng-bareng begitu. Sergey dan Vova bahkan sampai mengangkat tangan dan mengangguk-anggukkan kepala saking semangatnya, seolah sedang menonton konser Linkin Park live! Mereka bahkan minta lagunya diputar sekali lagi. Saya melirik Bu Kepsek. Masih saja dingin tanpa ekspresi. Saya jadi khawatir dia tidak menyukai cara mengajar saya. Habis itu, kami sama-sama mengecek jawaban, lalu membahas apa kira-kira makna lirik lagu ini dan kata-kata yang belum mereka pahami.

Tak perlu ada jawaban yang benar soal makna liriknya. Saya hanya ingin mereka menyampaikan secara lisan apa yang mereka pikirkan saat menyimak lagu dan lirik lagunya. Dan ternyata mereka memahami dengan cukup bagus untuk anak seumuran mereka.

I think this song is about someone who made mistakes,” kata Kyryl. Hmm, not bad.

“…and then maybe he feels sorry,” Sergey menambahkan.

So, when you make mistakes, or when you hurt someone accidentally, do you apologize?” tanya saya.

Yeap!” jawab anak itu yakin, seolah lupa insiden kentut minggu lalu itu. Dasar bocah! 🙂

Dua puluh menit terakhir (satu jam pelajaran = 40 menit), saya mengajak mereka bermain-main mencari persamaan kata-kata dalam British dan American English. Untuk pertama kalinya, saya merasa sedang mengajar anak-anak kelas 7 yang pintar, manis, dan sopan. Sebagai guru (walaupun gadungan), sebenarnya kepuasan mengajar ada di saat-saat seperti ini. Ketika para murid patuh dan mau diajak bekerja sama. Sayangnya, saya tidak punya kemampuan yang cukup untuk mengatasi anak-anak yang sulit diajak kerja sama.

Usai jam pelajaran, setelah ruangan saya sepi, Oleg masuk. 

“Nah, bagaimana?” tanyanya.

Saya masih terbengong-bengong saat itu. “Oleg, you wouldn’t believe it! Anak-anak tadi betul-betul manis dan menyenangkan! Gila!”

Oleg terbahak-bahak. “Tentu saja, karena mereka diawasi kepala sekolah! Tapi bagus lah, setidaknya kau bisa melihat sisi lain dari anak-anak setan itu. Mereka sebenarnya pintar-pintar, kok!”

“Pintar memang iya. Tapi soal manis dan sopan, itu baru kelihatan tadi!” balas saya.

Kami pun ketawa bareng-bareng.

“Oh, satu lagi,” sela Oleg. “Kepala sekolah menyukai cara mengajarmu.”

DENGGG!!!!

Saya langsung cengengesan girang. 😀

***

Sabtu, kalau sedang tak ada jadwal mengajar di Big Ben, saya biasanya menyempatkan mampir ke game center. Bukan untuk main online game, tapi untuk ngecek e-mail atau mencari materi ajar. Soalnya, di sekolah belum ada akses internet yang bisa digunakan. Payah deh… 😦

Biasanya saya ngecek e-mail di game center dekat sekolah, tapi kali itu saya mau coba yang di dekat apartemen. Baru juga nongkrong 15 menit, saat saya sedang mengetik e-mail untuk ibu dan istri, seorang pemuda mendekati saya. Semua monitor komputer di situ menghadap koridor, jadi semua orang bisa melihat monitor orang-orang lain.

rubel

Tulisan tangan “kenang-kenangan” dari tukang palak yang gagal. 😀

Awalnya dia cuma menegur biasa dan menanyakan saya orang mana. Lama-kelamaan…dia minta duit. Sejak awal saya meladeni omongannya dengan bahasa Inggris dan selalu bilang, “Saya tidak bisa bahasa Rusia.” Karena sebal, dia mengambil buku catatan saya, lalu menulis dalam bahasa Rusia, “Beri saya uang rubel kertas.” Lho, kok rubel? Itu kan mata uang Rusia?

Tapi saya pura-pura bego dan terus mengangkat bahu. Dia bahkan menggambar uang kertas di buku saya, dan akhirnya menunjukkan uangnya. Tapi seorang babushka yang sedang mengepel lantai menghampiri kami. Tampaknya dia sudah memerhatikan saya diganggu dari tadi. Mereka beradu mulut selama beberapa saat, sebelum akhirnya si pemuda tadi menyingkir. Lalu perempuan itu mengatakan kepada saya, “Jangan dengarkan orang ini. Dia gila,” katanya sambil menempelkan ujung telunjuk ke pelipisnya dan memutar jarinya itu. Itu memang gestur orang Ukraina untuk mengatakan “gila”.

Tapi setelah babushka itu pergi, pemuda tadi kembali. Masih juga meminta uang. Lama-lama kok tambah agresif, karena dia mulai colek-colek pundak saya. Untunglah saya sudah selesai. Saya keluarkan sekeping uang logam 50 kopeck (sekitar Rp1000) dan saya letakkan di meja, lalu kabur, diikuti pandangan heran seorang gadis berambut pirang di meja admin.

Ngomong-ngomong, bukannya saya kabur nggak bayar, tapi memang sistem di game center di Ukraina itu bayar di awal. Jadi, misalnya saya hanya ingin menggunakan internet untuk satu jam, maka saya bayar paket sejam. Kalau setelah sejam kerjaan saya belum selesai, akses internet akan putus sendiri, setelah muncul pop-up peringatan lima menit sebelumnya.

Trauma dengan kejadian minggu lalu, saya mempercepat langkah sambil sesekali menengok ke belakang. Takut si pemuda tukang palak tadi mengikuti saya. Ah, belakangan saya makin merasa tidak aman di kota ini.[]

(Bersambung)

Balada Ukraina #23

Kejadian dimaki orang di jalanan minggu lalu sudah saya lupakan. Kegiatan mengajar di EG juga berlangsung seperti biasa. Sementara, pekerjaan mengajar di Big Ben semakin bervariasi. Suatu hari, saya ditelepon oleh Nataliya, bos saya di Big Ben. Ia dan Janna, salah seorang pengajar di Big Ben, akan menjemput saya sekitar jam 16.15 di perempatan dekat EG.

Sore itu ia akan mengajak saya ke BADM, sebuah perusahaan farmasi, corporate client baru Big Ben. Beberapa manajer di sana oleh perusahaan diberikan fasilitas kursus bahasa Inggris khusus percakapan. Kebetulan Big Ben mendapat proyek tersebut, dan kebetulan mereka sedang mempunyai guru asing. Lumayan buat menambah gengsi tempat kursus yang sebenarnya tak terlalu besar itu. Jadilah saya dibawa sore itu ke sana.

Beberapa saat sebelum jam makan siang tiba, berandal-berandal kelas 7 kembali membuat ulah di kelas saya. Seperti biasa, mereka tidak bisa diam. Lompat sana, lompat sini, jungkir balik di meja. Tapi saat itu mereka membuat kesalahan fatal. Sergey saat itu sedang duduk di atas meja, tiba-tiba dia menungging dan…kentut di depan saya (!). Tampak sangat disengaja. Saya marah luar biasa. Tapi, saya masih bisa menahan diri untuk tidak menampar bocah itu.

“Oke, sekarang kalian sudah kelewat batas! Siap-siap nanti dipanggil kepala sekolah!” saya mengancam.

Mereka panik. “Tidak! Tidak! Tunggu! Itu tadi tidak sengaja!” Kyryl membela temannya. Yang lain juga ikut merubungi saya, meminta saya tidak melapor ke kepala sekolah.

Saya mengamati sesuatu. Wajah mereka luar biasa panik. Tadinya saya kira mereka tidak takut kepada siapa pun. Mungkin di situ kuncinya.

“Aku biarkan kalian bebas di kelas selama ini. Tapi sekarang…habislah kalian!” Persis saat itu bel berbunyi. Jam pelajaran saya sudah usai. Agar mereka tidak terus-terusan merubungi saya, saya bilang akan pikir-pikir dulu. Saya minta mereka berjanji untuk tidak rusuh lagi di kelas saya, dan mereka menyanggupi.

Tapi, saya tidak sebaik itu. Begitu Oleg kembali ke ruangan, saya ceritakan semuanya.

What?” Oleg rupanya lupa kata fart (kentut). Jadi saya harus pantomim sedikit. Dia terdiam, lalu geleng-geleng.

“Oke, aku akan menemui kepala sekolah habis ini. Itu memang sudah keterlaluan.”

Dan terjadilah. Saya melihat beberapa anak laki-laki kelas 7 masuk ke ruangan kepala sekolah tak lama kemudian, setelah jam makan siang selesai. Sorenya, menjelang jam pulang sekolah, beberapa anak kelas 7 melewati ruangan saya.

You said you won’t tell the headmaster,” kata Kyryl, yang kayaknya jadi “wakil” kelas 7 karena bahasa Inggrisnya paling bagus.

If that doesn’t stop you guys, I don’t know what else to do,” jawab saya cuek sambil mengangkat bahu.

Oleg masuk ke ruangan setelah itu. Dia memberitahu saya, “Mulai minggu depan, setiap kau mengajar kelas 7, kepala sekolah akan mendampingimu di kelas.”

Wow! Dijamin aman ini sih kalau kepala sekolah turun tangan! Tapi ini artinya saya juga akan dinilai langsung sama kepala sekolah, ngajarnya bener nggak…hehehe! 🙂

***

Seusai jam sekolah, saya langsung menuju halte tempat janjian dengan Nataliya dan Janna. Tempatnya tidak jauh, sekitar 200-an meter dari sekolah EG. Sekelompok orang sedang menunggu bus atau marshrutka di sana. Belum sepuluh menit berdiri di situ, seorang pemuda mendekati saya. Badannya gempal, usianya sekitar akhir 20-an atau awal 30-an. Ia memakai topi kupluk katun. Tangan kanannya mencekik botol.

“привет, halo,” tegurnya. Wajahnya keras. Badannya sedikit lebih tinggi daripada saya. Ia memelototi saya dari kepala sampai kaki.

“привет,” jawab saya.

“Где ты пришел, kau orang mana, sih?” tanyanya. Wajahnya agak mendekat ke saya. Brengsek, nafasnya bau alkohol.

“Я из Индонезии, aku orang Indonesia.”

“Ngapain kau ada di sini, hah? Ngapain kau ada di tanah Ukraina?” Volume suaranya meninggi. Saya langsung menyadari situasinya. Pemuda itu melanjutkan ocehannya. Tatapannya tampak benci sekali kepada saya. Rasis dan sedang mabuk. Kombinasi yang buruk buat dihadapi orang asing berkulit cokelat di sini. Saya tidak melihat tanda apa pun—tato atau emblem—yang menandakan pemuda ini pengikut Neo-Nazi, skinhead, semacamnya.

Saya tidak terlalu menangkap apa yang dikatakannya. Saya hanya menangkap kata “pergi dari Ukraina”, “aku tidak suka”, “kulit putih”. Berkali-kali saya hanya mengangkat bahu dan berkata, “Я не говорю по России, saya tidak bisa bahasa Rusia,” sambil berharap ia pergi.

Racist-Dog-Granny-Cartoon

Sekadar ilustrasi. Gambar pinjam dari sini.

Pemuda itu, sambil terus mengoceh, mulai agresif. Ia menunjuk-nunjuk saya, dan kemudian ia menyentuh dada saya agak keras dengan telunjuknya. Jelas sudah. Ini pemuda rasis. Karena berkali-kali bilang “saya tidak bisa bahasa Rusia”, ia berteriak ke arah kerumunan orang yang sedang menunggu bus. “Hei! Ada yang bisa bahasa Inggris?!?” Lalu ia berjalan menuju orang-orang itu.

Saya mulai panik dan berkeringat dingin. Dalam hati saya berpikir untuk kabur saja. Adu lari dengan pemuda gemuk yang sedang mabuk rasanya bukan perkara sulit. Tapi, mau lari ke mana? Lagi pula saya janjian ketemu di sini. Saya mulai mengutuki Nataliya yang telat datang menjemput saya.

Pemuda rasis itu kembali sambil menyeret seorang laki-laki. Ia menyuruh laki-laki itu menerjemahkan perkataannya. Tapi tampaknya orang itu juga tak bisa bahasa Inggris. Pemuda rasis itu tetap menyentuh-nyentuh saya dengan agresif. Laki-laki yang diseret tadi tampaknya juga gelisah.

What does he want?” tanya saya kepada laki-laki itu. Ia hanya menggeleng dengan wajah cemas.  Saat itu sudah 10 menitan saya di-bully. Puncaknya, si pemuda rasis merenggut topi kupluk saya dan mencampakkannya ke dada saya. Saat itu saya sudah pasrah. Bismillah aja deh, batin saya. Kalau harus lari ya lari, harus berantem ya berantem.

Di saat-saat genting itu, sebuah taksi tiba-tiba berhenti sepuluh meter dari saya. Nataliya melongokkan kepalanya dan melambai dari pintu kanan belakang yang ia buka. Tanpa pikir panjang, saya langsung berlari dan melompat ke dalam mobil. Begitu sopirnya tancap gas, saya mengeluarkan tangan kanan dari jendela dan mengacungkan jari tengah.

Tentu saja Nataliya dan Janna bingung. Setelah saya ceritakan, mereka cuma bengong.

“Aku baru dengar yang seperti itu di Dnipro,” Nataliya berkomentar. “Tapi tidak apa-apa. Orang itu pasti sedang mabuk.”

Saya tahu dia hanya berusaha menenangkan saya. Tapi, saya mulai merasa tidak tenang. Kalau Nataliya tidak datang saat itu, bakal diapakan saya oleh pemuda rasis tadi? Dan ini sudah kedua kalinya saya diganggu orang karena saya saya orang asing non kulit putih di kota ini.

Betapa apesnya hari ini. Sudah dikentutin murid, masih pula diganggu pemuda rasis. 😦

***

Kolega di Big Ben: (ki-ka) Janna, Nataliya, Diana, dan saya.

Kolega di Big Ben: (ki-ka) Janna, Nataliya, Diana, dan saya.

Kantor BADM terletak di pinggiran Dnipro, di sebuah kawasan industri. Halaman parkirnya sangat luas, gedungnya pun besar. Sepertinya kantor dan pabrik farmasi ini berada dalam satu kompleks. Di sekeliling kompleks itu saya lihat juga ada banyak gedung-gedung besar.

Satpam kantor mengantar kami ke sebuah ruangan yang tampaknya biasa dipakai untuk rapat. Oleh Nataliya, saya diberi penjelasan singkat lebih dahulu, bahwa saya akan mengajar di sini setidaknya seminggu sekali. Kantor ini menginkan kursus privat sebanyak dua kali seminggu, dengan satu sesi di antaranya menjadi “milik” saya untuk kelas percakapan.

Sepuluh menit kemudian, lima orang masuk satu per satu ke ruangan tersebut. Merekalah yang akan menjadi murid saya nanti. Ada empat perempuan dan satu laki-laki: Tatiana, Taia, Larisa, Julia, dan Andrei. Kelas pertama itu tak sulit. Setelah Nataliya cuap-cuap, giliran saya yang mengisi sesi pertama itu. Cuma memperkenalkan diri, cerita sedikit tentang Indonesia, sambil memperlihatkan setumpuk kartu pos bergambar alam Indonesia. Habis itu giliran mereka untuk memperkenalkan diri, bertanya tentang saya, tentang Indonesia, atau apa pun. Sesi pertama ini saya manfaatkan untuk memetakan kemampuan setiap orang. Rata-rata semuanya masih level intermediate.

Tak terasa, satu setengah jam pun berakhir. Taksi sudah menunggu di halaman parkir dan saya pun diantar ke apartemen. “Mulai minggu depan, kau harus ke sana sendiri, ya. Nanti kuberitahu marshrutka nomor berapa yang lewat sana,” kata Nataliya.

Sampai di kamar, saya menjatuhkan badan ke kasur. Hari ini sangat melelahkan. Dan saya belum bisa melupakan kejadian di-bully pemuda rasis tadi sore. Bagaimana kalau kejadian itu terulang lagi? []

(Bersambung)

Balada Ukraina #22

Bulan April tampaknya jadi bulan terburuk saya di sini. Empat kesialan terjadi seminggu sekali. Dan semuanya satu tema: rasisme. Kesialan pertama terjadi saat saya sedang berjalan kaki ke ATB, supermarket langganan saya. Sejak bertemu lagi dengan Vova secara tak sengaja di sana, kami saling bertukar nomor ponsel dan dia berjanji mengajak saya jalan-jalan. Salah satu meeting point-nya ya di depan ATB.

Suatu hari, saat berjalan menuju perempatan besar Jl. Titova, lokasi ATB, seorang pria paruh baya berpenampilan agak lusuh berpapasan dengan saya. Dia tampak menatap saya dengan ekspresi kesal, lalu mengatakan sesuatu dengan nada marah. Sudah melewati saya pun dia masih menoleh ke arah saya. Bahasa Rusia saya memang pas-pasan, tapi beberapa kata yang bisa saya tangkap sudah cukup menjelaskan apa yang dikatakannya: “Orang Afrika sialan! Pulang sana ke negaramu!” Selebihnya ada lagi, tapi saya nggak ngerti.

Afrika? Gila. Bahkan orang itu tidak tahu dari benua mana saya berasal. Kulit saya sawo matang, masih jauh sekali dari warna kulit hitam kelam orang Afrika. Kebetulan Vova sudah menunggu di depan supermarket. Saya langsung menceritakan kejadian semenit lalu itu. “Mana orangnya? Ayo kita samperin. Mungkin kita bisa beri dia sedikit pelajaran geografi,” katanya, entah serius atau bercanda.

“Sudahlah, lupakan saja,” kata saya. Tapi Vova agak memaksa dan kami menyusuri jalan yang baru saya lalui tadi. Tentu saja orang itu sudah tidak ada.

“Di sini banyak babushka yang menggelar lapak untuk berjualan, dan kadang gelandangan juga nongkrong di sini,” kata Vova.

“Ya, orang tadi memang pakaiannya agak lusuh dan dekil,” komentar saya.

“Mungkin dia memang gelandangan…ya, sudahlah. Mudah-mudahan kau tidak perlu mengalami hal itu lagi.”

Rasisme memang salah satu hal yang saya khawatirkan terjadi selama tinggal di sini. Sebelum saya tiba di sini, saya sudah browsing ke sana kemari soal yang satu ini. Pada kenyataannya, sebelum ada orang yang memaki saya seperti di atas, saya tidak/belum mengalami pengalaman rasisme yang serius. Sehari-hari, di jalanan atau di kendaraan umum, memang ada segelintir orang yang memandang saya penuh rasa ingin tahu—atau dengan ekspresi yang membuat saya tidak nyaman. Penyebabnya gampang ditebak: warna kulit. Selama masih berupa pandangan atau kata-kata, saya tidak terlalu peduli.

Setelah beberapa lama tinggal di sini, dengan mudah saya bisa memastikan bahwa saya adalah satu-satunya orang Indonesia di Dnipro pada saat itu. Saya juga sudah menanyakan soal ini ke Mas Arif di KBRI Kiev tempo hari—dan memang tidak ada orang Indonesia di Dnipro pada semester pertama 2008.

Di seluruh Ukraina pun orang Indonesia hanya ada kurang dari 60 orang pada 2008—yang sebagian besarnya adalah staf KBRI beserta keluarga mereka. Jadi, setelah beberapa minggu di sini, saya sudah terbiasa diliatin orang di jalan. Mungkin perasaaan yang sama juga dialami bule yang blusukan di jalanan kota-kota di Indonesia.

Dan perkara perlakuan rasis yang saya ceritakan tadi…well, ternyata itu bukan yang terakhir.

***

Saya cepat akrab dengan Vova. Orangnya easy going, malah cenderung polos dan kekanakan. Dia terus terang mengatakan, “Aku tidak pernah berteman dengan orang asing sebelumnya. Lagi pula, aku ingin melancarkan bahasa Inggrisku.”

Tentu saja saya tak keberatan. Bersama Vova, saya malah jadi tahu sudut-sudut Dnipro yang tidak pernah saya datangi sebelumnya. Kalau sebelumnya saya hanya tahu kawasan pusat kota, Vova mengajak saya ke pasar tradisional, taman-taman kota, naik metro (kereta bawah tanah), dan main ke apartemennya.

Di Globa Park.

Di Globa Park.

Ternyata Dnipro punya beberapa taman kota yang cukup besar dan indah saat musim dingin berlalu. Tak terlalu jauh dari apartemen saya, ada taman yang namanya Globa Park. Seperti umumnya taman di Dnipro, Globa Park tampak tua, sedikit tak terurus. Namun di musim semi dan musim panas, taman ini mendadak cantik karena menghijau. Saat akhir pekan, suasananya ramai. Banyak orang bermain perahu remote control di danau buatan di tengah taman.

Di taman ini juga ada merry-go-round kecil yang ramai dengan anak-anak. Juga ada beberapa pedagang kaki lima yang menjual burger, hotdog, atau es krim. Ada juga panggung yang atapnya berbentuk mirip rumah siput. Di musim semi dan panas, biasanya ada pertunjukan musik dan semacamnya di panggung tersebut. Sebenarnya, saya rasa suasananya tak jauh beda dengan pasar malam di kita.

Vova menyewa sebuah apartemen berkamar empat di pinggiran Dnipro—tiga kamar lainnya dihuni teman-temannya, sehingga biaya sewa apartemen jadi lebih irit. Karena dia tinggal agak jauh dari pusat kota, kami harus naik metro menuju tempat tinggalnya. Rute metro di Dnipro konon punya panjang paling pendek sedunia: cuma 7,1 kilometer—dan hanya punya 6 stasiun!

Sepatu murah made in China. :)

Sepatu murah made in China. 🙂

Vova juga membantu saya membeli jaket hoodie dan sepatu kets di pasar tradisional. Namanya Ozerka. Pasar ini berupa satu bangunan besar berisi blok-blok yang masing-masing khusus menjual satu jenis barang yang sama. Mungkin mirip Pasar Baru di Bandung atau Pasar Beringharjo di Jogja. Saya bahkan menemukan sepatu Nike made in Indonesia di sana!

Mencari jaket dan sepatu yang harganya sesuai anggaran saya ternyata tidak mudah. Akhirnya saya membeli sepasang sepatu yang mereknya nggak jelas, made in China, setelah capek menawar di kios seorang pedagang asal Armenia, dan harganya sekitar 100 UAH (kira-kira Rp 200 ribu). Segitu juga termasuk murah. Di toko, harganya mungkin bisa dua-tiga kali lipat. Nggak jelek juga sih, tapi gara-gara saya lupa bawa sepatu kets, jadinya terpaksa beli di sini. Sepanjang musim dingin saya selalu memakai sepatu bot pinjaman dari Nastya. Sepatunya sih nyaman dipakai, tapi perasaan saya sepatu ini tidak akan berumur panjang….hehehe!

Jaketnya? Yaa kayak di foto itu. Murmer lah pokoknya. Harganya sekitar 75 UAH (Rp 150 ribuan). Gara-garanya sampai harus beli jaket, itu karena di musim semi jaket musim dingin saya terasa terlalu tebal. Mungkin juga saya terpengaruh kata-kata Vova:

“Orang-orang banyak yang melihatmu,” katanya suatu hari waktu kami nongkrong di Alun-Alun Lenin.

“Kenapa?”

“Mungkin karena kau pakai jaket tebal di musim semi. Kelihatan aneh.”

Atau mungkin juga karena saya orang asing.

Saya pernah cukur rambut murmer di sebuah salon tak jauh dari apartemennya. Di salon itu, tentu saja saya jadi pusat perhatian. Para karyawannya berbisik-bisik sambil melirik saya, bikin saya grogi dan jengah. Tapi Vova mencoba mencairkan suasana, mengobrol dengan si mbak kapster, dan malah main tebak-tebakan dengan mereka tentang asal negara saya.

“India?”

“Mesir?”

“Cina?”

Dan kami pun tertawa keras-keras. Hasil pangkas rambutnya? Yaa, lumayanlah…hehehe! 🙂

Vova adalah pria Ukraina pertama yang saya lihat hampir tak pernah menyentuh minuman beralkohol. Malah, dia dengan polosnya pernah bertanya tentang kesukaan saya membeli minuman teh botolan saat sedang jalan-jalan, “Buat apa minum teh kemasan gitu? Lebih enak minum teh di rumah.” Maksudnya mungkin teh celup. Tapi saya juga bingung jawab pertanyaan kayak gitu.

“Di negaraku, semua orang suka minum teh, di mana saja,” kata saya asal-asalan tanpa menyebut merek. 😛

Sementara itu, Vova lebih sering minum….susu! 😀 Anak ini memang keranjingan hidup sehat. Selain menguasai aikido, dia juga gemar bersepeda dan menyelam di laut saat liburan musim panas tiba. Vova sebenarnya berasal dari Kherson, sebuah kota dekat hilir Sungai Dnipro menuju Black Sea (Laut Hitam) di bagian selatan Ukraina. Selepas kuliah, dia mencari peruntungan di Dnipro dan kini bekerja sebagai junior accountant di sebuah perusahaan kargo.

Vova, sobat saya di Dnipro. 🙂

Buat yang penasaran—khususnya pembaca cewek—seperti apa tampang Vova, sekarang saya pasang nih fotonya. Selamat menikmati…hehehe! 😛

(Bersambung)