Tag Archives: resensi buku

Seri “Mangan Ora Mangan Kumpul”

“Penggeng eyeeem! Penggeng eyeeem!”

Begitulah gaya Mas Joyoboyo, penjual ayam panggang keliling, menjajakan dagangannya pakai tenong. Yang dulu mengikuti kolom Mangan Ora Mangan Kumpul-nya Umar Kayam di Kedaulatan Rakyat (yang lalu dibukukan jadi 4 jilid) pasti akrab sama tokoh yang satu itu. Belum lagi dengan keluarga baturnya Pak Ageng: Mister Rigen beserta nyonya dan dua bedhesnya.

Tulisan-tulisan Umar Kayam memikat dengan caranya sendiri. Dia suka glenyengan–nyindir, protes, usul, nasihat–dengan cara tidak langsung. Temanya bergerak bebas, dari sekitar rumahnya di kompleks UGM Bulaksumur hingga ke Amerika atau Canberra, dari tingkah laku baturnya hingga para profesor koleganya. Ada juru kisah dan ada tokoh² lain yang kerap muncul. Dengan struktur macam itu, Umar Kayam lewat tokoh Pak Ageng bisa menyatakan sikap, reaksi, dan tanggapan terhadap berbagai isu sosial.

Deskripsinya asyik, termasuk saat menggambarkan penggeng eyem dalam tenong Mas Joyoboyo, beserta sate usus dan ati, dan suaranya yang “melodius” saat menjajakan dagangannya. “Penggeng eyem! Penggeng eyeeem!”

Sekarang saat membaca ulang buku Umar Kayam buat liburan, saya bertanya-tanya: ke mana ya tokoh² itu sekarang? Beni Prakosa dan Tolo-Tolo udah jadi apa sekarang? 😅

PS: gambar hanyalah penggeng eyem dan lauk pauk lain… 🍗😋

Am I There Yet?

Ini salah satu buku yang saya beli secara nggak sengaja. Maksudnya “nggak sengaja” tuh ya tanpa rencana. Saya belum pernah denger soal buku ini, belum pernah follow akun IG penulisnya, terus pas iseng ke toko buku tau² aja nemu yang plastiknya udah kebuka, baca² dikit, dan memutuskan beli. Modal naluri doang… 😅

Mari Andrew adalah seorang penulis dan ilustrator yang tinggal di New York. Am I There Yet? adalah buku semi-autobiografis Mari yang merekam perjalanan hidupnya sepanjang usia 20-an hingga 30. Perjalanan menuju dewasa.

Pada dasarnya, dalam buku ini Mari hanya menceritakan suka-duka dan jatuh-bangunnya selama periode usia tadi: ayahnya meninggal saat dia belum sempat meminta maaf, pindah tinggal ke kota lain, jatuh cinta dan patah hati, memetakan masa depannya, mengisahkan kota² yang dia kunjungi dan orang² yang dia temui, sambil tak lupa bahagia. Mari juga mengajak pembaca berandai-andai bagaimana kehidupan bisa sangat berbeda jika kita mengambil keputusan ini atau itu.

Membaca buku ini nyatanya menyenangkan dan banyak pengalaman introspektif. Walau banyak perenungan di sana-sini, menurut saya cerita dalam buku ini mengalir terlalu cepat saat berganti bab. Beberapa bab kadang terasa meninggalkan “lubang” yang sebaiknya diisi. Sebagai pembaca, saya nggak keberatan diberi informasi lebih banyak dan lebih detail, tapi untunglah soal ini nggak mengganggu banget kok.

Saya paling suka gaya menulis Mari. Puitis dan sering kali penuh metafora indah yang di banyak bagian mudah kita hubungkan dengan pengalaman hidup kita sendiri. Beberapa kali saya mencomot stabilo saat menemukan kalimat yang aduhai. Mari juga membuat sendiri ilustrasi untuk buku ini, dengan gaya gambar kekanakan tapi hangat dan menggemaskan.

Kisah yang hangat dan ilustrasi ringannya bikin pengalaman membaca buku ini jadi campur aduk. Sepanjang perjalanan kereta malam 1.500 km PP penuh kenangan saat itu, saya langsung melahap setengah isi buku. Kadang isinya bikin terkikik, terharu, dan akhirnya bikin hati jadi hangat. Iya, sehangat senyumanmu… 😊[]

Kritikus Adinan

Dibandingkan Orang-Orang Bloomington (selanjutnya sebut saja OOB), kumcer Budi Darma yang ini jadi terasa ganjil dan absurd. Tokoh² utamanya kebanyakan medioker dan hidup lempeng saja, bahkan antisosial. Mirip kayak di OOB. Bedanya, tokoh² di OOB lebih mudah kita identifikasi di kehidupan nyata.

Budi Darma juga selalu memperkenalkan tokoh ceritanya dengan mendetail dan lamban. Tokoh-tokoh ganjilnya dibungkus dalam kisah yang surealis dan seolah “semau gue” alias liar dan yaa kadang bikin lieur… 😅

Dalam cerpen agak panjang berjudul Kritikus Adinan, watak Adinan digambarkan sangat lurus dan luhur dan ini membuatnya diburu dan ingin dilenyapkan oleh masyarakat, seolah² kehidupan ini hanya berisi orang² korup, bejat, jahat, dan bobrok² lainnya, membuat kita bertanya²: benarkah moralitas masyarakat kita sudah sebegitu buruknya?

Selain Kritikus Adinan, cerpen lain yang saya suka di kumcer yang sebagian besar ceritanya ditulis pada 1973 ini adalah Dua Laki-Laki dan Bambang Subali Budiman. Yang terakhir ini buset deh…dari yang awalnya realis berbelok pelan ke absurd gitu…

Untunglah gaya menulis Budi Darma sangat lugas sehingga sebagian besar cerita yang meramu absurditas dan konflik batin para tokoh ceritanya lebih mudah dimengerti.

Kalau nggak ngerti juga, sepiring mie godog dan secangkir teh nasgitel mungkin bisa membantu. 😋[]

Origin

Seperti serial Robert Langdon sebelumnya, novel Origin sebenarnya tetap memakai formula yang mirip: Langdon, seorang profesor Harvard dan ahli simbologi, dimintai bantuan dalam kasus kematian ilmuwan yang terkait dengan simbol² historis atau datang ke suatu acara sains/seni, terjadi kekacauan, terus Langdon pun dikejar².

Adegan kejar²an ini sebenarnya cuma jadi pembungkus cerita, karena bagian paling menariknya adalah deskripsi terkait pengungkapan kasus yang kaya dengan detail sejarah, seni, dan ilmu pengetahuan. Dan Brown jago meracik referensi sejarah, isu global, sastra, dan seni menjadi novel thriller yang cihuy.

Inferno, misalnya, membawa isu overpopulasi dunia dan dampaknya terhadap sumber daya bumi sebagai pemicu konflik antara protagonis dan antagonis. Intinya sih si antagonis pengen melenyapkan sekian persen populasi manusia demi menyelamatkan bumi. Jadi selain adegan kejar²an juga pembaca diajak menikmati cara² Langdon mengungkap simbol² dan teka-teki di sepanjang karya seni, bangunan bersejarah, dan karya sastra yang disinggung di novel ini.

Sementara Origin ini membawa isu agama vs sains. Baru di bagian prolog aja udah ada kalimat yang menggoda: “Secara historis, orang paling berbahaya adalah para fanatik pengikut Tuhan … terutama ketika tuhan-tuhan mereka terancam.”

Ceritanya, Langdon diundang ke acara yang diadakan Edmond Kirsch, ilmuwan komputer dan miliarder. Acara itu diklaim akan menjawab pertanyaan² mendasar eksistensi manusia. Kirsch dibunuh saat acara, sebelum sempat mengungkapkan temuannya, yang dikhawatirkan akan membuat pemeluk² agama di seluruh dunia marah besar.

Langdon harus kabur karena dituduh terlibat dalam pembunuhan itu. Kaburnya sama calon ratu Spanyol pula. Beberapa tokoh agama besar juga diketahui dibunuh sebelum acara itu. Selama pelariannya yang singkat, Langdon bertekad memecahkan teki-teki yang belum sempat diungkap Kircsh.

Teka-teki itu sebenarnya relatif gampang ditebak, tapi Dan Brown sengaja menahan pembaca untuk lebih dulu menikmati sajian deskripsi tentang bangunan² bersejarah dan beberapa karya seni dunia. Saya sih nggak keberatan saat lagi baca terus sesekali googling mencari foto bangunan semacam La Sagrada Familia, Casa Mila, atau museum Guggenheim… 😅

Seperti biasa, serial Dan Brown yang ini selalu page-turner. Sekali baca pengen bacaaa terus. Seru sih… 😄[]

Emil

Di antara banyak bacaan masa kecil saya, karya Astrid Lindgren (1907-2002) ini adalah salah satu yang paling berkesan. Judul aslinya, Emil i Lönneberga, diterbitkan kali pertama tahun 1963.

Kebetulan tempo hari saya nemu tokbuk online yang menjual tiga seri Emil ini sekaligus, dan langsung saya beli semuanya. Setelah baca tiga²nya, saya baru sadar, kayaknya dulu waktu SD cuma baca yang pertama dan kedua. Tiga seri yang saya beli ini adalah cetak/terbit ulang tahun 2003. Entah ngapain aja saya tahun segitu kok bisa-bisanya nggak tahu buku Emil diterbitkan lagi. 😅

Waktu saya masih SD, kover Emil dari Lönneberga berwarna kuning dan bergambar Emil lagi tidur di lemari makanan. Terbitan Indonesia tahun 2003 ini kalau nggak salah memakai kover asli waktu kali pertama Emil i Lönneberga diterbitkan tahun 1963. Konon ada 12 judul serial Emil, tapi kayaknya yang diterbitkan di Indonesia cuma 3… atau lebih? 😓

Kisah serial Emil ini sederhana saja, tentang seorang anak yang tinggal bersama keluarganya di rumah pertanian di desa Lönneberga, Swedia. Bocah umur 5 atau 6 tahun ini sebenarnya nggak bandel parah, cuma emang hiperaktif dan punya rasa ingin tahu dan imajinasi yang terlalu tinggi.

Watak kayak gitulah yang akhirnya bikin orang² di sekitarnya sengsara. Ayah Emil yang sering dibikin susah hingga cedera, ibunya yang selalu membela, Ida adiknya yang sering dijaili, Lina pembantu mereka yang sengit sama Emil dan kadang suka genit sama lelaki lain, dan Alfred si pengurus ternak dan pertanian mereka yang justru sangat menyukai Emil.

Sulit melupakan tokoh² cerita itu. Sampai hari ini pun saya masih ingat ceritanya sebelum akhirnya beli buku Emil lagi. Dibaca waktu kecil atau hari ini, kisah Emil buat saya selalu gila dan kocak. 😅

Selain serial Emil, dulu saya juga baca serial Pippi Longstocking alias Pippi si Kaus Kaki Panjang. Buku-buku Astrid Lindgren biasanya menonjolkan dunia anak-anak yang bebas dan lepas dari bermacam kekangan. Astrid lewat buku²nya ingin meyakinkan anak² untuk berani bertualang dan nggak usah takut sama pandangan umum tentang hal² yang nggak penting, misalnya gendut itu jelek, dll.

Sabda Astrid Lindgren: “Masa kecil tanpa buku–itu sih sama aja nggak punya masa kecil. Itu sama seperti engkau dihalangi masuk ke sebuah tempat menyenangkan, tempat engkau bisa datang dan menemukan kegembiraan yang paling jarang ditemukan sekalipun.”

Masih ada buku² masa kecil dulu yang saya harap diterbitkan lagi sekarang, terutama serial STOP. Atau boleh juga sih bukunya Enny Arrow sama Fredy S… *eh 😂[]

24 Jam Bersama Gaspar

Jangan tertipu sama subjudulnya, Sebuah Cerita Detektif, kalau yang kamu harapkan adalah cerita detektif dengan citarasa Sherlock Holmes atau Hercule Poirot.

Inti cerita novel ini sebenarnya sederhana banget, berkisah soal Gaspar yang berencana mencuri di toko emas milik Wan Ali. Tapi, ada sebuah rahasia yang diam-diam disembunyikan Gaspar, yaitu soal soal kotak hitam dan anak perempuan Wan Ali.

Latar waktu dan tempat sengaja dibikin nggak jelas, di suatu titik di masa depan dengan Bandung yang di bagian² akhir buku diceritakan sudah tenggelam. 😅 Gaspar juga punya motor Binter Merzy ’76 yang konon dirasuki roh gaib yang kekuatannya sempat membuat Jogja kena gempa. Absurd, ya? 😅

Gaspar kemudian bertemu dan membujuk lima orang lainnya, Njet, Kik, Agnes, Pongo, dan Pingi, untuk bergabung dalam rencananya. Semua nama tadi bukan nama asli alias cuma rekaan Gaspar sendiri. Entah dipaksakan atau tidak oleh Gaspar, mereka semua ada kaitannya dengan Wan Ali. Misalkan Pingi, seorang ibu tua yang ternyata kakak ipar Wan Ali. Pongo sendiri adalah anak Pingi yang bekerja di toko emas Wan Ali.

Yang menarik sebenarnya gaya penulisannya. Cerita dalam novel ini dibagi dua plot. Pertama adalah isi rekaman audio interogasi seorang polisi dengan Bu Tati (alias Pingi), yang sungguh menguji kesabaran pembaca karena Bu Tati demen bicara ngelantur ke mana² tapi sangat detail. Plot kedua dari sudut pandang Gaspar. Dari situlah masing² plot berjalin mengisi dan melengkapi cerita satu sama lain.

Hampir semua tokoh cerita di sini memang digambarkan gendeng dan ajaib, dengan gaya penceritaan yang rada absurd, tapi menghasilkan efek segar dan lumayan lucu juga sih. Bahasanya juga tergolong mudah dicerna. Cerita memang terkesan bertele-tele dan mbulet, tapi tetap ada relevansinya dengan potongan cerita yang lain. Kalau kamu nggak suka yang aneh², kayaknya novel ini bukan buatmu deh. 😉[]

Dawai-Dawai Ajaib Frankie Presto

Beli buku ini dua tahun lalu, tapi baru dibaca sekarang…duh! 😅 Tapi gapapa sih. Di rumah, saya juga masih punya banyak bacaan bagus, yang dibeli sekian tahun lalu dan belum dibaca. Lumayan buat nemenin ngabubu-read. 😊

Novel setebal 573 halaman ini bercerita tentang Frankie Presto, tokoh utama cerita yang belakangan menjadi gitaris sekaligus penyanyi hebat. Kelahiran Frankie diiringi banyak peristiwa dramatis. Dia lahir pada 1936 di sebuah gereja di Villareal, Spanyol. Carmencita, ibu kandungnya, apes sedang berada di gereja yang diserbu kaum militan. Saat itu memang sedang terjadi perang sipil di Spanyol. Seorang biarawati masih sempat membantu persalinan, namun Carmencita meninggal karena pendarahan.

Si biarawati membawa kabur Frankie bayi, merawatnya selama beberapa waktu, sebelum membuang si bayi ke sungai karena tak kuat lagi merawatnya di tengah perang sipil itu. Untunglah, Frankie ditemukan oleh Baffa Rubio, pengusaha sarden yang melajang. Baffa merawat Frankie dengan baik, dan menitipkannya belajar musik kepada El Maestro, seorang buta yang piawai bermain gitar.

El Maestro menggembleng Frankie bermain gitar sejak usia 6 tahun, hingga suatu hari ia, dengan bantuan Baffa yang ditangkap pemerintah, mengirim Frankie ke Amerika demi keamanannya sendiri. Di Amerika-lah Frankie perlahan meniti karier sebagai gitaris jagoan, yang membuatnya bertemu dan bermain bersama nama² kondang seperti Duke Ellington, Django Reinhardt, dan…Elvis Presley. Di Amerika, Frankie juga bertemu lagi dan menikah dengan Aurora, pujaan hatinya sejak mereka bertemu pada usia 8 tahun di Villareal, persisnya di atas pohon…sambil diam² menyaksikan korban² perang dikubur massal.

Sampai di sini menurut saya kisahnya ditulis dengan asyik dan nggak klise. Gaya penceritaannya khas Albom: lembut dan kalem. Di cerita ini sang narator adalah Musik, lalu cerita dan deskripsi tentang Frankie juga diperkuat oleh banyak orang nyata dalam industri musik, dari musisi hingga penyanyi dan produser musik, sehingga saya sempat mengira Frankie itu tokoh nyata di dunia blues atau jazz… 😅

Cerita bergerak lumayan memikat, walau relatif mudah ditebak, hingga akhirnya mulai halaman 540 ceritanya terasa seperti tancap gas, sehingga jadinya cenderung dipaksakan dan di beberapa bagian malah rada nggak masuk akal. Misalnya cerita tentang kemunculan Josefa, biarawati yang membantu persalinan Frankie dulu. Maksa. Padahal bangunan cerita sebelumnya udah lumayan kuat.

Novel ini mungkin terasa “Mitch Albom banget”, tapi ini bukan buku terbaik Albom. Enam novel sebelumnya masih lebih bagus. Tapi, kalau kamu mencari cerita² yang “feel-good“, rasanya buku ini cocok. Apalagi ditemani sepiring nasi bebek rica-rica… 😋[]