Tag Archives: resensi buku

Ayah

20150520_181708

Judul: Ayah

Penulis: Andrea Hirata

Penerbit: Bentang Pustaka

Terbit: Mei 2015

Tebal: 412 halaman + xx

Setelah lama tak kedengaran, Andrea Hirata muncul lagi dengan novel barunya, Ayah.¬†Dua minggu sebelum buku ini resmi terbit tanggal 29 Mei, saya sudah mendapatkannya duluan (jangan tanya dapat dari mana). ūüôā Saya¬†langsung membacanya dan tamat dalam 5 hari. Kalau saja saya lagi nggak banyak kerjaan, mungkin satu-dua hari juga beres.

Awalnya saya agak takjub melihat buku ini: kover depan dan¬†beberapa halaman awal dipenuhi endorsement dari berbagai media dan penulis berbagai negara. Padahal novel ini bahkan belum terbit di Indonesia (waktu saya baca)! Tapi kemudian saya kecele. Semua puja-puji itu bukan untuk Ayah, melainkan untuk Laskar Pelangi … hehehe! Kesannya kok Ayah seperti kurang percaya diri, sampai-sampai harus menggunakan endorsement Laskar Pelangi yang jumlahnya berjibun itu.

20150514_132744Di kover belakang pun tidak ada sinopsis Ayah. Yang ada adalah biografi singkat penulisnya‚ÄĒini pun juga ada di kover dalam bagian depan. Padahal, tanpa semua itu pun Andrea sudah punya pembacanya sendiri. Tapi ya sudahlah …

Ayah masih menggunakan Belitong sebagai latar cerita utama. Ceritanya tentang empat sahabat bernama Sabari, Ukun, Tamat, dan Toharun. Keempatnya bersekolah di sekolah yang sama. Andrea membangun kisah dengan menceritakan keseharian keempat sahabat itu dan latar belakang keluarganya masing-masing.

Mirip dengan tokoh-tokoh di Laskar Pelangi, masing-masing dari keempat sahabat tadi punya karakter yang unik. Tak jarang mereka juga begitu polos dan naif, namun kadang bisa cerdas juga. Bagian ketika Andrea menceritakan masa sekolah anak-anak ini hingga lulus mendapat porsi terbanyak dalam buku. Menurut saya bagian ini cukup asyik. Humornya sangat khas Andrea.

Sabari diceritakan jatuh cinta sejak SMP pada seorang gadis bernama Lena. Walau gadis itu tak pernah memedulikannya, Sabari tak pernah menyerah. Ia kerap memajang kertas berisi puisinya untuk Lena di majalah dinding sekolahnya. Sesekali, gadis itu membalas, juga lewat mading.

Singkat cerita, ketika sudah dewasa pun, Sabari tetap tak bisa melupakan Lena. Suatu hari, ia mendengar kabar bahwa Lena hamil di luar nikah. Saat itu Sabari bekerja di pabrik batako milik Markoni, ayah Lena. Sabari pun mau saja ketika diminta menikahi Lena, demi menyelamatkan nama baik Markoni yang kurang akur dengan Lena itu.

Anak lelaki yang kemudian lahir dari rahim Lena itu kemudian diberi nama Zorro oleh Sabari. Pasalnya, bocah itu ketika diberi boneka Zorro tak mau melepasnya. Sabari sangat menyayangi Zorro. Dia ingin memeluknya sepanjang waktu, terpesona melihat makhluk kecil yang sangat indah itu dan seluruh kebaikan yang terpancar darinya.

Tiap malam, Sabari susah susah tidur lantaran membayangkan bermacam rencana yang akan dia lakukan bersama anaknya jika besar nanti. Dia ingin mengajaknya melihat pawai 17 Agustus, mengunjungi pasar malam, membelikannya mainan, menggandengnya ke masjid, mengajarinya berpuasa dan mengaji, dan memboncengnya naik sepeda saban sore ke taman kota.

Dia juga ikhlas ketika Lena bahkan tak mau tinggal bersama mereka. Beberapa tahun kemudian Lena malah minta cerai dan menikah lagi hingga tiga kali, bahkan akhirnya mengambil Zorro dari Sabari. Pelan-pelan, Sabari mulai tampak seperti orang gila dalam penampilan dan tingkah laku. Dua sahabatnya, Ukun dan Tamat, lama-lama tak tahan melihat Sabari seperti itu, sehingga akhirnya mereka memutuskan menjelajahi Sumatra demi menemukan Lena dan Zorro dan membawa mereka kembali.

Berhubung biasanya orang tidak suka dikasih spoiler saat baca resensi buku, saya juga nggak akan memberitahu akhir kisahnya, dong. Bagi saya, ending-nya agak mudah ditebak, soalnya tokoh yang sering diceritakan di awal tidak muncul lagi di tengah cerita, hingga akhirnya nongol di akhir cerita, dengan nama yang berbeda.

Novel Ayah¬†ini terbagi dalam bab-bab pendek, sehingga pembaca bisa dengan enak mencicil baca.¬†ūüôā Di beberapa halaman akhir juga disertakan informasi soal buku-buku Andrea yang sudah dan akan terbit, baik di Indonesia maupun terjemahan Laskar Pelangi di negara-negara lain. Gila juga, ya … ūüôā

20150529_171018

Anyway, saya suka gaya tulisan Andrea yang khas dan lugas. Novel kali ini juga tidak menggelar glorifikasi soal kesuksesan studi di luar negeri. Para tokohnya bahkan tetap kere dan tidak berpendidikan tinggi hingga akhir cerita. Tapi kisah Sabari yang sangat tulus mencintai anaknya (yang bukan kandung), kesetiakawanan para sahabatnya, dan humor rasa Melayunya menjadi magnet kuat dalam Ayah. Walau ada beberapa bagian cerita yang menurut saya nggak penting banget dan melantur¬†ke mana-mana, misalnya bagian tentang Australia itu … hehehe! ūüėõ

Kesimpulan saya, novel ini lumayan bagus, kok. Memang tidak istimewa sih (masih bagusan Padang Bulan, menurut saya), tapi tetap bagus. Enak dibaca sambil menyeruput segelas teh tarik hangat saat libur. []

Advertisements

Manusia Setengah Salmon

Judul: Manusia Setengah Salmon
Penulis: Raditya Dika
Penerbit: GagasMedia
Cetakan I: Desember 2011
Tebal: 258 Halaman

“Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti.” ~Raditya Dika

Manusia Setengah Salmon adalah buku kumpulan tulisan Dika berisi 18 tulisan konyol, sebuah prakata, dan sembilan halaman comic strip. Sebenarnya saya jarang sekali membaca buku genre ini. Paling-paling hanya buku pertama Raditya Dika (Kambing Jantan) dan versi komiknya yang saya baca beberapa tahun lalu. Tapi kalau mau bersantai di akhir pekan, harus saya akui buku ini cukup menghibur.

Buku ini pada intinya berkisah tentang makna ‚Äúpindah‚ÄĚ. Bukan pindah dalam makna sesempit pindah rumah atau semacamnya, tapi juga Dika bisa memaknai ‚Äúpindah‚ÄĚ ketika ia baru diputus oleh pacarnya. Seperti yang dia tulis pada bab ‚ÄúMencari Rumah Sempurna‚ÄĚ, halaman 234: ‚ÄúLucunya, di saat Nyokap sedang mencari rumah baru, gue juga mencari rumah dalam bentuk lain: hati yang baru. Waktu itu, gue memang baru saja putus cinta, dan memahami satu hal‚ÄĒyang ironisnya‚ÄĒbahwa urusan pindah rumah ini bertepatan dengan urusan pindah hati.‚ÄĚ

Dika juga memaknai pindah sebagai pergantian fase dalam kehidupan, yang sebenarnya wajar, namun ketika waktunya sudah tiba, dia mau tak mau juga merenungkan hal itu.¬† Contoh, ketika dia menghadiri pernikahan teman SMA-nya bernama Mister. Di acara pernikahan Mister, Dika bertemu banyak teman lain yang sudah mengalami banyak ‚Äúperpindahan‚ÄĚ. Ada temannya bernama Pito yang sudah menggendong anaknya yang masih bayi. ‚ÄúPito menggendong anaknya di bagian depan badannya. Si bayi, entah sengaja entah tidak, memeperkan ilernya ke baju batik yang dipakai Pito. Menyadari hal itu, Pito kembali cengengesan. Enak juga jadi bayi, bisa nempelin iler ke orang lain tanpa harus dimarahi. Coba kalau gue yang tiba-tiba nempelin iler gue ke Pito, pasti dia ngomel-ngomel,‚ÄĚ tulis Dika dengan kekocakan khasnya.

Kisah perpindahan juga dialami teman Dika yang lain. ‚ÄúSeorang teman lain baru lulus kuliah, dan bapaknya yang sudah tua sering sakit-sakitan. Kerjaan dia sekarang selain bekerja adalah baby sitting, nungguin bapaknya di rumah, ngurusin bapaknya mulai dari minum obat sampai menemani bapaknya di kamar hingga sang bapak tertidur. Dia bilang, “Dulu, gue yang diurusin, sekarang gue yang ngurusin Bokap.” Peran yang dulu dilakukan oleh bokapnya ke dirinya, sekarang menjadi terbalik. “Tidak ada kehidupan yang lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan. Mau tak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapan. Bahkan rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkan.”

Apa maksudnya ikan salmon? Judul Manusia Setengah Salmon ternyata adalah juga judul bab terakhir dalam buku ini. Makna perpindahan didapat oleh Dika ketika pada suatu hari sedang menonton Discovery Channel. Saat itu,¬†Discovery Channel¬†sedang membahas tentang ikan salmon. “Setiap tahunnya, ikan salmon akan bermigrasi, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur. Beberapa spesies, seperti Snake River-Salmon, bahkan berenang sepanjang 1.448 kilometer.”

Dalam perjuangan berpindah/bermigrasi itu, lanjut Raditya, banyak ikan salmon yang mati kelelahan atau menjadi santapan beruang yang menunggu di bagian-bagian sungai yang dangkal. Yang menakjubkan, salmon-salmon itu tetap pergi, tetap berpindah, apa pun yang terjadi. Inilah yang kemudian mengilhami Dika tentang sebuah kehidupan yang di dalamnya adalah potongan-potongan perpindahan. “Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani berpindah.” Begitu tulis Dika. Renungan ini boleh juga‚ÄĒuntuk ukuran buku yang tidak diniatkan sebagai buku serius.

Saya melihat kekuatan terbesar Dika adalah penulisannya yang ringan dalam menuturkan kejadian sehari-hari. Tapi, setiap kali Dika mau ¬†keluar dari area nyaman itu dan masuk ke wilayah gokil dan lebay, kualitas tulisannya rada hancur lebur dan kurang enak dibaca.¬†Ada beberapa bab yang menurut saya “nggak banget”, seperti bab pertama yang berkisah tentang kebiasaan kentut ayahnya setiap pagi dengan alasan kesehatan, dan bab “Interview with the Hantus” yang rada maksa. Tapi ada juga yang dengan lugas dan kocak bercerita tentang bau badan akut yang diderita sopirnya. Sayang, ada¬†bab-bab yang dipaksakan berisi¬†reply¬†dari¬†tweet¬†yang seakan hanya untuk menambah-nambah jumlah halaman saja.

Namun, saya harus mengakui kreativitas Dika pada bab ‚ÄúJomblonology‚ÄĚ yang membahas soal jomblo (baca: belum punya pacar) dengan gaya sok ilmiah, juga beberapa bab konyol yang berisi ikon-ikon konyol yang bisa dibuat di ponsel (BB, mungkin). Seperti biasa, Dika doyan menggunakan kata ganti bahasa Betawi (gue-elo), walau kalimatnya terkadang malah baku (tapi tidak kaku). Jadi kagok bacanya sih, menurut saya. Tapi Dika cukup piawai membanyol dan punya ciri khas tersendiri.

Mungkin gaya menulis seperti Dika ini banyak dilakukan oleh remaja/anak muda di zaman¬†digital native ini, zaman ketika anak-anak lahir atau besar di masa ketika Internet dan aneka¬†gadget¬†sudah menjadi barang wajib. Tentunya gaya dan bahasa yang ditampilkan agak berbeda dibandingkan masa ’80-an, ketika anak muda Indonesia menggemari sosok petualang dalam¬†Balada Si Roy-nya Gola Gong, atau pemuda culun tapi (agak) cerdik dalam¬†Lupus-nya Hilman. Entahlah, tapi “rasa”nya jelas beda.

Anak sekarang nge-blog. Nge-tweet. Bahasa nggak perlu rapi. Bisa jadi sengaja atau memang nggak ngerti. Bego-begoan. Narsis. Konyol. Galau. Susah serius. Dan lihatlah hasilnya: Raditya Dika (Kambing Jantan, dll), Arief Muhammad (Pocong Juga Pocongg), Alit Susanto (Shitlicious), Benazio Rizki Putra alias Bena Kribo (Benablog), dan banyak lagi. Perhatikan gaya dan bahasa mereka yang hampir senada, punya ciri khas yang mudah terasa. Tulisan tentang kejadian sehari-hari, yang mungkin terasa remeh, namun gaya generasi mereka bisa sangat menarik bagi pembaca segenerasi mereka. Mungkin merekalah Hilman dan Gola Gong masa kini.

All in all, ini buku yang menghibur dan tak berpretensi berumit-rumit. Menurut saya, Dika (masih) berhasil¬†berkomunikasi dengan pembaca sezamannya. Namun, sementara usianya semakin bertambah, Raditya pun tak sanggup untuk tidak memperlihatkan ke”dewasa”annya. Mengingat fanbase Dika yang sebagian besar anak SMP-SMA-mahasiswa, saya bertanya-tanya dalam hati apakah mereka kehilangan Dika yang dulu, apakah mereka bisa menerima kenyataan bahwa Dika tak akan selamanya jadi remaja konyol yang suka ngebanyol. Pada satu titik, ia akan merenung‚ÄĒdan merenung mendalam bukanlah sifat ABG atau alay. Mereka mungkin akan menganggap “kedewasaan” Dika sebagai hal yang membosankan atau memusingkan‚ÄĒalias nggak nyambung. Jadi, mungkin menarik melihat akan seperti apa buku Dika selanjutnya. Saya sih berharap dengan pengalaman dan kreativitasnya, Dika bisa menulis kisah fiktif sekalian, bukan melulu dari pengalaman pribadi atau status-status galau di Twitter.