Tag Archives: singapore

Thai Times #1

Backpacking ke 3 negara cukup bawa ini aja 🙂

“Traveling…it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.”

~ Ibnu Batutah (“backpacker” & travel writer abad ke-14)

Namanya pegawai swasta, jatah cuti sangat terbatas. Jadi saya harus bisa pintar-pintar mengatur waktu supaya hobi backpacking saya tidak terganggu. Untunglah libur Lebaran tahun ini harinya sangat enak: Idul Fitri jatuh pada 19-20 Agustus 2012. Itu hari Minggu dan Senin. Puasa sudah, sholat Ied sudah, silaturahim dengan keluarga sudah. Di TV beritanya juga cuma soal macet melulu. Tempat-tempat publik juga pasti sangat ramai karena semua orang liburnya bersamaan. Duh, membosankan! Jadi, mau apa lagi? Jawaban saya sudah jelas: backpacking! 🙂

Lagi pula, ini pertama kalinya saya bisa ngetes backpack Rei ukuran 50 liter saya untuk pertama kali, setelah selama ini cuma gendong ransel kecil yang sehari-hari juga dipakai buat ngantor itu. 🙂

Jadi, hari Selasanya saya dan istri memilih terbang ke Thailand buat backpackingyahooo!! Sebelum berangkat, sejak 2,5 bulan sebelumnya saya sudah memesan semua tiket pesawat, hotel, dan bus dari Hatyai ke Kuala Lumpur. Entah ada hubungannya atau tidak, agak susah dapat tiket pesawat langsung ke Thailand yang harganya rada murah di bulan Agustus atau sekitar hari raya Idul Fitri.  Jadi saya sengaja cari rute yang bisa transit di sana-sini agar tiketnya bisa rada murah dikit. 🙂 Jadilah saya beli 3 tiket pesawat: Jakarta-Singapura, Singapura-Bangkok, dan Kuala Lumpur-Bandung.

Supaya tidak rugi transit di satu negara, saya memilih jeda waktu yang agak panjang saat transit di Singapura dan KL. Lumayan kan jalan-jalan seharian di sana? 🙂 (FYI, mulai September Mandala membuka rute Jakarta-Bangkok langsung). Tiket Jakarta-Singapura sekitar Rp 250 ribu per orang dengan Jetstar. Tiket dari Singapura ke Bangkok sendiri sekitar Rp 600 ribu per orang dengan pesawat Tiger Airways.

Kami tiba di Singapura tengah malam jam 00.50 waktu lokal. Setelah lewat pemeriksaan imigrasi, saya langsung menyesal karena tampaknya spot untuk tidur lebih nyaman di area transit sebelum keluar dari imigrasi. Tapi setelah iseng-iseng naik Skytrain (= monorel di kawasan Bandara Changi) bolak-balik ke terminal 2 dan 3, saya kembali ke Terminal 1 dan menemukan banyak tempat duduk kosong di luar departure lounge dan banyak pula orang yang tidur di sekitar situ. Dan setidaknya di area ini tak terlalu ramai seperti di area dalam imigrasi.

Karena lupa membawa jaket, saya mengeluarkan sarung untuk sedikit melindungi tubuh karena AC di sini lumayan dingin. Backpack yang cuma berisi baju saya jadikan bantal. Pukul 05.30 saya bangun. Setelah cuci muka dan sikat gigi (istri saya malah sempat mandi pakai shower WC gitu :P), kami mencari mushola, namun ternyata mushola hanya ada di bagian dalam departure lounge. Terpaksalah kami sholat di samping kursi tempat kami tidur tadi.

Walaupun terhitung transit, saya punya misi khusus di Singapura kali ini: mengunjungi taman indah yang baru dibuka di Singapura: Gardens by the Bay. Gardens by the Bay adalah wahana baru Singapura yang baru dibuka sekitar akhir Juni lalu. Sebuah taman raksasa seluas 101 hektar di kawasan Marina Bay. Setelah sarapan kari ayam dan laksa di area bandara, sekitar jam 06.30 kami pun keluar. Lebih tepatnya, turun ke stasiun MRT di bawah Terminal 2.  Sebelumnya, saya menitipkan backpack kami di bagian Left Luggage di Terminal 2—biayanya SGD 6 untuk dua tas besar selama 24 jam. Saya juga masih punya kartu EZ Link, biar praktis ke mana-mana naik MRT.

Sekitar 40 menit kemudian, saya tiba di stasiun Bayfront. Keluar dari stasiun, di sebelah kiri tampak gedung Marina Bay Sands yang terkenal itu. Dan di sebelah kanan pintu keluar langsung tampak pohon-pohon artifisial berukuran raksasa yang menjadi ikon utama Gardens by the Bay. Dari jauh, taman raksasa itu sudah tampak menakjubkan.

Gardens by the Bay, Singapura.

Gardens by the Bay adalah bagian integral dari proyek pemerintah Singapura untuk mengubah tata kota negara itu dari “Garden City” (Kota Taman) menjadi “City in a Garden” (Kota di Dalam Taman). Itu semua ditujukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan di perkotaan. Taman besar itu juga dibangun untuk menjadi ruang terbuka publik terbesar di Singapura dan ikon negara-kota tersebut.

Pemandangan ke arah Singapore Flyer dari Dragonfly Bridge, gerbang Bay South, Gardens by the Bay.

Gardens by the Bay dibagi menjadi dua bagian: Bay South dan Bay East. Memang masih ada area yang belum selesai dibangun, tapi itu tak mengganggu bagian-bagian lain yang bisa dinikmati pengunjung. Dari arah stasiun MRT Bayfront, pengunjung taman ini akan langsung diarahkan ke area Bay South—area ini gratis dan buka pukul 05.00 sampai 02.00 dini hari. Dari pintu masuk, pengunjung akan menyeberangi jembatan di atas danau buatan yang dinamakan Dragonfly Lake. Setelah itu, pengunjung akan menemukan Supertrees—media berupa tiang-tiang yang dibentuk menyerupai pohon, kemudian jutaan flora langka dan flora yang masuk dalam daftar konservasi ditempatkan di tubuh “pohon” tadi.

Pohon-pohon artifisial yang surealis itu 🙂

Sekitar 11 Supertrees menjulang ke angkasa. Pemandangan semacam ini terasa surealis dan mengingatkan saya pada film Avatar dengan pohon-pohon raksasa setinggi dan sebesar gedung belasan lantai. Dengan membayar SGD 5, Anda bisa naik lift di salah satu pohon yang disambungkan dengan jembatan ke sebuah pohon lain. Dari atas, Anda bisa melihat pemandangan taman dan sebagian kota.

Taman ini keren banget buat yang suka fotografi dan punya kamera bagus (gak kayak saya) 😛

Pada malam hari, Supertrees—yang di tubuhnya juga dipasangi lampu-lampu hias—akan menyala terang dan menciptakan pemandangan spektakuler. Di sekitar situ juga ada area Heritage Garden, sebuah theme park yang akan membawa pengunjung menikmati kebun dengan nuansa sejarah dan budaya tiga etnik besar di Singapura: Melayu, Cina, dan India.

Setelah itu, saya sampai di area Cloud Forest dan Flower Dome. Untuk masuk ke kedua wahana itu, pengunjung harus membayar tiket yang sangat mahal: SGD 28 per orang (sekitar Rp 205.000). Setelah merenung dan mengamati dompet sejenak, akhirnya saya memutuskan untuk membeli tiket. Pikir saya, ya sudahlah, tak apa kalau hanya untuk sekali seumur hidup.

Air terjun buatan menyambut pengunjung di pintu masuk Clod Forest.

Gedung Cloud Forest didesain ala suasana pegunungan tropis berketinggian 1.000-3.500 meter. Di pintu masuk, pengunjung akan disambut dengan air terjun artifisial dan embusan angin sejuk yang disetel pada suhu belasan derajat Celcius. “Gunung” buatan ini bisa dijelajahi dengan lift, tangga, atau cukup berjalan kaki di sepanjang jalur yang ada. Dinding-dinding di bagian dalam dipenuhi gambar-gambar berisi informasi tentang lingkungan hidup.

Di dalam “gunung”, ada area bioskop mini bernama +5, tempat pengunjung disuguhi film dokumenter berdurasi sekitar 5 menit yang terus diulang dengan jeda 15 detik. Pesan film tersebut adalah tentang pemanasan global alias global warming—suhu Bumi diperkirakan akan naik 5 derajat Celcius selama abad ke-21 ini dan bagaimana dampaknya pada kehidupan di planet kita.

Bioskop +5. Keren, gambarnya juga “ditembak” dari atas ke lantai di depan layar 🙂

Menariknya, di ruangan ini gambar juga ditembakkan dari atas, sehingga area di depan layar pun ikut menjadi media yang menciptakan gambar-gambar yang memanjakan mata. Dari Cloud Forest, saya lanjut ke Flower Dome yang desain interiornya spektakuler. Ini adalah taman bunga yang menampilkan ribuan panel yang diisi ribuan jenis bunga dan pohon dari berbagai wilayah dunia.

Di Bay East, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan tropis, danau buatan yang luas, taman bunga, area jalan-jalan, hingga lokasi piknik dengan pemandangan perairan Marina Bay yang indah. Area bagian timur ini cocok digunakan sebagai tempat nongkrong dengan teman, bersantai bersama keluarga, atau bahkan melakukan aktivitas olahraga seperti jogging dan bersepeda.

Ini dia yang namanya Flower Dome.

Kalau jalan-jalan santai model begini, sudah pasti kita akan dehidrasi kalau tak banyak minum. Untunglah Singapura adalah negara yang menyediakan air di tempat-tempat publik yang bisa langsung diminum. Jadi, saran saya, jangan lupa bawa  botol kosong dan cari tempat-tempat yang mirip wastafel di area taman ini untuk mendapatkan air minum gratis. Di Bandara Changi sendiri sebelumnya saya sudah mengisi botol sampai penuh buat bekal. Di Gardens by the Bay ini juga ada. Lumayanlah, daripada beli. 🙂

Ngisi botol minum dulu di bandara 🙂

Sambil ngaso di bawah rindangnya pohon-pohon dan minum air gratisan tadi, saya melamun soal taman ini. Singapura sialan, batin saya. Mereka bahkan bisa mengemas taman menjadi tujuan wisata yang mengagumkan. Padahal konsepnya lumayan sederhana, hanya memang eksekusinya total dan serius.

Apakah Anda sekadar transit atau memang menghabiskan beberapa hari di Singapura, Gardens by the Bay ini wajib dikunjungi. Sebagian besar areanya gratis, hanya Cloud Forest dan Flower Dome yang memungut bayaran kalau mau masuk. Itu pun saat kita keluar dari kedua wahana itu, tangan kita akan dicap khusus yang bisa dilihat hanya dengan senter infra merah dan kita diperbolehkan kembali masuk pada hari yang sama. Jadi, kalau dana cekak, jalan-jalan di Bay South dan East saja udah lebih dari cukup bikin kaki gempor. Tapi puas kok! 🙂 Kalau masih ada waktu, jalan kaki dari sini ke Merlion Park (yang ada patung singa itu) juga dekat. Paling jalan sekitar 30 menit lah. Itu pun kalau nggak berhenti-berhenti dulu buat foto-foto narsis…hehehe. 😛

Tak terasa, sudah jam 1 siang. Sebenarnya waktu itu saya berencana mengunjungi Botanic Park dan taman-taman lain di Singapura (yang gratisan). Tapi berhubung sudah capek dan saya perkirakan waktunya ngepas buat sampai di bandara untuk ambil tas, naik shuttle bus ke Budget Terminal, check-in, dan makan siang, saya putuskan untuk kembali ke bandara dari Gardens by the Bay.

Pukul 15.30, Tiger Airways yang kami tumpangi terbang ke Bangkok, Thailand. Penerbangan ini akan makan waktu 2,5 jam.

(Bersambung)

NB: Ini saya kasih bonus foto-foto keren Gardens by the Bay. Apa artinya taman cantik kalau tak difoto? 🙂

Satu pemandangan di Cloud Forest.

Gardens by the Bay dengan latar gedung Marina Bay Sands.

Supertrees dengan latar belakang gedung Marina Bay Sands.

Flower Dome yang megah 🙂

Di dinding-dinding Cloud Forest banyak gambar dan info soal lingkungan hidup.

Pohon baobab asal Afrika. Yang disebut-sebut di buku “Little Prince”-nya Saint-Exupery itu 🙂

Dragonfly Lake.

Salah satu sudut taman.

Toko suvenir. Di sini sih mahal-mahal. Saya cuma beli magnet kulkas satu aja. 😛

Cerita Singapura #6 (Tamat)

Selasa, 21 Februari 2012

Hari terakhir di Singapura itu kami tak punya acara khusus. Pagi itu kami sedikit bersantai setelah berkemas dan membereskan tas-tas. Berhubung teman saya si Abah harus pergi ngantor jam 09.00, kami harus berfoto dulu dengan keluarganya…hehehe. Sekalian pamit. Kebetulan pas difoto, saya dan anak-anak Abah belum mandi semua…top! 🙂

Jam 10 kami jalan-jalan lagi, menghabiskan beberapa jam yang tersisa di Singapura. Pesawat kami terbang jam 18.30, jadi setidaknya kami sudah berada di bandara jam 16.00 biar nggak terburu-buru. Perjalanan ke bandara pun butuh waktu sedikitnya 1 jam dengan kereta MRT. Berhubung kami hanya jalan-jalan santai, pagi menjelang siang itu kami awali dengan ritual sarapan nasi lemak di Chinese Garden dulu, seperti biasa. 🙂

Selama mondar-mandir naik MRT di Singapura, saya suka memerhatikan tingkah laku warga di sini. Salah satu hal yang kita dapat saat jalan-jalan ke luar negeri adalah mengadopsi kebiasaan positif warga di negara yang kita kunjungi. Di gerbong MRT, walaupun ada tempat duduk khusus untuk orang lanjut usia, ibu hamil, orangtua dengan balita, dan difabel, kalau memang tak ada orangnya mereka tetap duduk di situ. Tapi kalau ada, mereka akan berdiri dan menawarkan tempat duduk itu. Hari pertama tiba di Singapura pun saya sempat duduk di situ, tapi menawarkan tempat saya ke seorang nenek. Tapi dia malah menolak. “No, no. Sit, sit lah,” begitu katanya. Di hari lain, seorang cewek berpakaian tanktop dan hot pants yang tadinya duduk di tempat khusus manula mendadak menghampiri seorang pria lanjut usia untuk menawarkan tempat duduknya. Tapi pria itu menolak dengan ramah, dan si cewek seksi itu juga tidak kembali ke tempat duduknya.

Saat dalam perjalanan, sebagian penumpang lebih suka mengobrol dengan teman atau bermain dengan gadget masing-masing. Untuk smartphone, sebagian besar mereka lebih memilih iPhone, atau berbagai ponsel Android seperti Samsung dan HTC. BlackBerry? Saya hampir tak pernah lihat. Mungkin benar juga tuh berita-berita yang menyatakan bahwa penggila BlackBerry tinggal orang Indonesia saja. 🙂 Untuk tablet, lagi-lagi produk Apple-lah yang paling sering terlihat di sini: iPad. Banyak juga yang pakai Samsung Galaxy Tab. Bagaimana dengan BlackBerry PlayBook? Saya nggak pernah lihat. 🙂

Antre panjang menunggu bus kota.

Soal budaya antre, jangan tanya. Mereka bahkan bersedia antre bus kota walau panjang seperti ini. Soal kebersihan juga menakjubkan. Di sini saya nyaris tak pernah melihat petugas kebersihan di jalanan. Polisi lalu-lintas juga tidak pernah terlihat. Siang itu kami hanya mondar-mandir ke Chinatown, Little India, dan beberapa tempat lain. Kami hanya berhenti di satu stasiun, turun, mondar-mandir di sekitar situ, lalu naik kereta lagi dan turun di tempat lain.

Jam 2 siang kami sudah pulang lagi ke apartemen, berkemas sedikit lagi, makan siang, dan pamitan sama Atti dan anak-anak. Di stasiun, kami sempat membeli waffle dan jus leci untuk ngemil di bandara nanti. Enaknya naik dari stasiun yang nyaris di ujung rute kereta, kami selalu mendapati gerbong yang nyaris kosong. Berhubung perjalanan ini akan makan waktu satu jam dan kami membawa beberapa tas yang sudah penuh, berdiri sepanjang perjalanan jelas cuma bikin sengsara. 🙂 Sambil duduk manis dan menyender, kami hanya tinggal menikmati perjalanan kereta ke bandara Changi. Saya bahkan sempat tertidur selama 15 menit. Lumayan lah. 🙂

***

Traveling itu menyenangkan. Bahkan banyak orang sering bilang “life is a journey, not a destination.” Jadi, why not travelingBackpacking mengajarkan banyak hal kepada kita—selain kemandirian, pastinya. Saat-saat berkemas, misalnya, menunjukkan bahwa sebenarnya hidup itu tak perlu berlebihan. Seperlunya saja dan seringkas mungkin. Artinya kita belajar untuk merencanakan sesuatu sebaik mungkin. Termasuk Plan B-nya juga. Persiapan sebelum pergi sebenarnya mengasyikkan, walau terkesan agak merepotkan: Memilih-milih dan menggulung baju yang akan dibawa, mengemas perlengkapan mandi dengan ringkas, mempelajari rute perjalanan dan informasi penting tentang negara yang akan dikunjungi, menghitung dan menyesuaikan biaya perjalanan dengan tabungan, memilah-milah uang agar tidak disimpan di satu tempat, menukar uang rupiah dengan mata uang negara tujuan, menghitung jatah cuti dari kantor, mengurus visa (kalau negara yang dikunjungi mensyaratkan visa), dan banyak lagi. Tapi semua kerepotan itu terbayar lunas saat kita tiba di tujuan dan tinggal menikmati semua yang kita rencanakan.

Namun, entah kenapa saya masih bisa menangkap kesan membosankan kalau tinggal di Singapura dalam jangka lama (Ya, kadang saya membayangkan seperti apa rasanya tinggal dan bekerja di sini). Sekali lagi: entah kenapa. Apakah karena terlalu banyak aturan dan ancaman denda? Rasanya tidak. Saya pribadi kok bisa menerima semua itu, ya? Dilarang merokok, meludah, makan dan minum di bus dan kereta, buang sampah sembarangan, dan lain-lain…apa yang salah dengan semua itu? Lihat hasilnya: bersih dan tertib di mana-mana. Sejak pertama ke luar negeri ke Hong Kong 10 tahun lalu, sadar tak sadar saya juga mengikuti kebiasaan positif warganya. Sekarang kalau akan membuang sampah dan tidak melihat ada tempat sampah di dekat saya, biasanya saya simpan dulu benda yang akan saya buang itu. Cuma memang kebiasaan positif ini kalau dibawa ke Indonesia sering bikin sakit hati. 😛 Atau mungkin karena saking teraturnya negara mungil ini terasa kurang “hidup”? Rasanya tidak. Singapura sudah lama menjadi kota yang sering menggelar konser band-band internasional. Pusat seni dan kebudayaan juga tak kurang. Lalu apa? Biaya hidup yang tinggi? Entah juga. Apartemen teman saya di sini yang berkamar tiga biaya sewanya sekitar S$ 2.000 – 2.500. Tapi tentu saja standar gaji di Singapura jauh lebih tinggi dibandingkan kita.

Jadi, apa dong? Yaa…saya tidak tahu. 😛 Mungkin ini: banyak hal terasa artifisial di sini. Kita tahu Singapura pernah (dan masih) melakukan reklamasi wilayah dengan pasir. Sekarang pun pemerintahnya masih membeli pasir dari luar negeri, persisnya dari Thailand (karena Indonesia dan Malaysia tak lagi mau menjual pasirnya). Ini bisa dimaklumi mengingat terbatasnya wilayah mereka, sementara jumlah penduduk terus bertambah. Saat ini jumlah penduduk Singapura mencapai 5 juta orang. Hebatnya, dengan wilayah yang “sempit” itu mereka bisa memaksimalkan potensi negaranya: sanggup menarik sekitar 13 juta wisatawan tahun lalu, menjadi pelabuhan laut paling sibuk no.6 sedunia, punya bandara Changi yang disebut sebagai salah satu bandara terbaik sedunia, dan sederet prestasi lain. Tapi beberapa tempat bagi saya terkesan artifisial dan datar saja (mungkin ya karena alamnya tak seindah kita). Misalnya, Sentosa Island atau Merlion. Kita bisa saja toh bikin patung Garuda di pinggir pantai, dilengkapi dengan air mancur, dan jadilah salah satu ikon Indonesia, kan? Memang sih kita punya patung Garuda Wisnu Kencana di Bali, tapi mosok Indonesia cuma Bali melulu sih? Gagal dong promosi pariwisata kita kalau turis asing cuma tahu Bali dan Bali lagi. Namun secara keseluruhan saya harus mengakui keunggulan Singapura dalam hal penataan kota, kebersihan, keamanan, kedisipilinan warganya, dan transportasi massal yang terintegrasi. Semua itu sanggup mendongkrak semua hal yang biasa-biasa saja dan artifisial menjadi penyedot turis asing untuk selalu datang ke negeri kecil ini.

Semua kisah yang saya tulis ini tentu adalah persepsi saya pribadi. Memang masih terlalu umum dan menyederhanakan, hanya berdasarkan pengamatan selama beberapa hari. Jadi tentu tak bisa mewakili kondisi sebenarnya. Saya hanya pergi melancong ke negeri lain dan menikmati momen-momen anak kecil yang selalu takjub ketika melihat dan mengalami hal-hal baru. The joy of finding new things. Paul Theroux, seorang penulis top buku-buku bergenre travel writing, pernah bilang, “Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku.” Kesan yang didapat istri saya yang baru pertama ke luar negeri juga pasti berbeda dengan saya.

***

Suasana di Budget Terminal, Changi.

Jam 16.00 kami sudah tiba di Budget Terminal Bandara Changi. Ini pertama kali saya melihat terminal keberangkatan di area ini. Sebenarnya terminal ini tampak sederhana, tapi jadi nyaman sekali rasanya karena tempat ini sangat bersih. Setelah check in, kami numpang duduk di area sebuah kafe dan menghabiskan kue waffle dan jus leci yang kami beli di stasiun Pioneer sejam sebelumnya. Soalnya di pesawat nanti cuma dikasih sebungkus kecil kacang, tanpa minum. 🙂

Setelah makan, kami masuk ke ruang tunggu di area Boarding Gates. Selain beberapa kafe, resto, toko suvenir, dan toko buku, ada area untuk main Internet gratis di sini. Walau gratis, akses Internet akan mati sendiri setelah 15 menit, supaya bisa bergantian dengan pemakai berikutnya. Tapi kalau tidak ada orang lain yang mengantre, silakan lanjut. 🙂 Habis dari situ saya juga sempat main ke toko buku Hudson News dan membeli buku biografi Steven Tyler…hehe!

Internet gratis di area Boarding Gates.

Setelah 15 menit ber-Internet ria, kami mencari keberangkatan kami dan duduk di depannya. Setelah mendaftar untuk mendapatkan boarding pass di gate tersebut, saya kena bencana. Saat itu istri saya bertanya, “Lho, mana tas yang satu lagi?” Saat itu saya hanya membawa backpack, satu tas selempang kecil, dan satu tas tenteng kecil berisi celana dalam kotor dan buku-buku pesanan teman kantor yang saya beli di Kinokuniya. Yang terakhir ini tidak ada. Saya mendadak panik luar biasa.

Satu-satunya tempat yang saya ingat adalah tempat duduk di luar gate ini tadi. Saya berlari keluar dan sempat diteriaki petugas agar meninggalkan paspor dan kertas boarding pass saya dulu. Baru setelah itu saya bisa berlari-lari mencari tas saya yang hilang. Di deretan kursi depan gate tidak ada. Saya berlari ke area Internet gratis tadi. Tidak ada juga. Ke toko buku tadi, tidak ada juga. Siapa yang mengambil? Mungkin salah seorang penumpang yang berbakat klepto. Atau bisa juga petugas keamanan bandara yang menyangka tas itu berisi bom. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya sepanik ini. Saat itu mungkin 15 menit lagi pesawat akan lepas landas. Tinggal satu cara: melapor ke petugas keamanan.

Tas saya hilang di sini 😦

Saya pun lari menemui petugas keamanan terdekat, seorang wanita India. Herannya, sambil ngos-ngosan, saya masih sanggup melaporkan kehilangan saya (dengan bahasa Inggris) dan mendeskripsikan bentuk serta warnanya. Si petugas membawa saya ke kantor dan saya dilayani seorang petugas bertampang Melayu. Saya melaporkan lagi soal tas saya yang hilang, tapi kali ini dengan bahasa Indonesia. Saya sudah tidak sadar lagi bicara dengan bahasa apa ke kedua orang itu. Gonta-ganti. Mereka pun sibuk dengan walkie-talkie dan beberapa detik kemudian empat orang petugas mendekat. Setelah di-briefing beberapa detik, mereka pun berpencar. Para petugas keamanan bandara kini jadi sibuk gara-gara saya. Si petugas Melayu tetap menemani saya. Seorang pelayan kafe melaporkan ada sesuatu yang ditinggalkan di meja. Tapi ternyata hanya sebuah tas yang bukan milik saya. Lalu saya mendengar nama saya dipanggil lewat pengeras suara untuk segera naik karena tinggal saya penumpang yang belum muncul.

They’re calling my name,” kata saya ke si petugas yang masih tetap sibuk berkomunikasi dengan walkie-talkie.

It’s okay, tenang. I understand.”

Si petugas Melayu juga bertanya ke orang-orang sekitar, termasuk ke petugas boarding. Tapi hasilnya nihil. “Nothing,” katanya kepada saya sambil pasang wajah menyesal dan angkat bahu. Saya cuma bisa lemas dan berjalan gontai ke pesawat.

Di pesawat, saya masih sedih dan menyesali kehilangan tas saya. Bukan soal celana dalam yang hilang, itu sih biarin aja, tapi hilangnya tiga buah buku senilai dua ratus ribuan pesanan teman kantor yang sebenarnya bisa diklaim nantinya. Tapi ya…sudahlah. Itu keteledoran saya sendiri. Tas saya juga kemungkinan sulit dilacak karena tas itu akan dibawa masuk ke kabin, jadi nggak dilabeli nomor apa pun seperti tas-tas yang masuk ke bagasi pesawat. Bisa saja sih mengecek CCTV dan mencari siapa pun yang mengambil tas saya. Tapi jelas sudah tidak ada waktu lagi. Istri saya bahkan sudah naik ke pesawat. Sepertinya karena terlalu capek, saya jadi teledor meninggalkan tas saya di samping kursi tunggu. Saat hendak boarding, saya menenteng backpack saya—bukan menggendongnya. Jadi secara psikologis saya merasa sudah membawa tas saya yang ditenteng—padahal tas itu tertinggal di samping kursi saya tadi. Sial…. 😦

***

Mendarat kembali di Bandara Soekarno-Hatta, saya merasa semakin sedih. Meskipun hanya dibedakan sekitar 1,5 jam terbang, kondisi Changi dan Cengkareng sangat berbeda. Ibarat bumi dan langit. Ya, negara tertib dan negara semrawut tentu saja berbeda. Setelah membeli tiket bus ke Bandung, saya diminta menunggu di sebuah sudut karena busnya akan menjemput penumpang di situ. Berhubung tempat duduk terdekat sudah penuh (dan banyak perokok brengsek), saya pun nongkrong di dekat tembok. Itu pun saya diusir satpam, dan disuruh duduk di deretan kursi yang sudah penuh tadi. Sebalnya, jarak antara deretan kursi itu ke kursi terdekat lainnya lebih dari 150 meter. Padahal ruang kosong yang ada untuk menempatkan kursi-kursi pun sebenarnya masih luas sekali.

Setelah naik ke bus yang menuju Bandung, saya membayangkan diri menjadi orang asing yang baru pertama kali datang ke Indonesia. Betapa membingungkan. Tak ada papan petunjuk bagaimana caranya menuju pusat kota Jakarta. Kalau tak ada orang yang menjemput, semua harus naik taksi (padahal taksi itu mahal!). Naik bus Damri pun pasti harus tanya-tanya ke sana kemari dulu. Kereta dari/ke bandara? Wah, paling cepat baru selesai pembangunannya akhir tahun 2012 ini. Ojek? Walah, memangnya turis first-timer tahu itu benda apa? 😛

Untuk urusan transportasi, kita tertinggal cukup jauh dibandingkan para tetangga kita. Singapura memiliki MRT sejak 1987. Kuala Lumpur punya monorail dan subway sejak awal tahun 2000-an, Bangkok boleh berbangga dengan skytrain dan MRT yang dioperasikan sejak 1999. Manila punya LRT dan MRT sejak 2005. Diam-diam negara-negara tetangga kita itu maju dengan mantap dan pasti, sementara kita di sini masih ribut dengan banjir dan tomcat. Okelah, Bangkok memang masih didera kemacetan pada jam sibuk walau sudah punya sistem transportasi yang lebih maju daripada Indonesia (baca: Jakarta). Tapi itu masih lebih bagus karena setidaknya mempu mengurangi tingkat kemacetan yang lebih parah sebelum moda transportasi massal itu diluncurkan. Untuk soal transportasi ini, Singapura masih juara di Asia Tenggara.

Konon, negara tertinggal bisa dilihat dari masih adanya sistem setoran dan angkot. Nah, kita masih punya semua itu. Siapa pun bisa saja membeli beberapa mobil untuk angkot. Asalkan si pemilik mengantongi izin dari Dishub dan Organda, beres deh. Tinggal mencari beberapa orang untuk menjadi sopirnya, dan mereka diwajibkan memberikan setoran sekian ratus ribu sehari. Perkara si sopir mau kebut-kebutan, balapan dengan angkot lain, jalan mundur, ngetem sembarangan berjam-jam, menaik-turunkan penumpang seenaknya, kongkalikong dengan pemerkosa yang sakit jiwa, itu urusan lain. Yang penting pemilik mobil terima setoran tiap hari.

Walhasil, dengan pola seperti itu, kacau balaulah transportasi kita. Bus dalam kota dan antarkota kebanyakan juga masih pakai sistem setoran. Angkot bikin macet, tidak aman karena penumpangnya rentan dirampok atau diperkosa, sopirnya pun banyak yang jadi korban pemalakan preman yang minta disebut timer, dan macam-macam lagi. Warga yang sudah muak pun banyak yang lebih suka beli kendaraan pribadi—motor jelas yang paling murah. Kalau sudah begini, jalanan jadi tambah macet. Butuh revolusi transportasi kalau begini caranya. Mestinya pemerintah bisa bikin konsorsium bekerja sama dengan swasta atau luar negeri, hapus sistem setoran, bikin perusahaan profesional, gandeng dan bina semua sopir angkot dan bus kota untuk jadi karyawan bergaji, remajakan semua kendaraan yang tidak layak jalan. Paling-paling yang protes Organda…hehehe. 🙂

Saya menyadari betapa mahalnya harga sebuah mentalitas negara maju. Soal infrastruktur sih kita masih bisa berutang ke sana kemari. Itu pun mudah-mudahan nggak dikorupsi. Bikin gedung pencakar langit, alat transportasi massal, jalanan lebar, kita semua bisa kok. Tapi mental warga negara maju tidak bisa dibeli. Ia harus diusahakan melalui pendidikan atau edukasi informal, dan dilengkapi dengan peraturan yang dipatuhi semua warga. Tapi prosesnya mungkin akan makan waktu bertahun-tahun.

Warga Beijing dulu terkenal doyan meludah sembarangan. Tapi Olimpiade Beijing 2008 lumayan bisa mengubah kebiasaan buruk itu. Larangan meludah sembarangan dikeluarkan dan dijalankan dengan tegas. Jelas pemerintah Cina akan malu berat kalau turis-turis yang datang untuk nonton Olimpiade melihat sendiri warga ibukotanya meludah massal di jalanan. TransJakarta itu dulunya bus yang bagus dan pada awalnya semua pengguna bus itu masih tertib. Sekarang bus itu sudah kacau balau, kotor, banyak yang rusak, sesekali bahkan terbakar sendiri. Pengelola tidak bekerja maksimal, jumlah bus yang beroperasi semakin sedikit. Penumpang juga semakin susah diajak tertib. Kalau lagi ramai, mau keluar dari bus pun mesti sikut-sikutan dulu dengan penumpang yang akan masuk. Belum lagi kadang ada orang gila yang suka melakukan pelecehan seksual di bus. Semrawut. Suatu hari nanti, kalau Indonesia (baca: Jakarta) sudah punya kereta bawah tanah subway, seperti apa ya orang kita menyikapi dan memperlakukan fasilitas itu? 😛

***

Singkat cerita, tengah malam saya sampai di daerah Batununggal, pemberhentian terakhir bus Primajasa kami. Beberapa taksi sedang antre menunggu penumpang di sana. Ada plang pengumuman yang isinya pemberitahuan bahwa semua taksi harus antre dan harus memakai argometer. Saat saya tanya beberapa sopir taksi, mereka semua bilang tak mau memakai argo dan memasang tarif Rp 40 ribu untuk ke rumah saya di daerah Ciganitri—tidak jauh, sebenarnya.

Jelas kami nggak mau, karena kami tahu tarifnya tidak semahal itu kalau pakai argo. Jadi, kami pun menelepon Blue Bird. Operatornya bilang mereka akan menjemput kami di masjid dekat situ, karena mereka “tidak bisa” menjemput penumpang persis di depan pool Primajasa. Silakan tebak sendiri kenapa. 😛

Omong-omong, berapa tarif taksi setelah sampai di rumah saya? Hanya 25 ribu. []

Tamat.

with abahSpecial thanks to Abah & family for making our trip more fun and cheaper 🙂

Next backpacking trip in 2012: Thailand.

Cerita Singapura #5 (+ KL Stories)

Kawasan Bukit Bintang dengan KL Tower menjulang di latar belakang.

Senin, 20 Februari 2012

Walau baru satu malam berada di Kuala Lumpur, saya kadang berpikir bahwa mengunjung Malaysia atau Singapura itu seperti mengunjungi kampung halaman sendiri. Banyak hal terasa sama. Secara psikologis, tingkat ketegangan saat melancong ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura tak setinggi saat berkunjung ke negara yang sangat “asing”. Saat tinggal di Ukraina empat tahun lalu, ketegangan tingkat tinggi dimulai ketika saya mendarat di Bandara Borispol, Kiev. Petugas bertanya kepada saya dengan bahasa Rusia dan di mana-mana tulisan didominasi huruf Cyrillic. Bahasa Inggris hanya sedikit berguna karena sebagian besar warga di Ukraina tak bisa berbahasa Inggris. Sesekali ada orang yang menoleh ke arah saya, dan mereka yang sering tertidur saat pelajaran geografi di sekolah mengira saya orang Afrika. Pada saat-saat seperti itulah saya merasa asing.

Di Singapura dan Malaysia, bahasa Indonesia masih bisa dimengerti orang-orang di sana. Kalau mentok, ya pakai bahasa Inggris campur Melayu–serendah apa pun level bahasa Inggris kita, mereka masih mengerti. Toh, bahasa Inggrisnya warga biasa di Singapura dan Malaysia juga nggak bagus-bagus amat. Mungkin masalah bahasa itulah yang menjadi faktor utama kalau kita merasa tegang datang ke negeri lain. Soal fisik sih mereka tak akan menoleh dua kali kalau melihat saya: rambut sama hitam, kulit sama cokelat. Rasa makanan juga cuma 11-12 alias beda tipis. Yang berbeda mungkin hanya nasib. 🙂

Selain bahasa, faktor “atmosfer” atau lingkungan pasti juga berpengaruh. Maksud saya, cukup melihat sekeliling, kalau atmosfernya terasa sama atau mirip, secara psikologis itu berpengaruh untuk mengurangi ketegangan kita. Nah, itulah yang saya rasakan selama main di dua negara tetangga jiran kita.

Pagi itu, jam 07.30, setelah mandi dan sholat Subuh (hei, di sini Subuh jam 6 lho), kami keluar dari hostel. Walaupun hostel kami berada persis di samping McDonald’s dan A&W, ternyata kalau pagi ada juga pedagang kaki lima yang jualan nasi lauk. Kebanyakan pembelinya adalah warga sekitar atau para pegawai kantor yang sedang dalam perjalanan ke tempat kerja. Sialnya, saya baru lihat ada pedagang-pedagang nasi pas sudah sarapan burger telor dan teh manis di McD…haha! Melayanglah RM 9 untuk makan berdua…tapi saya beli lagi sih sebungkus nasi lemak. Naik ke kamar lagi sebentar, makan pakai tangan, dan turun lagi buat nerusin jalan-jalan.

Salah satu penjual nasi.

Salah seorang pedagang nasi lauk di Ain Arabia. Itu tabung gas kok di atas gitu sih 😛

Persis di belakang deretan hostel saya ada satu kampung yang namanya Ain Arabia alias Arab Street. Kawasan ini banyak dihuni oleh restoran (halal) dan toko suvenir yang digemari turis. Konon, kawasan ini memang didesain oleh pemerintah kota Kuala Lumpur untuk menarik minat para wisatawan dari Timur Tengah, tempat orang-orang Arab makan, berbelanja, atau nongkrong bareng teman dan keluarga. Namun walaupun didesain untuk orang Arab, kawasan ini juga selalu diramaikan oleh warga lokal dan wisatawan non-Arab yang ingin merasakan suasana Timur Tengah di Malaysia.

Kata si pedagang nasi, kawasan ini biasanya ramai oleh turis sekitar bulan Juli sampai September saat banyak warga Arab mengunjungi Malaysia untuk berlibur. Pada bulan-bulan itu juga biasanya sekolah sudah libur dan banyak warga Timur Tengah pergi ke luar negeri untuk menghindari hawa panas Timur Tengah yang sangat menyengat gila-gilaan—biasanya di atas 47°C.

Gerbang depan kawasan Ain Arabia.

Pagi hari di kawasan Ain Arabia. Sepi. Beberapa orang masih tidur di taman.

Salah satu warung makan di kawasan Ain Arabia yang buka 23 jam. Yang 1 jam buat apa ya? 🙂

Sejauh saya lihat sih, kawasan ini tak terasa atau terlihat terlalu Arab. Paling-paling hanya warung-warung makannya yang memberi kesan seperti itu. Ada banyak warung makan/resto yang menyajikan masakan India, Pakistan, Yaman, dan Melayu di kawasan ini. Pedagang-pedagang suvenir kaki lima di sini juga berwajah Arab, tapi tak semuanya.

Pagi itu agak sejuk dan sedikit mendung diiringi gerimis. Tujuan kami adalah Petronas Twin Towers. Kami berjalan kaki menyusuri Jl. Sultan Ismail. Menurut si tukang nasi tadi, kami hanya perlu berjalan sekitar satu kilometer. Tidak mungkin nyasar, karena itu adalah menara kembar tertinggi di dunia. Perhatikan kata “kembar”nya, ya. 🙂 Sampai tulisan ini dibuat, sih, gedung tertinggi di dunia masih Burj Khalifa di Dubai (Uni Emirat Arab) dengan ketinggian 829 meter.

Hari Senin itu jalan raya cukup ramai, tapi tak bisa dibilang macet. Motor-motor juga berseliweran di jalanan, tapi jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kota-kota di Indonesia. Soal ketertiban sih relatif, ya. Pengendara motor di Jakarta atau Bandung masih jauh lebih ganas. 🙂

Kalau di perempatan Buah Batu, Bandung, motor-motornya maju sampai ke tengah perempatan. 🙂

Mungkin karena di kawasan jalan protokol, saya merasa berjalan di trotoar Kuala Lumpur lebih nyaman daripada di Jakarta atau Bandung. Memang ada 1-2 pedagang nasi lemak kaki lima yang menggunakan motor saat kami berjalan menuju Petronas, tapi kami tak merasa terganggu sama sekali. Sepanjang jalan pun keadaannya relatif bersih dan sejuk oleh rimbun pepohonan.

Suasana jalan di KL. Puncak KL Tower di belakang sana sedikit kelihatan.

Monorail di KL.

Sampai di perempatan Bukit Nanas, kami berbelok ke kanan ke Jl. Ampang. Menara Petronas sudah terlihat sehingga mudah dijadikan panduan. Sekitar 300 meter dari menara Petronas, kami melihat satu kios yang baru buka. Ini bukan kios jajanan, tapi semacam tourism information center. Di sana kami bisa mengambil brosur-brosur wisata dan peta rute monorail, dan tentu saja peta Kuala Lumpur. Ini sangat membantu orang-orang yang sedang melancong ke Kuala Lumpur. Saya tidak ingat (dan tidak tahu) apakah di Jakarta, Bandung, atau kota-kota besar lain di Indonesia ada tourism information center seperti ini. Mengunjungi Indonesia untuk pertama kali dijamin sangat membingungkan bagi orang asing, terutama transportasinya.

Jalan kaki di perkotaan emang enak kalo trotoarnya bersih dan lebar.

Sampailah kami di Petronas Twin Towers. Jangkung dan megah. Langsunglah kami bikin foto-foto narsis, dong. Mungkin karena masih pagi atau bukan musim turis, suasana di sekitar menara kembar itu tak terlalu ramai. Hanya ada dua kelompok besar dan beberapa pasang turis, termasuk kami.

Mejeng dulu 😛

Kami hanya sempat berfoto-foto selama setengah jam di situ, sambil duduk-duduk santai menikmati pemandangan sekitar. Perlahan gerimis mulai turun dan 10 menit kemudian berubah menjadi hujan deras. Sial, kenapa ya saat mengunjungi landmark di Singapura dan Malaysia kok malah hujan terus? Saat kami mau masuk ke gedung untuk naik ke Skybrigde, jembatan yang menghubungkan kedua menara itu (lihat foto), petugas keamanan di situ memberi tahu kami bahwa hari Senin Skybridge ditutup bagi pengunjung. Sial lagi, deh. Sambil menunggu hujan reda, kami sibuk membaca peta Kuala Lumpur.

Dari tahun 1998 sampai tahun 2004, Petronas Twin Towers adalah gedung tertinggi di dunia, sebelum disalip oleh menara Taipei 101 di Taiwan. Namun, dengan tinggi 452 meter, setidaknya menara ini tetaplah menara kembar tertinggi di dunia. Dua menaranya dihubungkan dengan jembatan yang bernama Skybridge yang terletak di lantai 41.

Skybridge buka dari Selasa sampai Minggu. Jam berkunjung dari jam 09.00 sampai jam 17.00. Pada hari Senin, Skybridge akan dibuka setengah hari dari jam 09.00 sampai jam 13.00 siang bila liburan sekolah dan dibuka full day jika hari itu termasuk dalam public holiday. Sayangnya, tiketnya tidak lagi gratis. Sejak tahun 2010, tiket masuknya dijual seharga RM 10.

Istri saya mengajak ke Pasar Seni, lalu saya bertanya ke petugas keamanan di situ cara menuju ke sana. Petugas keamanan bernama Adam yang tampangnya mirip Bripda Saeful Bahri ini menjelaskan kepada saya dengan ramah. “Pasar Seni? Bisa naik bas…tapi better naik tren lah,” katanya dengan bahasa Melayu kesurupan bahasa Inggris. Soalnya bahasa Melayu untuk “kereta api” kan “keretapi”. Dari dia juga saya tahu cara terbaik menunggu hujan reda: Daripada bengong di pelataran Petronas, mendingan masuk lewat pintu tengah gedung dan jalan-jalan di mal Suria KLCC (Kuala Lumpur City Center, sebutan lain untuk gedung Petronas ini).

Suria KLCC adalah sebuah pusat perbelanjaan yang cukup sibuk di Kuala Lumpur. Lokasinya masih di gedung Petronas Twin Towers, tingginya 5 lantai dengan berbagai macam toko, termasuk department store Isetan dan—ini dia—toko buku Kinokuniya! Kebetulan pas kami naik ke lantai 6, pintu Kinokuniya persis baru dibuka.

Kinokuniya di lantai 6 mal Suria KLCC.

Ukuran Kinokuniya KL ini sekitar 1/3-nya yang di Singapura, tapi tetap saja luas. Setelah sekali lagi berhasil menahan nafsu belanja buku, kami segera mencari stasiun subway—masih di KLCC. Semua petunjuk yang mengarah ke stasiun mudah dipahami. Keretanya pun cukup nyaman, walau saya heran juga kenapa subway di sini cuma sedikit tempat duduknya dibandingkan dengan MRT Singapura.

Di subway.

Silakan tengok kenyataan hidup Anda di sini 😛

Saat itu sudah hampir jam 11 siang. Sebenarnya, tadi kami bisa saja mampir ke satu lagi tujuan menarik di KLCC, yaitu Petrosains,  pusat peragaan ilmu pengetahuan yang menekankan pada aspek industri minyak Malaysia. Petrosains terletak di lantai empat Suria KLCC. Biasanya kalau liburan sekolah, banyak pelajar yang main ke sini. Sayang, hari Senin itu tutup juga! Di subway, saya berembug dengan istri; karena jam 12 kami harus check out, kami memutuskan untuk kembali ke hostel, mandi, berkemas, lalu pergi jalan-jalan lagi sambil menggendong tas punggung.

Seperti di Singapura, jaringan subway di Kuala Lumpur ini juga mudah dipahami bagi turis yang baru pertama kali datang ke sini. Peta rute ada di setiap stasiun. Cara membeli tiketnya pun, kalau tak punya tiket berlangganan seperti EZ Link di Singapura, juga mudah. Cukup mainkan layar sentuh pada mesin tiket di setiap stasiun, masukkan uang, dan voila! Jadi, kami turun di stasiun Bukit Nanas dan berganti monorail untuk kembali ke Bukit Bintang. Sampai di hostel kami mandi dan berkemas, lalu melanjutkan sisa hari itu dengan jalan-jalan lagi. Tapi sebelumnya kami harus makan siang dulu, dong. Tadinya sih kami mau makan di resto Turki (yang tampak mahal), tapi tak sengaja kami menemukan warung nasi di gang di belakang hostel. Banyak karyawan rendahan yang bekerja di sekitar Bukit Bintang makan siang di situ—sambil melirik dua backpacker kere yang makan banyak banget di gang senggol itu.

Warung nasinya si orang India muslim.

Menunya bikin ngiler 😛

Setelah diintip-intip, ternyata menunya menarik. Mirip warung nasi atau warteg di gang senggol gitu deh. Nasinya juga boleh ambil sendiri. Si penjual cuma mengira-ngira saja berapa banyak nasi dan lauk yang saya ambil. Jadi siang itu kami makan enak dengan lauk kari kambing, ayam goreng, oseng toge, dan telur dadar. Untuk semua itu kami hanya bayar RM 12, itu karinya udah nambah lho!:) Kari kambingnya mantap lezatnya, kuahnya gurih, dagingnya empuk dan tidak bau prengus. 😛

Menu maksi kami (sebelum nambah) ^_^

Markimak! (Mari kita makan)

Kenyang makan, kami naik monorail ke stasiun Pasar Seni. Sempat nyasar satu kali karena salah baca peta, akhirnya kami sampai juga di sana. Dari namanya, sih, Pasar Seni gampang ditebak adalah pusat jualan aneka suvenir. Jalan kaki dari stasiun Pasar Seni ke Pasar Seninya sendiri tidak jauh. Sambil menuju ke sana, saya lihat ada penjual gorengan dan minuman di pinggir jalan. Waduh, familiar sekali! Jelas saya beli dong buat iseng-iseng. 😛 Murah kok, 1 ringgit dapat 5 biji…itung-itung ngabisin koin sen ringgit laah…hehehe!

Tukang gorengan 🙂

Bangunan Pasar Seni tampak seperti bangunan peninggalan zaman kolonial yang sudah pernah dipugar kembali. Suasana di dalam cukup nyaman, bersih, dan sejuk karena berpendingin udara. Saat itu Pasar Seni juga tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Isinya macam-macam: ada toko pakaian, suvenir, foodcourt, dsb.Kami hanya membeli suvenir-suvenir kecil seperti gantungan kunci, piring hiasan, dan magnet kulkas. Di beberapa toko, kita juga bisa menawar harganya. Ada juga lorong yang berisi toko-toko pakaian yang menjual batik. Saya mengintip bagian leher beberapa kemeja batik. Hmm, banyak yang buatan Indonesia, tapi ada juga yang buatan Malaysia. Tadinya saya iseng mau tanya ke penjualnya soal batik itu, tapi saya sedang malas berkonfrontasi soal batik dengan Malaysia…hehehe 🙂

Tampak depan bangunan Pasar Seni.

CIM5019A

Suasana di Pasar Seni.

Tak terasa sudah jam 2 siang lebih. Sore sebelumnya saya sudah menanyakan soal jam berangkat bus ke Singapura di agen perjalanan yang sama. Saya dan istri sepakat pulang sore hari, sebelum jam 5 sore, mengingat waktu tempuh yang memakan waktu lima jam agar kami tidak terlalu malam sampai di apartemen Abah. Di dekat Pasar Seni katanya sih ada Chinatown juga. Tapi rasanya Chinatown di mana-mana hampir sama. Tadinya malah saya mau jalan-jalan ke terminal bus Puduraya gara-gara lihat bus-bus mondar-mandir di depan Pasar Seni. Tapi, ngapain juga ya lihat terminal bus? Hehehe! Ya…sudahlah. Sejak awal kami memang berencana hanya menghabiskan satu malam di Kuala Lumpur—walau ada teman yang bilang bahwa tak banyak yang bisa dilihat di sini. Yah, saya toh cuma ingin jalan-jalan, lihat-lihat, nyobain naik monorail, subway, dan beli sedikit suvenir. Kapan-kapan saya bisa ke sini lagi, kan? 🙂

Suasana di dalam monorail.

Satu sudut kota KL, difoto dari monorail 🙂

Kami lalu naik monorail ke stasiun Imbi, pas di depan Berjaya Times Square, lalu mencari kantor StarMart Express dan membeli tiket. Ternyata tiket bus dari KL ke Singapura lebih murah daripada sebaliknya: cuma 90 ringgit untuk dua orang! Kami membeli tiket  untuk jam 16.30. Sebelum berangkat, saya menukarkan uang ringgit saya kembali ke dolar Singapura, dan hanya tersisa 5,5 ringgit saat itu. Tak mau rugi, sisa uang itu saya gunakan untuk membeli roti yang agak besar dan sebotol jus. Totalnya: 6 ringgit. Waduh, saya jadi bingung karena tak punya ringgit lagi. Saya langsung protes, “Gimana sih, Mas? Tadi saya liat di label harganya nggak segini.” Si kasir langsung mengecek dan ternyata label harganya salah. Akhirnya dikoreksi dan total harganya jadi 5,4 ringgit. Sisa 10 sen buat kenang-kenangan, deh! Hahaha 🙂

Tepat jam 16.30 kami pun naik ke bus. Kali ini kami dapat bus tingkat dan sopirnya orang India (lagi). Ini yang paling saya suka kalau lagi jalan-jalan: mencicipi alat transportasi di negara itu sepuasnya. Penumpang bus saat itu tak terlalu banyak. Ternyata bus dari KL ini mampir sebentar ke terminal bus Tasik Selatan untuk menjemput beberapa penumpang. Berhubung tak banyak yang bisa dilihat sepanjang perjalanan, saya cuma bisa menunggu kantuk datang sambil membaca buku atau melihat-lihat foto di kamera. Kalau punya tablet mungkin saya bisa sambil menulis. 🙂

Sekilas pemandangan pusat kota KL .

Beberapa kali saya melihat motor melintas di bahu jalan tol antarnegara bagian dalam perjalanan ke dan dari Kuala Lumpur. Setelah tanya ke makcik di sebelah, saya baru tahu bahwa motor memang boleh melintas di jalan tol…dan gratis! Cuma, para pengendara motor harus tetap berada di bahu jalan. Ada sih 1-2 pengendara nakal yang nekat menyalip bus dan mobil. Wah, seandainya jalan tol di Indonesia dibolehkan dan digratiskan bagi pengendara motor….bisa bahaya, malah. 😛 Yang jelas, perjalanan dengan bus kelas satu itu sangat nyaman. Jalan sepanjang ratusan kilometer itu mulus tanpa tambalan dan bus juga melaju dengan kecepatan sedang-sedang saja.

Motor melintas di jalan tol.

Waktu “pulang” ke Singapura dapat bus double decker 🙂

Tiba di imigrasi Tuas, Singapura, seperti biasa kami harus melewati dua check point, satu untuk keluar dari Malaysia, dan satu lagi untuk masuk ke Singapura. Entah kenapa, saya diminta oleh petugas imigrasi Singapura untuk masuk ke kantor. Di sana, bersama satu perempuan Filipina (atau Thailand?) saya diminta menunggu karena mereka akan memeriksa paspor saya. Bahkan mereka sempat melihat paspor lama saya (ya, saya bawa paspor lama kalau-kalau mereka mengira saya baru pertama kali ke luar negeri) dan memindai sidik jadi saya. Seorang petugas berwajah India yang tampak ramah meminta paspor saya dan membawanya pergi sebentar. “Apa salah saya, Pak?” tanya saya kepada petugas yang sedang memindai kedua jempol saya. “Pemeriksaan biasa,” begitu doang jawabnya.

Perasaan saya mereka sedang iseng saja. Karena saat sedang duduk menunggu, ada 2-3 petugas malah sibuk berfoto. Saya tak menyisakan sedikit pun celah bagi mereka untuk mencari kesalahan saya. Semua dokumen dan tiket pesawat pulang bisa saya tunjukkan. Uang dolar Singapura juga masih sisa banyak. Setelah hampir 10 menit, saya dibebaskan keluar. Di luar pintu kantor imigrasi, ada seorang kakek berkursi roda sedang difoto dan diajak mengobrol rame-rame oleh para petugas imigrasi lainnya. Lagi dikerjain, mungkin? Entahlah. Istri saya sudah panik menunggu di luar, sementara saya cuma cengengesan. Hasil mengobrol dengan si sopir India, kalau dalam setengah jam ada penumpang yang belum kembali ke bus, dia akan ditinggal. “Sometimes they try to find your weakness for no reason. If you have all the documents with you, especially the return ticket, you’ll be alright,” kata si sopir. Ooh, begitu, ya? 😛 Kami pun melanjutkan perjalanan ke Golden Mile Complex. Si perempuan di kantor imigrasi yang bersama saya tadi sudah kembali.

Persis jam 12 malam, kami menyelinap ke apartemen Abah yang sengaja tidak dikunci buat kami—rasanya kayak maling. 🙂 Setelah mandi (oh, segar sekali!) dan sholat, kami langsung tidur—mengistirahatkan kaki gempor kami. Hanya tersisa setengah hari besok sebelum kami pulang. Perjalanan singkat ini mungkin sedikit terburu-buru, walau masih bisa disebut slow travel. Enam hari rasanya tak cukup untuk menjelajahi dua negara untuk bahan sebuah tulisan yang bagus dan mendalam seperti yang dilakukan para jagoan travel writer macam Paul Theroux, Eric Weiner, atau Pico Iyer. Tapi saya merasa rileks dan (untuk sementara) lega bisa berkesempatan jalan-jalan ke luar negeri lagi, menyerap banyak pengalaman yang sulit dinilai dengan uang, mengumpulkan bahan tulisan buat blog. 🙂

Beberapa menit saya sebelum lenyap ditelan mimpi, saya melamun. Seandainya kita setuju bahwa hidup adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan, bukankah kita harus jalan-jalan? Bepergian? Melihat dunia? Ah…

Bersambung….

Next: tulisan terakhir, bikin heboh di Bandara Changi!

Cerita Singapura #4 (+ KL Stories)

Minggu, 19 Februari 2012

Hari itu kami bangun pagi seperti biasa. Bedanya, kali ini kami tak terlalu terburu-buru. Setelah sarapan laksa dua mangkok (dipaksa tuan rumah), saya memilih bersantai dulu sambil main sama anak-anaknya Abah. Mereka sekeluarga rencananya mau mampir ke KBRI hari Minggu itu. “Ada pemutaran film Laskar Pelangi sama jumpa fans dengan Andrea Hirata. Mau ikut?” Waduh, sudah pasti nggak mungkin deh. Malam tadi saya sudah mencatat jadwal bus yang menuju Kuala Lumpur.

Teman saya ini sudah punya 3 junior: Zahwa (4,5 tahun), Gazi (2,5 tahun), dan si bayi Raissa (4 bulan). Lucunya, Zahwa dan Gazi sudah bisa bicara bahasa Inggris sederhana. Lumayan cas-cis-cus untuk anak seumuran itu. Gazi yang belum bisa bicara dengan jelas pun mengerti ketika saya ajak ngobrol dengan kata-kata sederhana. Sementara Zahwa sudah bisa memperlihatkan aksen bahasa Inggris yang bagus, tak ada aksen Singlish (Singaporean English) sama sekali.

Menurut Atti, ibu mereka, anak-anak Singapura sebenarnya terbiasa berbahasa Inggris, tapi dalam percakapan sehari-hari mereka lebih terbiasa berbahasa Singlish alias bahasa Inggris berantakan versi warga negeri singa ini. Katanya lagi, kadang-kadang orang yang berbahasa Inggris dengan “baik dan benar” malah ditertawakan. Walaupun pemerintah dan warga kelas atas Singapura tak menyukai/menyetujui penggunaan bahasa aneh ini, Singlish nyatanya populer di kalangan masyarakat umum. Pemerintah memang pernah mencanangkan Speak Good English Movement—sebuah kampanye untuk “memaksa” dan menyadarkan warganya akan pentingnya berbicara dengan bahasa Inggris standar yang dipahami secara umum oleh masyarakat dunia. Kampanye ini digaungkan misalnya di sekolah-sekolah dan media massa. Tetap saja, bahasa Inggris yang membingungkan itulah yang dipakai secara luas dalam keseharian warga Singapura. 😛 Tapi situasi yang mirip sebenarnya juga ada di negara kita, kok. Walau punya bahasa nasional yang diajarkan sejak SD, sebagian besar orang Indonesia juga tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik, apalagi kalau sudah berada di ranah bahasa tulis. Kalau bahasa lisan sih bisa macam-macam, tapi yang biasa muncul di TV kita sih biasanya bahasa Betawi. Terserah mau menyalahkan sistem pendidikan atau apalah. Saya sih lebih suka belajar sendiri. Misalnya, dengan cara nge-blog. 🙂

Setelah berkemas dan mandi, kami segera turun dan melompat ke MRT menuju stasiun Nicoll Highway, lalu berjalan kaki sekitar 10 menit ke Golden Mile Complex. Di dalam gedung kompleks di sini ada deretan ruko yang bersih dan didominasi oleh warga Thailand. Beberapa bendera Thailand tampak digantung di beberapa sudut bagian dalam bangunan itu. Mungkin Golden Mile Complex ini bisa disebut “Little Thailand” di Singapura.

Di tempat ini Anda dapat menemukan sedikit pengalaman Thai. Sebelumnya tempat ini dikenal sebagai Kompleks Who Hup. Ada total 400-an toko di sini, dan Anda akan menemukan toko-toko yang menjual CD, bir, pakaian, sayuran, dan buah-buahan segar. Golden Mile Complex katanya juga tempat terbaik di Singapura untuk mencicipi masakan Thailand yang murah dan enak. Sayangnya kami belum lapar waktu itu sehingga cuma membeli beberapa bungkus kecil kacang—untuk menghabiskan uang koin kami.

Satu sudut di Golden Mile Complex yang menjual sayuran, buah-buahan, dan daging.

Golden Mile Complex juga dikenal karena banyak agen perjalanan bermarkas di sini, dengan bus yang berangkat dan datang dari beberapa kota tujuan di Malaysia secara reguler. Sepengamatan saya, sebagian besar bus antarkota (atau bisa saya sebut antarnegara) dari sini, dan juga bus-bus umum di jalanan dan bandara Singapura, menggunakan kendaraan buatan Scania—produsen bus dan truk asal Swedia. Bus-bus Scania menurut saya bertampang keren dan modern. Baru melihat saja saya sudah jatuh cinta dan ingin segera melompat masuk. Tapi sebelumnya kami harus beli tiket dulu. Setelah bertanya ke 2-3 agen perjalanan, kami memilih bus StarMart Express tujuan Berjaya Times Square—sebuah mal di Kuala Lumpur. Berangkat jam 12.30 siang.

Agen-agen perjalanan di Golden Mile Complex.

Kami beli tiket bus di sini. Murah lho! 🙂

Kata petugas agen itu, sih, Times Square terletak dekat sekali dengan Jl. Bukit Bintang, Kuala Lumpur—sebuah ruas jalan yang terkenal di kalangan backpacker karena banyak penginapan murah dan aksesnya mudah ke mana-mana. Tiket ke Kuala Lumpur cuma S$25/orang. Kalikan saja dengan Rp 7.100. Untuk perjalanan lima jam dengan bus mewah keren kelas satu, itu sih murah! Sambil duduk menunggu jam keberangkatan, saya berjalan-jalan ke sana kemari di kompleks pertokoan itu.

Naik bus ke Kuala Lumpur. Tiket untuk 2 orang cuma S$ 50 (sekitar Rp 350 ribu).

Sekelompok backpacker bule dengan tas punggung yang ada emblem daun maple tampak berkelompok sambil melihat-lihat agen perjalanan yang oke. Di depan kami ada dua lajur yang diperuntukkan untuk mobil. Yang sebelah kiri khusus untuk antre taksi, sementara yang kanan untuk mobil lain atau taksi yang akan menurunkan penumpang. Di ujung jalur, ada tempat khusus bagi calon penumpang taksi untuk mengantre. Saat itu ada dua orang yang sudah mencegat taksi dan memasukkan beberapa tas ke bagasi, tapi salah satunya balik lagi entah ke mana, sepertinya ada barang yang ketinggalan, sementara yang satu lagi menunggu di dekat taksi. Calon penumpang taksi di belakang mereka kehilangan kesabaran karena taksi di belakang jelas terhambat. Dia langsung minggat ke lajur kanan dan mencegat taksi yang baru menurunkan penumpang. Hebatnya, si sopir taksi menolak sambil menunjuk-nunjuk lajur kiri. Dia menolak karena ingin bersikap tertib. Penumpang hanya boleh naik taksi yang di lajur kiri. Sayang, taksi kedua yang dicegat orang itu bersedia ditumpangi.

Sementara itu, penumpang yang tadi bikin antrean taksi terhambat akhirnya menyadari kebodohannya—setelah 5 menit temannya belum kembali juga. Dia mengeluarkan tas-tasnya dari bagasi supaya taksi itu bisa diambil penumpang lain yang sudah mengantre panjang di belakangnya. Nah, gitu dong! Saya mengutuk dalam hati. Sudah bagus orang bodoh itu nggak dimaki orang-orang. Seolah mendukung kedongkolan saya saat melihat drama itu, sebuah taksi lewat di depan saya. Ada iklan bank di bodi sampingnya yang bertulisan “Life is simple when it’s organized”. Wew, ah. Bener banget!

Si cewek backpacker di sebelah asik banget baca Lonely Planet. 😛

Saya menoleh ke kiri saya. Melihat ada cewek backpacker asal Kanada yang lagi serius banget baca Lonely Planet Asia Tenggara, saya menyapanya untuk meminjam bukunya—sekadar ingin melihat peta Kuala Lumpur sekilas. Saya tak banyak tahu tentang Kuala Lumpur dan tempat-tempat apa saja yang akan kami kunjungi di sana. Ternyata benar, dari Times Square tinggal jalan kaki ke Jl. Bukit Bintang. Katanya, sih, di sana nanti tinggal mencari penginapan murah dan itu tidak sulit. Saya memotret peta itu dengan ponsel saya, sekadar jaga-jaga. Terminal bus Puduraya—yang sering saya baca di milis atau grup FB khusus backpacker—sebenarnya juga tak jauh lokasinya dari Times Square, tapi Times Square lebih dekat lokasinya ke Jl. Bukit Bintang. Menara kembar Petronas pun terbilang dekat untuk dicapai dengan jalan kaki dari situ.

Setengah jam kemudian, para penumpang dipanggil untuk masuk ke bus. Dan….oh, busnya keren sekali! 🙂 Bus itu parkir sebentar di depan pom bensin. Setelah semua penumpang naik dan dicek, bus pun berangkat. Bagian dalam busnya sangat nyaman dan bersih. Kursinya berukuran lebih lebar daripada rata-rata bus antarkota di Indonesia, dengan formasi tempat duduk 1-2. Penumpang siang itu tak terlalu banyak. Paling-paling bus hanya terisi 3/4-nya. Sopirnya orang India yang berbadan besar tapi ramah.

Bus kami menuju KL. 🙂

Interior bus. Formasi tempat duduk 1-2 bikin kursinya jadi lebar dan nyaman.

Perjalanan menuju Tuas, lokasi kantor imigrasi Singapura sebelum menyeberang ke daratan Malaysia, ditempuh dalam waktu satu jam dari Golden Mile Complex. Saya tak bosan-bosan menikmati pemandangan kota. Singapura sangat bersih dan rimbun. Tipe kota ala game PS NFS Underground. 😛 Di Tuas, semua penumpang turun tanpa membawa barang bawaan kecuali paspor, kemudian naik lagi ke bus yang menyeberangi jembatan yang membentang di atas Selat Johor. Di ujung daratan satunya lagi, semua penumpang harus turun dengan membawa semua tas/koper dan mengantre di konter imigrasi. Kami hanya ditanyai soal tiket pulang dan paspor saya pun dihiasi cap imigrasi Malaysia untuk pertama kali. 🙂

Perjalanan menuju KL melewati jalan tol antarprovinsi yang mulus dan dan tidak terlalu ramai. Sebenarnya, pemandangan sepanjang perjalanan itu tak terlalu bagus. Di kanan-kiri ada banyak perkebunan kelapa sawit. Terus terang saja, tol Cipularang malah menyajikan pemandangan yang lebih indah dan beraneka. Di bus, saya memilih membaca koran Strait Times edisi Minggu dan koran berbahasa Melayu Berita Harian yang kadang bikin dahi saya berkerut karena bahasa yang rada aneh. Selesai baca koran sampai habis, saya pun tertidur. Bangun lagi, baca buku The Geography of Bliss, lalu tertidur lagi. Setelah dua jam, bus berhenti di sebuah rest area. Jangan bayangkan rest area di sini sekeren Rest Area 57 di tol Cikampek yang penuh resto dan toko. Isinya cuma toilet (yang rada pesing), dan dua mobil bak terbuka yang difungsikan sebagai warung. Kami cuma beli minuman di situ.

Warung di rest area dalam perjalanan ke KL.

Bus-bus keren yang parkir di rest area.

Sekitar jam 17.30 kami tiba di Kuala Lumpur. Berdasarkan ingatan pada peta yang tadi saya potret, kami berjalan kaki ke Jl. Bukit Bintang. Jalanan kota sore itu ramai, namun tidak macet, apalagi kalau pakai ukuran Jakarta dan Bandung. Sepeda motor juga banyak, tapi tergolong sedikit kalau dibandingkan dengan di kota-kota besar di Indonesia. Kami menyeberang jalan dan melewati sebuah jalan yang dilalui monorail di atas kami. Tiba-tiba istri saya berteriak, “Iih! Itu ada orang pipis sembarangan!” Sial, saya sempat melihat orang sialan yang lagi pipis itu. Bukan apa-apa, tapi posisi orang itu mudah terlihat siapa pun di sekitarnya. Orang itu bahkan tak mau repot-repot ngumpet saat pipis. Saya tak sempat mengambil kamera di tas. Memang bukan pemandangan yang bagus untuk dua orang yang baru saja tiba di KL. Tapi, sudahlah. Di kita juga banyak kok. 😛

Sore hari di KL.

Sepuluh menit berjalan kaki dari Berjaya Times Square, kami langsung menemukan Jl. Bukit Bintang. Ternyata kawasan itu memang kawasan turis. Ada banyak tempat penting yang dibutuhkan backpacker: hotel murah, money changer, ratusan toko, kios-kios penjual cinderamata, mal, stasiun monorail, serta ratusan warung makan dan resto. Beberapa resto cepat saji juga gampang terlihat. Setelah merasa cukup melihat-lihat kawasan di sekitar situ, kami mulai mencari penginapan murah. Patokan kami adalah hostel bertarif maksimal RM 80 atau di bawah Rp 250 ribu (RM 1 = Rp 2.900).

Monorail melewati kawasan Bukit Bintang.

Kawasan Bukit Bintang.

Di sebelah resto McDonald’s, ada satu tangga menuju ke lantai atas. Begitu mau naik, saya melihat sepasang betis putih, kemudian rok mini, kemudian tank top ketat, dan semua itu akhirnya mewujud menjadi sosok seorang wanita seksi berpenampilan mesum dan wajah berbedak tebal nan lebay. “Massage? Massage?” kata si wanita ke saya, menawarkan jasa pijat. Saya berpandangan dengan istri saya sambil cengar-cengir bingung. “Ini daerah mesum kali, ya?” bisik saya.

Akhirnya kami berjalan lagi sedikit dan hanya 10 meter dari situ ada hostel  bernama Shuttle Inn yang menawarkan tarif RM 77 (sekitar Rp 223 ribu) untuk double bed (kamar dengan satu ranjang untuk 2 orang). Nggak dapat sarapan sih, tapi itu bukan masalah. Di sudut mana pun di kawasan ini kami selalu melihat makanan. 🙂 Karena sudah capek, kami pun mengambil kamar di situ. Seorang pria India dengan bahasa Melayu melayani kami. “Check-out jam 12 siang, ya,” katanya sambil menyerahkan kunci. Saat itu sudah jam 6 sore. Kamar kami cukup bagus. AC-nya disetel dengan suhu tetap, sehingga tamu tidak bisa menaik-turunkan suhu udara (tapi dinginnya pas, kok). Kamar mandinya dilengkapi dengan pancuran sekaligus ember besar sebagai bak mandi. Airnya sejuk dan bersih. Mereka juga menyediakan handuk dan sabun.

Hostel di sini banyak yang model begini, pintu sempit di bawah, tapi di lantai atas tersedia banyak kamar.

Kamar hostel kami di KL.

Ada TV butut yang cuma bisa menangkap 4 saluran. 😛

Setelah mandi dan sholat, kami jalan-jalan di kawasan itu untuk mencari makan malam. Saya sempat kaget saat jalan-jalan dan melihat ada beberapa hostel menawarkan tarif RM 28 atau RM 35. Setelah dicek, ternyata itu adalah tarif kamar dormitory alias satu kamar dengan banyak ranjang buat backpackers. Jadi tarif hotel saya tadi jatuhnya masih tetap murah, karena per orangnya cuma Rp 110 ribu. Plus privasi, tentunya. 🙂

Jl. Bukit Bintang memang daerah turis. Yang bisa dilakukan di sini pertama jelas sightseeing. Di sepanjang jalan itu isinya didominasi resto, minimarket, toko suvenir, toko baju, warung Internet, dan banyak lagi. Kalau mau lebih ekstrem, alternatif kedua adalah mencoba pijat refleksi di daerah Changkat Bukit Bintang. Di sini banyak tukang pijat refleksi berpakaian mini-mini menjajakan jasanya. Tarifnya rata-rata RM 30 untuk setengah jam pijat. Kalau melihat nasib kaki yang masih sisa sedikit gempor, pengen juga sih dipijit…hehehe. Iseng-iseng saya tanya: boleh nggak pijat dua orang masing-masing 15 menit aja? Kan tarifnya tetap sama. Si makcik cuma ketawa. Katanya sih, di Bukit Bintang juga ada Red District yang disamarkan dengan pijat refleksi semacam itu. Tapi saya juga melihat 1-2 tempat pijat yang terbuka (bisa dilihat dari luar) yang untuk keluarga. Soalnya saya liat ada ibu-ibu berjilbab dan para suami mereka pijat di situ. Mungkin kaki mereka gempor habis belanja ke sana kemari.

Suasana Jl. Bukit Bintang saat malam.

Kawasan Bukit Bintang saat malam. Jalan ke sana dikit ketemu Jl. Alor.

Kami berbelok ke Jl. Alor. Menurut satu sumber yang bisa dipercaya, di jalan ini saat malam hari berubah menjadi surga kuliner. Benar saja, berbelok sedikit dari Jl. Bukit Bintang, di sepanjang jalan yang kalau siang isinya hostel dan toko ini dipenuhi tenda-tenda dan meja-meja para pedagang makanan kaki lima. Makanan yang ditawarkan macam-macam: chinese food, Thai food, Indian, sampai Melayu. Melihat istri saya yang berjilbab, beberapa pedagang merayu dengan kata “halal”. “Pak, makan dulu biar kenyang. Nanti enak jalan-jalannya,” sapa seorang pelayan di warung makan Thailand. Saya cuma senyum sambil melambai.

Wisata kuliner di Jl. Alor.

Ayo jajaaaan! 😛

Akhirnya kami memilih satu warung bernama Alor Food Corner yang jelas mencantumkan logo halal. Koki dan para pelayannya semua orang India. Menu yang ditawarkan pun tak asing: aneka nasi goreng, bihun, mie, sotong (sejenis cumi), dan aneka masakan berbasis ayam. Kami memesan nasi goreng kampung dan ayam masak pedas. Tak disangka, dua masakan sederhana itu rasanya maknyus luar biasa! Untuk dua menu itu kami cuma bayar RM 15. Nggak terlalu mahal sih, tapi emang rasanya lezat banget. 🙂

Menunya tampak akrab 🙂

Nasi goreng kampung dan nasi ayam masak pedas.

Uh, enak banget masakannya! Buat si eneng di meja sebelah, sabar ya! 😛

Habis makan, kami jalan-jalan lagi dong. Selain wisata kuliner, di sudut lain kawasan ini tentu saja juga ada: mal (!). Kami masuk ke Plaza Low Yat yang isinya barang-barang elektronik. Kira-kira mirip BEC di Bandung lah. Katanya sih harganya miring-miring, walau menurut saya sama saja. Tapi, menurut seorang mata-mata saya, di tempat ini ada satu toko cokelat yang wajib dikunjungi. Nama tokonya Famous Amos. Di sini banyak cokelat Beryl’s bikinan Malaysia. Cocok buat oleh-oleh. Tak lama kemudian, lenyaplah uang sebesar 30 ringgit untuk menebus enam kotak cokelat. Kalau bukan karena melihat kondisi dompet, saya mungkin juga ikut-ikutan menyambar dua kaleng cokelat hanya karena gambarnya bagus. : )

Di sekitar mal itu ada beberapa pedagang kaki lima yang menjual bermacam-macam barang. Ada yang menjual baju, ikat rambut, dan tas. Hampir saja saya kepengen beli tas di situ. Soalnya, tas punggung saya bagian retsletingnya sudah jebol di satu arah. Jadi, kalau saya tutup ke kanan, retsletingnya masih terbuka. Untung pas ditarik ke kiri masih bisa tertutup.

Belanja cokelat di Famous Amos.

Penjual "ikat rambut ajaib" 🙂

Setelah membeli minum dan alat cukur di sebuah minimarket, jam 10 malam kami kembali ke hostel dengan kaki gempor. Sebenarnya malam itu bisa saja kami jalan kaki atau naik kendaraan umum ke Petronas Twin Tower. Foto gedung itu pas malam hari pasti keren. Tapi, yaah…kaki gempor bikin kami jalan kaki ke stesen (= stasiun) monorail pun jadi malas. Padahal stesen-nya dekat dari hostel. Tapi masih harus menyambung lagi naik kereta ke KLCC alias menara kembar itu.

Ah, sudahlah…masih ada esok hari!

Bersambung….

Cerita Singapura #3

Sabtu, 18 Februari 2012

Bangun subuh sekitar jam 6.30 (itu masih Subuh lho di sini!), gempor di kaki saya sudah berkurang setengahnya. Tapi tetap saja sakit. Setelah tidur nyenyak hampir 8 jam di kamar ber-AC, ditambah mandi pagi dengan air dingin, sekitar jam 07.30 kami menyelinap keluar dari apartemen Abah tanpa sepengetahuan si tuan rumah (kalau nulisnya kayak begini kok serasa maling yah?).

Pagi itu, kami mengawali jalan-jalan hari Sabtu kami dengan sarapan nasi lemak (!). Makannya di mana lagi kalau bukan di Chinese Garden (!)…hehehe. Tapi hari itu pun saya sengaja beli seporsi mie goreng juga biar cukup tenaga buat jalan-jalan. Cuma nambah S$ 1,5 buat seporsi mie goreng (dan porsinya banyak juga). Sejak kenal taman ini sehari sebelumnya, saya jadi terobsesi buat sering-sering sarapan di pinggir kolam, mumpung hawanya belum panas. Sensasinya tak tergantikan. Kapan lagi bisa begini di kampung sendiri? Taman yang bagus dan sepi aja nggak ada.

Sarapan hari ini harus lebih banyak! 😛

Setelah sarapan dan jalan-jalan keliling taman sebentar untuk membakar lemak di tubuh, kami segera melompat ke MRT menuju Esplanade. Sepertinya kami keluar di exit yang salah. Tapi tak lama kemudian kami melihat Singapore Flyer (apa bahasa Indonesianya, ya? Bianglala?). Tapi sialnya, baru berjalan 10 menit saja setelah keluar dari stasiun MRT, kaki kami mulai terasa gempor lagi. Sakitnya bukan main! Sambil memaksa diri berjalan sedikit lebih jauh lagi, tiba-tiba saya melihat gedung Marina Bay Sands. Artinya, patung singa Merlion sudah dekat!

"Itu dia! Kita udah deket!"

Bus "Hop-on hop-off", bus tingkat yang dek atasnya terbuka biar turis-turis bisa asyik melihat-lihat pemandangan kota.

Kami duduk-duduk dulu di taman dekat situ sambil memijit-mijit kaki. Toh kami tak terburu-buru. Ternyata kelingking kaki kiri saya sudah ada jendolan alias kapalan. Haduh! Waktu mengaso sejenak itu saya gunakan untuk melihat-lihat peta. Selain memuat peta MRT Singapura, lembar peta itu juga memuat berbagai macam iklan tujuan wisata di Singapura. Ada beberapa yang menarik dicoba di sekitar Marina Bay ini. Misalnya Duck and Hippo Tour, yaitu naik kendaraan amfibi menyusuri Singapore River, kemudian langsung naik ke darat (dengan kendaraan yang sama) dan berkeliling daerah sekitar situ.

Lalu ada bus hop-on hop-off, yaitu bus double decker (bus tingkat) yang bagian atasnya terbuka sehingga turis bisa leluasa mendapat pemandangan kota yang cantik. Cocok banget buat yang malas jalan kaki dan yang ingin mengoleksi banyak foto dari banyak sudut kota dari atas bus. Sebenarnya menarik, tapi harga tiketnya cukup mahal buat saya. Duck & Hippo Tour tiketnya dijual seharga S$ 33 per orang untuk durasi satu jam. Bus hop-on h0p-off tadi tiketnya seharga S$ 27 per orang. Durasinya sih bisa seharian. Kita juga bisa membeli tiket gabungan semua itu, tentunya harganya tetap mahal. 🙂 Tapi kami lebih suka jalan kaki sambil sesekali naik MRT.

Setelah sekitar 10 menit duduk-duduk, seolah sedang mengolok-olok saya, lewatlah sebuah bus hop-on hop-off penuh turis bule sedang sibuk memotret ke sana kemari.  Sambil memandang iri ke turis-turis bule itu, kami jalan lagi dan tak sampai 100 meter kemudian tampaklah pemandangan yang menjadi ikon Singapura selama ini. Kami tiba di kawasan Marina Bay.

Lanskap sekaligus ikon Singapura. Keliatan nggak patung Merlion di situ? Kecil karena difoto dari jauh.

"Horee!"

Kawasan Marina Bay ini adalah sebuah teluk yang perairannya menempel langsung dengan kawasan Central Business District (CBD) Singapura. Pemandangan ini mengingatkan saya pada banyak kota di dunia yang punya pemandangan serupa: perairan (bisa laut, sungai, selat, teluk) yang dilatarbelakangi pemandangan kota dengan hutan beton yang megah dan breath-taking. Selain Singapura, kita bisa melihat pemandangan sejenis di Hong Kong, Mumbai, Shanghai, Sydney, dan banyak lagi. Tak percaya? Simak foto-foto ini:

Singapura.

Hong Kong.

Dnipropetrovsk (Ukraina).

Sydney (hehe...saya belum pernah ke sini ding... 🙂

Siang itu tampaknya agak mendung. Setelah berjalan sekitar 100 meter, kami menemukan sebuah taman kecil dengan beberapa bangku. Kami memutuskan ngaso lagi di situ, sambil ngemil sandwich isi telur dan ayam yang kami beli paginya di sebelah warung nasi lemak. Selesai makan, sambil memandang orang-orang yang lalu lalang di sekitar situ, perlahan kantuk saya pun muncul. Angin sepoi-sepoi saat mendung, ditambah kaki pegal dan habis makan sedikit, saya pun memutuskan untuk tidur siang sebentar…hehehe…. 🙂 Patung Merlion itu bisa menunggu. Jaraknya juga hampir satu kilometer, walau patungnya sendiri sudah terlihat dari posisi kami.

Makan siang cuma sandwich sama teh botolan. Dasar kere 🙂

Habis makan siang, ya tidur siang! 🙂

Setelah tidur siang hampir setengah jam, kami berjalan lagi. Menjelang jalan raya, kami menemukan semacam panggung yang disebut Theatres on the Bay dan gedung Esplanade yang eksteriornya berbentuk mirip kulit durian. Area Theatres on the Bay ini adalah area terbuka dengan atap melengkung di atasnya. Di depan panggung tersedia undak-undakan yang berfungsi sebagai tempat duduk penonton. Mungkin kapasitasnya hampir 1.000 orang. Mendung tampak sangat tebal saat itu. Udara pun menjadi lebih sejuk. Hebatnya, awan mendung dan kabut yang turun menyelimuti gedung-gedung pencakar langit justru membuat efek warna abu-abu yang keren.

Menjelang hujan badai. Mendung dan kabut menciptakan efek dramatis 🙂

Tiba-tiba, angin bertiup sangat kencang dan kami melihat kabut dan awan mendung menyelimuti gedung-gedung pencakar langit di kejauhan sana. Gerimis pun turun diikuti hujan badai yang hebat beberapa menit kemudian. Turis-turis di sekitar situ pun berlarian dan berlindung di area tempat duduk penonton di depan panggung teater terbuka tadi. Tapi namanya juga hujan badai. Angin kencang meniup air hujan hingga membasahi area tempat duduk penonton. Mau tak mau semua turis pun makin merapat demi menghindar dari air hujan. Selama hampir satu jam kami terjebak di situ. Ada enaknya juga sih. Setidaknya udara jadi terasa sejuk dan segar.

Hujan badai di Esplanade 🙂

Di belakang area penonton tadi ada gedung Esplanade Mall. Setelah hujan reda, iseng-iseng kami masuk ke mal itu. Sebenarnya tempat ini kurang pas kalau disebut mal. Atmosfernya lebih mirip sebuah gedung kantor yang santai dan bersuasana layaknya sebuah gedung seni yang modern. Di dalamnya ada beberapa pusat seni dan budaya, kafe, restoran, dan ada sebuah perpustakaan keren bernama library@esplanade. Perpustakaan ini terletak di lantai 3. Coba naik ke lantai 4, di sana ada ruang terbuka berupa taman yang cantik dan sajian pemandangan kota yang sangat indah dan menakjubkan.

Si patung Merlion di kejauhan, dilihat dari atap Esplanade Mall.

Pemandangan lanskap Singapura dari atap Esplanade Mall. Kabut sisa hujan badai masih menggantung.

Marina Bay Sands dari atap Esplanade Mall sehabis hujan badai.

Habis itu kami segera menuju lokasi wajib foto-foto di Singapura: Merlion! Sialnya, pas sampai di sana, hujan deras turun lagi dan kami kehujanan sedikit. Terpaksalah kami berteduh di bawah tenda sebuah kedai kopi selama setengah jam lebih. Padahal si Merlion itu hanya berjarak 25 meter di depan saya. Begitu hujan reda, turis-turis pun merubungi area di sekitar patung Merlion sambil bikin foto-foto yang banyak. 🙂

Haus 😛

Biar baju basah kehujanan, yg penting foto narsis dulu! 😛

Singapore Flyer dan Marina Bay Sands di latar belakang 🙂

Ada teman kantor yang minta print out wajahnya difoto di Merlion ini. Oleh-oleh paling gampang! 😛

Masih jam 3 sore waktu itu. Kami segera mencari stasiun MRT terdekat dan menuju Vivo City dan Sentosa Island di kawasan Harbour Front. Vivo City adalah sebuah mal berukuran besar yang terletak persis di seberang Sentosa Island. Orang Indonesia mestinya sudah bosan dengan mal dan mal melulu. Jadi setelah putar-putar sebentar, mengintip foodcourt, dan membeli sandal karet di Giant (sandal lama kami sudah sekarat dan belakangan akhirnya dibuang!), kami keluar lewat pintu belakang Vivo dan dari sana langsung terlihat Sentosa Island. Untuk menuju ke sana setidaknya ada dua pilihan: naik monorail bertiket S$ 3 atau jalan kaki lewat boardwalk (jalur pedestrian yang lantainya terbuat dari kayu) dan membayar tiket S$ 1 di pintu masuk area Sentosa. Jelas kami memilih berjalan kaki. 🙂

Jalan kaki menuju Sentosa Island tidak jauh, sekira 500-600 meter saja. Di boardwalk itu ada travelator (kadang disebut horizontal escalator), semacam “tangga” berjalan. Tapi yang ini bentuknya datar dan bergerak secara elektronis. Pas banget buat pejalan kaki yang malas atau gempor. 😛 Jalur ini juga dilengkapi dengan kanopi yang dirimbuni tanaman dan pepohonan di sepanjang jalannya.

Ini yang namanya travelator 🙂

Boardwalk menuju Sentosa Island.

Monorail dari Vivo City menuju Sentosa Island.

Sentosa adalah sebuah resor populer di Singapura, dikunjungi sekitar 5 juta turis per tahun. Pulau kecil ini menawarkan banyak atraksi hiburan: pantai, lapangan golf, hotel bintang lima, dan yang paling terkenal adalah sebuah theme park bernama Universal Studios Singapore. Ada permainan Transformers: The Ride yang konon sedang digandrungi para pengunjung taman hiburan itu. Sambil berjalan mencari Universal Studios dan mengamati seorang gadis India yang pacaran dengan seorang pemuda etnis Cina (seperti apa anak mereka nanti?), saya mengamati penataan pulau taman hiburan itu. Jujur saja, menurut saya tidak sangat istimewa. Kurang-lebih sama dengan Dunia Fantasi dan Ancol dalam versi tidak terlalu ramai. Tapi harus saya akui, Singapura memang pandai jualan. Semuanya ditata dengan rapi. Transportasi mudah dan nyaman. Menyampah dan sejenisnya didenda berat. Angka kriminalitas sangat rendah. Akhirnya semua itu menjadi modal yang lumayan untuk “menjual” negara ini sebagai tujuan wisata dan belanja. Indonesia punya jauh lebih banyak daripada itu, kecuali mental, visi, dan tingkah laku para pemimpin serta banyak warganya yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi negara maju. Dan itu sudah cukup untuk menjadikan kita jalan di tempat sambil dengan memelas memandang para tetangga kita melesat maju.

Tiba di area Universal Studios, bisa ditebak, lagi-lagi kami urung menikmati atraksi di sana. Pasalnya, harga tiket terusannya sangat mahal buat kami: S$ 74 per orang alias Rp 500 ribu lebih! Akhirnya kami cuma berfoto di depannya. 😛

Tiketnya mahal! 😛

@Universal Studios. Gapapa deh gak masuk, yang penting nampang dulu dong 🙂

Tapi orang baik-baik selalu diganjar sesuatu yang lain. Persis di sebelah konter tiket Universal Studios, saya melihat ini:

Malaysian Food Street P

Kebetulan kami sudah sangat lapar karena siangnya cuma makan sandwich, jadi tempat ini memang paling cocok! 🙂 Malaysian Food Street sendiri sebenarnya adalah sebuah restoran beruangan luas yang dikonsep dengan gaya warung-warung kaki lima. Kebanyakan makanan di sini adalah chinese food, tapi kita juga bisa menemukan masakan India dan Malaysia yang halal. Setelah survei sebentar, kami memutuskan membeli nasi lemak (lagi?) with beef (yang ternyata rendang) dan nasi briyani. Semuanya full set dengan porsi lumayan banyak. Untuk dua menu itu kami harus membayar S$ 9,5 saja. 🙂 Rasanya sendiri tak mengecewakan. Sudah begitu, istri saya pun nggak habis makannya, jadi saya bisa beraksi di ronde kedua!

Nasi lemak dan nasi briyani. Banyak juga kan? 😛

Daripada ngurusin kaki gempor, mendingan makan! 😛

Kampung Nasi Lemak. Yang disebut "beef" di papan menu itu tak lain adalah rendang! 😛

Kenyang makan dan lelah, kami memutuskan untuk pulang saja. Dengan acara jalan-jalan non-stop sekitar 10-12 jam setiap hari begini, kami sudah tak kuat lagi untuk menikmati pemandangan Singapura malam hari. Sayang juga sih. Tapi, bagaimana lagi? Kaki sudah sangat gempor.

Kami tiba di apartemen Abah sekitar jam 8 malam. Setelah ngobrol dan makan (lagi), malam itu saya pergi tidur jam 10. Istri saya sudah lebih dulu bertualang di alam mimpi. Saya merebahkan diri dan langsung mengembuskan napas lega. Rebahan di kasur saat kaki sudah heboh menuntut haknya untuk diistirahatkan terasa sangat nikmat. Saat kaki mulai terasa rileks, giliran benak saya yang mengembara ke mana-mana.

Saya sedang jatuh cinta kepada negeri singa ini. Saya jatuh cinta kepada jaringan kereta di negeri mungil ini. Saya menyukai derunya yang halus. Saya menyukai bunyi derak roda kereta saat menghantam rel. Saya menyukai rekaman suara wanita yang mengumumkan nama-nama stasiun lewat pengeras suara. Saya menyukai bunyi pintu MRT saat membuka dan menutup. Saya menyukai bunyi beep saat menempelkan kartu EZ Link pada mesin elektronik untuk membayar tiket kereta. Saya suka pemandangan saat seorang gadis muda berpakaian seksi menawarkan tempatnya kepada seorang lelaki lanjut usia (yang malah menolak dengan ramah, mungkin karena si lelaki masih merasa bugar). Saya menyukai trotoar-troatoar di negeri ini, bersih dan lebar. Mereka tahu persis bagaimana memanusiakan pejalan kaki.

Kadang saya berpikir bahwa mungkin itulah sebabnya kenapa jalanan Singapura tak pernah kelihatan macet. Bus dan kereta di sini lebih dari cukup untuk melayani warga kota bepergian ke mana-mana dengan nyaman. Etnis Cina yang jadi mayoritas di sini pun tampak rata-rata berbadan langsing. Mungkin ini ada hubungannya dengan jaringan kereta MRT yang stasiunnya terletak di bawah tanah dan sebagian lagi di atas. Untuk menuju stasiunnya kita harus berjalan agak jauh dan naik-turun tangga. Jalan kaki dengan nyaman adalah sebentuk kemewahan bagi saya. Di kota-kota dengan infrastruktur yang rapi seperti ini, beraktivitas sehari-hari menggunakan MRT pun menurut saya sudah tergolong berolahraga. Di Hong Kong beberapa tahun lalu pun saya merasakan hal yang sama. Butuh beberapa hari berjalan untuk membiasakan kaki bisa keliling kota tanpa gempor.

Saya menguap lebar-lebar. Ah, kantuk sudah berhasil menaklukkan keinginan saya untuk melamun lebih lama. Saya harus segera tidur. Besok kami akan pergi ke Kuala Lumpur.

Bersambung…

Cerita Singapura #2

Setelah memulai petualangan di tempat yang bukan “Singapura banget”, kami melanjutkan perjalanan ke Chinatown. Malam sebelumnya, kami sudah menandai tempat-tempat mana saja yang akan kami kunjungi dan stasiun MRT terdekat mana yang harus dituju. Berkat peta rute MRT yang gampang dilihat di tiap stasiun (kami juga menyimpan peta MRT buat dibawa-bawa), semua tujuan yang sudah direncanakan jadi gampang dicari.

Setelah Chinese Garden, kami naik MRT menuju Chinatown. Pintu keluar dari stasiun MRT ke Pagoda Street di Chinatown agak dramatis. Begitu kita naik dengan tangga berjalan, yang terpampang di depan mata adalah sebuah pedestrian dengan toko-toko suvenir di kanan-kiri. Yang begini ini yang bikin turis jadi kalap belanja.

Saya pikir, “Wah, salah juga nih jalan ke sini duluan. Seharusnya ini jadi tujuan terakhir, karena di sini itu areanya orang belanja suvenir!” Tapi istri saya memaksa supaya kami belanja saat itu saja, mumpung sedang berada di Chinatown. Jadilah kami belanja benda-benda mungil yang harganya miring-miring itu. Sebagai yang memegang kartu kredit, saya berusaha mati-matian agar barang bawaan kami tetap murah dan kecil. Wajar dong kalau laki-laki logikanya dulu yang jalan: selama barang itu murah dan kecil, saya bersedia mempertimbangkan. Misalnya barang-barang seperti ini:

Yang lebih murah daripada ini juga banyak, asal sabar nyarinya 🙂

Niat saya backpacking kan beneran pengen jalan-jalan, lihat-lihat, curi-curi pandang. 😛 Oleh-oleh itu bersifat opsional. Walhasil, beberapa barang “besar” harus dikembalikan. Belum lagi godaan dari para pedagang yang bisaan banget menggoda kami dengan bahasa Singlish yang terdengar aneh di kuping saya.

You buy now lah, you come back later, somebody will take this t-shirt,” kata si makcik waktu saya lagi ngitung duit buat beli kaos oblong.

Can I pay with MasterCard?” tanya saya.

Can! Can!

Ha?”

Percakapan ganjil model begitu juga terulang di beberapa toko lain, dengan aksen yang membuat saya merasa bego mendadak untuk urusan berbahasa Inggris. Tapi umumnya warga Singapura juga bisa bahasa Melayu, termasuk mereka yang dari etnis Cina dan India, jadi bahasa Inggris dan Melayu itu dicampur semua.

Chinatown, salah satu surga belanja suvenir di Singapura.

Setelah satu jam merasa cukup berbelanja, kami berkeliling sebentar di wilayah itu. Di ujung Pagoda Street, ada bangunan unik yang ternyata adalah sebuah kuil Hindu bernama Sri Mariamman Temple. Dibangun dengan gaya Dravidian, yang paling mencolok dari bangunan ini adalah gopuram (menara di pintu masuknya). Gopuram itu terdiri dari enam tingkat, dihiasi dengan pahatan-pahatan berbentuk dewa-dewa Hindu, beberapa tokoh lain, dan dekorasi atau ornamen lain, yang semuanya dicat warna-warni. Menara itu skalanya makin kecil dari bawah ke atas. Mungkin untuk membantu menciptakan ilusi tentang ketinggian.

Kuil Sri Mariamman.

Sri Mariamman Temple Singapore

Detail pada pahatan gopuram.

Menjelang jam 12 siang, saya menyeret istri saya keluar dari situ. “Little India? Walking? Better take MRT lah,” kata seseorang yang saya tanyai arah ke Little India. Ceritanya saya mau lanjut perjalanan sekaligus mencari masjid untuk sholat Jumat. Katanya sih ada masjid di sekitar situ, tapi saya memilih untuk lanjut ke tujuan berikut. Biar sekalian jalan, gitu lho. Kalau naik MRT, stasiun Little India bisa dicapai kurang dari 5 menit. Keluar entah di jalan apa, nuansa India langsung terasa. Kalau tadi segalanya berasa atmosfer Cina, mendadak di sini berubah jadi India: orang-orangnya, aroma dupa, aroma rempah, dan musik India yang berdentum dari jejeran toko-toko di sana. Warga di sekitar sini mengenal dan menyebut kawasan Little India dengan nama Tekka.

Tanpa tahu mau ke mana, kami berjalan saja ke sana kemari, mengikuti nama jalan yang lucu-lucu, misalnya ini:

Tak ada kerbau di jalan ini 🙂

Beberapa kali kami melihat orang-orang berbaju gamis dan memakai  peci, jadi kami berasumsi bahwa masjid sudah dekat. Saat saya tanya seseorang, dia bilang, “Mosque? Go straight, turn left, and keep walking. You will see it. It’s about 10 minutes walking from here,” kata Pak Haji dengan logat India Tamil yang masih bisa tertangkap kuping saya.

Sambil mengikuti petunjuk Pak Haji, kami berjalan kaki di bawah terik mentari siang itu. Berbeda dengan di Chinatown, toko-toko yang kami lewati di sini tak banyak yang menjual suvenir. Kami melewati pasar tradisional, deretan toko emas, beberapa monkey money changer, dan (ini yang asyik) banyak warung atau resto yang menjual makanan India (!).

Setelah melewati deretan toko emas, tanpa sengaja kami melihat sebuah bangunan yang ternyata sebuah kuil Hindu (eh, si Pak Haji  tadi nunjukkin masjid atau kuil ini?). Melihat banyak turis yang mampir ke bangunan itu, kami pun ikut-ikutan masuk sebentar. Kuil ini bernama Sri Veeramakaliamman Temple.

Plang nama kuil.

Tampak depan kuil ini. Di bagian atas ada gopuram.

Kuil Sri Veeramakaliamman terletak di Serangoon Road, sebuah jalan utama di distrik komersial Little India. Setelah hanya melihat-lihat sebentar, kami meneruskan perjalanan mencari masjid. Di sebuah area parkir, kami memutuskan untuk duduk-duduk dulu sambil ngaso. Kaki sudah lumayan pegal karena sejak pagi sudah berjalan kaki lumayan jauh. Acara ngaso sebentar itu lumayan bisa buat ngemil dan melihat-lihat peta lagi. Jalan-jalan seperti ini ternyata membutuhkan banyak sekali air minum.

Minum teruuss. Entah berapa botol/kaleng sehari 🙂

Setelah ngemil sandwich, kami jalan lagi. Ternyata masjid itu sudah dekat. Sekitar 200 meter dari kuil itu saya melihat bangunan bertulisan Masjid Angullia. Bangunannya sendiri tak terlalu istimewa. Tak ada kubahnya. Saya bertanya kepada seorang pria berjenggot lebat di depan masjid.

Assalamualaikum. Jam berapa sholat Jumat di sini, Pak?”

One thirty,” jawabnya.

Okay, thank you,” kata saya. Saat itu hampir jam 12 siang. Jadi saya masih punya waktu buat jalan-jalan!

Masjid Angullia, di seberang Mustafa Center.

Bagian dalam masjid.

Masjid Angullia ini masih berada di Serangoon Road. Di seberangnya ada satu jalan bernama Syed Alwi Road di sebelah mal kecil bernama Mustafa Center yang penuh dengan restoran atau warung yang menyediakan masakan India dan Pakistan. Tempat ini betul-betul surga kuliner! Lihat deh:

Banyak resto India di sini.

Buat yang vegetarian 🙂

Burger-burger juga ada 🙂

Saat sedang asyik survei tempat makan siang, ada pelayan resto di seberang jalan yang memanggil-manggil kami. Sepertinya sih orang Indonesia. “Pak! Bu! Ayo, makan di sini…makan!” teriaknya sambil melambai. Saat melihat plang namanya, kami langsung ketawa ngakak. Nama restonya kok Madura, tapi menyediakan masakan India dan Pakistan. 😛  Tapi sebenarnya Madura itu adalah nama sebuah kota di Provinsi Tamil Nadu di India. Sekarang nama kota itu sudah ganti jadi Madurai.

 

Resto Madura's.

Akhirnya kami memilih satu resto kecil bernama AB Mohammed Restaurant. Menunya India. Kami memesan satu set nasi briyani seharga S$ 6. Berhubung porsinya cukup banyak dan istri saya tidak terlalu lapar, nasi briyani tadi kami makan berdua saja. Ngirit, deh! 🙂

Nasi briyani kumplit plus jus jeruk 😛

Siap melahap nasi briyani 😛

Di set ini, ada dua mangkuk kecil. Yang satu isinya semacam kuah gurih dan satu lagi mirip bubur susu. Kalau nggak salah sih namanya payasam. Rasanya manis banget, tapi kok uenak ya? 🙂 Resto ini selain menyajikan masakan lezat juga menyajikan pemandangan Singapura yang internasional dan multietnis. Pemiliknya orang India, para pelayannya ada yang Cina, India, dan Melayu. Pengunjungnya juga macam-macam, termasuk seorang bule pirang gondrong di sebelah saya yang makan banyak banget…dan ludes sampai licin!

Kenyang makan, saya pun menuju masjid untuk sholat Jumat, sementara istri saya jalan-jalan keluar-masuk ke beberapa mal kecil di sekitar situ. Jamaah di situ kebanyakan beretnis India Tamil, hanya sedikit yang tampak berwajah Melayu atau Cina. Sesudah wudhu dan tahiyatul masjid, saya duduk tenang bersila, sambil dengan khusyuk mendengarkan khotbah (yang disampaikan dalam bahasa Tamil). 😛

Usai sholat, sambil menunggu giliran istri saya sholat dzuhur, saya berleha-leha di lantai masjid. Ada rombongan perempuan (dari bahasanya jelas orang Indonesia) masuk. Di antara mereka ada dua perempuan berpakaian minim (yang satu memamerkan pundak dan memakai rok di atas lutut). Si penjaga masjid menegur mereka karena berpakaian kurang pantas di lingkungan masjid. Saat ia memanggil temannya untuk mengambilkan sarung, dua perempuan itu ngeloyor pergi. “Kami mau ambil celana dulu di mobil,” begitu alasan si cewek rok mini. Dan mereka pun tidak kembali lagi. Telanjur malu, mungkin. Habisnya saya pelototin melulu sih. Tapi hebat juga ya si rok mini masih mau sholat. 😛

Dari masjid, kami jalan lagi mencari stasiun MRT terdekat, yaitu Farrer Road. Dari situ kami menuju Orchard Road. Sebenarnya sih Orchard Road biasa saja. Cuma seruas jalan utama yang penuh dengan gedung-gedung mal dan hotel di kedua sisinya. Tapi saya dari dulu memang suka lanskap perkotaan. Apalagi sejak kenal game PlayStation balapan mobil yang namanya Need For Speed (NFS), saya jadi tambah senang sama jalanan kota. Tapi lanskap kota yang tertata rapi, dong, dengan gedung-gedung modern dan rimbun pepohonan di kanan-kiri jalan. Kadang-kadang, pas lagi main NFS, saya malas ikutan balapan (aslinya sih emang udah kalah!), dan malah “nyetir keliling kota” buat cuci mata. Nah, Singapura ya kayak “sirkuit” NFS gitu, deh! 🙂

Orchard Road. Ada skuter nyempil di situ 🙂

Narsis dikit ah 😛

Satu sudut Orchard Road.

Tiba-tiba lamunan saya itu jadi nyata: dua mobil mewah sedang kebut-kebutan di Orchard Road. Satu Ferrari dan satu lagi Lamborghini. Deru knalpotnya yang bising dan ngebas bergema di antara gedung-gedung di jalanan itu. Gaya ah tuh orang-orang kaya Singapura (sambil mijit kaki yang gempor). Setelah membatalkan niat mampir ke foodcourt di Lucky Plaza yang katanya penuh makanan murah dan enak, kami masuk ke mal Ngee Ann City. Saya dititipin beli beberapa buku buat kantor, belinya di Kinokuniya di mal ini. Dan ternyata Kinokuniya di sini luaaass banget! Mungkin luasnya sekelurahan (lebay, deh!).

Mal Ngee Ann City di Orchard Road.

Biasanya, kalau saya ada di toko buku, itu artinya tanda-tanda kebangkrutan segera tiba, karena saya jarang bisa menahan nafsu beli buku—satu di antara nafsu-nafsu yang tidak bisa saya lawan. Tapi hebatnya, setelah mendapatkan buku-buku pesanan kantor, saya berhasil menahan diri buat beli buku. Paling cuma baca buku ini-itu sebentar sambil ngiler. Terus terang, saat lagi traveling begini, nafsu baca buku agak berkurang, mungkin karena terlalu capek (yang nggak berkurang sih nafsu makan, tapi itu pun masih tertahan sama kondisi dompet). Gara-gara porsi olahraga rada kurang (paling cuma sepedaan tiap pagi), sore itu kaki kami mulai gempor luar biasa. Benar-benar mau copot rasanya!

Setelah duduk-duduk sebentar di teras mal, kami memutuskan menyusuri jalanan sekitar Orchard Road, lalu pergi ke Bras Basah. Dengar-dengar sih di Bras Basah Complex ada yang jual buku-buku bekas dengan harga super murah. Konon, buku Lonely Planet bekas bisa ditebus dengan S$ 2 saja! Ngiler dengan gosip ini, kami pun mencari stasiun MRT terdekat. Sambil di kereta menertawakan aksen bule saat melafalkan nama stasiun Bras Basah, saya membayangkan di masa depan di Indonesia ada stasiun kereta bawah tanah bernama Bras Ketan atau Bras Merah (coba lafalkan dengan aksen bule!).

Turun dari kereta dan naik ke jalan Bras Basah, kami menemukan peta wilayah sekitar situ. Sialnya, setelah berjalan tiga blok lebih, yang ketemu kok malah Bugis Street dan akhirnya malah nyasar ke terminal bus Queen Street. Waduh, salah baca peta! Sambil duduk-duduk pasrah dan nyaris ditabrak bus jurusan Singapura-Johor Bahru (Malaysia), kami sibuk memijit-mijit kaki yang sudah sangat sakit. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja. Sambil pulang, kami sempat bertanya soal harga tiket bus ke Johor Bahru, walaupun nantinya kami memilih pergi ke Kuala Lumpur.

Kawasan Bugis Street.

Stasiun terdekat dari situ ternyata adalah MRT Bugis. Di daerah Bugis sendiri tidak ada yang terlalu istimewa, menurut saya. Banyak hostel murah untuk backpacker di daerah sini, dan pastinya juga banyak tempat belanja ini-itu: dari CD, pakaian, suvenir, hingga makanan kecil dan buah-buahan. Saya sendiri sudah tidak berminat lagi belanja apa pun. Dan malam itu kami pun tiba di apartemen Abah dengan kaki gempor minta dipijit. Setelah seharian jalan kaki keliling kota, sambil sesekali naik MRT yang kadang naik-turun ke stasiunnya pun sudah terhitung olahraga, mandi dan tidur terasa luar biasa nikmat! Pastinya sambil memimpikan acara jalan-jalan esok harinya. 🙂

Next: Esplanade, Merlion, Vivo City, Sentosa Island, dan banyak lagi!

Bersambung….

Cerita Singapura #1

Backpacking cukup bawa ini aja, bisa masuk kabin semua.

Sering kali, Singapura atau Malaysia jadi pengalaman pertama bagi orang Indonesia yang baru pertama kali pergi ke luar negeri. Buat saya sendiri ini sudah kedua kali. Terakhir kali ke Singapura kira-kira 10 tahun lalu, itu pun hanya jalan-jalan beberapa jam karena cuma transit sebelum terbang lagi ke Hong Kong. Tapi, saya sudah janji ke istri saya buat jalan-jalan ke luar negeri. Paling dekat dan paling murah ya cuma Singapura dan Malaysia. Cuma modal tiket, uang saku, dan tas punggung, nggak perlu ribet ngurus visa karena masuk ke negara-negara Asia Tenggara memang tidak perlu visa. Lagi pula, saya sudah gatal pengen backpacking lagi setelah empat tahun.

Terakhir kali saya backpacking tahun 2008 ke Ukraina dan Hong Kong. Jadilah September 2011 lalu kami kasak-kusuk cari tiket buat berangkat pada Februari 2012. Dapat tiket Tiger Airways dengan harga Rp 1,5 juta untuk dua orang, pulang-pergi. Dengan jarak waktu yang enak seperti itu, setidaknya kami punya 4-5 bulan menabung untuk uang saku kami di sana. Everything is well-planned. Bayar cicilan rumah juga nggak terganggu dengan acara backpacking ini. 🙂

Saya pun ambil cuti empat hari dari kantor, 16-17 Februari dan 20-21 Februari. Jadi saya dapat “bonus” 2 hari (Sabtu dan Minggu) buat jalan-jalan. Sejak awal saya sudah wanti-wanti ke istri supaya kami pergi backpacking saja. Toh kami cuma pergi berdua. Sederhananya, backpacking itu artinya mengelola perjalanan secara mandiri dengan bawaan seperlunya dan dengan biaya seiirit mungkin. Mandiri artinya semua diurus sendiri, nggak perlu bermanja-manja pakai travel agent segala. Toh, saya juga nggak pernah dan nggak tahu cara pergi backpacking pakai travel agent. Apalagi saya ini orangnya bermental irit. 🙂

Jadi, bawaan kami masing-masing ya cuma seperti di foto atas itu. Satu tas punggung dan satu tas selempang kecil, khususnya buat benda-benda yang harus disendirikan dan sering keluar-masuk: paspor, tiket, uang, dan kamera (aslinya sih memang nggak punya backpack yang gede…dasar kere). Di Singapura, kami akan menginap di apartemen teman lama saya yang sudah tinggal sekitar 5 tahun di sana.

Kami berangkat jam 5 subuh dari Bandung, dan pesawat kami lepas landas jam 11.25 dari Soekarno-Hatta. Pesawat Tiger ini lumayan bagus dan nyaman (standar budget airline deh), tapi sialnya, di pesawat mereka cuma memberi sebungkus kecil kacang kepada penumpang, tanpa minuman sama sekali. Makanan lain dan minuman harus beli di pesawat, dan harga minuman paling murah itu S$ 3 untuk soft drink kalengan (S$ 1 = Rp 7.100 – 7.200). Berhubung perjalanan cuma 1,5 jam, kami enggan beli minuman kaleng mahal begitu (aslinya sih memang kere).

Pemandangan Singapura dari pesawat menjelang mendarat.

Tiger Airways mendarat sekitar jam 14.00 waktu lokal di Budget Terminal Bandara Changi, Singapura. Budget Terminal ini letaknya agak jauh dari terminal-terminal lain. Begitu keluar dari imigrasi Singapura (sambil ngembat beberapa peta dan brosur berhadiah pembatas buku), tak jauh dari pintu keluar ada shuttle bus yang menunggu penumpang untuk menuju Terminal 2. Gratis. Di shuttle bus, ada segerombolan ABG Indonesia (ketauan dari bahasa Betawinya) tampak sibuk berkicau. Dari pakaian dan isi obrolannya, saya jadi tahu mereka datang ke Singapura buat nonton Super Junior (Suju), boyband Korea Selatan yang akan manggung di Singapore Indoor Stadium hari Sabtu dan Minggunya (18 & 19 Februari).

Dari Terminal 2, kami menuju stasiun bawah tanah dan membeli kartu EZ Link seharga S$ 12 biar gampang naik bus atau MRT (Mass Rapid Transit), jaringan kereta di Singapura. Perjalanan dari Changi menuju stasiun Pioneer, dekat tempat teman saya tinggal, memakan waktu satu jam, alias dari ujung ke ujung kalau melihat peta jalur MRT.

Suasana di dalam MRT. Papan elektronik di atas pintu keluar memudahkan penumpang, yang belum pernah ke Singapura sekali pun.

Enaknya main ke negara maju, petunjuk arahnya banyak dan mudah diikuti. Begitu turun di stasiun Pioneer, di kawasan Jurong West, nama jalan dan nomor gedung apartemen yang saya cari pun gampang ditemukan. Saya langsung merasa betah di lingkungan situ. Kompleks apartemen di sana terdiri dari beberapa gedung. Setiap gedung ada nomornya, rata-rata berlantai 16, dan tinggal cari nomor apartemennya. Teman saya ini, yang biasa dipanggil Abah, tinggal di lantai 15.

Kompleks apartemen teman saya. Nomor gedung ada di tembok atas dan di papan warna biru.

Setiba di apartemen Abah sekitar jam 5 sore, ada Atti, istrinya, sudah menunggu bersama ketiga anaknya yang lucu-lucu. Si Abah sendiri baru sampai di rumah sejam kemudian. Setelah ngobrol, tanya-tanya soal tempat-tempat yang wajib dikunjungi, mandi, dan makan ayam KFC (yang ukurannya nyaris sama dengan kepalan tangan seorang petinju), kami pun jalan-jalan sebentar. Malam itu kami sebenarnya sudah agak lelah. Keuntungan tiba sore/malam hari di negara tujuan jalan-jalan adalah bisa tidur cukup dan bangun dengan segar keesokan harinya. Siap jalan-jalan seharian.

Malam itu kami cuma jalan-jalan ke Chinese Garden, sebuah taman kota berjarak kurang dari 5 menit naik MRT dari stasiun Pioneer. Turun di stasiun MRT Chinese Garden dan jalan kaki sekitar 200 meter sampai ke gerbang depannya. Taman ini buka dari jam 06.00 sampai jam 23.00. Sayang hari sudah gelap, padahal malam itu sambil lalu pun kami yakin taman ini akan tampak lebih cantik kalau terang. Beberapa orang sedang jogging, beberapa pasang lain tampak sedang sibuk pacaran. Dua jam kemudian kami pulang ke apartemen Abah, setelah sebelumnya survei kecil-kecilan mencari kios atau warung buat jajan atau beli makanan yang murah meriah di sekitar stasiun Pioneer. Kami mengincar tiga tempat: satu kios bernama Sweetie menyediakan aneka jus buah segar dan wafel, satu toko roti, dan satu warung bernama Ananas Cafe yang menyediakan nasi lemak dan aneka lauk lain. Semua harganya murah (untuk ukuran dolar Singapura, lho). Pas buat backpacker kere macam kami ini. 🙂

Malam itu setelah kembali ke apartemen, kami menyusun itinerary buat beberapa hari ke depannya, dibantu Abah dan Atti, sambil mainin (dan dipermainkan) anak-anak mereka….hehehe. Sekitar jam 11 kami pun tidur. Waktunya sangat cukup untuk istirahat dan tidur agak lama. Apalagi saya belum tidur lagi sejak jam 3 dini hari itu saat menjelang berangkat dari Bandung. Waktu subuh di Singapura sekitar jam 6 pagi. Matahari terbit pun sekitar jam 07.30.

***

Jumat, 17 Februari 2012

Jam 07.30 kami sudah selesai mandi dan siap menjelajahi kota. Tuan rumah belum ada yang keluar kamar, dan malam sebelumnya mereka bilang kalau kami mau jalan dari pagi, langsung keluar saja. Jam segitu di Singapura masih agak gelap. Langit belum terang sepenuhnya. Dan sepertinya juga sedikit mendung. Sambil berjalan kaki sekitar 300-400 meter menuju stasiun Pioneer, kami membeli dua porsi nasi lemak di sekitar stasiun MRT itu, rekomendasinya si Abah. Ditambah sandwich isi ayam dan telur buat ganjal perut kalau lapar agak siangan nanti. Setelah itu kami langsung naik kereta ke Chinese Garden. Taman kota itu hanya berjarak sekitar 200 meter dari stasiun MRT Chinese Garden.

Warung nasi lemak. Sudah buka sejak pukul 07.00.

Red Bridge di Chinese Garden.

Saat mencapai gerbang taman ini, ada jembatan merah yang oleh orang Cina dianggap sebagai simbol keberuntungan. Sungai di bawahnya memang berwarna agak keruh, tapi sangat bersih. Kita masih bisa melihat ikan dan kura-kura di sungai itu. Memancing, merokok, menyampah sembarangan, dan mengendarai sepeda di lingkungan Chinese Garden diancam dikenai denda sebesar beberapa ratus dolar Singapura. Ancaman denda ada di mana-mana. Inilah yang membuat Singapura dijuluki “A Fine City” (fine = bagus/denda).

Ikan dan kura-kura masih kelihatan 🙂

Kami pun masuk dan menemukan lokasi yang oke buat sarapan: di bangku di pinggir kolam kecil tak jauh dari gerbang masuk. Suasana pagi itu tenang sekali. Udara pun masih terasa sejuk. Beberapa orang tampak sedang lari pagi, sementara yang makan cuma kami. Tapi, siapa yang peduli? Tak ada larangan makan di sini, asal sampahnya dibuang di tempat sampah. Sarapan nasi lemak di taman kota yang rimbun dan indah, di pinggir kolam yang cantik dan bersih, udaranya pun segar…sensasinya luar biasa.

Nasi lemak adalah jenis makanan khas Malaysia, masih satu etnis dengan nasi uduk dan nasi liwet di kita, deh. Makanan ini biasa dihidangkan untuk sarapan pagi. Nasi lemak merujuk kepada nasi yang dimasak menggunakan santan kelapa untuk menambah rasa gurih dan wangi. Kadang-kadang daun pandan dimasukkan ketika nasi lemak dimasak untuk menambahkan aromanya. Untuk lauknya bisa apa saja. Kebetulan saya beli set meal seharga S$ 2,50 per porsi di warung Ananas tadi. Lauknya sederhana banget: telur mata sapi, sosis goreng, dan ayam yang digiling dan digoreng dengan balutan tepung. Pilihan menu lauk lain ada sih: oseng kacang panjang, bakmi goreng, kentang goreng, dan banyak lagi. Sambalnya juga enak. Agak manis di depan, tapi di akhirnya cukup pedas dan bisa bikin saya berkeringat.

Sensasi sarapan nasi lemak di pinggir danau 😛

Nasi lemak. Sederhana, tapi enak banget! 😛

Singapura memang kota metropolitan, tapi punya beberapa taman rimbun dan indah seperti ini. Jalanan-jalanannya pun nyaris tak ada yang sepi dari pepohonon rimbun. Pagi pertama kami justru dihabiskan di sini, bukan di jalanan dengan hutan beton khas kota besar. Taman semacam ini selain sangat penting buat paru-paru kota, juga bisa menjadi tempat warga kota melepas lelah sedikit dari deru kesibukan kota besar dan tekanan pekerjaan sehari-hari. Di Indonesia taman keren macam ini bisa habis dikotori pedagang kaki lima dan disesaki warga sehingga bisa mirip pasar kaget. Itu sebabnya sarapan di sini sensasinya luar biasa buat kami. Sensasi keheningan yang menentramkan. Belakangan kami malah jadi terbiasa makan pagi di sini. Lagi pula, kalau makan pakai tangan di pinggir danau sini ada toilet buat cuci tangan. 🙂

Kenyang makan nasi lemak, foto mesra dulu dong 🙂

Setelah sarapan dan leha-leha sebentar, kami memutuskan jalan-jalan keliling Chinese Garden. Taman ini dibangun dengan konsep taman ala Cina. Karakternya menggabungkan arsitektur Cina bergaya imperial dengan tata kebun dan lingkungan alam yang rindang serta tertata rapi. Taman ini dibangun pada 1975, dikomandoi oleh arsitek Taiwan Yuen-Chen Yu. Di dalamnya ada satu area berisi patung-patung— tokoh, legenda, filsuf, termasuk patung Confucius dan Mulan seukuran manusia yang tersebar di antara rumpun perdu dan bunga di sekitarnya. Tak jauh dari deretan patung itu, ada Ru Yun T’a, pagoda 7 lantai setinggi kira-kira 30 meter. Warga Singapura juga memanfaatkan taman ini untuk banyak hal. Selain orang-orang yang sibuk jogging, kami melihat sekumpulan manula sedang berlatih tai chi, kemudian ada juga sekelompok orang India sedang asyik bermain kriket, sebuah olahraga permainan yang mirip bisbol. Bersambungan dengan Chinese Garden ini juga ada Japanese Garden. Namanya sudah cukup menunjukkan seperti apa tamannya.

Berikut ini beberapa foto Chinese garden dan Japanese Garden yang saya ambil:

Pagoda Ru Yun T’a.

Orang India emang sukanya main kriket 🙂

Pemandangan tepi kolam yang indah.

Patung-patung itu…

Mejeng di Twin Pagoda, tapi yang kefoto cuma satu… 🙂

Kebun bonsai di Japanese Garden.

Para manula asyik ber-tai chi…

“Ketemu” Confucius 🙂

Stasiun MRT Chinese Garden, cuma 200 m dari tamannya.

Setelah satu jam puas mengelilingi taman ini, kami langsung menuju stasiun dan menuju beberapa lokasi berikutnya dalam itinerary kami hari itu: Chinatown, Little India, dan banyak lagi. Beruntung sekali kami bisa menengok sisi lain Singapura—yang ternyata bukan cuma Orchard Road, Merlion, atau Universal Studios di Sentosa Island.

Bersambung…