Tag Archives: thai times

Thai Times #4

Lobi hotel.

“A traveler without observation is like a bird without wings.”

~ Moslih Eddin Saadi

Jumat, 24 Agustus

Pagi itu lobi hotel sepi. Bule-bule backpacker yang biasanya nongkrong di situ tampaknya belum ada yang bangun. Baguslah, jadi saya bisa pake Internet sebentar. Rencananya saya mau memesan hostel di Krabi, berhubung malam ini kami berangkat ke sana naik kereta. Sekalian web check-in untuk pesawat Air Asia kami dari Kuala Lumpur nanti.

Pakai Internet di hotel ini asyik juga. Sistemnya cukup dengan memasukkan koin 10 baht (Rp 3.000) untuk akses Internet selama 15 menit. Mahal sih, makanya nggak baik berlama-lama di depan Internet di sini.

Setelah beres semua urusan itu, kami menyeberang ke Stasiun Hua Lamphong. Di area food court di stasiun ini ada satu kedai makanan halal di pojokan. Masakannya sederhana saja: ada nasi goreng, tom yam, padthai, dan aneka lauk tumis serta oseng. Saya pilih nasi dengan lauk tumis ayam masak pedas, sementara istri saya pesan nasi goreng dengan telur dan suwir ayam. Untuk masakan yang porsinya rada banyak itu harganya cuma 50 baht (Rp 15.000) per porsi.

Sistem belinya emang agak ribet. Setelah memesan dan menanyakan harga, kami harus pergi ke loket kupon yang ada di situ. Kita lalu harus beli kupon seharga makanan yang barusan dipesan tadi. Misalnya saya pesan makanan seharga 100 baht, maka saya harus beli kupon senilai 100 baht di loket, lalu menukarkan kupon itu di tempat kita memesan makanan tadi. Tentunya setelah makanannya siap.

Rasanya? Muaknyuss….ayam masak pedas pesanan saya sukses bikin saya keringetan. Rasanya juga gurih nikmat. Sementara nasi gorengnya juga enak. Mirip-mirip nasi goreng tek-tek langganan saya lah. Bumbunya cukup terasa. Duh, saya demen dah makanan kayak gini! 🙂

Setelah makan, saya memutuskan untuk melihat-lihat isi stasiun ini dulu. Kan lumayan bisa buat bahan cerita di blog ini. 🙂

Tampak depan Stasiun Hua Lamphong, Bangkok.

Saat pertama kali masuk ke stasiun ini hari sebelumnya, saya mendapat kesan lega pada bangunan ini. Sepertinya itu disebabkan langit-langit stasiun yang didesain tinggi dan melengkung. Mirip sebuah hanggar pesawat. Menurut saya, desain Hua Lamphong memang kuno, hampir tak ada kesan mewah dan modern, namun cukup elegan, bersih, dan terawat. Di atas pintu masuk utama dan pintu masuk ke peron ada poster raja Thailand berukuran besar. Setiap jam 6 sore, di tempat-tempat publik, termasuk stasiun, akan dikumandangkan lagu kebangsaan Thailand. Semua orang berdiri khidmat untuk menghormati lagu kebangsaan, termasuk turis–demi sopan santun.

Hua Lamphong melayani lebih dari 130 trayek dan sekitar 60 ribu penumpang setiap hari. Penumpang dapat langsung membeli tiket di hari yang sama dengan keberangkatan, tetapi untuk tujuan populer dan ingin kelas sleeper train, sebaiknya kita memesan jauh-jauh hari hingga 60 hari sebelum keberangkatan. Di tiket kita akan tercetak waktu, tanggal, dan nomor bangku. Dua layar monitor berukuran besar akan memperlihatkan jadwal kereta yang akan berangkat hari itu. Mirip seperti di bandara.

Saya lihat ada total 22 loket pembelian tiket. Setengahnya untuk pembelian hari H, dan sisanya untuk pemesanan 1-60 hari sebelum keberangkatan. Tak semua loket buka, memang, tergantung kebutuhan. Petugas loket juga rata-rata bisa bahasa Inggris, walau sangat pas-pasan. Petugas di bagian Informasi bahasa Inggrisnya rada mendingan. Calon penumpang (biasanya backpacker bule) yang kehabisan atau malas duduk di tempat duduk memilih untuk leyeh-leyeh di area tengah yang luas sambil menunggu kereta mereka siap. Backpack mereka yang besar-besar diletakkan di lantai untuk sandaran.

Interior Hua Lamphong.

Fasilitas apa saja yang ada di stasiun ini? Selain food court, ada money changer dan Left Baggage untuk menitipkan tas. Tarifnya per 24 jam. Kalau tak salah, untuk backpack yang agak besar dikenakan tarif 70 baht (Rp 21.000).

Mushola.

Toilet di sini juga bisa digunakan untuk mandi dengan tarif 20 baht (Rp 6.000). Di depan toilet, ada tangga ke atas menuju mushola. Papan petunjuknya terbaca jelas seperti di foto. Di lantai 2, yang ada di sayap kanan dan kiri, ada kantor pos, kafe yang rada mahal, warnet, dan beberapa kantor agen perjalanan wisata ke kota-kota lain di Thailand.

Puas menjelajahi stasiun, kami kembali ke hotel. Selesai berkemas, jam 12 kami check out. Di hotel-hotel Thailand biasanya kita boleh menitipkan tas tanpa bayar walau sudah check out. Bisa dimaklumi, mereka ingin tambahan layanan ini bisa membuat tamu kembali kalau kapan-kapan main ke Bangkok lagi.

Mah Boon Krong (MBK).

Jelas saya senang karena tak perlu keluar uang untuk menitipkan tas di stasiun. Dua backpack kami pun diletakkan di tengah-tengah tumpukan ransel tamu lain yang sudah check out. Siang itu kami menuju mal MBK. Rutenya cukup mudah, tinggal naik MRT dari Hua Lamphong, turun di stasiun Si Lom, disambung dengan BTS Skytrain (= monorel) dan turun di stasiun Sala Daeng. Dari situ tinggal jalan kaki ke MBK.

Mal ini berada di kawasan Siam. Kawasan ini dikepung oleh mal-mal besar. Selain MBK, ada Siam Square, Siam Paragon, dan beberapa yang lain. Pokoknya tempat-tempat ini ini benar-benar shopping heaven, deh!

Kaos-kaos serba 99 baht!

Di lantai 4 dan 5…nah, ini surganya orang gila belanja. Segala suvenir dengan harga murah. Saya, yang kalau ke luar negeri cuma pengen beli kaos oblong, langsung ngiler ngeliat toko-toko dan kios-kios t-shirt semuanya kompak jualan kaos keren cuma 99 baht (Rp 29.700)! Padahal bahannya bagus lho, agak-agak elastis gitu. Udah gitu desain gambarnya lucu-lucu. Ada yang serba tulisan “Thailand”, ada juga yang permainan kata bahasa Inggris. Misalnya: Sex Instructor, The Comma Sutra, Beer is the reason I get up every afternoon, dan banyak lagi.

Sialnya, setelah lirik-lirik dompet, ternyata uang baht kami tidak cukup lagi untuk sekadar beli oleh-oleh. Padahal kami belum lagi berangkat ke Krabi, dan masih harus ke Hatyai untuk melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur. Sialnya lagi, tak satu pun pedagang di sana yang bisa menerima pembayaran dengan kartu kredit.

Setelah gempor muter-muter dan tak ada satu pun pedagang kaos dan suvenir yang bisa menerima kartu kredit, bahkan hingga keluar dari MBK dan muter-muter kawasan Siam ke mal-mal di sebelahnya, akhirnya kami terpaksa ngaso sebentar. Kaos bagus paling murah yang kami temukan sepertinya cuma di MBK. Jadilah kami kembali ke mal itu, mencari mushola (ada di lantai 5), dan mojok sebentar untuk menghitung lagi recehan kami di dompet.

Kios suvenir.

Setelah mengaduk-aduk dompet, ditemukanlah beberapa puluh ribu rupiah (yang untungnya masih ada harganya di sini), dan kebetulan juga kami punya 100 dolar Hong Kong (= Rp 100.000!), dan beberapa ringgit. Setelah sholat, kami muter-muter dulu mencari money changer di sana. Saya memilih satu yang berstiker Master Card dan menanyakan apakah saya bisa mengambil uang tunai baht dengan kartu kredit saya itu. Dan ternyata bisa! Walau dengan syarat harus mengambil minimal 3.000 baht (Rp 900.000), itu tak masalah karena bisa kami pakai buat cadangan hingga ke Kuala Lumpur. Mungkin bahkan masih sisa sampai di Bandung.

Total jenderal kami berhasil mengumpulkan 5.000 baht (Rp 1,5 juta) buat menyambung hidup sampai pulang. 🙂 Yang pasti: beberapa kaos oblong, gantungan kunci, dan kantong bordiran yang digantungkan di dinding (saya nggak tahu apa sebutannya) akhirnya berhasil dibeli. Kemudian, kami memutuskan segera pergi ke stasiun. Saya menyesal setengah mati karena tak sempat mampir ke Lumphini Park di dekat stasiun MRT Si Lom. Ini artinya suatu hari nanti saya harus datang ke Bangkok lagi! *bersumpah*

Menu makan malam 🙂

Setelah mengambil ransel-ransel yang dititipkan di hotel, kami menyeberang ke stasiun Hua Lamphong. Gara-gara urusan kehabisan duit tadi, kami malah jadi nggak sempat makan siang. Jadi, kami kembali ke warung halal di foodcourt tadi pagi. Kali ini memesan menu yang agak beda. Istri saya pesan nasi goreng ayam-telor lagi, sementara saya pesan nasi dengan dua lauk tumisan ayam, kentang, dan sayur. Semuanya cuma 100 baht (Rp 30 ribu). Hebat juga nih yang masak, cuma tumisan sederhana begini enaknya bikin merem melek! 😀 Saya perhatikan, di Thailand jarang sekali ada sambal. Jadi kalau kita ingin makanan kita tambah pedas, biasanya disediakan cabe bubuk. Mantap kok, tetap bisa bikin kita berdesis kepedesan! 🙂

Puas makan, kami bergantian ke mushola. Pas giliran saya, ada sekelompok pemuda tanggung lagi nongkrong di sana. Sambil mengucapkan salam, saya meminjam sajadah ke mereka (di mushola itu cuma ada karpet). Setelahnya, saya coba mengajak mereka ngobrol sebentar. Tampaknya mereka tak bisa bahasa Inggris sama sekali, tapi saat saya bilang saya dari Indonesia, mereka tampak mengerti dan menjawab bahwa mereka dari Pattani, kawasan Thailand selatan yang banyak dihuni muslim. Salah satu dari mereka entah ngomong apa ke saya, tapi saya menangkap dua kata intinya: “kakak ipar” dan “Aceh”. Oooh, begitu. 🙂 Lalu saya pamit sambil mengucap salam. Saya dan istri segera ke peron dan mencari gerbong kami.

Kereta antarkota di Thailand penampilannya biasa saja, jelas bukan tandingan MRT dan Skytrain-nya. Ornamen kayu di dinding bagian dalam terkesan kuno. Kursinya tipe 2-2 dan reclining seat. Jarak antar kursi di depan dan belakang juga cukup lega, sehingga ketika penumpang di depan kita menurunkan punggung kursi, penumpang di belakangnya tidak akan terganggu. Jendela keretanya lebar dan bisa dibuka dengan cara ditarik ke bawah. Kereta berangkat tepat waktu jam 19.30. Menurut jadwal, kami akan tiba di Surat Thani jam 07.00 keesokan harinya untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus ke Krabi.

(Bersambung)

Thai Times #3

Chakri Maha Prasat Hall, Grand Palace.

“To get to know a country, you must have direct contact with the earth. It’s futile to gaze at the world through a car window.”

~ Albert Einstein

Lolos dari jebakan scammers tolol, kami akhirnya menemukan pintu masuk Grand Palace. Saat itu sekitar jam 9 pagi, tapi ramainya luar biasa. Backpacker, turis ber-guide yang heboh dan ribet banget, anak-anak sekolah, mahasiswa, alay, semua udah ngumpul di sana. Oh ya, untuk memasuki kawasan ini, pengunjung diminta untuk berpakaian sopan: tidak boleh menampakkan lengan, bahu, betis, paha, dada. Gampang aja kok, pakai celana jins dan kaos oblong (berlengan) tuh udah sopan banget di sini. 🙂 Biasanya turis bule yang doyan buka-bukaan gitu. Tapi nggak apa-apa, di sini ada tempat khusus untuk pinjam pakaian buat menutupi bagian-bagian tadi. *duh, bahasanya*

Anak-anak sekolah Bangkok lagi study tour.

Pas sampai di loket, saya sempat bengong dulu: harga tiket masuknya 400 baht (Rp 120.000). Tapi masa iya udah di Bangkok nggak main ke Grand Palace? Itu memalukan, kawan! 😛 Saya duduk-duduk dulu dekat loket penjualan tiket. Sambil ngaso sejenak, saya memerhatikan keadaan sekitar. Grand Palace saat itu sangat penuh dengan turis asing dan domestik. Ada yang sendirian, berkelompok kecil, dan banyak juga rombongan besar yang dipandu tour guide yang tampak stres mengatur rombongannya. Bahasa mereka bermacam-macam. Saya mencoba mengenali beberapa di antaranya: Inggris, Spanyol, Cina, Rusia, Jepang, dan beberapa orang yang saya duga dari Eropa Timur.

Setelah duduk-duduk nggak jelas beberapa lama, akhirnya saya membeli tiket. Begitu masuk ke area dalam, duit sebanyak itu sudah tak terasa berat lagi. Kompleks ini keren dan sangat indah. Bagus banget buat yang doyan fotografi, sejarah, atau sekadar foto-foto narsis. Grand Palace adalah kompleks bangunan istana yang berfungsi sebagai kediaman resmi raja-raja Thailand dari abad ke-18 dan seterusnya.

Setelah Raja Rama I naik tahta pada 1782, istana ini pun dibangun. Sebelumnya, istana kerajaan dan pusat administrasi pemerintahan berada di Thonburi, di sebelah barat Sungai Chao Phraya. Karena beberapa alasan, raja yang baru ini menganggap ibukota di Thonburi itu sudah tak layak lagi dan ia pun memutuskan untuk membangun yang baru di sisi timur sungai tadi. Di bawah pemerintahan Raja Rama I, istana yang baru pun dibangun, tak hanya sebagai tempat tinggalnya, namun juga sebagai lokasi kantor-kantor pemerintahan dan tempat ibadah umat Buddha. Kompleks ini belakangan dikenal dengan nama Grand Palace.

Temple of the Emerald Buddha.

Di area seluas 218 ribu meter persegi ini ada sekitar 35 bangunan, belum termasuk restoran dan toilet. Warna bangunan-bangunan yang ramai dan didominasi warna emas membuat kompleks ini tampak genit dan menarik. Di sini bahkan ada miniatur Angkor Wat, kompleks candi yang luas di Kamboja itu. Sesekali saya mendekati kelompok turis yang menggunakan pemandu wisata untuk menyimak penjelasan tentang bangunan-bangunan yang ada di kompleks ini.

Di bangunan Chakri Maha Prasat Hall (lihat foto paling atas) sebenarnya ada museum senjata—memamerkan ratusan jenis senjata yang dipakai Kerajaan Siam di masa lalu. Sayangnya pengunjung dilarang memotret di dalam ruangan itu. Setidaknya di situ ada beberapa kipas angin besar, lumayan lah buat mendinginkan badan yang sudah bermandi keringat ini. Sepertinya kalau jalan-jalan lagi ke Bangkok ada baiknya bawa kaos cadangan dan handuk terus mandi. Panasnya bisa bikin baju basah kayak habis kehujanan.

Pedagang kaki lima di sekitar Grand Palace.

Puas menikmati kompleks Grand Palace, kami berjalan menuju satu wat (kuil/candi) lagi di belakangnya: Wat Pho. Kami berjalan balik ke arah tempat kami dikerjain scammer gagal tadi, tapi kali ini di sisi seberangnya. Di sisi yang ini ada banyak sekali pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya di trotoar.

Saat itulah kami melihat penipu tadi sedang beraksi di seberang jalan. Korbannya kali ini beberapa orang kulit putih. Tadinya saya pengen banget nyamperin mereka sambil ngomong, “Woi, Grand Palace udah buka tuh dari tadi pagi!” Tapi jangan-jangan nanti saya malah digebugin geng sopir tuk-tuk gara-gara saya bongkar aksi penipuan mereka…hehehe! 😛

Berhubung siang itu suhunya puanas banget, saya membeli semangka segar dan duduk di sebuah taman kecil dekat situ. Sambil makan semangka, saya memerhatikan sekelompok anak sekolah berseragam biru-putih (kayaknya anak SMP) lagi nongkrong di taman. Lagi bolos sekolah, mungkin…hehehe! Di sebelah saya juga ada seorang pria yang sedang sibuk menebar remah rotinya ke sekitar burung-burung merpati di taman itu.

Setelah segar makan buah dan sebotol air, kami masuk ke kompleks Wat Pho. Dan ternyata: masuk ke Wat Pho harus bayar juga. 😦 Memang nggak mahal sih, cuma 100 baht (Rp 30.000). Tapi di sini kan ada patung Reclining Buddha alias Buddha lagi santai Buddha berbaring. “Sekali seumur hidup lah. Cuma 30 ribu kok. Kan rugi udah jauh-jauh ke sini,” kata istri saya. Ah, ya sudahlah. 🙂 Oh ya, tiket segitu udah termasuk sebotol air minum dingin ya.

Reclining Buddha.

Wat ini sebenarnya bernama asli Wat Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwaramahaviharn.  Nama Wat Pho diambil dari sebuah biara yang diyakini pernah menjadi tempat tinggal Buddha.

Sebelum dibangun, tempat ini adalah pusat pendidikan khusus pengobatan tradisional Thailand, dengan patung-patung yang menunjukkan posisi-posisi yoga.

Setelah sebuah patung Buddha raksasa di Ayuthaya dihancurkan oleh Burma pada 1767, Raja Rama I mengumpulkan puing-puingnya dan membangun patung yang lebih besar serta memperluas kompleks Wat Pho ini.

Hampir sama dengan Grand Palace, di kompleks ini ada banyak bangunan dan kuil-kuil indah dengan warna-warna mencolok. Tapi sajian utamanya adalah patung Buddha—terbesar di Bangkok. Panjangnya 43 meter dan tingginya 15 meter, dengan hampir semua tubuhnya berwarna emas.

Di telapak kaki patung Buddha ini ada 108 simbol Buddha. Wat Pho juga dikenal sebagai tempat lahirnya Thai massage yang terkenal itu.

Tampaknya orang Buddha senang membuat patung Buddha dengan berbagai pose. Tak jarang patung-patung tersebut berukuran raksasa.

Saya jadi teringat patung Buddha raksasa yang saya lihat di Ngong Ping, Hong Kong, sekian tahun lalu—saat belum ada kamera digital alias masih harus cuci-cetak. *negatifnya manaa negatifnyaaa* 😛

Waktu sudah menjelang sore. Tadinya kami mau main ke Mah Boon Krong (MBK), satu mal di Bangkok yang terkenal di kalangan orang yang suka belanja suvenir murah meriah. Tapi akhirnya  kami memutuskan untuk main ke Khaosan Road yang jaraknya sekitar satu kilometer lebih dikit dari dua kompleks wat ini. Sebenarnya ada satu wat lagi—Wat Arun—dekat situ. Lokasinya di seberang dermaga Tha Tien tempat kami turun tadi pagi dari speed boat di sungai Chao Phraya. Tapi kami sudah capek liat wat.

Khaosan sebenarnya cuma seruas jalan biasa, tapi jalan ini sangat terkenal di kalangan backpacker yang mengunjungi Bangkok, sebab di sini banyak sekali penginapan murah, toko-toko suvenir murah, warung makan murah, dan semua yang bikin nyaman turis saat mengunjungi suatu negara. Saya cuma pengen tahu aja ada apa di sini. Beberapa sopir tuk-tuk yang kami cegat menolak tarif yang saya mau, jadi kami pun memutuskan berjalan kaki saja.

Setelah gempor jalan kaki dan sampai di Khaosan, saya jadi maklum kenapa backpacker kulit putih sangat betah di sini. Hedonisme mereka terpuaskan di tempat yang mata uangnya sangat berlimpah jika dikurskan dari mata uang negara mereka. Banyak di antara mereka yang leyeh-leyeh sepanjang hari, minum bir siang-malam, mabuk dan berkelahi setelah berdisko waktu malam, muntah-muntah di jalanan, dan pergi tidur saat pagi tiba. Mungkin juga mereka menyempatkan diri main ke Patpong—kawasan “lampu merah” di Bangkok…hehehe 😛 Setidaknya, kalau mengacu ke cerita beberapa teman yang pernah menginap di sini, begitulah gambaran Khaosan Road.

Di ujung jalan, saya sempat menukar uang dolar Singapura yang masih tersisa. Agak sebal juga saat melihat di depan saya ada seorang pemuda yang lagi menukar uang—cuma bertelanjang dada dan pakai celana pendek yang memamerkan setengah celana dalamnya yang berwarna merah muda. Alay banget deh…. 😛 Sayang, saya telat mengeluarkan kamera…hehehe!

Khaosan Road.

Setelah itu saya jalan-jalan di sepanjang Khaosan. Jalan ini dikuasai backpacker kulit putih, disusul orang-orang Jepang dan Korea, dan sesekali tampak orang kulit hitam. Banyak lelaki bertelanjang dada di sini. Tapi kenapa perempuannya nggak ada yang….ah, sudahlah! 😀 Di kanan-kiri jalan ini ada banyak toko suvenir, kaos oblong, kafe, restoran, hostel/hotel, dan macam-macam lagi. Pedagang makanan kaki lima, bahkan yang halal, juga cukup mudah ditemukan. Mereka biasanya menjual kebab, buah-buahan, dan lain-lain. Banyak hal yang serba murah di sini, dihitung dengan rupiah sekalipun…hehehe! 😀

Di Khaosan ini saya juga menemukan beberapa kios yang menjual buku-buku Lonely Planet (LP) bekas—dan bajakan. Harganya cukup miring dibandingkan jika beli buku aslinya yang rata-rata di atas Rp 250 ribu di toko buku. Saya sempat tergoda beli beberapa juga. Harganya cuma sekitar Rp 100 ribu kalau dirupiahkan. Tapi saya dengar beberapa buku LP di sini juga fotokopian. Beberapa buku LP yang saya lihat pun agak meragukan. Saya pun mengurungkan niat beli LP. Lagian ransel saya bakalan makin berat kalau kalap beli buku di sini.

Setelah melihat-lihat beberapa toko, saya sempat membeli sepotong kaos oblong keren….dan harganya cuma Rp 48 ribu! Padahal bahannya bagus lho, agak-agak elastis gitu malah. Berhubung harga segitu udah nggak bisa ditawar lagi, saya memutuskan untuk beli kaos lagi di MBK—yang konon harganya lebih miring.

Penjual mango sticky rice.

Tak sengaja, saya menemukan penjual mango sticky rice. Penasaran, saya pun mencobanya. Hitung-hitung makan malam deh. 🙂 Mango sticky rice ini adalah potongan-potongan mangga segar, dimakan dengan beras ketan yang rasanya manis. Harganya cuma 25 baht alias Rp 7.500 seporsi. Rasanya? Enaaak!! 😀

Saya sempat tanya-tanya polisi soal bus nomor berapa yang menuju MBK (no. 15). Tapi karena setelah setengah jam ditunggu bus itu tak lewat juga, akhirnya kami memutuskan pulang ke hotel karena hari menjelang magrib dan kaki sudah sangat gempor. Transportasi yang cepat dan bisa ditawar tentunya cuma tuk-tuk. MRT dan Skytrain belum mencapai kawasan ini.

Setelah menawar hingga 90 baht (Rp 27 ribu) menuju stasiun Hua Lamphong, sang sopir langsung melesat—berzig-zag di antara kendaraan-kendaraan lain, masuk-keluar gang, ngebut hingga nyaris nabrak orang berkursi roda yang sedang menyeberang jalan. Sepanjang perjalanan dengan tuk-tuk, saya ketawa senang, istri panik. 😛

Suasana Stasiun Hua Lamphong. Difoto dari lantai atas.

Akhirnya setelah 20-25 menit, kami tiba di Hua Lamphong dengan selamat. Rencananya kami akan membeli tiket kereta ke Surat Thani, lalu dilanjutkan dengan bus ke Krabi. Sial, saya kehabisan tiket sleeping train—kereta yang kalau malam bangkunya bisa dilipat menjadi ranjang. Padahal saya pengen banget cobain kereta tidur gitu, tapi karena belinya sehari sebelum berangkat, malah kehabisan.

Jadilah saya beli tiket second class yang berkipas angin. Lebih murah daripada sleeping train, cuma 398 baht (Rp 120 ribu) untuk perjalanan dari jam 19.30 – 07.00 esok harinya. Tapi kemudian si petugas di loket menawarkan joint ticket, yaitu tiket bus menuju Krabi dari Surat Thani. Provinsi Krabi memang belum dilewati jalur kereta api, sehingga untuk menuju ke sana harus naik bus dari Surat Thani. Harga joint ticket ini 250 baht (Rp 75.000).

Untuk hari ini rasanya sudah cukup. Lumayanlah bisa tidur agak lama malam itu.

(Bersambung)

Thai Times #2

Mejeng dulu di Suvarnabhumi 🙂

“When you travel, remember that a foreign country is not designed to make you comfortable. It is designed to make its own people comfortable.”

~ Clifton Fadiman

Touchdown Bangkok! Jam 16.50 waktu Thailand (sama dengan WIB) akhirnya kami tiba di Bandara Suvarnabhumi (orang Thai melafalkannya: suwarnabum). Bandaranya lumayan bagus. Yang jelas masih lebih bagus daripada Soekarno-Hatta. Untuk menuju pusat kota, kita tinggal turun ke lantai B1 dan naik MRT. Sambil turun terus ke bawah dengan elevator, saya melihat ada banyak kios agen wisata yang menawarkan bus atau van ke tempat-tempat lain di sekitar Bangkok, misalnya ke pantai Pattaya.

Sejak sebelum berangkat, saya sudah hafal peta pusat kota Bangkok. Saya bahkan tahu harus naik apa menuju ke mana sebelum berangkat ke Thailand, termasuk cara menuju hotel kami di kawasan stasiun kereta Hua Lamphong. Semua jadi lebih nyaman dengan persiapan yang cukup. Di bandara, setelah mencomot beberapa peta Bangkok yang boleh diambil gratis, kami membeli tiket kereta Airport Rail Link menuju Makassan City Air Terminal. Harganya 150 baht (Rp 45.000) seorang.

Berhubung hanya punya pecahan 1.000 baht (Rp 300.000) dan ticket vending machine hanya menerima uang pecahan 10, 50, dan 100 baht, kami beli minuman dulu di 7 Eleven dekat pintu masuk ke stasiun, biar ada recehan. Setelah membeli tiket nanti kita akan mendapatkan token—keping plastik bulat yang berfungsi sebagai tiket. Tinggal ditempelkan saja di electronic reader saat mau masuk ke stasiun awal dan masukkan ke lubang di stasiun tujuan.

Pemandangan yang langsung membuktikan bahwa Thailand adalah negara yang dikunjungi 12 juta turis setahun adalah kereta dari bandara yang penuh dengan backpacker waktu itu. Ransel-ransel mereka banyak yang lebih besar daripada backpack saya. Bahkan ada beberapa bule yang bawa backpack gede sampai dua segala, depan-belakang. Saya perkirakan dua ransel model gitu ukurannya minimal 100 liter. Kalau terisi penuh, beratnya minta ampun dan merepotkan (buat saya), mungkin 20kg lebih. Biasanya backpacker yang begini jalan-jalannya lama, berminggu-minggu atau bahkan sampai bertahun-tahun (!). Kalau punya banyak duit dan waktu, saya juga bisa gitu kok. *mimpi*

Sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di stasiun Makassan. Dari sini kami kami harus menyambung dengan MRT di stasiun Phetchaburi. Waktu saya bertanya ke petugas stasiun, dengan sangat ramah dia bahkan mengantar saya sampai ke dekat pintu keluar dan menunjukkan arah ke stasiun itu. Ternyata kami harus keluar dulu dari Makassan City Air Terminal, berjalan sekitar 200 meter melalui perlintasan kereta, menemukan stasiun MRT Phetchaburi, dan turun di stasiun Hua Lamphong. Stasiun yang terakhir ini tersambung langsung dengan stasiun kereta utama Hua Lamphong—semacam stasiun besar Gambir kalau di Jakarta. Hotel kami terletak di seberang gerbang depan stasiun ini.

Hotel kami.

Nama hotelnya pun mirip: @Hua Lamphong. Kami tiba sekitar jam 6-an sore. Sebenarnya tarif hotel ini agak mahal, sekitar Rp 200 ribu/hari untuk double bed. Pertimbangan saya, lokasi hotel ini sangat dekat dengan stasiun Hua Lamphong, sehingga kami bisa dengan mudah naik kereta ke kota lain dari Bangkok. Rencananya memang kami hanya akan tinggal dua hari di Bangkok, lalu lanjut ke Krabi naik kereta. Ada sih hotel, hostel, atau guesthouse yang lebih murah, berkisar 100 ribu atau kurang per malam, misalnya di Khaosan Road, tapi daerah itu belum dijangkau oleh jalur MRT ataupun Skytrain (sebutan monorel di Bangkok).

Sore itu kami mendapat kamar di lantai 5. Sialnya, nggak ada lift! Walhasil kami harus ngos-ngosan naik tangga sampai ke kamar. Tapi setelah sampai di kamar, kondisinya tidak mengecewakan. Kamar mandi bersih, TV, AC, dan kulkas kecil.

Si ibu penjual pancake.

Setelah mandi dan leyeh-leyeh sebentar, kami jalan-jalan di sekitar hotel. Banyak warung kaki lima di sepanjang trotoar, sayang nggak ada tulisan huruf latinnya, dan tak ada label halalnya. Setelah satu jam kurang, kami memutuskan kembali ke hotel.  Jangan lupa, saat itu masih hari yang sama dengan saat kami jalan-jalan di Singapura, jadi ya kami masih capek. 🙂 Di trotoar dekat hotel, ada seorang ibu berwajah Thai campur Arab yang menjual pancake.

Sederhana, tapi kok enak banget ya….

Saya beli dua pancake pisang seharga 30 baht (Rp 15.000). Saya juga bertanya soal di mana kami bisa mencari makanan halal. Si ibu menunjuk ke arah stasiun. “Di daerah dekat stasiun ada beberapa. Di dalam stasiun juga ada,” katanya dengan bahasa Inggris patah-patah. Setelah itu kami membeli beberapa botol air minum di sebuah minimarket. Lumayan kan, bisa didinginkan dulu semalaman di kulkas di kamar. Jalan-jalan di Bangkok bakal menyiksa tanpa banyak air minum. Setelah makan pancake di kamar (enak banget ternyata!), jam 9 kami sudah siap tidur.

***

Kamis, 23 Agustus 2012

Paginya, setelah sholat Subuh, jam 06.00 kami sudah mandi dan siap jalan-jalan. Agenda hari itu adalah main ke Grand Palace, Wat Pho, dan Khaosan Road. Grand Palace adalah kompleks bangunan istana yang indah, yang berfungsi sebagai kediaman resmi raja-raja Thailand dari abad ke-18 dan seterusnya. Wat Pho adalah kompleks kuil Buddha dengan patung reclining Buddha (Buddha berbaring) yang sangat besar. Sementara yang terakhir adalah nama jalan paling ngetop di Bangkok di kalangan backpacker. Banyak barang-barang murah di Khaosan—suvenir, kaos oblong, Lonely Planet bekas (dan bajakan), money changer, warung makan, dan banyak lagi.

Dengan berbekal peta Bangkok dan Lonely Planet, pagi itu kami jalan kaki ke dermaga Ratchawong di tepian sungai Chao Phraya. Kalau dikira-kira sih, sekitar 30 menit jalan kaki seharusnya sudah sampai di dermaga itu. Saat itu kami berjalan melalui Chinatown—kawasan pecinan di Bangkok yang banyak jalan kecil dan gang. Gara-gara nggak ketemu juga itu dermaganya, terpaksalah kami naik tuk-tuk. Awalnya si sopir yang menghampiri saya menawarkan jasanya. Dia menyebut angka 60 baht (Rp 18.000).

“Masih jauh kalau jalan kaki. Kalau naik itu, Anda harus bayar 40 baht per orang,” katanya sambil menunjuk sekumpulan tukang ojek. Setelah adu sombong dan adu gengsi, saya berhasil menawar sampai 30 baht saja (Rp 9000). Akhirnya dia mau. Tuk-tuk adalah semacam becak motor di Bangkok. Modelnya lucu dan rame berwarna-warni. Dan yang paling top: sopirnya selalu ngebut! *kayak saya* 😛 Orang bule mungkin bakal shock saat pertama kali naik tuk-tuk, tapi buat kita yang negaranya mirip-mirip Thailand, tuk-tuk sih sepotong kueee piece of cake! 😛 Jadi, sementara istri saya teriak-teriak panik, saya jerit-jerit kesenengan. 😀

Untuk naik kendaraan yang satu ini  memang harus nawar dulu. Itu pun sebaiknya kita sudah tahu perkiraan jarak ke tujuan. Tawarlah sampai sekitar 50% atau bahkan lebih. Kalau sopirnya menolak, ya tinggal saja. Kalau belakangan kita dipanggil lagi, artinya dia setuju dengan tawaran kita. Kalau naik bus kota, kesulitannya adalah semua tulisan ditulis dalam aksara Thai. Yang terbaca hanya nomor rute busnya. Bisa juga tanya-tanya orang di jalan—ini pun butuh kesabaran karena umumnya orang Thai tak bisa berbahasa Inggris dengan baik, aksennya pun kadang rada aneh dan sulit dimengerti.

Tuk-tuk 🙂

Dibandingkan bajaj di Jakarta yang suaranya berisik, naik tuk-tuk rasanya lebih asyik. Tarikannya enteng macam motor bebek baru, tempat duduk untuk penumpang pun lega. Keringat bisa langsung hilang setelah angin-anginan pakai kendaraan satu ini….hehe! Ternyata naik tuk-tuk ke dermaga itu tak sampai 10 menit. Ini cuma gara-gara nyasar di Chinatown aja. 🙂

Hanya menunggu 5 menit di dermaga, datanglah perahunya. Kalau tak salah, ada dua macam speed boat, yang ekspres dan yang biasa. Lebih aman, tanyalah petugas di tepi dermaga, sebutkan tujuan, dan dia akan dengan ramah menunjukkan di mana kita harus menunggu perahu. Naik perahu ini bayarnya pas kita udah naik. Ongkosnya tergantung jarak. Waktu itu saya cukup bayar 15 baht (Rp 4.500) per orang ke tujuan kami, dari dermaga Ratchawong ke Tha Tien. Saya perhatikan, kalau “kondektur”nya lupa nagih, boleh juga kita nakal sedikit dengan pura-pura nggak lihat…hehehe! *jangan ditiru* 🙂 Naik perahu begini sangat menyenangkan di tengah suhu kota Bangkok yang panasnya sekitar 33-34 °C. Embusan angin terasa segar di tengah sungai yang airnya cokelat namun bersih dari sampah.

Serunya naik perahu di Chao Phraya 🙂

Sekitar 15 menit kemudian kami tiba di dermaga Tha Tien—dermaga terdekat dengan kompleks Grand Palace dan Wat Pho. Di sekitar dermaga ada pasar dan banyak juga kios yang menjual suvenir dan warung makan. Berhubung belum sarapan, kami pun mencari makanan di sekitar situ. Tak sengaja, kami menemukan satu warung yang ada label halalnya. Menunya nasi goreng dan padthai. Karena harganya agak mahal, 60 baht (Rp 18.000) per porsi, saya pesan satu porsi padthai saja untuk dimakan berdua. Untunglah porsinya banyak.

Padthai 🙂

Padthai adalah sejenis kwetiauw ala Thailand, dimasak dengan berbagai macam sayuran, tauge, potongan wortel, dan kalau mau spesial bisa ditambah telur dan potongan daging ayam. Yang jelas rasanya sangat Thai: ada manis-asem-pedas gitu. Rasanya lumayan lah. Tapi saya pribadi tak terlalu memfavoritkan menu ini, lebih karena asemnya itu. Kalau pedasnya kurang, bisa tambah cabe bubuk yang sepertinya selalu ada di setiap warung kaki lima di Thailand.

Saat sedang makan, ada sekelompok turis Indonesia yang lewat dipandu tour guide. Si pemandu ini malah menyapa kami dengan assalamualaikum dan menyalami saya. Walau bahasa Indonesianya bagus, saya tebak orang ini orang Thailand, karena bahasanya Indonesianya cenderung formal, ber-Anda-Anda-ria, dan selintas ada aksen yang aneh. Kalau soal wajah sih ya Asia Tenggara banget. 🙂 Si pemandu sedang menggiring kelompok turis tadi untuk beli tahu goreng khas Thailand di depan kami. Tapi tahunya mahal, 20 baht (Rp 6.000) satunya.

Trotoar yang ini adalah sisi kanan kompleks Grand Palace (kalau dilihat dari arah pintu masuknya, di ujung sana terus belok kanan). Kami dihadang scammers di sini.

Kenyang makan, kami melanjutkan perjalanan. Kompleks Grand Palace dan Wat Pho langsung terlihat tak lama kemudian. Yang paling dekat dengan dermaga adalah kompleks Wat Pho, tapi kami memilih untuk mencari pintu masuk Grand Palace dulu.

Saat itu kami berjalan di sisi kanan (kalau dilihat dari arah pintu masuk Grand Palace), tapi di bagian yang dekat dengan sisi dinding Grand Palace, bukan di seberangnya—yang banyak pedagang kaki lima (lihat foto). Tiba-tiba, dua orang pria mencegat kami. Salah satunya menyapa ramah, dengan senyum licik. Yang satu lagi agak galak, sambil bilang, “Stop! Grand Palace is closed!” katanya sambil menunjukkan kartu pengenal bertulisan Tourist Police dari sakunya. Saya langsung waspada dan sadar bahwa kami mungkin akan ditipu. Tapi saya baru tahu ada modus pakai kartu identitas palsu segala.

“Hello, where are you from? Malaysia?” kata yang pertama setelah melirik istri saya yang berjilbab.

No, Indonesia,” jawab saya. Saya teringat blog-blog dan buku-buku panduan yang pernah saya baca. Di tempat-tempat wisata seperti Grand Palace ini, banyak scammer (penipu) yang mencoba mengalihkan turis ke tempat-tempat lain dengan naik tuk-tuk atau taksi. Dalam kasus Grand Palace ini, saya hafal sekali bahwa penipu macam ini akan bilang bahwa Grand Palace tutup karena sedang dipakai untuk ibadah, baru buka jam 3 sore, lalu dia akan menawarkan rute melihat kuil-kuil lain atau “pameran” perhiasan. Kenyataannya, turis nantinya akan dipanggilkan tuk-tuk yang akan membawa ke toko-toko perhiasan. Si penipu dan sopir tuk-tuk ini akan mendapat persenan kalau turis mau beli perhiasan di toko-toko tertentu.

“You bring map? Let me show you other interesting places.” Si penipu kemudian mencorat-coret peta saya.

Saya cuma cengengesan sambil bilang ke istri, “Asyik nih, kita lagi ditipu!” Tapi saya ladeni dulu usaha si penipu. Yah, sedikit menghargai usaha orang lain lah….hahaha! 😀 Tapi Anda nggak usah takut. Posisi penipuan itu di daerah ramai orang kok, walau saat itu kami berada di sisi trotoar yang lengang. Tapi di seberang jalan sangat ramai. Mereka hanya mencoba menipu turis. Rasanya saya belum pernah dengar mereka mencoba menggunakan kekerasan fisik.

“So, where you want to go?” si penipu selesai mencorat-coret, mungkin juga sambil bersiap memanggilkan tuk-tuk.

Saya jawab, “Ya sudah, kalau tutup, saya balik lagi aja nanti.”

“Hei, jangan lewat sana! Lagi ada ibadah.”

“Ya sudah, saya mau ke Khaosan Road aja!”

“Khaosan Road? Tapi di sana juga tutup!”

“Tutup apaan?? Saya kan nginep di Khaosan Road!”

Pria yang satu lagi mencoba nimbrung, tapi langsung dicegah sama temannya tadi. Dalam bahasa Thai, dia tampak sangat murka. Kayaknya dia ngomel-ngomel, “Udah, biarin aja! Ni orang keras kepala, gak bisa ditipu!” *sok tau bahasa Thai*

Saya dan istri cepat-cepat menyingkir dari situ, sambil maki-maki dan ketawa-ketiwi. 😀

(Bersambung)

Thai Times #1

Backpacking ke 3 negara cukup bawa ini aja 🙂

“Traveling…it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.”

~ Ibnu Batutah (“backpacker” & travel writer abad ke-14)

Namanya pegawai swasta, jatah cuti sangat terbatas. Jadi saya harus bisa pintar-pintar mengatur waktu supaya hobi backpacking saya tidak terganggu. Untunglah libur Lebaran tahun ini harinya sangat enak: Idul Fitri jatuh pada 19-20 Agustus 2012. Itu hari Minggu dan Senin. Puasa sudah, sholat Ied sudah, silaturahim dengan keluarga sudah. Di TV beritanya juga cuma soal macet melulu. Tempat-tempat publik juga pasti sangat ramai karena semua orang liburnya bersamaan. Duh, membosankan! Jadi, mau apa lagi? Jawaban saya sudah jelas: backpacking! 🙂

Lagi pula, ini pertama kalinya saya bisa ngetes backpack Rei ukuran 50 liter saya untuk pertama kali, setelah selama ini cuma gendong ransel kecil yang sehari-hari juga dipakai buat ngantor itu. 🙂

Jadi, hari Selasanya saya dan istri memilih terbang ke Thailand buat backpackingyahooo!! Sebelum berangkat, sejak 2,5 bulan sebelumnya saya sudah memesan semua tiket pesawat, hotel, dan bus dari Hatyai ke Kuala Lumpur. Entah ada hubungannya atau tidak, agak susah dapat tiket pesawat langsung ke Thailand yang harganya rada murah di bulan Agustus atau sekitar hari raya Idul Fitri.  Jadi saya sengaja cari rute yang bisa transit di sana-sini agar tiketnya bisa rada murah dikit. 🙂 Jadilah saya beli 3 tiket pesawat: Jakarta-Singapura, Singapura-Bangkok, dan Kuala Lumpur-Bandung.

Supaya tidak rugi transit di satu negara, saya memilih jeda waktu yang agak panjang saat transit di Singapura dan KL. Lumayan kan jalan-jalan seharian di sana? 🙂 (FYI, mulai September Mandala membuka rute Jakarta-Bangkok langsung). Tiket Jakarta-Singapura sekitar Rp 250 ribu per orang dengan Jetstar. Tiket dari Singapura ke Bangkok sendiri sekitar Rp 600 ribu per orang dengan pesawat Tiger Airways.

Kami tiba di Singapura tengah malam jam 00.50 waktu lokal. Setelah lewat pemeriksaan imigrasi, saya langsung menyesal karena tampaknya spot untuk tidur lebih nyaman di area transit sebelum keluar dari imigrasi. Tapi setelah iseng-iseng naik Skytrain (= monorel di kawasan Bandara Changi) bolak-balik ke terminal 2 dan 3, saya kembali ke Terminal 1 dan menemukan banyak tempat duduk kosong di luar departure lounge dan banyak pula orang yang tidur di sekitar situ. Dan setidaknya di area ini tak terlalu ramai seperti di area dalam imigrasi.

Karena lupa membawa jaket, saya mengeluarkan sarung untuk sedikit melindungi tubuh karena AC di sini lumayan dingin. Backpack yang cuma berisi baju saya jadikan bantal. Pukul 05.30 saya bangun. Setelah cuci muka dan sikat gigi (istri saya malah sempat mandi pakai shower WC gitu :P), kami mencari mushola, namun ternyata mushola hanya ada di bagian dalam departure lounge. Terpaksalah kami sholat di samping kursi tempat kami tidur tadi.

Walaupun terhitung transit, saya punya misi khusus di Singapura kali ini: mengunjungi taman indah yang baru dibuka di Singapura: Gardens by the Bay. Gardens by the Bay adalah wahana baru Singapura yang baru dibuka sekitar akhir Juni lalu. Sebuah taman raksasa seluas 101 hektar di kawasan Marina Bay. Setelah sarapan kari ayam dan laksa di area bandara, sekitar jam 06.30 kami pun keluar. Lebih tepatnya, turun ke stasiun MRT di bawah Terminal 2.  Sebelumnya, saya menitipkan backpack kami di bagian Left Luggage di Terminal 2—biayanya SGD 6 untuk dua tas besar selama 24 jam. Saya juga masih punya kartu EZ Link, biar praktis ke mana-mana naik MRT.

Sekitar 40 menit kemudian, saya tiba di stasiun Bayfront. Keluar dari stasiun, di sebelah kiri tampak gedung Marina Bay Sands yang terkenal itu. Dan di sebelah kanan pintu keluar langsung tampak pohon-pohon artifisial berukuran raksasa yang menjadi ikon utama Gardens by the Bay. Dari jauh, taman raksasa itu sudah tampak menakjubkan.

Gardens by the Bay, Singapura.

Gardens by the Bay adalah bagian integral dari proyek pemerintah Singapura untuk mengubah tata kota negara itu dari “Garden City” (Kota Taman) menjadi “City in a Garden” (Kota di Dalam Taman). Itu semua ditujukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan di perkotaan. Taman besar itu juga dibangun untuk menjadi ruang terbuka publik terbesar di Singapura dan ikon negara-kota tersebut.

Pemandangan ke arah Singapore Flyer dari Dragonfly Bridge, gerbang Bay South, Gardens by the Bay.

Gardens by the Bay dibagi menjadi dua bagian: Bay South dan Bay East. Memang masih ada area yang belum selesai dibangun, tapi itu tak mengganggu bagian-bagian lain yang bisa dinikmati pengunjung. Dari arah stasiun MRT Bayfront, pengunjung taman ini akan langsung diarahkan ke area Bay South—area ini gratis dan buka pukul 05.00 sampai 02.00 dini hari. Dari pintu masuk, pengunjung akan menyeberangi jembatan di atas danau buatan yang dinamakan Dragonfly Lake. Setelah itu, pengunjung akan menemukan Supertrees—media berupa tiang-tiang yang dibentuk menyerupai pohon, kemudian jutaan flora langka dan flora yang masuk dalam daftar konservasi ditempatkan di tubuh “pohon” tadi.

Pohon-pohon artifisial yang surealis itu 🙂

Sekitar 11 Supertrees menjulang ke angkasa. Pemandangan semacam ini terasa surealis dan mengingatkan saya pada film Avatar dengan pohon-pohon raksasa setinggi dan sebesar gedung belasan lantai. Dengan membayar SGD 5, Anda bisa naik lift di salah satu pohon yang disambungkan dengan jembatan ke sebuah pohon lain. Dari atas, Anda bisa melihat pemandangan taman dan sebagian kota.

Taman ini keren banget buat yang suka fotografi dan punya kamera bagus (gak kayak saya) 😛

Pada malam hari, Supertrees—yang di tubuhnya juga dipasangi lampu-lampu hias—akan menyala terang dan menciptakan pemandangan spektakuler. Di sekitar situ juga ada area Heritage Garden, sebuah theme park yang akan membawa pengunjung menikmati kebun dengan nuansa sejarah dan budaya tiga etnik besar di Singapura: Melayu, Cina, dan India.

Setelah itu, saya sampai di area Cloud Forest dan Flower Dome. Untuk masuk ke kedua wahana itu, pengunjung harus membayar tiket yang sangat mahal: SGD 28 per orang (sekitar Rp 205.000). Setelah merenung dan mengamati dompet sejenak, akhirnya saya memutuskan untuk membeli tiket. Pikir saya, ya sudahlah, tak apa kalau hanya untuk sekali seumur hidup.

Air terjun buatan menyambut pengunjung di pintu masuk Clod Forest.

Gedung Cloud Forest didesain ala suasana pegunungan tropis berketinggian 1.000-3.500 meter. Di pintu masuk, pengunjung akan disambut dengan air terjun artifisial dan embusan angin sejuk yang disetel pada suhu belasan derajat Celcius. “Gunung” buatan ini bisa dijelajahi dengan lift, tangga, atau cukup berjalan kaki di sepanjang jalur yang ada. Dinding-dinding di bagian dalam dipenuhi gambar-gambar berisi informasi tentang lingkungan hidup.

Di dalam “gunung”, ada area bioskop mini bernama +5, tempat pengunjung disuguhi film dokumenter berdurasi sekitar 5 menit yang terus diulang dengan jeda 15 detik. Pesan film tersebut adalah tentang pemanasan global alias global warming—suhu Bumi diperkirakan akan naik 5 derajat Celcius selama abad ke-21 ini dan bagaimana dampaknya pada kehidupan di planet kita.

Bioskop +5. Keren, gambarnya juga “ditembak” dari atas ke lantai di depan layar 🙂

Menariknya, di ruangan ini gambar juga ditembakkan dari atas, sehingga area di depan layar pun ikut menjadi media yang menciptakan gambar-gambar yang memanjakan mata. Dari Cloud Forest, saya lanjut ke Flower Dome yang desain interiornya spektakuler. Ini adalah taman bunga yang menampilkan ribuan panel yang diisi ribuan jenis bunga dan pohon dari berbagai wilayah dunia.

Di Bay East, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan tropis, danau buatan yang luas, taman bunga, area jalan-jalan, hingga lokasi piknik dengan pemandangan perairan Marina Bay yang indah. Area bagian timur ini cocok digunakan sebagai tempat nongkrong dengan teman, bersantai bersama keluarga, atau bahkan melakukan aktivitas olahraga seperti jogging dan bersepeda.

Ini dia yang namanya Flower Dome.

Kalau jalan-jalan santai model begini, sudah pasti kita akan dehidrasi kalau tak banyak minum. Untunglah Singapura adalah negara yang menyediakan air di tempat-tempat publik yang bisa langsung diminum. Jadi, saran saya, jangan lupa bawa  botol kosong dan cari tempat-tempat yang mirip wastafel di area taman ini untuk mendapatkan air minum gratis. Di Bandara Changi sendiri sebelumnya saya sudah mengisi botol sampai penuh buat bekal. Di Gardens by the Bay ini juga ada. Lumayanlah, daripada beli. 🙂

Ngisi botol minum dulu di bandara 🙂

Sambil ngaso di bawah rindangnya pohon-pohon dan minum air gratisan tadi, saya melamun soal taman ini. Singapura sialan, batin saya. Mereka bahkan bisa mengemas taman menjadi tujuan wisata yang mengagumkan. Padahal konsepnya lumayan sederhana, hanya memang eksekusinya total dan serius.

Apakah Anda sekadar transit atau memang menghabiskan beberapa hari di Singapura, Gardens by the Bay ini wajib dikunjungi. Sebagian besar areanya gratis, hanya Cloud Forest dan Flower Dome yang memungut bayaran kalau mau masuk. Itu pun saat kita keluar dari kedua wahana itu, tangan kita akan dicap khusus yang bisa dilihat hanya dengan senter infra merah dan kita diperbolehkan kembali masuk pada hari yang sama. Jadi, kalau dana cekak, jalan-jalan di Bay South dan East saja udah lebih dari cukup bikin kaki gempor. Tapi puas kok! 🙂 Kalau masih ada waktu, jalan kaki dari sini ke Merlion Park (yang ada patung singa itu) juga dekat. Paling jalan sekitar 30 menit lah. Itu pun kalau nggak berhenti-berhenti dulu buat foto-foto narsis…hehehe. 😛

Tak terasa, sudah jam 1 siang. Sebenarnya waktu itu saya berencana mengunjungi Botanic Park dan taman-taman lain di Singapura (yang gratisan). Tapi berhubung sudah capek dan saya perkirakan waktunya ngepas buat sampai di bandara untuk ambil tas, naik shuttle bus ke Budget Terminal, check-in, dan makan siang, saya putuskan untuk kembali ke bandara dari Gardens by the Bay.

Pukul 15.30, Tiger Airways yang kami tumpangi terbang ke Bangkok, Thailand. Penerbangan ini akan makan waktu 2,5 jam.

(Bersambung)

NB: Ini saya kasih bonus foto-foto keren Gardens by the Bay. Apa artinya taman cantik kalau tak difoto? 🙂

Satu pemandangan di Cloud Forest.

Gardens by the Bay dengan latar gedung Marina Bay Sands.

Supertrees dengan latar belakang gedung Marina Bay Sands.

Flower Dome yang megah 🙂

Di dinding-dinding Cloud Forest banyak gambar dan info soal lingkungan hidup.

Pohon baobab asal Afrika. Yang disebut-sebut di buku “Little Prince”-nya Saint-Exupery itu 🙂

Dragonfly Lake.

Salah satu sudut taman.

Toko suvenir. Di sini sih mahal-mahal. Saya cuma beli magnet kulkas satu aja. 😛