Tag Archives: thailand

Thai Times #7 (Tamat)

Satu sudut kota Hatyai. Liat tuh angkotnya 🙂

Sometimes you have to travel a long way to find what is near.”

~ Paulo Coelho, Aleph

Rupanya mobil travel ini tipe yang jemput penumpang dulu. Saya jadi agak-agak cemas. Mudah-mudahan aja mobil ini sampai di Hatyai sebelum jam 19.00, karena bus kami ke Kuala Lumpur berangkat jam segitu. Pemandangan sepanjang perjalanan tak terlalu istimewa. Lagipula saya sempat tertidur juga. Kami sempat berhenti di sebuah rest area untuk ke kamar kecil dan sholat. Di situ juga ada beberapa kios makanan ringan halal. Saya beli beberapa risoles isi sayur dan jagung yang rasanya….hmm, biasa saja. 🙂 Sekitar jam 17.30, mobil mulai memasuki Hatyai. Beberapa kali saya melihat masjid di pinggir jalan.

Dari balik jendela mobil, Hatyai tak tampak terlalu istimewa di mata saya. Kota ini tampak ramai, lebih besar dan lebih padat daripada Krabi Town. Di satu sudut kota, saya malah melihat beberapa baliho film-film Hollywood baru, seperti The Expendables 2 dan Resident Evil 5: Retribution. Lucunya, baliho film itu dilukis sehingga terkesan jadoel banget. 😛 Kota ini malah jadi tampak “ketinggalan” gitu.

Tak berapa lama kemudian, si sopir travel menurunkan kami sambil bicara bahasa Thai yang membingungkan. Setelah menurunkan ransel-ransel kami, dia menunjuk-nunjuk seorang pria berhelm. Saya tanya, “Mana kantor agennya?” Si sopir cuma mengangguk-angguk sebelum kembali naik mobil dan tancap gas, meninggalkan kami yang terbengong-bengong di pinggir jalan. Setelah tengok kanan-kiri, Davis Tour, tempat saya memesan tiket bus ke KL, tidak ada di sekitar situ. Rupanya si sopir brengsek tadi menurunkan kami di situ karena tidak tahu lokasinya atau malas. Pokoknya saya kesal setengah mati karena merasa ditipu.

Kantor Davis Tour.

Sementara itu, si pria berhelm yang rupanya tukang ojek itu menegur saya dan dengan Inggris yang terbata-bata menawari kami naik ojek ke Davis Tour. Berhubung buta kota ini, saya memutuskan naik ojek saja.

Awalnya dia minta 100 baht untuk 2 orang dan ransel-ransel kami, tapi saya tawar jadi 80 baht (Rp 24.000). Dan sodara-sodara, akhirnya kami naik ojek cenglu (bonceng telu/bonceng bertiga), dengan ransel-ransel ditaruh di keranjang depan! Tak sampai 10 menit, kami sampai di depan kantor agen Davis Tour.

Setelah check in, kami jalan-jalan di sekitar situ. Hatyai hanya sebuah kota “biasa” yang cukup bersih di Thailand selatan.

Ditata dengan sistem blok-blok kecil, kota ini malah mengingatkan saya pada kawasan Jl. Otista atau Pasar Baru di Bandung. Mirip banget. Deretan toko dan warung di sepanjang pinggir jalan.

Angkotnya juga tampak lucu: mobil bak kecil yang dipasangi atap dan bangku panjang. Di sini mudah sekali menemukan warung makan halal. Tampak ada banyak  juga travel agent yang melayani rute ke kota-kota di Thailand, Malaysia, hingga Singapura. Saya bahkan menemukan sebuah hotel yang sembarangan pake nama saya. 😛

Bus keren Sri Maju.

Saat itu uang baht saya tinggal sedikit. Kami cuma beli buah-buahan untuk dimakan di bus. Setelah numpang sholat maghrib di satu ruang kantor yang kosong di travel agent itu, jam 19.00 busnya sudah siap. Busnya keren dan bersih. Namanya Sri Maju. Saya sudah booking tiket secara online beberapa minggu sebelumnya. Tarif Hatyai-Kuala Lumpur sekitar RM 47 atau Rp 141.000. Cukup terjangkau. 🙂

Kebetulan saya duduk persis di belakang bangku sopir, jadi bisa leluasa melihat ke depan. Diawaki dua sopir India yang bahasa Melayunya susah dipahami, kami berangkat tepat waktu. Sekitar jam 22.00 kami tiba di Sadao, kota perbatasan Thailand-Malaysia. Semua penumpang turun dan mengantre di loket imigrasi.

Perbatasan ini tak terlalu ketat. Saya melihat seorang yang sudah melewati loket, namun kembali lagi mencari toilet. Saat saya mengecek paspor istri saya, ternyata petugas imigrasi lupa “ketok palu” paspornya dengan cap “departed“, jadi kami cari lagi petugas itu yang ternyata sudah selesai bertugas. Mungkin imigrasi mau tutup jam segitu? Gawat juga kan kalau nanti di imigrasi Malaysia ditanyain kenapa nggak ada cap yang menunjukkan si pemilik paspor sudah resmi meninggalkan Thailand.

Setelah melewati jembatan, penumpang bus kembali turun dan mengantri di imigrasi Malaysia. Setelahnya kami langsung bablas dan hanya berhenti dua jam kemudian di rest area untuk makan. Sebelum berangkat dari Hatyai tadi, saya sempat melihat pengumuman di tembok bahwa bus ini dijadwalkan tiba di Kuala Lumpur jam 5 subuh. Hmm….cocok banget nih, bisa tidur nyenyak. AC bus lumayan dingin, dan saya nggak bawa jaket. Tapi kantuk bisa mengalahkan segalanya.

***

Saya terbangun jam 5 pagi. Di luar masih gelap, namun lampu dari gedung-gedung bertingkat menandakan bahwa kami sudah memasuki Kuala Lumpur. Terminal Puduraya masih direnovasi. Jadi, bus menurunkan penumpang di depan terminal. Untungnya, di depan terminal itu ada beberapa hostel backpacker. Saya mencoba menawar satu hostel untuk sekadar ngaso selama 6 jam. Lumayan deh dapet double room ber-AC seharga RM 25 (Rp 75.000) sampai jam 12 siang di sebuah hostel bernama Kameleoon.

Kamarnya ternyata sempit banget, pas satu ranjang double, satu meja kecil, dan satu space kosong yang ngepas buat sholat dan meletakkan ransel-ransel. Walau kamar mandinya di luar, bagi kami tak masalah. Setelah subuhan, leyeh-leyeh, lalu mandi-mandi gembira, jam 7 pagi kami mulai jalan-jalan. Waktu kami nggak banyak. Kami targetkan jam 10 sudah balik ke hotel, tiduran sebentar, mandi lagi, lalu jam 11 udah cabut ke bandara. Saya sengaja beli tiket pulang dari Kuala Lumpur ke Bandung, karena saat booking tiket online, harga yang sesuai kantong ya tinggal dari ibukota Malaysia ini.

Ini pertama kali saya masuk ke Kuala Lumpur via Puduraya. Sebelumnya, Februari lalu, kami masuk lewat Berjaya Times Square di Imbi, tak jauh dari Bukit Bintang. Dan ternyata Jl. Bukit Bintang sangat dekat dari Puduraya. Jadi saya masih hafal jalanan di sekitar situ. Bukit Bintang masih agak sepi pagi itu.

Sarapan di KL 🙂

Tak jauh dari depan mal Low Yat Plaza, kami melihat ada tukang nasi sudah buka lapak. Kami pun membeli dua bungkus nasi rames dengan lauk mie goreng, ayam goreng, dan telur dadar. Harga satu porsinya cuma RM 3,5 (Rp 10.500). Makannya cukup di pinggir jalan, sambil memerhatikan beberapa orang kantoran yang juga beli nasi di situ dan beberapa tukang pijat seksi yang, herannya, sepagi itu udah nongkrong di pinggir jalan.

Habis makan, kami jalan kaki ke KLCC Park. Sebenarnya sejak sebelum berangkat backpacking, saya sudah berencana memberi tema “taman” buat perjalanan ini. Kenapa taman? Yaa karena sulit sekali mencari taman yang indah, bersih, tidak terlalu ramai, dan bebas dari pedagang kaki lima di kota tempat saya tinggal. Setelah sukses mengunjungi Gardens by the Bay di Singapura, di Thailand saya malah gagal mengunjungi Lumphini Park—sebuah taman kota yang besar dan indah di Bangkok. Di Kuala Lumpur ini, berhubung waktu kami sangat terbatas, saya hanya berencana main ke KLCC Park. Februari lalu saat saya ke sini malah nggak tahu di belakang Petronas Twin Towers ada taman yang cakep. 😛

Dari Bukit Bintang, hanya butuh 30 menit jalan kaki menuju KLCC. Kami langsung menuju bagian belakang gedung dan taman itu pun langsung tampak. KLCC Park adalah sebuah taman seluas 20 hektar yang dibangun pada 1980 di tengah-tengah kepungan hutan beton di pusat kota Kuala Lumpur.

Saat itu sekitar jam 8 pagi. Cuaca masih agak sejuk. Beberapa ekspatriat tampak sedang asyik lari pagi mengelilingi jogging track taman itu yang kalau tak salah panjangnya 1,3 kilometer. Beberapa petugas taman tampak sedang sibuk menyiangi atau menyiram taman.

Saya duduk-duduk di bangku taman yang banyak tersebar di sekitar situ. Mencoba menyerap dan menikmati suasana pagi di taman yang cantik ini. Saya memang suka ketenangan. Bahkan di tengah kota seperti itu pun saya masih bisa mendengar kicauan burung dan bahkan sempat melihat seekor tupai sedang asyik jogging melompat dari satu pohon ke pohon lain.

Sambil makan keripik Lays rasa cumi bakar made in Thailand, saya sibuk berkhayal: betapa asyiknya duduk-duduk di sini seharian, bawa laptop, lalu menulis buku. Buat diskusi juga asyik. Kalau lapar, itu bukan masalah. Ada mal Suria KLCC di dekat situ dengan foodcourt di lantai 6-nya. Di lantai yang sama juga ada Kinokuniya. 🙂 Kalau mau jalan ke tempat lain dan tak hafal rute bus kota, di lantai underground KLCC ada stasiun MRT yang di beberapa stasiun sambung-menyambung dengan jalur monorel. Naik MRT atau monorel lebih enak karena peta jalurnya jelas.

Di taman ini juga ada danau buatan dengan jembatan sepanjang 43 meter melintang di atasnya. Jembatan ini tampak dibangun sedemikian rupa sebagai spot yang bagus untuk berfoto-foto dengan Twin Towers sebagai latar belakang. Ah…kenapa di Monas nggak dibangun taman gede kayak gini ya? Pasti keren. Jadi ada taman dan ada spot tempat kita bisa foto-foto dengan latar Monas gitu. Seperti di KLCC Park, kita bisa nampang di jembatan dan di belakangnya ada landmark yang keren kayak Twin Towers.

Taman di sekitar Monas standar banget sih, penataan dan pemanfaatan lahan untuk taman kurang digarap maksimal. Kalau cuma bikin taman saya yakin nggak susah. Yang susah itu adalah membangun kesadaran jajaran pemerintah kota untuk membangun dan merawat taman sebagai ruang publik bagi warga kota untuk berinteraksi dan bersosialisasi. Ini belum bicara soal kesadaran warga kota yang kadang susah banget diajak bergaya hidup bersih—dan tentunya serbuan pedagang kaki lima. 🙂

Di danau buatan di taman ini ternyata juga ada pertunjukan air mancur. Saya kebetulan banget bisa lihat “test drive“-nya di pagi hari. Kata seorang petugas taman, “pertunjukan” air mancur itu biasanya dimainkan pada siang dan sore hari. Keren banget deh air mancurnya! Bisa nyemprot berbagai gaya gitu. Ada gaya kupu-kupu terbang, gaya ngebor, dan buanyak lagi! Walau “test drive” air mancurnya cuma 15-20 menit, tapi lumayan kan dapat tontonan gratis? Hehehe… 🙂

Gaya kupu-kupu terbang…hehehe 😛

Puas menikmati taman, kami memutuskan balik ke hostel. Setelah leyeh-leyeh sebentar dan mandi lagi, sekitar jam 11 kami gendong ransel dan check out. Jalan kaki ke stasiun monorel Bukit Bintang yang jaraknya hampir satu kilometer lumayan juga sambil gendong backpack begini. Mana saat itu matahari sudah terik.

Dari stasiun Bukit Bintang, kami naik monorel sampai di stasiun KL Sentral. Dari sana ada banyak pilihan untuk menuju bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Sekadar info, letak bandara LCCT cukup jauh dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA). LCCT adalah bandara khusus untuk maskapai-maskapai murah (budget airlines) seperti AirAsia atau Tiger Airways. Pilihan pertama untuk menuju bandara LCCT dari KL Sentral adalah dengan bus. Ada dua pilihan: Skybus, milik AirAsia, biayanya RM 9 (Rp 27.000). Lalu ada Aerobus, milik swasta lain, dengan biaya RM 8 (Rp 24.000). Dua-duanya langsung ke bandara LCCT tanpa ngetem atau mampir-mampir.

Cara kedua, naik kereta. Ada dua jenis kereta menuju bandara dari KL Sentral. Pertama ada KLIA Ekspres—kereta tercepat ke bandara KLIA, tanpa berhenti di stasiun mana pun. Lama perjalanan cuma 30 menit. Tarifnya juga mahal: RM 35 (Rp 105.000). Sementara yang kedua adalah KLIA Transit. Yang ini berhenti di setiap stasiun yang dilewati. Tarifnya RM 12,5 (Rp 37.500). Berhubung saya demen banget naik kereta, dan atas nama pengalaman, saya pilih naik kereta KLIA daripada bus. Soalnya saya belum pernah ke LCCT naik kereta.

Tiket dan interior kereta KLIA Transit.

Baik stasiun maupun interior kereta ini bersih dan bagus. Penumpangnya juga tidak membludak. Mungkin banyak orang lebih memilih naik bus yang lebih murah. Berhubung saya naik KLIA Transit, kereta ini berhenti di tiga stasiun: Bandar Tasik Selatan, Putrajaya & Cyberjaya, dan Salak Tinggi. Penumpang yang akan lanjut ke LCCT harus turun di Salak Tinggi dan naik shuttle bus gratis ke LCCT. Sementara kereta terus melaju ke KLIA.

Pemandangan sepanjang perjalanan sebenarnya biasa saja. Lepas dari Kuala Lumpur, kita bisa melihat pinggiran kota dengan deretan townhouse khas Asia Tenggara. Kereta tiba di Salak Tinggi sekitar setengah jam kemudian, lalu kami keluar dari stasiun dan naik shuttle bus yang sudah disediakan. Dari sini perjalanan masih sekitar 20-30 menit lagi ke LCCT.

Antrean di konter Air Asia di LCCT.

Setiba di bandara, kami nggak bisa leha-leha sedikit karena melihat antrean di konter check-in yang ngeri banget panjangnya. Keramaiannya sama dengan terminal-terminal bus saat musim mudik. 🙂 Setelah lebih dari setengah jam mengantre dan menaruh backpack di konter untuk masuk ke bagasi, kami mencari makan dulu. Masih tersisa cukup ringgit untuk beli makanan karena kami hanya makan tadi pagi.

Berhubung waktu sudah mepet, kami cuma beli burger di McDonald’s. Tapi waktunya semakin mepet sehingga kami harus cepat-cepat boarding. Nggak sempat makan burger deh jadinya. Selepas boarding pass diperiksa, saya harus tanya ke petugas di mana pesawatnya, karena tidak ada petunjuk tertulis. Ke kiri atau ke kanan? Tapi akhirnya kami bisa duduk dengan lega di pesawat. Lama penerbangan sekitar 2,5 dari Kuala Lumpur ke Bandung.

***

Tiba di bandara Husein Sastranegara, suasana yang saya dapatkan sungguh jomplang. Baru kali itu saya tiba di bandara ini dari luar negeri. Terakhir kali saya tiba di sini dari Denpasar tiga tahun yang lalu. Walau menyandang nama “internasional”, Husein Sastranegara sungguh jauh dari layak untuk jadi bandara berkelas global. Selain berukuran kecil, fasilitas di sini tampak memprihatinkan. Ban berjalan untuk bagasi penumpang tidak memutar, cukup berbentuk lurus dan di ujung ban itu nanti ada petugas yang meletakkan koper dan tas penumpang di pinggir. Tidak praktis, merepotkan. Apalagi ratusan penumpang juga menunggu tas-tas mereka di sekitar ujung ban berjalan itu.

Urusan transportasi juga menyusahkan bagi mereka yang belum pernah ke Bandung. Taksi di bandara adalah milik Angkatan Udara—eksklusif dimonopoli oleh Primkopau. Selain merek ini, taksi lain dilarang “belagu” mengambil penumpang di area bandara. Sistemnya pun terbuka untuk “merampok” calon penumpang taksi: kita memesan dulu, menyebutkan tujuan, dan membayar sesuai angka yang disebut petugasnya—tentu saja tak pakai argometer, alias tarif borongan. Saat saya menyebut tujuan, si petugas meminta tarif Rp 80 ribu. Tentu saja saya ogah, karena saya tahu berapa tarifnya kalau taksinya tak serakus mereka. Jadi kami berjalan kaki ke pintu keluar yang jaraknya sekitar 300 meter, dan saat hampir sampai di jalan raya, sebuah taksi Cipaganti menepi. Singkat cerita, kami sampai di rumah dengan tarif hanya Rp 54 ribu. Nah, kan? 🙂

Malam itu, selesai membongkar tas dan mandi, kami ngaso di ruang tengah sambil makan burger yang dibeli di Kuala Lumpur. Besok paginya kami harus ngantor seperti biasa. 🙂

***

Perjalanan kali ini sungguh luar biasa. Tiga negara “dihajar” sekaligus dalam seminggu. Capek, tapi senang bukan main. Dan saya lebih senang lagi karena bisa mengajak istri, yang sebelumnya belum pernah ke mana-mana, keliling tiga negara Asia Tenggara—dua di antaranya dikunjungi dua kali. Tentunya pengalaman batin yang masing-masing kami dapat berbeda. Saya akan tuliskan kapan-kapan di postingan terpisah. Untuk sementara, serial Thai Times ini untuk cerita-cerita perjalanan dulu. Oleh-oleh dari saya yang lagi belajar nulis—karena tulisan-tulisan saya belum ada apa-apanya.

Seperti kata Alexander Solzhenitsyn, “Own only what you can carry with you: know language, know countries, know people. Let your memory be your travel bag.” Perjalanan ini bagi saya hanya pembuka jalan. Saya masih ingin terus melihat negeri-negeri lain, termasuk yang sudah pernah saya kunjungi. Bagi saya jalan-jalan itu konsepnya hampir sama seperti rezeki—sudah diatur oleh Tuhan, tapi ditebar di muka bumi agar kita mau berikhtiar menjemputnya. Begitupun dengan traveling—keindahan bumi ciptaan-Nya beserta bermacam jenis manusia disebar di seluruh planet ini, agar kita bisa melihat dan belajar dari semua itu. Agar kita selalu merasa kecil di hadapan-Nya dan tak lupa bersyukur karena telah diberi kesempatan melihat secuil keindahan bumi ciptaan-Nya. Begitulah.

Don’t tell me how educated you are, tell me how much you have travelled.” – Prophet Muhammad PBUH

Pokoknya: tetap sehat, tetap semangat, supaya kita bisa tetap jalan-jalan! 🙂

(Tamat)

Next destination: Jogja, Solo (Oktober 2012); Ho Chi Minh City, Da Lat, Nha Trang, Hanoi, Ha Long Bay, Tam Coc—Vietnam (2013).

Thai Times #6

Selamat pagi, Krabi! 🙂

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.

~ Marcel Proust

Minggu, 26 Agustus 2012

Pagi yang tenang. Udara pun terasa agak sejuk. Langit sebagian cerah, sebagian lagi masih menyisakan mendung. Sisa hujan tadi malam terlihat dari sedikit genangan air di jalanan. Jam 6 lewat sedikit, kami sudah keluar dari hotel. Mencari sarapan sekaligus informasi soal bagaimana menuju Hatyai. Kami masih punya waktu 2 jam sebelum dijemput untuk main kayak di Ao Thalane.

Kata resepsionis (kali ini wanita berbeda tapi sama ramahnya), di sepanjang jalan dekat sungai dan sekitarnya ada banyak travel agent yang punya rute menuju Hatyai, bahkan sampai ke Kuala Lumpur dan Singapura. Jadi pagi itu kami cuma jalan sekenanya, memutari beberapa blok, melihat mobil baru tabrakan dan sedang menunggu polisi, sambil menikmati suasana pagi di Krabi Town. Kami kembali melewati dermaga Chao Fa, sambil duduk-duduk dan memandangi bukit karang kembar Khao Khanap Nam nun di sana.

Salah satu travel agent. Rutenya menarik. 🙂

Lalu kami melanjutkan jalan kaki dan akhirnya menemukan satu ruas jalan dengan beberapa kantor travel agent. Di jalan itu ada tiga kantor, tapi hanya dua yang sudah buka sepagi itu. Kalau tahu dari sini ada transportasi ke Kuala Lumpur, saya tak perlu mampir ke Hatyai segala. Sayangnya saya sudah memesan bus dari Hatyai ke Kuala Lumpur. Setelah bertanya-tanya dan membandingkan harga serta jam berangkat, kami memilih yang kedua, bernama Bai Ngoen Tour. Tiket ke Hatyai naik van sekitar 200 baht (Rp 60.000) per orang. Kami lantas minta dijemput jam 12.30 di hotel kami.

Lega karena sudah mendapatkan tiket, kami jalan lagi mencari sarapan. Sepengamatan saya, banyak sekali warga Krabi Town yang punya mobil truk pick-up, misalnya Toyota Hilux atau Isuzu D-Max. Pemandangan ini cukup mencolok, apalagi jika dibandingkan dengan mobil sedan atau city car yang jarang terlihat.

Tak sengaja, kami menemukan papan bertulisan Day Market dan menemukan sebuah pasar besar bernama Maharaj Market. Di depan pintu masuk, tampak beberapa bhiksu Buddha sedang berjejer dan menerima sumbangan uang atau makanan dari warga setempat.

Bhiksu Buddha.

Setahu saya, di negara-negara yang mayoritas Buddha memang lumrah ketika para bhiksu setiap pagi pergi berkeliling dan menerima sumbangan makanan dari warga. Bhiksu perempuan dilarang menerima makanan, tapi boleh menerima bahan makanan (misalnya beras)—kadang uang— untuk kemudian dimasak bersama di biara. Bagi umat Buddha, memberi sumbangan atau makanan kepada biarawan/wati adalah simbol menanam kebaikan yang nanti hasilnya akan dipetik suatu saat kelak, dalam bentuk reinkarnasi yang lebih baik.

Maharaj Market. Kucing dan anjing dilarang masuk!

Rupanya pasar ini letaknya hanya di belakang hotel kami. Pasar ini menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari: sayuran, buah-buahan, bumbu dapur, dan makanan jadi. Pasar ini pun bersih, berubin, dan tak ada sampah berserakan di gang-gangnya.

Ukuran pasar indoor yang mirip hanggar pesawat ini cukup luas. Dibagi menjadi gang-gang yang setiap bagiannya berisi pedagang yang dagangannya sejenis. Turis asing pun tak terlalu kesulitan saat mencari sesuatu, karena biasanya pedagang di sini mencantumkan angka harga dagangan mereka. Memang sih jarang sekali yang bisa bahasa Inggris di sini. Tapi dalam urusan jual-beli, angka adalah bahasa universal. 🙂

Moslem section. 🙂

Di satu bagian, berjejer ibu-ibu berjilbab menjual makanan. Rata-rata mereka menjual nasi, lauk-pauk, ayam goreng, dan minuman. Wah, saya langsung ngiler. Langsung deh kami beli dua porsi nasi briyani, dua potong ayam goreng, dan segelas es Thai milk tea yang udah jadi favorit saya. 😛 Semuanya cuma 100 baht (Rp 30.000).

Sampai di kamar hotel, kami langsung mandi dan dilanjut dengan sarapan. Makanan yang kami beli tadi di pasar enak banget! Thai milk tea-nya juga segar. Di Indomaret dekat kantor saya juga ada Thai milk tea kalengan sih, cuma harganya lebih mahal.

Jam 8 kurang, kami sudah check-out dan siap di lobi. Ransel-ransel kami titipkan ke petugas resepsionis, sementara kami hanya bawa tas selempang. Van dari tour agent Sea Kayak Krabi yang menjemput kami hanya telat 5 menit. Si pemandu yang menjemput kami bernama Hakeem—seorang Muslim asli Krabi. Perjalanan ke Ao Thalane, sebuah teluk di Krabi, memakan waktu sekitar 35 menit dengan mobil. Van yang kami naiki waktu itu bagus. Sopirnya juga rapi dan sopan. Pantaslah harga paket tur kayaking ini rada mahal.

Sepanjang jalan ke Ao Thalane.

Perjalanan menuju Ao Thalane menyajikan pemandangan cukup menarik. Kami bisa melihat beberapa sisi Krabi Town yang rapi dan tenang. Hutan dan bukit-bukit karang yang hijau menandakan bahwa kami sudah berada di luar kota—hanya dalam waktu beberapa menit (!). Setengah jam kemudian, kami di tiba di tujuan.

Ao Thalane adalah sebuah desa nelayan kecil di teluk bernama sama. Desa ini berlokasi di jantung jaringan hutan bakau yang terawat baik dan dikelilingi banyak batu karang (limestone), lengkap dengan “pulau-pulau” pasir kecil yang hanya bisa didarati ketika air sedang tidak pasang. Selain perikanan, desa ini juga dikembangkan sebagai area wisata alam di wilayah yang eco-friendly. Main kayak atau kano mengelilingi batu-batu karang hijau dan hutan bakau di sekeliling teluk adalah salah satu magnet untuk menyedot turis asing di Ao Thalane.

“Kita bahkan bisa jalan kaki di perairan, kalau laut sedang tidak pasang. Ada juga beberapa ‘pulau’ pasir kecil dan di sana kita bisa main-main dengan ribuan kepiting lumpur kecil,” Hakeem menjelaskan. “Kata ‘Ao Thalane’ dalam bahasa Thai itu artinya ‘teluk lumpur’.”

Sebelum mulai kayaking, Hakeem menjelaskan dulu bagaimana caranya mendayung.

“Sudah pernah main kayak?”

“Belum sama sekali,” jawab saya.

“Gampang kok. Ikuti gerakan saya, ya.”

Hakeem memperagakan gerakan mendayung. Menurut saya sih nggak susah. Kurang dari 10 menit latihan, Hakeem mengajak kami mulai. Saat itu air laut sedang turun. Kedalaman juga cukup dangkal. “Paling cuma satu meter,” kata pemandu kami itu. Beberapa barang kami, seperti dompet, kamera, dan ponsel (ini untuk memotret juga), disimpan di sebuah kantong kulit kedap air. Hakeem juga mempersilakan kami mengambil beberapa botol air mineral buat bekal minum. Sementara tas kami bisa disimpan aman di loker.

Ukuran perahu kayak ada yang 1 hingga 3 orang. Kami meminta yang ukuran 3 orang, dengan Hakeem di posisi paling belakang dan saya di depan. Dan mulailah kami mendayung. Duh, ternyata asyik juga! Walau saya berhenti mendayung setiap 5-10 menit karena pegal, itu tak menghalangi kami menikmati pemandangan indah di sekitar teluk. Pagi itu tampaknya hanya kami turis asing yang sedang main kayak.

Asyiknya main kayak 🙂

Baru setengah jam mendayung, saya tiba-tiba kok langsung merasa sehat ya…hehehe! Soalnya, setiap kali backpacking, kami sangat sering jalan kaki dan banyak bergerak serta minum air. Dan yang namanya traveling jelas bawaannya senang melulu. Jadi, harus sering-sering traveling nih! Biar jasmani dan rohani sehat semua. 🙂

Pagi itu udara cukup sejuk, matahari juga tidak terlalu terik, malahan langit sedikit mendung. Wah, kalau hujan bisa kacau acara asyik ini. Tapi Hakeem meyakinkan bahwa setengah hari ini cuaca bakal cerah. “Kalaupun hujan, biasanya sore hari,” katanya. Yang jelas, mendayung di tengah cuaca enak itu sangat menenangkan dan menyenangkan. Kadang-kadang kami berhenti mendayung karena pegal. Posisi duduk di kayak memang gampang bikin pinggang pegal karena tidak terbiasa.

Batu atau bukit karang benar-benar berkah bagi Krabi. Limestone yang bertebaran di berbagai penjuru Krabi ibaratnya tanah yang ditebari batu-batu permata. Menambah indah alam Krabi. Paket tur yang saya ambil ini sebenarnya sederhana. Rutenya pun pendek. Saya sendiri juga minta agar kami diantarkan kembali di hotel sebelum jam 12.30, karena van ke Hatyai akan menjemput kami jam segitu. Artinya kami harus menyudahi acara kayaking sekitar jam 11.30.

Kami mendayung memasuki celah-celah di antara batu-batu karang besar, membelah sungai di tengah hutan bakau yang lebat. Suara-suara kumbang dan binatang lain terdengar seperti orkestra alam di telinga kami. Kata Hakeem, kalau kami beruntung, kadang-kadang terlihat juga monyet, biawak, burung elang, dan “….buaya!”

“Hah?? Ada buaya di sini?” Saya langsung berhenti mendayung.

Hakeem terbahak. “Nggak kok! Cuma bercanda.”

Huh, sialan. 😛

Sesekali kami berhenti untuk memotret atau sekadar ngaso sebentar sambil minum. Di tengah hutan bakau kami juga melihat dua ekor biawak, lalu kami juga turun sebentar sambil mencoba menangkap kepiting lumpur yang sangat gesit saat menggali lubang untuk kabur, atau iseng berjalan kaki saat melewati bagian perairan yang dalamnya cuma setengah meter. Kami juga melihat dua ekor monyet galau sedang berjalan di pinggir hutan bakau. Udara segar, orkestra alam karya para tonggeret, dan keheningan total. Nikmat sekali rasanya…

Turis lain yang lagi kayaking.

Kami kemudian mendayung ke arah “pulau” pasir. Dari jauh terlihat banyak turis bule mendayung kayak warna-warni, setelah sebelumnya mereka semua turun dan berfoto di sana-sini di “pulau” itu. Yang disebut “pulau” ini sebenarnya adalah secuil area pantai yang membukit kala air sedang surut. Kalau sedang pasang tentu “pulau” itu tenggelam.

“Di sana ada ribuan kepiting lumpur. Kita bisa mengejar-ngejar kepiting itu dan melihat mereka kabur sambil menggali lubang di pasir. Seru sekali,” kata Hakeem. Wah, saya jadi penasaran. Kami turun ke darat bersamaan dengan para bule tadi meninggalkan “pulau” ini. “Nah, pulau ini milik kalian selama 15-2o menit. Oke?” kata Hakeem.

Hakeem, saya, dan “Patrick”. 😛

Saya dan istri pun berlarian ke tengah sambil menyerbu ribuan kepiting lumpur yang panik. Suara ribuan kepiting itu agak mengerikan saat dikejar. Tapi lucu sekali rasanya melihat binatang-binatang itu berlarian dan berlomba-lomba menggali lubang untuk bersembunyi. Kecepatan menggalinya itu lho yang hebat!

Beberapa kepiting yang agak lamban menggali tampak menutupi badannya dengan pasir secukupnya, seolah-olah bisa mengelabui kami. 🙂 Sebagian kepiting di sini juga bentuknya rada aneh bagi saya yang bukan ahli biologi. Salah satu capitnya lebih besar dari yang satu lagi dan warnanya oranye, sementara badannya sendiri berwarna kekuningan. Hakeem juga menemukan beberapa bintang laut di sini. Hoho…setelah kemarin kami bertemu Nyonya Puff, sekarang malah ketemu Patrick! 😀

Puas main-main dan foto-foto narsis di “pulau” seluas setengah lapangan bola itu, kami kembali mendayung kayak. Kembali ke dermaga. Walau saya puas, dua setengah jam main kayak terasa cukup singkat. Rasanya enak betul tinggal di kota kecil yang tenang dan bersih, dan kalau rada bosan tinggal main ke pulau atau pantai yang jaraknya cuma 1-2 jam dari kota.

Ao Thalane, Krabi.

Setelah kami kembali ke dermaga, ada seorang kru dari Sea Kayak Krabi yang memotret kami. Setelah membersihkan diri di pancuran dan makan buah-buahan jatah paket tur setengah hari, si pemotret mendatangi saya dan menyerahkan foto yang tadi, sudah terbungkus soft-frame bertulisan Ao Thalane, Krabi, Thailand.

“Ehm, ini harganya 100 baht,” katanya malu-malu.

“Lho, harus bayar ya?” saya agak kaget.

“Ehm, iya…”

Haduh. Saya cuma ngomel-ngomel sambil keluarin duit senilai Rp 30.000 itu. Kalau nggak bayar nggak enak juga. Tapi saya jadi merasa ditipu walau nilainya cuma seharga makan siang dua orang. Ya sudahlah.

Van Sea Kayak Krabi.

Beberapa menit kemudian, kami melompat ke van yang tadi. Jok penumpang sudah ditutupi plastik. Turis yang baru main kayak pastilah rada basah atau badannya masih dilengketi pasir.

Sampai di hotel hampir jam 12.30. Di dekat lobi ada kamar kecil yang bisa kami pakai untuk sedikit membersihkan diri dan berganti pakaian. Habis itu kami leyeh-leyeh sambil main Internet pakai ponsel dengan wi-fi yang sinyalnya agak lumayan kalau berada di lobi. Hingga jam 13.00, mobil ke Hatyai belum menjemput kami. Terpaksa saya minta tolong si resepsionis untuk menelepon travel agent-nya. “Soon,” katanya.

Lobi hotel JP Mansion.

Sambil menunggu, saya foto-foto dulu hotel ini. Penataan ruangan lobinya beda dibandingkan hotel konvensional. Ada satu bale-bale panjang yang dilengkapi kasur tipis buat tamu untuk leyeh-leyeh. Cocok juga kalau mau panggil Thai massage ke sini. 😛 Meja dan kursinya pun terbuat dari kayu. Jadi atmosfernya memang dibikin santai dan natural. Asyik deh pokoknya.

Jam 1 siang lewat sedikit, van kami datang. Sopirnya tampak tidak bisa bahasa Inggris sedikit pun. Sampai repot menjelaskan bahwa kami harus duduk di tengah. Setelah mengucapkan goodbye sama mbak resepsionis yang ramah itu, kami pun berangkat. Van itu kembali dulu ke kantor travel agent untuk mengambil penumpang.

Hujan kembali turun saat kami berangkat. Selamat tinggal, Krabi. Rasanya suatu hari saya harus balik ke sini lagi dan tinggal sedikit lebih lama. Jarang sekali saya bisa merasakan suasana kombinasi kota kecil yang tenang dan bersih plus tempat-tempat turistik dalam radius satu jam dari kota. Apalagi paket-paket tur yang saya ambil itu masih yang standar. Kalau saya masih punya waktu, tentu saya akan mengambil paket-paket lain seperti jungle trekking, kayaking dengan rute yang lebih jauh dan yang pemandangannya lebih cakep, main ke pantai-pantai sepi lain di Krabi, kalau perlu lanjut terus ke Phuket dan pulau-pulau seperti Phi-Phi dan James Bond. Tak apa…saya toh masih ingin kembali ke Thailand suatu hari nanti.

Siang yang berhujan itu, saya memasang earphone ke ponsel, lalu menyetel Mr. Saxobeat-nya Alexandra Stan. Sambil menyandarkan kepala, saya memejamkan mata dan mencoba tidur. Mobil melaju mantap membelah hujan deras. Menuju Hatyai, Thailand selatan, empat jam dari sini.

Selamat tinggal, Krabi. 🙂

(Bersambung)

Thai Times #5

Ibu penjual ayam goreng.

The more you read, the more things you will know. The more you learn, the more places you will go to.”

~ Dr. Seuss

Sabtu, 25 Agustus 2012

Wangi ayam goreng membangunkan tidur saya. Hampir lepas subuh ketika muncul seorang ibu yang berjualan ayam goreng. Menjelajah dari satu gerbong ke gerbong lain. Empat orang keluarga Cina di depan kami tampak sedang membeli ayam goreng yang masih hangat itu.

Sebenarnya, sejak malam sebelumnya ada beberapa orang pedagang asongan yang mondar-mandir dari gerbong ke gerbong. Bahkan ada satu pemuda yang agak gemulai sehingga saya duga dia ini ladyboy…hehehe! Macam-macam dagangan mereka, makanan dan minuman. Ada juga petugas KA yang menawarkan makan malam. Baju yang dipakai sekenanya: bagian yang dimasukkan ke celana tampak memaksa keluar dan kartu pengenalnya pun tampak butut dan mulai pudar.

Di kereta api Thailand, kalau kita berada di kelas dua dan tiga (tanpa AC), para penumpangnya gemar membuka jendela lebar-lebar. Sepoi angin yang masuk ke gerbong lumayan bikin badan terasa sejuk kembali. Maklum, hawa di Thailand sungguh bikin gerah. Di gerbong saya (kelas 2 non AC), walau sudah ada kipas angin pun, para penumpang tetap membuka jendela lebar-lebar.

Seorang bapak bermata sipit dengan bahasa isyarat meminta izin kepada saya untuk memundurkan punggung kursinya. Saya hanya tersenyum sambil mengangguk. Jarak antara kursi yang sudah dimundurkan dengan kursi di belakangnya masih cukup lega. Diam-diam saya mengamati empat orang di depan saya. Dari bahasanya, saya menebak mereka dari Cina. Yang luar biasa, keempat orang itu tampaknya satu keluarga. Si bapak sudah berumur dan beruban, begitu pun istrinya. Sementara anak dan menantu mereka adalah sepasang suami-istri yang mungkin masih sebaya saya.

Tak banyak yang bisa dilihat waktu malam dari jendela gerbong kereta. Sesekali kereta melewati perkampungan kumuh dan beberapa pasar–yang bagi orang Cina dan beberapa bule di depan saya mungkin menarik, karena mereka tak henti memotret. Satu hal yang bikin saya salut sama Thailand: gerbong kami malam itu lebih dari setengahnya “dikuasai” oleh turis asing. Begitu pula yang saya lihat di beberapa gerbong lain. Sambil menunggu kantuk, saya memilih membaca buku, sebelum akhirnya tertidur dua jam kemudian.

Sudah jam 7 pagi, tapi tampaknya kereta masih agak jauh dari Surat Thani, pemberhentian kami. Setelah telat 1,5 jam dari jadwal, kami segera keluar dari stasiun kecil tersebut. Di luar, banyak bus dan agen perjalanan yang terlihat. Setelah repot tanya sana-sini, akhirnya kami menemukan bus kami: sebuah bus tingkat yang sudah mulai butut karena rada uzur. Sayangnya, mungkin koordinasi agen bus itu kurang jelas, sehingga banyak turis backpacker yang bingung mencari bus masing-masing. Pasalnya, memang ada beberapa bus dari halaman stasiun Surat Thani yang menuju rute berbeda.

Beberapa bule yang saya ajak ngobrol juga lagi kebingungan. Seorang wanita yang tampaknya koordinator tampak sibuk ngomel ke sana kemari karena ditanyai banyak orang yang mencari busnya. Padahal itu kan gampang diatasi dengan menempelkan poster bertulisan rute bus.

Jam 9 kurang, bus pun berangkat. Bus bertingkat, khas bus antarkota di Thailand, walau yang saya naiki ini sudah agak tua modelnya. Kalau melihat peta, sebenarnya bus ini menuju arah timur lebih dulu untuk menurunkan penumpang di dermaga Don Sak. Dari dermaga itu kita bisa menuju pulau-pulau macam Ko Pha Ngan dan Ko Samui—dua pulau berpantai cantik tempat pesta-pesta hedonis sering diadakan, seperti full moon party. Baru setelah itu bus melaju ke arah barat laut menuju Krabi.

Sekitar jam 13.00, bus sudah memasuki Krabi. Penumpang diturunkan di sebuah halaman kosong yang tampaknya jadi pool bus tersebut. Dari sana, kami harus bayar sekitar 50 baht (Rp 15.000) lagi per orang untuk naik van yang kemudian menurunkan kami persis di depan hotel.

Kamarnya lumayan kan? Murah, pula 🙂

Saya sudah memesan kamar di JP Mansion, sebuah budget hotel di pusat kota Krabi. Tarifnya nggak mahal, cuma 300 baht (Rp 90 ribu) untuk double room ber-AC, kamar mandi privat, dan handuk. Sayangnya, jendelanya menghadap ke koridor. Tapi nggak apa-apa sih, kamar begini kan untuk tidur doang. Resepsionisnya juga ramah sekali. Saat saya tanya apakah dia punya peta Krabi, dia menjawab sambil tersenyum, “Oh, it’s finish.” Sudah habis, maksudnya. 😀 Selepas membongkar bawaan, mandi pakai shower, dan sholat, sore itu kami pun langsung mulai jalan-jalan.

Krabi Town adalah ibukota Provinsi Krabi—provinsi yang sedang naik daun namanya di kalangan turis yang mengunjung Thailand. Krabi Town ini sebenarnya hanya kota kecil biasa. Tapi memang saya tertarik untuk mengetahui dan merasakan langsung suasana kota kecil di Thailand, lepas dari hiruk-pikuk Bangkok.

Dengan penduduk hanya sekitar 25.000 jiwa, Krabi Town lebih sering dijadikan pintu masuk dan tempat persinggahan sementara bagi para turis. Sebab, Provinsi Krabi juga menawarkan banyak spot menarik dalam radius mulai dari 30 menit hingga 1,5 jam dari kota ini naik transportasi publik seperti bus, van, atau speed boat—dari pantai-pantai cantik (Ao Nang, Rai Leh, dll) hingga pulau-pulau cantik (Phi Phi Island, Ko Lanta, James Bond Island, dll). Kita juga bisa pergi ke Phuket dengan van yang makan waktu 3-4 jam dari Krabi Town.

Manusia purba penunggu lampu merah 🙂

Kota ini ditata rapi dengan dengan model kotak seperti blok-blok gitu. Jarak dari satu blok ke blok lainnya tak terlalu jauh. Karena penduduknya sedikit, jalanan di kota ini tampak sedikit lengang, walau sebenarnya banyak sekali pertokoan dan hotel serta mobil dan motor yang parkir di sepanjang jalan. Kotanya pun bersih sekali. Kalau tak suka dengan suasana kota yang agak sepi ini, turis bisa langsung naik songthaew (semacam angkot) menuju pantai Ao Nang yang bisa dicapai dalam 30-40 menit dari kota. Tapi, sebaliknya, buat yang tak suka suasana yang terlalu touristy (seperti saya ini), Krabi Town menawarkan kenyamanan tersendiri.

Menginap 1-2 hari di sini rasanya cukup pas. Banyak pantai yang bisa dicapai dengan mudah. Kita juga bisa ikut tur-tur ke pulau-pulau lain, ikut tur main kayak dan kano, atau trekking ke area-area wisata alam di banyak titik di provinsi ini. Ada yang unik di beberapa persimpangan di pusat kota: lampu lalu-lintas didesain dengan patung purba sedang menggotong lampunya. Kreatif juga nih! 😛

Yang pertama saya cari saat itu adalah: makanan! Maklum, belum makan apa-apa sejak pagi tadi. Mau beli ayam goreng wangi di kereta pun takut nggak halal. Sore itu cuacanya enak. Krabi Town sedikit lebih sejuk jika dibandingkan Bangkok yang gerah. Dari van tadi, saya sempat melihat sebuah warung makan halal. Lokasinya tak jauh dari hotel kami, sekitar 300 meter saja. Rasanya lega sekali melihat warung makan yang ada tulisan “Makanan Islam” dan beberapa ibu berjilbab tampak sedang makan di sana juga.

Nyam nyaam! 😛

Kami memesan dua porsi nasi ayam briyani dan seporsi mie goreng. Yang lucu, mie goreng di sini selalu ditambahi dengan semangkuk kecil kuah, seperti kuah bakso gitu. Untuk minumnya saya memesan es Thai milk tea yang segar. Untuk semuanya itu saya harus bayar sekitar 150 baht (Rp 45.000).  Mahal? Yah, beginilah kalau sarapan dan makan siang jadi satu. 😛 Tapi bener deh, makanan ini walau sederhana tapi rasanya enak banget. Bumbunya sangat terasa.

Setelah makan, kami lanjut jalan lagi. Hanya beberapa puluh meter dari warung tadi, kami menemukan kantor travel agent yang menawarkan paket-paket wisata buat turis. Wah, kebetulan sekali. Saya memang sudah berencana main kayak di sini, soalnya waktu kami cuma sampai besok siangnya. Tidak cukup kalau mau ambil paket tur ke Phi-Phi yang half-day sekalipun. Jadi, saya harus keluar duit Rp 400.000 buat paket kayak half-day untuk dua orang ke Ao Thalane. Kami akan dijemput dengan van jam 08.00 pagi untuk menuju spot itu, yang jaraknya sekitar 35-40 menit naik mobil. Karena paketnya setengah  hari, kami cuma akan mendapat ekstra buah-buahan dan gantungan kunci—tanpa makan siang.

Nah, sore ini kami hanya berencana putar-putar di kota. Dari hasil banyak baca referensi, saya tahu ada sungai tak jauh dari pusat kota yang menarik untuk sekadar nongkrong. Ternyata sungai tersebut juga tak jauh dari hotel kami. Tempatnya asyik banget menurut saya. Pedestrian dengan pohon-pohon rindang dan taman kecil di pinggir sungai menawarkan kenyamanan tersendiri bagi saya yang tinggal di kota padat nan semrawut. Di kejauhan, ada dua bukit karst (limestone) yang secara alami berhadapan dan membentuk formasi “The Two Towers”—seolah jadi “gerbang” kota Krabi.

Maskot Krabi Town: yuyukangkang! 🙂

Ada sekeluarga patung kepiting yang terdiri dari empat buah patung di landmark Krabi Town ini. Menurut keterangan yang saya baca di situ, patung-patung itu menyimbolkan berlimpahnya hutan bakau (mangrove) di sepanjang muara di Krabi Town ini. Dan di tengah hutan bakau atau di banyak pantai di Krabi, kepiting lumpur ini mudah sekali ditemukan. Luas hutan bakau di Krabi tercatat sebagai yang terbesar keempat di seluruh Thailand. Wilayah Krabi juga dikelilingi bukit-bukit karang yang tersebar baik di perairan maupun daratan.

Di sekitar dermaga Chao Fa ini banyak pemilik perahu longtail yang menawarkan tur singkat naik boat di sepanjang muara sungai. Beberapa menyapa saya dengan sapaan assalamualaikum dan menebak saya dari Malaysia. Yang pertama menawarkan tarif 500 baht. Saya cuma menolaknya sambil tersenyum. Tak lama, ada lagi seorang pria, yang mengaku bernama Muhammad. Dia sepakat dengan angka 300 baht (Rp 90.000) untuk kami berdua menyusuri sungai selama satu jam dan melihat beberapa spot menarik di situ.

You muslim, I muslim, I won’t cheat on you,” katanya membujuk.

Berhubung dia bersedia menawarkan harga yang rada murah, saya pun mau. Nikmat sekali rasanya sore-sore naik longtail boat—perahu tradisional khas yang sangat populer di Thailand. Perahu ini terbuat dari kayu dan berbodi “kurus”, sehingga kalau penumpang banyak “bergoyang”, maka perahunya pun bisa ikut goyang ke kanan-kiri. Semilir angin sejuk dan pemandangan hijau di sekitar terasa sangat menyenangkan. Sekitar 15 menit kemudian, Muhammad menepikan perahunya ke Koh Klang, sebuah perkampungan nelayan Muslim.

“Nyonya Puff” 😀

Dermaga perkampungan ini dibuat terapung dengan beberapa bangunan yang berfungsi sebagai warung makan dan toko suvenir. Ada juga beberapa bagian yang difungsikan sebagai kolam. Kami diajak melihat beberapa hewan laut di penangkaran di situ: lobster besar, anak  ikan hiu, dan ikan buntal alias Nyonya Puff, guru nyetir Spongebob itu. Wah, saya baru kali ini lihat bentuk asli hewan berbentuk bulat ini. 😛 Pas liat, rasanya langsung pengen nendang bola! Hahaha 😀

“Kalau Anda mau lihat hewan ini menggembung, coba bikin dia marah dulu,” kata Ibrahim, yang memandu kami di perkampungan itu (wah, orang sini kok pake nama nabi semua, ya?). Dan benar saja….setelah ditepuk-tepuk dan disentil, ikan (yang nggak mirip ikan) buntal yang tadinya agak kempis itu menggembung dan mulutnya mengeluarkan air, seolah barusan tersedak. 😛 Ketika dilemparkan kembali ke air pun dia hanya mengambang. Benar-benar aneh dan lucu ikan yang satu ini. 😛

Sebenarnya saya tahu bahwa mereka mengharapkan kami membeli makanan seafood atau minuman di warung mereka, tapi karena baru makan kami tak membeli apa-apa. Tak lama kemudian, hujan pun turun. Kami terpaksa nongkrong dulu di situ. Sambil menunggu hujan reda, saya ajak Muhammad ngobrol-ngobrol.

“Anda asli Krabi?”

“Ya, betul,” jawab Muhammad. Saya melihat pria ini ramah dan terbuka. Walau bahasa Inggrisnya berantakan dan kadang pelafalannya salah total, isi omongannya masih bisa dipahami. “Saya dan istri tinggal di perkampungan ini. Anak saya dua orang, cewek semua,” lanjutnya sambil tersenyum.

“Apakah di sini banyak penduduk Muslim?”

“Di perkampungan ini iya, tapi di kota Muslimnya cuma sedikit. Di sini ada beberapa guesthouse murah, pemiliknya Muslim juga. Semakin Anda ke wilayah selatan Thailand, semakin banyak Muslimnya. Saya dulu pernah berdakwah selama empat bulan di Yala dan sekitarnya.” Yala adalah sebuah kota di  Provinsi Pattani, Thailand selatan, yang banyak dihuni penduduk Muslim Melayu.

“Bagaimana hubungan warga Muslim dan Buddha di sini?”

“Wah, baik sekali. Semuanya rukun di sini, walau kami penduduk minoritas. Tapi di wilayah Pattani sering ada keributan. Kadang ada bom meledak. Orang-orang Muslim di sana sering memberontak, ingin merdeka. Saya tidak paham kenapa mereka harus begitu.” Pattani adalah sebuah provinsi di Thailand selatan yang berbatasan dengan Malaysia. Memang sering terdengar berita tentang pemberontakan kaum Muslim di sana.

Tell me, apa saja yang bisa saya lihat di kota ini?”

Khao Khanap Nam yang keren. 🙂

“Hmm….nanti Anda akan saya bawa ke Khao Khanap Nam, bukit karang kembar yang kelihatan dari dermaga tadi. Terus, kalau mau, nanti Anda bisa mampir ke pasar malam di kota. Ada dua pasar di sini. Di yang pertama Anda bisa beli buah-buahan dan makanan segar. Di yang satunya lagi selalu ada pasar malam dan biasanya ada acara di sana.”

“Tiap hari apa?”

“Oh, setiap hari! Anda harus coba ke sana. Selain makanan halal, di sana juga banyak jual suvenir murah.”

“Terus, bagaimana kalau saya mau ke pantai, misalnya ke Ao Nang?”

“Oh, gampang. Anda cari saja songthaew. Itu bentuknya seperti mobil bak terbuka yang dipasangi atap dan bangku. Coba cari di depan Vogue Department. Di sana banyak songthaew yang ngetem. Ke Ao Nang nggak jauh kok, paling lama cuma sejam. Ongkosnya juga murah. Di sini juga banyak agen wisata kalau Anda tertarik main kayak, trekking, atau main ke pantai sepi.”

Tak lama hujan pun reda. Lumayan juga saya bisa mendapat banyak informasi dari penduduk lokal. Muhammad pun mengajak kami berangkat lagi. Kali ini ia mengajak kami ke Khao Khanap Nam—ini “The Two Towers” yang saya sebut tadi. Kalau dari dermaga awal tadi kapal menuju ke kanan, kali ini ke kiri ke arah bukit karang itu.

Ternyata di sana ada area eco-tourism berupa gua yang, kata Muhammad, pada Perang Dunia II konon pernah dihuni beberapa tentara Jepang yang kabur dari kejaran musuh. Beberapa tengkoraknya masih ada di sana. Sampai di lokasi, suasananya sepi. Sore itu tampaknya hanya kami turis yang mampir. Masuknya pun harus bayar 10 baht (Rp 3.000) per orang. Sial, ternyata tak banyak yang bisa dilihat di sini. Tapi memang suasananya sangat hening dan nyaman.

Di ujung area ada tangga menuju gua di atas. Sayang, di dalam gua suasananya sangat gelap dan agak menyeramkan. Kamera saku saya yang kemampuannya standar banget pun nggak bisa ngambil gambar apa-apa dalam kegelapan. Rasanya jadi malas untuk menjelajahi gua itu. Konon di puncak bukit itu juga ada sepasang burung elang berdada putih yang juga menjadi simbol Krabi.

Bisa banget ya Thailand. Cuma kayak begini juga bisa dijual ke turis. Tapi memang saya sadar bahwa 300 baht berdua tak cukup untuk membawa kami ke tempat-tempat yang lebih spektakuler pemandangannya. Saat gerimis muncul, kami nongkrong di sebuah pondok beratap rumbai sama Muhammad lagi.

“Di sini sepi sekali. Apa selalu seperti ini?” tanya saya ke Muhammad.

“Tidak juga. Sekarang memang sedang low season dan masuk musim hujan. Kalau sedang high season lebih ramai daripada sekarang.”

Saya dan Muhammad 🙂

Saat gerimis itu kami melihat dua pria bule lewat sambil bawa payung. Saat itu juga, hujan reda. Kami pun kembali ke dermaga kota. Sebenarnya yang paling menyenangkan adalah naik perahu itu sendiri. Apalagi saat hujan baru reda. Udaranya sejuk dan segar. Pemandangan ke arah kota pun indah, ditambah dengan kawasan hutan bakau yang hijau. Sesekali perahu kami juga berpapasan dengan beberapa perahu lain yang berhasil menggaet turis untuk sekadar cari angin.

“Terima kasih, ya,” kata Muhammad saat kami sudah turun dari perahu. “Semoga Anda betah di Krabi. Kalau mau ke pasar malam, jalan ke arah sana,” katanya sambil menunjuk ke satu arah. Ah, saya suka keramahan orang ini.

“Terima kasih kembali, Muhammad,” kata saya sambil menyalaminya. Tak lama setelah itu, saya melihat pelangi di atas hutan bakau. Ah, sesuatu banget… 🙂

Di sekitar dermaga kota, selain patung kepiting tadi, ada patung burung elang laut berdada putih bernama Nok Awk. Patungnya berada tak jauh dari keluarga kepiting tadi. Pemerintah kota membangun patung ini sebagai simbol pengetahuan, hidup sederhana namun berkucukupan, juga kepedulian terhadap orang lain—sifat-sifat yang diambil dari karakter elang itu. Di depan patung ini juga ada simbol “0 km”, lumayan buat foto-foto.

Setelah itu, kami berjalan mencari pasar yang tadi diceritakan Muhammad. Setelah bertanya ke sana kemari, kami menemukan pasar yang pertama. Ini pasar yang dibilang Muhammad yang menjual buah-buahan dan makanan halal.

Warung halal di pasar.

Ternyata betul, di sini ada banyak warung tenda yang penjualnya ibu-ibu berjilbab. Kami membeli mango sticky rice seharga 20 baht (Rp 6.000) dan…durian! Ternyata harga durian di sini agak mahal: 200 baht (Rp 60.000) untuk sekotak durian isi 8 buah dibungkus plastik. Untunglah ukuran buahnya cukup besar, daging duriannya tebal, dan rasanya manis.

Dari situ kami berjalan kaki lagi dan menemukan pasar malam yang dimaksud. Tata kota yang didesain berbentuk blok cukup memudahkan saya menghafal jalanan. Letaknya di belakang Vogue Department, dekat dengan hotel kami. Tampak pedagang-pedagang di sana sedang sibuk menata dagangannya.

Suasana pasar malam di Krabi.

Pasar malam ini buka setiap malam menjelang maghrib. Kita bisa melihat macam-macam di sana: penjual makanan dan minuman, pedagang kaos oblong, suvenir aneka macam, pengamen jalanan, dan saat kami ke sana ternyata sedang ada acara di panggung utama: kontes breakdance!

Wow, masih ada yang breakdance ya hari gini? Hehehe…Beberapa kelompok anak muda Krabi asyik memamerkan kebolehannya di atas panggung. Suasananya asyik banget. Langit biru tua petang hari, sambil makan durian dan mango sticky rice, menonton alay-alay Thailand pamer kebolehan, dan alay-alay lain yang mondar-mandir di sekitar situ. Banyak juga turis asing yang nonton acara ini. Lumayanlah buat sedikit hiburan.

Panggung breakdance.

Sayangnya, di sekitar situ nggak ada yang jual kaos oblong yang rada bagusan. Kesannya malah agak-agak ndeso gitu kaosnya…hihihi! 😛 Nah, kalau yang jual makanan enak, ini banyak banget. Akhirnya saya beli ayam goreng yang wanginya mengingatkan saya pada si ibu penjual ayam goreng di kereta pagi tadi. Ditambah kebab buat makan malam di kamar…hehehe! 😛

Ini beberapa foto suasana pasar malam Krabi itu:

Menjelang maghrib, siap-siap buka lapak.

Bocah-bocah Thailand main musik tradisional. Lemparkan sedikit uang ke kotak kalau berkenan. 🙂

Si ibu penjual kebab.

Pantomim bareng pria bercat biru.

Setelah puas muter-muter di pasar malam, kami memutuskan kembali ke hotel. Di tengah jalan kami mampir sebentar ke Vogue Department—sebuah toserba biasa semacam Griya di Bandung atau Mirota di Jogja. Siapa tahu ada kaos yang bagus. Ternyata tidak ada. Selain itu cuma ada KFC di situ.  Tak banyak lagi yang bisa dilihat di Krabi Town saat malam. Tentu saja ada beberapa kafe dan kelab malam di kota ini, tapi sejak dulu saya memang nggak tertarik main ke tempat-tempat itu.

Sampai di kamar, setelah makan kebab, kami bersiap tidur. Besok kami ada acara main kayak. Butuh tenaga banyak. 🙂

(Bersambung)

Thai Times #4

Lobi hotel.

“A traveler without observation is like a bird without wings.”

~ Moslih Eddin Saadi

Jumat, 24 Agustus

Pagi itu lobi hotel sepi. Bule-bule backpacker yang biasanya nongkrong di situ tampaknya belum ada yang bangun. Baguslah, jadi saya bisa pake Internet sebentar. Rencananya saya mau memesan hostel di Krabi, berhubung malam ini kami berangkat ke sana naik kereta. Sekalian web check-in untuk pesawat Air Asia kami dari Kuala Lumpur nanti.

Pakai Internet di hotel ini asyik juga. Sistemnya cukup dengan memasukkan koin 10 baht (Rp 3.000) untuk akses Internet selama 15 menit. Mahal sih, makanya nggak baik berlama-lama di depan Internet di sini.

Setelah beres semua urusan itu, kami menyeberang ke Stasiun Hua Lamphong. Di area food court di stasiun ini ada satu kedai makanan halal di pojokan. Masakannya sederhana saja: ada nasi goreng, tom yam, padthai, dan aneka lauk tumis serta oseng. Saya pilih nasi dengan lauk tumis ayam masak pedas, sementara istri saya pesan nasi goreng dengan telur dan suwir ayam. Untuk masakan yang porsinya rada banyak itu harganya cuma 50 baht (Rp 15.000) per porsi.

Sistem belinya emang agak ribet. Setelah memesan dan menanyakan harga, kami harus pergi ke loket kupon yang ada di situ. Kita lalu harus beli kupon seharga makanan yang barusan dipesan tadi. Misalnya saya pesan makanan seharga 100 baht, maka saya harus beli kupon senilai 100 baht di loket, lalu menukarkan kupon itu di tempat kita memesan makanan tadi. Tentunya setelah makanannya siap.

Rasanya? Muaknyuss….ayam masak pedas pesanan saya sukses bikin saya keringetan. Rasanya juga gurih nikmat. Sementara nasi gorengnya juga enak. Mirip-mirip nasi goreng tek-tek langganan saya lah. Bumbunya cukup terasa. Duh, saya demen dah makanan kayak gini! 🙂

Setelah makan, saya memutuskan untuk melihat-lihat isi stasiun ini dulu. Kan lumayan bisa buat bahan cerita di blog ini. 🙂

Tampak depan Stasiun Hua Lamphong, Bangkok.

Saat pertama kali masuk ke stasiun ini hari sebelumnya, saya mendapat kesan lega pada bangunan ini. Sepertinya itu disebabkan langit-langit stasiun yang didesain tinggi dan melengkung. Mirip sebuah hanggar pesawat. Menurut saya, desain Hua Lamphong memang kuno, hampir tak ada kesan mewah dan modern, namun cukup elegan, bersih, dan terawat. Di atas pintu masuk utama dan pintu masuk ke peron ada poster raja Thailand berukuran besar. Setiap jam 6 sore, di tempat-tempat publik, termasuk stasiun, akan dikumandangkan lagu kebangsaan Thailand. Semua orang berdiri khidmat untuk menghormati lagu kebangsaan, termasuk turis–demi sopan santun.

Hua Lamphong melayani lebih dari 130 trayek dan sekitar 60 ribu penumpang setiap hari. Penumpang dapat langsung membeli tiket di hari yang sama dengan keberangkatan, tetapi untuk tujuan populer dan ingin kelas sleeper train, sebaiknya kita memesan jauh-jauh hari hingga 60 hari sebelum keberangkatan. Di tiket kita akan tercetak waktu, tanggal, dan nomor bangku. Dua layar monitor berukuran besar akan memperlihatkan jadwal kereta yang akan berangkat hari itu. Mirip seperti di bandara.

Saya lihat ada total 22 loket pembelian tiket. Setengahnya untuk pembelian hari H, dan sisanya untuk pemesanan 1-60 hari sebelum keberangkatan. Tak semua loket buka, memang, tergantung kebutuhan. Petugas loket juga rata-rata bisa bahasa Inggris, walau sangat pas-pasan. Petugas di bagian Informasi bahasa Inggrisnya rada mendingan. Calon penumpang (biasanya backpacker bule) yang kehabisan atau malas duduk di tempat duduk memilih untuk leyeh-leyeh di area tengah yang luas sambil menunggu kereta mereka siap. Backpack mereka yang besar-besar diletakkan di lantai untuk sandaran.

Interior Hua Lamphong.

Fasilitas apa saja yang ada di stasiun ini? Selain food court, ada money changer dan Left Baggage untuk menitipkan tas. Tarifnya per 24 jam. Kalau tak salah, untuk backpack yang agak besar dikenakan tarif 70 baht (Rp 21.000).

Mushola.

Toilet di sini juga bisa digunakan untuk mandi dengan tarif 20 baht (Rp 6.000). Di depan toilet, ada tangga ke atas menuju mushola. Papan petunjuknya terbaca jelas seperti di foto. Di lantai 2, yang ada di sayap kanan dan kiri, ada kantor pos, kafe yang rada mahal, warnet, dan beberapa kantor agen perjalanan wisata ke kota-kota lain di Thailand.

Puas menjelajahi stasiun, kami kembali ke hotel. Selesai berkemas, jam 12 kami check out. Di hotel-hotel Thailand biasanya kita boleh menitipkan tas tanpa bayar walau sudah check out. Bisa dimaklumi, mereka ingin tambahan layanan ini bisa membuat tamu kembali kalau kapan-kapan main ke Bangkok lagi.

Mah Boon Krong (MBK).

Jelas saya senang karena tak perlu keluar uang untuk menitipkan tas di stasiun. Dua backpack kami pun diletakkan di tengah-tengah tumpukan ransel tamu lain yang sudah check out. Siang itu kami menuju mal MBK. Rutenya cukup mudah, tinggal naik MRT dari Hua Lamphong, turun di stasiun Si Lom, disambung dengan BTS Skytrain (= monorel) dan turun di stasiun Sala Daeng. Dari situ tinggal jalan kaki ke MBK.

Mal ini berada di kawasan Siam. Kawasan ini dikepung oleh mal-mal besar. Selain MBK, ada Siam Square, Siam Paragon, dan beberapa yang lain. Pokoknya tempat-tempat ini ini benar-benar shopping heaven, deh!

Kaos-kaos serba 99 baht!

Di lantai 4 dan 5…nah, ini surganya orang gila belanja. Segala suvenir dengan harga murah. Saya, yang kalau ke luar negeri cuma pengen beli kaos oblong, langsung ngiler ngeliat toko-toko dan kios-kios t-shirt semuanya kompak jualan kaos keren cuma 99 baht (Rp 29.700)! Padahal bahannya bagus lho, agak-agak elastis gitu. Udah gitu desain gambarnya lucu-lucu. Ada yang serba tulisan “Thailand”, ada juga yang permainan kata bahasa Inggris. Misalnya: Sex Instructor, The Comma Sutra, Beer is the reason I get up every afternoon, dan banyak lagi.

Sialnya, setelah lirik-lirik dompet, ternyata uang baht kami tidak cukup lagi untuk sekadar beli oleh-oleh. Padahal kami belum lagi berangkat ke Krabi, dan masih harus ke Hatyai untuk melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur. Sialnya lagi, tak satu pun pedagang di sana yang bisa menerima pembayaran dengan kartu kredit.

Setelah gempor muter-muter dan tak ada satu pun pedagang kaos dan suvenir yang bisa menerima kartu kredit, bahkan hingga keluar dari MBK dan muter-muter kawasan Siam ke mal-mal di sebelahnya, akhirnya kami terpaksa ngaso sebentar. Kaos bagus paling murah yang kami temukan sepertinya cuma di MBK. Jadilah kami kembali ke mal itu, mencari mushola (ada di lantai 5), dan mojok sebentar untuk menghitung lagi recehan kami di dompet.

Kios suvenir.

Setelah mengaduk-aduk dompet, ditemukanlah beberapa puluh ribu rupiah (yang untungnya masih ada harganya di sini), dan kebetulan juga kami punya 100 dolar Hong Kong (= Rp 100.000!), dan beberapa ringgit. Setelah sholat, kami muter-muter dulu mencari money changer di sana. Saya memilih satu yang berstiker Master Card dan menanyakan apakah saya bisa mengambil uang tunai baht dengan kartu kredit saya itu. Dan ternyata bisa! Walau dengan syarat harus mengambil minimal 3.000 baht (Rp 900.000), itu tak masalah karena bisa kami pakai buat cadangan hingga ke Kuala Lumpur. Mungkin bahkan masih sisa sampai di Bandung.

Total jenderal kami berhasil mengumpulkan 5.000 baht (Rp 1,5 juta) buat menyambung hidup sampai pulang. 🙂 Yang pasti: beberapa kaos oblong, gantungan kunci, dan kantong bordiran yang digantungkan di dinding (saya nggak tahu apa sebutannya) akhirnya berhasil dibeli. Kemudian, kami memutuskan segera pergi ke stasiun. Saya menyesal setengah mati karena tak sempat mampir ke Lumphini Park di dekat stasiun MRT Si Lom. Ini artinya suatu hari nanti saya harus datang ke Bangkok lagi! *bersumpah*

Menu makan malam 🙂

Setelah mengambil ransel-ransel yang dititipkan di hotel, kami menyeberang ke stasiun Hua Lamphong. Gara-gara urusan kehabisan duit tadi, kami malah jadi nggak sempat makan siang. Jadi, kami kembali ke warung halal di foodcourt tadi pagi. Kali ini memesan menu yang agak beda. Istri saya pesan nasi goreng ayam-telor lagi, sementara saya pesan nasi dengan dua lauk tumisan ayam, kentang, dan sayur. Semuanya cuma 100 baht (Rp 30 ribu). Hebat juga nih yang masak, cuma tumisan sederhana begini enaknya bikin merem melek! 😀 Saya perhatikan, di Thailand jarang sekali ada sambal. Jadi kalau kita ingin makanan kita tambah pedas, biasanya disediakan cabe bubuk. Mantap kok, tetap bisa bikin kita berdesis kepedesan! 🙂

Puas makan, kami bergantian ke mushola. Pas giliran saya, ada sekelompok pemuda tanggung lagi nongkrong di sana. Sambil mengucapkan salam, saya meminjam sajadah ke mereka (di mushola itu cuma ada karpet). Setelahnya, saya coba mengajak mereka ngobrol sebentar. Tampaknya mereka tak bisa bahasa Inggris sama sekali, tapi saat saya bilang saya dari Indonesia, mereka tampak mengerti dan menjawab bahwa mereka dari Pattani, kawasan Thailand selatan yang banyak dihuni muslim. Salah satu dari mereka entah ngomong apa ke saya, tapi saya menangkap dua kata intinya: “kakak ipar” dan “Aceh”. Oooh, begitu. 🙂 Lalu saya pamit sambil mengucap salam. Saya dan istri segera ke peron dan mencari gerbong kami.

Kereta antarkota di Thailand penampilannya biasa saja, jelas bukan tandingan MRT dan Skytrain-nya. Ornamen kayu di dinding bagian dalam terkesan kuno. Kursinya tipe 2-2 dan reclining seat. Jarak antar kursi di depan dan belakang juga cukup lega, sehingga ketika penumpang di depan kita menurunkan punggung kursi, penumpang di belakangnya tidak akan terganggu. Jendela keretanya lebar dan bisa dibuka dengan cara ditarik ke bawah. Kereta berangkat tepat waktu jam 19.30. Menurut jadwal, kami akan tiba di Surat Thani jam 07.00 keesokan harinya untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus ke Krabi.

(Bersambung)

Thai Times #3

Chakri Maha Prasat Hall, Grand Palace.

“To get to know a country, you must have direct contact with the earth. It’s futile to gaze at the world through a car window.”

~ Albert Einstein

Lolos dari jebakan scammers tolol, kami akhirnya menemukan pintu masuk Grand Palace. Saat itu sekitar jam 9 pagi, tapi ramainya luar biasa. Backpacker, turis ber-guide yang heboh dan ribet banget, anak-anak sekolah, mahasiswa, alay, semua udah ngumpul di sana. Oh ya, untuk memasuki kawasan ini, pengunjung diminta untuk berpakaian sopan: tidak boleh menampakkan lengan, bahu, betis, paha, dada. Gampang aja kok, pakai celana jins dan kaos oblong (berlengan) tuh udah sopan banget di sini. 🙂 Biasanya turis bule yang doyan buka-bukaan gitu. Tapi nggak apa-apa, di sini ada tempat khusus untuk pinjam pakaian buat menutupi bagian-bagian tadi. *duh, bahasanya*

Anak-anak sekolah Bangkok lagi study tour.

Pas sampai di loket, saya sempat bengong dulu: harga tiket masuknya 400 baht (Rp 120.000). Tapi masa iya udah di Bangkok nggak main ke Grand Palace? Itu memalukan, kawan! 😛 Saya duduk-duduk dulu dekat loket penjualan tiket. Sambil ngaso sejenak, saya memerhatikan keadaan sekitar. Grand Palace saat itu sangat penuh dengan turis asing dan domestik. Ada yang sendirian, berkelompok kecil, dan banyak juga rombongan besar yang dipandu tour guide yang tampak stres mengatur rombongannya. Bahasa mereka bermacam-macam. Saya mencoba mengenali beberapa di antaranya: Inggris, Spanyol, Cina, Rusia, Jepang, dan beberapa orang yang saya duga dari Eropa Timur.

Setelah duduk-duduk nggak jelas beberapa lama, akhirnya saya membeli tiket. Begitu masuk ke area dalam, duit sebanyak itu sudah tak terasa berat lagi. Kompleks ini keren dan sangat indah. Bagus banget buat yang doyan fotografi, sejarah, atau sekadar foto-foto narsis. Grand Palace adalah kompleks bangunan istana yang berfungsi sebagai kediaman resmi raja-raja Thailand dari abad ke-18 dan seterusnya.

Setelah Raja Rama I naik tahta pada 1782, istana ini pun dibangun. Sebelumnya, istana kerajaan dan pusat administrasi pemerintahan berada di Thonburi, di sebelah barat Sungai Chao Phraya. Karena beberapa alasan, raja yang baru ini menganggap ibukota di Thonburi itu sudah tak layak lagi dan ia pun memutuskan untuk membangun yang baru di sisi timur sungai tadi. Di bawah pemerintahan Raja Rama I, istana yang baru pun dibangun, tak hanya sebagai tempat tinggalnya, namun juga sebagai lokasi kantor-kantor pemerintahan dan tempat ibadah umat Buddha. Kompleks ini belakangan dikenal dengan nama Grand Palace.

Temple of the Emerald Buddha.

Di area seluas 218 ribu meter persegi ini ada sekitar 35 bangunan, belum termasuk restoran dan toilet. Warna bangunan-bangunan yang ramai dan didominasi warna emas membuat kompleks ini tampak genit dan menarik. Di sini bahkan ada miniatur Angkor Wat, kompleks candi yang luas di Kamboja itu. Sesekali saya mendekati kelompok turis yang menggunakan pemandu wisata untuk menyimak penjelasan tentang bangunan-bangunan yang ada di kompleks ini.

Di bangunan Chakri Maha Prasat Hall (lihat foto paling atas) sebenarnya ada museum senjata—memamerkan ratusan jenis senjata yang dipakai Kerajaan Siam di masa lalu. Sayangnya pengunjung dilarang memotret di dalam ruangan itu. Setidaknya di situ ada beberapa kipas angin besar, lumayan lah buat mendinginkan badan yang sudah bermandi keringat ini. Sepertinya kalau jalan-jalan lagi ke Bangkok ada baiknya bawa kaos cadangan dan handuk terus mandi. Panasnya bisa bikin baju basah kayak habis kehujanan.

Pedagang kaki lima di sekitar Grand Palace.

Puas menikmati kompleks Grand Palace, kami berjalan menuju satu wat (kuil/candi) lagi di belakangnya: Wat Pho. Kami berjalan balik ke arah tempat kami dikerjain scammer gagal tadi, tapi kali ini di sisi seberangnya. Di sisi yang ini ada banyak sekali pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya di trotoar.

Saat itulah kami melihat penipu tadi sedang beraksi di seberang jalan. Korbannya kali ini beberapa orang kulit putih. Tadinya saya pengen banget nyamperin mereka sambil ngomong, “Woi, Grand Palace udah buka tuh dari tadi pagi!” Tapi jangan-jangan nanti saya malah digebugin geng sopir tuk-tuk gara-gara saya bongkar aksi penipuan mereka…hehehe! 😛

Berhubung siang itu suhunya puanas banget, saya membeli semangka segar dan duduk di sebuah taman kecil dekat situ. Sambil makan semangka, saya memerhatikan sekelompok anak sekolah berseragam biru-putih (kayaknya anak SMP) lagi nongkrong di taman. Lagi bolos sekolah, mungkin…hehehe! Di sebelah saya juga ada seorang pria yang sedang sibuk menebar remah rotinya ke sekitar burung-burung merpati di taman itu.

Setelah segar makan buah dan sebotol air, kami masuk ke kompleks Wat Pho. Dan ternyata: masuk ke Wat Pho harus bayar juga. 😦 Memang nggak mahal sih, cuma 100 baht (Rp 30.000). Tapi di sini kan ada patung Reclining Buddha alias Buddha lagi santai Buddha berbaring. “Sekali seumur hidup lah. Cuma 30 ribu kok. Kan rugi udah jauh-jauh ke sini,” kata istri saya. Ah, ya sudahlah. 🙂 Oh ya, tiket segitu udah termasuk sebotol air minum dingin ya.

Reclining Buddha.

Wat ini sebenarnya bernama asli Wat Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwaramahaviharn.  Nama Wat Pho diambil dari sebuah biara yang diyakini pernah menjadi tempat tinggal Buddha.

Sebelum dibangun, tempat ini adalah pusat pendidikan khusus pengobatan tradisional Thailand, dengan patung-patung yang menunjukkan posisi-posisi yoga.

Setelah sebuah patung Buddha raksasa di Ayuthaya dihancurkan oleh Burma pada 1767, Raja Rama I mengumpulkan puing-puingnya dan membangun patung yang lebih besar serta memperluas kompleks Wat Pho ini.

Hampir sama dengan Grand Palace, di kompleks ini ada banyak bangunan dan kuil-kuil indah dengan warna-warna mencolok. Tapi sajian utamanya adalah patung Buddha—terbesar di Bangkok. Panjangnya 43 meter dan tingginya 15 meter, dengan hampir semua tubuhnya berwarna emas.

Di telapak kaki patung Buddha ini ada 108 simbol Buddha. Wat Pho juga dikenal sebagai tempat lahirnya Thai massage yang terkenal itu.

Tampaknya orang Buddha senang membuat patung Buddha dengan berbagai pose. Tak jarang patung-patung tersebut berukuran raksasa.

Saya jadi teringat patung Buddha raksasa yang saya lihat di Ngong Ping, Hong Kong, sekian tahun lalu—saat belum ada kamera digital alias masih harus cuci-cetak. *negatifnya manaa negatifnyaaa* 😛

Waktu sudah menjelang sore. Tadinya kami mau main ke Mah Boon Krong (MBK), satu mal di Bangkok yang terkenal di kalangan orang yang suka belanja suvenir murah meriah. Tapi akhirnya  kami memutuskan untuk main ke Khaosan Road yang jaraknya sekitar satu kilometer lebih dikit dari dua kompleks wat ini. Sebenarnya ada satu wat lagi—Wat Arun—dekat situ. Lokasinya di seberang dermaga Tha Tien tempat kami turun tadi pagi dari speed boat di sungai Chao Phraya. Tapi kami sudah capek liat wat.

Khaosan sebenarnya cuma seruas jalan biasa, tapi jalan ini sangat terkenal di kalangan backpacker yang mengunjungi Bangkok, sebab di sini banyak sekali penginapan murah, toko-toko suvenir murah, warung makan murah, dan semua yang bikin nyaman turis saat mengunjungi suatu negara. Saya cuma pengen tahu aja ada apa di sini. Beberapa sopir tuk-tuk yang kami cegat menolak tarif yang saya mau, jadi kami pun memutuskan berjalan kaki saja.

Setelah gempor jalan kaki dan sampai di Khaosan, saya jadi maklum kenapa backpacker kulit putih sangat betah di sini. Hedonisme mereka terpuaskan di tempat yang mata uangnya sangat berlimpah jika dikurskan dari mata uang negara mereka. Banyak di antara mereka yang leyeh-leyeh sepanjang hari, minum bir siang-malam, mabuk dan berkelahi setelah berdisko waktu malam, muntah-muntah di jalanan, dan pergi tidur saat pagi tiba. Mungkin juga mereka menyempatkan diri main ke Patpong—kawasan “lampu merah” di Bangkok…hehehe 😛 Setidaknya, kalau mengacu ke cerita beberapa teman yang pernah menginap di sini, begitulah gambaran Khaosan Road.

Di ujung jalan, saya sempat menukar uang dolar Singapura yang masih tersisa. Agak sebal juga saat melihat di depan saya ada seorang pemuda yang lagi menukar uang—cuma bertelanjang dada dan pakai celana pendek yang memamerkan setengah celana dalamnya yang berwarna merah muda. Alay banget deh…. 😛 Sayang, saya telat mengeluarkan kamera…hehehe!

Khaosan Road.

Setelah itu saya jalan-jalan di sepanjang Khaosan. Jalan ini dikuasai backpacker kulit putih, disusul orang-orang Jepang dan Korea, dan sesekali tampak orang kulit hitam. Banyak lelaki bertelanjang dada di sini. Tapi kenapa perempuannya nggak ada yang….ah, sudahlah! 😀 Di kanan-kiri jalan ini ada banyak toko suvenir, kaos oblong, kafe, restoran, hostel/hotel, dan macam-macam lagi. Pedagang makanan kaki lima, bahkan yang halal, juga cukup mudah ditemukan. Mereka biasanya menjual kebab, buah-buahan, dan lain-lain. Banyak hal yang serba murah di sini, dihitung dengan rupiah sekalipun…hehehe! 😀

Di Khaosan ini saya juga menemukan beberapa kios yang menjual buku-buku Lonely Planet (LP) bekas—dan bajakan. Harganya cukup miring dibandingkan jika beli buku aslinya yang rata-rata di atas Rp 250 ribu di toko buku. Saya sempat tergoda beli beberapa juga. Harganya cuma sekitar Rp 100 ribu kalau dirupiahkan. Tapi saya dengar beberapa buku LP di sini juga fotokopian. Beberapa buku LP yang saya lihat pun agak meragukan. Saya pun mengurungkan niat beli LP. Lagian ransel saya bakalan makin berat kalau kalap beli buku di sini.

Setelah melihat-lihat beberapa toko, saya sempat membeli sepotong kaos oblong keren….dan harganya cuma Rp 48 ribu! Padahal bahannya bagus lho, agak-agak elastis gitu malah. Berhubung harga segitu udah nggak bisa ditawar lagi, saya memutuskan untuk beli kaos lagi di MBK—yang konon harganya lebih miring.

Penjual mango sticky rice.

Tak sengaja, saya menemukan penjual mango sticky rice. Penasaran, saya pun mencobanya. Hitung-hitung makan malam deh. 🙂 Mango sticky rice ini adalah potongan-potongan mangga segar, dimakan dengan beras ketan yang rasanya manis. Harganya cuma 25 baht alias Rp 7.500 seporsi. Rasanya? Enaaak!! 😀

Saya sempat tanya-tanya polisi soal bus nomor berapa yang menuju MBK (no. 15). Tapi karena setelah setengah jam ditunggu bus itu tak lewat juga, akhirnya kami memutuskan pulang ke hotel karena hari menjelang magrib dan kaki sudah sangat gempor. Transportasi yang cepat dan bisa ditawar tentunya cuma tuk-tuk. MRT dan Skytrain belum mencapai kawasan ini.

Setelah menawar hingga 90 baht (Rp 27 ribu) menuju stasiun Hua Lamphong, sang sopir langsung melesat—berzig-zag di antara kendaraan-kendaraan lain, masuk-keluar gang, ngebut hingga nyaris nabrak orang berkursi roda yang sedang menyeberang jalan. Sepanjang perjalanan dengan tuk-tuk, saya ketawa senang, istri panik. 😛

Suasana Stasiun Hua Lamphong. Difoto dari lantai atas.

Akhirnya setelah 20-25 menit, kami tiba di Hua Lamphong dengan selamat. Rencananya kami akan membeli tiket kereta ke Surat Thani, lalu dilanjutkan dengan bus ke Krabi. Sial, saya kehabisan tiket sleeping train—kereta yang kalau malam bangkunya bisa dilipat menjadi ranjang. Padahal saya pengen banget cobain kereta tidur gitu, tapi karena belinya sehari sebelum berangkat, malah kehabisan.

Jadilah saya beli tiket second class yang berkipas angin. Lebih murah daripada sleeping train, cuma 398 baht (Rp 120 ribu) untuk perjalanan dari jam 19.30 – 07.00 esok harinya. Tapi kemudian si petugas di loket menawarkan joint ticket, yaitu tiket bus menuju Krabi dari Surat Thani. Provinsi Krabi memang belum dilewati jalur kereta api, sehingga untuk menuju ke sana harus naik bus dari Surat Thani. Harga joint ticket ini 250 baht (Rp 75.000).

Untuk hari ini rasanya sudah cukup. Lumayanlah bisa tidur agak lama malam itu.

(Bersambung)

Thai Times #2

Mejeng dulu di Suvarnabhumi 🙂

“When you travel, remember that a foreign country is not designed to make you comfortable. It is designed to make its own people comfortable.”

~ Clifton Fadiman

Touchdown Bangkok! Jam 16.50 waktu Thailand (sama dengan WIB) akhirnya kami tiba di Bandara Suvarnabhumi (orang Thai melafalkannya: suwarnabum). Bandaranya lumayan bagus. Yang jelas masih lebih bagus daripada Soekarno-Hatta. Untuk menuju pusat kota, kita tinggal turun ke lantai B1 dan naik MRT. Sambil turun terus ke bawah dengan elevator, saya melihat ada banyak kios agen wisata yang menawarkan bus atau van ke tempat-tempat lain di sekitar Bangkok, misalnya ke pantai Pattaya.

Sejak sebelum berangkat, saya sudah hafal peta pusat kota Bangkok. Saya bahkan tahu harus naik apa menuju ke mana sebelum berangkat ke Thailand, termasuk cara menuju hotel kami di kawasan stasiun kereta Hua Lamphong. Semua jadi lebih nyaman dengan persiapan yang cukup. Di bandara, setelah mencomot beberapa peta Bangkok yang boleh diambil gratis, kami membeli tiket kereta Airport Rail Link menuju Makassan City Air Terminal. Harganya 150 baht (Rp 45.000) seorang.

Berhubung hanya punya pecahan 1.000 baht (Rp 300.000) dan ticket vending machine hanya menerima uang pecahan 10, 50, dan 100 baht, kami beli minuman dulu di 7 Eleven dekat pintu masuk ke stasiun, biar ada recehan. Setelah membeli tiket nanti kita akan mendapatkan token—keping plastik bulat yang berfungsi sebagai tiket. Tinggal ditempelkan saja di electronic reader saat mau masuk ke stasiun awal dan masukkan ke lubang di stasiun tujuan.

Pemandangan yang langsung membuktikan bahwa Thailand adalah negara yang dikunjungi 12 juta turis setahun adalah kereta dari bandara yang penuh dengan backpacker waktu itu. Ransel-ransel mereka banyak yang lebih besar daripada backpack saya. Bahkan ada beberapa bule yang bawa backpack gede sampai dua segala, depan-belakang. Saya perkirakan dua ransel model gitu ukurannya minimal 100 liter. Kalau terisi penuh, beratnya minta ampun dan merepotkan (buat saya), mungkin 20kg lebih. Biasanya backpacker yang begini jalan-jalannya lama, berminggu-minggu atau bahkan sampai bertahun-tahun (!). Kalau punya banyak duit dan waktu, saya juga bisa gitu kok. *mimpi*

Sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di stasiun Makassan. Dari sini kami kami harus menyambung dengan MRT di stasiun Phetchaburi. Waktu saya bertanya ke petugas stasiun, dengan sangat ramah dia bahkan mengantar saya sampai ke dekat pintu keluar dan menunjukkan arah ke stasiun itu. Ternyata kami harus keluar dulu dari Makassan City Air Terminal, berjalan sekitar 200 meter melalui perlintasan kereta, menemukan stasiun MRT Phetchaburi, dan turun di stasiun Hua Lamphong. Stasiun yang terakhir ini tersambung langsung dengan stasiun kereta utama Hua Lamphong—semacam stasiun besar Gambir kalau di Jakarta. Hotel kami terletak di seberang gerbang depan stasiun ini.

Hotel kami.

Nama hotelnya pun mirip: @Hua Lamphong. Kami tiba sekitar jam 6-an sore. Sebenarnya tarif hotel ini agak mahal, sekitar Rp 200 ribu/hari untuk double bed. Pertimbangan saya, lokasi hotel ini sangat dekat dengan stasiun Hua Lamphong, sehingga kami bisa dengan mudah naik kereta ke kota lain dari Bangkok. Rencananya memang kami hanya akan tinggal dua hari di Bangkok, lalu lanjut ke Krabi naik kereta. Ada sih hotel, hostel, atau guesthouse yang lebih murah, berkisar 100 ribu atau kurang per malam, misalnya di Khaosan Road, tapi daerah itu belum dijangkau oleh jalur MRT ataupun Skytrain (sebutan monorel di Bangkok).

Sore itu kami mendapat kamar di lantai 5. Sialnya, nggak ada lift! Walhasil kami harus ngos-ngosan naik tangga sampai ke kamar. Tapi setelah sampai di kamar, kondisinya tidak mengecewakan. Kamar mandi bersih, TV, AC, dan kulkas kecil.

Si ibu penjual pancake.

Setelah mandi dan leyeh-leyeh sebentar, kami jalan-jalan di sekitar hotel. Banyak warung kaki lima di sepanjang trotoar, sayang nggak ada tulisan huruf latinnya, dan tak ada label halalnya. Setelah satu jam kurang, kami memutuskan kembali ke hotel.  Jangan lupa, saat itu masih hari yang sama dengan saat kami jalan-jalan di Singapura, jadi ya kami masih capek. 🙂 Di trotoar dekat hotel, ada seorang ibu berwajah Thai campur Arab yang menjual pancake.

Sederhana, tapi kok enak banget ya….

Saya beli dua pancake pisang seharga 30 baht (Rp 15.000). Saya juga bertanya soal di mana kami bisa mencari makanan halal. Si ibu menunjuk ke arah stasiun. “Di daerah dekat stasiun ada beberapa. Di dalam stasiun juga ada,” katanya dengan bahasa Inggris patah-patah. Setelah itu kami membeli beberapa botol air minum di sebuah minimarket. Lumayan kan, bisa didinginkan dulu semalaman di kulkas di kamar. Jalan-jalan di Bangkok bakal menyiksa tanpa banyak air minum. Setelah makan pancake di kamar (enak banget ternyata!), jam 9 kami sudah siap tidur.

***

Kamis, 23 Agustus 2012

Paginya, setelah sholat Subuh, jam 06.00 kami sudah mandi dan siap jalan-jalan. Agenda hari itu adalah main ke Grand Palace, Wat Pho, dan Khaosan Road. Grand Palace adalah kompleks bangunan istana yang indah, yang berfungsi sebagai kediaman resmi raja-raja Thailand dari abad ke-18 dan seterusnya. Wat Pho adalah kompleks kuil Buddha dengan patung reclining Buddha (Buddha berbaring) yang sangat besar. Sementara yang terakhir adalah nama jalan paling ngetop di Bangkok di kalangan backpacker. Banyak barang-barang murah di Khaosan—suvenir, kaos oblong, Lonely Planet bekas (dan bajakan), money changer, warung makan, dan banyak lagi.

Dengan berbekal peta Bangkok dan Lonely Planet, pagi itu kami jalan kaki ke dermaga Ratchawong di tepian sungai Chao Phraya. Kalau dikira-kira sih, sekitar 30 menit jalan kaki seharusnya sudah sampai di dermaga itu. Saat itu kami berjalan melalui Chinatown—kawasan pecinan di Bangkok yang banyak jalan kecil dan gang. Gara-gara nggak ketemu juga itu dermaganya, terpaksalah kami naik tuk-tuk. Awalnya si sopir yang menghampiri saya menawarkan jasanya. Dia menyebut angka 60 baht (Rp 18.000).

“Masih jauh kalau jalan kaki. Kalau naik itu, Anda harus bayar 40 baht per orang,” katanya sambil menunjuk sekumpulan tukang ojek. Setelah adu sombong dan adu gengsi, saya berhasil menawar sampai 30 baht saja (Rp 9000). Akhirnya dia mau. Tuk-tuk adalah semacam becak motor di Bangkok. Modelnya lucu dan rame berwarna-warni. Dan yang paling top: sopirnya selalu ngebut! *kayak saya* 😛 Orang bule mungkin bakal shock saat pertama kali naik tuk-tuk, tapi buat kita yang negaranya mirip-mirip Thailand, tuk-tuk sih sepotong kueee piece of cake! 😛 Jadi, sementara istri saya teriak-teriak panik, saya jerit-jerit kesenengan. 😀

Untuk naik kendaraan yang satu ini  memang harus nawar dulu. Itu pun sebaiknya kita sudah tahu perkiraan jarak ke tujuan. Tawarlah sampai sekitar 50% atau bahkan lebih. Kalau sopirnya menolak, ya tinggal saja. Kalau belakangan kita dipanggil lagi, artinya dia setuju dengan tawaran kita. Kalau naik bus kota, kesulitannya adalah semua tulisan ditulis dalam aksara Thai. Yang terbaca hanya nomor rute busnya. Bisa juga tanya-tanya orang di jalan—ini pun butuh kesabaran karena umumnya orang Thai tak bisa berbahasa Inggris dengan baik, aksennya pun kadang rada aneh dan sulit dimengerti.

Tuk-tuk 🙂

Dibandingkan bajaj di Jakarta yang suaranya berisik, naik tuk-tuk rasanya lebih asyik. Tarikannya enteng macam motor bebek baru, tempat duduk untuk penumpang pun lega. Keringat bisa langsung hilang setelah angin-anginan pakai kendaraan satu ini….hehe! Ternyata naik tuk-tuk ke dermaga itu tak sampai 10 menit. Ini cuma gara-gara nyasar di Chinatown aja. 🙂

Hanya menunggu 5 menit di dermaga, datanglah perahunya. Kalau tak salah, ada dua macam speed boat, yang ekspres dan yang biasa. Lebih aman, tanyalah petugas di tepi dermaga, sebutkan tujuan, dan dia akan dengan ramah menunjukkan di mana kita harus menunggu perahu. Naik perahu ini bayarnya pas kita udah naik. Ongkosnya tergantung jarak. Waktu itu saya cukup bayar 15 baht (Rp 4.500) per orang ke tujuan kami, dari dermaga Ratchawong ke Tha Tien. Saya perhatikan, kalau “kondektur”nya lupa nagih, boleh juga kita nakal sedikit dengan pura-pura nggak lihat…hehehe! *jangan ditiru* 🙂 Naik perahu begini sangat menyenangkan di tengah suhu kota Bangkok yang panasnya sekitar 33-34 °C. Embusan angin terasa segar di tengah sungai yang airnya cokelat namun bersih dari sampah.

Serunya naik perahu di Chao Phraya 🙂

Sekitar 15 menit kemudian kami tiba di dermaga Tha Tien—dermaga terdekat dengan kompleks Grand Palace dan Wat Pho. Di sekitar dermaga ada pasar dan banyak juga kios yang menjual suvenir dan warung makan. Berhubung belum sarapan, kami pun mencari makanan di sekitar situ. Tak sengaja, kami menemukan satu warung yang ada label halalnya. Menunya nasi goreng dan padthai. Karena harganya agak mahal, 60 baht (Rp 18.000) per porsi, saya pesan satu porsi padthai saja untuk dimakan berdua. Untunglah porsinya banyak.

Padthai 🙂

Padthai adalah sejenis kwetiauw ala Thailand, dimasak dengan berbagai macam sayuran, tauge, potongan wortel, dan kalau mau spesial bisa ditambah telur dan potongan daging ayam. Yang jelas rasanya sangat Thai: ada manis-asem-pedas gitu. Rasanya lumayan lah. Tapi saya pribadi tak terlalu memfavoritkan menu ini, lebih karena asemnya itu. Kalau pedasnya kurang, bisa tambah cabe bubuk yang sepertinya selalu ada di setiap warung kaki lima di Thailand.

Saat sedang makan, ada sekelompok turis Indonesia yang lewat dipandu tour guide. Si pemandu ini malah menyapa kami dengan assalamualaikum dan menyalami saya. Walau bahasa Indonesianya bagus, saya tebak orang ini orang Thailand, karena bahasanya Indonesianya cenderung formal, ber-Anda-Anda-ria, dan selintas ada aksen yang aneh. Kalau soal wajah sih ya Asia Tenggara banget. 🙂 Si pemandu sedang menggiring kelompok turis tadi untuk beli tahu goreng khas Thailand di depan kami. Tapi tahunya mahal, 20 baht (Rp 6.000) satunya.

Trotoar yang ini adalah sisi kanan kompleks Grand Palace (kalau dilihat dari arah pintu masuknya, di ujung sana terus belok kanan). Kami dihadang scammers di sini.

Kenyang makan, kami melanjutkan perjalanan. Kompleks Grand Palace dan Wat Pho langsung terlihat tak lama kemudian. Yang paling dekat dengan dermaga adalah kompleks Wat Pho, tapi kami memilih untuk mencari pintu masuk Grand Palace dulu.

Saat itu kami berjalan di sisi kanan (kalau dilihat dari arah pintu masuk Grand Palace), tapi di bagian yang dekat dengan sisi dinding Grand Palace, bukan di seberangnya—yang banyak pedagang kaki lima (lihat foto). Tiba-tiba, dua orang pria mencegat kami. Salah satunya menyapa ramah, dengan senyum licik. Yang satu lagi agak galak, sambil bilang, “Stop! Grand Palace is closed!” katanya sambil menunjukkan kartu pengenal bertulisan Tourist Police dari sakunya. Saya langsung waspada dan sadar bahwa kami mungkin akan ditipu. Tapi saya baru tahu ada modus pakai kartu identitas palsu segala.

“Hello, where are you from? Malaysia?” kata yang pertama setelah melirik istri saya yang berjilbab.

No, Indonesia,” jawab saya. Saya teringat blog-blog dan buku-buku panduan yang pernah saya baca. Di tempat-tempat wisata seperti Grand Palace ini, banyak scammer (penipu) yang mencoba mengalihkan turis ke tempat-tempat lain dengan naik tuk-tuk atau taksi. Dalam kasus Grand Palace ini, saya hafal sekali bahwa penipu macam ini akan bilang bahwa Grand Palace tutup karena sedang dipakai untuk ibadah, baru buka jam 3 sore, lalu dia akan menawarkan rute melihat kuil-kuil lain atau “pameran” perhiasan. Kenyataannya, turis nantinya akan dipanggilkan tuk-tuk yang akan membawa ke toko-toko perhiasan. Si penipu dan sopir tuk-tuk ini akan mendapat persenan kalau turis mau beli perhiasan di toko-toko tertentu.

“You bring map? Let me show you other interesting places.” Si penipu kemudian mencorat-coret peta saya.

Saya cuma cengengesan sambil bilang ke istri, “Asyik nih, kita lagi ditipu!” Tapi saya ladeni dulu usaha si penipu. Yah, sedikit menghargai usaha orang lain lah….hahaha! 😀 Tapi Anda nggak usah takut. Posisi penipuan itu di daerah ramai orang kok, walau saat itu kami berada di sisi trotoar yang lengang. Tapi di seberang jalan sangat ramai. Mereka hanya mencoba menipu turis. Rasanya saya belum pernah dengar mereka mencoba menggunakan kekerasan fisik.

“So, where you want to go?” si penipu selesai mencorat-coret, mungkin juga sambil bersiap memanggilkan tuk-tuk.

Saya jawab, “Ya sudah, kalau tutup, saya balik lagi aja nanti.”

“Hei, jangan lewat sana! Lagi ada ibadah.”

“Ya sudah, saya mau ke Khaosan Road aja!”

“Khaosan Road? Tapi di sana juga tutup!”

“Tutup apaan?? Saya kan nginep di Khaosan Road!”

Pria yang satu lagi mencoba nimbrung, tapi langsung dicegah sama temannya tadi. Dalam bahasa Thai, dia tampak sangat murka. Kayaknya dia ngomel-ngomel, “Udah, biarin aja! Ni orang keras kepala, gak bisa ditipu!” *sok tau bahasa Thai*

Saya dan istri cepat-cepat menyingkir dari situ, sambil maki-maki dan ketawa-ketiwi. 😀

(Bersambung)

Thai Times #1

Backpacking ke 3 negara cukup bawa ini aja 🙂

“Traveling…it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.”

~ Ibnu Batutah (“backpacker” & travel writer abad ke-14)

Namanya pegawai swasta, jatah cuti sangat terbatas. Jadi saya harus bisa pintar-pintar mengatur waktu supaya hobi backpacking saya tidak terganggu. Untunglah libur Lebaran tahun ini harinya sangat enak: Idul Fitri jatuh pada 19-20 Agustus 2012. Itu hari Minggu dan Senin. Puasa sudah, sholat Ied sudah, silaturahim dengan keluarga sudah. Di TV beritanya juga cuma soal macet melulu. Tempat-tempat publik juga pasti sangat ramai karena semua orang liburnya bersamaan. Duh, membosankan! Jadi, mau apa lagi? Jawaban saya sudah jelas: backpacking! 🙂

Lagi pula, ini pertama kalinya saya bisa ngetes backpack Rei ukuran 50 liter saya untuk pertama kali, setelah selama ini cuma gendong ransel kecil yang sehari-hari juga dipakai buat ngantor itu. 🙂

Jadi, hari Selasanya saya dan istri memilih terbang ke Thailand buat backpackingyahooo!! Sebelum berangkat, sejak 2,5 bulan sebelumnya saya sudah memesan semua tiket pesawat, hotel, dan bus dari Hatyai ke Kuala Lumpur. Entah ada hubungannya atau tidak, agak susah dapat tiket pesawat langsung ke Thailand yang harganya rada murah di bulan Agustus atau sekitar hari raya Idul Fitri.  Jadi saya sengaja cari rute yang bisa transit di sana-sini agar tiketnya bisa rada murah dikit. 🙂 Jadilah saya beli 3 tiket pesawat: Jakarta-Singapura, Singapura-Bangkok, dan Kuala Lumpur-Bandung.

Supaya tidak rugi transit di satu negara, saya memilih jeda waktu yang agak panjang saat transit di Singapura dan KL. Lumayan kan jalan-jalan seharian di sana? 🙂 (FYI, mulai September Mandala membuka rute Jakarta-Bangkok langsung). Tiket Jakarta-Singapura sekitar Rp 250 ribu per orang dengan Jetstar. Tiket dari Singapura ke Bangkok sendiri sekitar Rp 600 ribu per orang dengan pesawat Tiger Airways.

Kami tiba di Singapura tengah malam jam 00.50 waktu lokal. Setelah lewat pemeriksaan imigrasi, saya langsung menyesal karena tampaknya spot untuk tidur lebih nyaman di area transit sebelum keluar dari imigrasi. Tapi setelah iseng-iseng naik Skytrain (= monorel di kawasan Bandara Changi) bolak-balik ke terminal 2 dan 3, saya kembali ke Terminal 1 dan menemukan banyak tempat duduk kosong di luar departure lounge dan banyak pula orang yang tidur di sekitar situ. Dan setidaknya di area ini tak terlalu ramai seperti di area dalam imigrasi.

Karena lupa membawa jaket, saya mengeluarkan sarung untuk sedikit melindungi tubuh karena AC di sini lumayan dingin. Backpack yang cuma berisi baju saya jadikan bantal. Pukul 05.30 saya bangun. Setelah cuci muka dan sikat gigi (istri saya malah sempat mandi pakai shower WC gitu :P), kami mencari mushola, namun ternyata mushola hanya ada di bagian dalam departure lounge. Terpaksalah kami sholat di samping kursi tempat kami tidur tadi.

Walaupun terhitung transit, saya punya misi khusus di Singapura kali ini: mengunjungi taman indah yang baru dibuka di Singapura: Gardens by the Bay. Gardens by the Bay adalah wahana baru Singapura yang baru dibuka sekitar akhir Juni lalu. Sebuah taman raksasa seluas 101 hektar di kawasan Marina Bay. Setelah sarapan kari ayam dan laksa di area bandara, sekitar jam 06.30 kami pun keluar. Lebih tepatnya, turun ke stasiun MRT di bawah Terminal 2.  Sebelumnya, saya menitipkan backpack kami di bagian Left Luggage di Terminal 2—biayanya SGD 6 untuk dua tas besar selama 24 jam. Saya juga masih punya kartu EZ Link, biar praktis ke mana-mana naik MRT.

Sekitar 40 menit kemudian, saya tiba di stasiun Bayfront. Keluar dari stasiun, di sebelah kiri tampak gedung Marina Bay Sands yang terkenal itu. Dan di sebelah kanan pintu keluar langsung tampak pohon-pohon artifisial berukuran raksasa yang menjadi ikon utama Gardens by the Bay. Dari jauh, taman raksasa itu sudah tampak menakjubkan.

Gardens by the Bay, Singapura.

Gardens by the Bay adalah bagian integral dari proyek pemerintah Singapura untuk mengubah tata kota negara itu dari “Garden City” (Kota Taman) menjadi “City in a Garden” (Kota di Dalam Taman). Itu semua ditujukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan di perkotaan. Taman besar itu juga dibangun untuk menjadi ruang terbuka publik terbesar di Singapura dan ikon negara-kota tersebut.

Pemandangan ke arah Singapore Flyer dari Dragonfly Bridge, gerbang Bay South, Gardens by the Bay.

Gardens by the Bay dibagi menjadi dua bagian: Bay South dan Bay East. Memang masih ada area yang belum selesai dibangun, tapi itu tak mengganggu bagian-bagian lain yang bisa dinikmati pengunjung. Dari arah stasiun MRT Bayfront, pengunjung taman ini akan langsung diarahkan ke area Bay South—area ini gratis dan buka pukul 05.00 sampai 02.00 dini hari. Dari pintu masuk, pengunjung akan menyeberangi jembatan di atas danau buatan yang dinamakan Dragonfly Lake. Setelah itu, pengunjung akan menemukan Supertrees—media berupa tiang-tiang yang dibentuk menyerupai pohon, kemudian jutaan flora langka dan flora yang masuk dalam daftar konservasi ditempatkan di tubuh “pohon” tadi.

Pohon-pohon artifisial yang surealis itu 🙂

Sekitar 11 Supertrees menjulang ke angkasa. Pemandangan semacam ini terasa surealis dan mengingatkan saya pada film Avatar dengan pohon-pohon raksasa setinggi dan sebesar gedung belasan lantai. Dengan membayar SGD 5, Anda bisa naik lift di salah satu pohon yang disambungkan dengan jembatan ke sebuah pohon lain. Dari atas, Anda bisa melihat pemandangan taman dan sebagian kota.

Taman ini keren banget buat yang suka fotografi dan punya kamera bagus (gak kayak saya) 😛

Pada malam hari, Supertrees—yang di tubuhnya juga dipasangi lampu-lampu hias—akan menyala terang dan menciptakan pemandangan spektakuler. Di sekitar situ juga ada area Heritage Garden, sebuah theme park yang akan membawa pengunjung menikmati kebun dengan nuansa sejarah dan budaya tiga etnik besar di Singapura: Melayu, Cina, dan India.

Setelah itu, saya sampai di area Cloud Forest dan Flower Dome. Untuk masuk ke kedua wahana itu, pengunjung harus membayar tiket yang sangat mahal: SGD 28 per orang (sekitar Rp 205.000). Setelah merenung dan mengamati dompet sejenak, akhirnya saya memutuskan untuk membeli tiket. Pikir saya, ya sudahlah, tak apa kalau hanya untuk sekali seumur hidup.

Air terjun buatan menyambut pengunjung di pintu masuk Clod Forest.

Gedung Cloud Forest didesain ala suasana pegunungan tropis berketinggian 1.000-3.500 meter. Di pintu masuk, pengunjung akan disambut dengan air terjun artifisial dan embusan angin sejuk yang disetel pada suhu belasan derajat Celcius. “Gunung” buatan ini bisa dijelajahi dengan lift, tangga, atau cukup berjalan kaki di sepanjang jalur yang ada. Dinding-dinding di bagian dalam dipenuhi gambar-gambar berisi informasi tentang lingkungan hidup.

Di dalam “gunung”, ada area bioskop mini bernama +5, tempat pengunjung disuguhi film dokumenter berdurasi sekitar 5 menit yang terus diulang dengan jeda 15 detik. Pesan film tersebut adalah tentang pemanasan global alias global warming—suhu Bumi diperkirakan akan naik 5 derajat Celcius selama abad ke-21 ini dan bagaimana dampaknya pada kehidupan di planet kita.

Bioskop +5. Keren, gambarnya juga “ditembak” dari atas ke lantai di depan layar 🙂

Menariknya, di ruangan ini gambar juga ditembakkan dari atas, sehingga area di depan layar pun ikut menjadi media yang menciptakan gambar-gambar yang memanjakan mata. Dari Cloud Forest, saya lanjut ke Flower Dome yang desain interiornya spektakuler. Ini adalah taman bunga yang menampilkan ribuan panel yang diisi ribuan jenis bunga dan pohon dari berbagai wilayah dunia.

Di Bay East, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan tropis, danau buatan yang luas, taman bunga, area jalan-jalan, hingga lokasi piknik dengan pemandangan perairan Marina Bay yang indah. Area bagian timur ini cocok digunakan sebagai tempat nongkrong dengan teman, bersantai bersama keluarga, atau bahkan melakukan aktivitas olahraga seperti jogging dan bersepeda.

Ini dia yang namanya Flower Dome.

Kalau jalan-jalan santai model begini, sudah pasti kita akan dehidrasi kalau tak banyak minum. Untunglah Singapura adalah negara yang menyediakan air di tempat-tempat publik yang bisa langsung diminum. Jadi, saran saya, jangan lupa bawa  botol kosong dan cari tempat-tempat yang mirip wastafel di area taman ini untuk mendapatkan air minum gratis. Di Bandara Changi sendiri sebelumnya saya sudah mengisi botol sampai penuh buat bekal. Di Gardens by the Bay ini juga ada. Lumayanlah, daripada beli. 🙂

Ngisi botol minum dulu di bandara 🙂

Sambil ngaso di bawah rindangnya pohon-pohon dan minum air gratisan tadi, saya melamun soal taman ini. Singapura sialan, batin saya. Mereka bahkan bisa mengemas taman menjadi tujuan wisata yang mengagumkan. Padahal konsepnya lumayan sederhana, hanya memang eksekusinya total dan serius.

Apakah Anda sekadar transit atau memang menghabiskan beberapa hari di Singapura, Gardens by the Bay ini wajib dikunjungi. Sebagian besar areanya gratis, hanya Cloud Forest dan Flower Dome yang memungut bayaran kalau mau masuk. Itu pun saat kita keluar dari kedua wahana itu, tangan kita akan dicap khusus yang bisa dilihat hanya dengan senter infra merah dan kita diperbolehkan kembali masuk pada hari yang sama. Jadi, kalau dana cekak, jalan-jalan di Bay South dan East saja udah lebih dari cukup bikin kaki gempor. Tapi puas kok! 🙂 Kalau masih ada waktu, jalan kaki dari sini ke Merlion Park (yang ada patung singa itu) juga dekat. Paling jalan sekitar 30 menit lah. Itu pun kalau nggak berhenti-berhenti dulu buat foto-foto narsis…hehehe. 😛

Tak terasa, sudah jam 1 siang. Sebenarnya waktu itu saya berencana mengunjungi Botanic Park dan taman-taman lain di Singapura (yang gratisan). Tapi berhubung sudah capek dan saya perkirakan waktunya ngepas buat sampai di bandara untuk ambil tas, naik shuttle bus ke Budget Terminal, check-in, dan makan siang, saya putuskan untuk kembali ke bandara dari Gardens by the Bay.

Pukul 15.30, Tiger Airways yang kami tumpangi terbang ke Bangkok, Thailand. Penerbangan ini akan makan waktu 2,5 jam.

(Bersambung)

NB: Ini saya kasih bonus foto-foto keren Gardens by the Bay. Apa artinya taman cantik kalau tak difoto? 🙂

Satu pemandangan di Cloud Forest.

Gardens by the Bay dengan latar gedung Marina Bay Sands.

Supertrees dengan latar belakang gedung Marina Bay Sands.

Flower Dome yang megah 🙂

Di dinding-dinding Cloud Forest banyak gambar dan info soal lingkungan hidup.

Pohon baobab asal Afrika. Yang disebut-sebut di buku “Little Prince”-nya Saint-Exupery itu 🙂

Dragonfly Lake.

Salah satu sudut taman.

Toko suvenir. Di sini sih mahal-mahal. Saya cuma beli magnet kulkas satu aja. 😛