Tag Archives: traveling

Balada Ukraina #28

Tak sampai dua minggu setelah mendapat pengawal pribadi, saya dapat jatah libur lagi karena di sekolah akan diadakan ujian. Jelas saja saya pengen jalan-jalan lagi. Untuk hal-hal begini, Nastya adalah orang yang paling tepat untuk dihubungi. Sabtu pagi jam 10, kami janjian ketemu di Globa Park, taman kota yang lokasinya tak jauh dari apartemen saya.

Sebenarnya saya masih agak khawatir berkeliaran di ruang publik begini. Sejak peristiwa diludahi tempo hari itu, saya mengurangi acara jalan-jalan sendirian di jalanan, kecuali kalau ada teman-teman yang menemani. Bagaimana kalau nanti saya apes karena geng rasis yang dihajar Vova itu tiba-tiba lewat dan saya sedang sendirian? Sudah jelas saya satu-satunya orang Asia Tenggara di Dnipro. Satu-satunya yang berkulit sawo matang. Mudah sekali dikenali, walaupun orang yang buta dunia akan menyangka saya orang Afrika.

Saya memasang kupluk jaket saya dan duduk di bangku di bawah sebuah pohon rimbun di dekat pintu masuk.

Sepuluh menit kemudian, saya melihat sebuah sedan biru berdecit berhenti di seberang jalan tak jauh dari pintu masuk. Itu jelas Nastya. Anak satu itu nggak pernah bisa nyetir pelan-pelan, rutuk saya dalam hati. “Hei! Ayo, naik!” Nastya berseru dari jendela. Saya berlari kecil menyeberang jalan.

“Apa kabar?” sapa Nastya riang begitu saya menutup pintu.

I’m good…and I need vacation!” balas saya.

Nastya hanya tertawa.

“Mau ke mana kita?” tanya saya begitu Nastya tancap gas.

“Ke Coffee Life. Ada rapat sama teman-teman di sana.”

Coffee Life adalah sebuah kafe tempat anak-anak AIESEC biasa nongkrong untuk rapat atau sekadar mojok. Letaknya strategis, di Gagarina Street, dikelilingi beberapa kampus besar di kota Dnipro. Di mobil, saya kemudian menyinggung tentang rencana main ke Donetsk, kota tetangga yang jaraknya sekitar tiga jam naik kereta dari Dnipro.

Setelah serangkaian peristiwa rasis di jalanan dan kebandelan anak-anak di sekolah, menghilang selama beberapa waktu dari Dnipropetrovsk sepertinya gagasan bagus. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan saya tidak perlu terlalu khawatir akan ketemu lagi dengan geng yang dihajar Vova malam itu. Ke mana pun oke.

“Kau tahu sendiri, kan, anak-anak AIESEC di Donetsk sangat akrab dengan kami di Dnipro. Jadi pastinya kau akan diurus dengan baik di sana,” kata Nastya.

Terang saja saya langsung mengiyakan. Lagi pula, jalan-jalan seperti ke Kiev kemarin itu sangat irit. Tak perlu menginap di hotel, sudah ada teman yang mengantar berkeliling, dan siapa tahu ada yang kasih makan…hehehe! Lagian, beberapa teman yang waktu itu kenalan sama saya di acara LCC tempo hari juga sudah mengundang saya ke Donetsk.

Di Coffee Life, sementara teman-teman saya rapat, saya memilih mojok sambil baca buku, minum cokelat hangat, dan makan croissant. Beberapa teman yang jarang saya lihat mengajak ngobrol sebentar sebelum bergabung dengan Nastya untuk rapat. Mereka semua sudah mendengar tentang insiden malam itu ketika saya diludahi dan Vova menghajar sebagian dari orang-orang brengsek itu.

Setelah rapat selesai, setengah jam lebih kemudian, Nastya mendekati meja saya.

“Beres! Aku sudah menelepon teman-teman di Donetsk. Kau bisa ke sana Rabu nanti. Minta tolong sama yang lain ya untuk beli tiket kereta,” kata Nastya.

“Oh, masih lama ternyata?”

“Kami butuh kau hari Selasa. Ada acara diskusi tentang intercultural relation and communication di kampus. Nanti kau akan dihubungi. Oke?”

“Heh? Aku disuruh ngapain?”

“Paling cuma disuruh ngomong semaumu…hahaha! Sudah, ya! Aku pergi dulu!” Nastya pamit dan kabur dengan sedan birunya.

Haduh, cewek satu itu selalu terburu-buru.

Di kafe itu saya bertemu lagi dengan beberapa teman anggota baru yang kemarin ikut acara LCC. Sepulang rapat, lima orang anak baru mengajak saya jalan-jalan ke sebuah taman kota, Park Shevchenko, yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari kafe.

Nongkrong bareng teman-teman di tepian Sungai Dnipro.

Nongkrong bareng teman-teman di tepian Sungai Dnipro.

Suhu hari itu sekitar 10° Celcius. Masih sangat dingin buat saya, apalagi karena saya tidak lagi memakai jaket musim dingin. Hanya kaos, sweater, dan jaket katun berkupluk. Tapi karena banyak berjalan kaki, tubuh terasa lebih hangat.

Nama Park Shevchenko bukan didedikasikan untuk pesepakbola top Ukraina, Andrey Shevchenko, melainkan untuk Taras Shevchenko—sastrawan dan pujangga kebanggaan masyarakat Ukraina. Saya baru pertama kali main ke taman ini, padahal jaraknya tak jauh dari sekolah tempat saya mengajar.

Park Shevchenko, difoto dari Monastyrsky Island.

Park Shevchenko yang menghijau di musim semi.

Dari Park Shevchenko, ada jembatan langsung untuk menyeberang ke Monastysrky Island, sebuah pulau kecil di Sungai Dnipro yang lebar itu. Saya pernah ke sini sebelumnya, tapi waktu itu malam hari dengan teman saya Nikita yang sama-sama mengajar di Big Ben, kursus bahasa Inggris tempat saya bekerja di malam hari.

Saat hari menjelang sore, rombongan kami berpisah karena ada keperluan sendiri-sendiri. Semua, kecuali saya dan Tanya. Kami berjalan-jalan di Monastysrky dan di sepanjang tepian sungai. Berfoto selfie dan saling bercerita tentang diri dan negeri kami masing-masing.

Nama Tanya (atau Tania) di negara-negara berbahasa Rusia biasanya adalah nama panggilan untuk Tetyana atau Tatyana. Dia tertawa ketika saya bilang kata “tanya” dalam bahasa Indonesia artinya “ask“.

Selfie bareng Tanya.

Selfie bareng Tanya.

Cewek cantik ini kuliah di National Metallurgical Academy of Ukraine, mengambil jurusan Sastra Inggris. Kampusnya ternyata juga tak jauh dari sekolah saya. Masih anak sekitar situ lah…hehehe! Belakangan, Tanya akan jadi salah satu sahabat saya di Dnipro. Bahkan nantinya kami digosipkan berpacaran saking akrabnya…hahaha!

Tiba di apartemen, walau lelah, saya sudah bisa melupakan kejadian-kejadian tak mengenakkan yang menimpa saya beberapa waktu terakhir ini. Teman saya kini bertambah.[]

(Bersambung)

Nongkrong di Hong Kong #5

Nasi rames @HKD 15. :)

Nasi rames @HKD 15. 🙂

Minggu Pagi di Victoria Park. Ini bukan cuma judul film Indonesia yang dibintangi Titi Sjuman dan Lola Amaria, tapi di situlah kami berada Minggu pagi itu. Setelah membeli dua bungkus nasi rames lauk telur dan ayam goreng di Warung Chandra, kami memutuskan sarapan di Victoria Park yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari warung Chandra.  Setiap Minggu, taman kota terbesar di Hong Kong ini disesaki TKW asal Indonesia.

Di Hong Kong berlaku peraturan libur sehari dalam seminggu bagi para domestic helper (sebutan bagi PRT asing di sini). Kebanyakan memilih hari Minggu sebagai hari liburnya, sehingga atmosfer Indonesia akan sangat terasa di hari itu. Dengan mudah kita akan menemukan ribuan TKW berkumpul di Victoria Park atau ber-window shopping di Causeway Bay.

Pernah ada joke yang bilang, artis Indonesia pun bakalan minder bila bertemu dengan para TKW di Hong Kong. Pakaian dan cara mereka berdandan tak beda dengan penduduk Hong Kong umumnya: modis dan keren. Tak ketinggalan, ponsel model terkini dalam genggaman mereka. Logat Jawa yang kental kerap terdengar ketika sedang berjalan di kawasan tersebut.

Kebanyakan TKW di Hong Kong berasal dari Jawa Timur dan Tengah. Dulu, sekitar 10 tahun lalu, para TKW di Victoria Park ini banyak yang gelar lapak, berjualan makanan, piknik, sementara yang lain duduk-duduk beralas koran. Pemandangannya jadi mirip pasar tumpah di Boulevard UGM ataupun Unpad Jatinangor di hari Minggu. Pemerintah Hong Kong memang pernah mengeluhkan taman kotanya yang kotor penuh sampah setiap Minggu. Sekarang pemerintah  melarang siapa pun berdagang tanpa izin di taman kota itu. Tentu saja, kegiatan lain seperti arisan, pengajian, kongkow-kongkow, dan banyak lagi tetap dibolehkan. Yang jelas, dilarang nyampah seenak udel. Di Hong Kong, buang sampah sembarangan, meludah, dan merokok di ruang publik dendanya mencapai HK$ 1.500 alias lebih dari Rp 2 juta.

Victoria Park. Gak berani motret yang gothic. :P

Victoria Park. 10 tahun yang lalu tempat ini mirip pasar kaget saat hari Minggu. 😛

Komposisi warga negara asing di Hong Kong yang penduduknya lebih dari 7 juta jiwa ini sangat beragam. Warga Indonesia kini tercatat sebagai warga negara asing terbanyak, yaitu lebih dari 150 ribu orang, yang sebagian besarnya adalah para TKW (nyaris semua TKI di sini wanita).

Di Hong Kong, hukum yang mengatur kesejahteraan para tenaga kerja asing (termasuk Indonesia) tampaknya relatif kuat dibandingkan negara-negara Asia lain. Jarang sekali terdengar kasus penganiayaan terhadap PRT oleh majikannya, seperti yang sering terjadi di Timur Tengah. Konon, gaji para TKI di Hong Kong menempati peringkat keempat gaji tertinggi di Asia, setelah Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Tahun 2013 saya dengar gaji TKW di sini mencapai Rp 6 juta.

Di pintu masuk taman, ada beberapa kelompok TKW yang asyik nongkrong dengan kelompoknya masing-masing. Ada yang berpakaian menor tapi masih normal, ada kelompok yang berpakaian serba hitam ala gothic yang seram dengan celak hitam di mata dan rambut jabrik, ada juga yang bergaya K-Pop gagal. 😀

Habis sarapan sekaligus makan siang itu, kami memutuskan jalan ke Ngong Ping. Menuju ke sana sangat mudah. Kami tinggal naik MTR ke stasiun Tung Chung di Pulau Lantau. Saat kereta sudah keluar dari Pulau Hong Kong, posisinya tidak lagi berada di bawah tanah, sehingga kami bisa melihat pemandangan: bukit-bukit dan perairan yang hampir tak berombak.

Tiba di Tung Chung, ada dua pilihan menuju Ngong Ping: naik cable car alias kereta gantung atau naik bus. Naik kereta gantung lebih mahal, dan antreannya gila, bisa mencapai satu jam kalau lagi apes. Saya sendiri harus mengantre sekitar 40 menit. Tapi memang pengalamannya breathtaking karena kita diajak melayang di ketinggian sambil melihat pemandangan teluk dan pulau-pulau kecil, dan bukit-bukit di bawahnya.

Pemandangan dari kereta gantung.

Pemandangan dari kereta gantung.

Setelah beli tiket seharga HK$ 135/orang (harga termurah saat weekend) untuk naik kereta gantung bolak-balik, kami masih harus mengantri lagi selama sekitar 15 menit. Entah ada berapa ratus orang mengantri dari terminal bus sampai ke konter loket penjualan tiket. Perjalanan dengan kereta gantung ini memakan waktu 25 menit dengan jarak tempuh 5,7 kilometer. Dari atas, saya juga bisa melihat jalur trekking yang panjang di bawah, naik-turun perbukitan. Asyik sekali! Apalagi kereta gantungnya bergerak stabil, tidak bergoncang, padahal angin cukup kencang saat itu.

Sekitar satu kilometer sebelum masuk ke stasiun kereta gantung, tampak siluet patung Buddha raksasa di kejauhan. Patung itulah yang menjadi daya tarik utama Ngong Ping. Keluar dari stasiun, kami langsung memasuki kawasan Ngong Ping Village. Yah, bukan benar-benar desa, sih. Untuk menuju desa betulan kita masih harus jalan kaki lebih jauh lagi. Namanya juga area buatan, di “desa” ini ada banyak restoran dan toko suvenir…hehehe. 🙂

CIMG7083

Ngong Ping. Siluet Big Buddha di latar belakang.

Pemandangan di sekitar Ngong Ping Village ini keren. Bukit-bukit hijau selalu tampak sejauh mata memandang. Bangunan-bangunan di area seluas 1,5 hektar ini juga dibangun dengan gaya arsitektur Cina. Atraksinya macam-macam, terutama yang berbau Buddha.

Selain restoran bermenu masakan Barat dan Cina, atraksi multimedia Walking with Buddha bagi yang tertarik mempelajari sedikit tentang Siddharta Gautama, ada Bodhi Wishing Shrine tempat dengan replika pohon Bodhi tempat sang Buddha mendapat pencerahan, juga ada Cable Car Gallery tempat kita bisa melihat-lihat model kereta gantung dari berbagai negara, dari masa ke masa.

CIMG7066

Patung dewa dengan Buddha di latar belakang.

Selepas itu, kita akan melihat gapura besar dan deretan selusin patung di sepanjang jalan menuju patung Big Buddha dan Po Lin Monastery. Dalam beberapa aliran di agama Buddha, dipercaya ada 12 dewa pelindung Buddha/Twelve Divine Generals (yaksha). Salah satunya bernama General Indra. Namun, dalam ajaran Hindu, Indra juga dikenal sebagai dewa cuaca dan raja kahyangan. Oleh orang-orang bijaksana, ia diberi gelar dewa petir, dewa hujan, dewa perang, raja surga, pemimpin para dewa, dan banyak lagi sebutan untuknya sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Dewa, ya, bukan dewi. Makanya, kalau punya anak perempuan jangan dikasih nama “Indra”, soalnya itu nama laki-laki…hehehe. 🙂

Sayang sekali sedang tidak ada event khusus hari itu. Kalau tidak salah, setiap bulan Mei ada perayaan hari lahir Buddha, dan banyak pertunjukan jalanan di area ini, seperti pertunjukan kungfu, juggling, musik, dan banyak lagi. 

Objek wisata utama di Ngong Ping tentu saja adalah patung Tian Tan atau lebih dikenal dengan sebutan Big Buddha. Patung setinggi 26 meter ini adalah patung perunggu Buddha (duduk) tertinggi di dunia. Beratnya sekitar 202 ton, dengan 268 anak tangga untuk mencapainya dari bawah.

Seorang pengunjung sedang sembahyang.

Seorang pengunjung sedang sembahyang.

Lumayan ngos-ngosan juga saat naik tangga ke atas. Persis di bawah patung Buddha, ada bangunan yang ceritanya sebagai podium tempat sang Buddha duduk. Bangunan itu sekaligus berfungsi sebagai museum. Di dalamnya ada lukisan-lukisan cat minyak, piagam, benda-benda keramik, dan banyak lagi. Sayang, keterangan yang ada semuanya berhuruf Cina. Di tengah ruangan, ada sebuah lonceng raksasa. Pada hari raya nasional bulan April atau Mei, saat perayaan hari lahir Buddha, lonceng itu akan berdentang 108 kali, yang pemukulnya digerakkan oleh komputer.

Pemandangan dari podium Big Buddha.

Pemandangan dari podium Big Buddha.

Selain Big Buddha, ada Po Lin Monastery di sisi lain area ini. Sayang, biara itu sedang direnovasi. Tampak beberapa pengunjung membakar dupa dan bersembahyang di depan biara. Di samping bangunan biara, ada resto Po Lin Vegetarian Restaurant yang katanya sih terkenal dengan masakan-masakan vegetarian yang harganya terjangkau dan lumayan mengenyangkan. Tapi saya sih punya rencana lain…hehe! 🙂 Kami juga terpaksa sholat di bangku taman di belakang resto itu. Tidak ada mushola di area ini.

CIMG7067

Pemandangan Ngong Ping di sore hari.

Idealnya memang datang ke Ngong Ping atau Lantau ini di pagi hari. Beberapa spot, seperti desa nelayan di Tai O dan jalur trekking yang sepertinya menarik untuk dijelajahi, harus saya lewatkan karena sudah hampir gelap waktu itu. Menjelang maghrib, kami pun pulang. Sial, antrean pulang juga luar biasa. Kami baru mendapat giliran naik kereta gantung, kembali ke Tung Chung, setelah 40 menit. Tahu begini saya tadi mending beli tiket one way aja, balik ke Tung Chung bisa naik bus yang terminalnya tak jauh dari situ. Tapi, saat mengantre di depan restoran-restoran, cobalah nyalakan wi-fi di ponsel, karena hampir semua resto di situ memberi akses wi-fi gratis dan sinyalnya bocor ke sekitar situ. 🙂

Beef curry super lezat! :)

Beef curry super lezat! 🙂

Setiba di Tsim Sha Tsui, kami sowan ke resto favorit saya, Cafe de Coral, di sebuah mal di dekat terminal bus TST. Ini adalah jaringan resto lokal di Hong Kong yang menyajikan banyak menu. Pembelinya juga selalu membludak, terutama ketika jam makan siang dan malam. Menu favorit saya dari dulu adalah beef brisket/curry with rice. Biasanya menu ini hanya disediakan malam hari. Menunya ada di dinding di samping konter pesan/kasir, dengan bahasa Inggris dan Kanton. Pesan, bayar, lalu ambil pesanan kita di konter dapur.

Sesuai namanya, ini memang kari sapi biasa. Tapi buat saya rasa karinya gurih banget. Potongan daging sapinya juga banyak dan besar. Disajikan dengan sepotong kentang rebus di dalam kuah kari, plus sepiring nasi dengan potongan kacang panjang dan nanas. Porsi menu ini cukup banyak, sehingga kami hanya memesan seporsi untuk dimakan berdua. Lima tahun lalu, waktu transit di Hong Kong dari Kiev, harganya sekitar HK$ 30, sekarang naik jadi HK$ 43. 😦 Tapi udah termasuk segelas teh susu panas sih. Pulang dari resto tinggal jalan kaki 15 menitan ke hostel. Capek, kenyang, dan senang.[]

(Bersambung)

Nongkrong di Hong Kong #1

CIMG6695All you’ve got to do is decide to go and the hardest part is over. So go!”

~ Tony Wheeler (pendiri Lonely Planet)

Mungkin ini adalah rencana perjalanan paling berat yang saya alami. Hingga menjelang keberangkatan saya ke Hong Kong tanggal 15 Oktober malam, saya tetap harus menghadapi 50-50 chance—berangkat atau tidak. Akhirnya, menjelang sore hari Selasa itu, saya memantapkan hati untuk tetap berangkat, setelah menyelesaikan banyak urusan kantor dan pribadi. Termasuk ngibulin beberapa teman kantor bahwa saya mau jalan-jalan jualan senjata ke Suriah dan Afrika. 😛 Lagian, sholat udah, kurban udah, cuti belum. Jadi, ini waktunya saya kabur dan keluyuran.

Saya beli tiket Tiger itu sejak awal tahun ini, dengan harga Rp 1,1 juta, pergi-pulang. Murah untuk ukuran tiket ke Hong Kong. Tapi yang namanya tiket murah juga ada nggak enaknya. Jamnya nggak enak, dan harus transit dulu. Kami berangkat malam hari jam 19.40 dari Soekarno-Hatta dan tiba di Bandara Changi, Singapura, jam 22.30 waktu lokal. Jadi, sudah pasti kami harus tidur di bandara lagi. Daripada nginep di hotel, kan?…hehehe! 🙂 Penerbangan berikutnya ke Hong Kong baru hari besoknya jam 14.00 waktu Singapura.

Sesampainya di Changi, saya mengurus transfer pesawat dulu ke konter Transfer E, biar besoknya kalau mau keluar dari imigrasi bisa jalan-jalan dulu dengan tenang. Kebetulan, ada teman yang juga lagi traveling di Singapura. Dia memberitahu tempat paling asyik buat tidur di bandara. “Coba kamu cari Oasis Lounge, itu masih di Terminal 2, di deket Gate A11,” katanya via Facebook.

Jadi, saya bela-belain cari lounge itu, sementara istri saya menunggu di depan konter Transfer E, yang sebenarnya juga asyik karena ada bangku buat tiduran dan ada beberapa PC buat internetan gratis. Walau agak jauh dari Transfer E, saya akhirnya menemukan Oasis Lounge, di depan Gate E11. Tempatnya asyik banget! Ada banyak kursi yang didesain untuk tiduran, ada juga colokan listrik (lumayan buat nge-charge ponsel!), dekat toilet, dan ada area internetan gratis juga! Yahooo!! Akhirnya saya balik memanggil istri saya dan malam itu kami jadi punya tempat tidur nyaman. 🙂

Sebenarnya ada juga sih beberapa spot nyaman sepanjang “perjalanan” menuju Oasis Lounge itu, tapi saya lihat udah pada penuh. Sayang saya nggak punya fotonya, karena hilang saat mengkopi file foto di Hong Kong (ceritanya belakangan ya). Walau tidurnya nggak terlalu nyenyak, subuh hari kami bangun dan giliran mandi di toilet. Sebenarnya nggak ada kamar mandinya di situ, tapi yang jelas bilik yang ada tulisan squat pan/squat toilet bisa dipakai buat mandi. Semprotan WC-nya bisa dipakai jadi shower…hehe! 😛

Habis itu, kami jalan lagi cari mushola, dan di belakang toko buku Relay kami menemukan ruangan  yang di pintunya ada tulisan Multi-Faith Prayer Room. Eh? Ini maksudnya bisa jadi tempat sembahyang semua agama? Tapi setelah masuk ke dalam, itu memang betulan mushola. Usai sholat Subuh, nggak disangka saya malah ketemu teman yang ngasih tahu tentang Oasis Lounge itu…haha! Dia baru mau pulang (tepatnya: langsung ngantor), dan saya justru baru mau jalan-jalan. 🙂

Habis itu, setelah menitipkan tas di Left Luggage di Terminal 2, kami keluar dari airside menuju imigrasi. Tok-tok! Petugas imigrasi mengecap paspor kami tanpa tanya apa pun. Sebetulnya kami nggak punya tujuan khusus jalan-jalan di Singapura. Dibandingkan Hong Kong yang jauh lebih seru, Singapura jadi tempat buang-buang waktu aja buat saya. Yang jelas, pagi itu saya lagi kangen pengen makan nasi lemak. jadi, kami menuju stasiun MRT Lavender untuk mencari Ananas Cafe. Dan…wah! Harga paket nasi lemaknya sekarang jadi S$ 2, padahal tahun lalu saya ke sini harganya S$ 2,5! Yaa lumayan deh, mungkin mereka tahu rupiah lagi loyo, makanya pembeli dikasih diskon…hehehe.

Habis beli nasi lemak 2 porsi, plus seporsi mi goreng dan empat potong roti di bakery di depan Ananas, kami naik MRT lagi, kali ini menuju stasiun Outram Park. Di belakang stasiun itu ada taman yang namanya Pearl’s Hill City Park. Sebenarnya nggak ada yang istimewa dari taman ini. Tapi saya memang suka cari suasana tenang di sebuah kota metropolitan. Cocok buat makan dan baca buku…hehehe. Di taman seluas 9 hektar ini, pagi itu tampak beberapa orang tua yang sedang sibuk berolahragaentah sekadar senam ringan atau jogging.

Setelah sarapan nasi lemak enak dan ngos-ngosan jalan santai di taman berbukit itu, kami iseng berpusing-pusing keliling kota naik bus. Tujuannya ke mana saja, karena kami lagi cari AC buat mendinginkan badan yang berkeringat, sambil lewat jalanan, bosen naik MRT melulu.  Tak terasa, waktu udah hampir jam 11. Sudah waktunya kami balik ke Changi.

Singkat cerita, jam 14.00 kami lepas landas menuju Hong Kong. Untunglah saya selalu bawa buku saat jalan-jalan. Durasi 3,5 jam bisa sangat membosankan di kabin pesawat. Apalagi di pesawat kami nggak dikasih apa-apa, air putih juga nggak. Mau beli, sayang duitnya. 😦 *padahal emang lagi ngirit*

Jam 18.00, kami tiba di Bandara Chek Lap Kok atau biasa disebut Hong Kong International Airport (HKIA). Setelah melewati imigrasi (nggak perlu visa!), kami menuju terminal bus di luar hall kedatangan. Dekat peron kereta menuju kota, saya membeli kartu Octopus—seperti kartu EZ Link di Singapura. Kartu elektronik ini bisa dipakai untuk membayar segala jenis transportasi di Hong Kong—MTR (Mass Transit Railway/kereta bawah tanah), bus, trem, taksi, juga untuk transaksi pembayaran di minimarket dan supermarket. Saya cuma beli satu kartu karena sudah punya satu. Harga kartu yang baru HK$ 150, termasuk isi value senilai HK$ 100. Setelah itu, barulah kami berjalan kaki menuju terminal bus. Sengaja kami naik bus karena lebih murah daripada naik kereta Airport Express yang ongkosnya HK$100 (!).

Ada display besar di depan terminal bus yang menunjukkan nomor bus, tujuan, serta ongkosnya. Kami naik bus E11 yang menuju Causeway Bay. Ongkosnya HK$21 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Hampir semua bus di Hong Kong bertipe bus tingkat alias double decker. Setelah menaruh tas-tas kami di bawah, kami duduk di dek atas, paling depan, supaya bisa mendapat pemandangan keren. Kota Hong Kong menawarkan pemandangan menakjubkan saat malam tiba.

BTW, yang disebut Hong Kong sebenarnya lebih sering mengacu ke Pulau Hong Kong. Sejak kembali ke pangkuan Republik Rakyat Cina (RRC) pada 1 Juli 1997, Hong Kong menyandang status SAR (Special Administrative Region) di mana otonomi penuh dipegang oleh Pemerintah Hong Kong sendiri, kecuali urusan luar negeri dan militer yang berada di bawah Pemerintah RRC. Selain Hong Kong, wilayah SAR Cina yang lain adalah Makau.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, sekitar 4-5 % per tahun, taraf hidup di Hong Kong relatif tinggi. Di kawasan Asia Timur, taraf hidup negara empat musim ini hanya berada di bawah Jepang, tapi masih di atas Singapura. Kepadatan penduduknya termasuk yang tertinggi di dunia, mencapai 6.300 orang per kilometer persegi, dengan jumlah penduduk di atas 7 juta (2011). Mengingat keterbatasan wilayahnya (hanya 1.102 kilometer persegi), sebagian besar penduduknya tinggal di apartemen sewaan. Catat: wilayah Hong Kong yang berpenghuni sebenarnya hanya 40%. Sisanya terdiri dari pulau-pulau, hutan, dan perairan.

Lihat nih petanya:

Peta Hong Kong. Gambar pinjam dari sini.

Peta Hong Kong. Gambar pinjam dari sini.

Area bandara HKIA tadi sebenarnya adalah sebuah pulau kecil hasil reklamasi, yang berlokasi di dekat Pulau Lantau. Seperti terlihat di peta, Hong Kong adalah wilayah kepulauan. Yang paling padat adalah wilayah Pulau Hong Kong.

Kawasan Causeway Bay di malam hari.

Kawasan Causeway Bay di malam hari.

Sebenarnya saat itu kami belum mendapat penginapan. Saya sebenarnya ingin mencari penginapan di kawasan Tsim Sha Tsui, Kowloon, tapi saat itu karena kecapekan dan lapar berat, saya sengaja turun di kawasan Causeway Bay. Ada seorang kenalan di situ yang bisa membantu kami mencari penginapan—setidaknya untuk malam ini. Karena sudah lapar berat, dan saya agak lupa lokasi warung kenalan saya itu, kami makan di restoran Indonesia di sekitar situ. Namanya Sedap Gurih. Tak sesuai namanya, nasi goreng dan ayam penyet pesanan kami rasanya biasa banget. Yang luar biasa adalah harganya—HK$ 125 untuk makanan kami! Saya langsung kapok.

Benar juga kata seorang teman—harga makanan di Hong Kong semakin mahal saja. Konon ini ada hubungannya dengan arus mainlander (sebutan orang Hong Kong untuk penduduk Cina daratan alias mainland China) yang semakin banyak datang ke Hong Kong untuk urusan bisnis atau sekadar pelesir. Dalam hati saya langsung panik—uang tunai yang saya bawa sangat terbatas. Kalau untuk urusan makan aja segini mahalnya, bagaimana kami bakal bertahan sampai delapan hari ke depan?

Setelah makan, kami blusukan mencari warung Blitar milik kenalan saya itu. Nggak tahunya….ada di seberang restoran tadi! Memang sih, harus naik ke lantai 2 sebuah gedung dulu. Saya lupa-lupa ingat lokasinya. Tapi begitu melihat deretan toko ponsel di gedung yang dikuasai orang Indonesia itu, saya langsung ingat lagi. Akhirnya ketemu!

Setelah ngobrol-ngobrol sejenak, kenalan saya itu menelepon seseorang. Tak berapa lama, datang seorang perempuan berjilbab bernama Bu A. Kenapa namanya disamarkan? Nanti ada ceritanya. 🙂 Bu A ini punya satu apartemen tak jauh dari gedung Konsulat Jenderal RI. Apartemen itu berisi dua kamar tidur yang dia sewakan, khususnya untuk orang-orang Indonesia. Berhubung saat itu sudah hampir jam 10 malam, saya terima saja tawarannya. Begitu masuk, jadi jelas kenapa harga per malamnya HK$ 500.

Walaupun kecil, apartemen itu nyaman. Selain kamar mandi dengan air panas, juga ada dapur yang lengkap isinya—kulkas, microwave, rice cooker, sabun cuci, piring, mangkok, sendok, dll. Enak sih apartemennya, tapi MUAHAL! FYI, beli Indomie nggak susah kok di Hong Kong. Ada beberapa warung Indonesia di sekitar kawasan Causeway Bay. Bahkan persis di depan gedung KJRI juga ada namanya Warung Chandra, yang selain menjual makanan juga menjual keperluan sehari-hari.

Sebelum meninggalkan kami, Bu A berpesan, “Tolong, kalau ada yang tanya, jangan bilang kalian nyewa kamar di sini ya. Bilang aja teman lagi nginep di apartemen saya.” Ah, jadi begitu ya ceritanya! 🙂 Oh ya, ada lebih dari 100 ribu orang Indonesia yang tinggal di Hong Kong. Sebagian besarnya adalah TKW. Catat: tidak ada tenaga kerja laki-laki Indonesia, karena semuanya perempuan di sini.

Malam itu, setelah mandi, kami langsung tidur karena kaki udah gempor setelah jalan-jalan di Singapura. Tapi, saya masih gelisah malam itu. Makan dan penginapan malam ini saja sudah kebangetan mahalnya. Artinya, besok pagi kami harus cari-cari penginapan lain yang sesuai anggaran. Dan kalau bisa yang menerima kartu kredit, karena uang tunai saya ngepas banget![]

(Bersambung)

Balada Ukraina #21

Senin-Jumat, saya biasanya mengajar dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Sampai jam 16.00 saya mengajar di EG. Setelah itu saya pulang ke apartemen untuk sholat dan leha-leha sebentar. Jam 18.00 atau 19.00 saya harus mengajar lagi di Big Ben.

Dengan durasi kerja yang lumayan berat, satu-satunya yang bisa membuat saya rileks adalah berkumpul dengan teman-teman, termasuk membantu beberapa kegiatan AIESEC.

Seperti saat itu, saat saya diajak Sveta mengisi acara sharing di kampus National Mining University. Lumayan, sebelum jam 4 sore saya sudah bisa kabur dari sekolah…hehehe. Cuma sekali naik trem dari halte dekat sekolah, jalan kaki sedikit, dan saya tiba di gerbang kompleks universitas itu. Gedungnya tampak tua, dengan warna kelabu mendominasi dindingnya. Cocok banget buat setting film horor. 🙂

Nunggu giliran "tampil". :D

Nunggu giliran “tampil”. 😀

Sebenarnya saya tidak tahu mau disuruh apa sama Sveta sore itu. “Cuma sharing aja kok,” begitu jawabnya via SMS. Di lantai paling atas sebuah gedung, meminjam satu ruang kuliah. Sekitar 20-an orang sudah duduk manis di situ.

Sveta berbisik ke saya, “Indra, nanti kau bicara soal entrepreneurship di Indonesia, ya.”

“Hah?” Gawat, topiknya kok rada serius begini. Tapi untunglah, waktu kuliah dulu saya sempat jadi koresponden majalah Entrepreneur Indonesia (sekarang jadi Teknopreneur). Jadi, saat giliran saya bicara, saya berusaha mengingat-ingat apa yang saya tulis dan menceritakannya di depan forum.

Lagipula, entrepreneur level mahasiswa di kita kan dimulai dari hal-hal sederhana. Beberapa teman saya memulai dari usaha kecil-kecilan. Misalnya, ada yang bikin usaha mug dan desain merchandise, T-shirt, buka warung bakso, dan banyak lagi. Sebagian sukses, sebagian lagi banting setir. Sementara saya, pernah mau jualan bubur ayam aja gagal…hehehe!

Tapi bagi para mahasiswa sini, tampaknya itu hal baru. Apalagi saat saya mencarikan foto-foto di Google dan memperlihatkannya kepada mereka. Termasuk waktu saya tunjukkan foto-foto pasar kaget “sunday morning” di kawasan UGM tiap Minggu yang selalu penuh penjual dan pembeli, dengan beraneka jenis dagangan. Maklum, di sini tak seperti di Indonesia, yang kalau mau jualan bisa nyaris di mana-mana alias kaki lima.

Di sini tak bisa sembarangan buka lapak di trotoar. Di beberapa kawasan yang sudah ditentukan, misalnya di Andriyivski Uzviz di Kiev, pedagang kaki lima boleh berjualan. Memang sih ada segelintir orang yang buka warung shaurma/kebab, atau jualan pulsa di pinggir jalan, tapi umumnya mahasiswa Ukraina tak menganggap hal itu sebagai entrepreneurship. Dan saya lihat yang jualan di trotoar Dnipro itu kebanyakan orang tua, bahkan babushka (perempuan tua/nenek-nenek) juga kadang menggelar hasil kebun dan dijajakan di trotoar.

Selesai cuap-cuap, saya kembali duduk. Sveta berbisik lagi ke saya, “Bagus. Tapi kau kok berkeringat begini sih? Hehehe….”

Sial, dia nyindir rupanya. Saya memang suka gugup kalau harus bicara di depan banyak orang, terutama kalau disuruh bicara tentang topik yang tidak saya siapkan sebelumnya. Tapi ya sudahlah. Habis itu toh ada acara games dan pulangnya saya ditraktir makan sama Sveta…asyiiik! 😀

***

Kartu diskon :)

Kupon “sakti” 🙂

Sebagai trainee AIESEC, saya mendapat semacam kupon yang isinya logo beberapa tempat: English Movie Club (EMC), Mr. Smak (kantin), Puzata Hata (restoran), dan Bekir (kafe).

Untuk ikutan acara EMC, dengan menunjukkan kupon ini saya boleh masuk gratisan. Untuk resto Puzata Hata, diskonnya berlaku seminggu sekali untuk makan di tempat. Begitu juga dengan kafe Bekir. Sementara untuk Mr. Smak, saya malah boleh makan gratis tiap Sabtu-Minggu hingga entah hingga berapa UAH. Soalnya, saya selalu ambil banyak karena sistemnya prasmanan. Semuanya tinggal menunjukkan kupon. Lumayan, kan? 😀

Kalau makan di Puzata Hata atau Mr. Smak, saya selalu mengajak teman. Satu orang saja cukup, dan bisa berganti-ganti setiap minggunya. Soalnya, selain buat teman ngobrol, si teman ini juga saya senang karena saya iming-imingi makan gratis. Jadi, jatah makan gratis sekali seminggu sebagian saya “sedekahkan” buat teman. Selain itu, kalau ada teman lebih enak, karena saya bisa tanya-tanya “ini apa, itu apa?” kepada mereka. Maklum, pelayannya nggak bisa bahasa Inggris. Asal bukan baboy, pasti saya embat menu apa saja. Dan, kalau saya ambil banyak makanan, saya bisa titip di piring si teman, jadi pelayannya nggak perlu segitu amat ngeliatin piring saya yang penuh. 😀 Biasanya, saya makan sekenyangnya hingga seharian itu nggak perlu jajan lagi. Di sini makanan mahal, bo! 😀

***

Setiap Jumat malam jam 19.00, komunitas English Movie Club (EMC) mengadakan acara pemutaran film di gedung History Museum. Selain dikelola anak-anak muda Dnipro, ada juga beberapa ekspatriat dari Amerika yang memandu acara. Yeah…orang Amerika memang ada di mana-mana—bahkan di kota ini, tempat saya menjadi satu-satunya orang Indonesia yang tinggal di sini (!).

Penonton di acara EMC kebanyakan adalah mahasiswa dan pelajar Dnipro yang ingin memperdalam kemampuan bahasa Inggris mereka. Selain nonton film, mereka (yang rada pede) kadang juga mengajak kenalan beberapa mahasiswa asing yang muncul di situ. Tapi kebanyakan mahasiswa asing di Dnipro berasal dari Cina dan beberapa negara Afrika—yang bahasa Inggrisnya juga pas-pasan…hehehe!

Jadi, sebelum film dimulai, biasanya MC mengajak ngobrol para penonton dulu, kemudian mereka memutar slide yang berisi beberapa potongan dialog yang diambil dari film yang akan diputar, lalu 1-2 orang Amerika itu akan membahas serangkaian vocabulary yang ada dalam dialog, plus beberapa kalimat expression. Dengan begitu, saat film diputar, peserta sudah memahami kosakata dan kalimat-kalimat ekspresi yang ada dalam dialog film. Apalagi yang menjelaskan tadi native speaker langsung.

Sesekali, pengurus EMC juga mengadakan kuis. Orang yang akan menjawab diharuskan naik ke panggung dan diajak berbicara agak banyak oleh MC (sesekali dikerjain juga). Dengan begitu, orang yang akan menjawab kuis itu dipaksa berbicara dengan native speaker dan di depan orang banyak. Sekali pemutaran film, yang datang biasanya di atas 50 orang.

Ini alternatif acara yang asyik kalau saya lagi nggak ada kerjaan sehabis mengajar di EG dan kalau tidak ada jadwal mengajar di Big Ben. Lagipula, saya selalu bisa masuk gratis dengan menunjukkan kupon, sementara penonton umum harus membayar sekitar 10 UAH. Film yang diputar selalu film Hollywood yang rilisnya sudah beberapa tahun lewat. Walau bukan film baru, asal saya belum pernah menonton, pasti saya usahakan datang ke EMC.

Alasan lain: karena film-film baru di bioskop seluruh Ukraina sudah di-dubbed ke bahasa Rusia/Ukraina! Bayangkan sekarang Harry Potter lagi ngomong bahasa Rusia! Hahahaha… :D[]

(Bersambung)

Balada Ukraina #18

Tampak depan stasiun KA Dnipropetrovsk.

Tampak depan stasiun KA Dnipropetrovsk.

Tiba di Dnipro siang jam 13.00, saya sudah dijemput sama Andrey dan Sveta. Mereka sebelumnya memang sudah menelepon mau ketemu saya untuk membicarakan sesuatu. Sebenarnya saya masih capek, tapi nggak apa-apa sih, mumpung masih liburan. Lagi pula, bawaan saya cuma satu day pack yang isinya baju kotor. Saat itu hari Kamis, dan saya baru akan mengajar lagi hari Selasa.

“Kita nongkrong di kafe aja, yuk!” ajak Andrey.

Kami lalu naik trem menuju Jl. Gagarina. Butuh sekitar 20 menit untuk sampai ke sana. “How’s Kiev? Asyik?” tanya Sveta di dalam trem. Saya lalu sibuk menceritakan asyiknya backpacking ke Kiev dengan biaya super irit. 🙂

Kami kemudian turun di sebuah halte di Jl. Gagarina. Ada kafe bernama Coffee Life di sana. Biasanya anak-anak AIESEC sering berkumpul di kafe ini untuk rapat, ngerjain tugas kuliah, atau sekadar hang out. Biasa, sambil nyedot wi-fi kafe. 🙂 Dan ternyata memang ada beberapa anak AIESEC yang sedang di sini, beberapa di antaranya hanya saya kenal wajahnya.

Saya memesan cokelat hangat dan tiga potong croissant, lalu mengempaskan pantat ke sofa. Sementara Andrey dan Sveta lebih suka ngopi. Andrey saat itu adalah kandidat kuat President AIESEC LC Dnipro yang baru.

“Jadi begini,” Andrey memulai obrolan. “Aku baru saja dapat kabar dari Channel 11, itu TV swasta, bahwa AIESEC akan mendapat slot sekitar 5-10 menit di acara pagi mereka. Kami ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan organisasi. Nah, kebetulan sekali sekarang kami sedang punya trainee dari luar negeri, yaitu kau. Aku ingin kau tampil di acara itu besok, sebagai satu-satunya trainee kami dari luar negeri yang ada di Dnipro saat ini.”

“Aku? Wah, ngomong apa nanti?”

“Gampang, kok. Cuma cerita sedikit tentang dirimu, tentang AIESEC, dan kesan-kesanmu selama tinggal di Ukraina.”

“Hmm…begitu, ya…” kata saya dengan mulut penuh croissant.

“Yep…lagi pula, kita cuma punya slot 5-10 menit. Nanti Ann Dombrovskaya juga ikut. Dia akan tampil berdua denganmu. Oke, ya?”

“Hmm…oke, deh. Tapi…tolong bayarin roti dan minumanku dulu, ya? Hehehe….” kata saya sambil cengengesan.

“Ah, sial! Gitu banget sih….” balas Andrey sambil ketawa.

“Aku dibayarin sekalian, dong,” Sveta nimbrung.

“Ayolaah, aku belum gajian,” saya memprovokasi.

“Siaaall!!” Andrey misuh-misuh.

***

Esok paginya, jam 07.30 saya sudah stand by janjian di taman di depan gedung History Museum. Malam sebelumnya, saya sudah mengirim SMS ke teman-teman baru di Kiev. “Besok jam 08.00 nonton Channel 11 ya! Aku tampil live!”

Sengaja saya pakai batik andalan ala Pak Lurah untuk kesempatan istimewa hari itu. Ann tiba tak lama kemudian, lalu kami berjalan kaki ke TKP. Ternyata lokasi stasiun TV itu tidak jauh, masih berada di kompleks National Mining University, yang jaraknya dari halte trem tempat saya menunggu Ann hanya selemparan batu…tapi yang ngelempar atlet Olimpiade. 🙂

Mejeng dulu habis syuting. :)

Mejeng dulu habis syuting. 🙂

Setelah melapor ke front office, kami dibawa ke lantai 3, dan masuk ke ruang studio. Seorang wanita menyambut kami. Badannya imut sekali untuk ukuran rata-rata orang Ukraina, bahkan lebih kecil daripada saya. Tapi cantiknyaaaa…wow! 😛 Kalau tak salah namanya Andrea. Sayangnya, begitu saya ajak ngobrol, si Andrea ini langsung ketahuan nggak bisa bahasa Inggris. Yaaah…. 😦

Lima belas menit kemudian, kami langsung syuting. Ann sudah memberitahu saya apa-apa yang akan dibicarakan. Pertama, obrolan dalam bahasa Rusia antara Andrea dan Ann tentang AIESEC. Kemudian, di segmen berikutnya, Andrea akan melontarkan beberapa pertanyaan kepada saya, tapi diterjemahkan lebih dulu oleh Ann. Wah, payah nih, pembawa acaranya nggak bisa bahasa Inggris. 😛

Selebihnya, acara berlangsung sangat lancar, walaupun saya agak gugup. Di negeri sendiri saja belum pernah nongol di TV, ini malah di negeri orang bisa tampil lima menitan, live pula…hehehe! 🙂 Sesuai briefing tadi, pertanyaan untuk saya gampang-gampang saja. Sayang bahasa Inggris Ann agak terbata-bata, jadi saya berusaha bicara pendek-pendek saja. Singkat cerita, saya tampil memikat dan berusaha mengambil hati pemirsa dengan cara menceritakan kerja magang saya sebagai guru bahasa Inggris, makanan Ukraina favorit saya, tempat-tempat yang saya suka di Dnipro, dan perjalanan saya ke Kiev barusan…hehehe!

Tak terasa, 10 menit pun berlalu. Saat jeda iklan, setelah basa-basi sebentar dengan Andrea, kami pun keluar.

“Gampang, kan?” kata Ann.

“Hehehe….iya,” jawab saya cengengesan.

“Sekarang kau jadi seleb di Dnipro,” kata Ann sambil ketawa.

“Hahaha! Bisaaaa aja…”

Ann mengajak saya minum teh panas dulu di sebuah kios kaki lima. Saat itu hampir jam 9 pagi. Belum ada tempat yang buka untuk beli sarapan. Ann memuji baju batik saya. “Bajumu bagus coraknya. Itu semacam pakaian tradisional?”

“Ehm…bisa dibilang begitu.”

Setelah menghabiskan teh kami, Ann lalu pamitan. Dia mau ke kampus, sementara saya mau ke warnet. Harus cek dan kirim banyak e-mail hari itu. Tahun 2008, Facebook baru mulai populer di Indonesia, Friendster masih ada, tapi nggak seru. 🙂 Saat itu saya belum sering “fesbukan”. Waktu itu saya juga belum punya laptop, maklum orang susah. 😛 Jadi, akses saya ke Internet tidak terlalu sering. Paling-paling sesekali saya mampir ke online game center. Hanya di tempat itulah saya bisa internetan. Atau: mampir ke Coffee Life, “membajak” laptop salah seorang teman untuk cek e-mail.

Sambil berjalan, saya mengecek ponsel. Ada beberapa SMS masuk; dari Victor, Sasha H, Sasha K, dan Daniel. Isi SMS-nya kurang lebih sama: “Channel 11? TV apaan tuh?”

Saya langsung menelepon Ann, menanyakan soal itu. Ann bilang,”Channel 11 itu TV lokal Dnipro. Orang di Kiev jelas tak bisa nonton.”

“Hah??”

***

Pelan-pelan, tanpa benar-benar saya sadari, musim semi sudah menampakkan diri di kota ini. Pohon-pohon yang tadinya tampak gundul dan kelabu membosankan, kini mulai mempercantik diri dengan warna hijau segar. Suhu udara perlahan menghangat, tak pernah lagi turun ke angka nol, apalagi di bawahnya. Orang-orang di jalan juga saya lihat jaketnya tak lagi setebal sebelumnya. Mungkin hanya saya yang masih memakai jaket tebal musim dingin dengan tiga lapis pakaian di baliknya: T-shirt, kemeja, dan sweater.

Musim semi sudah tiba! :)

Musim semi sudah tiba! 🙂

Sekarang saya paham sepaham-pahamnya kenapa orang-orang di negeri-negeri empat musim begitu menantikan musim semi dan musim panas. Tentu saja musim dingin punya keasyikan sendiri, tapi siapa sih yang tidak ingin menikmati limpahan sinar matahari dan suhu udara yang hangat? Siapa sih yang tidak ingin melepaskan jaket tebal yang berat itu?

Suhu awal musim semi menjelang April itu sekitar 5-10°C. Buat warga sini, itu sudah termasuk “hangat”. Buat saya jelas masih dingin. Tapi salju sudah mulai menghilang dari jalanan. Sudah sekitar dua bulan saya memakai sepatu bot pinjaman dari Nastya. Sudah waktunya saya beli sepatu kets dan jaket yang lebih tipis. Mumpung masih liburan. Bodohnya, saya lupa membawa kedua benda itu sejak awal berangkat. Saya cuma bawa sepatu kantoran yang malah tidak terpakai sama sekali selama tinggal di sini.[]

(Bersambung)

Balada Ukraina #17

Pemandangan sepanjang jalan. Double-decker ala Inggris ini dijadikan kafe. :)

Nggak sengaja nemu pemandangan ini pas jalan-jalan di Kiev. Double-decker ala Inggris ini dijadikan kafe. 🙂

“Kau belum mampir ke St.Michael, kan? Yuk, ke sana!” ajak Victor. Sambil berjalan kaki, kami mengobrol tentang banyak hal. Bahasa Inggris Victor bagus dan artikulasinya jelas, sementara Yuliya sedikit lambat.

Victor kuliah di jurusan Manajemen di International Christian University (ICU) di Kiev. Di kampusnya, perkuliahan dilakukan dalam bahasa pengantar Inggris dan Ukraina, dengan beberapa dosen tamu berasal dari AS, Inggris, dan tentu saja dosen lokal Ukraina. “Well, that explains,” komentar saya sambil nyengir.

Victor sendiri berasal dari Mariupol, sebuah kota di Donetsk Oblast, provinsi di Ukraina timur. Sementara itu, Yuliya berasal dari Lviv, Ukraina barat. Dia kuliah di kampus yang sama dengan Daniel. “Lviv kota yang keren. Kota budaya dan bersejarah. Kau pasti suka. Mainlah ke Lviv kapan-kapan,” Yuliya berpromosi.

Ayo cari yang mana tulisan Jakarta! :)

Ayo cari yang mana tulisan Jakarta! 🙂

Masih di Maidan, Victor mengajak saya melihat sesuatu. “You might wanna see this,” katanya. Di dekat pintu masuk sebuah bangunan yang ternyata gedung kantor pos, ada sebuah monumen yang di atasnya ada bola dunia. Namanya Globus. Di bagian bawahnya, tampak pola melingkar yang di pinggirnya ada tulisan-tulisan dan angka-angka. “Nah, ini nama-nama kota besar di dunia dan jaraknya dari Kiev. Lihat, ini Jakarta,” kata Victor sambil menunjuk sebuah kata. Saya membacanya dengan tersendat. Jakarta! Jaraknya 9.582 kilometer dari sini. Keren! 🙂 Bisa-bisanya saya melewatkan monumen kecil ini, padahal sudah melewati Maidan beberapa kali.

Setelah itu, saya pasrah diajak mereka berdua ke mana saja. Kami saling menceritakan soal diri kami masing-masing, saling tebak umur, dan bergurau sesekali. Walau tujuan jalan-jalan kami ke  gereja St. Sophia dan St. Michael, mereka mengajak saya menyusuri Sungai Dnipro dulu. Saat duduk-duduk di tepi Sungai Dnipro, saya izin lima menit buat sholat dulu. Mumpung sepi. 🙂 Mencari masjid di Kiev tampaknya sesulit mencari jarum di padang pasir. Itu juga kalau ada. 😛

Tentu saja Victor dan Yuliya memandang heran. Mereka tahu saya Muslim. Tapi melihat orang sholat pasti baru kali itu. Dan tentu saja mereka “menuntut” penjelasan setelah saya selesai, walau reaksi mereka cuma manggut-manggut. “Katanya, sih, Muslim di Ukraina lebih mudah ditemukan di wilayah selatan, dekat Laut Hitam. Tapi aku belum pernah melihat cara beribadah kalian. Dan waktu main ke sana pun aku belum pernah lihat masjid,” kata Victor nyengir.

“Ngomong-ngomong, kenapa sungai ini namanya sama dengan Dnipropetrovsk?” tanya saya sambil menunjuk sungai lebar itu.

“Kau tahu, ini sungai terpanjang keempat di Eropa,” Victor menjelaskan. “Panjang totalnya lebih dari 2.000 kilometer. Di tiga negara, namanya sama. Sungai ini melewati Rusia, Belarus, dan Ukraina. Tapi yang paling panjang ya di Ukraina ini. Soal nama Dnipropetrovsk, setahuku itu diambil dari nama sungai Dnipro dan nama belakang seorang pendiri kota itu dulu, Grigory Petrovsky, seorang pemimpin Komunis.”

“Tahu nggak,” Yuliya menimpali, “di musim dingin, kadang-kadang ada sekelompok orang gila yang suka berenang di sungai ini. Padahal suhunya di bawah nol dan sebagian permukaan air beku jadi es!”

“Semacam extreme sport di sini. Aku sendiri pernah coba tahun lalu, dan langsung sakit!” kata Victor sambil tertawa. “Tapi ada juga sebagian orang yang berenang di es dalam rangka ritual agama.”

Saat itu kami berada di sisi seberang Hydropark—sebuah taman rekreasi yang populer bagi warga Kiev. Pada musim dingin, taman itu ditutup. Namun pada musim panas, ramainya bukan main. Walau jauh dari laut, Kiev mempunyai “pantai”nya sendiri, yaitu pantai di pinggir sungai. 😛 Kami berjalan lagi dan sempat ngaso sebentar di….McDonald’s!

Yuliya dan Victor.

Yuliya dan Victor.

Kami lalu meneruskan perjalanan sambil ngobrol dan menonton jalan macet ala Kiev. Setengah jam kemudian kami sampai di area katedral St. Michael. Di halamannya, ada sebuah kolam air mancur dengan batu salib di atasnya. Saat itu air mancurnya sedang tidak dinyalakan. “Namanya Fountain of Dreams. Kalau kau bisa menempelkan koin di bagian tiang yang menjorok ke tepian itu, make a wish,” kata Yuliya.

Saya pun iseng-iseng ikut main di situ. Selain kami, ada juga beberapa orang yang mencoba “peruntungan” masing-masing. “Menempelkan” koin di situ bukan soal mudah.

Begini penampakan koin yang berhasil "ditempel". :)

Begini penampakan koin yang berhasil “ditempel”. 🙂

Pertama, koin harus dibasahi sedikit, lalu ditekan agak lama di ujung tiang tadi. Walaupun bertahan agak lama, beberapa detik kemudian koin bisa jatuh juga. “Itu tandanya, keinginanmu akan dikabulkan, tapi cuma beberapa detik,” kata Yuliya sambil tertawa.

“Sssstt, cewek itu dari tadi melihatmu terus…kau minta apa, sih? Cewek Ukraina, ya? Hahahahaa!!” Victor meledek saya. Tampaknya cewek yang dimaksud Victor itu mendengar dan mengerti maksudnya. Tapi dia hanya tersenyum-senyum.

Mejeng di depan gereja St. Michael.

Mejeng bareng Victor di depan biara berkubah emas St. Michael.

Setelah merasa puas main-main di situ, Victor mengajak saya jalan lagi. “Eh, kau mau lihat sunset? Kita ke atas bukit, yuk! Aku tahu spot yang bagus untuk melihat sunset Kiev yang indah,” kata Victor. Sunset? Di kota besar begini? Wah, saya jadi bersemangat.

Kami berjalan kaki melewati Maidan lagi, lalu menyeberangi jembatan penyeberangan bagi pedestrian yang menuju ke kaki bukit, lalu berjalan naik ke atas. Victor mengajak kami berjalan di jalan setapak, keluar dari jalur, belok sana belok sini, menembus semak belukar, dan tiba di suatu tempat di balik batu besar di dekat tebing. Ada ruang seluas sepertiga apartemen saya, cukup untuk duduk-duduk bertiga, tanpa terhalangi pepohonan. Kami berdiri memandang ke arah pusat kota.

Sunset di Kiev, dengan monumen Behehynia yang menjulang.

Sunset di Kiev, dengan monumen Berehynia yang menjulang.

Ladies and gentlemen, please welcome…Kiev with the sunset,” kata Victor dengan gaya agak membungkuk dan melambai ke arah Maidan Nezalezhnosti. Saya terbengong-bengong. Indah sekali pemandangan dari atas sini.

Posisi kami saat itu tidak terlalu tinggi di atas bukit. Tapi spot yang kami tempati sangat strategis untuk menikmati Kiev sore itu. Suara kesibukan jalanan Kiev nyaris terdengar samar. Selama beberapa saat kami hanya duduk-duduk diam di situ. Saya duduk bersandar pada sebuah pohon. Tiba-tiba saya penasaran.

“Ngomong-ngomong, kalian ini pacaran, ya?” tanya saya iseng.

Yuliya yang pertama menyambar. “Pacaran? Sama dia? Ih, males banget!”

Victor tak mau kalah. “Kalau pacaran sama dia, aku harus pakai masker. Dia jarang mandi!”

“Eh, sembarangan, ya!” Yuliya melempar Victor dengan botol plastik air mineral kosong.

“Wah, kalian mesra sekali, ya!” saya nyeletuk sambil tepuk tangan. Kali ini giliran botol kosong tadi yang dilempar ke saya. 😛 Kami bertiga tertawa-tawa. Matahari yang sedang pulang ke peraduan pun mungkin tersenyum-senyum menonton kami.

“Ngomong-ngomong, itu patung apa, ya? Aku sudah beberapa kali lihat, tapi tidak tahu apa itu,” kata saya.

“Itu Berehynia,” kata Yuliya. “Jadi, dalam mitologi Slavia, Berehynia adalah roh perempuan. Semacam dewi, kira-kira. Fungsinya sebagai penjaga ibu pertiwi.”

“Dan Slavia sendiri…kelompok etnik, iya kan? You guys are Slavs, right?”

“Ya. Orang Slavia tersebar banyak, dari daratan Rusia, Asia Tengah, hingga ke negara-negara pecahan Yugoslavia.”

“Apa bedanya orang Slavia Ukraina dengan di negara-negara lain? Aku tidak bisa membedakan orang Ukraina dan Rusia….”

“Hmm….apa ya? Banyak, kok. Bahasa kami masing-masing berbeda, meskipun sama-sama memakai aksara Cyrillic. Kultur dan sejarah kami juga beda. Yang jelas, gadis-gadis Slavia itu cantik-cantik…seperti aku,” kata Yuliya kenes.

“Dasar genit!” seru Victor. Botol plastik pun melayang lagi.

Saat hari mulai gelap, Yuliya menerima telepon, lalu mengajak kami ke sekretariat AIESEC. “Daniel telepon, dia akan menjemputmu di sana,” katanya.

Menjelang malam di Kiev.

Menjelang malam di Kiev.

Seperti umumnya sebuah kota besar, pagi dan sore di Kiev selalu ada rush hour, entah di jalanan maupun di stasiun kereta bawah tanah. Victor dan Yuliya mengajak saya naik metro. Tiket metro di Kiev sangat murah, saat itu hanya 50 kopecks, atau sekitar 0,09 dolar AS sekali jalan. Rata-rata stasiun metro di Kiev terletak cukup dalam di bawah tanah. Warna gerbongnya mengikuti warna bendera nasional Ukraina, dominasi biru langit dan garis kuning. Bentuknya kotak dan tampak agak kuno, tapi bagian dalamnya cukup bersih. Sejauh yang saya lihat, di dalam dan di luar gerbong tak ada grafiti, begitu juga di stasiun-stasiunnya.

Yang bikin saya ngeri dengan kereta ini adalah pintunya. Saat menutup, pintu otomatisnya berdebam lumayan keras. Pundak pasti ngilu berat kalau sampai kena hantam pintu itu. Pintu kereta metro Kiev ini juga cukup sensitif. Kalau ada satu ruas pintu yang terhalang benda lain, entah itu kaki atau jaket yang terjepit, pintunya akan membuka-tutup tanpa henti. Masinisnya pasti tahu dan tidak akan menjalankan kereta. Kalau sudah begitu, petugas keamanan akan melotot mencari pintu mana yang terhalang itu.

Suasana stasiun metro di Kiev.

Saat jam pulang kantor, semua stasiun sepertinya tampak ramai luar biasa. Kereta yang datang setiap 2-3 menit saat jam sibuk pun rasanya kewalahan menampung beban entah berapa ratus penumpang dalam satu rangkaian kereta. Begitu kereta datang, penumpang yang akan naik sudah berdiri memepet gerbong. Bagusnya, mereka masih memberi jalan buat penumpang yang akan turun. Setelah itu, barulah aksi dorong masuk ke gerbong dimulai.

Saya dan Yuliya berhasil masuk, tapi Victor gagal menyusul. Begitu pintu otomatis menutup dengan keras, Victor cuma bisa dadah-dadah di luar pintu. Kereta pun melaju.

“Eh, gimana ini?” tanya saya terbengong-bengong.

“Tenaaang….biasanya kalau kita pergi beramai-ramai dan ada yang tertinggal, kita turun di stasiun berikutnya,” kata Yuliya.

Benar saja. Setelah kami turun di stasiun berikutnya dan menunggu beberapa menit, Victor muncul sambil cengengesan. “Sorry,” katanya.

Lalu kami menunggu kereta berikutnya. Tapi yang namanya rush hour Kiev padatnya bukan main. Kali ini Victor berhasil masuk…tapi Yuliya malah ketinggalan! Saya dan Victor berpandangan, lalu ketawa keras-keras.

“Kalian ini gimana, sih? Sering begini, ya?”

“Hahaha! Tenang, tenang…kita turun di stasiun berikutnya, ya” kata Victor sambil ketawa.

Saat kami menunggu di stasiun berikutnya, Yuliya pun muncul sambil cengengesan. “Sekarang jangan sampai ada yang ketinggalan lagi! Cuma tiga orang aja kok ketinggalannya giliran,” seru Victor sambil ketawa. Dan ketika kereta datang, kami bergandengan tangan dan akhirnya berhasil masuk…tiga orang lengkap! 😛

Setelah turun di stasiun Universytet, kami berjalan kaki ke gedung kampus Daniel. Tak ada hujan salju malam itu. Daniel tiba tak lama setelah kami tiba di ruang sekretariat AIESEC. Lalu saya dan Daniel pulang ke apartemennya. Setelah mandi air panas, menjamak sholat, dilanjutkan dengan makan malam berupa salad (haduh!) dan ngobrol ngalor-ngidul, jam 10 malam saya langsung terkapar di kasur. Badan pegal, tapi hari itu sangat menyenangkan.

Esok paginya, diantar ayah Daniel ke stasiun, saya kembali ke Dnipro naik kereta jam 07.00. Rasanya belum puas menjelajahi Kiev. Tapi saya toh sudah pasti akan ke kota ini lagi menjelang musim panas nanti, karena toh saya akan pulang lewat Kiev.[]

(Bersambung)

Balada Ukraina #16

Pemandangan Kiev dari perbukitan.

Pemandangan Kiev dari perbukitan.

Ukraina bisa dibilang bukan negara yang akrab dengan bahasa Inggris. Sebagai negara pecahan Uni Soviet, 90% tulisan di semua tempat menggunakan Cyrillic. Bagi orang asing yang masih tergagap membaca huruf-huruf lucu itu, seperti saya, jadi tidak mudah berjalan sendirian tanpa ada tulisan atau petunjuk apa pun yang bisa dipahami.

Namun di Kiev, kita relatif lebih mudah menggunakan bahasa Inggris secara lisan dengan sebagian warganya dibandingkan dengan di kota-kota lain. Terutama dengan anak sekolah atau mahasiswa. “Karena di sini ibukota, mungkin,” kata Sasha H, anak Kiev yang menemani saya jalan-jalan siang itu. Sesekali, dia juga mengajari saya membaca huruf-huruf Cyrillic sambil melihat-lihat tulisan apa pun di jalanan.

Suvenir Ukraina di Kiev.

Suvenir Ukraina di Kiev.

Sasha mengajak saya ke Andriyivsky Uzviz, sebuah jalan berbatu (cobblestone) yang menanjak. Jalan ini dipenuhi para pedagang suvenir dan barang antik. Dari mug, vas, piring hiasan, lukisan, aksesoris sepak bola, hingga jubah-jubah militer ala jenderal-jenderal dari zaman Soviet ada di sana. Saya sih nggak beli apa-apa saat itu. Yang pasti, sekarang saya sudah tahu harus ke mana kalau mau berburu suvenir asyik kalau nanti menjelang musim panas main ke Kiev lagi. “Barang-barang di sini bisa ditawar kok, tapi paling-paling harganya cuma berkurang sedikit,” Sasha memberitahu. “Atau kalau kau membeli banyak.”

Setelah itu, kami berjalan melewati taman-taman kota yang besar di atas bukit. Pemandangan Kiev dari atas bukit memamerkan warna kelabu karena pohon-pohon belum banyak menampakkan hijau daunnya menjelang musim semi itu. Sungai Dnipro yang lebar dan berwarna biru tua tampak membelah kota.

“Saat musim semi dan musim panas, pemandangan dari sini lebih cantik, karena cuacanya cerah dan pohon-pohon sudah menghijau semuanya,” kata Sasha. Hmm….Ya, saya bisa membayangkan itu.

Kami lalu berjalan ke sebuah plaza dan melihat area bangunan gereja St. Michael dari jarak agak jauh. “Itu gereja, ya? Kita nggak ke situ?” tanya saya.

“Nanti kau akan ke situ, dengan guide setelah aku,” kata Sasha. “Aku mau menunjukkan tempat lain. Ada gedung bagus tak terlalu jauh dari sini.”

Gorodetsky House dari kejauhan.

Gorodetsky House dari kejauhan.

Kami pun berjalan lagi. Sungguh enak ternyata berjalan kaki di tengah suhu dingin. Lama-lama saya jadi merasa lebih segar setelah terbiasa berjalan kaki di negara ini. Dan, sepertinya juga…lebih langsing. 😛 Sasha mengajak saya melewati kawasan Lypky yang katanya penuh bangunan bersejarah. Dia menunjuk bagian belakang sebuah gedung mirip istana di kejauhan. “Itu namanya Gorodetsky House alias House with Chimaeras,” katanya.

Saat kami mendekati gedung itu, tampak pahatan-pahatan berbentuk hewan di pinggiran atapnya. Tampak keren dan gaya! Jalanan di depannya hanya untuk pejalan kaki. Saat itu ada dua orang petugas keamanan berjalan melewati kami, tapi saat saya minta izin buat memotret mereka dan mengajak foto bareng, mereka menolak. “Kau boleh ambil foto di sekitar sini, tapi tidak boleh memotret petugas,” Sasha menerjemahkan. Kami pun berlalu.

“Gedung dengan pahatan hewan-hewan ini gedung apa, sih?” tanya saya.

Dekorasi berbentuk hewan-hewan dan adegan berburu.

“Gedung ini dipakai buat rumah dinas presiden dan acara-acara negara resmi atau diplomatik,” Sasha menjelaskan. “Dulunya gedung ini dibangun sebagai apartemen mewah, sekitar 100 tahun lalu. Nama arsiteknya Vladislav Gorodetsky, itulah kenapa bangunan ini juga disebut Gorodetsky House. Karena masalah finansial, dia harus menjual bangunan ini. Pemiliknya terus berganti hingga akhirnya dimiliki oleh poliklinik Partai Komunis hingga awal tahun 2000-an. Setelah itu, pemerintah mengambil alih gedung ini.”

“Keren!” saya berdecak kagum sambil sesekali memotret.

Keren, ya? :)

Keren, ya? 🙂

“Kau bisa lihat, elemen dekorasi eksterior gedung ini menggambarkan beberapa adegan berburu. Itu karena Gorodetsky sangat menyukai kegiatan berburu. Dia juga disebut sebagai Antonio Gaudi-nya Kiev,” kata Sasha.

Tak lama, kami sampai di Maidan Nezalezhnosti, alun-alun Kiev yang saya lewati waktu hari pertama tiba di kota ini. “Nanti ada Victor dan Yuliya yang akan menemanimu. Mereka orangnya lucu-lucu, lho, bercanda terus,” kata Sasha sambil nyengir. “Aku ada keperluan lain, jadi tak bisa berlama-lama.”

Sore itu, suasana di Maidan Nezalezhnosti cukup ramai. Udara masih agak dingin buat saya, tapi tampaknya cukup hangat bagi warga lokal. Setidaknya, kebanyakan dari mereka jaketnya lebih tipis daripada saya yang masih pakai pakaian empat lapis. Sasha menelepon seseorang, mungkin Victor atau Yuliya, menanyakan mereka sedang berada di mana. Sementara saya cuci mata di sekitar alun-alun, lalu membeli sebotol air mineral di sebuah kios minuman.

Sambil meneguk air, saya memandang ke sekeliling. Anak-anak muda Kiev nongkrong di seputar taman dan air mancur. Anak-anak kecil berlarian dan bermain, dengan para orangtua duduk-duduk di pinggir taman sambil minum-minum. Memang asyik kalau ada banyak ruang terbuka publik di sebuah kota. Katarsis gratis bagi warga yang mungkin sudah cukup penat dengan kegiatan sehari-hari.

Saya dan Sasha H. :)

Saya dan Sasha H. 🙂

Lima belas menit kemudian, seorang pemuda jangkung datang bersama seorang gadis berambut pirang kecokelatan. Mereka menjabat tangan seperti sudah lama kenal dengan saya. Pembawaan mereka tampak riang dan menyenangkan.

Sasha pun berpamitan setelah kami bertukar alamat e-mail dan nomor ponsel. “Sampai ketemu lagi ya,” katanya sambil kami berpelukan. 🙂

“Ayo, ke mana kita sekarang?” tanya saya bersemangat kepada Victor dan Yuliya.

(bersambung)