Tag Archives: wisata kuliner

Bebek Kaleyo – Bintaro

20140510_174726

Gara-gara dikasih tahu adik saya beberapa bulan lalu, setiap kali nengok orangtua, saya pasti naik travel dan turun di kawasan Bintaro sektor 7, Tangerang. Nah, di area gedung CIMB Niaga dan Lottemart, persisnya di belakang Taman Menteng, ada resto bebek favorit saya. Namanya Bebek Kaleyo. Kebetulan lokasinya cuma tinggal menyeberang jalan dari pool Baraya Travel.

Sesuai nama, menu andalan di sini jelas bebek. Ada beberapa menu yang pernah saya coba: bebek goreng kremes, bebek goreng cabe ijo, dan bebek rica-rica. Yang bakar juga ada, tapi saya belum pernah cicipin. Next time, pasti! ­čśŤ

Atas: bebek kremes. Bawah: bebek cabe ijo.

Atas: bebek kremes. Bawah: bebek cabe ijo.

Sepertinya bebeknya diungkep dalam bumbu dulu, habis itu baru digoreng. Maka itu daging bebeknya gurih dan empuk banget, bahkan makan bebek digado aja udah enak banget. Menu bebek goreng cabe ijo adalah favorit saya. Penyajiannya juga asyik, pake daun pisang.

Di sini, menurut buku primbon menu, bebek mudanya ukuran 1/2 ekor. Jadi gedenya cukupan bikin kenyang. Sambel cabe ijonya itu lho…aromanya bener-bener meneror hidung. Pedasnya mantap, porsinya banyak sampe nutupin bebeknya, dan selalu sukses bikin keringetan…hehe! Pencinta pedas pasti puas makan di sini. Kalau mau agak irit, pilih yang bebek muda ya. Yang bebek kampung ukuran 1/4 harganya 19.500, yang 1 ekor Rp 78.000.

Untuk ukuran resto, harga menu bebek di sini menurut saya┬átergolong┬ámurah banget. Untuk jenis bebek muda, porsi 1/2 ekor harganya Rp 19.500. Nasinya Rp 4.500. Kalau mau nasi uduk cukup bayar Rp 5.000. Yah, 25 ribu untuk makan bebek sih murah. Apalagi rasanya joss banget. Gurih dan sensasi pedasnya bikin merem-melek! ­čśŤ

20140118_124628

Dari kiri searah jarum jam: bebek rica-rica, bebek kremes, bebek cabe ijo.

Menu lain:

– Bebek rica-rica (Rp 21.000)

– Bebek cetar ala Madura (Rp 21.000)

– Sate bebek 4 tusuk (Rp 20.000)

Buat yang nggak suka bebek, masih ada menu ayam. Kalau sambelnya udah enak, kayaknya sih ayamnya enak juga. Menu sampingan lain ada tempe, tahu, sate ati, leher bebek, dimsum/siomay, dan sayur asem. Minumannya juga variatif, di antaranya ada es kelapa, es teler, es campur, es cincau, dan banyak lagi.

Bebek Kaleyo buka jam 11.00 – 23.00. Sayangnya, resto ini tutup┬ádi hari Minggu. Sayangnya lagi, resto ini belum ada di Bandung. Baru ada 12 cabang yang semuanya berlokasi di Jakarta dan sekitarnya. Saya lihat di Internet┬ásih rata-rata restonya┬áluas dan hampir selalu rame. Cobain aja deh. Lokasinya lihat di sini. Sayangnya, cabang Bintaro ini belum bisa menerima pembayaran dengan kartu debit. Jadi jangan lupa bawa uang tunai yang banyak. Kali aja mau nambah. ­čśŤ

Nah, habis makan bebek, kalau mau bakar kalori, jalan-jalan aja di Taman Menteng di seberang resto ini.┬áAda jembatan di atas sungai kecil yang warnanya rada butek. Ada apa di taman itu? Yah, cuma taman biasa. Paling-paling banyak abegeh pacaran, foto selfie, atau anak-anak kecil kejar-kejaran…hehehe![]

Taman di seberang resto Bebek Kaleyo.

Taman Menteng di seberang resto Bebek Kaleyo.

Pesta Kolesterol di Festival Jajanan Bango Bandung

Pintu masuk area FJB.

Pintu masuk area FJB.

Terakhir kali saya datang ke Festival Jajanan Bango (FJB) di Bandung rasanya sudah lama, tahun 2009 atau 2010. FJB memang tak selalu diadakan di Bandung setiap tahun. Jadi, Sabtu siang (9/2) lalu saya bela-belain datang, sekalian sarapan dan makan siang digabung jadi satu (!). Apalagi acara ini cuma berlangsung satu hari di masing-masing kota yang disambangi FJB (Bandung, Semarang, Malang, Surabaya, dan Jakarta).

2013-02-09 13.09.10Bandung menjadi kota pertama yang disambangi rangkaian acara pesta kolesterol ini. Tahun ini FJB digelar di area Monumen Perjuangan Rakyat, tak jauh dari kampus Unpad di Jl. Dipati Ukur. Puluhan stan makanan dan minuman digelar di dua area yang disebut Bango A dan Bango B. Panggung untuk musik disiapkan di bagian ujung tengah. Ada juga sekitar lima area makan dengan meja dan kursi.

Di antara 50 stan yang ada, sebanyak 10 di antaranya disebut oleh Bango sebagai Legenda Kuliner Nusantara. Sebut saja:┬áSate Klatak Mak Adi Yogyakarta,┬áTengkleng Klewer Bu Edi Solo,┬áSate Jamur Cak Oney,┬áTahu Tek Telor Cak Kahar Surabaya,┬áNasi Pindang Pak Ndut Semarang,┬áMie Aceh Sabang,┬áMie Koclok Mas Edy Cirebon,┬áOseng-oseng Mercon Bu Narti Yogyakarta,┬áLontong Balap Pak Gendut Surabaya, dan┬áNasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Pengennya sih hajar semua makanan itu, tapi nggak mungkin juga lah….dompet bisa jebol dan kolesterol bisa naik macam orang gila yang manjat sutet. ­čśŤ

Seperti biasa, masuk ke area FJB gratis, tapi makannya tetap bayar, dong. Kali ini panitia menerapkan sistem kupon untuk pembelian makanan, sementara di tahun-tahun yang lalu kita bisa bayar langsung ke penjualnya. Satu kupon harganya Rp 15 ribu, termasuk bonus satu kemasan kecap Bango ukuran 55 ml.

Sate jamurnya maknyus juga nih...

Sate jamurnya maknyus juga nih…

Sebenarnya saya nggak suka sama sistem ini, selain kurang praktis, pukul rata Rp 15 ribu per porsi makanan rasanya agak mahal. Jadinya ya harus ngirit. Prinsip saya, di acara seperti ini nggak perlu mendatangi stan-stan makanan yang warungnya berbasis di Bandung. Kalau ada di Bandung sih kapan-kapan juga bisa. Jadi saya beli oseng-oseng mercon Bu Narti dari Yogyakarta, Sate Jamur Tiram Cak Oney dari Yogyakarta, dan Nasi Pindang Pak Ndut Semarang.

Seporsi oseng-oseng mercon yang joss gandoss!

Seporsi oseng-oseng mercon yang joss gandoss!

Baru sekarang saya bisa makan oseng-oseng mercon siang-siang. Biasanya Bu Narti ini mulai jualan pas udah magrib kalau di Jogja. Seperti biasa, rasanya maknyuss! Tumpukan lemak yang lezat itu beberapa kali dipanaskan di wajan di stannya. Lalu, saya mengunjungi stan Nasi Pindang Pak Ndut Semarang.

Stan Nasi Pindang Pak Ndut.

Stan Nasi Pindang Pak Ndut.

Nasi pindang adalah nasi dan daging yang disajikan dengan kuah pindang dan daun so/melinjo.┬áPembeli bisa memilih lauk utama untuk nasi pindangnya, di antaranya ada jeroan sapi dan telor pindang. Saya memilih koyorÔÇösebutan lain kikil yang merupakan bagian dalam atau urat kaki sapi, dan dimasak dengan kuah kental.

Baru satu jam di sini, hujan badai pun datang. Untunglah saya sedang menikmati makanan porsi ketiga: sate jamur Cak Oney. “Daging” satenya sendiri terbuat dari jamur tiram, tapi teksturnya mirip dengan daging ayam. Mengingatkan saya pada menu-menu di resto Jejamuran, Jogja. Maknyuss….makan sate jamur saat hujan badai sambil lirik sana-sini. Bahkan bule-bule yang tampangnya masih kayak anak kuliahan pun berseliweran jalan-jalan sambil makan.

Suasana FJB.

Suasana FJB.

Setelah hujan reda, saya pun pulang…sambil bawa sebungkus oseng-oseng mercon buat makan malam di rumah. Kalau acara beginian ada setiap hari atau setiap minggu, sekalipun dengan alasan melestarikan pusaka kuliner nusantara, bahaya banget buat kesehatan dompet dan kolesterol bisa melonjak. ­čśÇ

Jejamuran

Akhirnya nulis soal kuliner lagi, setelah kemarin soal backpacking melulu. ­čÖé Ceritanya, dua tahun lalu, saya pertama tahu resto Jejamuran di Festival Jajanan Bango, ajang kuliner nasional yang waktu itu kebetulan diadakan di Bandung. Sejak itu saya jadi terobsesi (halah!) dan akhirnya pas long weekend kemarin berhasil sampai ke sini.

Resto ini nggak buka cabang di kota lain. Jadi, mumpung mudik ke Jogja barusan, saya sempatkan sowan ke Jejamuran. Peduli amat semua orang pada pesta kolesterol makan kambing dan sapi, saya udah mantap pengen makan makanan serba jamur! ­čÖé Jumat sore, setelah pinjam motor om saya, saya dan istri berboncengan menuju resto tersebut.

Lokasinya, kalau dari Terminal Jombor Jl. Magelang, sekitar 4 kilometer ke arah utara. Nyetir aja teruuussss mengikuti jalan utama, sampai Anda frustrasi. ­čÖé Tiba di perempatan Beran Lor, di Niro, Pendowoharjo, Kab. Sleman, ada papan merah yang menunjukkan lokasi resto. Belok kanan, sekitar 800 meter kemudian ketemu deh resto itu. Kalau sampai nggak ketemu….aduh, makanya pas kecil ikutan Pramuka dong. ­čśŤ Jangan tertipu dengan satu restoran yang menjual jamur juga, di pinggir jalan tak jauh sebelum tiba di perempatan tadi.

Interior resto.

Resto Jejamuran ini gede banget luasnya. Sekitar setengah lapangan bola, mungkin. Kami memesan sate jamur, tongseng jamur, sop jamur, jamur bakar pedas, dan tumis jamur lombok ijo. Sebenarnya menu lain masih banyak, tapi nggak mungkin saya pesan semuanya, dong. Sebut saja: rendang jamur, pepes jamur shitake, jamur crispy asam manis, tom yam jamur, gudeg jamur, dadar jamur shitake, lumpia jamur, semur edan jamur, karedok jamur, dan banyak lagi.

Yang kuning itu carica squash ­čÖé

Untuk minumannya, kami memesan carica squash dan jus jambu. Carica (baca: karika) alias pepaya gunung adalah buah yang dibudidayakan di kawasan Dieng, Wonosobo. Berhubung baru tahu buah ini, iseng-iseng saya tanya si pelayan. Lumayan jadi tambah pengetahuan. ­čÖé

Pepaya gunung diperkenalkan ke Indonesia saat menjelang┬áPerang Dunia II┬áoleh pemerintah kolonial┬áBelanda, dan berhasil dikembangkan di┬áDataran Tinggi Dieng. Sekarang carica menjadi salah satu oleh-oleh khas dari daerah itu.┬áBuah berwarna kuning ini bisa diolah jadi┬ásirup,┬ájus,┬ámanisan, dan┬áselai. Rasa buahnya top banget. Manis, segar, dan entah bagaimana berasa-rasa “asing”. Minuman yang sangat direkomendasikan kalau mampir ke Jejamuran!

Hajar bleeeh! ­čśŤ

Harga menu di sini menurut saya sangat baik bagi kesehatan dompet. Rata-rata di kisaran Rp 8.000 – 15.000. Mantap kan? Rasanya juga nyamleng tenan! Apalagi saya suka banget masakan-masakan yang ditumis-tumis, bakar-bakar, goreng-goreng, santan-santan…hahaha! Dan memang rasa masakan di sini mantap, setidaknya menu yang saya pesan.

Kalau makannya sambil merem mungkin saya akan mengira ini rasa daging betulan (misalnya sate). Teksturnya mirip, tapi rasa dan bumbunya sama, walau bahan utamanya tetap jamur. Enaknya sih makan di sini beramai-ramai, bisa pesan mungkin 10 masakan dan tinggal dicicipi satu per satu. Namanya juga masakan lauk, nggak perlu dimakan sampai habis. Cukup beberapa sendok ini, beberapa sendok itu, kalau lauknya masih banyak ya tambah aja nasinya. Lazis! ­čśŤ

Bermacam jamur hasil budidaya.

Di sini juga ada tempat budidaya bermacam jenis jamur, sehingga pengunjung yang ingin mencoba budidaya jamur bisa langsung bertanya-tanya. Satu lagi, kita juga bisa membeli jamur segar atau olahan buat oleh-oleh camilan berbahan jamur untuk keluarga atau teman. Pokoknya, kalau ke Jogja, harus mampir ke sini! ­čÖé

Bubur Ayam Pak Ukar

Minggu pagi, kemarin, saya dan istri menuju kawasan Buah Batu. Saat itu kami sedang sibuk keluar-masuk gang, mencari tukang bubur ayam favorit kami. Terakhir kali kami ketemu si tukang bubur itu setahun yang lalu. Kok segitunya? Begini ceritanya.

Agustus 2007 sampai Juli 2010, saya masih tinggal di loteng sebuah rumah kontrakan di Jl. Kecubung, di kawasan Buah Batu. Kawasan ini tenang walaupun hanya berjarak 100 meter dari jalan besar (Jl. Buah Batu). Seperti umumnya perumahan, banyak pedagang makanan yang lewat setiap hari di sini. Dan setiap hari akhir pekan, favorit saya adalah bubur ayam Pak Ukar.

Apa istimewanya bubur ayam Pak Ukar? Makanan yang satu ini sepertinya sudah jamak jadi menu sarapan atau jajanan favorit banyak orang. Di Bandung juga banyak sekali warung bubur ayam yang top. Tapi, bagi saya, sejauh ini bubur ayam Pak Ukar belum tertandingi kelezatannya. Untuk mengetahui apakah bubur ayam enak atau tidak, cicipi dulu buburnya saja, tanpa campuran lain-lain, karena bahan-bahan lain sama saja di mana-mana. Kalau dengan mencicipi buburnya saja terasa lezat dan gurih, maka itulah bubur ayam yang lezat.

Bubur ayam Pak Ukar.

Anda tak akan menemukan warung bubur Pak Ukar di mana pun, karena si penjual memang tidak membuka warung. Ia hanya beroperasi dengan gerobaknya di daerah Jl. Mutumanikam hingga Perum Polri di dekat Pizza Hut Buah Batu. Pak Ukar punya empat buah gerobak, yang salah satunya ia bawa sendiri. Usaha ini ia kerjakan sejak tahun 1979, dan sejak beberapa tahun lalu menjadi binaan PT Telkom guna membiayai usahanya ini. Bubur ayam hanya ia sendiri yang memasaknya. “Kira-kira setiap hari jam 12 malam saya masak bubur sendiri. Para pembantu saya tidak ada yang tahu, karena ini adalah resep istimewa yang membuat bubur saya digemari pelanggan,” jelasnya.

Empat orang pembantunya hanya bertugas menyiapkan, memasak, dan memotong bahan-bahan lain seperti ayam, seledri, bawang, ati-rempela, telur, cakwe, dsb. Sekitar pukul 05.30 pagi, beredarlah empat buah gerobak miliknya.

Saat masih tinggal di Jl. Kecubung itulah saya biasanya mengirim SMS ke ponsel Pak Ukar hampir setiap akhir pekan. Kira-kira setengah jam kemudian, bapak asal Garut ini mendentingkan sendok ke mangkuk tanda ia sudah siap di depan rumah saya.

Dengan mengeluarkan Rp 9.000, seporsi bubur ayam lezat komplit dengan telur dan ati-ampela siap disantap. Rasanya memang lezat. Apalagi, khusus untuk saya, ia tak segan menambah porsi bubur, ayam, dan krupuk. Tak tertarik membuka warung sendiri, Pak? “Tidak, lagi pula saya lebih percaya kalau saya sendiri yang mengerjakan. Dan saya juga punya banyak pelanggan setia, seperti Aden ini,” katanya kepada saya.

Selalu dipanggil pelanggan, meski sedang sibuk melayani yang lain.

Memang tak salah ia berkata demikian. Sering kali, ketika sedang meracik bubur pesanan saya, dering telepon dan SMS bertubi-tubi menyelanya. “Maaf ya Den, banyak yang nelepon…” katanya kerap kali. Pak Ukar tak pernah tahu nama saya, sehingga dia selalu memanggil saya “aden” (bahasa Sunda, panggilan sangat sopan yang kira-kira artinya: tuan, juragan).

Suatu kali bahkan ada pelanggan yang tinggal di Jl. Dago meneleponnya untuk janjian bertemu di suatu tempat, sebelum si pelanggan berangkat ke kantor dengan mobilnya. Bahkan kini, setelah saya pindah rumah sekitar 5 kilometer dari bekas kontrakan dulu, beberapa kali saya masih mencari Pak Ukar di sekitar bekas kontrakan saya, kalau tak malas keluar rumah pada Minggu pagi. Dan itulah yang saya lakukan kemarin.

“Yuk, sarapan bubur dulu.” ­čÖé

“Masih ingat saya, Pak?” tegur saya saat menemukan bapak ini di depan sebuah rumah tak jauh dari bekas kontrakan saya.

“Masih, Den,” jawab Pak Ukar sambil tersenyum. Tangan kanannya terangkat ingin menyalami saya.[]

 

 

Catatan: foto-foto di atas adalah gabungan foto beberapa tahun lalu plus Minggu pagi kemarin. ­čÖé

Ayam Lepaas!

Tenang, itu bukan seruan tetangga yang ayam peliharaannya lepas, tapi nama sebuah warung makan. Awalnya saya melihat plang nama warung makan ini di kawasan Bintaro Jaya, Tangerang. Beberapa bulan kemudian, persisnya sebulan yang lalu, saya melihat plang namanya di Jl. Soekarno-Hatta, Bandung. Dekat dengan perempatan Jl. Buah Batu. Langsung deh saya cicipin…. ­čśŤ

Menu yang ditawarkan sebenarnya sangat sederhana: ayam goreng, burung dara, dan lele. Dilengkapi dengan sambal yang pedas dan lalapan. Masakan lain yang bisa dipilih juga umum banget: tumis kangkung, tumis bunga kol, tumis tauge, tahu, dan tempe. Nah, sederhana banget, kan?

Ayamnya guede, ngenyangin ­čśŤ

Tapi menurut saya rasa ayam gorengnya enak. Dibalut tipis dengan tepung berbumbu yang gurih, daging ayamnya juga tebal dan berukuran cukup besar. Sambalnya pun pedas! Itu sebabnya disebut “ayam lepas” alias “ayam lezat pedas”. Dengan harga paket Rp 16 ribu saja kita sudah mendapat seporsi nasi plus ayam goreng beserta lalapan. Harga tumis-tumisnya pun cuma Rp 10 ribu per porsi dan rasanya pun cukup oke.┬áSelain ayam lepas, ada pula paket “ayam lemas” alias “lezat manis”, tapi yang rada nggak enak didengar sih menu “burung lepaas” alias “burung lezat manis”…hehehe! ­čÖé

Ini dia paket ayam lepas plus tumis kangkungnya ­čÖé

Rumah makan ini juga luas. Tempat makannya bisa dipilih, mau di meja atau di area lesehan. Tempat parkir luas dan ada mushola yang bersih juga. Saya sendiri sudah dua kali makan di sini. Pertama datang memang masih agak sepi, karena baru beberapa hari buka. Tapi saat datang untuk kedua kali, tempat ini sudah mulai ramai karena mungkin orang-orang sudah mulai kenal dengan tempat ini, walau andalannya cuma ayam goreng gurih dan sambal yang pedas.

Kalau tak salah, restoran asal Aceh ini sudah punya puluhan gerai yang tersebar di beberapa kota seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, Malang, Surabaya, Medan, Palembang, dan Banda Aceh. Konon, Ayam Lepas tahun ini juga akan membuka 50 gerai lagi di Jabodetabek, Bandung, dan Yogyakarta.

Area lesehan.

Sebenarnya kalau rumah makan ini punya andalan lain, bebek atau iga bakar misalnya, mungkin akan lebih asyik lagi. Tapi tak ada salahnya mencoba makan di tempat ini. Cocok kok buat makan beramai-ramai dengan teman-teman atau keluarga. Di Bandung, selain punya cabang di Jl. Soekarno Hatta ini, ada satu cabang lagi di Jl. Moh. Toha.

Menunya.

Pasar Tong Tong

Lama nggak main ke Cihampelas Walk (Ciwalk),Bandung, Jumat lalu (6/4) pas liburan saya main ke sana. Wah, di Ciwalk sekarang tempat makannya makin banyak dan penataan tempatnya makin oke. Terakhir kali main ke sana tahun lalu, foodcourt di bagian depannya belum jadi. Ciwalk sendiri memang ditata dengan konsep pedestrian dengan toko, resto, dan kafe di kanan-kirinya.

Habis Jumatan di masjid Cipaganti, saya dan istri berniat mencari tempat untuk makan siang. Pilihan kami jatuh pada resto bernama Pasar Tong Tong. Saya sih belum pernah dengar nama ini, tapi tampilan resto itu memang tergolong berbeda dibandingkan beberapa resto lain:┬ásuasana “jalanan” dan pasar tradisional.

Suasana pasar tradisional yang berdiri sejak September 2010 ini┬áterlihat dari tata letak ruangan, dekorasi, dan tentu saja menu-menu yang ditawarkan. Menu yang ditawarkan adalah masakan-masakan Indonesia, seperti aneka nasi goreng, mie, nasi liwet, nasi uduk, sate ayam & kambing, iga bakar, bebek, ayam, cumi, lotek, karedok, nasi kuning,┬ádan banyak lagi. Saya sampai puyeng mau pilih makan apa. ­čÖé┬áMenu makanan berat itu masih dilengkapi juga dengan aneka jajanan pasar, seperti kue ape, serabi, roti bakar, cendol, cingcau, dan banyak lagi.

Akhirnya kami memesan nasi uduk, nasi liwet, dan mie goreng. Minumannya kami pilih es cendol nangka dan es cingcau. Sambil menunggu pesanan datang, saya sibuk menikmati interior resto ini. Saya suka penataan tempat ini. Selain mengangkat konsep tempat makan kaki lima atau pinggir jalan, konsep Pasar Tong-Tong ini juga terinspirasi dari festival kuliner Indonesia terbesar di Belanda. Itulah sebabnya kita bisa melihat beberapa helai bendera Belanda digantung di sini.

Meja dan kursinya dibuat dari kayu dengan pernis warna cokelat kayu yang rapi. Di satu sisi ada papan tulis besar bertulisan menu di Pasar Tong Tong. Di satu sudut di samping kasir ada fasilitas Internet gratis berupa tiga unit komputer yang bebas dipakai pengunjung asalkan sedang tidak dipakai. Di sebelahnya, mereka juga menjual magnet kulkas dengan berbagai desain ala bungkus makanan, misalnya magnet mie instan, cokelat, dan banyak lagi.

Hebatnya lagi, di area kasir, mereka menyediakan charger ponsel berbagai merek bagi pengunjung yang baterai ponselnya hampir habis. Saya lihat ada charger untuk Nokia, BlackBerry, Samsung, dan iPhone.┬áDengan kapasitas ruangan dua lantai yang saya taksir mampu menampung lebih dari 100 orang, Pasar Tong Tong juga menyediakan┬áfree wi-fi dan┬áPlayStation┬á(PS). Yang terakhir ini saya cuma lihat tulisannya, nggak tahu juga di mana main PS-nya. ­čÖé

Pojok buat internetan gratis.

Sepuluh menit kemudian, pesanan kami diantar. Nasi uduk komplit pesanan istri saya enak juga. Sementara itu nasi liwetnya disajikan dengan panci kastrol, masih panas. Rasanya sih oke, tapi agak berbeda dengan nasi liwet yang pernah saya coba. Di sini nasinya disajikan agak lengket, dengan campuran suwir ayam, ikan teri, dan sayur labu di dalamnya. Nasi liwet yang pernah saya coba sih biasanya pakai putih telur atau telur rebus sekalian, dan lauknya itu disiram di atas nasinya. Kalau di Pasar Tong Tong ini semuanya sudah dicampur-aduk. Bakmi gorengnya? Mantap! Sudah begitu porsi bakminya banyak. Cukup deh buat 2 orang, apalagi makannya ditambah nasi putih. Pokoknya, semua makanan di sini menurut saya berasa enak ala kaki lima, bukan resto. Lha, apa bedanya? Ya beda lah, susah jelasinnya. Makanan kaki lima kan sering kali lebih enak. ­čśŤ

Nasi liwet.

Nasi uduk komplit.

Bakmie goreng.

Oke, suasana pasar tradisional dan warung kaki lima sudah didapat pengunjung. Lalu bagaimana dengan harganya? Menu yang saya pesan harganya masih wajar, apalagi ini kan tempatnya di mal.┬áBakmie goreng harganya Rp 19 ribu,┬ánasi liwet Rp 16.500, nasi uduk komplit 14.500, es cendol nangka 10 ribu, dan es cingcau 11.500. Masuk akal, menurut saya. Lagian enak kok makanannya. Cocok buat kongkow bareng teman-teman atau keluarga. ­čÖé

Es cendol nangka dan es cingcau. Segar!

Sebenarnya saya masih pengen makan makanan ringan macam serabi, misalnya, yang cuma Rp 7.500 dapet 4 buah. Tapi saya udah telanjur kenyang. Jadi kapan-kapan saya harus makan di sini lagi. Habis kayaknya enak semua sih. ­čśŤ

Kuma Ramen

Jumat (27/1) lalu, geng KPK (Komunitas Pencinta Kuliner) di kantor saya kasak-kusuk pengen wisata kuliner lagi. Setelah absen 2 bulan, wajarlah kalau kami pengen makan-makan lagi. Kali ini, atas usul Dini, kami makan di Kuma Ramen, sebuah tempat yang menyediakan ramen maupun udon Jepang. Tongkrongan yang disediakan bagi penggemar kuliner Jepang ini berlokasi di Jl. Cimanuk 11 H, Bandung, persis di sebelah Hotel Vio, dan buka setiap pukul 17.00 – 23.00 WIB.

Katanya, sih, jam buka Kuma Ramen disesuaikan dengan warung-warung Ramen dari negara asalnya, yang memang hanya bisa ditemukan pada malam hari. Ramen adalah makanan panas berkuah dan pedas yang memang cocok disantap pada malam hari. Ada tiga menu utama yang ditawarkan Kuma Ramen, yakni ramen, udon, dan donburi.

Ngintip dapur Kuma Ramen ­čśŤ

Mang Ramen sedang beraksi...

Ramen disajikan dalam mangkuk putih dengan kuah miso yang gurih dan ramai dengan aneka topping, seperti tamago, irisan wortel, dan daun bawang. Ramennya yang kecil panjang bertekstur lentur dan kenyal. Menu lainnya di sini adalah niku udon. Semangkuk udon yang mengepul panas disajikan dengan kuah kecokelatan dan taburan topping berupa irisan daging sapi lembut, daun bawang, dan irisan wortel segar. Perbedaan ramen dan udon terletak pada jenis mie dan kaldunya. Bentuk mie ramen lebih tipis, berbeda dengan udon yang lebih tebal. Sementara kuah ramen rasanya lebih gurih dibandingkan udon yang memiliki cita rasa asin.

Bagi penggemar kuliner Jepang rasa pedas, Kuma Ramen menyediakan tingkat kepedasan sesuai selera. Jadi, jangan tanggung-tanggung untuk menambahkan sensasi sambal pedasnya dalam menu ramen. Mulai level 1 dengan pedasnya yang cukup, level 2-5 kadar pedas biasa, dan 6 ke atas untuk penggila pedas.

Saya sendiri pesan level 5, Mb. Windu level 10, dan Mb. Dhias o (!), sementara yang lain bervariasi dari 1-5. Kata pelayannya, pernah ada anak SMA yang tembus level 170 (!). Ah, masa sih? Asal jangan salah pilih level pedasnya, seperti cewek yang satu ini:

"Markimak! Mari kita makan, masbro!"

"Hwaaaah!! Puedeeezz! Bibirku jontor nih!!!"

Soal harga, makanan di sini tidak terlalu menguras kantong. Cukup mengeluarkan Rp 20 ribu – 25 ribu, Anda sudah bisa dapat makan dan minuman. Pilihan minumannnya sendiri tidak terlalu istimewa. Selain soft drink botolan, ada cangjo (kacang ijo) dalam kemasan dan ocha (teh hijau) yang menurut Prisca, “Kayak teh tawar biasa.”

Ini udon, mienya tebal.

Ini ramen, mienya tipis.

Buku menu Kuma Ramen.

Inilah komentar sebagian anggota KPK, skala 1-10, soal ramen di tempat ini:

Eka: saya kasi bintang 7 deh..enak tp asa blm terlalu maknyuss gitu xD

Prisca: Saya kasih 7,5 deh buat ramennya.

Dyah: ***** (bintang 5) karena pedasnya cuma di awalnya doang, ke sananya biasa aja. mienya jg biasa aja.

Mb. Windu: bintang 7 dah,┬ámemang rasanya biasa-biasa ya, maksudnya dikit bumbu, padahal aku dah kasih sambal level 10 tapi kyknya masih ada yang kurang gereget gituh…

Ari: saya kasih 6,5. kuahnya lumayan enak. tp ramen nya asa kurang nonjoks. pedesnya jg agak sdikit labil :))

Pupu: bintang 7, pedesnya ga bikin perut panas *ya iyalah cuman level 1 doang,,,:D

Dini:┬áaku bintang 8 suka udon sama beef nya enyak…ps bgt hot dikasih ocha anget..

Mb. Dhias:┬ábintang 5…yg kusuka malah Cangjonya….

Saya: kasih skor 6 deh. Pedasnya sih bolehlah, tapi bumbu2nya kok kurang nendang ya? Rasanya agak nanggung, gitu. Mungkin kalo ditambah bakso atau ayam kyk mie ayam gitu asik kali ­čśŤ