Tag Archives: yogyakarta

Saoto Bathok Mbah Katro

IMG_20151030_085611

Dalam satu lawatan saya ke Jogja (jiaah…bahasanya!), yang salah satu tujuannya adalah wisata kuliner, warung Saoto Bathok Mbah Katro adalah satu yang saya incar. Habis, belakangan sering banget diomongin para tukang makan di blog-blog mereka. Dan saya juga demen banget makan soto.

Ngemeng-ngemeng, tulisan “saoto” ini bukan salah ketik, kok. Saoto adalah sebutan lain untuk soto di daerah Solo. Sebutan soto yang beragam di seantero Nusantara bagaimanapun adalah kekayaan lokal yang kudu diapresiasi. Saoto Mbah Katro ini memang mengusung genre soto Solo, sehingga penamaannya pun memakai istilah daerah asalnya.

Lanjut. Jadi, walau udah sarapan nasi goreng bikinan tante saya, pagi itu saya dan istri tetap memacu motor ke arah timur Jogja. Jaraknya agak jauh sih dari rumah saya yang dekat Malioboro, yaitu di kawasan Kalasan. Persisnya beberapa puluh meter di utara kompleks Candi Sambisari. Tak terlalu jauh dari pertigaan Bandara Adi Sucipto, siap-siap belok kiri, entah jalan apa. Pokoknya ada tulisan Candi Sambisari gitu deh.

IMG_20151030_080757

Jalan terus ke utara, sekitar 2-3 kilometer kemudian kita akan menemukan kompleks Candi Sambisari. Candinya kecil saja, dan letaknya agak di bawah permukaan tanah, sekitar 6 meteran. Terus saja ke arah utara, warungnya nanti ada di kanan jalan.

Kami sampai di sana sekitar jam 8. Sepagi itu kok warungnya sudah tampak lumayan ramai. Untungnya kapasitas warung ini luas. Bentuknya memanjang ke belakang, di kanan-kiri dan bagian belakang ada kebun tembakau dan persawahan.

IMG_20151030_085331

Warung buka dari jam 06.00 sampai 16.00. Dikonsep semi-outdoor, ada saung-saung berukuran kecil hingga besar sebagai tempat untuk menyantap soto bathok. Saung-saung itu ada yang berbentuk lesehan dan ada yang dengan meja-kursi. Di sini bahkan juga ada beberapa jungkat-jungkit dan ayunan. Mungkin buat pengunjung yang datang sekeluarga bersama anak-anak.

Di bagian depan, kita bisa langsung pesan makanan. Menunya memang cuma soto daging sapi, tapi masih ada beberapa “teman” seperti sate usus, sate telor puyuh, dan tempe goreng yang aduhai gurihnya. 😛

IMG_20151030_080446

Yang unik dari warung ini adalah mangkok sotonya yang terbuat dari bathok (tempurung) kelapa. Isi soto bathok ini adalah nasi, tauge, taburan daun seledri, dan taburan bawang merah goreng. Rasa dari soto daging sapi di sini juga enak. Segar dan tidak berlemak.

IMG_20151030_085143Kuah sotonya bening. Rasa gurih kuahnya berasal dari kaldu daging sapi sangat pas, dan akan semakin nikmat ketika ditambah perasan jeruk nipis, sambal, kecap, dan kerupuk. Tentunya jangan lupa sama “teman-teman” soto tadi. Ditambah lagi dengan segelas es jeruk atau es teh…wuidiiih! 🙂

Enaknya makan di sini emang pagi-pagi kayaknya. Udara masih cukup sejuk, dan makan soto di tengah persawahan dan kebun memang sensasinya aduhai. Pengen berlama-lama rasanya duduk dan tiduran di saung yang nyaman itu. 🙂

Kombinasi suasana ndeso dengan soto yang nikmat ini masih ditambah lagi dengan harganya yang murah bingits. Bayangkan, nasi soto daging sapi ini harganya cuma Rp 5 ribu per mangkok. Tempenya Rp 500 per biji, sate usus Rp 1000, dan sate telor puyuhnya Rp 2000 per tusuk. Untuk minumannya, es jeruk cuma Rp 2000 per gelas, dan teh anget cuma Rp 1000. 🙂

IMG_20151030_080533Ngemeng-ngemeng, Mbah Katro siapa sih? Ternyata si “Mbah” ini adalah mantan karyawan hotel yang tampaknya belum pantas dipanggil “Mbah”….hehehe.  Warung ini sendiri belum lama buka. Yah, sekitar awal 2015 deh…

Total yang kami bayar untuk menu seperti foto di atas cuma Rp 17.000! Edyan… 😛 Ya puas lah, makan enak, murah, dan bonus pemandangan asri di sekeliling warung. Buat kamu yang lagi ke Jogja, jangan lupa mampir ke sini deh…maknyuss! Jogja emang kota soto! 🙂 []

Advertisements

Soto Ayam Pak Gareng – Jogja

pak gareng 1

Soto adalah salah satu makanan favorit saya untuk sarapan. Kalau sedang mudik ke Jogja, setiap jam 6 pagi saya pasti bela-belain mampir ke warung Soto Ayam Pak Gareng. Sejak masih kuliah, tempat ini jadi tempat sarapan saya. Warung ini terletak di Jl. Mangkubumi, utara Jl. Malioboro, di seberang gedung BCA, tidak jauh dari pintu depan Stasiun Tugu. Dan yang tidak kalah penting: jaraknya cuma 200-an meter dari rumah saya…hehehe! 🙂

Soto Pak Gareng buka setiap pagi dari jam 6 hingga tengah hari. Sepagi itu juga biasanya warung kaki lima ini sudah penuh pengunjung, tak peduli hari kerja atau hari libur. Oh ya, yang jualan di sini bukan Pak Gareng, tapi cucunya. Entah namanya Bu siapa… 😛

Sarapan di sini benar-benar murah meriah. Semangkuk soto campur nasi harganya cuma Rp 6.000, kalau nasi dipisah Rp 7.000 (!). Sate ati cuma Rp 2.000. Minumannya juga murah, antara Rp 2.000 – 3.000. Tapi itu sebelum harga BBM naik per 18 November 2014 ya….hahaha! Pelayanannya juga cepat. Tak sampai 5 menit, soto pesanan kita sudah terhidang di bawah hidung.

Soto, sate, es jeruk. Josss!!

Soto, sate, es jeruk. Juoss gandosss!!

Yang namanya makan soto nggak lengkap tanpa “konco-konconya”. Nah, di warung Pak Gareng ini, di atas meja selalu tersedia sate ati, sate ayam, sate telor puyuh, tempe dan tahu bacem, plus lenthok. Yang terakhir ini adalah camilan yang terbuat dari singkong yang dibumbui, dihaluskan, lalu digoreng. Biasanya buat lauk teman makan soto.

Menu satu-satunya di sini adalah soto ayam. Tinggal pilih mau apakah nasinya dicampur atau dipisah. Selain nasi, dalam semangkuk soto ada soun, irisan kol, taoge, lenthok, dan suwiran daging ayam yang kemudian diguyur dengan kuah soto panas. Kuah sotonya termasuk bening dan terasa ringan bumbu-bumbunya. Gurihnya juga pas dan segar. Tambahkan sambal, kecap, atau perasan jeruk nipis jika suka.

Selalu ramai... :)

Selalu ramai… 🙂

Porsi yang disajikan sebenarnya cukupan untuk mengganjal perut yang lapar di pagi hari alias tidak membuat perut terlalu kenyang. Tapi buat saya sih sepertinya harus makan dua mangkuk…hehehe! Lagian harganya murah kok, jadi yaa…tambah aja! 😀

Biasanya juga banyak pengamen kalau kita makan di sini, tapi mereka mainnya lumayan bagus dan kadang ada sepasang pengamen tua memainkan lagu-lagu tradisional dengan siter (alat musik petik dalam gamelan Jawa). Habis makan, biasanya saya jalan-jalan ke Malioboro, beli koran dan baca sambil duduk-duduk di bangku di bawah pohon rimbun. Memerhatikan kereta mondar-mandir dan ngeceng (ngelamun sambil cengengesan).

Nah, jelas kan sekarang kenapa saya 6,5 tahun baru lulus kuliah….. *eh* 😀

Jejamuran

Akhirnya nulis soal kuliner lagi, setelah kemarin soal backpacking melulu. 🙂 Ceritanya, dua tahun lalu, saya pertama tahu resto Jejamuran di Festival Jajanan Bango, ajang kuliner nasional yang waktu itu kebetulan diadakan di Bandung. Sejak itu saya jadi terobsesi (halah!) dan akhirnya pas long weekend kemarin berhasil sampai ke sini.

Resto ini nggak buka cabang di kota lain. Jadi, mumpung mudik ke Jogja barusan, saya sempatkan sowan ke Jejamuran. Peduli amat semua orang pada pesta kolesterol makan kambing dan sapi, saya udah mantap pengen makan makanan serba jamur! 🙂 Jumat sore, setelah pinjam motor om saya, saya dan istri berboncengan menuju resto tersebut.

Lokasinya, kalau dari Terminal Jombor Jl. Magelang, sekitar 4 kilometer ke arah utara. Nyetir aja teruuussss mengikuti jalan utama, sampai Anda frustrasi. 🙂 Tiba di perempatan Beran Lor, di Niro, Pendowoharjo, Kab. Sleman, ada papan merah yang menunjukkan lokasi resto. Belok kanan, sekitar 800 meter kemudian ketemu deh resto itu. Kalau sampai nggak ketemu….aduh, makanya pas kecil ikutan Pramuka dong. 😛 Jangan tertipu dengan satu restoran yang menjual jamur juga, di pinggir jalan tak jauh sebelum tiba di perempatan tadi.

Interior resto.

Resto Jejamuran ini gede banget luasnya. Sekitar setengah lapangan bola, mungkin. Kami memesan sate jamur, tongseng jamur, sop jamur, jamur bakar pedas, dan tumis jamur lombok ijo. Sebenarnya menu lain masih banyak, tapi nggak mungkin saya pesan semuanya, dong. Sebut saja: rendang jamur, pepes jamur shitake, jamur crispy asam manis, tom yam jamur, gudeg jamur, dadar jamur shitake, lumpia jamur, semur edan jamur, karedok jamur, dan banyak lagi.

Yang kuning itu carica squash 🙂

Untuk minumannya, kami memesan carica squash dan jus jambu. Carica (baca: karika) alias pepaya gunung adalah buah yang dibudidayakan di kawasan Dieng, Wonosobo. Berhubung baru tahu buah ini, iseng-iseng saya tanya si pelayan. Lumayan jadi tambah pengetahuan. 🙂

Pepaya gunung diperkenalkan ke Indonesia saat menjelang Perang Dunia II oleh pemerintah kolonial Belanda, dan berhasil dikembangkan di Dataran Tinggi Dieng. Sekarang carica menjadi salah satu oleh-oleh khas dari daerah itu. Buah berwarna kuning ini bisa diolah jadi sirup, jus, manisan, dan selai. Rasa buahnya top banget. Manis, segar, dan entah bagaimana berasa-rasa “asing”. Minuman yang sangat direkomendasikan kalau mampir ke Jejamuran!

Hajar bleeeh! 😛

Harga menu di sini menurut saya sangat baik bagi kesehatan dompet. Rata-rata di kisaran Rp 8.000 – 15.000. Mantap kan? Rasanya juga nyamleng tenan! Apalagi saya suka banget masakan-masakan yang ditumis-tumis, bakar-bakar, goreng-goreng, santan-santan…hahaha! Dan memang rasa masakan di sini mantap, setidaknya menu yang saya pesan.

Kalau makannya sambil merem mungkin saya akan mengira ini rasa daging betulan (misalnya sate). Teksturnya mirip, tapi rasa dan bumbunya sama, walau bahan utamanya tetap jamur. Enaknya sih makan di sini beramai-ramai, bisa pesan mungkin 10 masakan dan tinggal dicicipi satu per satu. Namanya juga masakan lauk, nggak perlu dimakan sampai habis. Cukup beberapa sendok ini, beberapa sendok itu, kalau lauknya masih banyak ya tambah aja nasinya. Lazis! 😛

Bermacam jamur hasil budidaya.

Di sini juga ada tempat budidaya bermacam jenis jamur, sehingga pengunjung yang ingin mencoba budidaya jamur bisa langsung bertanya-tanya. Satu lagi, kita juga bisa membeli jamur segar atau olahan buat oleh-oleh camilan berbahan jamur untuk keluarga atau teman. Pokoknya, kalau ke Jogja, harus mampir ke sini! 🙂