Reuni

“Bukan begitu nulisnya,” tegur Daniel sambil tertawa kecil waktu melihat saya menyimpan nama dan nomor ponselnya saat kami sedang naik bis. “Tapi ya gapapa juga sih, versi bahasa Inggris namaku emang itu.”

Seharusnya saya menulis “Danylo”, tapi sejak awal Sasha, teman saya satu lagi, memperkenalkan dia dengan nama Daniel. “Biar gampang,” kata Sasha.

Saat itu akhir musim dingin di Kiev. Saya sedang libur mengajar dan memilih main ke ibukota Ukraina itu untuk main salju dan sempat menginap dua malam di apartemen Daniel.

Dua belas tahun kemudian, kami ketemu lagi di Sunda Empire…eh, Bandung, maksudnya. 😅 Daniel datang bersama istrinya, Zhenya, setelah dua hari main di Jakarta.

“Ngapain main di Jakarta? Mendingan ke Jogja,” kata saya.

“Hahaha! Waktunya terbatas bro, nyari tiket yang agak murah juga udah susah waktu itu. Mungkin menjelang Imlek tiket udah pada habis,” ujar Daniel.

Setelah memarkir motor di hotelnya yang bangunannya berupa rumah tua, saya ajak mereka jalan kaki ke Pasar Cisangkuy buat makan malam. Di sana kami banyak ngobrol sambil sesekali bernostalgia.

Buku menu di sini tebal sekali, mirip kamus. Jadi kami butuh waktu lama buat milih makanan. Dan tentu saja saya otomatis menjelaskan dan merekomendasikan beberapa menu, sesuai selera saya…hehehe!

Jadi, Rabu malam itu kami memesan mie goreng jogja, mie nyemek, ayam geprek mozarella, sate ayam, bandrek, STMJ, dan teh leci. Tidak lupa kue cubit green tea oreo buat ngemil. 😅 Mereka makan dengan lahap sambil sesekali nyicipin makanan masing².

“Tadi siang kami makan masakan Sunda di resto sana,” kata Daniel sambil nunjukin foto di ponselnya. “Aku suka ini,” lanjutnya sambil nunjuk pete dan perkedel kentang.

Daniel dan istrinya sudah beberapa tahun ini tinggal di Saigon, Vietnam. Mereka bekerja sebagai guru bahasa Inggris. “Ternyata nyeberang jalan di sana lebih berbahaya daripada di sini. Di sini pengendara motor masih mau melambatkan kendaraan lah, minimal ada kontak mata dengan penyeberang. Di sana, jangan harap,” ceritanya sambil ketawa.

Selesai makan, kami masih mau ngobrol lebih lama lagi. “Makanannya enak² ya, aku suka semua!” komentar Zhenya. Jadi mereka pesan teh sereh jahe dan es cincau buat teman ngobrol, sambil menceritakan kesan mereka nonton pertunjukan angklung di Saung Udjo beberapa jam sebelumnya.

Setelah kekenyangan makan, kami jalan² dulu, kebiasaan bagus yang sudah lama saya tinggalkan. Kami memutari Gasibu dan Gedung Sate, menikmati udara sejuk karena sorenya hujan, sebelum balik ke hotel mereka. Besoknya mereka mau main ke Lembang dan Tangkuban Perahu. Setelah bantuin cari info dan sebagainya, saya sarankan mereka untuk nyobain bubur ayam kalau mau sarapan, sebelum pulang Sabtu ini.

“Makan bubur ayam harus diaduk. Itu udah paling bener,” kata saya.

“Hahaha! Iya deh, besok nyobain bubur ayam,” kata Zhenya.

Dan kami pun berpisah. 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s