Tag Archives: editor

Pelatihan Penyuntingan Buku Terjemahan

20150418_095600

Jam 9 kurang seperempat pagi itu, ketika sopir mobil travel menurunkan saya dan Mbak Dhias, rekan sekantor, sedikit di depan gerbang tol Slipi. Hari itu (Sabtu, 18/4), kami dijadwalkan ikut acara Pelatihan Penyuntingan Buku Terjemahan di Gedung Kompas-Gramedia di kawasan Palmerah Barat. Baru kali ini saya diturunkan di jalan tol…hehe! Tapi emang saya yang minta sih. Kalau tidak, turunnya bisa lebih jauh lagi di Tanjung Duren.

Saat berjalan kaki ke perempatan Slipi – Palmerah untuk nyambung naik mikrolet, tak sengaja saya menemukan penjual nasi bebek (!). Tapi karena acara yang akan dimulai jam 9, saya terpaksa jalan terus dan hanya menoleh sedih ke arah gerobak nasi bebek itu.

20150421_070604Ternyata, waktu jam 9-an saya sampai di lantai 7 di gedung KG, acara belum dimulai. Acara ini sendiri diadakan oleh HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) bekerja sama dengan Penerbit GPU (Gramedia Pustaka Utama). Kaget juga saya melihat ruangan yang sangat penuh. Setelah menandatangani daftar hadir, saya mendapat goodie bag yang isinya cihuy: dua buku notes, kalender meja GPU, bolpen, dan novel terbitan GPU. Saya tadinya mendapat jatah novel Hopeless-nya Colleen Hoover, tapi belakangan boleh saya tukar dengan Burial Rites-nya Hannah Kent berkat Kak Mei yang baik (ge-er nih pasti orangnya). 😛

Setelah sambutan dari panitia, yang diwakili Mbak Uci, Andi Tarigan, salah seorang editor non-fiksi GPU, melanjutkan kata sambutan. Dia bilang, panitia tadinya membatasi peserta untuk 30-40 orang saja. Namun, ternyata antusiasme peserta sangat besar sehingga yang mendaftar mencapai 90 orang (!). Bahkan ada yang datang dari Jogja dan Sumatra. Ini setidaknya saya baca sebagai: (a) stok penerjemah banyak, penerbit senang, (b) bagi penerjemah lepas, pesaing akan semakin banyak dan mereka harus menjaga kualitas terjemahan mereka. Penerbit ya senang juga…hehehe! 🙂

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Pak Hananto (Ketua HPI). Pak Hananto mengatakan bahwa acara kali ini lebih bersifat sharing ketimbang pelatihan. Beliau juga mengisahkan sejarah singkat HPI dan pentingnya peran penerjemah. Menurut Pak Hananto, “Terjemahan tidak akan pernah bisa sempurna dilakukan oleh mesin.”

Meskipun ada Google Translate dan peranti lunak semacamnya, sebagus-bagusnya hasil terjemahan software, hasilnya tidak akan bisa sebagus terjemahan oleh manusia, karena manusia memiliki rasa dan akal budi yang memungkinkannya menerjemahkan berdasarkan konteks yang pas atau sesuai. Penerjemahan dan penyuntingan juga bisa disebut seni, karena membutuhkan keahlian memilih dan menyusun kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksud si penulis asli ke bahasa lain tanpa menghilangkan ciri khas atau gaya tutur si penulis.

20150418_090125

Selepas sambutan, ada sesi coffee break sejenak sebelum acara dimulai jam 10. Sambil ngofi brek, saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa wajah yang saya kenal, seperti Kak Mei, Mbak Dina, Mbak Lulu, Mbak Linda, dan Mbak Rere (ada yang kelewat? hehe!). Setelah melahap dua potong pastel sayur (satu dikasih Mbak Dina yang nggak doyan pastel) dan sambil membawa secangkir teh krim hangat, saya masuk lagi ke ruangan dan acara pun dimulai.

Pembicara pertama di acara ini adalah Nina Andiana. Menurut salah seorang editor fiksi GPU ini, menerjemahkan atau menyunting karya fiksi bertujuan menciptakan pengalaman membaca semirip mungkin dengan pengalaman saat membaca buku aslinya. Pembaca mendapat rasa buku sesuai buku aslinya, tapi pada saat yang sama editor juga harus sanggup menyampaikan ide, rasa, dan “suara” penulis asli buku itu dengan baik dan pas.

Nina mengajukan pertanyaan: lebih penting menerjemahkan kata demi kata dengan akurat atau menerjemahkan sesuai jiwa/semangat buku tersebut? Idealnya, kedua hal itu harus dilakukan secara proporsional.

Nina melanjutkan, jika ingin menjadi editor yang baik, ada beberapa syarat dasar yang mutlak harus dipenuhi: gila baca, punya kompetensi dalam bahasa target, bisa menulis, punya kompetensi dalam bahasa sumber dan bahasa target. Penguasaan bahasa target justru lebih dipentingkan. Kenapa? Jika kita tidak mengerti sepenuhnya bahasa sumber, kita masih bisa mencari artinya di kamus atau Internet. Namun, menerjemahkan naskah buku asing ke dalam bahasa Indonesia yang tepat, pas, sesuai konteks, dan enak dibaca memerlukan penguasaan bahasa Indonesia yang sangat baik. Karena itulah sebaiknya editor juga harus punya kemampuan di atas rata-rata dalam hal menulis dan menerjemahkan dalam bahasa target, sehingga hasil suntingan punya tingkat keterbacaan tinggi. Nah, makanya … harus rajin ngeblog atau nerbitin buku solo sekalian … 🙂

Ada beberapa hal yang wajib diperhatikan editor saat menyunting: tata bahasa dan ejaan, kosakata, idiom, selingkung, fakta, dan gaya bahasa. Editor tidak boleh malas memeriksa ulang kalimat-kalimat bahasa target dan sumber yang terasa ganjil, karena bisa saja itu idiom atau peribahasa khas di negara asal penulis. Editor juga harus memeriksa fakta-fakta dalam bahan terjemahan agar tidak salah memahami maksud penulis. Gaya bahasa harus diperhatikan dengan cermat sehingga bisa dipahami dengan mudah, namun tetap menjaga gaya khas si penulis. Nina juga memberi tips untuk penerjemah agar mengecek ulang setelah menerjemahkan satu kalimat atau bagian, sehingga tidak repot mengecek hal-hal di atas tadi saat merapikan hasil terjemahan.

Peserta kemudian diminta mencoba dua latihan penyuntingan. Latihan pertama menggunakan beberapa paragraf dari Tales of the Beedle Bard karya J.K. Rowling. Peserta diminta menerjemahkannya dan kemudian hasil terjemahan salah satu peserta dikoreksi bareng-bareng. Latihan kedua diambil dari novel Dark Divine karya Bree Despain. Di sini kami diminta mengoreksi naskah terjemahan mentah (belum diedit) dari penerjemah buku itu.

Rasanya banyak yang sepakat dengan Nina, bahwa seni menerjemahkan dan menyunting itu bukan melulu masalah benar atau salah. Kesimpulannya, menurut saya, mungkin seperti kata Rumi: “Beyond our ideas of right-doing and wrong-doing, there is a field. I’ll meet you there”. Untuk konteks dunia penerjemahan dan penyuntingan buku, terjemahan asal-asalan saya adalah: lebih daripada sekadar benar atau salah, terjemahan adalah juga seni menyampaikan gagasan dari bahasa lain secara tepat, pas, dan mulus dibaca. I’ll meet you there … 😛

20150418_120336

Menu maksi 🙂

Usai sesi pertama, peserta diberi waktu satu jam untuk makan siang dan sholat. Menu makan siangnya: nasi rames, lauknya ayam suwir, gepuk, telor pindang, oseng tempe, dan satu lagi oseng pedas apa gitu (lupa). Tapi, walau sederhana, kok enak ya … sayang nggak bisa nambah … hehehe! 🙂

Jam satu, acara dilanjutkan lagi. Kali ini pembicaranya adalah Andi Tarigan. Salah seorang editor non-fiksi GPU ini bilang bahwa menyunting naskah non-fiksi tentu tidak bisa disamakan begitu saja dengan menyunting naskah fiksi. Dia lalu menyampaikan beberapa prinsip dasar dalam menyunting naskah terjemahan:

– Membaca: membangun cakrawala pemahaman dan memahami argumentasi

Editor perlu memahami terlebih dahulu gagasan besar yang ingin disampaikan penulis, juga konteks dan alam pikir yang mendasari seluruh proses penulisan. Jadi, sebaiknya editor membaca dulu isi buku aslinya sebelum mengedit hasil terjemahan.

– Penyuntingan: akurasi, konsistensi, kecermatan, gramatika, ejaan, tanda baca, etika, dan kesantunan 

Ada cukup banyak item yang harus diperiksa editor dalam menyunting naskah non-fiksi. Terminologi, nama (orang, institusi, perusahaan, dan merek dagang), gelar (religius, kultural, akademik), simbol dan rumus yang dipakai disiplin ilmu, data historis (apa, kapan, dan di mana terjadinya satu peristiwa), data deskriptif (sistem pemerintahan, metode perdagangan, dll.)

Editor juga harus memeriksa printilan semacam data rujukan (judul buku, jurnal, artikel, majalah, koran, dan situs web), referensi (catatan kaki dan daftar pustaka), hak cipta (foto, ilustrasi, gambar, grafik, dan tabel), daftar isi: kesesuaian antara daftar isi dan isi buku.

Ini masih ditambah dengan tata bahasa, ejaan, kalimat efektif, dan tanda baca. Masalah penulisan kata depan “di” dan imbuhan “di-“, misalnya, tentu saja masih bikin kesal para editor hingga hari ini. Maklum, mayoritas orang Indonesia memang tidak tahu bedanya, padahal itu pelajaran SD. 😛

Kepekaan juga dituntut dalam pekerjaan penyuntingan. Editor dituntut untuk sangat peka terhadap teks-teks yang sekiranya “berbahaya” jika diloloskan, misalnya isu-isu SARA dan sejenisnya.

Tambahan saya sih … keseimbangan membaca buku fiksi dan non-fiksi juga sangat penting bagi editor. Membaca banyak jenis buku akan menumbuhkan kemampuan meluweskan dan memuluskan tulisan atau hasil terjemahan. Tentu keterampilan ini sangat diwajibkan bagi editor (dan penerjemah) ketika bertemu dengan kalimat-kalimat buku non-fiksi yang kadang kaku dan penuh anak kalimat.

Yah, itulah yang bisa saya rangkum dari acara kemarin. Semoga berguna buat pembaca blog keren ini. 🙂

***

Acara disudahi jam tiga sore. Setelah Ashar dan ngobrol lagi sana-sini, kami pun pulang segera sesudah hujan reda. Menurut petunjuk Kak Mei, ada pool DayTrans nggak jauh dari situ. Benarlah, hanya satu kilometer naik mikrolet, saya melihat pool itu.

20150418_160153Setelah membeli tiket, berhubung uang makan masih utuh, sibuklah saya menjelajahi daerah sekitar untuk mencari warung makan yang cihuy. Tak sengaja, saya menemukan warung kecil yang dari luar tampak menarik. Salah satu menunya adalah: bebek mercon! Ha … lumayan lah buat pengganti nasi bebek yang terlewatkan tadi pagi! 😛

Bagian dalam warung tampak bersih dan penataannya cukup berselera. Sambil melahap makan sore, saya merenungkan sedikit isi pelatihan tadi. Sebagai editor in house, saya menganggap hampir semua materi yang dihidangkan tadi adalah makanan saya setiap hari. Tentu saja tetap menarik melihat bagaimana beberapa peserta mencoba merapikan terjemahan saat sesi latihan tadi.

20150418_161019

Bebek mercon 🙂

Satu hal mencolok yang membedakan sebenarnya cuma soal selingkung alias kecenderungan/kebiasaan di masing-masing penerbit/media massa. Kapan ya bahasa Indonesia tak perlu berkubu-kubu lagi seperti ini? 🙂

Terus, ada bagusnya juga kalau lain kali acara semacam ini dibikin rada eksklusif, dengan jumlah peserta yang sangat terbatas dan bahasan yang jauh lebih fokus. Misalnya pelatihan khusus editor dan penerjemah buku yang jam terbangnya tinggi saja (bukan pemula), gitu. Misalnya lagi, fokus ke tema penerjemahan dan penyuntingan novel romance, thriller, atau buku bisnis. Yaa … sekadar usul aja sih 🙂

Oke, waktunya balik ke Bandung. Beberapa menit sebelum berangkat, saya menyempatkan diri mampir ke Circle K di samping pool mobil travel, membeli minuman segar dan chicken katsu untuk menyibukkan diri di perjalanan.[] 🙂

Advertisements

5 Tahun

Teman seangkatan. :)

Teman seangkatan. 🙂

Kata Indra, hari ini tepat lima tahun kami setia melayani pembaca dengan bekerja di Mizan Pustaka. Wah, nggak terasa udah selama itu ya…Lima tahun…weks, aku tambah tua 😛

Aku sendiri nggak begitu ingat tanggal berapa aku bergabung di Mizan Pustaka. Ingetnya setelah gabung sebulan kemudian hamil…wkwkwkwkwk (tapi bukan sama Indra ya!!!). Sekarang Adinda 4 tahun lebih dikit, jadi mungkin Indra memang benar. Lagipula, dia kan yang lebih teliti di antara kami.

Sebenarnya tak pernah terbayang akan benar-benar jadi editor in-house. Aku sudah menyiapkan diri bekerja freelance dari rumah. Tapi nasib berkata lain, pada suatu pagi lima tahun lalu, bersama Nur Aini dan Indra, aku ikut doa pagi dan mengenalkan diri di kantor Mizan Pustaka.

Pertama kali agak kaget juga sih, ternyata editor in-house kerjaannya buanyaaaaak buanget! hehehe… Tapi seru!

Aku bisa ketemu dengan teman-teman hebat dan orang-orang keren. Aku suka dengan pekerjaannya. Fulfilling, kata orang sih. Baik lahir (banyak makanan) maupun batin (banyak bacaan). Setidaknya sudah ada dua orang (temen kuliah dari IKIP) yang bilang “it’s so you”, saat aku bilang kalau aku kerja jadi editor. Wawasanku selalu nambah wawasan, ini yang aku suka banget. Selain itu, jadi editor in house juga membuatku lebih humble dan semakin banyak belajar, setelah melalui begitu banyak deru dan debu, batu dan kerikil, sandungan dan rintangan. This is the road less traveled but I love it every step of the way. At least, aku yakin bahwa ini sesuai dengan cita-citaku menjadi manusia pembelajar… #jiaaahhh #killme!

Kalau kata suamiku, upside-nya setelah aku kerja jadi editor adalah: rewelnya berkurang 😀

Hanya satu downside-nya: nambah uban 😛

Esti Budihabsari

“Diwawancara”

meja

Meja kerja editor yang selalu berantakan.

Berawal dari obrolan-obrolan random yang kadang nggak jelas dengan Rini Nurul Badariah—seorang penerjemah/editor lepas, akhirnya “wawancara” tentang pekerjaan kami berdua itu dimuat di blognya. Silakan menikmati. 🙂

Indradya SP: Penerjemah dan Editor Lepas Sebaiknya Punya Blog

Apr 1, 2013 by Rini Nurul

Kendati paham menyungainya tugas editor in house, tak ayal saya bertanya-tanya mengapa mereka yang punya blog sangat jarang menulis tentang hal-hal berbau pekerjaan. Indradya, editor Mizan Pustaka yang kini identik dengan buku traveling karena blognya dan beberapa buku yang ia sunting (Geography of Bliss dan Bikepacker Nekat di antaranya) sama saja. Ketika saya minta menulis barang sedikit tentang penerjemahan dan penyuntingan, katanya seperti disuruh lari 10 kali keliling Bangkok. Untunglah Indra bisa saya “ganggu” dengan tanya ini-itu alias wawancara santai, dengan banyak ngalor-ngidul di awalnya.

Berikut obrolan tempo hari:

R: Sebelum jadi editor in house, gimana bayangan Indra mengenai tugasnya? Apakah kenyataannya sekarang mirip, atau jauh berbeda?

I: Sebelum jadi editor in house, saya malah jadi guru bahasa inggris. tapi saya sudah cukup banyak tahu seperti apa detail pekerjaan seorang editor. Modal untuk tahu soal itu cuma dengan browsing dan blogwalking. Ditambah minat, tentu saja. Setelah jadi editor di sini selama 4 tahun, tugas editor tak jauh berbeda dengan bayangan saya. Aslinya sih saya memang ingin jadi editor.

R: Kabarnya penerjemah bisa ketahuan lebih bagus di nonfiksi atau fiksi. Adakah kriterianya?

I: Ciri paling gampang bisa dilihat dari apa minat bacanya. Kalau bacanya hampir selalu buku fiksi, ya kemungkinan besar di situ kemampuan dan pengetahuannya. Saya sendiri membaca banyak tema, baik fiksi maupun nonfiksi. Imbasnya, buku yang saya edit juga beragam temanya. Sejauh ini saya sangat menikmati kok.

R: Jadi Indra sekarang menangani nonfiksi saja atau fiksi juga?

I: Saya sekarang lebih banyak diberi jatah buku nonfiksi. Persentasenya kira2 65% nonfiksi dan 35% fiksi.

R: Apakah pernah menangani buku yang dirasa kurang cocok?

I: Editor in chief kan udah tau genre ini cocoknya buat editor A atau B, sudah terpetakan di sini. Kalaupun saya ngerasa nggak sanggup, boleh nolak kok… atau cari editor freelance yang pas untuk naskah tersebut.

R: Bagaimana cara Indra sendiri menentukan penerjemah yang cocok untuk naskah tertentu?

I: Diliat track record juga, plus ngobrol-ngobrol dulu. Buku ini temanya begini-begitu, sanggup/mau nggak?

Kalau dari pengalaman, penerjemah yang merasa tidak sanggup atau tidak berminat pasti menolak. “Wah, saya mendingan buku bisnis/manajemen aja Mas.”

Untuk penerjemah/editor freelance baru, dalam artian yang belum pernah bekerja sama dengan penerbit saya, ya tentunya dilihat CV-nya, dites dulu, plus ngobrol dan dilacak hal-hal lainnya, misalnya blog atau buku-buku yang pernah dia terjemahkan di penerbit lain. Makanya, penerjemah/editor freelance perlu banget punya blog. Apalagi kalau si editor/penerjemah lepas ini juga bisa nulis bagus, makin tinggilah skornya. Makin besar kesempatan buat dicolek sama penerbit.

R: kalau memang biasa garap berbeda-beda genre/tema, gimana cara beralih dengan mulus waktu nerjemahin/ngedit?

I: Awalnya baca bismillah dulu, abis itu skimming dan scanning. Dengan beban pekerjaan seperti ini, begitu satu naskah sudah masuk percetakan, lupakan yang sudah lewat dan langsung hajar yang berikutnya.

R: Bisa otomatis melupakan gitu aja?

I: Lama-lama ya biasa. Kalo buku yg sudah dicetak ada masalah, memori itu akan kembali, karena jeda waktunya juga tidak lama.

R: Apa asyiknya industri perbukuan buat Indra?

I: bisa terus belajar skill editing dan penerjemahan, sama nulis. Ini masih ditambah kesempatan belajar memburu penulis potensial yang belum “digosok”. Kalo ada kesempatan mungkin saya mau aja belajar cara mencetak buku di percetakan.

R: Banyak yang bilang editor buku kerjanya berat, tapi pendapatannya tidak besar. Menurut Indra gimana?

I: Ada beberapa pekerjaan yg menurut saya menuntut dedikasi. Beberapa di antaranya: wartawan dan editor buku. Soal pendapatan itu kan relatif banget. Tentu jangan dibandingkan dengan kerja di perusahaan minyak global. Dalam kasus saya, pekerjaan sebagai editor buku itu secara penghasilan dan kepuasan batin baik2 aja tuh. Dalam pekerjaan ini, setiap buku yang digarap selalu punya cerita yang berbeda. Tantangannya juga selalu berbeda. Ketika melihat buku keluar dari percetakan dengan tampilan keren, saat mengetahui buku yang saya garap jadi bestseller, atau berhasil membimbing seseorang yang berpotensi yang belum menulis hingga dia selesai menulis, kepuasan semacam ini sulit dilukiskan.

Khusus editor buku, ini jenis profesi yang menuntut kecintaan. Anda bisa jadi staf keuangan atau administrasi di semua perusahaan. Tapi editor buku hanya bisa bekerja di penerbit buku, termasuk editor freelance yang bersimbiosis mutualisme dengan penerbit. Yaa paling banter masih bisa kerja di surat kabar atau ngajar bahasa deh. Kecuali orang tersebut memang punya keahlian lain di luar yang saya sebutkan itu.

Kalau saya, sejak dari mahasiswa sudah mencoba menjelajahi berbagai profesi yang berhubungan dengan bahasa. Wartawan, guru bahasa Indonesia untuk orang asing, guru bahasa Inggris, dan sekarang editor buku. Saya lebih menikmati yang terakhir ini.

Catatan: Indra menempuh studinya di jurusan Sastra Prancis UGM.

R: Editor in house kadang mendapat tugas menerjemahkan untuk kantornya, adakalanya bersama editor lain. Adakah kiat menerjemahkan atau mengedit keroyokan?

I: Memang agak merepotkan ya. Menerjemahkan keroyokan itu biasanya kan karena penerbit ingin buru-buru menerbitkan sebuah buku terjemahan demi mengejar momentum. Yang pasti, sering-sering komunikasi sama rekan lain. Dari awal pastikan aja beberapa hal yang perlu. Misal lagi mo ngerjain novel, pastikan mau pake kata ganti apa, mau kalimatnya seluwes apa, berapa halaman yang dikerjakan masing-masing, dsb.

Soalnya nanti di tengah-tengah, kalau kita kebagian nerjemahin yang bukan dari awal, mungkin sekali kita rada ahistoris. Si A ini siapa sih? Hubungannya apa sama si B? Wataknya gimana? dll

Kalo udah selesai nerjemahin, enaknya dibaca lagi, baik terjemahan sendiri atau terjemahan rekan. Idealnya barengan.

Terima kasih, Indra. Hidup Pesta Kolesterol! 😛

Tulisan asli bisa dibaca di sini.