Category Archives: Wisata Kuliner

Saoto Bathok Mbah Katro

IMG_20151030_085611

Dalam satu lawatan saya ke Jogja (jiaah…bahasanya!), yang salah satu tujuannya adalah wisata kuliner, warung Saoto Bathok Mbah Katro adalah satu yang saya incar. Habis, belakangan sering banget diomongin para tukang makan di blog-blog mereka. Dan saya juga demen banget makan soto.

Ngemeng-ngemeng, tulisan “saoto” ini bukan salah ketik, kok. Saoto adalah sebutan lain untuk soto di daerah Solo. Sebutan soto yang beragam di seantero Nusantara bagaimanapun adalah kekayaan lokal yang kudu diapresiasi. Saoto Mbah Katro ini memang mengusung genre soto Solo, sehingga penamaannya pun memakai istilah daerah asalnya.

Lanjut. Jadi, walau udah sarapan nasi goreng bikinan tante saya, pagi itu saya dan istri tetap memacu motor ke arah timur Jogja. Jaraknya agak jauh sih dari rumah saya yang dekat Malioboro, yaitu di kawasan Kalasan. Persisnya beberapa puluh meter di utara kompleks Candi Sambisari. Tak terlalu jauh dari pertigaan Bandara Adi Sucipto, siap-siap belok kiri, entah jalan apa. Pokoknya ada tulisan Candi Sambisari gitu deh.

IMG_20151030_080757

Jalan terus ke utara, sekitar 2-3 kilometer kemudian kita akan menemukan kompleks Candi Sambisari. Candinya kecil saja, dan letaknya agak di bawah permukaan tanah, sekitar 6 meteran. Terus saja ke arah utara, warungnya nanti ada di kanan jalan.

Kami sampai di sana sekitar jam 8. Sepagi itu kok warungnya sudah tampak lumayan ramai. Untungnya kapasitas warung ini luas. Bentuknya memanjang ke belakang, di kanan-kiri dan bagian belakang ada kebun tembakau dan persawahan.

IMG_20151030_085331

Warung buka dari jam 06.00 sampai 16.00. Dikonsep semi-outdoor, ada saung-saung berukuran kecil hingga besar sebagai tempat untuk menyantap soto bathok. Saung-saung itu ada yang berbentuk lesehan dan ada yang dengan meja-kursi. Di sini bahkan juga ada beberapa jungkat-jungkit dan ayunan. Mungkin buat pengunjung yang datang sekeluarga bersama anak-anak.

Di bagian depan, kita bisa langsung pesan makanan. Menunya memang cuma soto daging sapi, tapi masih ada beberapa “teman” seperti sate usus, sate telor puyuh, dan tempe goreng yang aduhai gurihnya. 😛

IMG_20151030_080446

Yang unik dari warung ini adalah mangkok sotonya yang terbuat dari bathok (tempurung) kelapa. Isi soto bathok ini adalah nasi, tauge, taburan daun seledri, dan taburan bawang merah goreng. Rasa dari soto daging sapi di sini juga enak. Segar dan tidak berlemak.

IMG_20151030_085143Kuah sotonya bening. Rasa gurih kuahnya berasal dari kaldu daging sapi sangat pas, dan akan semakin nikmat ketika ditambah perasan jeruk nipis, sambal, kecap, dan kerupuk. Tentunya jangan lupa sama “teman-teman” soto tadi. Ditambah lagi dengan segelas es jeruk atau es teh…wuidiiih! 🙂

Enaknya makan di sini emang pagi-pagi kayaknya. Udara masih cukup sejuk, dan makan soto di tengah persawahan dan kebun memang sensasinya aduhai. Pengen berlama-lama rasanya duduk dan tiduran di saung yang nyaman itu. 🙂

Kombinasi suasana ndeso dengan soto yang nikmat ini masih ditambah lagi dengan harganya yang murah bingits. Bayangkan, nasi soto daging sapi ini harganya cuma Rp 5 ribu per mangkok. Tempenya Rp 500 per biji, sate usus Rp 1000, dan sate telor puyuhnya Rp 2000 per tusuk. Untuk minumannya, es jeruk cuma Rp 2000 per gelas, dan teh anget cuma Rp 1000. 🙂

IMG_20151030_080533Ngemeng-ngemeng, Mbah Katro siapa sih? Ternyata si “Mbah” ini adalah mantan karyawan hotel yang tampaknya belum pantas dipanggil “Mbah”….hehehe.  Warung ini sendiri belum lama buka. Yah, sekitar awal 2015 deh…

Total yang kami bayar untuk menu seperti foto di atas cuma Rp 17.000! Edyan… 😛 Ya puas lah, makan enak, murah, dan bonus pemandangan asri di sekeliling warung. Buat kamu yang lagi ke Jogja, jangan lupa mampir ke sini deh…maknyuss! Jogja emang kota soto! 🙂 []

Advertisements

Ramen Bajuri – Bandung

IMG_20150629_183030 Yang namanya kedai ramen konon meruyak sejak beberapa tahun terakhir di Bandung. Saya sih nggak tahu persis kedai mana saja yang ramennya enak. Saya juga bukan penggemar berat makanan Jepang, sebenarnya, tapi nggak masalah sih sesekali nyicip. Toh saya juga demen makan mi.

Nah, sejak beberapa bulan lalu saya sering banget makan di warung Ramen Bajuri ini. Sebulan bisa 2-3 kali. Lokasinya di sekitar Jl. Lengkong, Bandung, nyeberang sedikit dari resto Athmosphere, agak masuk beberapa meter ke jalan kecil yang namanya Jl. Sasak Gantung. Ukuran kedai ini tak terlalu besar, seukuran garasi yang muat dua mobil plus beberapa motor aja. Bagian dapurnya bergaya interior kayu dan berhiasan beberapa gantungan bertulisan Jepang. Plus TV dan kipas angin.

Suasana di kedai Ramen Bajuri.

Suasana di kedai Ramen Bajuri.

Pertama kali datang ke sini dan melihat buku menu, saya jadi rada puyeng. Bukan apa-apa, soalnya jumlahnya cukup banyak dan sebagian judul makanannya rada nggak nyambung … hehehe! Coba ya, ada menu namanya “Ramen Aku Mah Apa Atuh”, “Ramen Penghilang Stres”, “Ramen Mas Bram, “Ramen ISIS (Ini Sayur Itu Sayur), “Ramen Cabe-cabean (topping cabe)”, dan lain-lain. 🙂

Ramen Aku Mah Apa Atuh.

“Ramen Aku Mah Apa Atuh”. Porsinya ajiibb! 🙂

Kita juga bisa memilih rasa kuah dan tingkat kepedasan ramen pesanan kita. Untuk rasa kuah ada original, kare, oriental, dan tomyam. Tingkat pedasnya bisa pilih dari 1 sampai 5 (paling pedas).

Sebagian menu di Ramen Bajuri.

Sebagian menu di Ramen Bajuri.

Kata orang sih, makanan yang disajikan di sini bukan ramen betulan. Kesamaan dengan ramen hanya mi dan mungkin topping ekadonya. Sisanya macam-macam: ada topping bakso gepeng, sawi, sosis, dan bakso berbentuk Angry Bird. Di pilihan kuahnya tidak ada kaldu sapi, miso, atau shoyu, dan telurnya terlalu matang untuk ramen.

Tapi saya nggak peduli sama semua itu. Makanan enak ya enak aja, nggak perlu repot bikin definisi. Apalagi kita cuma konsumen … hehehe! Waktu pertama ke sini, saya pesan “Ramen Aku Mah Apa Atuh”—ini ramen dengan topping chicken bulgogi dan ekado. Saya kaget banget karena ukuran mangkoknya segede baskom!

Tenang … sebagai orang bertanggung jawab, saya tetap hajar ramen sebaskom gitu sendirian. Ludes juga … hahay! 🙂 Kalau mau makan porsi sebaskom ini cari aja bagian ultimate ramen di buku menu. Ramen Mas Bram juga enak untuk ukuran sebaskom ini … hehehe 🙂

Yamin Ramen.

Yamin Ramen.

Rekomendasi saya selain “Ramen Aku Mah Apa Atuh” adalah “Yamin Ramen”—yang ini ramen dengan chicken teriyaki, pangsit, dan ekado. Sebenarnya masih ada bibimbap dan chicken katsu segala, tapi saya belum pernah cicipin itu.

Untuk minumannya, saya selalu pesan es teh leci Teh lecinya ini pake gelas guede banget! Jadi kalau mau ngirit minum berdua pasangan, ya pesen ini aja. Cuma Rp 10 ribu kok. Rasanya segar dan wangi. Satu lagi minuman favorit saya di sini adalah green tea latte. Manisnya pas dan warnanya hijau pupus ngejreng dengan dua leci gemuk di dalamnya. Enak!

Pokoknya, makan ramen di sini di siang hari bolong yang panas atau sedang hujan sama asyiknya. Apalagi di sini harga ramennya ramah dompet dan menerima pembayaran dengan kartu debit dan kredit. Ramennya dimulai dari harga Rp 15 ribu dan paling mahal kalau nggak salah cuma Rp 25 ribu. Itu yang pake baskom tadi yah … 😛

Dua minuman favorit saya: green tea latte dan es teh leci.

Dua minuman favorit saya: green tea latte dan es teh leci.

Berhubung lokasinya dekat kampus, nggak heran kedai ini sering dipenuhi mahasiswa. Makanya disediakan menu bernama “Ramen Akhir Bulan”  seharga Rp 15 ribu … wkwkwk! Tapi banyak juga kok keluarga yang makan di sini.

Satu hal nggak penting tapi harus saya ceritain adalah tukang parkirnya. Seumur hidup, baru kali ini saya ketemu tukang parkir “profesional”. Selain orangnya senang menyapa ramah, dia juga “ada kerjanya”: mengambilkan motor, mengelap jok (kalau basah habis hujan), menurunkan footstep motor, dan selalu mengingatkan “Gak ada yang ketinggalan, Mas?”. Untuk servis macam itu, dua ribu rupiah tanpa cemberut dari pelanggan Ramen Bajuri pantas untuknya …. hahaha! 😀

Bebek Merapi Mega Sari – Bandung

bebek merapi1

Sebenarnya sudah beberapa lama saya mengincar makan di warung ini. Habis, kelihatannya selalu ramai pengunjung. Yang kayak gitu kan harus dicurigai. Plus, kata seorang teman, bebek di sini mantap surantap rasanya.

Jadi, beberapa waktu lalu, untuk kedua kalinya saya mampir di warung kaki lima yang namanya Bebek Merapi Mega Sari ini. Lokasinya ada di Jl. PHH Mustopha, di seberang ITENAS, tak jauh dari perempatan Jl. Pahlawan, Bandung. Bukanya biasanya sore hari (Magrib).

Penampakan dari luar sih seperti umumnya warung kaki lima yang jualan nasi uduk plus menu utama ayam dan bebek. Pas saya datang ke sini, seperti biasa warungnya memang ramai pembeli. Karena ramai, saya harus menunggu beberapa pengunjung untuk bangkit sebelum saya rebut kursinya. Sialnya, saya dapat tempat di meja yang posisinya agak miring.

Goreng-gorengan lain. Pesta kolesterol deh pokoknya :)

Goreng-gorengan lain. Pesta kolesterol deh pokoknya 🙂

Karena di spanduknya mereka menamakan diri Bebek Merapi, saya memesan bebek bakar plus nasi uduk. Sebagai tambahan, saya pesan tahu dan tempe. Oya, di sini, selain bebek, juga ada ayam bakar/goreng, lele, perkedel kentang, sate telur puyuh, sate ati, ikan asin, kol goreng, dan tak lupa pete serta jengkol (!).

Sambil nunggu, saya meneguk es jeruk sedikit-sedikit. Bukan hanya karena esnya kurang dingin, tapi biar irit…hehehe! Saya perhatikan, banyak sekali orang yang membeli dibungkus. Itu sebabnya kadang-kadang orang yang makan di tempat harus menunggu agak lama.

Bebeknya empuk, sambelnya ganas!

Bebeknya empuk, sambelnya ganas!

Setelah sepuluh menit, barulah pesanan bebek bakar dan goreng saya diantar. Konon, di sini sambelnya dahsyat. Memang, aroma sambelnya saja sudah sangat meneror hidung, menjanjikan kenikmatan mandi keringat.

Daging bebeknya ternyata sangat empuk, mudah dicuil-cuil. Bakarannya juga pas. Nggak terlalu manis kecap. Bebek gorengnya juga renyah banget. Digado pun enak, rasanya gurih dan sedikit garing.

bebek merapi4Yang paling edan ya sambelnya itu. Gurih dan…..puedesss!! Yang bukan penggemar sambel mending pesan sambel yang nggak begitu pedas. Soalnya sambel yang saya pesan ini yang pedasnya maksimal. Saya sendiri nggak cukup makan sambel satu pisin di sini. Oya, kalo beli makannya dibungkus, sambelnya kudu nambah Rp 1000. Hehehe!

Seporsi bebek dengan nasi uduk dan es jeruk di sini harganya sekitar Rp 26 ribu. Kalo bebeknya doang sih Rp 19 ribu. Standar lah. Menu lain seperti ayam kayaknya enak juga, walaupun saya belum coba. Tapi kalo sambelnya gahar kayak begini sih, menu lain sepertinya enak juga. Kapan-kapan saya mesti main ke Bebek Merapi lagi! Habis, sambelnya ganas banget kayak lahar Merapi! *lebay* 😛 []

Soto Ayam Pak Gareng – Jogja

pak gareng 1

Soto adalah salah satu makanan favorit saya untuk sarapan. Kalau sedang mudik ke Jogja, setiap jam 6 pagi saya pasti bela-belain mampir ke warung Soto Ayam Pak Gareng. Sejak masih kuliah, tempat ini jadi tempat sarapan saya. Warung ini terletak di Jl. Mangkubumi, utara Jl. Malioboro, di seberang gedung BCA, tidak jauh dari pintu depan Stasiun Tugu. Dan yang tidak kalah penting: jaraknya cuma 200-an meter dari rumah saya…hehehe! 🙂

Soto Pak Gareng buka setiap pagi dari jam 6 hingga tengah hari. Sepagi itu juga biasanya warung kaki lima ini sudah penuh pengunjung, tak peduli hari kerja atau hari libur. Oh ya, yang jualan di sini bukan Pak Gareng, tapi cucunya. Entah namanya Bu siapa… 😛

Sarapan di sini benar-benar murah meriah. Semangkuk soto campur nasi harganya cuma Rp 6.000, kalau nasi dipisah Rp 7.000 (!). Sate ati cuma Rp 2.000. Minumannya juga murah, antara Rp 2.000 – 3.000. Tapi itu sebelum harga BBM naik per 18 November 2014 ya….hahaha! Pelayanannya juga cepat. Tak sampai 5 menit, soto pesanan kita sudah terhidang di bawah hidung.

Soto, sate, es jeruk. Josss!!

Soto, sate, es jeruk. Juoss gandosss!!

Yang namanya makan soto nggak lengkap tanpa “konco-konconya”. Nah, di warung Pak Gareng ini, di atas meja selalu tersedia sate ati, sate ayam, sate telor puyuh, tempe dan tahu bacem, plus lenthok. Yang terakhir ini adalah camilan yang terbuat dari singkong yang dibumbui, dihaluskan, lalu digoreng. Biasanya buat lauk teman makan soto.

Menu satu-satunya di sini adalah soto ayam. Tinggal pilih mau apakah nasinya dicampur atau dipisah. Selain nasi, dalam semangkuk soto ada soun, irisan kol, taoge, lenthok, dan suwiran daging ayam yang kemudian diguyur dengan kuah soto panas. Kuah sotonya termasuk bening dan terasa ringan bumbu-bumbunya. Gurihnya juga pas dan segar. Tambahkan sambal, kecap, atau perasan jeruk nipis jika suka.

Selalu ramai... :)

Selalu ramai… 🙂

Porsi yang disajikan sebenarnya cukupan untuk mengganjal perut yang lapar di pagi hari alias tidak membuat perut terlalu kenyang. Tapi buat saya sih sepertinya harus makan dua mangkuk…hehehe! Lagian harganya murah kok, jadi yaa…tambah aja! 😀

Biasanya juga banyak pengamen kalau kita makan di sini, tapi mereka mainnya lumayan bagus dan kadang ada sepasang pengamen tua memainkan lagu-lagu tradisional dengan siter (alat musik petik dalam gamelan Jawa). Habis makan, biasanya saya jalan-jalan ke Malioboro, beli koran dan baca sambil duduk-duduk di bangku di bawah pohon rimbun. Memerhatikan kereta mondar-mandir dan ngeceng (ngelamun sambil cengengesan).

Nah, jelas kan sekarang kenapa saya 6,5 tahun baru lulus kuliah….. *eh* 😀

Bebek Kaleyo – Bintaro

20140510_174726

Gara-gara dikasih tahu adik saya beberapa bulan lalu, setiap kali nengok orangtua, saya pasti naik travel dan turun di kawasan Bintaro sektor 7, Tangerang. Nah, di area gedung CIMB Niaga dan Lottemart, persisnya di belakang Taman Menteng, ada resto bebek favorit saya. Namanya Bebek Kaleyo. Kebetulan lokasinya cuma tinggal menyeberang jalan dari pool Baraya Travel.

Sesuai nama, menu andalan di sini jelas bebek. Ada beberapa menu yang pernah saya coba: bebek goreng kremes, bebek goreng cabe ijo, dan bebek rica-rica. Yang bakar juga ada, tapi saya belum pernah cicipin. Next time, pasti! 😛

Atas: bebek kremes. Bawah: bebek cabe ijo.

Atas: bebek kremes. Bawah: bebek cabe ijo.

Sepertinya bebeknya diungkep dalam bumbu dulu, habis itu baru digoreng. Maka itu daging bebeknya gurih dan empuk banget, bahkan makan bebek digado aja udah enak banget. Menu bebek goreng cabe ijo adalah favorit saya. Penyajiannya juga asyik, pake daun pisang.

Di sini, menurut buku primbon menu, bebek mudanya ukuran 1/2 ekor. Jadi gedenya cukupan bikin kenyang. Sambel cabe ijonya itu lho…aromanya bener-bener meneror hidung. Pedasnya mantap, porsinya banyak sampe nutupin bebeknya, dan selalu sukses bikin keringetan…hehe! Pencinta pedas pasti puas makan di sini. Kalau mau agak irit, pilih yang bebek muda ya. Yang bebek kampung ukuran 1/4 harganya 19.500, yang 1 ekor Rp 78.000.

Untuk ukuran resto, harga menu bebek di sini menurut saya tergolong murah banget. Untuk jenis bebek muda, porsi 1/2 ekor harganya Rp 19.500. Nasinya Rp 4.500. Kalau mau nasi uduk cukup bayar Rp 5.000. Yah, 25 ribu untuk makan bebek sih murah. Apalagi rasanya joss banget. Gurih dan sensasi pedasnya bikin merem-melek! 😛

20140118_124628

Dari kiri searah jarum jam: bebek rica-rica, bebek kremes, bebek cabe ijo.

Menu lain:

– Bebek rica-rica (Rp 21.000)

– Bebek cetar ala Madura (Rp 21.000)

– Sate bebek 4 tusuk (Rp 20.000)

Buat yang nggak suka bebek, masih ada menu ayam. Kalau sambelnya udah enak, kayaknya sih ayamnya enak juga. Menu sampingan lain ada tempe, tahu, sate ati, leher bebek, dimsum/siomay, dan sayur asem. Minumannya juga variatif, di antaranya ada es kelapa, es teler, es campur, es cincau, dan banyak lagi.

Bebek Kaleyo buka jam 11.00 – 23.00. Sayangnya, resto ini tutup di hari Minggu. Sayangnya lagi, resto ini belum ada di Bandung. Baru ada 12 cabang yang semuanya berlokasi di Jakarta dan sekitarnya. Saya lihat di Internet sih rata-rata restonya luas dan hampir selalu rame. Cobain aja deh. Lokasinya lihat di sini. Sayangnya, cabang Bintaro ini belum bisa menerima pembayaran dengan kartu debit. Jadi jangan lupa bawa uang tunai yang banyak. Kali aja mau nambah. 😛

Nah, habis makan bebek, kalau mau bakar kalori, jalan-jalan aja di Taman Menteng di seberang resto ini. Ada jembatan di atas sungai kecil yang warnanya rada butek. Ada apa di taman itu? Yah, cuma taman biasa. Paling-paling banyak abegeh pacaran, foto selfie, atau anak-anak kecil kejar-kejaran…hehehe![]

Taman di seberang resto Bebek Kaleyo.

Taman Menteng di seberang resto Bebek Kaleyo.

Nasi Bebek Pedas Khas Madura: Gurihnya Bikin Nagih!

warung

Memang benar ya, untuk mencari makanan-makanan enak mesti rajin inspeksi. Beberapa bulan lalu, saya nggak sengaja melihat warung tenda ini saat lewat di jalan masuk menuju Telkom University, Jl. Bojongsoang, Bandung. Waktu itu saya nggak tahu apa itu nasi bebek pedas khas madura. Tapi kok tampak menarik. Naluri saya mengatakan: COBAIN!

Belilah saya satu porsi buat dimakan di rumah. Soalnya, saya lihat warung ini sering ramai. Pembelinya kebanyakan adalah mahasiswa Telkom yang kos di sekitar situ. Bahkan saya pun disangka masih mahasiswa sama si penjual (!). 🙂 Yang makan di tempat dan yang minta dibungkus hampir sama banyaknya.

Nasbek1Setelah saya memesan, si penjual langsung sigap meracik seporsi nasi bebek. Gerakannya tampak telaten dan hati-hati: menyendok nasi, serundeng, dan dua sendok sambal. Daging bebeknya ada dua macam: yang basah berkuah dan yang kering. Untuk setiap porsi, si penjual memberi masing-masing sepotong daging bebek yang basah dan kering. Sentuhan terakhir, nasi bebeknya diguyur beberapa sendok kuah semur yang kental dan gurih. Kalau sambal, serundeng, dan kuahnya kurang banyak, minta tambah saja. 🙂

Awalnya, saya sempat ketawa karena dua potong daging bebeknya kecil-kecil. Tapi mengingat harganya cuma Rp 13 ribu per porsi, belum lagi target pembelinya yang mahasiswa, saya cuma bisa maklum. Bisa saja sih kalau mau nambah daging bebeknya, tapi ya harus bayar lebih. 🙂 Tapi kita boleh pilih bagian bebek yang mana saja: dada, paha, kaki, atau ati ampela.

Ini makan di warungnya. Kalo dibungkus, kayaknya nasinya lebih banyak deh :)

Ini makan di warungnya. Kalo dibungkus, kayaknya nasinya lebih banyak deh 🙂

Saya benar-benar nggak salah pilih. Gurihnya bikin nagih! Daging bebeknya terasa cukup lembut, dengan rasa yang gurih meresap hingga ke dalam. Cukup empuk dan mudah lepas dari tulang. Agaknya memang diungkep lama hingga teksturnya lebih lunak dan bumbunya meresap.

Rasa pedas sambal yang nendang berpadu dengan serundeng yang terasa meleleh di lidah. Dilahap bersama sepiring nasi yang porsinya banyak dan masih hangat mengepul. Rasanya pedas menggigit dengan rasa yang gurih nikmat. Huahh, puedess! Keringat bercucuran, mulut mendesis, tapi nggak bisa berhenti! 🙂

Mungkin lebih mantap lagi kalau si penjual menambahkan potongan timun dan taburan bawang goreng. Saya sendiri belakangan lebih suka beli dibungkus, dan di rumah saya tambahkan telur dadar atau tahu dan tempe.

Nasbek4

Kalau makan di rumah, nasi bebeknya ditambahin telor. 😛

Besok-besoknya, saya jadi makin sering beli, terutama di akhir pekan. Si penjual buka dari jam 08.30 pagi, dan biasanya jam 14.00 sudah habis. Beli 1-2 bungkus, lalu ditambah lauk lain di rumah, terus makan sambil baca koran. Joss gandosss![]

Pesta Kolesterol di Festival Jajanan Bango Bandung

Pintu masuk area FJB.

Pintu masuk area FJB.

Terakhir kali saya datang ke Festival Jajanan Bango (FJB) di Bandung rasanya sudah lama, tahun 2009 atau 2010. FJB memang tak selalu diadakan di Bandung setiap tahun. Jadi, Sabtu siang (9/2) lalu saya bela-belain datang, sekalian sarapan dan makan siang digabung jadi satu (!). Apalagi acara ini cuma berlangsung satu hari di masing-masing kota yang disambangi FJB (Bandung, Semarang, Malang, Surabaya, dan Jakarta).

2013-02-09 13.09.10Bandung menjadi kota pertama yang disambangi rangkaian acara pesta kolesterol ini. Tahun ini FJB digelar di area Monumen Perjuangan Rakyat, tak jauh dari kampus Unpad di Jl. Dipati Ukur. Puluhan stan makanan dan minuman digelar di dua area yang disebut Bango A dan Bango B. Panggung untuk musik disiapkan di bagian ujung tengah. Ada juga sekitar lima area makan dengan meja dan kursi.

Di antara 50 stan yang ada, sebanyak 10 di antaranya disebut oleh Bango sebagai Legenda Kuliner Nusantara. Sebut saja: Sate Klatak Mak Adi Yogyakarta, Tengkleng Klewer Bu Edi Solo, Sate Jamur Cak Oney, Tahu Tek Telor Cak Kahar Surabaya, Nasi Pindang Pak Ndut Semarang, Mie Aceh Sabang, Mie Koclok Mas Edy Cirebon, Oseng-oseng Mercon Bu Narti Yogyakarta, Lontong Balap Pak Gendut Surabaya, dan Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Pengennya sih hajar semua makanan itu, tapi nggak mungkin juga lah….dompet bisa jebol dan kolesterol bisa naik macam orang gila yang manjat sutet. 😛

Seperti biasa, masuk ke area FJB gratis, tapi makannya tetap bayar, dong. Kali ini panitia menerapkan sistem kupon untuk pembelian makanan, sementara di tahun-tahun yang lalu kita bisa bayar langsung ke penjualnya. Satu kupon harganya Rp 15 ribu, termasuk bonus satu kemasan kecap Bango ukuran 55 ml.

Sate jamurnya maknyus juga nih...

Sate jamurnya maknyus juga nih…

Sebenarnya saya nggak suka sama sistem ini, selain kurang praktis, pukul rata Rp 15 ribu per porsi makanan rasanya agak mahal. Jadinya ya harus ngirit. Prinsip saya, di acara seperti ini nggak perlu mendatangi stan-stan makanan yang warungnya berbasis di Bandung. Kalau ada di Bandung sih kapan-kapan juga bisa. Jadi saya beli oseng-oseng mercon Bu Narti dari Yogyakarta, Sate Jamur Tiram Cak Oney dari Yogyakarta, dan Nasi Pindang Pak Ndut Semarang.

Seporsi oseng-oseng mercon yang joss gandoss!

Seporsi oseng-oseng mercon yang joss gandoss!

Baru sekarang saya bisa makan oseng-oseng mercon siang-siang. Biasanya Bu Narti ini mulai jualan pas udah magrib kalau di Jogja. Seperti biasa, rasanya maknyuss! Tumpukan lemak yang lezat itu beberapa kali dipanaskan di wajan di stannya. Lalu, saya mengunjungi stan Nasi Pindang Pak Ndut Semarang.

Stan Nasi Pindang Pak Ndut.

Stan Nasi Pindang Pak Ndut.

Nasi pindang adalah nasi dan daging yang disajikan dengan kuah pindang dan daun so/melinjo. Pembeli bisa memilih lauk utama untuk nasi pindangnya, di antaranya ada jeroan sapi dan telor pindang. Saya memilih koyor—sebutan lain kikil yang merupakan bagian dalam atau urat kaki sapi, dan dimasak dengan kuah kental.

Baru satu jam di sini, hujan badai pun datang. Untunglah saya sedang menikmati makanan porsi ketiga: sate jamur Cak Oney. “Daging” satenya sendiri terbuat dari jamur tiram, tapi teksturnya mirip dengan daging ayam. Mengingatkan saya pada menu-menu di resto Jejamuran, Jogja. Maknyuss….makan sate jamur saat hujan badai sambil lirik sana-sini. Bahkan bule-bule yang tampangnya masih kayak anak kuliahan pun berseliweran jalan-jalan sambil makan.

Suasana FJB.

Suasana FJB.

Setelah hujan reda, saya pun pulang…sambil bawa sebungkus oseng-oseng mercon buat makan malam di rumah. Kalau acara beginian ada setiap hari atau setiap minggu, sekalipun dengan alasan melestarikan pusaka kuliner nusantara, bahaya banget buat kesehatan dompet dan kolesterol bisa melonjak. 😀